
Apa-apaan ini? Keyran ternyata datang ke rumahku. Sekarang aku harus bagaimana dan berkata apa?
Nisa masih belum membuka lebar pintu kamarnya. Bahkan dia hanya tersenyum canggung saat tahu kalau suaminya datang. Di sisi lain Keyran juga tersenyum sambil berkacak pinggang dan tak berkata apa-apa. Sedangkan Dimas, di tengah kesunyian itu dia merasa kehadirannya tidak berguna.
"Kakak, aku pergi. Silakan menghadap presiden." Dimas langsung pergi meninggalkan Nisa dan Keyran.
"Anu ... pak presiden, m-maksudku ... pak suami ... ah salah! Pokoknya lapor menghadap! Sekian, terima kasih." Nisa bergegas untuk menutup pintu kamarnya kembali, namun saat itu juga ditahan oleh Keyran.
"Wah wah ... laporanmu belum aku terima loh bu presiden, atau harus ku sebut ... darling~ Ayo darling, buka pintunya! Biarkan aku masuk!"
Keyran terus berupaya mendorong pintu, namun masih saja bisa ditahan oleh Nisa.
"Nisa! Berhentilah menahan pintu, biarkan aku masuk! Ada yang mau aku bicarakan, kita masih harus bicara tentang kehidupan!"
"Ini kamarku, kau jangan seenaknya mau masuk! Pulang sana!"
"Ohh ... kau yang memaksaku." Keyran lalu mengambil napas panjang dan berteriak, "Ibu mertua! Anak perempuanmu melawan suaminya! Dia ini ..."
"Hei hei, jangan panggil ibuku! Cepat masuk!" Nisa terpaksa membuka pintu lebar-lebar dan membiarkan Keyran masuk ke kamarnya. "Silakan masuk pak presiden ..." ucapnya dengan nada sopan sambil tersenyum terpaksa.
"Hmm ... bu presiden tidak perlu sungkan." ucap Keyran dengan senyum penuh kepuasan.
Hehe, ternyata benar yang dibilang oleh master kalau Nisa ini paling takut kena omelan dari ibunya.
Untuk sejenak Keyran ternganga setelah memasuki kamarnya Nisa, dia sedikit terkejut saat melihat keadaan kamar Nisa yang berbeda jauh dari bayangannya. Di dinding kamar Nisa ada poster-poster bergambar tokoh kartun, di pojokan dekat dengan balkon ada sebuah samsak tinju. Tapi yang lebih mengejutkan ada dua buah etalase, yang satu berisikan piala, dan satunya lagi berisikan action figure.
Tanpa berkata apa pun Keyran berjalan mendekat ke arah etalase tersebut. Dia tidak menyangka kalau istrinya yang terkesan bodoh ternyata begitu banyak mendapat penghargaan. Saat dia hendak mendekati etalase yang satunya, tiba-tiba saja dia dicegat oleh Nisa.
"Stop! Jangan mendekat! Semua ini adalah benda keramat milikku, kau tidak diperbolehkan untuk menyentuhnya! Aku mengumpulkan semua ini selama 7 tahun lebih! Awas saja jika kau merusaknya, aku akan melupakan status kita sebagai suami istri!"
"Kau akan melupakan status kita jika action figure milikmu rusak?"
"Iya! Camkan ini baik-baik!"
"Cih, lagi pula aku tidak tertarik untuk menyentuhnya. Menyentuhmu saja sudah cukup bagiku."
Ternyata yang dibilang master benar, Nisa ini sangat mementingkan action figure miliknya lebih dari apa pun.
...20 menit sebelumnya...
...•••••• ...
Ting tong ...
Sekitar 20 menit yang lalu Keyran datang ke rumahnya Nisa. Karena saat itu Nisa masih bermain game online bersama Reihan dan Dimas, saat itu Keyran hanya disambut oleh ayah dan ibu mertuanya.
Keyran dibuatkan teh oleh ibu mertuanya, dan selama sekitar 5 menit dia berbincang-bincang membahas tentang Nisa bersama kedua mertuanya. Setelah perbincangan tersebut, kini ayah dan ibunya Nisa telah mengetahui bahwa mereka telah salah paham.
Keyran berterus terang kalau dia ingin menjemput Nisa pulang. Dan ibu mertuanya mengatakan kalau dia sendiri yang harus membujuk Nisa. Keyran memahami hal tersebut dan langsung bergegas menuju ke kamarnya Nisa. Namun saat menaiki tangga, dia tiba-tiba berpapasan dengan Reihan yang telah selesai mabar.
"Eh, kakak ipar ... mau jemput ratu iblis pulang ya?"
"Iya, bisakah antar aku ke kamarnya?"
"Emm .. bisa sih, tapi apakah kakak ipar sudah ada persiapan?"
"Persiapan seperti apa?"
"Tentu saja persiapan untuk membujuk kakakku yang punya EQ rendah itu. Jika belum, ayo ikut aku!"
"Kemana?"
"Hehe ..." Reihan langsung menarik tangan Keyran dengan paksa. "Ayolah ... sebelum membuat kakakku takluk, kakak ipar harus kursus dulu!"
"Kursus?"
Keyran akhirnya pasrah saja mengikuti arah perginya Reihan, dan tempat yang dituju oleh Reihan adalah kamarnya. Saat kedua orang itu masuk kamar, Reihan langsung menyiapkan sebuah kursi untuk Keyran. Dan tentu saja Keyran masih merasa bingung dengan tingkah adik iparnya yang mondar-mandir di depannya.
__ADS_1
"Kau ini kenapa?"
Kenapa seluruh anggota keluarga istriku rasanya aneh semua? Sebenarnya keluarga macam apa ini?
"Oh, aku sudah bilang kalau kakak ipar harus kursus, dan aku adalah tutornya. Silakan panggil aku master!"
"Hah?" seketika ekspresi Keyran bertambah bingung.
"Huft ..." Reihan lalu mengambil satu kursi lagi dan duduk tepat di depannya Keyran. "Nah, ini merupakan sebuah kehormatan bagi kakak ipar karena mendapat kursus dariku. Intinya adalah ... aku telah membuat keputusan, dalam persaingan menaklukkan kakakku, aku sepenuhnya mendukung kakak ipar. Tapi aku punya satu syarat."
"Syarat?" untuk sejenak Keyran terdiam. "Apa ada yang mau kau beli? Berapa pun itu aku akan membelikannya untukmu. Katakan saja, tidak perlu sungkan."
"Bukan itu maksudku, tapi kalau kakak ipar berkenan ... aku sih yes. Aku mau gitar baru!"
"Baiklah, lalu apa syaratmu yang sebenarnya?"
"Itu sudah aku katakan, kakak ipar harus panggil aku master!"
"...."
Dia memang adiknya Nisa, permintaannya selalu saja aneh. Tapi ... dukungan darinya sangat penting, bisa jadi istriku yang bandel itu akan menurut padaku. Lebih baik aku turuti saja.
"Mohon bantuannya master, bantu aku untuk menaklukkan istriku." ucap Keyran dengan nada sopan.
"Haha ... jangan sungkan-sungkan wahai kisana."
Hehehe, asik juga seperti ini. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Tujuanku sebenarnya adalah memang ingin kak Nisa takluk kepada suaminya. Aku ingin kak Nisa cepat-cepat punya anak, kalau dia punya anak ... pastinya dia akan berhenti menggangguku dan beralih mengganggu anaknya. Ckck ... sungguh malangnya nasib calon keponakanku.
"Jadi master, bagaimana caranya agar istriku jadi penurut?"
"Hemm ... itu tergantung situasi. Kakakku itu punya IQ yang tinggi tapi EQ-nya rendah, sedikit terbalik dengan cewek-cewek kebanyakan. Dia kurang peka terhadap perasaan orang lain, tapi masalah perasaannya sendiri ... dia lebih suka memendamnya dan enggan memperlihatkan pada orang lain. Terkadang dia lebih mementingkan diri sendiri, emm .. mungkin ini terkesan egois, tapi kakakku juga punya alasan sendiri. Kakak ipar belum pernah melihat kakakku menangis kan?"
"Iya, belum pernah."
Sebenarnya aku sering melihat mata Nisa sembab, tapi jika aku bertanya dia selalu menyangkalnya. Dia terkesan ingin menyembunyikan semuanya dariku, jika seperti ini ... aku terkesan seperti suami pajangan, persis seperti yang dibilang Jonathan.
"Kakakku memang seperti itu, sebenarnya dia sama saja dengan cewek kebanyakan, dia selalu berpura-pura, berpura-pura baik-baik saja. Padahal butuh peluk, kepalanya butuh bersandar, hatinya sedang rapuh. Tapi saat ditanya keadaannya, dia menjawab baik-baik saja. Kakak ipar harus paham, orang seperti ini lukanya tak pernah sederhana. Kakak ipar juga harus mengerti kalau kakakku belum sepenuhnya bisa move on dari kak Ricky. Tapi tenang saja, aku kan sudah bilang kalau aku akan membantu kakak ipar. Nah, jadi aku akan membeberkan beberapa rahasia kecil kakakku."
"Punya lah, semua orang punya rahasia. Nah, kakakku itu takut kena omelan dari ibuku, dan paling takut dengan hukuman dari ayahku. Lalu ... nanti waktu kakak ipar masuk ke kamarnya, sebaiknya jangan sentuh apa pun, terutama benda yang disimpan dalam etalase! Ngeri deh, aku saja yang adiknya sendiri ... tanganku pernah dipatahkan gara-gara nggak sengaja merusaknya. Pokoknya kakak ipar harus hati-hati, emm .. btw, sehari kakak ipar dipukul berapa kali?"
"Dipukul? Nisa tidak pernah memukulku, paling-paling hanya mencubitku."
"What!? Impossible!"
Ini gawat, kalau kakak ipar belum pernah dipukul ... entah berapa banyak korban yang telah kak Nisa buat di luar sana? Dia itu harus bisa melampiaskan emosinya, karena itulah ayah bahkan membelikannya samsak tinju. Tapi sekarang ... ternyata orang lain yang jadi samsak.
"Kau bilang tanganmu pernah dipatahkan, apa saat itu Nisa mendapat hukuman?"
"Oh itu, dia dapat hukuman dari ayahku. Uang sakunya dipotong sebulan, selama sebulan dilarang makan daging, selama sebulan dilarang main keluar rumah, selama sebulan nilainya harus di atas 90, selama sebulan koleksi pialanya harus bertambah, selama sebulan harus membersihkan rumah seorang diri, tapi tetap saja dia belum kapok. Malah ... dia mengancamku akan mematahkan tanganku yang satunya lagi. Saat itu setiap hari aku menangis, bukan karena sakit, tapi karena takut. Dia baru tenang setelah benda yang aku rusakkan diganti dengan yang baru. Kakak ipar jaga rahasia ini ya? Ini merupakan aib masa laluku ..."
"Tenang saja, aku pandai menyimpan rahasia."
Nisa dilarang main selama sebulan? Aku tidak bisa membayangkan betapa stress dirinya saat itu. Ternyata dia serius saat mengancam ingin mematahkan leherku. Pokoknya aku harus dengarkan arahan dari master, buat Nisa secepatnya takluk olehku.
"Oke, sekarang kembali ke topik. Untuk menaklukkan kakakku, kakak ipar harus terang-terangan! Buatlah dia paham dengan perasaan kakak, dan kakak ipar harus sedikit menurunkan gengsi. Kak Nisa itu lemot, aku sudah bilang dia punya EQ yang rendah. Nanti waktu bicara dengannya, kakak ipar luapkan saja kekesalan yang kakak tahan! Intinya buat dia terpojok dan merasa bersalah, setelah itu dia pasti menurut."
"Itu ... bagaimana caranya? Nisa itu sifatnya selalu melawan, bagaimana caranya agar dia bisa terpojok?"
"Haha ... itu mudah, nanti kakak ipar tinggal bilang @#%$&¥* ..."
...Kembali ke saat ini...
...•••••• ...
Keyran terus menampakkan senyuman di wajahnya. Dia menarik tangan Nisa lalu mengajaknya untuk duduk bersama di atas ranjang. Sedangkan Nisa, dia hanya pasrah dan gugup sembari memikirkan bagaimana Keyran akan memaki dirinya.
"Anu ... a-aku kan sudah bilang kalau Jonathan itu bukan pacarku ataupun selingkuhanku. Jadi apa kau tetap berniat mengadakan konferensi pers dan menamparku di depan wartawan?" tanya Nisa dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Tidak, aku percaya kalau kau dan Jonathan hanya berteman. Hanya saja ..." ekspresi Keyran berubah menjadi murung.
"Hanya apa?"
"Apakah bagimu dia begitu penting?"
"Tentu saja, dia adalah temanku yang berharga, tapi aku menganggapnya hanya sebatas teman, tidak lebih dari itu. Aku sadar statusku, aku sadar kalau aku adalah istrimu. Kau bertanya seperti ini, apa kau keberatan jika aku berteman dengannya?"
"Iya, aku keberatan!" Keyran lalu mencengkeram pundak Nisa. "Nisa ... aku sebenarnya tidak melarangmu untuk berteman, aku juga tidak membatasi kebebasanmu untuk bermain. Tapi aku mohon jangan lagi berteman dengannya! Mungkin kau hanya menganggapnya sebagai teman, tapi dia punya perasaan terhadapmu, bahkan dia juga ingin merebutmu dariku. Aku tidak bisa terima semua itu. Terlebih lagi dia adalah seorang bos mafia, berteman dengannya hanya akan membahayakan dirimu."
"Apa di matamu seorang mafia itu sangat buruk?"
"Iya, bagiku sangat buruk. Kau harusnya paham sendiri alasannya. Tapi alasan utamanya bukan itu, dia seorang pria yang memiliki perasaan terhadapmu. Aku ini suamimu, aku paham mana yang baik dan buruk untukmu."
"Apakah berteman dengan seorang pria itu tidak diperbolehkan?" Nisa menunduk lalu menggigit bibirnya sendiri.
Ternyata di matamu mafia itu sangat buruk, mungkin saja kau hanya akan menganggapku sebagai sampah jika tahu siapa sebenarnya aku.
"Pertemanan antara wanita dan pria itu tidaklah mungkin, buktinya dia sudah mengakui perasaannya terhadapmu. Intinya bukan cuma dia, kau berteman dengan pria lain pun akan tetap sama saja. Sedangkan aku ini adalah suamimu, aku tidak rela jika kau dekat dengan pria mana pun. Sekarang tatap mataku!" Keyran lalu memegang wajah Nisa dengan kedua tangannya dan diarahkan untuk menatap kepadanya. "Apa menurutmu aku hanyalah suami pajangan?"
"Mana mungkin begitu. Aku setiap hari memasak untukmu, menyiapkan pakaianmu, selalu meminta izin darimu, juga membantu pekerjaanmu, apakah semua itu perlakuan bagi sebuah pajangan?"
"Jika bukan begitu, maka jujurlah kepadaku. Tolong jangan sembunyikan apa pun dariku dan berhentilah menghindar dariku. Jonathan saja yang hanya temanmu bisa tahu apa yang kau rasakan, dia bahkan pernah melihatmu menangis di depannya. Tapi aku, aku tidak pernah tahu semua itu. Itu karena kau sendiri yang enggan bercerita kepadaku. Aku akui, aku memang tergolong orang yang sangat sibuk, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk meluangkan waktuku untukmu. Kita ini suami istri, kita harus berbagi, aku bersedia mendengar semua cerita tentang keluh kesahmu. Jika ingin mengeluh, mengeluh saja padaku, jangan cari orang lain, oke?"
"Oke ... akan aku usahakan ..."
"Kau harus bisa, karena intinya adalah aku cemburu! Jika aku sudah cinta, nyaman, peduli, sayang, apalagi posisi kita sekarang sebagai pasangan maka tidak ada salahnya jika aku cemburu. Aku ini suamimu dan jujur saja, aku sangat tidak rela jika kau didekati orang lain. Kau tahu kenapa? Karena di sini aku menutup hati untuk orang lain dan aku jaga baik-baik hatiku untukmu. Bukannya yang disebut pasangan itu adalah dua orang yang selalu berusaha menjaga hubungan dengan cara menutup hati untuk orang lain? Sekali lagi aku perjelas, jika aku sudah cemburu, maka bisa dipastikan kalau aku benar-benar mencintaimu. Dan aku sekarang ini sedang cemburu. Apa sampai sini kau paham?"
"...." Nisa ternganga dan tidak berkedip.
"Kau paham atau tidak!?"
"P-paham ... aku paham."
Astaga, baru kali ini aku mendengar pengakuan orang cemburu secara terang-terangan. Bukankah biasanya cemburu itu selalu didiamkan, tapi Keyran ini justru sebaliknya.
"Oh iya, bagaimana bisa si bajing*n itu tidak sadar kalau kau sudah menikah? Apa kau melepas cincin pernikahan dari jarimu!?"
"M-mana ada? Aku selalu memakainya kok, lihat ini ..." Nisa langsung menunjukkan jari tangan kanannya di depan wajah Keyran.
"Kau memakainya di jari jempol?"
"Yaa ... begitulah, kau masih ingat kesalahan teknis waktu itu kan? Aku akui, itu juga salahku, harusnya waktu itu aku juga ikut memilih, bukannya malah membiarkanmu memilih yang paling mahal. Makanya cincin ini terlalu besar untukku."
"Haiss ..." Keyran lalu menggenggam tangan Nisa dan tersenyum. "Lepaskan saja, nanti aku panggilkan perancang khusus dari Milan untuk membuatkan cincin untukmu. Aku tidak ingin orang lain salah paham. Kau mau sapphire, ruby, atau emerald?"
"Hah!?" Seketika Nisa menarik tangannya. "Jangan, itu tidak diperlukan. Aku suka cincin ini, mungkin sekarang masih terlalu besar, tapi aku kan masih masa pertumbuhan, nanti pasti juga akan pas di jari manis. Lagi pula ... bukankah seperti ini terkesan berbeda dengan yang lain? Lebih terkesan istimewa kan?"
"Baiklah, asalkan kau suka. Lalu ..." Keyran tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan mengusap bibir Nisa. "Tadi kau berciuman dengan orang lain kan?"
"I-itu ... d-dia melakukannya secara mendadak dan tanpa persetujuan dariku. Kalau aku tahu dia akan menciumku, maka sudah pasti aku akan menghindar. J-jangan marah ya?"
"Tapi sekarang aku sangat marah, kau harus meredakan amarahku. Bibirmu ini hanya aku yang boleh menciumnya, kau mengerti?" ucap Keyran sambil tersenyum.
"M-mengerti ..."
Uuhh ... dia tersenyum, itu tandanya dia mau menciumku. Tapi bukan masalah, yang penting salah paham ini sudah selesai.
Tanpa berkata apa pun Nisa menutup matanya. Dan tentu saja Keyran tersenyum puas karena Nisa paham akan maksudnya. Tanpa basa-basi lagi dia langsung menahan tengkuk Nisa lalu menempelkan bibirnya. Dan semakin lama Nisa terhanyut dalam suasana hingga tangannya mulai merangkul leher Keyran.
Tok tok tok ...
"Ehem!! Assalamualaikum wr. wb. Salam Sejahtera bagi Kita Semua, Om Swastyastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan. Wahai anak perempuanku dan menantuku, ditutup dulu ya pintunya! Ohh ... dan jangan lupa nanti pelankan suaranya! Sekian, terima kasih! Salam berbahagia!"
Braak!!
Nisa langsung melepas ciuman itu setelah mendengar suara bantingan pintu yang dilakukan oleh ibunya. Dia menatap Keyran dengan tatapan penuh kemarahan. Sedangkan Keyran, dia memalingkan wajahnya dan berpura-pura tidak bersalah. Melihat hal itu membuat Nisa tak tahan lagi untuk mencubit lengannya Keyran.
__ADS_1
"Ini gara-gara kau! Ini salahmu karena tadi berteriak memanggil ibuku!"
"Awww ... kau sendiri yang lupa menutup pintu, jadi ini bukan salahku ..."