Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Broken Home


__ADS_3

Bulan madu Keyran dan Nisa berlangsung selama 15 hari. Sebelum pulang, Nisa tak lupa membeli oleh-oleh untuk orang-orang yang ada di rumah. Untuk keluarganya, mertuanya, Valen, dan juga Bibi Rinn.


Semua barang-barang yang akan dibawa sudah tertata rapi di dalam koper. Nisa yang baru saja selesai menutup koper tiba-tiba dikejutkan oleh Keyran yang mendadak memeluknya dari belakang.


"Ada apa?" tanya Nisa dengan sebelah tangannya membelai pipi Keyran.


"Bukan apa-apa, hanya saja aku masih belum rela jika harus pulang sekarang." jawab Keyran sambil memutar tubuh Nisa untuk menghadap ke arahnya.


"Emmm ... aku punya ide bagus! Kita menetap di sini, ayahmu wajib mengirimkan uang setiap bulan, persediaan makanan setiap minggu, kau mundur dari jabatanmu sebagai CEO dan jadi pengangguran, sedangkan aku putus kuliah! Atau bisa juga kau beralih profesi jadi nelayan, setiap kau pulang dari melaut aku akan menghidangkan ikan bakar! Jika suatu saat kapalmu tenggelam, aku tinggal cari suami lagi!" Nisa kemudian meringis.


"Itu hal paling konyol."


"Makanya ayo pulang! Pinggangku capek jika bulan madu lebih lama lagi."


"Kalau capek, sebelum pulang mau aku pijat?" tanya Keyran dengan senyum ramah.


"Tidak, terima kasih. Itu cuma akal-akalanmu untuk modus!"


"Ayolah Nisa, nantinya kita naik pesawat cukup lama. Ini demi kebaikanmu agar kau lebih nyaman."


"Ya sudah. Kalau begitu nanti di pesawat saja ... Eh, maksudku i-itu ... bukan di pesawat! Maksudku tidak usah!!"


"Hehe iya, aku paham~"


"Kau salah paham!"


"Aku paham, darling~"


"..." Nisa lalu menggeleng kepala dengan cepat. "Ayo pulang!"


"Tunggu sebentar!"


"Apa lagi?!"


Sejenak Keyran terdiam, kemudian dia tersenyum sambil berkata, "Lihatlah sekelilingmu, kenangan yang kita habiskan bersama di tempat ini, kita tak tahu kapan akan kembali lagi ke sini."


Nisa menatap sekitarnya, kemudian dia tersenyum. "Yaa .. kau benar. Tapi ke depannya kita pasti punya kesempatan untuk ke sini lagi!"


"Bulan madu kedua?"


"Heiii ... kita bahkan belum pulang dari bulan madu pertama, tapi kau sudah berpikiran tentang bulan madu kedua! Kau sudah kelewat mesum!"


"Memang apa salahnya? Aku cuma ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu. Entah kenapa untuk pertama kalinya aku merasa malas untuk bekerja."


"Kalau begitu jadi pengangguran saja! Nanti aku yang akan bekerja!"


"Pffttt ... memangnya kau mau jadi apa?"


"Tukang parkir, kuli bangunan, preman pasar. Hahaha, aku bercanda! Ayo cepat kita pulang!"


"Tunggu sebentar!"


"Astaga, apa lagi?!"


"Aku harus ke kamar mandi."


"Hhhh ... cepatlah!"


***


Perjalanan pulang menghabiskan waktu sebanyak kurang lebih 13 jam yang melelahkan. Sesampainya di rumah, Keyran dan Nisa langsung ke kamar. Keyran langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dengan sepatu yang belum terlepas.


Nisa lalu mendekatinya dan melepaskan sepatu yang masih terpasang di kaki suaminya itu. Kemudian dia berkata, "Kau mau langsung tidur?"


"Yah ... besok hari-hariku sudah kembali seperti semula." Keyran lalu memiringkan tubuhnya dan melambai. "Ayo sini, aku butuh sesuatu untuk dipeluk agar cepat tidur!"


Nisa menggeleng. "Aku berkeringat, jadi mau mandi dulu."


Tak lama kemudian, Nisa keluar dari kamar mandi dalam keadaan tubuh dan rambut dibungkus dengan handuk. Setelah selesai berpakaian dengan rambut yang masih terbungkus oleh handuk, dia kemudian mendekat ke arah ranjang dan menjumpai suaminya itu sudah tertidur pulas.


Nisa tersenyum, dia mengecup kening suaminya itu lalu memasangkan selimut untuknya. Nisa kemudian mendekat ke arah meja untuk mencari-cari ponselnya. Dia menemukan ponselnya mati kehabisan daya.


Saat menghubungkan ponselnya dengan charger, Nisa kemudian menyalakan ponselnya. Dia terkejut saat melihat layar ponsel yang penuh dengan notifikasi panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama, nomor itu tidak lain adalah nomor salah satu teman kuliahnya, yaitu Jenny.

__ADS_1


"38 panggilan tidak terjawab, 3 hari yang lalu, Jenny kenapa?" gumam Nisa dengan alis yang mengait.


Nisa lalu mencoba untuk menelepon Jenny balik, namun yang dia dapatkan justru suara operator yang mengatakan bahwa nomor tersebut di luar jangkauan.


"Ck, Jenny mau bilang apa sih? Jangan-jangan pengumuman mendesak masalah kampus!"


Nisa lalu membuka situs website resmi kampus, dia tidak menemukan pengumuman baru, masih sama seperti yang terakhir kali dia lihat. Dirinya mulai merasa khawatir serta berpikir negatif tentang Jenny. Dia pun mulai menelusuri berita di internet soal kasus penculikan dan orang hilang, namun hasilnya tetap nihil.


"Semoga ini cuma pikiranku, dan semoga Jenny baik-baik saja."


Kalau memang Jenny ada apa-apa, pasti Aslan juga ambil tindakan, dia kan pacarannya.


***


Hari berganti, keesokan harinya Keyran sudah memulai aktivitasnya seperti biasa di kantor. Ada satu hal yang di luar dugaan Keyran, ternyata semasa dia berlibur untuk bulan madu, ada banyak mitra bisnisnya yang mengirimkan undangan untuk menghadiri acara pesta yang bahkan di antaranya tanggal berlangsungnya berdekatan dan ada pula yang sama.


Keyran memilah dan memilih untuk mendatangi pesta yang menurutnya benar-benar penting. Di sisi lain ini juga berhubungan dengan Nisa, Nisa mau tak mau harus menghadiri pesta-pesta yang didatangi oleh Keyran, hal itu bertujuan untuk menjaga image mereka sebagai pasangan di hadapan pers agar orang-orang tidak salah menilai dan memberikan gosip miring tentang mereka.


Mitra bisnis Keyran kebanyakan penasaran kenapa dirinya sempat tidak ada di perusahaan, lalu Keyran dengan percaya diri mengakui soal bulan madu nya. Hal itu diketahui oleh para wartawan yang sedang meliput, dan kemudian menjadi perbincangan hangat di media massa.


Selama seminggu penuh Nisa menghadiri acara pesta, tapi dia tidak diizinkan minum seteguk wine pun oleh Keyran, baginya ini merupakan siksaan. Untuk menyiasati tidak lagi menghadiri acara pesta, Nisa memutuskan untuk benar-benar mengambil semester pendek di masa liburan semester ini.


Akhirnya Nisa masuk kuliah lagi, sudah lama dia tidak menginjakkan kaki semenjak dia dirawat di rumah sakit. Suasana Universitas Grand SC, tempat Nisa kuliah masih ramai namun tidak seramai seperti biasanya. Banyak juga mahasiswa yang mengambil semester pendek agar cepat lulus, namun hanya Nisa seorang yang memiliki keistimewaan yang masih bisa mengikuti semester pendek meskipun dia terlambat.


Teman satu jurusan nya, Isma juga mengikuti semester pendek. Hari ini Isma terkejut karena Nisa yang tiba-tiba masuk kuliah. Mereka berdua berjalan di koridor bersama menuju ke kelas, selama di perjalanan mereka juga berbincang tentang banyak hal.


"Oh iya! Isma, Jenny mana?" tanya Nisa.


"Nggak tau," jawab Isma dengan nada malas.


"Eh, kalian berantem?"


"Nggak kok, cuma Jenny itu ..." perkataan dan langkah kaki Isma terhenti saat menyadari ada 2 orang yang berjalan mendekat ke arahnya.


2 orang itu tidak lain adalah orang tua Jenny, Nisa dan Isma sendiri juga sudah mengenali mereka.


"Om, Tante ...?"


"Jenny blokir nomor ku, maaf Tante, aku nggak tau Jenny sekarang ada di mana." jawab Isma.


Nisa melongo karena bingung, dan raut wajah orang tua Jenny bertambah murung. Ayah Jenny lalu menghela napas dan memberikan kartu namanya kepada Nisa dan Isma.


"Ini kartu nama Om, hubungi Om kalau kalian dengar kabar tentang Jenny, ya?"


"Iya Om," jawab Nisa dan Isma bersamaan.


Ayah Jenny lalu menatap Nisa dengan tatapan aneh. "Mohon bantuannya Nyonya, saya tahu kalau saya lancang meminta hal yang berlebihan."


"Eh?! Om jangan sungkan, abaikan saja status suamiku! Anggap saja aku ini cuma teman anaknya Om!"


"Terima kasih, beruntung anakku punya teman yang rendah hati sepertimu."


"Haha ... Om terlalu memuji," Nisa tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya.


Kedua orang tua Jenny pun pergi, sedangkan Nisa masih kebingungan tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kemudian dia berkata, "Jenny kabur?"


"Ya gitu deh. Awal mulanya begini, bapaknya Jenny itu kan pengacara, dia selingkuh sama kliennya. Pas ketahuan dia malah minta cerai. Jenny itu kan anak tunggal, dia curhat kalau dia syok dan pokoknya nggak mau orang tuanya cerai. Dia juga pernah numpang tidur di asramaku. Waktu orang tuanya datang jemput dia buat pulang, dia nurut ikut pulang. Kejadian itu 3 hari yang lalu, habis itu nggak tahu lagi deh gimana kabarnya sekarang. Hari ini orang tuanya ke sini pasti juga mau tanya keberadaan Jenny sama pihak kampus." jelas Isma.


"Lalu Aslan?"


"Aslan? Helloww ... memangnya dia siapa? Dia itu cuma mantan!"


"Jenny sama Aslan putus?!" tanya Nisa seakan tidak percaya.


"Iya, 2 hari yang lalu sebelum Jenny blokir nomor ku dia telepon sambil nangis, katanya dia putus sama Aslan gara-gara Aslan nggak bisa ngerti perasaan dia. Terus aku telepon Aslan buat minta penjelasan, eh malah diblokir. Tapi yang bikin aku emosi itu, masa dia bilang kalau Jenny gila! Sumpah ... capek aku mikir masalah yang begini, mikir tugas kuliah aja bikin pusing. Orang tuanya Jenny juga lapor soal orang hilang ke polisi."


"Itu percuma." ucap Nisa yang kemudian melanjutkan langkah kakinya.


Isma kelabakan dan langsung bergegas menyusul jalannya Nisa. "Percuma? Percuma gimana?"


"Jenny itu bukan anak di bawah umur, kalau lapor polisi paling nanti cuma dianggap kasus orang kabur dari rumah lalu akan kembali ke rumah dengan sendirinya. Kasus yang begitu banyak, remaja yang sok kabur dari rumah juga cuma tahan jadi gembel beberapa hari lalu pulang ke rumah lagi. Laporan kan baru akan diproses kalau sudah lewat 24 jam, tapi tetap saja kalau Jenny bukan anak di bawah umur. Kalaupun polisi ambil tindakan, pasti ya cuma buat pengumuman orang hilang. Mereka cenderung mengusut kasus yang lebih penting dan membawa keuntungan buat mereka, contohnya kasus-kasus besar yang bisa mengangkat nama mereka supaya bisa dipromosikan naik jabatan."


"Iya juga ... Tapi, nasibnya Jenny gimana?"

__ADS_1


"Orang tua Jenny bukan orang bodoh, kalau mereka niat kan bisa sewa jasa detektif swasta. Justru ini hal yang paling baik untuk dilakukan, takutnya Jenny sekarang dalam bahaya atau bisa saja dia ditangkap penculik. Yang lebih mengerikan lagi akhir-akhir ini ramai kasus penjualan organ. Dan yang paling menjengkelkan adalah kita kehilangan kontak dengan Jenny."


"Yah ... semoga saja Jenny memang cuma kabur dan sembunyi di suatu tempat untuk menenangkan diri. Ternyata perceraian itu berdampak buruk ya untuk anak, nggak peduli anaknya masih bayi ataupun dewasa. Woi Sania, jangan coba-coba cerai ya!"


"Ihhh ... apa sih? Aku baru selesai honeymoon! Toh suamiku super bucin, mustahil cerai!"


"Oh iya, soal honeymoon mu itu juga dimuat di berita internet. Ribet ya jadi istri konglomerat, apa-apa diberitakan. Tapi ngomong-ngomong ..." Isma lalu menyentuh perut Nisa sambil meringis. "Ada dedek bayinya belum nih~ Nggak sabar aku pengen jadi aunty! Sudah ada tanda-tanda kehamilan misalnya morning sickness belum?"


Mendadak Nisa berhenti melangkah, dia lalu membungkam mulutnya dan bersuara seperti orang yang sedang menahan muntah. "Uhmm ..."


"Eh? Kok tiba-tiba?" Isma langsung menengok ke arah kanan kiri. "Jangan muntah di sini! Ini kan dekat kantin! Indra penciuman ibu hamil sensitif ya, mual gara-gara makanan kantin yang padahal baunya enak."


Nisa lalu menggelengkan kepalanya.


"Bukan? Terus mau muntah gara-gara apa?"


"Gara-gara lihat mukamu itu aku jadi mau muntah! Hahaha!"


"Nggak lucu!" Isma lalu memalingkan wajahnya.


"Siapa suruh bahas yang begituan, nanti kalau memang sudah waktunya pasti juga akan hamil. Tapi ... seorang gadis cantik nan elegan, dengan gelar Miss Alam Gaib di depanku saat ini kapan ya menikah?" tanya Nisa dengan nada menyindir.


"Hah ... nggak tahu, Terry kalau diajak bicara soal yang serius pasti selalu menghindar. Kadang suka kepikiran dia itu pacaran buat apa sih, buat serius atau cuma main-main."


"Nasibmu yang pacaran sama petugas babi. Eh sorry, kelepasan haha ..."


"Nggak tau ah, yuk ke kelas, nanti keburu dosen datang!"


***


Karena Nisa terlambat mengikuti semester pendek, alhasil kelas yang harus dia hadiri lebih banyak dari yang lain. Sore hari dia baru selesai, sekarang dia sedang duduk sendirian di sebuah bangku taman yang di sebelahnya terdapat pohon yang rindang.


Untuk mengganjal perut, Nisa membeli roti isi dan memakannya sambil mendengarkan musik dari ponselnya. Dia tersenyum saat menerima pesan dari Keyran, suaminya itu menyemangati agar dirinya semangat kuliah dan tak lupa untuk makan. Nisa membalas pesan itu dan juga menyemangati suaminya yang sedang bekerja.


Begitu dia menghabiskan rotinya, mendadak pikirannya dipenuhi oleh Jenny. Sekali lagi dia mengecek ponsel, namun tidak ada catatan panggilan ataupun pesan yang berasal dari Jenny. Nisa lalu menelusuri nomor siapa saja yang bisa dihubungi, dia sedikit terkejut saat mengetahui bahwa nomornya tidak diblokir oleh Aslan, yang berkebalikan halnya dengan Isma.


"Masalah soal Jenny ini serius, dia pasti tertekan, masalah di keluarganya belum selesai, tapi dia juga mengalami masalah di percintaannya. Aku harus bicara dengan Aslan, pokoknya aku harus bertemu langsung! Mungkin saja dia tahu sesuatu, karena semakin lama Jenny menghilang semakin besar juga persentase hal buruk terjadi padanya."


Nisa lalu mencoba untuk menelepon Aslan, berdering namun tidak dijawab. Nisa tidak menyerah, dia menelepon Aslan hingga lima kali baru dijawab.


"Ada apa?" tanya Aslan yang suaranya terdengar serak.


"Aku mau ketemu, bahas masalah yang serius! Janjian ketemu di kafe, bisa?"


"Aku sibuk."


"Apa sekarang masih bertugas di rumah sakit?"


"Aku cuti."


"Terus sibuk ngapain?!"


"Pokoknya sibuk, malas keluar."


"..."


Sialan, cara bicaranya menjengkelkan! Tapi aku harus sabar.


Nisa lalu menghela napas dan berkata, "Di mana lokasimu sekarang? Biar aku saja yang ke sana."


"Apartemen Ricky."


"R-Ricky? Ehmm ... di sekitar sana ada banyak kafe dan restoran, kita janjian di sana saja, ya? Nanti aku traktir sepuasmu!"


"Aku malas keluar. Kalu mau bicara datanglah ke sini, kalau keberatan maka lupakan saja! Bye!"


TUT ... TUT ...


Panggilan telepon berakhir, saat ini Nisa yang masih menggenggam ponselnya merasa sangat bimbang. Membayangkan akan bertamu ke rumah sang mantan itu sedikit aneh untuknya. Namun di sisi lain dia tidak bisa mengabaikan Aslan.


"Huft ... tidak apa-apa, rahasiakan ini dari Keyran!"


Maaf Key, sebisa mungkin aku sudah berusaha untuk menghindari apa pun yang bersangkutan dengan masa laluku, dan ternyata tetap gagal. Tapi aku janji akan tetap dalam batasan, tanpa melibatkan perasaan.

__ADS_1


__ADS_2