Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Janda Kembang


__ADS_3

Namaku Reihan Raka Sutadharma, umurku 17 tahun, kelebihanku adalah punya wajah yang tampan. Aku bukan ateis, jadi tolong masukkan aku ke surga dan berikan aku selusin bidadari. Tapi, jika lebih dari selusin aku juga nggak keberatan.


"Baiklah, yang akan kau dapatkan adalah selusin waria. Semoga kau puas!"


"Eh!? Apa?" Reihan langsung terbangun dari pingsan kemudian dia menatap sekelilingnya, "Kak Nisa? Aku masih hidup...? Semua anggota tubuhku masih lengkap kan?" tanya Reihan sambil meraba-raba tubuhnya sendiri.


"Ckck... bahkan saat pingsan isi pikiranmu cuma cewek, dasar fakboy!" keluh Nisa sambil menggelengkan kepala.


"Memangnya berapa lama aku pingsan?" Reihan lalu berdiri.


"Kau pingsan selama 13 detik, itu termasuk lama. Dasar payah!"


"Huh! Kakak sendiri yang memukul kepalaku, tentu saja aku akan pingsan selama itu. Kak Nisa awas aja, nanti pasti akan aku bilangin ke ayah!" ancam Reihan.


"Jangan dong! Kalau kau tetap diam, aku akan membelikanmu PS 5, mau kan?" bujuk Nisa.


"What? Emangnya kakak punya uang?" tanya Reihan dengan tampang meremehkan.


"Tentu saja aku punya, sekarang aku ini orang kaya. Jadi jangan meremehkan aku seperti itu!"


"Oke, deal!" Reihan lalu berjabat tangan dengan Nisa.


Hehe, sekarang aku paham, kak Nisa semalam pasti sudah memuaskan kakak ipar, makanya kakak ipar memberinya jatah yang banyak. Yes! PS 5 akan segera jadi milikku!


"Nah, gitu dong! Ini baru namanya adik yang baik~" Nisa lalu menepuk kepala Reihan dengan lembut, "Oh iya, katamu hari ini libur, Dimas mana?"


"Dimas pergi les, paling sebentar lagi juga pulang." jelas Reihan.


"Les? Kau nggak berangkat? Ternyata kau memilih bolos demi merayakan kepergianku, adik macam apa kau ini!?" Nisa lalu memukul tangan Reihan.


"Berhenti memukulku! Alasanku bolos bukan karena itu..." ucap Reihan dengan tampang cemberut.


"Terus karena apa?"


"Haha, kakak paham lah. Tutor yang ngajar hari ini sudah tua, dia nggak cantik dan kurang menarik. Tentu saja aku nggak bisa fokus belajar, jadi lebih baik aku bolos! Oh iya, kakak kan sekarang orang kaya, kakak jadi sponsor dong~ kasihan teman-temanku yang di bawah itu, aku cuma bisa memberikan es teh sama biskuit kering. Kak Nisa mau kan?"


"Kau ingin aku jadi sponsor dalam perayaan kepergianku sendiri? Sepertinya aku terlalu keras memukul kepalamu sampai kau bisa bicara ngawur begini!" Nisa lalu memalingkan wajahnya.


"Ayolah kak~" Reihan langsung memijat-mijat pundak Nisa, "Kakak baik~ kak Nisa cantik~ yang mulia ratu~ Wahai kakakku yang sekarang kaya, bantulah adikmu yang kaum dhuafa, tolonglah sumbangkan sedikit... saja, adikmu ini cuma butuh beberapa box pizza..." ucap Reihan dengan nada puitis.


"Puisi macam apa itu? Cari saja di tempat sampah, toh yang kau butuhkan cuma box pizza!"


"Haha, kakak bercandanya jelek~ masa aku disuruh jadi pemulung sih... Aku juga butuh isinya dong, kan yang dimakan itu. 19 box ya kak~"


"WTF! Temanmu di bawah sana kan nggak lebih dari 10, kenapa kau butuh sebanyak itu!?" bentak Nisa.


"Anu... nanti masih ada yang bakalan kesini, makanya aku butuh sebanyak itu. Oh iya, sama soda sekalian ya~"


"Hmph! Kau langsung jadi perampok setelah tahu kakakmu jadi orang kaya. Tapi, aku titip pizza sosis satu, jadi totalnya 20. Kau order sana, nanti aku yang bayar!"


"Oke, kakak baik deh~" Reihan tiba-tiba mencium pipi Nisa, "Nanti aku akan suruh semua teman-temanku untuk menyembah kakak, Kak Nisa pasti senang kan?"


"Hussh... pergi sana!" teriak Nisa sambil mendorong Reihan menjauh.


"Daulat yang mulia ratu." Reihan langsung berlari keluar secepat mungkin.


"Hemm... ibu dulu waktu hamil Reihan ngidam apa sih?" gumam Nisa.


Waktu pun berlalu dengan cepat, ayah dan ibu Nisa akhirnya pulang. Setelah beberapa saat Nisa langsung mengajak ayahnya untuk pergi ke ruang kerja milik ayahnya, saat ayah dan anak itu duduk secara berhadapan, suasana mencekam langsung terjadi di antara mereka.


"Ada apa?" tanya ayah dengan tatapan sinis.


"Bukankah ayah sudah tahu alasanku?" Nisa menatap ayahnya balik dengan tatapan sinis.


"Ayah tahu, jadi kau bisa menyalahkan ayah. Kau merasa kalau semua ini percuma kan? Ayah sarankan kau jangan memandang rendah dirimu sendiri, keluarga suamimu langsung memenuhi semua kesepakatan perjanjian setelah acara pernikahanmu selesai. Ayah juga sudah bicara dengan pamanmu, dia nggak keberatan kalau kau mengambil semuanya. Ayah juga nggak meminta sedikit pun padamu, kau bisa gunakan semaumu. Itu semua sepadan dengan pengorbanan yang kau lakukan." ucap ayah dengan serius.


"Tentu saja aku harus mengambil semuanya," Nisa lalu tersenyum licik, "25 miliar akan aku gunakan semauku. Tapi, aku masih butuh campur tangan ayah~"


Braak...


"Kau...! Rencana gila apa lagi yang akan kau buat!?" teriak ayah sambil menggebrak meja.


"Tenanglah ayah... jangan terlalu berisik, nanti akan ada orang yang menguping loh~" Nisa mengedipkan satu matanya, "Kali ini bukanlah rencana gila, rencana ini sudah aku pikirkan sebaik mungkin. Bahkan jika hasilnya nggak sesuai dengan harapanku juga nggak masalah, kali ini aku nggak mau kehilangan apa pun lagi!"


"Hah..." ayah kembali tenang dan dengan tatapan sinis dia berkata, "Katakan! Ayah pasti akan berusaha semampu ayah untuk membantumu!"


"Baiklah, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan terlebih dulu, ayah nanti tinggal jawab iya atau nggak. Pertanyaan pertama, apa rubah tua itu masih tetap menekan perusahaan kita?"


"Iya," jawab ayah.

__ADS_1


"Setelah semua kejadian ini, apa paman Chandra masih tetap sama seperti dulu?"


"Iya."


"Pertanyaan terakhir, apakah ayah percaya padaku?"


"Iya, tentu saja."


Semua pertanyaan ini apakah berhubungan? Sebenarnya apa yang ingin direncanakan oleh putriku ini?


"Bagus, sesuai dengan perkiraanku. Syarat yang aku berikan cuma satu, rahasiakan ini dari paman Chandra!"


"Oke, sekarang jelaskan rencanamu!"


"Ayah sangat tahu ambisi paman Chandra seperti apa, dengan ambisi yang dia punya, dia pasti nggak akan melewatkan kesempatan di depan matanya. Pernikahanku ini juga membuat kesempatan untuknya, jadi sebisa mungkin ayah harus menghalangi ambisi paman. Jangan biarkan dia terikat atau membuat semacam kerja sama lain dengan perusahaan HW! Tapi, kita juga harus memanfaatkan situasi ini. Berita pernikahanku juga sudah tersebar, ayah pasti juga sudah tahu kelanjutannya kan?" tanya Nisa dengan senyum licik.


"Benar, perusahaan besar lainnya juga sudah mulai tertarik dengan perusahaan kita. Tentu saja untuk yang satu ini jangan dilewatkan! Cepat lanjutkan rencanamu!" ucap ayah dengan antusias.


"Baiklah, ayah bersabarlah sedikit~" Raut wajah Nisa berubah menjadi lebih serius, "Untuk yang satu ini aku harus sedikit bertaruh, tapi taruhan ini juga nggak seberapa. Aku harus melepas uang 25 miliar itu..."


"Tunggu dulu! Kau ingin gunakan uang itu untuk apa!? Meskipun ayah bilang gunakan semaumu, tapi jangan kau gunakan untuk hal bodoh!" bentak ayah.


"Tsk! Tadi ayah bilang percaya padaku, kenapa sekarang malah seperti ini!?"


"Hah... terserah, kau jelaskan dulu! Ayah akan berusaha mendengarmu."


Semoga saja bukan hal yang bodoh.


"Baiklah, maksudku melepas itu bukan sepenuhnya melepas, aku akan gunakan uang itu untuk investasi ke perusahaan lain. Lebih tepatnya perusahaan-perusahaan yang masih belum lama berdiri. Untuk perusahaan mana, aku yang akan memilihnya. Jadi tugas ayah hanyalah mengatasnamakan investasi itu dengan nama perusahaan kita. Itu mudah kan?"


"Hei, apa yang kau bicarakan? Bukannya itu sangat berisiko? Kau bilang perusahaan yang belum lama berdiri, perusahaan seperti itu masih belum stabil. Kau itu anak yang pintar, masa seperti ini saja kau nggak paham?" tanya ayah terheran-heran.


"Aku punya pertimbangan sendiri!" Nisa lalu menyilangkan tangannya dengan percaya diri.


"Baiklah! Terserah kau mau bagaimana, itu uangmu sendiri! Tapi, ngomong-ngomong sebenarnya hasil seperti apa yang kau harapkan?"


"...." Nisa diam lalu mengalihkan pandangannya.


"Hei, jawab ayah! Atau ayah nggak jadi membantumu!" ancam ayah.


"Ayah mungkin nggak akan siap dengan jawabanku, jadi lebih baik ayah nggak usah tahu."


"Hah... yang aku inginkan itu status."


"Status? Status seperti apa?" tanya ayah penasaran.


"Janda!"


"Hah!?" Ayah syok saat mendengar jawaban dari Nisa, lalu beberapa saat kemudian dia mencengkeram pundak Nisa dan mengguncangkan tubuhnya. "Apa kau sudah gila!? Kau bahkan belum resmi menjadi seorang istri dalam 24 jam, Ya Tuhan... tolong kembalikan otak putriku ini!"


"A-ayah... aku nggak gila, t-tolong lepaskan aku! Aku m-mulai pusing saat ayah s-seperti ini padaku..."


"Eh!? Pusing...?" Ayah lalu melepaskan cengkeraman tangannya dari pundak Nisa. "Kenapa kau ingin jadi janda hah!?" bentak ayah.


"Ya aku mau aja. Lagian aku masih muda, kalau jadi janda juga janda kembang!" jawab Nisa dengan enteng sambil mengangkat pundaknya.


"Janda kembang gundulmu! Memangnya suamimu itu seburuk apa? Apa dia nggak memperlakukanmu dengan baik?"


"Emmm... baik sih, dia bahkan membelikan aku pakaian dalam. Tapi tetap saja aku nggak suka!"


"Jadi, alasanmu ingin jadi janda karena kau nggak suka dengan model pakaian dalam yang suamimu belikan! Alasan konyol macam apa itu!?" tanya ayah dengan tampang tidak percaya.


"Bukan begitu! Aku nggak suka sama dia, bukan model pakaian dalam yang dia belikan! Ayah ini yang konyol!" teriak Nisa.


"Oh, ternyata begitu. Tapi, bukankah ayah sudah bilang kalau kau pasti akan jatuh cinta padanya. Sebaiknya kau pikirkan lagi keputusanmu!"


"Hmph! Keputusanku sudah bulat, dan aku bahkan bisa bersumpah. Aku bersumpah seandainya aku jatuh cinta padanya, maka aku akan menari hula di tengah alun-alun kota! Lengkap dengan iringan musik dan semua aksesorisnya!" ucap Nisa penuh keyakinan.


"Heh! Kau pasti menyesal!" ucap ayah seakan meremehkan.


"Nggak akan, dalam hidupku nggak akan ada penyesalan! Pokoknya ayah tetap jalankan sesuai rencana!"


"Iya-iya, dan sumpahmu hari ini akan ayah ingat selalu!"


Hehehe, aku nggak sabar ingin melihat putriku menari di alun-alun kota, pasti akan segera terjadi.


"Percuma ayah ingat, itu selamanya nggak akan terjadi. Tapi, ngomong-ngomong ini jam berapa?"


"Ini... jam 7 malam, memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Eh!? Cepat sekali..." Nisa lalu mencium tangan ayahnya, "Aku pamit, aku nggak mau kena marah. Dah ayah...!" Nisa lalu bergegas pergi.


"Ya, hati-hati di jalan~" ucap ayah sambil melambaikan tangannya.


Dia ingin sekali bercerai, tapi di sisi lain dia malah bersikap seperti istri yang baik. Bukankah itu berlawanan? Putriku semakin lama semakin aneh, apa aku harus kembali mengirimnya ke desa untuk memperbaiki sikapnya itu? Tapi, untuk sementara ini sepertinya itu belum dibutuhkan. Sebaiknya lain kali saja.


...Malam hari, waktunya tidur....


...••••••...


Keyran dan Nisa, sepasang pengantin baru yang masih merasa canggung antara satu sama lain. Biarpun begitu, mereka berdua akhirnya juga berbaring di ranjang yang sama. Meskipun mereka tidur bersama, tapi posisi tidur mereka adalah saling membelakangi satu sama lain.


"Glup..." Nisa menelan ludah.


Ya Tuhan... bantulah aku melewati malam ini!


Keyran tiba-tiba mencolek punggung Nisa dari belakang dan berkata, "Kau belum tidur kan?"


"Eh!?" Nisa terkejut dan seketika matanya membelalak, tapi kemudian dia berbalik badan menghadap ke arah Keyran, "Belum, memangnya kenapa?" ucapnya dengan wajah datar.


"Kenapa kau belum tidur?"


"Aku masih memikirkan tentang sesuatu, makanya aku nggak bisa tidur."


"Apa yang kau pikirkan?"


"Apa ini semacam interogasi sebelum tidur? Lagipula yang aku pikirkan juga bukan urusanmu!" ucap Nisa sambil menunjuk ke arah wajah Keyran.


"Kau...!" Keyran lalu menangkap tangan Nisa yang ditunjukkan padanya, "Cepat jawab pertanyaan yang aku berikan!"


"Baiklah, aku sedang memikirkan tentang dirimu!"


"Apa!?" wajah Keyran tiba-tiba memerah, "B-berhenti memikirkan tentang diriku, cepatlah tidur!" Keyran lalu berbalik dan membelakangi Nisa.


Gadis gila ini bicara apa!? Dia memikirkan tentangku sampai tidak bisa tidur, padahal aku sendiri berada di sampingnya. Sebenarnya kenapa dia bisa bersikap seperti ini...?


"Hmmm..." gumam Nisa.


Ini nggak seperti yang aku bayangkan. Aku pikir dia akan memintaku untuk melayaninya...


Beberapa saat kemudian mereka berdua belum juga tidur, Nisa yang saat itu masih belum mengantuk kini pikirannya mulai dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan, akhirnya dia memberanikan diri untuk mencolek punggung Keyran.


"Hei, apa kau belum tidur?" ucap Nisa dengan lirih.


"Ya, memangnya kenapa?" jawab Keyran tanpa berbalik.


Apa yang sebenarnya gadis ini inginkan?


"Apa kau nggak bisa tidur gara-gara aku?"


"Maksudmu...?" Keyran tiba-tiba berbalik menghadap ke arah Nisa.


"Maksudku sederhana, kau dan aku sama-sama nggak bisa tidur. Aku tahu kalau ini pertama kalinya untukmu, ini juga pertama kalinya untukku. Jadi, kupikir kita sebaiknya..."


Uuhh... aku takut kalau nanti dia akan marah.


"Kenapa kau berhenti bicara? Cepat katakan maksudmu!" ucap Keyran dengan tidak sabar.


Apa gadis ini ingin melakukan itu...? Jika dia memang menginginkannya, maka aku sebagai suami juga harus mengabulkannya. Sebenarnya aku juga tidak ingin, tapi ini termasuk kewajibanku sebagai suaminya.


"Anu... kita kan belum saling terbiasa, kupikir ini sebabnya kita berdua nggak bisa tidur. Jadi, aku pikir kita sebaiknya tidur di kamar yang berbeda, i-itu sih... kalau kau nggak keberatan."


"..." Keyran lalu menepuk kepala Nisa, "Ternyata ini yang kau pikirkan, akan aku katakan sekali lagi. Aku sama sekali tidak tertarik padamu, kau buang saja semua pikiran aneh di kepalamu! Kita ini suami istri, jadi kau harus biasakan dirimu. Sekarang tidurlah!" Keyran lalu berbalik membelakangi Nisa.


"Iya..." jawab Nisa dengan nada pasrah.


Jadi dia nggak setuju kalau pisah ranjang, alasannya juga masuk akal. Aku memang harus terbiasa dengan keadaan ini, tapi yang membuatku merasa berat adalah orang yang di sampingku itu Keyran.


"Selamat malam~" Nisa berbalik membelakangi Keyran kemudian dia mencoba menutup matanya rapat-rapat.


Padahal kita ini suami istri, tidur di ranjang yang sama bahkan berada di bawah selimut yang sama. Tapi tetap saja aku merasa kalau ini salah, aku masih belum sepenuhnya menerimamu sebagai suamiku. Karena sebelumnya aku hanya membayangkan jika yang di sampingku selamanya adalah Ricky.


"Hah..." Nisa menghela napas.


Dasar bodoh! Sekarang dia pasti sangat membenciku. Mungkin inilah karma yang aku tanggung, aku bersedia jika kehidupan pernikahanku selamanya akan seperti ini, setidaknya suamiku adalah orang baik. Tapi, jika seperti ini terus, mungkin kedepannya aku nggak akan menganggapnya sebagai suami, melainkan sebagai orang tua asuh. Pokoknya sebisa mungkin aku harus segera lepas dari pernikahan ini!


"Hah..." Keyran menghela napas.


Tadi hampir saja harapan ayah jadi kenyataan, bahkan tadi siang dia sengaja menemuiku untuk permintaan yang bodoh. Ayah memaksaku untuk segera punya anak dengan gadis aneh ini, tapi jika itu sampai terjadi... anakku akan seperti apa nantinya? Ibunya saja masih seperti anak kecil. Sudahlah, cepat tidur! Jangan buang-buang waktu untuk memikirkan hal bodoh seperti ini!

__ADS_1


__ADS_2