Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Teman atau Musuh?


__ADS_3

Nisa tertegun, dia masih berusaha mencerna kata-kata pria asing yang baru saja mengatakan bahwa Jonathan menghilang. Ekspresinya datar, namun tidak dapat dipungkiri bahwa Nisa juga merasa curiga.


Orang ini mencurigakan, kenapa dari sekian banyaknya orang dia malah mendatangiku dan bertanya soal Jonathan? Aku tidak bisa ambil risiko, aku belum tahu orang ini di pihak siapa. Bisa saja dia musuh Jonathan.


Jonathan hanya mengenalkanku dengan Morris, dia tidak pernah menyebutkan tentang pria ini. Orang ini tidak bisa dianggap enteng, dia tahu namaku dan statusku padahal dia orang asing. Jika aku ingat-ingat, dia juga bukan mitra bisnis Keyran dari luar negeri.


Besar kemungkinannya orang ini cuma mau memanfaatkan aku untuk mencari tahu keberadaan Jonathan. Tapi di sisi lain aku juga khawatir jika Jonathan benar-benar menghilang. Masalah Jenny belum selesai, sekarang ditambah Jonathan.


"Jika boleh tahu, Anda ini siapa nya Jonathan?" tanya Nisa dengan ekspresi datar.


"Oh iya, kita belum berkenalan secara resmi. Perkenalan, nama saya Roberto Harrison. Saya adalah kakak kandung dari almarhum ibunya Jonathan, jadi saya bisa disebut sebagai paman nya Jonathan."


"Paman ya, haha ... sedikit di luar dugaan karena wajah kalian tak terlalu mirip." ucap Nisa dengan senyum canggung.


Nama belakangnya juga sama, jika dilihat dari usia masuk akal jika dia paman nya Jonathan. Tapi dia tadi bilang kalau ibunya Jonathan sudah meninggal. Mungkin saja dia benar keluarganya Jonathan.


"Itu wajar, karena Jonathan keturunan campuran dari Eropa dan Asia. Nona sepertinya masih belum yakin, apakah Nona curiga kepada saya?" tanya Roberto dengan tatapan sinis.


"Tuan Roberto salah paham, saya akui kalau saya memang ragu, karena Jonathan itu sangat tertutup. Dia tidak pernah bercerita tentang keluarganya, saat berbincang dengan saya dia lebih banyak mendengarkan daripada bicara."


"Hah ... Kalau begitu untuk menghilangkan keraguan Nona, silakan lihat ini." Roberto lalu mengeluarkan 2 buah kartu, kartu identitas dan kartu nama. Dia meletakkan kedua kartu itu di atas meja untuk bisa dilihat jelas oleh Nisa.


"Saya warga negara Italia, tempat tinggal saya di daerah Toskana. Saya mempunyai ladang anggur untuk bisnis winery atau kilang anggur saya sendiri. Wine dari Toskana juga terkenal, merk wine saya juga diekspor ke negara ini. Ngomong-ngomong ... bukankah Nona sangat menyukai wine?"


"Iya, dari mana Anda bisa tahu?" tanya Nisa dengan tatapan curiga.


"Dari media massa. Beredar artikel berita tentang pesta-pesta pebisnis kalangan atas. Dan terdapat foto Nona sedang dimarahi oleh suami Nona sendiri saat ketahuan ingin minum wine. Berita soal bulan madu Nona juga diliput."


"O-ohh ... haha, para reporter itu kurang kerjaan." Nisa tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya.


"Mereka begitu juga karena perkerjaan. Kembali ke topik utama. Tadi Nona bilang kalau Jonathan orangnya sangat tertutup, apakah Nona bahkan tidak tahu dia siapa? Identitasnya maksud saya."


"Saya tahu," Nisa langsung menyentuh sisi bawah meja, dia bersiap membalikkan meja jika Roberto tiba-tiba menyerangnya. "Anda ini teman atau musuh?"


Aku harus waspada, orang ini tadi sengaja menabrakku. Dia pasti mengikutiku sejak aku keluar dari kawasan kampus. Dia sudah merencanakannya, bahkan juga sudah mencari tahu tentangku. Bisa saja targetnya adalah aku.


Roberto terdiam dan menatap balik Nisa dengan tatapan yang sama. Lalu tiba-tiba dia tersenyum, "Haha, Nona tidak perlu terlalu waspada. Tujuan saya memang benar ingin mencari keberadaan keponakan tersayang saya Jonathan. Jika Nona masih belum percaya, saya bisa buktikan dengan menceritakan identitas Jonathan yang sebenarnya."


"..." Nisa menarik tangannya kembali, tapi tatapan curiganya masih sama. "Identitas yang sebenarnya? Jonathan seorang mafia itu tidak benar?"


"Itu benar. Hidupnya sejak kecil sulit, oleh sebab itu dia menjadi mafia seperti sekarang. Tapi itu cuma identitasnya di Italia. Apakah Nona belum tahu siapa ayah kandung Jonathan?" tanya Roberto yang kemudian mendapat respons gelengan kepala dari Nisa.


"Ayah kandung Jonathan adalah Arie Cakrakumala."


"Cakrakumala?! Maksudnya keluarga Cakrakumala pemilik perusahaan SR Company Tbk yang bergerak di bidang real estate itu?!" tanya Nisa seakan tidak percaya.


"Benar."


"Tapi, Jonathan tidak pernah muncul di depan publik. Waktu itu ketika saya dan suami saya datang ke kediaman utama keluarga Cakrakumala, Jonathan bahkan tak terlihat di acara pesta hari jadi perusahaan keluarganya sendiri."


"Jonathan mana sudi mendatangi acara itu. Dia memiliki dendam, karena dulu saat dia masih kecil diperlakukan tidak adil. Bahkan pelayan di sana berani menghinanya dengan sebutan anak haram. Adikku, Rafaella juga dihina sebagai pel*cur. Tapi adikku yang malang itu bodoh, sampai akhir dia masih mencintai orang yang bahkan membagi cintanya untuk wanita lain."


"Ternyata ada juga kisah seperti itu, kasihan Jonathan ..." ucap Nisa dengan senyum pahit. "Lalu sekarang Jonathan menjadi mafia Italia, apakah itu karena Anda?"


"Bukan. Itu pilihannya sendiri, dia dewasa lebih cepat. Dia kembali ke negara ini karena telah membuat ayah kandungnya menyesal, bahkan sampai bertekuk lutut untuk meminta maaf. Tapi yaa ... setelah sampai di sini, dia bertemu denganmu. Setelah itu Nona tahu sendiri bagaimana kelanjutan ceritanya. Apakah sekarang Nona masih meragukan saya?"


"Maaf karena sebelumnya meragukan Anda. Tapi ... bagaimana bisa Anda tahu hubungan saya dengan Jonathan? Orang dewasa sepertinya tidak mungkin bercerita tentang hal seperti itu kepada pamannya."

__ADS_1


"Dari Morris, dia mengatakan bahwa Nona adalah wanitanya Jonathan. Maaf jika perkataan saya lancang, saya tahu kalau Nona sudah menikah, bahkan suami Nona bisa dibilang sebanding dengan Jonathan."


"Haha ... saya juga meminta maaf karena sempat mempermainkan perasaan keponakan Tuan Roberto. Lalu tadi Anda bilang Jonathan menghilang, kapan terakhir kali Anda berkontak dengannya?"


"Bulan lalu, tanggal 13."


"Tanggal 13?!" Nisa terkesiap.


"Ada apa Nona? Apakah Nona punya petunjuk?"


"B-bukan, tapi tanggal itu adalah tanggal di mana saya keluar dari rumah sakit. Hari itu saya masih bertemu dengan Jonathan, dia berpamitan dengan saya dan bilang akan kembali ke Italia. Jika diingat-ingat, di hari itu tidak ada berita tentang kecelakaan pesawat, kan?"


"Iya, tidak ada berita kecelakaan pesawat. Bahkan mungkin saja sebenarnya Jonathan sama sekali tidak naik pesawat."


"Lalu bagaimana dengan Morris? Bukankah dia selalu mendampingi Jonathan?"


"Morris baik-baik saja tapi dia juga kehilangan kontak dengannya. Tapi ... saya masih tidak menyangka bahwa ternyata Nona sepenting ini bagi Jonathan. Orang yang mengenal Morris tidak bisa dianggap remeh."


Nisa tertegun, setelah beberapa saat kemudian dia berkata. "Tolong berikan ponsel milik Anda!"


"Untuk apa?" tanya Roberto kebingungan.


"Saya ingin meminta nomor telepon Jonathan, ponsel saya baru, sedangkan ponsel lama yang menyimpan nomor Jonathan sudah rusak."


"Baiklah," Roberto menuruti permintaan Nisa. Sedangkan Nisa yang telah mendapatkan nomor tersebut merasa kaget, namun dia tetap menjaga ekspresinya di depan Roberto.


"Terima kasih Tuan," ucap Nisa sambil menyerahkan kembali ponsel milik Roberto.


Mendadak Roberto menyimpan kembali kartu identitasnya lalu berdiri. "Jika sudah bisa menghubungi Jonathan tolong beritahu saya, untuk kartu nama saya, saya tinggalkan untuk Nona. Saya minta maaf karena cara bertemu kita yang kurang mengenakkan. Terima kasih atas waktu dan kopinya, lain kali saya akan membalasnya dengan sebotol red wine khas Toskana."


"Iya, Tuan Roberto tidak perlu sungkan."


Aku bohong soal ponselku yang rusak, aku hafal betul nomor Jonathan yang dia sendiri berikan kepadaku. Dan nomor itu ternyata berbeda dengan yang diberikan oleh Roberto. Masuk akal jika seseorang punya lebih dari satu nomor.


Mungkin Roberto tidak bisa menghubungi karena nomornya sudah tidak aktif. Aku belum mencoba menghubungi Jonathan dengan nomor yang aku simpan sebelumnya. Masih ada kemungkinan bisa tersambung, tapi setelah kejadian di rumah sakit itu, aku ragu kalau Jonathan masih mau mengangkat telepon dariku.


"Ngomong-ngomong ... waktu Roberto lepas jaket, ototnya kelihatan bagus untuk orang yang seumuran dengannya. Dia pasti rajin olahraga, pasti juga punya kemampuan dalam bela diri."


Eh, bicaraku soal otot seperti orang mesum. Ah lupakan! Jika soal itu tentu saja punya suamiku yang terbaik!


"Keyran! Aku lupa kalau sekarang aku terlambat pulang! Sial, sial, sial, dia pasti akan marah! Aku harus cepat-cepat pulang!"


Nisa lalu menyimpan kartu nama milik Roberto ke dalam tas dan segera membayar tagihan. Namun baru selangkah dari pintu keluar kafe, tiba-tiba Nisa berbalik masuk lagi.


"Ah! Belikan kopi buat Keyran! Agar nanti aku punya alasan pulang terlambat!"


***


Sesampainya Nisa di rumah. Dia perlahan membuka pintu dan melangkah masuk. Suasana rumah terasa sepi, Nisa yang menyadari hal itu langsung bernapas lega.


"Huft ... aku jadi istri pertama yang senang jika suaminya lembur!"


"Ehem!!"


Nisa terkejut dan seketika menengok ke sumber suara. Dia mendekati sebuah sofa bergaya Cabriole yang ada di dekatnya yang berkarakter menampilkan kesan formal dan cantik.


Nisa berjalan ke arah sofa yang berada di ruang tamu itu, setelah mendekat dia melihat suaminya yang sedang duduk dengan ditemani oleh secangkir teh.

__ADS_1


Keyran menatap tajam Nisa, lalu berganti melirik ke arah jam hias besar yang terbuat dari kayu yang berada di sudut ruangan. "Kenapa pulang terlambat?"


"Aku bawakan kopi untukmu, darling!" ucap Nisa sambil menenteng kantong plastik yang berisi kopi tersebut. "Ini kesukaanmu loh, aku jamin rasanya pasti cocok dengan seleramu!"


"Apa membeli segelas kopi selama itu?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.


"Tentu saja lama! Aku juga beli untuk kuminum sendiri. Aku tahu dari temanku kalau kafe itu belakangan ini sedang viral karena kafe itu bagus. Aku ke sana dan ternyata memang bagus, dekorasi dan layanannya juga bagus, bahkan kecepatan Wi-Fi juga bagus. Aku terlalu nyaman di sana sampai lupa waktu. Lain kali kita berdua ke sana, ya?"


"Jadi begitu ... Baiklah, kali ini aku maklumi. Lain kali kalau pulang terlambat kabari aku dulu!"


"Iya darling!" jawab Nisa dengan senyuman.


Astaga, kali ini kebohonganku malah berujung promosi kafe.


Nisa lalu meletakkan kopi tersebut di atas meja yang berada di depan Keyran. "Ini untukmu, sekarang aku mau ke kamar dulu!"


Nisa yang kini telah lolos akhirnya ke kamar, setelah menaruh tas dan sepatunya, dia langsung berbaring di ranjang. Sejenak dia memejamkan matanya, kemudian menatap langit-langit bercat putih yang dipadukan dengan warna biru. Pikirannya mendadak kembali dipenuhi oleh Jonathan.


Jika yang dikatakan Roberto benar, artinya sudah sebulan lebih Jonathan menghilang. Meskipun dia itu mafia dengan kemampuan bertahan hidup yang luar biasa, tapi jika hilang kabar sampai sebulan juga bahaya. Bahkan Morris saja yang merupakan orang paling dipercayai juga tidak tahu.


"Sedang apa?" tanya Keyran yang tiba-tiba muncul dan mendekatkan wajahnya pada Nisa.


"Hiyyy!" Nisa langsung bangkit. "Kau muncul seperti hantu!"


"Memangnya kau melamun tentang apa? Awas saja jika soal pria lain!"


"Bukan! Kenapa kau di sini? Kopi yang aku belikan dengan sepenuh hati tidak kau minum?"


"Kopinya sudah dingin. Jadi aku minta Bibi Rinn untuk sekalian membuatnya jadi es kopi. Nah, ayo sekarang kita mandi!"


"Mandi? Kau belum mandi?"


"Kau pikir aku belum mandi gara-gara siapa? Jika kau belum pulang juga aku harus mencarimu dan berkeringat lagi!"


"Haha ... duluan saja, aku masih mau tiduran sebentar." Nisa langsung kembali berbaring.


Menyadari hal itu Keyran berdecih kesal lalu masuk ke kamar mandi sendirian. Tak lama setelah Keyran masuk, tiba-tiba Nisa bangkit dan mengeluarkan ponselnya.


"Ayo manfaatkan kesempatan ini untuk telepon Jonathan," gumamnya.


Nisa memberanikan diri untuk menelepon Jonathan. Nomor yang dia hubungi bukanlah nomor yang diberikan oleh Roberto. Saat ada tulisan "berdering" Nisa semakin gugup. Tak lama kemudian panggilan telepon tersebut diangkat dan tersambung.


"H-halo ... Joe, kau di sana??" ucap Nisa dengan suara pelan.


"Ya ..." jawab Jonathan dengan suara yang terdengar serak.


"Aku ingin bilang kalau ..."


"Aahh~ Aahhh~ More ... Ehnn~ Come on ... Ahhh!!"


"Hah?!" Nisa ternganga karena terkejut mendengar suara kenikmatan wanita yang membara.




__ADS_1


Jangan lupa beri like😉


__ADS_2