Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Cinta yang Sempurna


__ADS_3

Acara wisuda telah sepenuhnya selesai sore hari. Keyran dan Nisa pun kini telah pulang ke rumah, tetapi cara berperilaku Keyran sedikit berbeda. Dia berubah menjadi irit bicara setelah memergoki jika istrinya sempat bersalaman dengan mantan kekasihnya.


Nisa yang telah mengganti pakaian dan membereskan semua perlengkapan wisudanya, kini hanya berbaring lesu di ranjang. "Humph ... Keyran kenapa?"


Dia baru saja kembali dari luar kota lalu pergi menemaniku wisuda. Aku tahu jika dia lelah, jika seperti biasanya ... dia pasti akan selalu menempel padaku dan minta dimanja olehku. Tapi kali ini dia berbeda, setelah pulang dia malah langsung pergi ke ruang kerjanya, bahkan juga enggan bicara banyak denganku.


Apa dia cemburu lalu merajuk dan mengabaikanku seperti ini? Padahal aku kan sudah menjelaskan kalau dia cuma salah paham. Biasanya kalau dia cemburu juga tidak sampai begini.


Nisa tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dengan semangat. "Baiklah, mari buat luluh si tukang cemburu tidak jelas itu! Aku akan buatkan kopi untuknya lalu membujuknya!"


Nisa bergegas menuju ke dapur untuk menyiapkan kopi buatannya yang selalu disukai oleh suaminya. Bahkan saat ingin masuk ke ruangan kerja Keyran, dia juga bertingkah lebih sopan. Jika biasanya dia masuk tanpa permisi, sekarang dia mengetuk pintu terlebih dulu.


TOK TOK TOK!


"Darling ... bolehkah aku masuk?"


"Masuklah!"


Nisa langsung masuk ke ruangan begitu Keyran mempersilakan. Dia juga berjalan dengan langkah anggung dan terus menerus tersenyum sambil menyajikan kopi ke atas meja.


"Aku buatkan kopi untukmu, ayo minumlah!"


Keyran terdiam, sekilas dia melirik ke arah kopi tersebut lalu menghela napas. "Kau tak perlu bertindak sampai seperti ini ...."


"Hm? Aku cuma melakukan hal yang biasa saja, apakah membuat kopi untukmu termasuk hal spesial?" Nisa kebingungan.


"Kau pikir aku tak tahu jika kau punya tujuan terselubung? Asal kau tahu, aku sangat paham jika kau berniat membujukku. Kau pasti ingin sekali datang ke pesta yang temanmu buat itu. Atau bahkan mungkin saja kau menaruh obat tidur di dalam kopi ini agar kau bisa kabur!"


"Ah ... soal itu kau salah paham. Mana ada obat tidur dicampur dengan kopi yang punya kafein? Lalu ... memang benar jika aku membuatkan kopi untukmu bermaksud untuk membujukmu. Tapi, bukan demi pergi ke pesta! Melainkan sikapmu yang mengabaikan aku, kupikir kau jadi malas bicara denganku karena cemburu gara-gara tadi aku bersalaman dengan Ricky."


"Begitu ya, jadi kau melihatku seperti sedang cemburu?" Keyran terkekeh.


"Iya, memangnya kau tidak cemburu?"


"Aku cemburu, tapi itu tadi. Habisnya kau itu keterlaluan, baru sebentar aku berpaling darimu kau langsung bertemu pria lain."


"Lalu ada apa dengan sikapmu ini? Kalau kau sudah tidak cemburu kenapa masih mengabaikan aku?" tanya Nisa dengan tampang cemberut.


"Maaf jika kau merasa diabaikan, aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Hanya saja ... aku sedang memikirkan sesuatu."


"Soal apa? Biarkan aku membantumu berpikir!"


"Haha, tidak mungkin bisa. Aku cuma butuh waktu untuk merenung, itu saja. Oh iya, kau cepatlah bersiap-siap!"


"Bersiap-siap untuk apa?" tanya Nisa dengan wajah bingung.


"Bukankah kau sangat ingin pergi ke pesta kelulusanmu?"


"Kau mengizinkan aku pergi?!" Nisa melongo seakan tidak percaya.


"Iya, tapi ada syaratnya. Aku sendiri yang akan mengantarmu, nanti juga aku yang akan menjemputmu. Pokoknya saat aku menjemputmu nanti, mau tidak mau kau harus pulang, tidak peduli seberapa meriahnya pestamu!"


"Baik, aku janji akan menurut! Terima kasih darling!" Nisa tersenyum semringah dan memberikan sebuah kecupan di pipi suaminya.


Setelah Nisa pergi dari sana, Keyran lalu menyeruput kopi yang telah ditinggalkan oleh Nisa untuknya. Dengan kening yang berkerut dia pun bergumam, "Aku masih tidak tenang meskipun Nisa telah menghiburku."


Untuk pertama kalinya aku merasa seperti ini, baru kali ini aku meragukan diriku sendiri. Aku tersadar saat Nisa bertemu dengan Ricky di kampus tadi. Aku juga heran kenapa mereka berdua masih bisa saling bertatap mata dan bicara. Bukankah harusnya mereka berdua saling membenci? Atau apa aku sendiri yang belum cukup mengenal Nisa?


Ck, jika dibandingkan berdasarkan waktu ... Aku masih kalah jauh dibanding Ricky dalam mengenal Nisa. Sial, aku jadi penasaran dengan apa saja yang sudah mereka berdua lewati.


***


Malam hari dan jam yang telah ditentukan pun tiba. Sesuai dengan yang Keyran katakan tadi, dia juga mengantar Nisa pergi ke club. Ketika Nisa hendak turun dari mobil, tiba-tiba Keyran berkata, "Tunggu! Apa kau serius pergi dengan pakaian seperti itu?"


"Ya, tentu saja! Kau jangan heran jika aku memakai pakaian kasual, pesta orang-orangku berbeda dengan pestamu. Tidak ada aturan khusus dalam pestaku, akulah aturannya. Kalau kau penasaran, kau boleh ikut!"


"Tidak, terima kasih. Aku masih ada urusan lain. Nyalakan terus ponselmu, aku akan meneleponmu nanti! Dan satu hal lagi, jangan minum alkohol terlalu banyak!"


"Iya-iya ... aku tahu," Nisa bergeser mendekat dan mencium pipi Keyran. "Hehe, ciuman sebelum aku bau alkohol. Sampai jumpa nanti darling~"


Nisa lalu turun dari mobil, Keyran baru menjalankan mobilnya begitu memastikan jika istrinya telah masuk ke dalam club.


"Aku harus menyelesaikannya malam ini juga! Valen sudah mengirimkan alamat Ricky, semoga saja dia ada di rumahnya."


Keyran menambah kecepatan mobilnya untuk segera tiba di apartemen Ricky. Kurang lebih sekitar 15 menit kemudian dia tiba di lokasi, tetapi dia masih tampak ragu saat ingin memencet tombol bel.


"Sial, sudah sampai di sini tidak boleh ragu lagi!" gumam Keyran berusaha memantapkan diri.


Keyran akhirnya menekan bel pintu tersebut, tak berselang lama kemudian Ricky membukakan pintu.


"Katanya mau ke sini besok-" Seketika Ricky melongo, dia tak percaya dengan siapa yang bertamu ke apartemennya. "Kau?!"


"Ya, ini aku," jawab Keyran datar.


"Tunggu sebentar, dari mana kau tahu alamatku?"

__ADS_1


"Aku mencari tahunya sendiri. Tentu saja siapa pun yang dekat dengan istriku akan aku selidiki latar belakangnya secara tuntas."


"Ohh ... Lalu ada urusan apa kau kemari?"


"Aku ingin membahas hal yang penting denganmu."


"Aku tak punya waktu, silakan pergi!" Ricky hendak menutup pintu namun berhasil ditahan oleh Keyran.


"Ini tentang Nisa!"


Sontak saja ekspresi Ricky berubah, dia juga membuka pintu lebar-lebar untuk Keyran. "Masuklah!"


"..."


Sialan, tadi kau bilang tidak ada waktu, tapi saat aku bilang soal Nisa kau langsung berubah. Jika bukan hal penting aku tidak sudi bertamu.


Meskipun merasa kesal, Keyran akhirnya tetap masuk ke apartemen Ricky. Dia juga memperhatikan setiap sudut apartemen itu di setiap langkahnya. Saat Keyran duduk di sofa, Ricky juga menyuguhkan segelas minuman.


Namun, Keyran hanya memandangi dan tak menyentuh minuman yang berupa air putih tersebut. Ricky yang menyadari hal itu langsung berkata, "Minumlah, air putih adalah minuman yang paling sehat."


Keyran terdiam, sejenak kemudian dia berkata, "Apartemenmu bagus, tapi dengan kau yang sekarang ini kenapa tidak pindah saja ke penthouse yang jauh lebih luas dan mewah?"


"Aku yang sekarang memang mampu, tapi aku tidak mau. Meskipun tidak begitu luas dan sederhana, tapi tempat ini menyimpan banyak kenangan."


Keyran menatap sinis. "Maksudmu kenangan bersama Nisa?"


"Kurasa aku tak perlu menjawabnya lagi," jawab Ricky sambil tersenyum tipis.


Kacau, perbincangan antara kedua pria yang sama-sama bersifat dingin itu kini telah kacau. Bukannya membahas hal yang perlu dibahas, mereka justru malah saling menyindir.


Hingga beberapa menit kemudian Ricky pun berkata, "Tadi katamu mau membahas hal penting soal Nisa, kenapa sekarang malah diam?"


Keyran menghela napas. "Entahlah ... aku tak tahu harus mulai dari mana. Banyak yang ingin aku tanyakan. Aku tak tahu mengapa tapi hari ini aku merasa sangat aneh. Aku merasa jika aku tak cukup mengenal Nisa lebih dekat. Lalu aku teringat padamu, kau jauh mengenal Nisa lebih dulu daripada aku. Jadi aku ingin bertanya soal Nisa padamu."


"Memangnya kau tidak bisa bertanya sendiri pada Nisa secara langsung? Kalian berdua kan satu rumah." Ricky menatap heran.


"Bagaimana aku bisa menanyakan sesuatu jika Nisa tak pernah menyinggung soal apa pun?"


"Benar juga, Nisa memang tertutup. Kita hanya akan tahu apa yang terjadi hanya jika dia mau bicara ataupun keceplosan. Begini saja, kau ingin mengenal Nisa lebih dalam, kan? Bagaimana jika mulai dari yang sederhana?"


"Baiklah, jika dari yang sederhana aku sudah tahu tentang apa yang dia suka. Coklat, vanila, stroberi. Nisa paling suka makanan coklat, dia juga selalu memakai parfum aroma vanila, buah yang paling dia sukai adalah stroberi. Dan satu hal yang paling dia sukai adalah wine."


"Haha ..." Ricky tertawa sambil geleng-geleng kepala.


"Apa yang lucu?"


"Nisa tidak suka buah mangga, dia juga benci anjing, dan dia ... Tunggu sebentar, bukan hal-hal seperti ini yang ingin aku bicarakan!"


"Lalu soal apa? Cepat katakan, ini sudah malam dan besok aku harus hadir di acara seminar!" celetuk Ricky dengan tidak sabar.


"Aku heran denganmu, hubunganmu dengan Nisa sudah berakhir. Tapi kalian berdua masih bisa saling bicara, bukankah harusnya kalian saling membenci? Kenapa yang terjadi justru kalian masih bisa berteman?"


"Ternyata soal itu ..." Ricky menghela napas lalu menyadarkan tubuhnya ke sofa. "Pertemanan dapat terjaga saat kepentingan satu sama lain selaras. Satu-satunya hubungan tanpa syarat adalah cinta."


"Maksudmu?" tanya Keyran dengan wajah bingung.


"Maksudku kau tak perlu berpikir berlebihan, antara aku dan Nisa ... sudah tidak ada apa-apa. Jika kami berdua bertemu, tentu saja karena ada suatu kepentingan atau urusan lain. Berbeda denganmu, ingin bicara dengan Nisa tak perlu memerlukan alasan khusus."


Sejenak Keyran tertegun, kemudian berkata, "Aku tahu jika tidak terjadi apa-apa di antara kalian, aku percaya pada Nisa. Tapi kenapa kau bisa punya perasaan sebegitu dalamnya? Sebenarnya apa saja yang terjadi di antara kalian?"


Ricky menyeringai. "Heh, kau sungguh ingin mengetahuinya?"


"Tentu saja! Caraku menjalin hubungan dengan Nisa bisa dibilang bukan murni atas keinginan kami sendiri, kami dijodohkan lalu saling membenci dan lambat laun jadi saling mencintai. Tapi bagaimana denganmu? Bagaimana kau bisa menaklukkan Nisa yang liar seperti itu?"


Ricky tersenyum dingin, pandangan matanya juga melirik ke arah lain. "Bagaimana ya ... awal mula hubunganku dengan Nisa cukup rumit, bahkan aku sampai dibuat hampir mati oleh rekan-rekannya. Dan sebenarnya akulah yang pertama kali mendekatinya karena ingin mengambil keuntungan darinya."


"Apa?! Jadi kau berniat memanfaatkan Nisa?! Tapi untuk apa?!"


"Tunggu sebentar, aku akan ambilkan sesuatu agar membuatmu lebih paham." Ricky beranjak dari sofa lalu masuk ke kamarnya, tak lama kemudian dia kembali sambil membawa sebuah dokumen yang terlihat cukup tebal.


Sebelum Ricky menyerahkan dokumen itu pada Keyran, dia berkata, "Bersumpahlah jika kau tidak akan menyebarkan isi dari dokumen ini!"


"Apakah perlu sampai bersumpah segala?" tanya Keyran dengan ekspresi gugup.


"Kau ingin mengenal Nisa sepenuhnya atau tidak?!"


"B-baik, aku bersumpah tidak akan menyebarkan isi dokumen itu!"


Ricky pun menyerahkan dokumen itu, namun Keyran langsung melongo begitu melihat tulisan sampul luar dari dokumen tersebut. "Laporan penelitian perasaan ...?!"


"Bacalah bagian selanjutnya maka kau akan paham," ucap Ricky dengan nada pasrah.


Keyran pun membuka lembar pertama, dia membaca nama-nama siapa saja yang terlibat dan apa sebenarnya laporan itu. "Apakah ini salah satu proyek karya ilmiah mu?"


"Benar, juga merupakan satu-satunya proyekku yang gagal. Tapi aku bersyukur itu gagal," ucap Ricky dengan senyum pahit.

__ADS_1


"Tapi di sini juga tertulis nama Prof. Dr. Arman Haydan, M.Psi., M.M. Menurut gelarnya dia ini lulusan di bidang psikologi, sedangkan kau dokter spesialis bedah. Bukankah ini sedikit tidak berhubungan?"


"Kau benar, proyek karya ilmiah itu adalah proyek terakhir sebelum aku melakukan sertifikasi kedokteran. Menjadi dokter jika ingin mendapat penempatan yang bagus juga butuh relasi, karena itu aku menerima tawaran profesor Arman yang merupakan seorang psikiater yang mempunyai cukup pengaruh di dunia kedokteran. Lagi pula dia juga ayah temanku, Aslan."


"Begitu ya ..." Keyran lalu lanjut membaca, matanya membelalak saat melihat nama yang tidak asing. "Trouble Lady, dia subjek dari penelitian ini! Tapi bukankah Trouble Lady itu julukan Nisa di kampus karena sering membuat masalah? Jadi maksudnya Nisa jadi kelinci percobaan dari proyekmu?!"


Ricky menundukkan kepala. "Benar, sebenarnya julukan Trouble Lady itu akulah yang membuatnya sebagai nama samaran untuk Nisa. Sekarang kau suaminya Nisa, jadi kurasa kau berhak tahu soal masa lalu kelam ini ...."


"Hei, lantas apa tujuan dari penelitian yang tidak sesuai dengan bidangmu ini?!" tanya Keyran dengan nada ketus.


"Aku paham kenapa jika kau merasa tidak terima, tapi tolong tenanglah. Aku akan menjelaskan semuanya secara rinci."


"Baiklah, cepat jelaskan!" Keyran bersedekap dan menatap Ricky dengan tatapan sinis.


"Seperti yang aku katakan tadi, aku melakukan itu karena pengaruh yang dimiliki oleh profesor Arman. Dia memilihku untuk melakukan penelitian ini dengan Nisa yang sebagai subjeknya. Awalnya aku menolak setelah tahu tujuan sebenarnya profesor Arman, tetapi bagi dunia sains ... tujuan itu menimbulkan pro kontra."


"Memangnya apa tujuannya?!" tanya Keyran dengan tidak sabar.


"Menghapus perasaan manusia!"


"Apa?! Jika manusia tanpa perasaan bisakah disebut sebagai manusia lagi?! Ide gila macam apa itu?!"


"Yaa ... memang gila. Tapi apa kau tahu jika semua penemu awalnya juga dianggap gila? Manusia tak punya sayap tapi berkeinginan terbang, akhirnya dia menciptakan pesawat yang bermanfaat bagi peradaban manusia. Coba pikirkan ini, dengan adanya perasaan, manusia bisa merasa sedih, depresi, marah dan takut. Manusia yang punya perasaan rapuh seperti itu sudah bisa menciptakan teknologi-teknologi yang canggih seperti saat ini."


"Tapi bayangkan saja jika manusia tak punya perasaan! Dia kan fokus ke ilmu pengetahuan dan menciptakan terobosan baru untuk dunia! Begitulah kira-kira ucapan profesor Arman yang berhasil menghipnotisku. Perasaan hilang maka peradaban semakin maju, tapi di sisi lain manusia kehilangan empati dan hak asasinya. Karena itulah menimbulkan pro kontra."


"Cih, kau benar-benar tidak berperasaan karena melakukan project itu!" Keyran bersungut kesal.


"Haha ... memang miris. Aku yang dulu memang hanya mengejar apa yang menurutku masuk di akal. Bayangkan saja jika proyek itu berhasil, maka namaku akan terukir dalam sejarah hebat awal kemajuan evolusi manusia."


"Lantas bagaimana caranya Nisa bisa terlibat? Aku yakin Nisa tidak sebodoh itu sampai mau jadi kelinci percobaan, kau pasti menipunya!"


Ricky menarik napas panjang dan berkata, "Kau benar, aku menipunya. Karena menimbulkan pro kontra, masih ada sebagian kenalan profesor Arman yang bersedia jadi sponsor. Aku mendapat banyak dukungan dan fasilitas sehingga aku bisa memalsukan identitasku untuk mendekati Nisa."


"Tujuan awalku hanya ingin dekat semata-mata untuk mendapatkan kepercayaan Nisa lalu menggiringnya ke profesor sebagai garis final. Tapi semakin aku memperhatikan Nisa ... aku mulai sadar jika aku punya perasaan terhadapnya. Dalam tahap ini aku melewati banyak hal yang tak pernah aku bayangkan selama hidupku, yaitu berurusan dengan kelompok gangster."


"Aku akhirnya tahu kenapa profesor tidak menunjuk anaknya melainkan aku, itu karena subjek penelitian itu sendiri sangat berbahaya. Salah sedikit saja, besar kemungkinannya untukku lenyap tanpa jejak. Saat menyadari hal ini aku ingin berhenti, tapi justru Nisa malah mencariku dan bilang tertarik padaku."


"Akhirnya karena keegoisanku ingin terus bersama Nisa, aku melanjutkan proyek itu. Dan selama itu juga Nisa menjadi lebih terbuka terhadapku, dia mau bercerita tentang bagaimana masa kecilnya yang dia korbankan, bahkan dia juga memintaku agar membimbingnya menjadi gadis yang baik."


"Tentu saja aku setuju, kapan lagi aku mendapat kesempatan untuk membuat seorang gangster bertobat. Tapi hal ini diketahui oleh rekan-rekan Nisa sehingga mereka membenciku, bahkan aku sempat mengalami percobaan pembunuhan beberapa kali."


"Saat itu aku sangat ingin menyerah, tapi sekali lagi perasaanku terhadap Nisa mampu membuatku bertahan. Bahkan sampai sekarang aku masih terbayang senyum bahagianya ketika aku pertama kali memberinya boneka beruang. Dia bilang itu pertama kalinya dia mendapatkan sesuatu yang nyaman dipeluk. Aku tak habis pikir seberapa keras orang tuanya dalam mendidiknya."


"Apa ceritamu ini sungguhan?" tanya Keyran seakan tidak percaya.


"Tentu saja itu sungguhan, kau pikir kenapa aku bisa mencintai Nisa sampai sekarang?! Semua itu karena memikirkan apa yang telah aku lalui bersamanya."


"Ohh ... lalu bagaimana bisa proyek itu gagal?"


"Karena kecerobohan dan keegoisanku, aku tak bisa terus memperalat Nisa. Akhirnya aku jujur kepadanya, dan di luar dugaan Nisa malah tertarik. Tapi itu justru sebagai titik awal balas dendamnya."


"Balas dendam?" tanya Keyran penasaran.


"Iya, Nisa cukup pintar karena ingin memperalatku balik demi menemui profesor Arman, dalang dibalik semua ini. Lalu saat mereka bertemu, Nisa justru menggila dan menyerang profesor sampai tangannya terluka parah. Lalu tanpa aku sangka, ayahnya Nisa juga mengenal profesor dan ikut balas dendam demi putrinya."


"Lalu sekarang bagaimana keadaan profesor itu?"


"Dia mundur dari posisi guru besar di kampus, gelar profesor nya dicabut. Dan bekas luka ditangannya tidak bisa hilang. Masalah tidak jadi membesar karena terjadi kesepakatan antara ayahnya Nisa dan profesor. Aku tak tahu apa itu, tapi yang jelas syukurlah sama sekali tidak melibatkan aku."


"Emm ... Tunggu sebentar, kenapa si psikiater gila itu memilih Nisa sebagai subjek?" Keyran terheran-heran.


"Yang satu ini juga di luar dugaanku. Alasan pertama, karena Nisa pernah satu kali konsultasi dengannya sehingga dia punya catatan medis milik Nisa. Lalu alasan lain, profesor Arman adalah mantan kekasih ibunya Nisa. Dia berencana balas dendam lewat Nisa."


Keyran tersentak. "A-apa?! Ternyata ada hal semacam itu juga?!"


"Mungkin itu salah satu akibatnya jika sebuah hubungan tidak diakhiri dengan cara yang baik. Muncul rasa benci yang terus berlanjut. Oh iya, sebelum kau pergi ada baiknya jika kau membaca laporan itu secara keseluruhan. Semua yang aku tahu tentang tingkah laku dan emosi Nisa tertulis di situ."


"Aku tidak mau," ucap Keyran seraya menyodorkan laporan itu kepada Ricky.


"Kenapa? Tadi kau bilang ingin lebih mengenal Nisa?"


"Huh, aku sudah bisa menebak isinya tidak jauh-jauh dari kisah cinta kalian. Membacanya hanya akan membuat mataku perih!"


"Haha, kurasa kau sudah bisa pergi. Menurutku tak ada yang perlu kau khawatirkan, belum mengenal Nisa itu hanya perasaanmu saja. Selagi cinta Nisa untukmu sempurna, kau tak perlu meragukannya."


"Cinta yang sempurna?" tanya Keyran.


Ricky memalingkan wajahnya. "Jangan tanyakan soal itu, jawabanku akan memalukan!"


"Cepat jawab saja, aku tak akan pergi sebelum kau menjawab yang satu ini!" Keyran bersikeras.


"Baiklah, tapi sebelumnya aku akan menjelaskan jika setiap orang punya pandangan yang berbeda tentang cinta. Cinta yang sempurna ... bagiku itu seperti iman. Iman adalah saat kita mempercayainya dari hati, mengucapkan secara lisan dan menunjukkan lewat perbuatan."


"Baguslah jika memang begitu! Aku yakin jika di hati Nisa hanya ada aku, semua yang dia lakukan juga membuktikan rasa cintanya. Dan dia juga mengatakan ..." Tiba-tiba saja Keyran berhenti bicara, tampangnya seperti orang linglung.

__ADS_1


Tunggu sebentar, kapan Nisa pernah bilang jika dia mencintaiku? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Sial, aku baru sadar jika Nisa belum pernah mengatakan jika dia mencintaiku.


__ADS_2