Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Depression


__ADS_3

Keyran mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tempat yang dia tuju adalah sebuah kantor cabang dari perusahaan HW Group. Tempat itu lumayan agak jauh dari rumah sakit, memakan setidaknya tak kurang dari 30 menit untuk sampai di sana.


Begitu dia sampai si sana, semua pegawai pun kaget. Mereka kaget karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya mengenai kunjungan kehadiran CEO ke kantor mereka. Terlebih lagi bagi resepsionis kantor yang bertugas, dia gugup saat Keyran menanyakan di mana Daniel berada dengan tatapannya yang marah.


Tanpa basa-basi lagi Keyran langsung menuju ke ruangan Daniel, ruangan direktur. Setelah sampai di sana, Keyran langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.


BRAKK!


"Ternyata di sini kau!" ucap Keyran dengan sorot mata yang tajam.


Keyran melihat di ruangan tersebut bahwa Daniel sedang tidak sendirian, tetapi dengan seorang gadis yang merupakan sekretarisnya. Daniel yang semula sedang memeriksa sebuah dokumen langsung kaget dan berdiri begitu melihat Keyran. Sedangkan sekretaris itu juga langsung menepi dan tak lupa membungkuk serta mengucapkan salam untuk Keyran.


"Ada urusan apa Kakak ke sini?" tanya Daniel kebingungan.


"Heh, aku tidak habis pikir kau masih bisa bertanya!" Keyran melangkah maju hingga sampai di depan meja kerja Daniel, dan tiba-tiba saja dia menarik kerah baju Daniel yang masih lengah.


"Apa-apaan?! Cepat lepas, Kak!" teriak Daniel sambil meronta sekuat tenaga hingga akhirnya bisa terlepas, kemudian dia menatap sinis Keyran. "Apa Kakak ke sini cuma mau cari keributan?"


"Kau yang mencari keributan! Apa kau tidak sadar jika yang kau lakukan sangat berpengaruh pada reputasi keluarga kita?!" tanya Keyran penuh emosi.


"Memangnya apa yang aku lakukan?! Aku seharian ini dan sejak kemarin-kemarin pun cuma bekerja!"


"Kalau bekerja maka bekerjalah dengan benar! Jangan ganggu aku ataupun kakak iparmu! Aku sudah meminta semua orang untuk tutup mulut soal kegugurannya! Tapi kau bisa-bisanya menyuruh seorang perawat untuk memberitahukan soal ini ke istriku dengan imbalan 50 juta! Kau juga memintanya untuk mengekspos soal ini ke media sosial dengan tambahan 20 juta! Sekarang berita ini heboh di internet, jika ayah tahu dia pasti juga tidak akan melepaskanmu!" teriak Keyran sambil menunjuk ke muka Daniel.


"Turunkan jari Kakak! Kakak cuma salah paham, aku tak pernah menyuruh seorang perawat untuk memberitahu ke kakak ipar soal kegugurannya."


"Kau masih bisa menyangkalnya?!" tanya Keyran seakan tidak percaya.


"Aku tidak menyangkal! Tapi memang bukan aku yang melakukannya! Apa perawat itu yang bilang kalau aku yang menyuruhnya?!"


"Dia tidak bilang, tapi aku yakin kalau ini berhubungan denganmu!" Keyran bersikeras.


"Aku bahkan tidak ikut menjenguk kakak ipar! Atas dasar apa Kakak menuduhku?!" tanya Daniel seakan tidak terima.


"Karena aku tahu kau selalu tidak suka denganku dan iri terhadapku! Kau pasti memanfaatkan situasi ini untuk menghancurkan pernikahanku!"


Daniel menyeringai dan tangannya mengepal sekuat mungkin. "Iya, aku akui kalau aku selalu tak suka dan iri pada Kakak! Tapi meskipun begitu untuk apa aku ikut campur tentang pernikahan kalian? Lagi pula tanpa campur tanganku, aku yakin pernikahanmu akan hancur dengan sendirinya cepat atau lambat jika Kakak selalu berprasangka buruk ke orang lain!"


"Apa katamu?!" Keyran melotot.


"Heh, memangnya tidak? Kakak tanpa dasar yang jelas menuduhku! Apa Kakak tahu kenapa aku tak menyukaimu? Itu karena sejak kecil Kakak tak pernah menganggapku sebagai keluarga! Dan aku iri karena perlakuan ayah yang melimpahkan semua kasih sayangnya cuma untuk Kakak! Lihat saja sekarang, Kakak dapat posisi sebagai CEO! Sedangkan aku cuma diposisikan sebagai direktur cabang! Saham yang diberikan oleh ayah juga lebih banyak punya Kakak dibanding punyaku!"


Daniel menunjuk ke arah berkas yang ada di mejanya. "Lihat ini! Aku cuma menangani project penting saat Kakak tak ada untuk bertugas! Ayah baru menyuruhku berkontribusi penting untuk perusahaan jika Kakak tak ada! Bahkan jika dipikir-pikir, tugasku jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Valen yang posisinya cuma asistennya Kakak! Ironi, kan? Yang bisa aku banggakan bukan pencapaianku, tapi cuma nama belakang Kartawijaya yang menempel pada namaku! Aku bahkan tak tahu ini sebuah berkah atau kemalangan jika menjadi anak diluar nikah dari keluarga terpandang, seperti keluarga kita."


Daniel lalu beralih menunjuk ke arah pintu. "Kakak sebaiknya pergi! Meskipun aku ingin melihat Kakak hancur, tapi aku tak sudi jika harus mengeluarkan uang sepeser pun! Aku tak punya privilege seperti Kakak, pekerjaanku harus aku selesaikan dan tak bisa diserahkan pada orang lain karena posisiku tak setinggi posisi Kakak. Jadi aku mohon pergilah, Kak! Jangan ganggu pekerjaanku!"


"..." Keyran membisu, karena tak mendapatkan hasil apa pun dia langsung pergi dari ruangan Daniel dengan raut wajah yang kesal.


Daniel menghela napas, dia lalu kembali duduk dan menatap tajam sekretarisnya. "Alina, lupakan semua yang kau lihat dan dengar tadi!"


"B-baik Pak Direktur," jawab Alina yang kemudian kembali duduk dan menyodorkan sebuah berkas ke Daniel. "Pak Direktur, ini belum diperiksa."


"Oh," Daniel kemudian menerima berkas itu.


"Ehmm ... Pak, apakah benar bahwa Nisa Sania ... eh, maksud saya Nyonya Nisa mengalami keguguran?" tanya Alina penasaran.


"Ya begitulah," sesaat kemudian mendadak Daniel menatap mata Alina. "Oh iya, ngomong-ngomong ... bukannya kau pernah cerita kalau kau pernah satu SMA dengan kakak iparku?"


"Iya haha, karena itu saya tadi salah bicara." Alina tersenyum canggung.


"Jadi dulu kalian akrab?"


"Tidak kok! Saya mengenalnya bukan karena akrab, tapi karena dulu dia adalah musuh abadi saya!"

__ADS_1


"Musuh?" tanya Daniel yang mulai tertarik.


"Benar! Dia itu suka membuat masalah, juga kerap melakukan perundungan kepada teman, bahkan dia menyebutnya sebagai budak. Tapi saya heran dia bisa lulus tanpa hambatan, dugaan saya itu mungkin karena kepala sekolah takut kepadanya."


"Kepala sekolah bisa takut dengan seorang murid?" tanya Daniel terheran-heran.


"Emm ... desas-desusnya dia adalah anaknya mafia. Tapi yang membuat saya membencinya adalah dia pernah menjebak ayah saya. Ayah saya adalah polisi, dia menjebaknya dengan narkoba yang berakibat diberhentikannya ayah saya."


"Apa dia melakukannya sendiri?"


"Tidak, saya sebenarnya tidak tahu siapa yang melakukannya, tapi besar kemungkinannya kalau itu orang suruhannya. Saya berpikir begitu karena sebelum kejadian itu saya sempat terlibat masalah dengannya. Padahal kalau sekarang dipikir-pikir itu cuma masalah sepele, orang yang saya sukai dekat dengannya."


"Siapa? Yang aku tahu kakak iparku itu cuma punya 1 mantan, ketua Asosiasi Kedokteran yang sekarang."


"Benar haha, dulu saya sempat menyukai Kak Ricky! Saya tak pernah menyangka kalau akan begini jadinya, Nisa Sania ... dia malah menikah dengan Tuan Muda keluarga Kartawijaya. Keluarga Pak Direktur sangat mematuhi hukum, jadi soal identitasnya Nisa Sania itu menurut saya masih misteri. Tapi bukan masalah, sekarang saya sudah tidak terlibat apa pun lagi dengannya, lagi pula sekarang saya juga sudah bertunangan. Pak Direktur jangan lupa datang ya saat upacara pernikahan saya! Nanti saya akan lempar bunga ke arah Pak Direktur!"


"Heh, sekretaris macam apa yang suka meledek atasan?"


"Haha ... maaf Pak!"


"Yaa ..." jawab Daniel yang kemudian menutupi wajahnya dengan berkas, dia menyembunyikan seringai bibirnya.


Ckck, entah siapa yang berniat menyebarkan berita soal keguguranmu kakak ipar. Tapi yang pasti dia adalah musuhmu. Musuh dari musuh adalah teman, aku memang bisa saja menghancurkan pernikahanmu. Tapi menurut keterangan dari sekretarisku yang agak bodoh ini, sepertinya identitasmu yang kau sembunyikan itu bukan main ya. Bahkan mungkin saja kau keguguran itu karena ulahmu sendiri.


Jika saja itu benar, aku hanya tinggal menonton. Kakak tiriku itu sangat memandang tinggi hukum, dia pastinya tidak akan sudi memiliki istri seorang kriminal apalagi mafia.


Kak Keyran, yang akan menghancurkanmu adalah istrimu sendiri. Bersiaplah untuk itu bila saatnya tiba nanti.


***


Keyran masih kesal akibat kata-kata yang dilontarkan oleh Daniel. Sebelum kembali ke rumah sakit, dia menuju ke kantor pusat HW Group. Reaksi dari para pegawai sama seperti tadi, namun kali ini beberapa di antara mereka saling berbisik mengenai berita soal Nisa yang telah keguguran sudah tersebar di internet.


Di luar gedung kantor pun juga ada reporter dan jurnalis yang mendesak untuk meminta klarifikasi, namun staf keamanan masih bisa mengondisikan mereka supaya tidak melewati batas dan mengganggu aktivitas kantor.


Tuan Muchtar juga melihat berita di internet. Dia mencegat putranya itu karena meminta penjelasan kenapa bisa tersebar. Memakan waktu yang cukup lama bagi Keyran untuk menjelaskan hal tersebut. Apalagi ketika ayahnya meminta agar Keyran menunggu sampai seluruh reporter pergi.


Keyran awalnya menolak karena memikirkan kondisi Nisa, tetapi saat dia menelepon Reihan dan menanyakan tentang keadaan Nisa, Reihan bilang kalau kondisi masih dalam kendali. Akhirnya pun Keyran menuruti permintaan ayahnya.


Ketika waktu makan siang tiba, reporter yang berada di luar jumlahnya mulai berkurang. Keyran memanfaatkan celah itu untuk ke area parkir dan segera kembali ke rumah sakit.


Sesampainya di sana, dia sedang melihat Reihan yang duduk di kursi tunggu sambil membawa sebuah tablet yang sudah disambungkan dengan kamera CCTV kamar rawat Nisa.


"Oh, kakak ipar sudah kembali! Gantian dong, aku lapar ... mau jajan ..." keluh Reihan.


"Tunggu dulu! Apa yang dilakukan oleh Nisa sejak tadi?" tanya Keyran sambil merebut tablet dari tangan Reihan. Dari layar tablet tersebut dia bisa melihat Nisa yang sedang duduk di sofa sambil menatap keluar jendela. "Apa seperti ini tidak bahaya? Takutnya dia melompat."


"Tenang saja, dari tadi Kak Nisa duduk di situ. Cuma yang mengkhawatirkan ... Dia cabut selang infus dan sebentar menangis lalu sebentar lagi diam ... Tapi, barang-barang di dalam kebanyakan sudah rusak. Layar TV juga sampai retak, kalau ditotal kakak ipar bisa ganti rugi banyak."


"Itu bukan masalah, yang terpenting adalah kakakmu! Tapi apa yang dilihat kakakmu?"


"Entah, tablet ini cuma tersambung ke 1 CCTV. Kalau mau lihat gambar CCTV yang di luar harus ke ruang kontrol."


Keyran mendadak mengambil dompetnya dan memberi Reihan beberapa lembar uang yang nilainya banyak. "Ini, buat jajan! Tadi katanya lapar."


"O-oke ..." Reihan menerima uang itu dengan canggung.


Wah ... ini sama seperti uang jajan seminggu.


Keyran yang penasaran dengan apa yang sedang dipandang oleh Nisa lalu pergi ke ruang kontrol. Setibanya di sana, dia melihat Ricky sudah berada di sana sedang duduk di sebelah operator CCTV.


"Oh, sudah selesai urusanmu?" tanya Ricky.


"Sudah, beritanya sudah diredam, tapi orang-orang sialan itu masih saja nekat! Tapi untuk pelaku yang menyuruh perawat itu belum ditemukan." jawab Keyran sambil memandangi layar monitor.

__ADS_1


"Itu bukan yang terpenting, yang terpenting adalah kondisi Nisa!"


"Aku tahu, aku suaminya jadi kau tak perlu ingatkan aku!" Keyran lalu menepuk bahu sang operator. "Perlihatkan bagian taman!"


Operator tersebut mengangguk.


"Untuk apa?" tanya Ricky.


"Aku ingin tahu apa yang sebenarnya sedang dilihat oleh Nisa, kata Reihan dia sangat betah menatap keluar."


Setelah operator CCTV memperlihatkan gambar, Keyran dan Ricky terkejut. Yang sedang ditatap oleh Nisa adalah sekumpulan anak-anak sedang bermain di taman, anak-anak itu tampak tersenyum dengan ceria.


"Aku akan menemui Nisa sekarang!" ucap Keyran seakan tidak tahan.


"Tunggu! Jangan sekarang!" pinta Ricky.


"Lalu sampai kapan? Sampai kapan aku harus membiarkan istriku tenggelam dalam kesedihan?!"


"Jika kau masuk sekarang itu hanya akan memperkeruh keadaan, tunggu anak-anak yang bermain di taman itu pergi. Mungkin saja saat itu pikiran Nisa tak terpaku lagi dengan anak-anak. Pikirkan ini, orang pertama yang dilihatnya setelah sadar adalah kau, terlebih lagi kau juga suaminya, tapi kau juga yang merahasiakannya dari Nisa. Aku bahkan tak bisa membayangkan apa yang akan Nisa katakan saat melihatmu."


"Huft ... oke!"


Keyran kembali menunggu, namun dia menunggu cukup lama karena anak-anak itu masih bermain, bahkan ketika 1 di antaranya pergi, datang lagi anak yang lain. Anak-anak yang bermain itu baru sepenuhnya pergi ketika sudah sore, ketika angin yang berhembus sudah terasa dingin.


Tetapi Keyran masih belum menemui Nisa. Karena setelah anak-anak itu pergi, mendadak Nisa melakukan pergerakan. Nisa menutup jendela lalu duduk di atas ranjang, ekspresinya tampak linglung. Kemudian dia mendadak menekuk lutut serta menempelkan wajahnya di lutut. Dari CCTV pun bisa terlihat bahwa Nisa sedang menangis terisak-isak.


"Temui dia sekarang!" ucap Ricky.


"Eh, tapi bukannya aku harus menunggunya sampai tenang?" tanya Keyran penuh keraguan.


"Tidak! Aku paham betul posisi ini! Nisa sedang mencoba menyakiti dirinya sendiri, dia menggigit bibirnya sendiri tak tanggung-tanggung sampai berdarah."


"Sungguh?"


"Aku berani bersumpah! Sejak dulu jika Nisa menangis tapi tak mau mengeluarkan suara dia pasti akan menggigit bibirnya sendiri!"


"Sial!" Keyran segera berlari menuju ke ruang rawat.


Setibanya di sana, sejenak Keyran sempat ragu untuk membuka pintu. Akhirnya pun dia membukanya perlahan dan melangkah masuk perlahan juga. Dia melihat sekeliling sudah tampak seperti kapal pecah.


Keyran ikut duduk di pinggir ranjang, perlahan dia mengusap kepala Nisa dengan lembut. "Nisa ..."


Suara lembut yang tidak asing di telinga, mendengar itu Nisa mendongak. Terlihat darah pada bibir bawahnya dan air mata yang membasahi pipinya. Tetapi entah mendapat tenaga dari mana, mendadak Nisa memeluk erat Keyran serta mencengkeram erat kemejanya.


"Huuaaa ....!!" teriakan kesedihan terdengar keras.


"K-kenapa ... kenapa baru datang sekarang? Kau ... pasti membenciku! K-kau pasti tak sudi melihatku!"


"..." Keyran membalas pelukan Nisa serta mengusap punggungnya. "Maaf ..." ucap Keyran dengan nada gemetar.


"Aku yang harusnya minta maaf! Aku yang sepenuhnya patut disalahkan! W-wanita macam apa aku ini ...? Aku ... Aku bahkan tak tahu kalau aku hamil! A-aku membunuh bayiku sendiri! Aku orang yang paling buruk!"


"Key ... ini salahku! Salahku! Aku membunuh anakku ... a-anak kita ... aku membunuhnya!! K-kau sudah mengharapkan kehadirannya ... t-tapi aku menghancurkan harapanmu itu ... Orang sepertiku, tak pantas untuk hidup! Lebih baik aku mati saja!"


"Apa yang aku katakan? Ini bukan salahmu, yang tiada bukan cuma anakmu, tapi anakku juga. Aku yang gagal melindungimu ..." Keyran lalu melepaskannya pelukannya dan mengusap air mata di pipi Nisa, juga mengusap darah di bibirnya. "Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, oke?"


Air mata Nisa semakin mengucur deras. "Tetap saja aku yang paling bersalah! Anak kita ... berada di dalam perutku, a-aku yang paling bertanggungjawab pada apa pun yang terjadi padanya! S-sekarang dia tiada, itu karena aku yang membunuhnya! Aku tak pantas jadi ibu!"


"Sudah aku bilang ini bukan salahmu!!" bentak Keyran yang manik matanya berlinang.


"Hik hik ... maaf ... A-aku mohon maafkan ... uuhh ..." tanpa sebab yang jelas mendadak Nisa tak sadarkan diri dan jatuh di pelukan Keyran.


"Nisa?! Nisa, bangunlah!" Keyran panik dan sedikit mengguncangkan tubuh Nisa, kemudian dia berteriak, "Dokter!! Dokter!!!"

__ADS_1


__ADS_2