
"A-aku ... ada pertanyaan mengenai satu hal." Keyran lalu menatap mata Nisa lekat-lekat. "Setelah aku memahami semua ini, aku menarik kesimpulan bahwa kau punya kekuasaan untuk memerintah orang-orang di sana. Kau bisa saja menyuruh mereka agar tetap bungkam dan membiarkan aku pulang dengan tangan kosong. Kalau kau mau, kau bisa terus merahasiakan hal ini dariku. Tapi kau lebih memilih untuk memberitahuku dengan cara seperti ini, dengan cara aku tahu dari orang lain. Katakan Nisa, untuk apa kau melakukan semua ini?"
Nisa memalingkan wajahnya, dia lalu menunduk dan memandangi dasi Keyran yang masih berada di genggaman tangannya. "Soal itu ... entahlah, aku juga tak begitu yakin. Hanya saja ..." tiba-tiba Nisa berhenti bicara dan menggigit bibirnya sendiri.
"Hanya apa?! Aku tak mengharapkan jawaban tidak jelas seperti itu darimu! Aku ingin kau menjelaskan semuanya!"
"Apa saat ini kau masih menganggapku sebagai istrimu?" tanya Nisa tanpa memandang Keyran.
"Bicara apa kau? Tentu saja kau istriku."
"Itulah yang aku pikirkan, Key. Aku istrimu ... dan sebagai istri, bukankah aku harus terbuka terhadap suamiku sendiri? Tapi, sebagai istrimu aku juga ingin selalu terkesan baik di hadapanmu. Sedangkan aku, di masa lalu telah melakukan hal yang seperti itu ..."
"Aku tak mau kau mengetahui sisi burukku yang seperti itu, tapi di sisi lain kau adalah suamiku dan kau berhak untuk tahu seperti apa sebenarnya istrimu ini. Lalu secara kebetulan kau mengenal Chelsea yang merupakan adik dari William. Kalian berdua sama-sama ingin mengetahui apa yang terjadi tentang kematian William 4 tahun yang lalu. Dan kau sendiri, aku tak tahu apa sebabnya kau tiba-tiba mencurigaiku lagi ..."
"Nisa, dengarkan aku. Aku bukan mencurigaimu tanpa sebab, tapi aku memang merasa ada yang janggal denganmu, terutama kepribadianmu. Kau cenderung berbeda dan kau bisa melakukan hal-hal di luar bayanganku. Padahal yang aku tahu kau hanya punya latar belakang yang biasa saja, tentu saja dengan semua itu aku curiga meskipun kau adalah istriku sendiri. Sama seperti yang kau bilang tadi, aku suamimu dan aku berhak tahu semua tentangmu."
"..." Nisa membisu, dia terus menunduk dan tangannya mengepal sekuat mungkin.
Aku juga mau begitu, aku mau kau mencintaiku apa adanya. Tapi untuk sekarang masih terlalu cepat untuk tahu akan semuanya. Dan setelah aku berpikir, selamanya aku tak akan pernah menemukan jawaban kapan waktu yang tepat itu.
Tapi takdir bekerja secara misterius, ada saja kebetulan yang membawamu semakin dekat dengan hal yang aku sembunyikan. Lalu aku sengaja membuatmu tahu dari orang lain. Aku tak tahu ini benar atau salah, tapi aku rasa ... aku akan menyesal jika melewatkan kesempatan ini. Bahkan sepertinya ... akulah yang tak sanggup jika harus bercerita tentang kebusukanku dengan mulutku sendiri, aku takut dengan reaksi yang akan kau berikan nanti.
Saat ini suasana menjadi hening, tak ada satu pun di antara mereka berdua yang hendak bicara. Namun di tengah keheningan itu Nisa yang masih menundukkan kepala tiba-tiba berkata, "Sekarang kau tahu aku sepenuhnya terlibat dalam kasus terbunuhnya William. Apa kau berencana melaporkanku ke polisi?"
Sejenak Keyran tertegun, kemudian dia berkata, "Tidak."
__ADS_1
"Baguslah, kau cukup pintar untuk memilih pilihan yang tepat."
Keyran menghela napas. "Hahh ... memangnya aku bisa apa? Si satu sisi kau istriku, tapi di sisi lain jika aku melaporkanmu tentu saja nantinya bisnis gelap yang pernah dikelola oleh keluarga Adinata juga terbongkar. Jika itu terjadi, nama baik keluarga ini pun juga ikut tercoreng. Tapi ... apa yang akan kau lakukan jika aku melaporkanmu?"
Nisa menyeringai sinis. "Memangnya apa lagi? Sudah jelas kalau aku akan kabur. Siapa juga yang sudi jika dipenjara."
"Apa di hatimu sama sekali tidak ada rasa penyesalan?"
"Tidak ada, aku tak akan pernah hidup dalam rasa penyesalan. Mungkin kau akan menganggapku sebagai wanita mengerikan karena aku sama sekali tidak menyesal telah berbuat salah. Tapi mungkin aku akan menyesal jika tidak melakukan itu dan membiarkan temanku mati di sana."
Keyran tak lagi bicara sepatah kata pun, dia hanya menatap istrinya itu dengan tatapan tidak percaya. "Sebenarnya apa? Apa yang telah kau lewati selama ini? Sebenarnya apa yang membuatmu jadi seperti ini?"
Nisa mendongak, dai juga memperlihatkan- senyuman tipis di bibirnya. "Ini pilihanku, aku sudah memilih untuk menempuh jalan ini."
"Tidak bisakah kau berhenti?" tanya Keyran dengan tatapan berharap.
"Maaf, sepertinya itu tidak mungkin." jawabnya dengan suara pelan.
"Kenapa?! Kenapa kau bilang itu tidak mungkin?! Sebenarnya organisasi macam apa yang kau pilih, Nisa?! Aku suamimu dan sekarang aku perintahkan kau untuk berhenti!!"
"Maaf, untuk yang satu ini tolong maafkan aku. Tapi di sana punya aturan tersendiri, aku tidak bisa memutuskan untuk berhenti seenaknya begitu saja. Mereka telah menemaniku sejak lama, aku tidak bisa berkhianat pada mereka semua."
"Kau bodoh!!" bentak Keyran yang tiba-tiba memeluk erat tubuh Nisa. "Kau bodoh, Nisa!! Kau akan memiliki banyak musuh jika kau tetap bergabung dengan mereka! Akan ada semakin banyak orang yang membenci dan berniat melukaimu! Aku tidak sebodoh yang kau kira! Aku tahu kalau kau bukan cuma sekali sudah pernah melewati situasi hidup dan mati! Aku mohon berpikirlah tentang keselamatanmu sendiri! Aku tak mau terjadi hal-hal buruk padamu. Apa yang akan terjadi jika aku tanpamu hah?! Aku mohon pikirkan aku juga!!"
"Kau istri yang bodoh! Sangat bodoh! Kau jadi istriku yang manja saja sudah cukup! Kau sudah pandai memasak, berhias diri juga baik, pengetahuanmu juga luas. Aku sudah cukup bahagia punya istri seperti itu! Aku tak butuh istri luar biasa yang bisa menghajar orang lain, aku tak butuh istri yang bisa menghancurkan organisasi gelap! Aku ingin Nisa, Nisa yang aku kenal!"
__ADS_1
"Aku tahu ini tidak mudah bagimu, kau pasti menanggung beban yang sangat berat dengan identitas yang kau miliki itu! Aku tahu ada lebih banyak orang yang mengutukmu daripada mendoakanmu! Kau bilang kau memilih jalan ini sudah sejak lama, aku tahu kau tertekan dengan semua itu. Aku yakin itulah sebabnya kau memiliki gangguan kecemasan, bahkan saat kau terluka parah kau bilang kalau itu cuma tergores! Sadarlah kalau semua itu cuma merugikan dirimu sendiri!"
"Jadi aku mohon ... Aku mohon berhentilah jika kau masih menganggapku sebagai suamimu!"
"Keyran ..." gumam Nisa dengan gemetar.
Aku tersentuh karena kau khawatir padaku. Tapi ... ini bahkan belum semuanya, ini hanya secuil dari banyaknya hal yang telah aku lakukan. Aku sekarang semakin takut untuk mengakui bahwa akulah pemimpinnya.
Jika aku mengatakan semuanya sekarang, berarti soal kenapa aku bisa keguguran juga akan terbongkar, entah seperti apa kau akan memandangku nanti. Mungkin ini memang belum saatnya aku jujur sepenuhnya tentang diriku. Tapi aku janji, entah bagaimana caranya nanti, suatu saat kau pasti akan mengetahuinya.
Bukannya membalas pelukan erat dari suaminya, Nisa justru menjauh dan melepas pelukan itu. Keyran yang menyadari hal itu hanya menatap Nisa dengan wajah yang seolah-olah kebingungan.
Nisa tersenyum tipis dengan matanya yang sayu. "Maafkan aku, aku tak bisa berhenti. Bagiku, tanggung jawabku menjadi istrimu dan tanggung jawabku di sana sama besarnya. Sekali lagi maafkan aku, aku memang istri yang mengecewakan ..."
Nisa mendadak berdiri dan berjalan ke arah pintu, senyuman di wajahnya pun berubah jadi senyuman pahit. "Aku ingin keluar cari angin. Lalu jika kau ingin membersihkan diri, aku sudah menyiapkan air hangat dengan aromaterapi wangi lavender kesukaanmu."
KLAP ...
Pintu telah tertutup. Kini pembatas yang membatasi kedua orang itu telah jelas. Keyran yang masih berdiam diri di tempat itu kembali menghela napas.
"Kau yang memaksaku, Nisa. Jangan salahkan aku jika aku mengambil tindakan untukmu. Ini semua juga demi dirimu, sayang." gumamnya penuh kesungguhan.
Aku akan menyelidiki semua yang berhubungan tentangmu, entah itu organisasi, tempat, maupun orang sekali pun. Aku akan mengekangmu dan tak akan pernah membiarkan satu pun tindakanmu luput dari pengawasanku. Tidak masalah jika nantinya kau akan menganggapku posesif sekali pun. Karena inilah wujud cintaku padamu.
***
__ADS_1
Sementara itu di sisi luar pintu kamar. Sejak tadi Nisa sama sekali tak beranjak dari sana, dia berjongkok tepat di depan pintu sambil membungkam mulutnya sendiri rapat-rapat. Bahkan tanpa dia sadari, saat ini gangguan kecemasan umum yang dia derita sedang kambuh.
"Maaf ... maafkan aku, aku memang mengecewakan ... tapi tolong jangan benci aku ..."