Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Bab 16. Benda Berharga


__ADS_3

"Itu ..." ucap Terry dengan ragu.


"Apa?" tanya Nisa dengan tidak sabar.


Mendadak Terry mendekat lalu berbisik, "Aku akan bilang kalau aku sudah dapat daftarnya, jadi ... persiapkan dirimu!"


"Aku selalu siap, jadi tolong menjauhlah sedikit!" ketus Nisa sambil mendorong Terry.


"Tapi ... aku merasa kalau kau mungkin akan kesulitan dengan permintaanku, karena itu mulailah bersiap dari sekarang!"


"Heh! Apa kau meremehkan aku?"


"Mana mungkin aku meremehkan pembuat onar sepertimu. Sebaiknya kau mengingat ucapanmu hari ini, dan jangan mencoba untuk kabur!"


"Iya-iya ... aku ingat kok. Bye!" Nisa langsung berjalan pergi.


Terry yang melihat punggung Nisa yang semakin menjauh hanya geleng-geleng kepala. "Nisa Sania ... aku yakin kalau kau pasti akan kesulitan dengan permintaanku nanti. Meskipun kau ingin, tapi kau pasti tidak akan bisa melakukannya!"


Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat, dan akhirnya tiba juga saatnya untuk pulang. Keyran datang menjemput tepat jam 2 siang, tetapi Nisa malah sengaja mengulur waktu dengan sibuk bermain game agar Keyran kesal karena menunggu lama.


Dari kejauhan Nisa pun bergumam, "Kasihan ... padahal aku sengaja terlambat setengah jam, tapi kenapa dia sabar sekali sih? Mungkin sebaiknya aku segera ke sana."


Nisa kemudian berjalan mendekat ke mobil Keyran, lalu tiba-tiba kaca mobil pintu belakang turun.


"Cepat naik!" ucap Keyran dengan penuh kekesalan.


"...." Nisa berekspresi datar, tanpa berkata apa pun dia langsung bergegas masuk ke mobil. Setelah Nisa masuk, suasana di dalam mobil menjadi sangat canggung.


"Valen, jalan! Langsung ke toko perhiasan!" bentak Keyran yang masih cukup kesal karena lama menunggu Nisa.


"Baik Tuan," jawab Valen.


"Tunggu! Antarkan aku pulang ke rumah dulu!" teriak Nisa.


"Kenapa kau ingin pulang? Apa kau mencoba mengulur waktu lagi?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.


"Ada barang yang harus aku ambil, aku janji tidak akan lama."


Keyran menghela napas. "Hahh ... baiklah. Valen, antarkan dia pulang dulu!"


"Baik Tuan."


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di rumah Nisa, Nisa langsung bergegas turun untuk mengambil barang di rumahnya. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa sebuah kotak berukuran sedang yang cantik, lalu dia langsung bergegas masuk ke mobil.


"Hahh ... hah ... sudah. Kau bisa berangkat!" ucap Nisa yang terengah-engah.


"Baik Nona." Valen kemudian langsung menjalankan mobil.


"Heh, bahkan sampai terengah-engah untuk mengambil barang seperti itu!" celetuk Keyran dengan pandangan meremehkan.


"Tentu saja, benda ini sangat penting untukku!" pungkas Nisa dengan nada serius.


"Aku beritahu padamu, kau tidak perlu membawa uangmu untuk membeli cincin. Lagipula uang yang ada di dalam kotak itu pasti juga tidak akan cukup!"


"Idiihh ... aku juga tidak sudi keluar uang sepeser pun untuk pernikahan ini. Yang memaksa mau menikah kan keluargamu! Tentu saja semua biaya kau yang tanggung! Lagi pula aku juga tak pernah bilang kalau isi kotak ini uang. Dasar narsis!" teriak Nisa.


"Ya, semua aku yang tanggung! Dasar miskin!" teriak Keyran.


"K-kau ...!" Nisa kehilangan kata-kata.

__ADS_1


Sial, sial, sialan! Ingin sekali aku berkata kasar dan menghajarmu! Tapi sayangnya tak bisa, yang kau bilang memang benar, dibandingkan denganmu aku memang miskin.


"Sudahlah ... Tuan, Nona. Kita sekarang ada di lampu merah, tidak baik kalau bicara keras-keras ..." ucap Valen.


Ya Tuhan, setiap kali mereka berdua bicara pasti bertengkar. Semoga saja nanti mereka berubah setelah menikah! Aku tak sanggup jika harus terus  mendengarkan pertengkaran tidak bermutu seperti ini.


Setelah melalui perdebatan yang cukup melelahkan tadi, beberapa saat kemudian akhirnya mereka sampai di sebuah toko perhiasan yang besar. Nisa dan Keyran kemudian masuk ke dalam toko itu, sementara Valen tetap menunggu di mobil.


Begitu mereka berdua masuk, semua pegawai langsung terpana dengan ketampanan Keyran. Mereka sama sekali tidak berkedip melihat sosok pria itu mengunjungi toko mereka. Sementara Nisa, dia sedari tadi terus mengabaikan semuanya dan hanya menatap kotak yang dia pegang.


"Selamat datang Tuan dan Nona ..." sambut para pegawai.


Keyran dan Nisa berlalu melewati para pegawai toko yang menyambut mereka. Tetapi setelahnya para pegawai itu langsung bergosip satu sama lain.


"Hei, apa kau lihat itu? Dia sangat tampan! Andai saja aku bisa menikah dengannya!" ucap salah satu pegawai.


"Ssstt! Pelankan suaramu! Apa kau tidak lihat jika dia sudah membawa pasangan? Bisa gawat kalau dia mendengarnya!" ucap pegawai yang lainnya.


Nisa yang saat itu mendengar percakapan itu langsung melirik ke arah dua pegawai tersebut dengan tatapan sinis.


"Celaka! Nona itu melihat kemari! Ayo cepat pergi!" ucap pegawai dengan ketakutan.


"Iya!"


Setelah Kedua pegawai itu pergi, pandangan Nisa lagi-lagi kembali tertuju kepada kotak itu. "Dasar orang sok tahu," gumamnya.


Dih! Dasar orang-orang murahan! Lihat yang genteng sedikit saja langsung ingin dinikahi. Lagi pula aku juga tak butuh orang ini! Kalau mau rebut ya silakan.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pegawai yang berdiri di samping etalase.


"Ambilkan aku sepasang cincin yang paling bagus!" pinta Keyran.


Tak berselang lama kemudian pegawai tersebut kembali dengan membawa beberapa pasang cincin. Cincin-cincin itu sangatlah lengkap, ada yang terbuat dari berlian, sapphire, ruby, emerald dan jenis batu mulia lainnnya. Semuanya dibuat dengan bermacam-macam model yang indah.


"Kau pilih cincin yang mana?" tanya Keyran pada Nisa.


"Terserah, yang penting lingkaran!" jawab Nisa seakan tidak peduli. Bahkan dia sama sekali tak memperhatikan cincin-cincin itu dengan baik.


"Haha, Nona ini bisa saja ... semua cincin sudah jelas bentuknya lingkaran. Calon istri Anda sangat humoris, ya kan Tuan?" tanya pegawai.


"...." Keyran membisu.


Sedangkan si pegawai itu juga langsung kikuk karena merasa telah salah bicara.


Keyran merasa sangat kesal dengan tingkah laku Nisa, karena sama sekali tidak peduli pada cincin yang akan mereka pakai. Dia sudah kehilangan kesabaran karena Nisa berkali-kali menunjukkan sikap buruk kepadanya. Akhirnya Keyran memutuskan untuk memilih cincin itu sendiri.


"Aku pilih yang paling mahal!" ucap Keyran dengan tidak sabar.


"Wah ... pilihan yang bagus Tuan! Nona pasti sangat suka dengan pilihan Anda!" ucap pegawai itu dengan senyuman ramah.


"Ya, dia pasti suka!" Keyran melirik sinis ke arah Nisa yang masih mengabaikannya.


Dasar gadis kurang ajar! Kau sama sekali tidak melihat ke arah cincin yang akan kau pakai! Tapi malah terus menatap kotak jelek yang kau bawa itu!


"Mari Tuan, untuk pembayaran silakan ikuti saya."


"Baik," jawab Keyran sambil berjalan mengikuti si pegawai.


Setelah mereka selesai membeli cincin, mereka langsung bergegas pulang. Dalam perjalanan pulang Nisa tetap tak berhenti menatap kotak itu. Sedangkan di sisi lain Keyran semakin merasa kesal dan tersinggung karena melihat Nisa sama sekali tidak ada niatan untuk berbicara dengannya.

__ADS_1


"Hei, sebenarnya apa isi kotak itu? Kenapa dari tadi kau terus menatapnya?" tanya Keyran sambil mencoba meraih kotak.


"Singkirkan tanganmu! Kau sama sekali tak pantas untuk menyentuhnya! Ini benda yang sangat berharga untukku!" bentak Nisa sambil menepis tangan Keyran.


"...." Valen menghela napas dan memelankan kecepatan mobil.


Mulai lagi ... setiap kali mereka bicara pasti bertengkar, ini sangat mengganggu ketenangan jiwaku! Ya Tuhan, igin sekali aku turun dari mobil lalu meninggalkan mereka berdua!


"Dasar kurang ajar! Aku sudah bersabar untuk semua kelakuanmu hari ini! Pertama, pagi tadi kau mencoba untuk menabrakkan mobil ini! Lalu kedua, tadi siang kau sudah banyak mengulur waktuku! Ketiga, kau sama sekali tidak peduli saat memilih cincin! Dan sekarang, kau berkata kalau aku tidak pantas untuk menyentuh kotak jelek itu?! Apa kau tidak tahu jika kau sudah sangat kelewatan?!"


"Kalau kau sabar seharusnya kau diam! Kenapa sekarang marah-marah?!"


"Kau ...!" gertak Keyran.


"Apa-apa?!" tanya Nisa tanpa rasa takut.


"Valen, percepat sedikit! Aku sudah muak dengan gadis ini!"


"Baik Tuan ..." jawab Valen dengan nada pasrah.


"Untung saja hari ini semua sudah beres! Jika tidak, maka aku bisa darah tinggi dibuatmu!" bentak Keyran.


"Ya! Untung saja sudah selesai, aku juga tak suka berlama-lama denganmu!"


"Heh! Aku peringatkan kau, besok malam adalah pertunangan kita. Aku akan menjemputmu besok sore, jadi kau jangan mencoba mengulur waktu ataupun kabur!!"


"Tidak akan! Aku bukan pengecut!"


"Baiklah, ingat ucapanmu hari ini!"


"Tsk! Iya iya ..." ucap Nisa dengan ekspresi malas.


"Valen!" teriak Nisa tiba-tiba.


"I-iya nona?" tanya Valen.


Kira-kira apa ini? Aku mohon jangan yang aneh-aneh lagi.


"Menepi! Aku ingin turun!"


"Hah? !Tapi, bukankah ini masih jauh dari rumah Nona?"


"Turuti saja apa keinginannya!" sahut Keyran.


"Baiklah."


Valen akhirnya menepi dan memberhentikan mobilnya. Setelah berhenti, Nisa langsung bergegas turun dari mobil.


"Nona, apakah Anda benar-benar yakin? Jalanan ini sangat sepi, terlebih lagi sekarang sudah sore," ucap Valen sedikit khawatir.


"Iya, tinggalkan saja aku!" ucap Nisa dengan serius.


"Sudahlah, cepat pergi! Tinggalkan saja gadis gila ini sendirian!" sahut Keyran.


"Baik Tuan."


Valen yang sebenarnya merasa khawatir akhirnya pergi meninggalkan Nisa, karena perintah Keyran yang sama sekali tidak peduli pada Nisa.


Nisa yang saat itu ditinggal sendirian mulai menelusuri jalan dan berjalan ke suatu tempat. Tetapi, dia sedikit terkejut saat tiba di tempat yang dia tuju.

__ADS_1


"Ah?! Tumben di sini sepi ...."


__ADS_2