Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Bersulang!


__ADS_3

Hari berganti, Nisa kembali melakukan hal yang tidak biasa. Dia yang biasanya bangun kesiangan, hari ini pagi-pagi sekali sudah berdandan rapi dan berencana menuju ke suatu tempat. Tempat yang dia tuju adalah rumah orang tuanya. Sesampainya disana, Nisa langsung disambut oleh omelan dari ibunya. "Bocah nakal! Kenapa pagi-pagi sekali kau sudah kemari!? Apa kau nggak mengurus suamimu!?"


"Tsk! Ibu cerewet banget sih? Suamiku sudah besar, jadi bisa mengurus dirinya sendiri. Lagian, dia juga pergi ke luar negeri kok." jawab Nisa dengan nada malas sambil mengorek salah satu telinganya.


"Apa kau bodoh? Pengantin baru kok mau-mau saja ditinggal, seharusnya kau tahan suamimu agar tetap di rumah! Memangnya ada urusan apa kau kemari? Adik-adikmu juga masih tidur, kalau kau kangen sama mereka, seharusnya datang saat sore saja."


"Ibu ngaco ya? Aku nggak mungkin kangen sama Reihan, Dimas. Aku kesini karena ingin bertemu ayah, ayah sudah bangun kan? Aku ingin bicara hal yang penting dengannya."


"Ayahmu sudah bangun, dia masih minum kopi di balkon. Memangnya hal penting apa yang ingin kau bicarakan?" tanya ibunya penasaran.


"Ibu nggak perlu tahu, dijelaskan juga nggak akan paham. Ibu itu wanita, jadi urusan ibu cuma di dapur. Aku pergi dulu..." Nisa lalu berjalan pergi.


"Ya Tuhan, anakku yang satu ini semakin nggak normal, padahal dia sendiri juga seorang wanita, bisa-bisanya dia bicara begitu. Apa dia salah pergaulan sampai-sampai gender sendiri lupa? Semoga saja menantuku itu orangnya sabar..." keluh ibu sambil geleng-geleng kepala.


Nisa lalu menemui ayahnya yang sedang duduk di balkon sambil meminum kopi, dia lalu bersalaman dengan ayahnya dan kemudian duduk di kursi tepat di sebelahnya. Ayah dan anak itu sama sekali tidak berbicara, dan tiba-tiba Nisa melemparkan sesuatu kepada ayahnya. Ayahnya dengan cekatan menangkap benda itu, dan setelah melihat benda itu dia hanya menatap Nisa dengan tatapan bingung.


"Flashdisk? Isinya apa dan untuk apa?" tanya ayah Nisa kepadanya.


"Isinya rahasia, nanti lihatlah sendiri. Ayah bisa gunakan itu untuk mendukung rencana, dan itu juga bisa membuat HW, lebih tepatnya rubah tua itu berhenti menekan perusahaan kita." jawab Nisa dengan ekspresi datar.


"Dari mana kau mendapat ini?" tanya ayah dengan tatapan sinis.


"Nggak penting aku dapat dari mana, yang jelas ayah gunakan itu sebaik mungkin, dan pastikan kalau paman Chandra nggak tahu soal flashdisk itu."


Sebenarnya itu adalah hasilku semalam.


"Cih, kau selalu saja seperti ini. Kalau ditanya pasti jawabannya nggak jelas, nggak penting atau apalah! Ayah sebenarnya ingin menanyakan satu hal padamu, tapi pasti jawabanmu itu melenceng terlalu jauh. Ayah jadinya malas kalau bicara denganmu..."


"Kalau mau tanya ya tanya saja, aku ini anak ayah, jadi apa pun jawabanku ayah pasti paham."


"Oke, ayah akan tanya. Kau bilang ingin mengunakan 25 miliar itu untuk investasi, tapi kenapa kau memilih club dan kasino? Dan yang lebih mengherankan kau juga memilih panti asuhan, sebenarnya apa tujuanmu?"


"Keseimbangan yin dan yang."


"Benar kan! Nggak ada gunanya ayah bertanya padamu, jawabanmu tetap saja melenceng. Apa ayah harus menjelaskan padamu apa itu club dan kasino? Seharusnya kau sendiri tahu tempat macam apa itu, tempat seperti itu punya kemungkinan besar bisa ditutup. Apa kau serius ingin menyerahkan uangmu begitu saja?" tanya ayah dengan nada kesal.


"Iya."


"Nisa, dengarkan ayah! Club yang kau pilih adalah DG Club, tempat itu sudah diawasi oleh polisi cukup lama. Jika terjadi apa-apa di club itu, kau juga akan terkena masalah. Pikirkanlah baik-baik!"


"Aku punya pertimbangan sendiri."


"Terserah padamu! Kopi ayah sekarang sudah dingin, ayah pergi dulu..." ayah lalu pergi meninggalkan Nisa.


Setelah ayahnya pergi, Nisa tiba-tiba menyeringai sambil bergumam, "Tentu saja aku paham tentang DG Club, aku sering main kesana~"


Dari luar DG Club mungkin tampak seperti club biasa pada umumnya, tapi yang membuatnya berbeda adalah pelayanan yang diberikan. Hal-hal seperti penyalahgunaan narkoba dan prostitusi sangat umum terjadi disana, banyak orang yang rela menghamburkan uang demi hal semacam itu.


Dan tentu saja mangsa utamanya adalah para konglomerat, orang yang berpengaruh bahkan para artis terkenal juga banyak yang datang kesana. Para polisi nggak bisa menemukan bukti karena manajemen club itu sangat baik, terutama yang berhubungan dengan narkoba.


DG Club menyediakan private room untuk para pencandu itu, bahkan ada 2 tim khusus yang menangani mereka. Tim pertama terdiri dari para dokter profesional yang secara khusus memberikan dosis narkoba. Sementara tim kedua adalah yang terpenting, tim itu terdiri dari beberapa orang yang tugasnya sebagai petugas kebersihan, mereka membereskan semua barang-barang yang ada di private room dan kemudian menggantikannya dengan yang baru.


Karena alasan inilah sama sekali tak ada bukti mengenai DG Club, informasi seperti ini hanya golongan tertentu saja yang tahu. Dan tentu saja aku termasuk golongan tertentu itu~ Lucunya lagi, Keyran yang sok tahu itu memperingatkan aku, bahkan dia juga melarangku pergi lagi kesana. Ckck... ini sungguh menarik~ Haha, dasar tol*l!


...Pada saat yang sama di Berlin, Jerman...


...•••••• ...


"Tuan, saya menyarankan agar jangan lagi mengirim orang untuk mengawasi nyonya. Jika diteruskan sepertinya tetap akan percuma." ucap Valen pada Keyran.


"Percuma? Memangnya kenapa?" tanya Keyran terheran-heran.


"Dari 15 agen elite yang dikirim, 9 diantaranya meninggal dan sisanya masih dirawat di rumah sakit. Saya dapat berita ini dari salah satu agen yang telah sadar, dia juga melapor bahwa yang menyerang mereka semua hanya satu orang pria."


"Apa orang itu temannya Nisa?"


"Tidak tuan, yang menyerang mereka adalah pria asing, bukan temannya nyonya si penjual itu. Tapi, mungkin saja pria asing itu juga salah satu kenalannya nyonya. Saya juga menemukan kejanggalan dalam kasus ini, semua ponsel milik para agen itu hilang, tapi ada satu yang telah sengaja dirusak di tempat kejadian. Menurut saya, ini terbilang cukup mencurigakan jika dibilang kebetulan."


"Apa sebelum diserang mereka sudah menemukan keberadaan Nisa? Dan, apa kau sudah mendapat hasil tentang si penjual itu?"


Apa yang dikatakan Valen benar, ini terlalu mencurigakan jika dibilang kebetulan.


"Mereka belum menemukan keberadaan nyonya. Dan untuk temannya nyonya itu, saya sudah mendapatkan informasi tentang dirinya. Tapi, menurut saya dia hanyalah orang biasa yang kebetulan mahir bela diri, tidak ada hal yang istimewa tentangnya."


"Itu menurutmu. Cepat jelaskan padaku semua tentangnya!" bentak Keyran.


Hng! Orang itu sangat dekat dengan istriku, aku pasti tidak akan melepaskannya!


"Baik tuan. Penjual itu namanya Ardika Wibowo, umur 21 tahun, dan pendidikannya hanya sampai lulus SMP. Dia pernah satu SMP dengan nyonya, jadi dia sudah lama berteman dengan nyonya. Dia mulai membuka kedai sejak 3 tahun yang lalu. Tidak ada petunjuk dari mana dia belajar muay thai. Meskipun terlihat seperti orang liar, tapi tidak ada satu pun catatan kriminal tentangnya. Hanya saja, menurut dari sumber yang saya dapat, dia pernah terlihat di 'Violent Zone'."


"Violent Zone? Kau bilang tidak ada yang istimewa, tempat itu tidak bisa didatangi oleh orang sembarangan. Katakan dia disana sebagai apa!?"


"Maaf tuan, untuk itu saya tidak tahu. Menurut sumber, informasi mengenai dia saat di Violent Zone secara khusus dilindungi."


"Apa orang-orang dari organisasi yang mengurus Violent Zone tidak mengejarnya?"


"Sepertinya tidak, karena jika dia dikejar oleh oraganisasi itu sudah pasti dia tertangkap. Tapi, kenyataannya dia bisa hidup damai dan membuka kedai, gerak-geriknya juga tidak mencolok seperti sedang menghindari sesuatu."


"Apakah mungkin... sebenarnya dia adalah salah satu anggota oraganisasi itu?! Jika itu benar, maka Nisa bukanlah orang yang sederhana karena bisa mengenalnya!"


"M-mungkin anda benar tuan..."


Jangan-jangan ini alasan tuan besar menjodohkan nyonya Nisa dengan tuan Keyran. Tapi jika memang benar, bukankah seharusnya lebih baik dihindari? Mungkin saja kedepannya akan bermunculan masalah yang besar. Sepertinya tuan besar tidak tahu tentang ini.


"Valen, majukan semua jadwalku! Aku harus cepat menyelesaikan urusanku disini dan segera pulang!"


Nisa, siapa kau sebenarnya!? Kau bilang kalau kau tidak suka padaku, tapi kenapa kau memilih menikah denganku? Sebenarnya apa tujuanmu dan rencana kotor apa yang kau buat!? Awas saja jika kau membuat masalah!


"Baik tuan, saya akan majukan semua jadwal anda. Tapi, tuan ingin membawakan nyonya oleh-oleh apa? Nanti sekalian saya urus."


"Kau tidak perlu mengurus tentang oleh-oleh. Nisa bilang dia tidak membutuhkannya." ucap Keyran acuh tak acuh.


"Tuan tidak peka sekali, nyonya itu sedang menguji tuan..." ejek Valen.


"Mengujiku tentang apa?"


"Maksud saya, nyonya sedang menguji apakah tuan perhatian atau tidak kepadanya. Kalimat wanita itu sering bertentangan, iya bisa berarti tidak, tidak bisa berarti iya, iya bisa juga iya, dan tidak bisa juga tidak."


"Kenapa aku tidak paham dengan yang kau katakan?" tanya Keyran dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Saya sendiri juga tidak paham, wanita adalah makhluk paling rumit di alam semesta. Mungkin saja nyonya merasa sungkan saat meminta sesuatu kepada tuan, karena itu nyonya bilang tidak. Jadi, tuan sebaiknya membelikan nyonya oleh-oleh! Untuk jaga-jaga seandainya nyonya memang menginginkannya, jika tuan pulang dengan tangan kosong mungkin nyonya akan mengabaikan tuan." bujuk Valen.


"Baiklah, belikan semua oleh-oleh khas Jerman untuknya! Jangan lupa dalam jumlah yang banyak!"


"Baik tuan, segera saya laksanakan..." Valen lalu pergi meninggalkan Keyran.


"Nisa merasa sungkan? Itu mustahil! Dia itu orang yang tidak tahu malu!" gumam Keyran.


Aku masih mengingatnya, saat masih menjadi sekretarisku dia dengan mudahnya meminta 2 miliar, bahkan dia juga menciumi kartu kredit yang aku berikan. Sepertinya memang sudah nasibku punya istri semacam ini...


...4 hari kemudian...


...••••••• ...


Suara alunan musik yang meriah terdengar sangat keras. Semua orang hanyut dalam meriahnya suasana di DG Club. Dan di sebuah private room, terdapat 4 orang  yang sedang berpesta alkohol sambil membahas tentang kehidupan. 4 orang itu adalah Nisa, Dika, Ivan dan Damar.


"Hei, gapapa nih mulai sekarang? Marcell kan belum datang, nanti dia ngambek loh!" tanya Damar.


"Biarin aja lah, toh cuma Marcell. Lagian bos ada disini, jadi dia nggak mungkin ngambek!" jawab Dika.


"Iya juga, sebentar lagi pasti dia datang! Ketinggalan paling juga cuma sebentar! Ayo mulai! Bersulaaang!!" teriak Ivan penuh semangat sambil mengangkat sebuah botol bir.


"Bersulaaang!!" keempat orang itu beradu botol bir, kemudian mereka meminumnya dengan cepat seakan seperti sedang berlomba.


"Aaahh~ Aku menang! Kalian semua tetap saja masih payah!" teriak Nisa.


"Haha, itu sih karena bos emang doyan! Aku masih belum tahu sebenarnya ini merayakan apa. Ivan, apa kau tahu?" tanya Dika.


"Nggak, aku nggak tahu! Lagian, minum-minum seperti ini kan nggak butuh alasan, alasan perayaan itu cuma tipuan. Bos, aku benar kan?" tanya Ivan pada Nisa.


"Salah! Aku memang sedang merayakan sesuatu kok, akan aku beritahu kalau Marcell sudah datang! Sambil menunggu, kita lanjut minum dulu!"


Tak lama kemudian datanglah Marcell, saat dia memasuki private room itu, dia sangat bahagia ketika melihat Nisa dan seketika dia langsung merangkulnya sambil berkata, "Ini baru Nisa yang sesungguhnya! Boss... aku sangat senang melihatmu kembali!"


"Iya aku tahu, kau duduklah di sebelahku!" ucap Nisa sambil tersenyum.


"Oke!" Marcell langsung melompat dan mendarat tepat di samping Nisa.


Hehehe, untung saja bos putus dengan si malaikat kampret itu! Sebenarnya dari dulu aku ingin sekali menghabisinya, tapi bos pasti akan membelanya. Dia marah sekali saat aku bilang kalau aku membenci malaikat itu! Tapi, untungnya semuanya sudah berakhir.


"Cel, kali ini kau buat masalah apa sampai bisa ditangkap?" tanya Damar pada Marcell.


"Aku nggak buat masalah, tapi membereskan masalah. Aku ketahuan menghabisi orang, sebenarnya sih awalnya aku nggak punya dendam mereka. Tapi mereka mengaku kalau mereka adalah anggota Grizzly Cat di hadapanku, tentu saja aku nggak tahan." Marcell lalu mulai meneguk sebotol bir.


"Mereka? Ternyata kau menghabisi lebih dari satu orang. Tapi, menurutku belakangan ini banyak orang yang membuat masalah juga mengaku kalau anggota Grizzly Cat. Bos, apa kau akan diam saja?" tanya Dika pada Nisa.


"Memangnya kau mau aku bagaimana? Toh paling mereka semua cuma kroco, aku sih nggak menganggap mereka. Tapi, terserah padamu kalau kau nggak bisa tahan. Kau bisa bertindak sesukamu!" ucap Nisa seakan tidak peduli.


"Di antara mereka juga banyak yang anak SMA, bahkan mereka juga sering berbuat kriminal. Bos, mungkin saja ada yang satu sekolah dengan adikmu. Apa kau nggak khawatir pada mereka?" tanya Ivan.


"Adik-adikku sudah tahu yang seharusnya dilakukan, kau cuma menyia-nyiakan tenagamu jika mengkhawatirkan mereka." jawab Nisa.


"Sudahlah, benar apa yang dikatakan bos, jangan pedulikan mereka! Nah, sekarang Marcell sudah ada disini, jadi beritahu kami sebenarnya bos sedang merayakan apa!" ucap Damar.


"Baiklah, aku katakan. Sebenarnya aku sedang merayakan hari ke-18 pernikahanku! Suamiku sudah 11 hari di Jerman, dan dia nggak ada kabar kalau mau pulang. Tentu saja kebahagiaan ini patut dirayakan!" teriak Nisa dengan semangat.


"Hah!? Suami nggak ada kabar kok malah bahagia sih? Memangnya nggak khawatir seandainya suamimu ada apa-apa?" tanya Damar pada Nisa.


"Boss... kau jahat sekali, apa kau sudah melupakan saat-saat bahagia kalian di atas ranjang?" tanya Dika.


"Sembarangan! Dia sama sekali belum menyentuhku! Aku dan dia nggak pernah merasakan saat-saat yang bahagia."


"What!? Masa nggak pernah sih? Apa dia itu nggak normal, nggak pernah minta begituan ya?" tanya Ivan.


"Dia normal kok, dia juga pernah memintanya. Aku bahkan sudah pernah menyentuh juniornya, tapi aku masih bisa lolos. Aku hebat kan!"


"Hebat apanya? Paling gara-gara takut kan~" ejek Marcell.


"Bos bisa takut? Emang takut apaan?" tanya Ivan.


"Takut nggak mau udahan~ Aku benar kan? Bos ngaku aja..." ejek Damar.


"Sa ae lu, tong! Tau aja penderitaan orang!" teriak Nisa tanpa rasa malu.


"Penderitaan? Apa ukurannya kecil sampai-sampai bos nggak puas? Yang sabar ya boss, terima saja kekurangan suamimu..." ucap Dika.


"Njiirrr... itu mulut nggak ada rem. Punya dia nggak kecil kok, justru sebaliknya. Tapi, mau besar ataupun kecil itu bukan alasanku menolaknya, aku emang nggak suka sama dia, itu aja sih alasanku."


"Boss, aku punya saran untukmu. Kalau beneran nggak suka, kenapa nggak buat semacam kontrak pernikahan gitu..." ucap Marcell.


"Kontrak? Nggak mau ah, endingnya bisa ditebak kalau aku mengajukan kontrak pernikahan."


"Ending?" tanya mereka bersamaan.


"Ending ya ending! IQ kalian berapa sih? Masa gitu aja nggak paham?" tanya Nisa dengan nada malas.


"Kami semua masih nggak paham, coba bos jelaskan pada kami..." bujuk Damar.


"Huft... ending yang aku maksud adalah bagaimana semua ini akan berakhir. Jika aku mengajukan kontrak pernikahan tetap saja akan percuma, pada akhirnya kontrak itu akan gagal!"


"Bos, kau belum mencobanya, kenapa bisa begitu yakin kalau akan gagal? Ini bukan seperti dirimu yang biasanya selalu optimis..." ucap Dika.


"Karena semua hal yang nggak seharusnya ada, jika dipaksakan ada pasti akan lenyap, semua hal, tak terkecuali orang. Jika seseorang memaksakan ada di lingkungan yang nggak sesuai, pasti akhirnya dia akan lenyap, nggak peduli sekeras apa pun dia bertahan."


"Tapi, yang dimaksud kan surat kontrak, bukan orang." ucap Marcell.


"Aku bilang semua hal! Surat kontrak juga termasuk!" bentak Nisa.


"Tapi boss... aku masih belum paham," keluh Ivan.


"Ya ampun, dasar tol*l! Pernikahan adalah hal yang sakral, di dalamnya nggak boleh ada kontrak ataupun semacamnya, jadi sekeras apa pun kau mencoba mempertahankan kontrak itu, pada akhirnya pasti akan gagal. Toh jika kau memakai nalar, nggak ada jaminan kontrak pernikahan akan berhasil. Kontrak pernikahan harus disetujui olehku dan suamiku, bahkan jika dia setuju juga nggak mungkin kedepannya bisa menjaga kontrak atau nggak. Jika dia melanggar, apa aku harus menuntut suamiku sendiri? Kalau aku melakukannya, pasti akan dicap sebagai istri paling tol*l sedunia! Jadi, cuma orang bodoh yang akan mengajukan kontrak dalam pernikahan!"


"Iya juga, sekarang aku paham. Selain itu dalam pernikahan juga melibatkan perasaan, di dunia ini nggak ada bisa menjamin bagaimana perasaan itu nantinya. Aku juga pernah mengalaminya sendiri, saat bos memutuskan untuk berubah, aku sangat membenci bos. Tapi, perasaan itu selalu hilang saat aku melihat bos secara langsung." ucap Damar.


"Aku masih terpikirkan satu hal. Bukannya bos sangat menyukai malaikat itu, tapi kenapa masih membiarkan suamimu hidup? Bos yang aku kenal sudah pasti akan membunuhnya di malam pertama. Ini juga bukan seperti dirimu yang biasanya..." ucap Marcell.


"Cel, kau benar. Memang sempat terlintas di pikiranku untuk membunuhnya, tapi apa kau lupa siapa yang aku nikahi? Suamiku juga bukan orang yang sederhana, dia sudah berulang kali mengalami percobaan pembunuhan, tapi kenyataannya dia masih bisa hidup sampai sekarang. Sebenarnya aku punya banyak cara untuk membunuhnya tanpa meninggalkan jejak satu pun, tapi kalaupun berhasil tetap saja aku jadi tersangka. Semua orang tahu kalau aku nggak suka padanya. Hidupnya dipenuhi dengan konspirasi, kalau nggak percaya tanya saja pada Ivan!"


"Bos benar, suaminya itu juga nggak sepenuhnya bersih. Semua para konglomerat pasti punya hubungan dengan organisasi gelap atau semacamnya, saat aku berhasil mengorek informasi dari semua ponsel milik sekumpulan sampah itu, aku menemukan kalau mereka semua adalah agen elite asal Inggris. Dia nggak tanggung-tanggung soal mengawasi istrinya sendiri." ucap Ivan.

__ADS_1


"Bener tuh, sebelumnya aku juga sudah melawan tiga orang, tapi aku nggak nyangka kalau dia akan mengirim lebih banyak orang lagi. Bos sebenarnya ngapain aja sih? Kok bisa dicurigai suami sendiri." tanya Dika.


"Aku cerita kalau aku main ke club ini, setelah itu dia mulai curiga padaku." jawab Nisa.


"Hah!? Kenapa bos cerita? Bos sendiri juga paham risikonya kan? Sekarang bos sudah mulai diawasi." tanya Damar.


"Memang itu tujuanku, aku ingin melihat sampai batas mana dia akan peduli padaku. Tapi, dia lupa kalau di dalam rumah nggak ada yang tahu aku berbuat apa saja. Aku akui kalau aku ingin membunuhnya, tapi sekarang aku terpikirkan cara lain untuk membalas dendamku ini!"


"Cara seperti apa?" tanya mereka bersamaan.


"Rahasiaaaa~ Aku sendiri juga hanya bisa bertaruh, aku nggak yakin bakalan berhasil atau nggak."


"Bos telah menanam modal miliaran di club ini. Lalu, soal club ini... bukankah suamimu juga menaruh curiga?" ucap Damar.


"Yup, aku sepenuhnya yakin menanam modal itu. Toh DG Club juga club milikmu sendiri, seharusnya kau senang! Kau juga benar soal suamiku yang menaruh curiga, tapi asalkan kau tetap mengurus club ini dengan baik pasti sampai kapan pun nggak akan ditutup!" Nisa kembali meneguk bir miliknya, "Eh!? Habis... Damar, cepat ambilkan lagi!"


"Oke, aku akan segera kembali..." ucap Damar sambil berjalan keluar dari private room.


Setelah Damar meninggalkan private room, suara alunan musik semakin terdengar keras dan meriah. Dan beberapa saat kemudian Damar kembali dengan membawa satu krat bir. Saat dia kembali duduk bersama teman-temannya dia mulai tersenyum sendiri.


"Bos, apa kau mendengarnya? Di luar musiknya semakin meriah." ucap Damar.


"Ya, memangnya ada apa?" tanya Nisa.


"Di luar ada yang buat keributan, coba tebak siapa mereka~"


"Nggak tahu! Memangnya siapa sih? Apa orang itu penting?" tanya Nisa dengan tidak sabar.


"Iya, orang itu sangat dekat dan berarti bagimu~"


"Sialan! Cepat bilang dia siapa! Atau... aku lempar pakai ini!!" ancam Nisa sambil menodongkan botol bir ke arah Damar.


"Maaf deh... orang itu keluargamu, dia adikmu."


"Hah!? Reihan atau Dimas? Memangnya keributan apa yang dia buat?"


"Dua-duanya ada disini, mereka sedang bertarung melawan tamu. Mungkin mereka telah menyinggung tamu itu, tapi para pengawalku belum turun tangan...  Apa boss ingin pengawalku untuk membantu mereka?"


"Tsk! Biarin aja, kau keluar sana! Nanti kalau mereka sudah selesai, ajak mereka kemari! Aku ingin menemui mereka."


"Iya... aku keluar," Damar lalu berjalan keluar.


Tak lama kemudian Damar kembali bersama dengan Dimas yang mengikutinya di belakang. Saat Dimas memasuki private room itu, dia sedikit terkejut saat melihat kakaknya yang sibuk meminum bir bersama teman-teman lainnya. Raut wajahnya semakin masam saat mengetahui ada Marcell yang bersama kakaknya.


"Untuk apa kak Damar mengajakku ke sarang iblis ini?" tanya Dimas dengan tatapan sinis.


"Kakakmu yang menyuruhku, jangan mengeluh dan cepat hampiri dia!" jawab Damar dengan nada malas.


"Huft..." dengan terpaksa Dimas mendekat ke arah Nisa dan kemudian duduk di sebelahnya. "Kenapa kakak ingin aku kemari?"


"Tentu saja karena ingin melihat adikku yang unyu~ ini..." Nisa lalu mencubit pipi Dimas.


"Humph! Ahak hau heihus, ahan ehehi ihii!" Dimas lalu menepis tangan Nisa.


(Kakak aku serius, jangan seperti ini!)


"Reihan mana? Kenapa cuma kau yang kesini? Dan kenapa kalian membuat keributan?"


"Kak Rei nggak mau kesini, dia sibuk kenalan sama ciwi-ciwi. Dan aku nggak buat keributan kok, kak Rei yang memulai keributan. Awalnya sih nggak ada masalah apa-apa, tapi tiba-tiba ada cowok yang nantangin kak Rei. Cowok itu bilang kalau pacarnya direbut sama kak Rei, tapi kakak malah mengejeknya kalau cowok itu kalah ganteng dengannya. Makanya cowok itu marah dan terjadilah keributan."


"Tsk! Dasar cebong fakboy! Tapi, kenapa kau juga terseret?"


"Oh, itu sih karena cowok itu mainnya keroyokan. Dan tentu saja hasilnya aku sama kakak yang menang. Tapi, saat dia kalah dan ingin meninggalkan club, dia bilang kalau dia adalah anggota 'Big Bang'. Bahkan dia juga bilang kalau akan buat perhitungan, aku sih santai-santai aja dan nggak peduli. Lalu setelah kami menang, banyak orang ingin berkenalan dengan kami. Aku nggak mau kenal sama mereka semua, makanya aku nurutin kak Damar kesini."


"Oke, aku percaya. Tapi, kenapa kau datang ke club? Emangnya nggak takut dimarahin sama ayah? Bukannya besok kau masih harus sekolah?"


Big Bang sudah sekarat. Tapi kenapa anggotanya masih bisa berkeliaran dengan bebas? Sepertinya orang itu cuma mengaku dan nggak tahu apa-apa.


"Justru karena itu aku datang kemari, ayah sendiri yang menyuruhku dan kak Rei ke club. Ayah ingin kami mencari tahu tentang tempat ini. Aku pikir cuma kak Rei yang bisa masuk, tapi ternyata aku juga bisa masuk dengan mudah. Padahal aku baru 16 tahun, masih di bawah umur, para penjaga sama sekali nggak menanyakan tentang identitasku. Tapi, anehnya aku melihat banyak yang seumuran denganku nggak diperbolehkan masuk. Sebenarnya syarat apa yang harus dimiliki agar bisa masuk ke club ini?"


"GOOD LOOKING! Cuma itu syaratnya agar kau bisa masuk. Kau perhatikan orang yang nggak boleh masuk itu, semuanya pasti jelek. Penampilan menjadi syarat utama, selain itu club ini biasa saja kok, sama seperti club lainnya."


"What!? Syarat konyol macam apa itu?"


"Ini bukan konyol, club memang dibuat untuk bersenang-senang. Apa kau akan senang jika kau melihat orang jelek? Jadi, sebisa mungkin rawat dirimu agar berpenampilan menarik! Nah, sekarang kau sudah tahu tentang club ini. Cepat pulang sana!" Nisa lalu kembali melanjutkan minum.


"Iya deh, apa kak Nisa masih mau lama-lama disini?" tanya Dimas dengan senyum jahat, dan Nisa menjawabnya dengan menganggukkan kepala. "Serius nih? Nggak takut dimarahin kakak ipar? Dia sudah mencarimu sampai ke rumah ayah loh~"


"Puufff....!!" Nisa menyemburkan bir yang dia minum kemudian mengelap mulutnya sendiri, "Hei, jangan bohong! Kau tahu akibatnya kan?" tanyanya dengan tatapan sinis.


"Heh! Kalau nggak percaya, cek saja hp kakak! Jangan lupa matiin tuh mode pesawat!"


"Oke," Nisa lalu bergegas melihat ponsel miliknya. "I-ini.... 67 panggilan tak terjawab,"


Ini sama saja dengan 67 makian, kalau aku pulang sekarang maka sudah dipastikan akan mendengar semua makian itu.


"Aku pulang ya~" Dimas tiba-tiba mendekat dan berbisik di telinga Nisa, "Haha, mampuuuusss!" Dimas lalu bergegas pergi.


Setelah mengetahui bahwa suaminya sudah pulang dan sedang menunggunya, tubuh Nisa kini mulai gemetaran. Tapi beberapa saat kemudian dia tiba-tiba menyeringai, teman-temannya yang melihat hal itu juga mulai merasa gugup.


"Boss, kau kenapa?" tanya Dika dengan nada khawatir.


"Gapapa, aku gapapa. Dika, apa kau mau melakukan sesuatu untukku?" pinta Nisa.


"Eh?! Apa itu?"


"Kau ikuti adikku dan pastikan dia sampai rumah dengan selamat!"


"Oke, akan aku lakukan." Dika langsung keluar dari private room dan meninggalkan teman-temannya.


Sepertinya bos menyuruh karena khawatir tentang Big Bang yang mengancam adiknya itu.


"Bos, suamimu menunggumu, apa kau akan pulang sekarang?" tanya Damar.


"Nggak! Ayo kita lanjutkan minum sampai mabuk!"


"What!? Serius? Nggak takut suamimu bakalan marah?" tanya Ivan.


"Dia akan memarahiku jika aku pulang, dan tentu saja aku nggak akan pulang!" Nisa lalu tersenyum jahat, "Kalian temani aku bermain!"

__ADS_1


"Baiklah, kami paham! Ayo bersulaaang!!!" teriak mereka semua bersamaan dengan penuh semangat.


__ADS_2