Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Sehari Sebelum Pernikahan (3)


__ADS_3

Sepanjang hari pikiran Nisa terus dipenuhi oleh rasa tidak percaya, dia masih sulit menerima alasan konyol yang membuatnya harus menikah. Untuk menghilangkan beban itu, pada malam hari akhirnya dia memutuskan untuk belajar. Meskipun tahu kalau dia tidak bisa melanjutkan kuliah lagi, dia masih belajar dengan sungguh-sungguh.


Tok tok tok....


"Nisa, boleh ayah masuk?" tanya ayah.


"Ya... masuk aja. Emangnya sejak kapan ayah perlu izin untuk masuk kamarku? Biasanya kan ayah langsung masuk," tanya Nisa terheran-heran.


"Hah..." menghela napas.


Kemudian ayah masuk ke kamar Nisa lalu duduk di ranjang milik Nisa, setelah masuk ayah hanya diam dan melihat sekeliling kamar.


"Hei! Tumben sekali samsak tinju milikmu nggak rusak? Ayah kira itu sudah pasti hancur," ucap ayah sambil menunjuk ke arah samsak tinju yang digantung di pojokan.


"Emangnya kenapa? Apa ayah menemuiku hanya untuk melihat samsak tinju milikku? Ayah ini kurang kerjaan," ucap Nisa sambil terus fokus belajar.


"Bukan begitu, ayah hanya ingin melihat keadaanmu sekarang seperti apa, biasanya kalau ada masalah kau pasti akan mengamuk dan menghancurkan barang, bahkan samsak yang diisi pasir pun biasanya kau rusakkan. Tapi ternyata kau tenang sekali, bahkan masih ada kemauan untuk belajar. Bagiku ini sedikit aneh...."


"Aku juga nggak tahu, mungkin karena aku sudah cukup lelah, jadi tenaga untuk mengamuk aku nggak punya. Tapi, soal belajar... mungkin malam ini adalah yang terakhir," ucap Nisa dengan wajah murung.


"Hah..." ayah menghela napas lalu menundukkan kepalanya. "Nisa, ayo batalkan saja pernikahanmu!" ucapnya dengan serius.


"...."


Setelah mendengar perkataan dari ayahnya, Nisa langsung terdiam. Kemudian dia menghentikan aktivitas belajarnya, lalu berjalan mendekat ke ayahnya dan duduk di sebelahnya.


"Mungkin aku salah dengar, coba ayah ulangi lagi!" Nisa lalu mendekatkan telinganya.


"Kau nggak salah dengar, ayah memang mengajakmu untuk membatalkan pernikahanmu!"


"Kenapa?" tanya Nisa dengan wajah bingung.


"Karena ayah tahu kalau kau terpaksa, ayah nggak ingin melihatmu menderita..." ayah tersenyum lalu mengelus kepala Nisa.


"Heh! Alasan macam apa itu? Ayah memang dari awal sudah tahu kalau aku terpaksa, tapi yang aku pertanyaan adalah, kenapa ayah mengatakan hal itu sekarang? Pernikahanku itu besok, besok loh..." ucap Nisa dengan panik.


"Iya, ayah tahu kalau besok pernikahanmu. Tapi tetap saja itu besok, masih belum terlambat untuk membatalkannya sekarang. Ayah tahu alasanmu menerima perjodohan ini, kau memikirkan tentang kami, keluargamu sendiri. Ayah juga tahu kalau kau ingin berbakti pada orang tua, tapi kami sebagai orang tua juga harus memikirkan tentangmu. Ayah nggak ingin putri ayah satu-satunya menderita karena harus menikah dengan orang yang bukan kau cintai. Meskipun harus kehilangan semua harta, tapi ayah hanya ingin putri ayah bahagia..." ucap ayah sambil tersenyum.


"Ayah, mungkin ayah nggak keberatan, tapi..."


"Tapi apa? Kau memikirkan tentang paman Chandra kan? Ayah sudah tahu tentang apa yang telah kau lakukan, pamanmu sendiri yang bercerita pada ayah. Dia bilang semuanya terserah padamu, yah... meskipun aku tahu kalau dia sedikit nggak rela, tapi dia sendiri juga seorang ayah. Pamanmu sudah mengerti tentang beban yang harus kau tanggung, jadi dia bisa bicara seperti itu padaku. Ayah juga sama, ayah sangat sayang pada putri ayah. Semuanya terserah padamu..."


"Apa benar paman bicara begitu?" tanya Nisa seakan tidak percaya.


"Iya, percaya pada ayah! Pamanmu memang mengatakan semua itu, pamanmu juga ingin kau bahagia. Kita ini keluarga, masalah yang harus kau tanggung juga adalah masalah kami. Jadi semuanya terserah padamu...."


"Haha, keluarga?" tanya Nisa dengan ekspresi sedikit aneh.


"Kenapa kau seperti itu? Ini memang tentang keluarga kita, kita semua sepakat menyerahkan pilihan padamu! Kau juga harus memikirkan kebahagiaanmu sendiri!" bentak ayah.


"Ya ampun.... kenapa ayah masih belum sadar? Bicara tentang keluarga, ini bukan hanya tentang keluarga kita! Ayah pasti paham yang akan terjadi pada perusahaan kita seandainya aku menolak pernikahan ini, rubah tua sialan itu pasti akan segera mengakuisisi perusahaan kita!" ucap Nisa seolah terdengar sangat marah.


"Rubah tua...?" tanya ayah.


"Yang aku maksud calon ayah mertuaku," ucap Nisa dengan nada malas.


"Oh..."


"Sampai mana aku tadi?"


"Akuisisi perusahaan," jawab ayah.


"Nah, jika itu sampai terjadi semuanya akan kacau! Perusahaan kita juga sudah banyak membuka cabang dimana-mana, coba bayangkan jika perusahaan kita bangkrut... Pasti saat itu juga banyak pegawai yang kena PHK! Dan diantara pegawai-pegawai itu pasti banyak dari mereka yang jadi tulang punggung keluarga, jadi intinya ini bukan hanya tentang keluarga kita! Jika aku membatalkan pernikahan ini, maka akan ada banyak orang yang terkena imbasnya. Aku nggak mau karena keegoisanku untuk bahagia, aku harus menanggung dosa sebanyak itu!" teriak Nisa.


"K-kau benar juga, kenapa ayah nggak kepikiran sampai situ? Ternyata cara berpikirmu cukup jauh, kau memang gadis yang pintar! Jadi... apa keputusanmu?"


"Hah!? Kenapa masih tanya? Tentu saja mau nggak mau aku harus menikah! Aku yakin kalau aku bisa melewati semua ini! Seandainya setelah menikah rubah tua itu masih tetap mengakuisisi perusahaan kita, maka aku sendiri yang akan menghajarnya dan membakar perusahaan miliknya!" ucap Nisa dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Jangan sembarangan bicara! Apa kau ingin jadi kriminal!?" bentak ayah.


"Kan aku bilang seandainya, ayah kurang cermat sih..." bantah Nisa.


"Dasar bocah nakal....!" keluh ayah sambil menyentil dahi Nisa.


"Ugh...! Terserah ayah mau bilang aku apa!" Nisa lalu memalingkan wajahnya.


"Hah... kau ini!" lalu untuk sesaat ayah diam, tapi tiba-tiba dia berkata, "Nisa, peluk ayah!" ucap ayah dengan senyum lembut sambil merentangkan kedua tangannya.


Tanpa berkata apa pun Nisa langsung memeluk ayahnya, meskipun Nisa sedikit bingung dengan permintaan ayahnya, tapi akhirnya mereka berdua berpelukan cukup lama.


"Ayah, berpelukan denganmu seperti ini rasanya nyaman sekali... Tapi, kenapa ayah tiba-tiba ingin memelukku?" tanya Nisa.


"Entahlah, mungkin karena ayah merasa akan segera kehilangan putri ayah yang manis ini..." ucap ayah sambil terus memeluk erat Nisa.


"Kehilangan apa? Aku ini cuma mau menikah, bukan mau mati! Aku masih bisa bertemu dengan ayah kapan saja, jadi jangan terlalu sentimental seperti ini! Bukannya aku nggak mau dipeluk sih... tapi ayah baperan banget!"


"Memangnya kau paham yang dirasakan ayah? Setelah kau menikah pasti nanti kau lebih sering bersama suamimu, dan kau juga akan mendapatkan keluarga baru. Lalu, rumah ini akan sedikit sepi tanpamu, tentu saja ayah pasti merasa kehilangan..."


"Ya ampun, kenapa ayah berpikir seperti itu? Di antara aku dan calon suamiku itu sama sekali nggak ada rasa suka, bahkan setelah menikah pasti dia nggak peduli dengan semua yang aku lakukan. Pokoknya ayah tenang aja, setelah menikah nanti aku pasti sering main ke rumah, jadi ayah masih punya banyak kesempatan untuk memelukku seperti ini!"


"Haha, kau memang naif!" ucap ayah seolah mengejek.


"Hah!?"


Kenapa belakangan ini banyak sekali orang yang mengejekku naif?


"Kau mungkin nggak sadar kalau kau punya sesuatu yang istimewa pada dirimu!"


"Istimewa...?" tanya Nisa dengan wajah bingung.


"Ayah beritahu ya, kau itu punya kemampuan untuk mencuri hati orang, bahkan calon ayah mertuamu sudah mengalaminya sendiri. Untuk calon suamimu itu, cepat atau lambat pasti juga akan jatuh hati padamu! Apa kau tahu yang sudah kau lakukan untuk mencuri hati calon ayah mertuamu itu?"


"Aku nggak mau tahu!" jawab Nisa secara spontan.


"Tapi ayah akan tetap memberitahumu, dengar baik-baik ya, kau mencuri hatinya saat hari dimana kau menerima perjodohan itu. Saat mereka akan pulang kau mencium tangannya selayaknya orang tuamu sendiri, mulai saat itu dia semakin menyukaimu. Tuan Muchtar sendiri yang bilang pada ayah, dia bahkan juga bercerita kalau anaknya sendiri nggak pernah seperti itu kepadanya, makanya saat kau mencium tangannya dia sangat senang sekali!"


"Hah!? Mereka itu keluarga macam apa? Masa anaknya sendiri nggak pernah mencium tangannya sih? Memangnya bagaimana caranya mendidik anak? Bahkan tata krama seperti itu pun nggak diajari!" ucap Nisa seakan tidak percaya.


"Ayah juga nggak tahu, tapi intinya calon ayah mertuamu sangat sayang padamu, jadi sudah pasti kau akan jarang menemui ayah lagi. Makanya ayah bisa merasa kehilangan..."


"Aku nggak peduli pada mereka! Aku masih lebih sayang ayah! Ayah itu sangat penting bagiku, aku janji setelah menikah aku akan sering main ke rumah!"


"Iya... ayah tahu, ayah juga sayang padamu! Oh iya, hampir saja ayah lupa. Ayah sudah bicara pada calon suamimu, dia bilang kau boleh terus kuliah. Jadi setelah menikah kau jangan sampai lupa belajar!" ucap ayah sambil melepaskan pelukannya pada Nisa.


"Serius? Aku juga punya kabar baik untuk ayah, peringkatku kali ini naik jadi peringkat ke-3!" ucap Nisa sambil tersenyum bahagia.


"Bagus, pertahankan! Lalu siapa peringkat 1 dan 2?" tanya ayah penasaran.


"Itu sih jangan ditanya, peringkat ke-1 masih si petugas babi, lalu peringkat ke-2 juga masih si nona sombong!" kesal Nisa.


"Gapapa... yang penting kau jujur! Lalu ayah juga harus segera pergi, ayah masih ada urusan. Selamat malam putriku yang manis..." ucap ayah sambil mencium kening Nisa.


"Ya, lalu... pasti urusan ayah itu giliran memeluk ibu kan?" tanya Nisa dengan senyum nakal.


"Haha, kau salah! Tapi, idemu bagus juga... Kau lanjut belajar sana!" ucap ayah sambil berjalan keluar.


"Heh! Iya-iya... aku belajar!"


Maaf ayah, di matamu mungkin aku orang yang jujur, tapi selama ini aku terus berbohong padamu...


Nisa kemudian melanjutkan belajarnya, setelah dia selesai belajar tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke kamarnya.


"Nisa, kau belum tidur kan? Ini ibu bawakan susu untukmu!" ucap ibu yang tiba-tiba masuk kamar sambil membawakan segelas susu.


"Ibu? Aku baru saja selesai belajar, sini susunya!" Nisa lalu langsung meminum sampai habis susu yang telah dibawakan oleh ibunya, "Aahhh~ makasih ibu! Ibu hari ini baik sekali, biasanya kan aku harus membuatnya sendiri..." ucap Nisa sambil menyerahkan gelas kosong pada ibunya.

__ADS_1


"Hah.... ayo kemari!" ibu sambil menuntun Nisa untuk duduk di ranjang, "Nak, ibu ingin menanyakan beberapa pertanyaan untukmu, nanti harus jawab jujur ya!" ucap ibu dengan serius.


"Oke, katakan saja..."


"Pertama-tama ibu akan memberikan penjelasan dulu, pernikahan itu bukan hal main-main, kau akan menjadi seorang istri. Tugas istri yaitu selalu mendampingi suami, nggak boleh membangkang, dan kau juga harus melayani suamimu. Tapi jika kau merasa suamimu salah arah, kau juga harus membimbingnya. Intinya tugas seorang istri itu sangat kompleks, jika ingin menikah kau harus siap dengan semua itu. Pertanyaan ibu adalah, apa kau sungguh ingin menikah?" tanya ibu dengan nada khawatir.


"Iya ibu, aku sungguh ingin menikah," ucap Nisa dengan senyum pahit.


"Nak, ibu tahu kalau kau sudah banyak bicara dengan ayah tadi. Ibu menemuimu untuk memastikan keputusanmu, kau bisa mengatakan seluruh isi hatimu pada ibu. Ibu ulangi sekali lagi, apa kau sungguh ingin menikah?"


"Iya..."


"Nisa! Ibu sangat tahu kalau kau terpaksa, sebenarnya apa alasanmu tetap ingin menerima perjodohan ini? Ibu hanya ingin kau bahagia, jika menikah kau pasti akan menderita! Ibu nggak ingin nantinya kau menyalahkan kami karena menyeretmu dalam masalah ini, jadi jawab dengan jujur!" teriak ibu.


"Tenanglah ibu... aku akan memberitahu alasanku yang sebenarnya padamu," Nisa lalu mengambil napas panjang "Hah... Ibu sudah menjelaskan padaku betapa rumitnya tugas seorang istri, tapi aku ini masih gadis yang belum menikah, pernikahanku itu baru besok. Dan yang ibu bicarakan tadi itu adalah spesifikasi seorang istri yang baik, tentu saja itu nggak akan mungkin langsung terjadi padaku. Tapi, setelah menikah aku pasti akan berusaha untuk jadi istri yang baik, itulah pentingnya usaha! Aku yakin kalau aku bisa melewati semua tantangan yang akan datang, jadi ibu percaya saja padaku!" ucap Nisa sambil tersenyum.


"Ibu sangat percaya kalau kau bisa melewati semua itu. Tapi, apa kau akan bahagia...?" ucap ibu sambil menggenggam tangan Nisa dengan erat.


"Soal itu aku nggak tahu... tapi," Nisa lalu menyentuh wajah ibu, "Ibu jangan terlalu pesimis pada kebahagiaanku, nggak ada manusia yang bisa menebak semuanya akan berakhir seperti apa. Jadi ibu tinggal restui saja pernikahanku, doakan semoga aku bahagia... Tuhan pasti akan mengabulkan doa yang tulus dari ibu, apalagi jika itu demi kebahagiaan anaknya..."


"Iya, ibu merestui pernikahanmu!" Ibu lalu tiba-tiba memeluk Nisa, "Sialan! Seharusnya ini nggak terjadi padamu!"


"Emm... yah...."


Wah... Ibu berkata kasar! Hebat...


"Bagaimana dengan Ricky? Apa kau sudah merelakan dia? Kalau kau nggak bisa melupakannya, kau kawin lari saja dengannya! Kalau kau melakukan itu, ibu juga tetap akan merestuimu!" ucap ibu seolah terdengar memaksa.


"A-apa yang...?"


Kenapa tiba-tiba bahas Ricky!? Dia itu cinta pertamaku, tentu saja aku nggak bisa melupakannya! Lalu kenapa ibu menyuruhku kawin lari? Aku nggak habis pikir...


"Nisa, dengarkan ibu! Kalau kau nggak ingin menyesal, kau harus menuruti apa kata hatimu! Jika hatimu hanya untuk Ricky, maka kejarlah dia! Ibu tahu kalau kau belum bisa melupakannya!" ucap ibu dengan penuh keyakinan.


"Cukup ibu!" Nisa lalu melepaskan pelukan ibunya, "Aku akui kalau aku masih mencintai Ricky! Dan hatiku sepenuhnya memang untuk dia! Tapi, cobalah ibu berpikir jernih... pernikahanku ini bukan didasari oleh cinta, tapi perjanjian! Kalaupun setelah menikah aku tetap nggak bisa melupakan Ricky, maka biarkan saja seperti itu! Dan anggap saja pernikahanku ini sebagai kompromi! Dengan begitu aku jadi nggak menderita!" bentak Nisa.


"M-maaf..."


"Hah... Ibu nggak perlu minta maaf, yang salah itu aku, aku yang sudah membentak ibu. Maaf ya?" Nisa tiba-tiba menjadi tenang.


"Iya, gapapa kok. Tapi, hebat juga ya Ricky, dia bisa membuatmu sampai seperti ini. Padahal sebelumnya kau itu hanya memikirkan suamimu yang dua dimensi itu!" ucap ibu seolah mengejek.


"Yah... aku akui kalau aku itu otaku, bahkan sampai sekarang kebiasaanku nggak berubah. Ternyata seperti ini ya cara ibu menghiburku?" ucap Nisa seolah menyindir.


"Haha, tentu saja, ini juga semacam pengalihan. Ibu pergi dulu ya..." ucap ibu sambil beranjak berdiri.


"Tunggu dulu!" Teriak Nisa sambil menahan tangan ibunya, "Bisakah ibu tidur denganku malam ini? Mungkin ini untuk yang terakhir kalinya..." ucap Nisa dengan tampang memelas.


"Oke, ibu temani kau tidur!"


"Makasih ibu!"


Maaf ya ayah, malam ini ayah nggak dapat jatah! Awokwokwokok...


Nisa dan ibunya lalu berbaring di ranjang dan bersiap untuk tidur.


"Ibu, peluk aku!" bujuk Nisa.


"Hah... iya-iya, sini! Kok tiba-tiba manja banget sih?" ibu lalu memeluk Nisa.


"Hehe, bagaimana ya... Dada ibu besar dan lembut sih~"


"Hussh! Dasar bocah nakal! Tapi, lihat saja nanti, kurang dari 24 jam pasti kau sudah nggak perawan lagi~"


"Hiks! Ibu tega sekali bicara seperti itu T_T" keluh Nisa dengan nada menyedihkan.


"Off baperan!"

__ADS_1


__ADS_2