Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Sulit Dilupakan


__ADS_3

KLAAK!


"Aku pulang." Tanpa sadar Keyran mengucapkan itu saat membuka pintu kamarnya. Sudah jadi kebiasaan saat pulang kerja dia diberi sambutan hangat dari istrinya.


Namun, kini semuanya berbeda. Tak ada lagi sosok yang selalu menyambutnya dengan senyuman, tak ada lagi sosok yang selalu memberikannya pelukan pelepas kerinduan, dan tak ada lagi sosok yang dicintainya di kamar yang kini terasa penuh dengan kehampaan.


Keyran masih mematung di sana, perasaannya kini sangat kacau. Dia masih tak mempercayai jika Nisa yang sangat dia cintai telah mengkhianatinya. Bahkan sepanjang hari saat bekerja pun juga sama, pikirannya terus bertanya-tanya mengapa semua ini harus terjadi kepadanya.


Dia melangkah masuk dengan langkah kaki yang berat, di setiap langkah yang dia ambil terlintas setiap kenangan manis yang membekas di setiap sudut kamar itu. Tetapi, dia berusaha menguatkan diri untuk tak lagi menangis meskipun luka di hatinya cukup dalam.


Keyran melanjutkan rutinitasnya seperti biasa. Ketika saatnya makan malam tiba, dia lagi-lagi teringat dengan Nisa meskipun satu-satunya orang yang ada di sana, yaitu bibi Rinn tak mengungkit apa pun soal Nisa.


Dia tak menghabiskan makanannya karena sama sekali tidak berselera. Setelah itu dia langsung kembali ke kamar, merebahkan dirinya yang kelelahan baik jiwa maupun raganya.


"Sehari aku lalui tanpamu," gumam Keyran sambil menatap sebuah bantal yang berada di sampingnya.


"Sebenarnya kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa dari sekian banyaknya orang kau harus memilih adik tiriku sendiri? Apa aku masih kurang untukmu?"


Air mata tiba-tiba saja mengalir keluar, seketika Keyran membalikkan badan begitu saja menghadap ke arah lain. Dia berusaha mati-matian untuk menghilangkan Nisa dari benaknya. Berharap dia akan terbebas dari bayang-bayang Nisa yang selalu menghantui dirinya.


***


Hari berganti, hari ini adalah hari kedua di mana Nisa seakan-akan hilang dari hidup Keyran. Setiap kali Keyran membuka blog berita di internet, pasti berita tentang Nisa menjadi topik yang menduduki peringkat pertama di pencarian.


Namun, semua berita-berita itu hanya memuat keburukan yang entah Nisa memang perbuat atau tidak. Di antara semua berita itu sama sekali tidak ada yang memuat bagaimana kabarnya Nisa sekarang.


Para wartawan juga kerap kali berusaha meminta keterangan dari Keyran secara langsung. Tetapi Keyran sepenuhnya menutup diri dari publik, dia tak menerima satu pun permintaan wawancara meskipun itu berasal dari kantor berita yang ternama.


Hari kembali berlalu, di hari ketiga ini masih tak ada bedanya dari hari sebelumnya. Hari-hari yang seakan-akan tak mempunyai arti dengan cepat berlalu. Tak disangka sudah 10 hari semenjak perginya Nisa dari kehidupan Keyran.


Lagi-lagi seperti malam yang sunyi sebelumnya, Keyran berbaring di ranjangnya dan menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Dia kemudian melirik ke arah samping, memperhatikan sebuah bantal yang sudah lama tak tersentuh itu.


"Nisa ..." gumamnya yang sudah berlinang air mata.


Tiba-tiba saja dia meraih bantal itu lalu mendekapnya dengan erat. Selama 10 hari yang telah dia lalui, dia dipenuhi oleh kegilaan yang tak bisa dilampiaskan kepada siapa pun. Tetapi semua itu sudah tidak bisa lagi untuk dia tahan.


Aroma yang tertinggal di bantal itu membuatnya semakin teringat, seolah-olah sosok yang selalu dia rindukan seperti sedang berada di dalam dekapnya saat ini.


"Kau di mana ...? Kupikir kau akan kembali ... menjelaskan dan membuktikan padaku jika semua itu tidak benar ...."


"Aku mengira aku akan terbiasa tanpamu, tapi ... semakin hari rasanya semakin tersiksa jika kau tak ada ...."

__ADS_1


Keyran semakin erat memeluk bantal itu. Segala rasa seperti kekecewaan, kemarahan, kebencian, kesedihan dan juga kerinduan. Perasaan itu membuatnya semakin frustrasi dengan keadaan yang menimpanya saat ini.


...Pada saat yang sama, rumah sakit pusat...


...•••••...


Saat ini seorang dokter spesialis bedah sedang bertugas di rumah sakit, dia tidak lain adalah Aslan. Tetapi saat ini dia tidak berada di ruangannya sendiri, dia berada di ruang kerja dokter lain yang tidak lain adalah ketua dari Asosiasi Kedokteran saat ini, yaitu Ricky.


"Rick, aku minta air. Soalnya yang di ruanganku habis," ucap Aslan yang berdiri di sebelah dispenser air.


"Ya, terserah. Habiskan saja semuanya," jawab Ricky acuh tak acuh karena masih sibuk dengan laptopnya.


Aslan menatap heran, dia segera minum seperlunya untuk menghilangkan dahaga. Setelahnya dia lalu mendekati Ricky dan berdiri di sebelahnya, dia kaget saat mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Ricky dengan laptop itu.


"Oi, kau serius? Melakukan semua ini sejak tadi? Bahkan belum pulang meski jam kerjamu sudah selesai?" tanya Aslan sambil melotot.


"Diamlah! Jangan ganggu aku!" bentak Ricky tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar laptop.


"Astaga, Ricky ... Ricky ... buat apa peduli pada Nisa sampai seperti ini? Kau cuma buang-buang waktu membalas komentar orang-orang yang menghujat Nisa satu per satu! Itu tidak akan mengubah apa pun!"


"Ck, aku bilang diam! Kau tak tahu apa-apa! Aku sedang melakukan perbuatan baik!"


Seketika Ricky menghentikan aktivitasnya lalu menatap Aslan dengan tatapan kesal. "Aku melakukan semua ini bukan karena berharap akan dihargai oleh Nisa, tapi aku sedang berusaha menyelamatkan orang-orang ini!"


"Maksudmu?" tanya Aslan kebingungan.


"Orang-orang ini tidak tahu siapa yang sebenarnya mereka singgung. Apalagi yang memperkeruh keadaan dengan membuat keterangan palsu soal keburukan Nisa, mereka berniat mencari perhatian tetapi tidak tahu konsekuensinya."


"Kita sama-sama tahu jika Nisa itu gangster, bahkan dia bosnya. Aku yakin sekali jika dia sekarang sedang mengamati semuanya diam-diam dari markas. Mungkin sekarang Nisa diam dan tak menunjukkan perlawanan, atau berusaha membuktikan jika dia tidak bersalah. Tapi setelah ini dia akan membuat keributan besar. Aku yakin karena aku mengenalnya dengan baik, jadi aku tahu persis bagaimana dia akan bertindak."


"Aku tetap belum paham," ucap Aslan.


"Hahh ... aku juga tidak sepenuhnya paham, aku cuma memikirkan kemungkinan besar yang akan terjadi. Pada dasarnya kita tak akan pernah bisa mengerti jalan pikiran seorang gangster seperti itu. Tapi aku memahami Nisa, dia bukan tipe yang akan membereskan orang satu per satu, tapi dia akan memilih untuk membereskan semuanya sekaligus. Termasuk ini nanti, dia pasti akan membuat keributan besar!"


"Keributan seperti apa?" tanya Aslan lagi.


"Hei, dengan IQ yang kau miliki harusnya kau paham situasi ini!" bentak Ricky yang mulai kehilangan kesabaran.


"Huh, mana bisa aku paham? Aku kan tidak kenal dekat gangster sedekat kau. Wajar saja jika aku tak tahu," ucap Aslan yang mencari pembelaan.


"Perhatikan ini baik-baik! Nisa itu ketua gangster, sekarang dia sedang mendapatkan masalah dan ada banyak orang yang menghujatnya. Kemungkinan besar orang-orang itu nantinya tidak akan selamat begitu saja! Aku kenal Ivan, dia salah satu petinggi penting yang sangat setia kepada Nisa, terlebih lagi dia adalah hacker yang hebat! Dan di dalam kelompok mafia sebesar itu mustahil jika cuma ada seorang hacker!"

__ADS_1


"Ivan pasti punya banyak anak buah lain yang juga hacker sama sepertinya. Meskipun tak sehebat dia, tapi mereka juga perlu diwaspadai. Saat ini pasti mereka merasa geram karena bos mereka sedang diserang oleh banyak orang. Jika Nisa memberi perintah, maka saat itu juga pasti semua akun milik orang-orang yang menghujat ini akan dicuri data pribadinya!"


"M-maksudmu data pribadi mereka akan bocor?!" Aslan tercengang.


"Tepat! Suatu hal fatal jika itu terjadi! Data pribadi mereka bisa disalahgunakan, yang paling buruk adalah data nomor telepon atau bahkan nomor rekening! Jika itu terjadi pasti akan membuat mereka kehilangan uang hanya dalam beberapa detik saja!"


"Glup ..." Aslan menelan ludah. "Jika banyak orang yang mengalami kebocoran data secara bersamaan ... pasti akan ada banyak keluhan yang diadukan pada pihak Kementerian Komunikasi Informatika. Masalah tuduhan perselingkuhan ini bisa-bisanya menjalar ke politik, bahaya sekali mantanmu itu ...."


"Karena itulah aku mencoba menasihati orang-orang yang tak tahu apa-apa ini! Tapi sayangnya mereka masih tetap keras kepala, malah ada yang menuduhku sebagai penggemar fanatik Nisa."


"Itu benar kok," celetuk Aslan.


"Hei, apa maksudmu?!" tanya Ricky sambil melotot.


"Soal kau itu yang jadi penggemar fanatik ... aku rasa mereka benar. Kau harusnya tahu jika kau melakukan semua ini, meskipun nama akunmu tidak spesial tapi Nisa pasti menyadari jika itu kau. Mungkin saja dia akan terharu saat kau melakukan semua ini untuknya. Apa kau berencana merebutnya kembali?"


Sejenak Ricky tertegun, kemudian dia tersenyum pahit. "Entahlah ... hubunganku dengan Nisa telah sepenuhnya berakhir, lagi pula Nisa sudah tidak mencintaiku lagi. Aku tak mau terlalu berharap dan malah membuatku semakin sakit hati lagi. Padahal aku sudah menyerahkan kepada orang itu agar membahagiakan Nisa. Aku tidak habis pikir akan begini jadinya."


"Hei, sekarang pintu kesempatan terbuka lebar buatmu! Aku bukannya mendoakan sesuatu yang buruk, tapi aku rasa Nisa akan segera menjadi janda! Saat itu tiba aku akan mendukungmu untuk mendapatkannya lagi!" ucap Aslan dengan antusias.


Ricky tersenyum tipis. "Aku tak tahu, As. Sejujurnya, aku sedikit kecewa dengan Nisa. Padahal saat pacaran denganku dia sudah meninggalkan dunia gelap itu lalu berubah jadi baik dan lebih lembut. Semua itu aku lakukan lebih dari 2 tahun untuk membuatnya luluh."


"Yang aku khawatirkan tentang Nisa cuma satu, dia itu punya gangguan kecemasan umum. Dia pasti terguncang dengan semua kejadian ini yang sama sekali tak memihaknya. Aku berniat untuk melihat bagaimana keadaan Nisa, kau mau ikut?"


"Hei-hei ... maksudmu ke markas besar gangster!? Kau gila?! Bagaimana jika saat kita kembali kita hanya tinggal nama?!" tanya Aslan dengan tatapan tidak percaya.


"Kalau kau takut tak apa, aku akan ke sana sendiri."


"Jangan nekat, Ricky! Kau tidak kasihan pada ayah ibumu jika sesuatu yang buruk terjadi padamu?! Lagi pula memangnya kau tahu di mana markas besar mereka?"


"Mungkin kau benar, memang cukup berisiko karena aku sadar jika para anak buah Nisa membenciku. Tapi ... aku punya firasat jika Nisa pasti tak akan membiarkan mereka macam-macam denganku. Dan untuk tempatnya, aku sudah tahu karena Nisa pernah membawaku ke sana. Aku yakin jika sampai sekarang belum berubah."


Aslan lalu mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. "Hahh ... terserah! Yang penting kembalilah dengan selamat! Kapan kau akan ke sana?"


"Malam ini juga, tapi aku harus pulang dulu untuk mengganti bajuku agar terlihat pantas."


"Eh, sampai harus memikirkan penampilan juga. Memangnya markas gangster itu di mana?"


Ricky menutup laptopnya lalu memasang senyuman tipis kepada Aslan. "Nanti akan aku ceritakan saat aku kembali, jadi doakan agar aku selamat haha ...."


"Ya, baiklah! Setelah kau kembali nanti, pasti akan kucuci otakmu itu agar berhenti memikirkan Nisa!"

__ADS_1


__ADS_2