
"Maaf ... sebelumnya bisa tidak mundur sedikit? Anda terlalu dekat denganku," ucap Aslan dengan senyum canggung.
"Eh? Maaf ..." Keyran tersadar dan langsung mundur selangkah dari Aslan.
"...."
Kaget aku, tadi itu dekat sekali. Dia seakan-akan ingin menciumku, padahal hanya Jenny yang boleh menciumku.
"Jadi bagaimana keadaan Nisa, dokter?"
Jika Nisa selamat, maka aku bersumpah setelah ini akan menuruti semua keinginannya, selama dia bahagia apa pun itu aku bersedia.
"Operasinya berjalan lancar, dia berhasil melewati masa kritis. Setelah ini dia masih harus dipindahkan ke ruang pemulihan, akan ada dokter khusus dan beberapa perawat yang akan memantau dengan ketat. Jika keadaannya sudah stabil, dia bisa dipindahkan ke ruang perawatan."
Semua orang langsung bernapas lega begitu mendengar penjelasan dari Aslan. Puji syukur kepada Tuhan juga tak lupa diucapkan oleh semuanya.
"Bagaimana dengan lukanya?" tanya Tuan Muchtar.
"Lukanya termasuk parah, beberapa organ dalam juga terluka, dan kami harus melakukan pemotongan usus sepanjang 14 cm. Tapi berita bagusnya, karena dia terluka di sisi kanan, maka itu tidak melukai rahim. Jadi kalian bisa tenang, ke depannya dia masih bisa hamil."
"Lalu kira-kira kapan kakakku akan bangun, dok?" tanya Dimas.
"Dia akan bangun dalam waktu 1 atau 2 hari, atau mungkin lebih. Karena sebelumnya dia mengonsumsi alkohol, maka proses pembiusan jadi lebih sulit karena perlu dosis yang lebih besar. Karena alkohol juga berakibat menurunkan kondisi pembekuan darah, sehingga risiko pendarahan jadi lebih besar. Saat itu dia sudah pendarahan tingkat 4 yang terjadi karena kehilangan lebih dari 40% jumlah volume darah dalam tubuh, dia bisa mengalami syok hipovolemik yang sangat mengancam nyawa. Tapi syukurlah pertolongan darah tiba tepat waktu, jadi dia bisa selamat."
Mungkin semuanya bersyukur karena Nisa selamat, namun tak dapat dipungkiri bahwa semua orang merasa janggal dari mana Reihan bisa mendapat darah itu. Tapi semuanya menutup mulut dan melirik ke arah Reihan.
Reihan pun merasa canggung, dia mencoba mengalihkan topik dengan berkata, "Emm ... dok, apa kakakku sudah boleh dijenguk?"
"Soal itu ... sebenarnya boleh, hanya saja ada protokol yang harus dipatuhi agar tidak mengganggu proses perawatan. Harus menggunakan alat pelindung diri lengkap, dan waktu beserta orang juga dibatasi. Untuk saat ini hanya satu orang yang diperbolehkan masuk."
"Aku!" ucap Keyran yang seketika menoleh ke arah mertuanya. "Tolong izinkan aku, aku mohon biarkan aku menjaganya ..."
"...."
Keyran merasa gugup karena tak memperoleh jawaban dari mertuanya. Pandangan mata dari kedua mertuanya tampak tidak rela. Namun tiba-tiba saja Reihan kembali menyela.
"Ayah ... aku dan Dimas masih harus sekolah. Ini sudah hampir jam 3 pagi, kita pulang saja. Masih ada kakak ipar yang bisa menjaga kakak."
"Baiklah, kau jaga putriku baik-baik! Kabari kalau dia sudah siuman!"
"Baik ayah mertua, terima kasih atas kesempatannya." ucap Keyran sambil menunduk.
Keluarga Nisa akhirnya bersedia untuk pulang terlebih dulu. Begitu bayangan mereka sudah tidak terlihat, tiba-tiba Tuan Muchtar memberi isyarat ke Valen agar mendekat. Kemudian dia mulai berbisik.
"Selepas dari rumah sakit, cepat blokir semua media yang berisi tentang kejadian ini! Dan urus juga agar si pelayan sinting itu mau membeberkan semuanya!"
"Baik tuan besar, akan saya urus."
"Ayah!" panggil Keyran.
"Ada apa?"
"Ayah juga pulanglah, aku bisa menjaga istriku sendiri. Toh bukankah ayah juga masih harus minta maaf secara pribadi ke beberapa orang?"
"Ya, kau benar. Kau memang harus menjaga istrimu sebaik mungkin. Untuk urusan kantor jangan terlalu dipikirkan, Daniel yang akan mengerjakan sebagian pekerjaanmu. Dan satu hal yang harus kau ingat, jangan terlalu memaksakan diri sendiri, istirahatlah jika merasa lelah."
"Iya aku tahu, tak perlu mencemaskan aku."
__ADS_1
Tuan Muchtar juga pada akhirnya pergi. Sedangkan Valen masih berdiam diri di tempat, dia kemudian berjalan mendekat ke arah Keyran.
"Apa tuan butuh sesuatu? Air misalnya?"
"Tidak, kau juga pergilah. Cepat urus apa yang ayahku perintahkan kepadamu barusan. Tapi sebelum pergi, aku minta kau atur agar nanti Nisa ditempatkan di ruangan terbaik!"
"Baik tuan, segera saya laksanakan."
Valen akhirnya juga pergi, menyisakan Keyran dan Aslan yang masih berada di ruang tunggu. Tiba-tiba pandangan mata Keyran berubah, dia mulai serius menatap Aslan.
"Apa kau juga mengenal istriku? Aku rasa menurut penanganan yang kau berikan, kau terkesan akrab dengannya."
"Yah ... bisa dibilang sejak lama memang akrab, aku mengenalnya karena sahabatku tergila-gila padanya. Harusnya kau tahu dia siapa."
"Maksudmu mantan pacar istriku?"
"Tepat. Kau beruntung karena bukan dia yang bertugas, jika dia ... kemungkinan besar dia sudah menggila, dia pasti tidak membiarkan siapa pun menyentuh Nisa selain dia sendiri. Ayo, ikuti aku!" Aslan lalu berjalan melewati Keyran.
"Kemana?" tanya Keyran dengan wajah bingung.
"Tentu saja ambil APD, tadi kau bilang ingin melihat Nisa. Saranku kau minumlah, kau terlihat bingung seperti dehidrasi." jawab Aslan dengan nada malas.
"Iyaa ..." Keyran lalu segera berjalan mengikuti Aslan.
Memang sepasang sahabat, begitu orang lain pergi sifatnya langsung kelihatan, mereka sama-sama menjengkelkan. Tapi aku heran kenapa Nisa bisa menyukai orang sejenis ini.
"Huft ..."
Syukurlah Nisa selamat, kalau nggak ... bisa-bisa nanti aku dibantai sama Ricky. Masalah pertama sudah selesai, sekarang tinggal menyusun kalimat bagaimana mengabari hal ini ke Ricky. Dia sekarang masih di luar kota, kemungkinan besar nanti siang dia akan datang.
Setelah Keyran selesai mengenakan alat pelindung diri lengkap, sebelum masuk dia terlebih dulu diberi arahan oleh Aslan tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di dalam ruang pemulihan.
Ruang pemulihan (Recovery Room) atau disebut juga Post Anesthesia Care Unit (PACU) adalah ruangan tempat pengawasan dan pengelolaan secara ketat pada pasien yang baru saja menjalani operasi sampai keadaan umum pasien stabil.
Peralatan medis yang terdapat di dalam juga beragam, misalnya monitor yang menampilkan grafis kinerja organ tubuh, ventilator yang membantu bernapas, defibrilator atau alat kejut jantung, selang infus dan sebagainya.
Begitu Keyran masuk, dia melihat semua peralatan medis itu menempel di tubuh Nisa. Dia lalu diarahkan untuk duduk di samping Nisa. Sungguh miris, dia yang awalnya melihat istrinya begitu cantik di pesta, namun sekarang dia melihat istrinya terbaring lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit.
Perlahan Keyran meraih tangan Nisa, dia lalu mengusap punggung tangan yang terasa dingin itu dengan lembut. Dia merasa ingin sekali berteriak sekeras mungkin agar istrinya terbangun, namun tentu saja itu menyalahi aturan. Dia hanya bisa menahan air mata sambil terus bergumam pelan.
"Nisa ..."
Melihatmu yang seperti ini juga membuatku merasa sakit, aku tidak terima dengan semua ini. Terakhir kali kita bicara, kita berdua bertengkar. Aku pikir kau sengaja menghindar, sengaja acuh, sengaja tidak peduli, tapi ... tindakanmu ini apa artinya?
Setelah semua ini aku masih sangat bodoh, masih menipu diriku sendiri, masih menganggap kalau semua ini hanya sandiwara. Waktu itu kau bilang semua saat-saat yang kita habiskan bersama adalah sandiwara, tapi sekarang kau terbaring lemah seperti ini, ini juga termasuk sandiwara kan?
Tolong maafkan aku yang tak mampu jadi seperti yang kau harapkan, yang tak mampu membahagiakanmu, yang tak mampu menjagamu, yang tak mampu melindungimu, yang tak mampu membuatmu bertahan bersamaku. Bahkan ... saat kau pergi, aku pun tak mampu untuk mengatakan "jangan."
Jujur, saat kau pergi, hidupku berubah berantakan sekali. Aku lupa caranya tersenyum dengan benar, aku lupa apa yang namanya bahagia. Tanpamu, yang bisa aku lakukan setiap hari hanyalah berpura-pura baik-baik saja.
Aku sadar siapa aku, aku hanya seseorang yang telah merenggut kebahagiaanmu, hanya seseorang yang seenaknya masuk ke dalam hidupmu, hanya seseorang yang memaksa untuk memilikimu, dan hanya seseorang yang telah lancang mencintaimu. Sekali lagi maafkan aku.
"Cepat bangun darling, jika kau bangun aku janji akan memenuhi semua keinginanmu. Sekalipun itu adalah mi instan, bahkan pabriknya sekalian juga akan aku berikan."
Keyran lalu menggosok matanya, dia kembali mengusap tangan Nisa dengan lembut. Dia tak lagi mengungkapkan apa pun, meskipun wajahnya tak terlihat karena terhalang oleh masker, namun sebenarnya bibirnya bergetar dan terus mengucapkan kalimat, "Aku mencintaimu."
Dia terus begitu hingga salah satu perawat memberitahunya bahwa waktu yang dia punya telah habis. Dengan berat hati Keyran terpaksa keluar, sebenarnya dia sangat ingin tetap di samping Nisa sampai dia bangun.
__ADS_1
Setelah Keyran melepas semua alat pelindung diri, dia lalu kembali menunggu di ruang tunggu. Tak berselang lama kemudian tiba-tiba ponselnya berdering, dia segera melihat ponselnya untuk menjawab panggilan telepon itu.
"Valen, ada apa?"
"Emm ... tuan, pelayan yang menusuk nyonya ... dia sudah meninggal."
"Apa?! Memangnya kau pakai cara penyiksaan macam apa sampai dia meninggal?"
"Dia belum sempat saya apa-apakan. Karena kematiannya begitu mendadak, sepertinya dia meninggal karena sejenis racun."
"Racun? Jadi dia bunuh diri?"
"Bukan, pelayan itu diikat setelah diamankan. Kemungkinan besar ada seseorang yang telah memberinya racun."
"Jadi hasilnya nihil? Apakah tidak ada dompet atau ponsel yang tertinggal di tubuhnya?"
"Ada tuan, saya menemukan ponselnya. Dan nomor yang sering dia hubungi, begitu saya menelepon nomor itu juga ada jawaban. Namun yang menjawab panggilan itu adalah seorang wanita yang mengaku sebagai istrinya. Setelah saya menghubungi semua nomor kontak di ponsel itu, anehnya tidak ada satu pun kejanggalan, semuanya adalah nomor aktif yang bahkan dijawab semua. Jadi saya menarik kesimpulan bahwa penusukan itu adalah inisiatifnya sendiri."
"Ada yang aneh, jika dia memang benar ingin menusukku karena inisiatifnya sendiri ... dia siapa dan ada masalah apa denganku itu tidak jelas. Apa kau sudah mengetahui identitasnya?"
"Sudah tuan, dia adalah seorang mantan narapidana yang terjerat kasus pengedaran narkoba, dan menariknya lagi dia baru bebas sekitar setengah bulan yang lalu. Dan setelah saya selidiki lebih lanjut perihal pisau, pisau itu adalah ... Jagdkommando."
"Jagdkommando," gumam Keyran.
Jagdkommando adalah nama dari sebuah pisau militer yang paling mematikan, dikatakan bahwa pisau ini dilarang digunakan pada saat perang. Bentuknya berbeda dengan pisau lain, yaitu seperti spiral dengan tiga buah sisi tajam yang jadi satu. Tapi hal itu justru membuatnya jadi pisau paling mematikan. Penggunaannya adalah dengan cara tusukan, bukan mengiris atau dilempar ke target. Alhasil, mekanisme penggunaan ini bisa menciptakan daya rusak yang lebih besar.
Mendengar nama pisau ini disebut oleh Valen, tentu saja membuat Keyran menjadi lebih was-was. Dia berpikir bahwa tidaklah mungkin bagi seorang mantan narapidana yang baru saja bebas bisa mendapat senjata militer seperti itu. Dia yakin kalau masih ada orang dibalik semua ini, yaitu orang yang memberikan pisau itu.
"Valen, aku minta kau tetap lanjutkan penyelidikan. Selidiki racun jenis apa yang membunuh pelayan itu, dan yang terpenting selidiki juga dari mana asalnya pisau itu! Aku yakin pasti pelayan itu cuma orang suruhan, aku ingin kau selidiki sampai tuntas! Ke depannya aku tidak ingin Nisa terluka lagi!"
"Baik tuan, akan saya laksanakan."
TUT ... TUT ...
Panggilan telepon berakhir, Keyran lalu menyimpan ponselnya kembali dan melanjutkan menunggu Nisa. Dia sama sekali tidak merasakan kantuk meskipun semalam tidak tidur.
Waktu pun terus berlalu. Sekitar jam 7 pagi lebih, Keyran mendapat pemberitahuan bahwa kondisi Nisa telah stabil. Dan akhirnya Nisa dipindah ke ruang perawatan yang terbaik yang sudah diatur sebelumnya.
Peralatan medis yang terdapat di ruang perawatan jauh berkurang dibandingkan dengan sebelumnya. Dan yang membuat Keyran senang, dia akhirnya bisa selalu berada di samping Nisa tanpa dibatasi oleh waktu. Dia juga tak lupa untuk mengabari keluarganya maupun keluarga Nisa tentang kabar baik ini.
Sekitar jam 8 lebih, Keyran sedikit terkejut karena sudah ada yang menjenguk Nisa. Orang itu adalah ibu tiri dan adik tirinya. Namun mereka berdua hanya menjenguk sebentar, karena secara pribadi Keyran kurang suka terhadap mereka berdua.
Begitu mereka berdua pergi, Keyran lalu mengambil ponselnya dan bersiap untuk menelepon seseorang.
"Valen!"
"Ya tuan?"
"Bawakan semua barang-barangku yang penting! Mulai saat ini aku akan tinggal di rumah sakit."
"Baik tuan, segera saya antarkan."
Tak lama kemudian datanglah Valen beserta barang bawaannya. Namun Keyran tak membiarkan Valen beristirahat dan langsung menyuruhnya untuk ke kantor. Begitu Valen pergi, Keyran langsung mengambil pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi.
Tak butuh waktu lama bagi Keyran untuk membersihkan diri. Dia keluar dari kamar mandi dalam keadaan yang sudah berpakaian. Namun siapa sangka saat itu juga dia melihat seseorang berdiri tepat di samping ranjang tempat Nisa berbaring. Dan orang itu tidak lain adalah Ricky.
"Kenapa kau ada di sini?!" tanya Keyran seakan tidak terima.
__ADS_1