Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Kecelakaan Maut


__ADS_3

Maaf, nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.


"Sial! Ayolah Nisa... angkat!!" Keyran terus mencoba menelepon Nisa, namun sama sekali tidak ada jawaban. Keyran mulai merasa semakin panik, bahkan saat ini tangannya yang memegang ponsel juga ikut gemetar.


"Aku mohon... angkat!!"


Nisa... jika kau memang marah padaku, tolong jangan seperti. Aku mohon angkatlah, sekali saja... Ya Tuhan, aku mohon lindungilah Nisa.


Sudah berkali-kali Keyran mencoba menelepon, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Valen yang melihat hal itu juga merasa semakin panik, lalu dia pun berkata, "Tuan, mungkin sebaiknya kita pergi saja ke tempat kejadian. Jaraknya tidak jauh dari sini, hanya sekitar 6 kilometer..."


"Baiklah, kita pergi kesana!"


Keyran dan Valen pergi dengan tergesa-gesa menuju tempat terjadinya kecelakaan. Di sepanjang perjalanan Keyran terus mencoba untuk menelepon Nisa, namun tetap saja tidak ada jawaban. Semakin lama Keyran semakin merasa panik, dia juga mulai membayangkan hal yang tidak-tidak sedang menimpa Nisa.


Tak lama kemudian Keyran dan Valen akhirnya sampai, begitu sampai Keyran langsung bergegas turun dari mobil dan berlari mendekat ke arah terjadinya kecelakaan.


Hal yang dijumpai oleh Keyran adalah sebuah pemandangan terbakarnya beberapa mobil. Ada banyak orang yang berkerumun dan tidak sedikit juga ada reporter yang sedang meliput kecelakaan maut tersebut.


Suara sirene mobil ambulans, polisi dan pemadam kebakaran juga terdengar begitu keras. Para polisi juga terlihat sangat sibuk untuk tetap menertibkan lalu lintas. Dan di sisi lain kobaran api semakin membesar, petugas pemadam kebakaran juga terlihat kewalahan memadamkan api tersebut.



Sontak saja pikiran Keyran menjadi buyar, dia sangat yakin bahwa Nisa berada di dalam salah satu mobil yang sedang terbakar. Dia berniat ingin menolong dan berjalan lebih dekat ke arah mobil yang terbakar, namun tentu saja dia dihalangi oleh salah satu personil pemadam kebakaran.


"Minggir kau! Jangan halangi aku!!" teriak Keyran sambil terus berusaha untuk menerobos.


"Pak, di sini sangat berbahaya, mobil bisa kapan saja meledak, tolong bapak untuk menjauh!" imbau petugas kebakaran sambil terus menghadang Keyran.


"Istriku ada di dalam sana! Aku harus segera menyelamatkannya, jadi jangan halangi aku!!"


"Pak, tolong jangan nekat! Bapak hanya akan mengantar nyawa, mobil sudah terbakar sampai seperti ini, mustahil bagi istri bapak masih hidup! Jadi mohon bapak bertenang diri dan segera menjauh, di sini sangat berbahaya!!"


"Tutup mulutmu! Istriku masih hidup, dia sedang membutuhkan bantuanku! Cepat minggir!!"


Keyran terus bersikeras untuk melewati petugas pemadam kebakaran yang menghalanginya. Namun tiba-tiba saja Valen mendekat ke arah Keyran, lalu dengan suara lirih dia berkata, "Tuan... tolong jangan seperti ini, api juga semakin membesar, sebaiknya kita sedikit lebih mundur, biarkan saja petugas pemadam kebakaran melakukan tugasnya..."


"Biarkan saja!? Apa maksudmu aku harus membiarkan Nisa mati begitu saja!?" bentak Keyran.


"Tuan!! Saya mohon kendalikan dirimu! Tuan hanya akan mengantar nyawa jika tetap ingin mencoba menyelamatkan nyonya. Keadaannya sudah seperti ini, mustahil jika nyonya masih hidup..." Valen lalu menundukkan kepala dan menggosok matanya sendiri yang sudah bergenang air mata.


"Tidak... i-ini tidak mungkin..." seketika tubuh Keyran melemas, dia kemudian berjalan mundur perlahan sambil terus menatap pada kobaran api. Namun saat langkah kelima tiba-tiba Keyran berhenti melangkah dan mulai menangis.


"Nisa..." gumam Keyran yang terus menatap ke arah mobil yang terbakar.


Kenapa... kenapa secepat ini kau meninggalkan aku? Apakah ini karena aku yang sudah bersikap buruk padamu? Kenapa juga baru sekarang aku merasa kalau dirimu penting? Kenapa Tuhan begitu kejam, membiarkan hal seperti ini terjadi untuk kedua kalinya dalam hidupku. Kenapa setiap orang yang berharga bagiku harus Kau ambil!?


Ini semua salahku. Harusnya aku tidak menipumu, harusnya aku tidak memintamu untuk datang menemuiku. Aku sudah gagal menjagamu, aku gagal menjadi suami yang baik untukmu. Aku juga tidak tahu bagaimana menjelaskan hal ini pada orang tuamu.


Semuanya bilang mustahil kau masih hidup. Aku hanya bisa berharap keajaiban datang, aku ingin kau selamat, aku mohon bertahanlah! Nisa, aku tidak mengizinkanmu mati sekarang, kau sudah bersumpah atas nama Tuhan untuk menemaniku selamanya, aku mohon... jangan tinggalkan aku...

__ADS_1


"Nisa!!" teriak Keyran sekeras mungkin.


Keyran menangis terisak-isak sambil terus memandangi kobaran api. Keyran juga terus bergumam menyebut nama Nisa dengan ekspresi yang penuh dengan penyesalan. Mungkin baginya inilah titik paling menyakitkan dalam hidup, dia yang baru saja merasakan jatuh cinta, tetapi harus kehilangan orang yang dicintainya.


Tak berselang lama kemudian kobaran api sudah terlihat mengecil. Dan Keyran masih menangis sambil terus-terusan menyebut nama Nisa.


"Sedang apa?" tanya seseorang yang tiba-tiba menyentuh pundak Keyran dari belakang.


"Bukan urusanmu!" Keyran lalu menengok ke arah orang tersebut. "Nisa!!" begitu menyadari bahwa orang itu adalah Nisa, seketika Keyran langsung memeluk Nisa dengan erat, seolah-olah seperti tidak akan pernah melepaskannya. Tangisan yang awalnya adalah sebuah kehancuran, sekarang berubah menjadi tangis bahagia.


Di sisi lain Valen juga merasa bahagia saat mengetahui bahwa Nisa masih hidup, dia tersenyum lalu berkata, "Syukurlah... ternyata nyonya bukan salah satu korbannya."


Terlebih lagi, sekarang sudah terbukti bahwa tuan memang sudah terkena penyakit cinta. Gajiku sekarang aman~


"Nisa... ternyata kau masih hidup, lain kali tolong jangan membuatku khawatir... A-aku pikir kau sudah mati, aku mohon jangan tinggalkan aku..." ucap Keyran yang masih terus memeluk erat Nisa.


"Key..." ucap Nisa dengan suara lirih.


Ini pertama kalinya aku melihat Keyran menangis, bahkan tangannya dari tadi juga gemetaran. Sepertinya dia mengira kalau aku menaiki taksi yang terlibat tabrakan. Dan pelukan ini... aku pernah merasakannya, ini adalah pelukan yang takut akan kehilangan. Ternyata Keyran sampai seperti ini karena khawatir padaku, sebaiknya aku mencoba menenangkannya.


Nisa lalu membalas pelukan Keyran juga menepuk-nepuk punggung Keyran dengan perlahan. Sedangkan Keyran, dia terus memeluk Nisa dan pelukannya semakin erat. "Nisa... aku janji akan memperlakukanmu dengan baik, jadi jangan marah lagi padaku. Aku tahu aku mengecewakanmu, tapi sekarang tidak akan lagi seperti itu. Selamanya, aku tidak akan membiarkanmu pergi!"


"Yaa.. aku tahu."


Ini aneh, apa yang terjadi padaku!? Bisa-bisanya aku melewatkan kesempatan emas ini, Keyran mengira kalau aku sudah mati, ini sangat memudahkanku untuk kabur dan terlepas darinya. Tapi itu tadi, sekarang aku sudah terlanjur menghampirinya, kenapa rasanya aku semakin bertambah bodoh? Lalu... kata-kata yang diucapkan Keyran juga terdengar sedikit aneh, dia memohon padaku supaya nggak marah lagi padanya. Padahal biasanya dia terlihat nggak peduli.


Keyran dan Nisa akhirnya berpelukan cukup lama. Nisa melakukannya karena merasa sedikit kasihan pada Keyran yang sudah mengkhawatirkannya. Sedangkan Keyran, dia sudah berhenti menangis namun dia terus memeluk Nisa karena merasa sangat takut akan kehilangan Nisa. Lama-kelamaan Nisa mulai merasa tidak nyaman, dia berpikir kalau berpelukan di tengah keramaian dan tempat kecelakaan itu tidaklah etis.


Ini di tempat umum. Bahkan ada reporter yang sedang meliput kecelakaan, bisa gawat kalau aku sampai tersorot kamera lalu masuk tv. Parahnya lagi kalau Reihan sama Dimas nonton, dua kecebong itu pasti akan mengejekku habis-habisan! Pokoknya aku harus segera pergi dari sini.


"Baiklah..." Keyran lalu melepaskan pelukannya. Setelah itu dia hanya diam dan menatap Nisa, dan tanpa dia sadari wajahnya berubah memerah. "Emmm..." tiba-tiba Keyran menggandeng tangan Nisa, "Kau baik-baik saja, jadi ayo pergi dari sini!"


"Iya, ayo pergi." Nisa lalu menengok ke arah Valen, "Valen, ayo kita pergi!"


"Baik nyonya," jawab Valen dengan senyuman.


Mereka bertiga akhirnya meninggalkan tempat kejadian kecelakaan maut tersebut. Dan saat mereka berada di dalam mobil, Keyran terus menggenggam tangan Nisa. Lalu melihat ke arah Valen sambil berkata, "Pulang ke rumah!"


"Baik tuan," Valen langsung menancap gas.


"Tunggu dulu, kenapa kita pulang? Bukankah ayahmu sedang di kantor menungguku?" tanya Nisa dengan wajah bingung.


"Sudahlah, lupakan ayahku. Dan aku minta maaf... aku menipumu untuk hal ini, ini semua adalah idenya Valen!" Keyran lalu melirik kepada Valen dengan tatapan sinis.


Jika tadi Nisa benar-benar mengalami kecelakaan maka aku akan memecatmu! Ini semua gara-gara ide konyol yang kau berikan.


"Humph! Ternyata kalian berdua bekerja sama untuk menipuku!" Nisa lalu menarik tangannya yang sedang digandeng oleh Keyran. Dia bahkan enggan untuk menatap Keyran dan memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil.


"Nisa... jangan marah lagi, ini semua salahnya Valen!" Keyran bersikeras.

__ADS_1


"I-iya nyonya, tolong jangan marah. Kami menipu karena... karena april mop!"


"Cih, april mop apanya? Memangnya ini tanggal berapa?" untuk sejenak Nisa terdiam, dia lalu memalingkan wajahnya ke arah Keyran. "Kenapa kau bisa berpikir kalau aku terlibat kecelakaan?"


"Karena kau tidak bisa dihubungi, nomor mu terus saja berada di luar jangkauan, jadi aku berpikir kalau kau terkena musibah. Nisa, jika kau memang marah padaku, tolong jangan seperti ini... aku takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak padamu..."


"Aku nggak bisa dihubungi karena baterai ponselku habis, itu saja, jadi jangan cemas."


"Ooh... syukurlah kalau begitu." Keyran tersenyum lalu tiba-tiba saja membelai wajah Nisa, "Kau terlihat sedikit pucat, apa kau sakit?"


"Aku habis donor darah, jadi berhentilah khawatir padaku. Dan jangan mengajakku bicara lagi, hari ini aku sangat capek..." Nisa lalu menyingkirkan tangan Keyran dari wajahnya, dan dia kembali menghadap ke arah kaca mobil.


Ini sedikit aneh, Keyran tiba-tiba sangat peduli padaku. Apakah ini gara-gara aku telah meludahi makanannya? Mungkinkah jika aku mempunyai ilmu pelet? Tapi ini nggak masuk akal, lagi pula aku melakukannya juga baru satu kali dan sebenarnya niatku ingin dia membenciku. Bodo amat lah, dia mau bagaimana itu bukan urusanku.


Tak berselang lama kemudian Nisa tertidur, menyadari hal itu Keyran langsung bergeser lebih dan menyandarkan kepala Nisa tepat di bahunya. Salah satu tangan Keyran lalu merangkul tubuh Nisa, dia juga tersenyum lembut melihat Nisa yang begitu pulas tertidur.


"Valen."


"Iya tuan?"


"Segera akuisisi semua perusahaan yang memproduksi gadget! Setelah itu, produk pertama yang akan diluncurkan adalah ponsel dengan daya baterai yang besar! Dan satu lagi, bonus mu akan aku tambah!"


"Baik tuan, nanti segera saya laksanakan."


Ya ampun, tuan tidak tanggung-tanggung sama sekali. Hanya karena baterai ponselnya nyonya habis, bisa-bisanya ingin mengakuisisi perusahaan yang membuatnya. Cara tuan mengekspresikan cintanya sangat luar biasa.


"Bucin." ucap Valen secara spontan.


"Kau bilang apa!?" bentak Keyran.


"Bukan apa-apa, saya bilang... licin, jalannya sedikit licin! S-sebaiknya tuan jangan bicara keras-keras, nyonya bisa terbangun..."


"Jika memang licin maka kau berhati-hatilah menyetir..." ucap Keyran dengan suara lirih.


"Baik tuan." jawab Valen juga dengan suara lirih.


Haiss... memang bucin! Tuan langsung menurut setelah aku berkata hal yang ada sangkut pautnya dengan nyonya. Dan mungkin saja kedepannya pekerjaanku akan semakin bertambah.


***


Setelah mereka sampai di rumah, Keyran langsung membopong Nisa yang masih tertidur keluar dari mobil. Keyran juga mengatakannya pada Valen bahwa dirinya tidak akan kembali ke kantor, dia ingin melanjutkan pekerjaannya dari rumah. Oleh karena itu dia menyuruh Valen agar segera kembali ke kantor sendirian.


Keyran lalu bergegas menuju ke kamarnya, dan begitu sampai dia langsung menurunkan Nisa di ranjang dengan hati-hati. Keyran menatap Nisa dengan tatapan lembut sembari mengelus-ngelus kepalanya. Dia tersenyum melihat Nisa yang tertidur dengan begitu pulasnya, bahkan akhirnya dia juga mencium kening Nisa.


"Nisa..."


Entah kenapa melihatmu baik-baik saja aku sudah merasa begitu bahagia. Meskipun... sebenarnya aku tahu kalau kau masih marah, masih membenciku, masih acuh, enggan bicara denganku dan terkadang sama sekali tidak peduli padaku. Aku bisa menerima semua itu, asalkan kau terus berada di sampingku.


Sekarang aku menyadari satu hal, ternyata kau berharga bagiku. Meskipun kau pemarah, pemalas, selalu melakukan hal bodoh, tapi terkadang kau mengejutkanku. Kau bisa menunjukkan hal yang baru, hal yang belum pernah aku ketahui sebelumnya.

__ADS_1


Dan... aku merasa kalau dirimu berbeda, kau selalu menghindar saat aku ingin lebih tahu tentangmu, seakan-akan kau seperti menyembunyikan sesuatu. Begitu sadar akan hal ini, sebagian diriku merasa sakit, kau begitu dekat namun terkesan seperti tak tersentuh. Tapi apa pun itu, selama kau ada, aku rasa aku akan baik-baik saja.


"Sesuai janjiku, kedepannya aku akan terus memperlakukanmu dengan baik." Keyran lalu sekali lagi mencium kening Nisa. "Beristirahatlah istriku..."


__ADS_2