Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Ternyata Kamu Masih Peduli


__ADS_3

"Waah... nyonya muda cantik sekali~" puji seseorang.


"Iyaaa.. orangnya juga sangat sopan," puji seseorang.


"Menantuku memang sempurna~ Beruntungnya aku punya menantu seperti ini..." ucap nyonya Ratna.


"Haha... ibu mertua bisa saja..." jawab Nisa dengan senyum terpaksa.


Siapa aku? Dimana aku? Kenapa aku bisa dikelilingi oleh tante-tante dari grup sosialita unfaedah ini!? Dari manakah semua ini berasal? Apakah ini semacam karma karena bolos di kelasnya pak Erwin? Seharusnya aku nggak terlalu baperan sama kata-katanya Terry.


Tadi pagi semuanya masih berjalan normal. Kuliah juga awalnya baik-baik saja, tapi semuanya berubah saat aku mengumpulkan laporanku pada Terry. Saat itu Terry bilang, "Ckck... Sania.. Sania.. jangan durhaka pada suami, hargai dia, laki-laki juga punya harga diri! Jadi cewek jangan terlalu barbar!" Aku nggak tahu apa sebabnya Terry ngomong begitu sama aku.


Tapi... entah kenapa perkataan Terry itu terasa menusuk, mentalku sepertinya juga terpukul. Karena inilah aku jadinya nggak ada mood buat kuliah, makanya bolos lagi. Yang paling sial adalah saat aku pulang ternyata malah bertemu dengan ibu mertua. Terus dia tiba-tiba mengajakku jalan-jalan.


Alasannya sih katanya ingin lebih akrab denganku, tentu saja aku nggak enak jika menolaknya. Pertama dia mengajakku ke salon, setelah itu belanja ke mall. Dia menyuruhku untuk membeli barang-barang mewah yang gak guna! Bahkan... dia juga menyuruhku untuk membelikan Keyran barang-barang keperluannya.


Parahnya lagi... ibu mertuaku ini menyuruhku membeli pakaian dalam untuk Keyran. Bahkan... disuruh memilih yang warna kesukaannya. Jangankan warna, meskipun aku sudah pernah menyentuh anunya itu, tetap saja ukurannya aku nggak tahu. Hiks... ini sungguh menyiksa batin! Memilih pakaian dalam itu sangat sulit, lebih mudah membunuh orang. Rasanya ingin sekali aku memutar balik waktu saat aku masih menjadi kecebongnya ayahku.


Nggak cukup sampai disitu, Saat ini ibu mertua masih mengajakku makan. Bahkan diharuskan booking ruangan VIP di restoran bintang lima. Hidangan yang dipesan juga harus yang mewah dan paling mahal, jika dihitung... pengeluaranku hari ini sudah lebih dari 647 juta. Untung saja suamiku kaya, kalau nggak mungkin saja aku sudah menangis darah.


Masalahnya sekarang adalah pengeluaranku akan terus bertambah, dari tadi teman-teman sosialita ibu mertua kampret ini terus berdatangan. Saat aku dikenalkan bahwa aku adalah istrinya Keyran, semua teman-temannya ibu mertua langsung heboh. Bahkan ada yang berusaha untuk menjilatku, mereka nggak ada rasa sungkan sama sekali. Mereka semua juga memesan hidangan yang mahal, dan dengan nggak tahu malunya memintaku untuk membayar tagihan.


Untung saja Keyran orangnya nggak terlalu perhitungan soal uang, tentu bagi milyuner sepertinya uang adalah hal remeh. Gaya hidup orang kaya memang berbeda... aku harus terbiasa dengan keadaan ini. Jika setelah ini ibu mertua masih ingin mengajakku ke tempat lain, maka dengan tanpa ragu aku akan pura-pura pingsan.


Aku nggak kuat kalau terus begini, semua makanan di hadapanku memang enak-enak, tapi aku nggak selera. Toh semua tante-tante ini dari tadi terus membicarakan hal konyol. Mereka bilang kalau aku masih kurang pengalaman, jadi mereka memberikan aku tips untuk menaklukkan suami. Gilaaa... aku nggak butuh tips semacam itu! Rasanya ingin sekali aku menyumbat mulut tante-tante ini.


Sebenarnya... daripada seperti ini, aku lebih suka diinterogasi oleh Keyran selama 7 hari 7 malam. Mau kabur juga nggak bisa, sekarang aku hanya bisa diam dan pasrah...


Nisa hanya bisa diam dan menahan semua emosi yang bergejolak di dalam dirinya. Dia terpaksa mendengarkan obrolan-obrolan yang menurutnya sangat tidak mendidik. Bahkan saat makan, dirinya terus memperlihatkan senyum palsu sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada dirinya. Namun jawaban yang diberikan Nisa adalah; iya, bisa saja, haha, anda terlalu memuji.


Lama-kelamaan Nisa mulai merasakan sakit, pipinya mulai sakit karena terus-terusan tersenyum. Namun senyuman itu hilang saat ibu mertuanya, yaitu Nyonya Ratna berkata, "Menantuku memang sangat manis, sepertinya dia mewarisi gen dari ayahnya."


"A-ayah...?" gumam Nisa.


Kenapa bawa-bawa ayah? Ibu mertuaku ini kenapa melenceng dari topik pembicaraan?


"Benarkah? Ayahmu itu orangnya seperti apa?" tanya si... sebut saja tante A.


"Ah!? Emmm.. bagaimana yaa.. ayahku itu..." ucap Nisa dengan nada ragu.


"Besanku itu terhitung masih terlihat cukup muda, dan menantuku ini adalah anak pertamanya. Nak, berapa usia ayahmu?" tanya nyonya Ratna pada Nisa.


"Usia ayahku 45 tahun," jawab Nisa dengan ekspresi sedikit aneh.


"Waahh... apakah ayahmu dulu menikah di usia muda?" tanya tante B.


"I-iya, ayahku menikah di usia 24 tahun." ekspresi wajah Nisa semakin menjadi aneh.


"Apakah makanan kesukaanmu juga disukai oleh ayahmu?" tanya nyonya Ratna.


"A-anu... ayahku paling suka makanan buatan ibuku." jawab Nisa dengan senyum canggung.


Cih, sekarang akhirnya aku mengerti! Ibu mertuaku ini genit sama ayah, pantas saja waktu pertunanganku dulu ibu menatapnya dengan tatapan kebencian. Memang yaa.. pesona ayah sangat luar biasa, di dalam dirinya masih terpancar aura fakboy. Dan sifatnya itu diturunkan ke Reihan.


Ibu mertuaku ini ternyata juga nekat, dengan nggak tahu malunya mencoba mengorek informasi dariku. Aku nggak bodoh, tentu saja nggak aku beritahu. Humph, perhatikan status lah.


Amit-amit... padahal sudah menikah dan suaminya juga sangat kaya, tapi bisa-bisanya masih punya perasaan ke orang lain. Nggak menghargai suami banget. Sadar diri dong!! (nggak ngaca:v)


"Ibumu biasanya memasak apa untuk ayahmu?" tanya nyonya Ratna.


"Ibuku bisa memasak semua jenis makanan, masakan ibuku yang paling enak seduniaaa..." jawab Nisa dengan senyum polos. "Sebaiknya berhenti membicarakan tentang ayahku, tidak baik jika membicarakan orang lain di belakangnya~"

__ADS_1


"Ahaha.. b-benar juga..." ucap nyonya Ratna dengan senyum canggung.


Acara perkenalan Nisa di perkumpulan kalangan sosialita masih berlanjut. Dan ketika acara selesai, nyonya Ratna juga sudah merasa sedikit lelah. Akhirnya dia mengajak Nisa untuk pulang.


**


Setelah Nisa dan Nyonya Ratna sampai rumah dengan barang belanjaan mereka, saat itu juga Nisa hendak pergi ke kamarnya untuk beristirahat, namun tiba-tiba saja ibu mertuanya berkata, "Nak, apa kau ingin pergi ke kamar?"


"Iya, aku sudah cukup lelah, jadi ingin pergi ke kamar. Ibu mertua pasti juga lelah, sebaiknya juga beristirahat saja. Seharian ini ibu mertua sudah mengajakku jalan-jalan, aku sangat senang dan berterima kasih..." ucap Nisa sambil tersenyum.


"Ho ho... tidak perlu berterima kasih, lain kali kita bisa jalan-jalan lagi. Dan... Aku ingin memberitahumu tentang hal yang berhubungan dengan pernikahanmu."


"Hal apa itu?"


"Rahasia~ Cobalah pergi ke kamar dulu, nanti pasti kau akan tahu. Dadah menantu~" nyonya Ratna lalu meninggalkan Nisa sambil melambai-lambaikan tangannya.


"Hmmm...." gumam Nisa dengan senyum terpaksa.


Tsk! Aku malas setiap kali mendengar tentang pernikahan, toh memangnya di kamar ada apa sih? Dasar tante-tante gak jelas!


Nisa kemudian berjalan menuju ke kamar sambil menenteng tas belanja dengan keadaan tubuh yang lesu. Di pikirannya saat ini hanya ada rasa capek, kesal, muak, rasanya hanya ingin tidur. Namun saat dia memasuki kamar, dia dikejutkan oleh tumpukan kado yang menggunung. Melihat hal itu seketika Nisa langsung tersenyum semringah dan kembali bersemangat.


"Wah... semua ini kado pernikahan! Artinya semua hadiah ini milikku. Terlebih lagi, pasti semua kado ini adalah pemberian dari kalangan orang kaya. Semoga saja hadiahnya perhiasan dan barang-barang mewah lainnya, nanti aku bisa jual semuanya!"


Hehehe, bagiku uang adalah barang terpenting. Aku nggak suka pakai perhiasan yang mahal dan berat itu.


Setelah Nisa meletakkan barang belanjaan miliknya di atas ranjang, dia langsung duduk di lantai dan membuka kado itu satu per satu. Namun hadiah pertama yang dia dapatkan sama sekali tidak seperti yang dibayangkan, begitu pula dengan hadiah selanjutnya.


Ketika Nisa sudah membuka lebih dari setengah, dari sekian banyaknya kado yang dia buka semua isinya berjenis sama. Menurutnya semua hadiah itu hanyalah pernak-pernik tidak berguna.



Semua kado pernikahan yang telah Nisa buka isinya adalah lingerie. Saat memperhatikan hadiah itu, Nisa terlihat seperti tidak bernyawa. Dia hanya bisa tersenyum pahit dan hatinya merasakan perasaan kecewa bercampur dengan kemarahan.


Aku bahkan nggak ingin membayangkan saat aku memakai lingerie ini di depan Keyran, dia itu orangnya gampang sangean! Aku gombal sedikit saja mukanya sudah merah, dasar cowok lemah. Kalau dibandingkan dengan Reihan, Keyran itu nggak ada apa-apanya. Mantannya saja sudah lebih dari 1500, bahkan dalam sehari dia bisa jadian sama 10 cewek. Adikku sungguh fakboy sejati...


"Nggak tahu ah, mending istirahat dulu!" Nisa lalu meletakkan lingerie yang dia pegang di lantai.


Beberapa saat telah berlalu, dan Nisa masih saja terus memandangi lingerie-lingerie itu. Nisa juga mulai menggigit bibinya sendiri, di lubuk hatinya telah muncul rasa keraguan dan penasaran.


"Hmmm..."


Dari tadi jiwaku sebagai seorang cosplayer terus bergejolak, aku penasaran akan terlihat seperti apa jika aku memakai lingerie. Iseng aaahh!! Aku akan mencoba memakai salah satunya, tapi yang mana...?


Nisa lalu mengambil salah satu lingerie dan kemudian memperhatikannya dengan saksama. "Yang warna pink ini sepertinya cocok, mungkin saja akan pas jika aku memakainya. Hehe... coba dulu ah!"


Dengan tanpa ragu Nisa langsung melepas semua pakaiannya, lalu berganti memakai lingerie yang berwarna pink itu. Setelah selesai dia langsung berlari ke arah meja rias dan kemudian bercermin.


"Njiiirrr... setelah memakai lingerie ini sekarang aku mirip dengan artis di p*rnhub!"


Menurutku ini nggak buruk juga, memakai kain tipis ini lumayan sejuk, jadi nggak berasa gerah lagi. Lanjut buka kado ah!


Tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu, Nisa lalu kembali duduk di lantai dan melanjutkan membuka kado. Namun saat ingin membuka kado terakhir dia berhenti dan hanya memandangi kado itu. Dan tiba-tiba saja Nisa tersenyum semringah juga memeluk kotak kado itu dengan erat.


"Aku bahagia sekali... ternyata kamu masih peduli padaku. Meskipun kado ini tanpa nama, tapi tetap ada alamatnya. Aku tahu kalau kado ini darimu..."


Nisa lalu membuka kado yang menurutnya paling berharga itu. Saat dibuka, ternyata di dalamnya masih terbungkus sebuah hadiah tersendiri. Dan yang membuatnya semakin spesial adalah terdapat sepucuk surat. Menyadari hal itu Nisa langsung mengambil surat itu dan kemudian menciumnya.


"Hehe... aku penasaran apa yang ditulis oleh kakek, semoga saja bukan teknik bermain catur." Nisa lalu membuka surat itu, dan saat membacanya dia terlihat semakin bahagia.


Isi surat itu adalah:

__ADS_1


    Nisa, pertama-tama kakek ucapkan selamat atas pernikahanmu. Kakek tidak bisa datang karena sibuk memancing, ikan di sungai rasanya sangat enak.


    Kakek memahami dirimu, kakek paham alasanmu setuju menikah. Kakek juga merestui pernikahanmu, jadi kau jangan berpikir yang macam-macam.


    Yang terpenting, kakek tahu bahwa kau sedang terjebak. Pikiran dan hatimu saling beradu, karena itu kakek akan memberimu nasihat. Intinya kau harus percaya!


    Kau harus percaya pada proses, Tuhan membuat takdir juga bukan tanpa alasan. Takdir memiliki rencana untuk membawa orang yang tepat ke dalam hidupmu pada waktu yang tepat. Meskipun kau merasa tidak nyaman, jangan pernah melawan kesempatanmu untuk tumbuh dewasa.


    Belajarlah menerima keadaan, belajarlah untuk melepaskan egomu, biarkan air mengalir sesuai arusnya. Tapi mengingat sifatmu itu, kau pasti lebih memilih menjadi ikan daripada air.


    Sudah, hanya ini yang bisa kakek sampaikan. Semoga kau bahagia.


"Heh, memang hanya kakek yang memahami diriku. Sejak awal aku sudah memilih menjadi ikan, dan hanya ikan mati yang berenang mengikuti arus. Karena inilah aku akan terus melawan." Nisa lalu membalik surat itu, dan ternyata. "Eh!? Di sebaliknya masih ada. Ini baru kakek yang aku kenal. Tapi ini... cuma pesan tambahan." Setelah itu Nisa kembali melanjutkan membaca.


Pesan tambahan itu adalah:


Nisa, kau mungkin bisa mengabaikan nasihat kakek, tapi kau harus mengingat pesan ini!!



Jangan mencoba menghubungi kakek! Kau tidak perlu khawatir, gula darah kakek normal.


Kurangi berpikir negatif, cobalah mengeluarkan iblis dari dalam dirimu!


Sebisa mungkin jangan membuat masalah atau membebani siapa pun!


Lakukanlah meditasi sesering mungkin!


Yang ini tergantung padamu, kau sekarang sudah menikah dan punya suami. Terserah kau ingin jujur atau tidak kepadanya soal masa lalumu.


Untuk hadiah yang aku berikan, kau harus menunjukkannya pada suamimu!


Ini yang paling penting, ubahlah cara bicaramu yang kasar itu! Contohlah kakakmu, Tia adalah gadis yang lembut dan sopan, tidak seperti dirimu yang bersikap seenaknya. Berusahalah agar seperti dirinya!



"Hahaha... selalu saja seperti ini," ucap Nisa dengan senyum pahit.


Mungkin aku bisa melakukan semua pesan dari kakek. Tapi, kenapa aku harus dibandingkan dengan kak Tia? Semua orang mulai dari ayah, ibu, adik-adikku, nenek dan juga kakek selalu ingin agar aku bisa seperti kak Tia.


Sebenarnya aku muak dengan hal ini, berapa kali aku harus mengatakan pada kalian bahwa aku ini Nisa, bukan Tia!! Nisa ya Nisa, Tia ya Tia! Kami ini berbeda! Jika diibaratkan aku ini adalah iblis, sementara kak Tia adalah malaikat. Dan tentu saja semua orang lebih suka pada malaikat.


Setiap kali aku mengingat tentang kak Tia, di lubuk hatiku tersimpan rasa iri. Aku iri karena semua orang mengharapkan agar aku seperti kakak, saat aku berhasil membuktikan dengan berbagai pencapaian yang bahkan melampaui kakak, nggak ada seorang pun di keluarga kita yang memberiku apresiasi. Mereka menganggap seolah-olah semua pencapaian itu sangat wajar jika aku mendapatkannya.


Tapi sebaliknya, jika kak Tia berhasil mencapai keberhasilan sekecil apa pun, semua orang langsung menyemangati dan merayakannya. Termasuk aku, aku juga selalu ikut merayakan sekaligus bahagia. Ironisnya lagi, sejak kecil aku sudah terbiasa dengan ini. Sekarang bagiku semua ini nggak penting, terlalu memuakkan jika terus memikirkannya.


Selain perasaan iri, aku juga merasa bersalah. Aku tahu, kak Tia pasti diam-diam membenciku. Kakak sangat menyukai Keyran, tapi kenyataannya malah aku yang menikah dengannya. Saat hari pernikahan, aku sudah menawarkan posisiku kepada kak Tia, tapi kakak malah menolaknya. Kakak terlalu takut untuk mengejar kebahagiaannya sendiri.


Sebenarnya aku tahu saat itu kakak sangat ingin menggantikan posisiku, di mata kakak terpampang jelas bahwa kakak sangat menyukai Keyran. Sekarang aku sadar, semua ini masuk dalam nasihat kakek, mungkin ini adalah permainan takdir. Aku hanya manusia biasa, aku nggak mampu untuk melawan hal mutlak seperti takdir.


"Hah... nggak tahu ah, coba aku lihat hadiah apa yang kakek berikan." Nisa lalu membuka bungkusan kado tersendiri yang diberikan oleh kakeknya. Nisa juga kembali dikejutkan oleh isi dari kado itu.


"I-ini... satu pack køndøm!??" Nisa hanya ternganga sambil memandangi hadiah itu di depan wajahnya. Dia juga mulai bertanya-tanya kenapa kakeknya mengirimkan hadiah itu.


"A-apa kakek bertujuan supaya aku nggak cepat-cepat punya anak? T-tapi ini berlebihan, bahkan juga berpesan agar aku menunjukkan hadiah konyol ini pada Keyran. Jika dia melihat... akan seperti apa ekspresinya nanti?" untuk sejenak Nisa terdiam.


"Persetan dengan køndøm! Aku harus segera membakarnya! Aku nggak mau Keyran melihat ini!!"


Klaak...!! suara pintu dibuka.


"Nisa, apa kau ada di da.. Eh...!?"

__ADS_1


"K-Key... Keyran...!!?"


__ADS_2