Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Bab 9. Mustahil Ditindas


__ADS_3

"Sekretaris?"


"Y-ya!?" Nisa tiba-tiba tersadar.


"Perkenalkan dirimu!" ucap CEO Keyran.


"Baik. Perkenalkan nama saya Nisa Sania Siwidharwa, saya seorang mahasiswa dari Universitas Grand SC. Saya sangat berterima kasih karena Bapak telah menerima saya bekerja di perusahaan Bapak. Meskipun ini pekerjaan pertama saya, saya pasti akan berusaha dengan baik!" ucap Nisa dengan penuh percaya diri.


"Oh, kau seorang mahasiswa. Bagaimana dengan pendidikanmu jika diwaktu yang sama kau harus bekerja?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.


"Bapak tidak perlu khawatir. Soal itu, saya juga merupakan siswa dengan peringkat dan nilai yang baik. Oleh karena itu dengan mempertimbangkan keadaan saya, pihak universitas sudah memberi izin."


Heh, asal kau tahu. Yang menyuruhku melakukan semua ini adalah dekan kampret itu. Tapi aku juga harus jaga image, supaya bos menilaiku sebagai seorang pekerja keras yang jujur. Itu akan mempermulus rencanaku.


"Caramu berkomunikasi terhitung cukup bagus, setidaknya sudah memenuhi standar menjadi sekretaris dengan kemampuan komunikasi yang baik. Valen, apa kau yang bertanggung jawab dalam memilihnya?"


"Benar, Tuan. Hari ini adalah hari pertamanya. Jadi, saya nanti akan memberikan arahan terlebih dulu tentang sistem kerja perusahaan," jawab Valen.


Keyran lalu beralih menatap Nisa. "Dan untukmu sekretaris baru, tugasmu hari ini adalah menyusun berkas-berkas ini menjadi laporan!" ucapnya sambil menyodorkan beberapa lembar berkas ke arah Nisa.


"Baik, Pak!" Nisa kemudian menerima berkas-berkas tersebut.


"Kau sebaiknya mengerjakan dengan baik, laporan itu akan ditunjukkan kepada dewan direksi!" ucap Keyran seolah-olah itu peringatan.


"Iya, saya pasti akan melakukan yang terbaik!"


"Sudah, kau boleh pergi!"


"Baik, saya undur diri," Nisa lalu berjalan keluar.


KLAP!


Selang beberapa saat setelah kepergian Nisa, Keyran lalu menatap ke arah Valen.


"Valen, dimana kau mengenal gadis itu?" tanya Keyran penasaran.


"Dia sendiri yang datang ke perusahaan kita. Aku memberinya posisi itu untuk meringankan pekerjaanku, tidak apa-apa kan Tuan?"


"Meringankan pekerjaanmu? Maksudmu selama ini aku terlalu menekanmu?" Keyran menatap sinis.


"B-bukan begitu. Hanya saja ... belakangan ini karena rencana peluncuran produk baru, semua departemen jadi sibuk. Sayalah yang bertanggung jawab atas semua departemen, sedangkan saya juga sebagai asisten Anda. Saya hanya semakin kesulitan membagi waktu, jadi saya berinisiatif untuk merekrut sekretaris untuk Tuan agar semuanya tetap berjalan dengan lancar."


"Yah ... sepertinya sekretaris yang kau pilih akan sedikit kesulitan."


"Tidak akan, Tuan. Saya tahu kalau dia gadis yang berbeda, dia pasti akan bekerja dengan baik!"


"Terserah padamu. Kau bisa pergi dan lakukan pekerjaanmu!"


"Baik tuan, saya undur diri dulu." Valen lalu segera pergi meninggalkan ruangan itu.


"...."

__ADS_1


Apa lagi yang akan terjadi nanti? Wanita yang berada di sekitarku semuanya punya maksud dan tujuan tertentu. Kali ini apa yang akan diperbuat oleh gadis ini?


***


Nisa yang kini telah berada di ruangannya langsung mendekati meja kerja. Dia duduk dan geleng-geleng kepala saat mengingat hal memalukan yang telah dia perbuat.


Ya ampun, aku salah perhitungan. Aku kira CEO yang jadi bosku itu seseorang yang sudah tua atau setidaknya seumuran dengan ayah, tapi ternyata dia masih muda. Bahkan aku sempat ternganga tadi karena mengira dia adalah idol.


"Duh, malunya ... habisnya dia ganteng!"


Tapi, seganteng-gantengnya orang itu ... tentu saja jelas Ricky yang terbaik!


"Ah, sudahlah! Sekarang waktunya kerja!"


Nisa langsung membaca berkas yang menumpuk itu satu per satu dengan saksama. Setiap kali dia membalik halaman baru, ekspresinya semakin terkejut dengan informasi yang berada dalam berkas-berkas itu.


"I-ini ... apa-apaan? Isi berkas ini jauh berbeda dari yang aku bayangkan. Ternyata selama ini materi yang diberikan dosen hanya 20 persen yang sesuai dengan yang ada di lapangan."


Astaga, setelah tahu hal ini aku merasa kalau aku selama ini kuliah hanya untuk mencari gelar.


"Pak CEO bilang kalau laporan ini nanti akan ditunjukkan kepada dewan direksi. Untuk jaga-jaga sebaiknya aku susun laporan yang sederhana dan mudah dimengerti saja. Jadi hal ini akan mempermudahku jika nanti aku disuruh mempresentasikan laporan ini."


"Oh iya, aku juga harus membuat draf rincian lalu mengcopy nya untuk setiap anggota dewan direksi!"


Nisa sangat antusias untuk mengerjakan tugasnya, semuanya dia kerjakan dengan sungguh-sungguh. Bahkan tanpa terasa, waktu 3 jam telah berlalu begitu saja.


"Selesai!" ucap Nisa dengan senyum semringah. Dia sekali lagi mengecek pekerjaannya, memastikan bahwa tak ada satu pun kesalahan yang dia buat.


Pantas saja HW Group menjadi perusahaan nomor satu, profitnya saja sebanyak ini, bahkan satuan mata uang yang dipakai dollar Amerika. Lalu ini semua masih belum termasuk dengan investasi yang berada di luar negeri.


"Jika dibandingkan denganku, aku sekarang sadar jika aku ini tak ada apa-apanya," gumamnya yang kemudian melihat ke arah jam.


Ternyata sudah masuk jam istirahat. Ke pantry ah, istirahat sambil bikin kopi. Setelah itu aku print laporan dan serahkan ke pak CEO.


***


Nisa saat ini sedang menyeduh kopi di pantry, tetapi para pegawai lain yang sedang berada di sana semuanya menatap tajam ke arah Nisa. Tak sedikit juga di antara mereka ada yang saling berbisik dan mencibir Nisa.


"Lihat dia!" seru seseorang yang memperhatikan Nisa dari atas sampai bawah.


"Iya, aku tahu. Dia karyawan baru yang tiba-tiba jadi sekretaris pak CEO! Pasti dia pakai cara kotor!"


"Aku juga memikirkan hal yang sama! Ckck, padahal kelihatan masih muda dan polos!"


"Hmmm ...." Nisa mengernyit.


Dasar orang-orang t*lol! Kalian pikir telingaku rusak?! Kalau memang mau membicarakan aku setidaknya lakukan agak jauh biar aku nggak dengar! Ini justru malah kebalikannya.


Tiba-tiba seorang wanita yang tampak dewasa mendekati Nisa.


"Hei, anak baru! Kau nggak usah banyak gaya!" gertak seseorang dengan nada yang seakan mengintimidasi.

__ADS_1


"Habis deh, Manager Rachel menjadikan anak baru itu sebagai target. Pasti sial banget!" ucap salah satu pegawai lain.


"Iya, siapa suruh si anak baru malah dapat posisi yang selama ini diidamkan oleh Kak Rachel!" sahut karyawan lain.


"Bakalan ada pertunjukkan bagus nih!"


"Padahal kamu masih muda. Tapi kelakuanmu itu nggak tahu malu. Berani-beraninya menggoda atasan!" teriak Rachel sambil menuding ke arah Nisa.


"...." Nisa diam dan hanya menatap Rachel dari atas sampai bawah.


Cih! Ternyata benar kata orang kalau semua anak baru pasti bakal ditindas. Kau pikir aku nggak punya cara untuk membuatmu diam? Lihat bagaimana aku melakukannya!


"Iri bilang boss!" ucap Nisa dengan entengnya seakan tidak peduli.


"...."


Semua orang langsung terdiam, mereka semua sama sekali tidak habis pikir dengan kata-kata sarkas yabg baru saja diucapkan oleh Nisa


"Heh!" Nisa menyeringai.


Nah, sekarang kalian diam. Ingin menindasku itu mustahil, terlalu cepat dua puluh ribu tahun! Tunggu saja sampai reinkarnasi seratus kali! Hingga raja neraka sekalipun sampai bosan melihatmu!


Wanita yang tidak lain adalah seorang manager departemen administrasi itu tak lagi bersuara. Saat ini untuk pertama kalinya Rachel merasa dipermalukan hingga dia hanya bisa diam karena kehabisan kata-kata.


Nis meletakkan kembali secangkir kopi yang telah dia buat. Saat ini dia sudah kehilangan selera untuk meminum kopi tersebut.


Sebelum keluar dari pantry, Nisa berjalan melewati Rachel sambil berkata, "Cih, dasar teri!"


***


Nisa yang sudah mengabaikan masalah saat di pantry, kini memutuskan untuk menyerahkan laporan yang telah dia kerjakan ke ruangan CEO.


TOK TOK TOK!


"Permisi, Pak. Bolehkah saya masuk?" tanya Nisa dengan nada sopan.


"Ya, masuk!"


Nisa langsung masuk setelah dipersilakan. Dia langsung mendekati meja kerja CEO Keyran, kemudian meletakkan laporan-laporan itu di meja tersebut.


"Pak, ini laporan yang Bapak minta saya kerjakan. Dan sebagai tambahan, saya juga sudah membuat daftar rinciannya," ucap Nisa dengan senyuman lembut.


Keyran mengambil salah satu laporan dan membacanya sekilas. "Bagus, cepat juga kamu kerjanya."


"Terima kasih Pak, itu sudah menjadi tugas saya," jawab Nisa sambil tersenyum.


"Cih! Berhentilah tersenyum, kau cuma mendapatkan pujian remeh dari atasanmu!" ucap seorang wanita yang sempat luput dari pandangan Nisa. Wanita itu berada di sofa yang tak jauh dari sana, dia duduk dengan pose yang angkuh dan menatap Nisa dengan tatapan merendahkan.


Seketika Nisa menoleh ke arah wanita yang baru saja mengejeknya. Nisa kebingungan sekaligus merasa kesal.


Lo itu siapa? Kenapa harus sewot kalau aku dipuji atasanku sendiri? Kenal juga enggak! Pasti kau ini orang yang kebanyakan masalah hidup.

__ADS_1


"Ehem, dia ini temanku. Namanya Amanda, Anastasia Amanda," sahut Keyran.


__ADS_2