
Nisa masih tersenyum lebar namun Keyran justru ternganga seakan belum mampu mencerna keadaan. Nisa pun melambai-lambaikan tangannya.
"Darling! Jangan melamun!"
Tiba-tiba saja Keyran menahan tangan Nisa lalu menariknya, dia memeluk erat Nisa dan kemudian kembali menciumnya dengan paksa. Nisa yang kaget akhirnya meronta dan mengakhiri ciuman itu.
"Humph! Mau membalas, ya?" tanya Nisa sambil mencubit sebelah pipi Keyran.
"Tidak, aku cuma tidak tahan karena surprise kiss darimu kurang lama. Dan sebaiknya berhenti mencubitku, mencubit suami itu termasuk KDRT loh."
"Pret!" Nisa malah mencubit kedua pipi Keyran. "Surprise kiss itu memang sebentar, kalau lama namanya ciuman bernafsu. Toh mencubitmu itu bukan KDRT, memangnya pernah ada kasus istri yang dipenjara karena mencubit pipi suaminya sendiri?"
"Kau yang akan jadi orang pertama, dan aku ..."
KRUYUKK ...
Keyran tersipu karena perutnya berbunyi, dan di sisi lain Nisa malah tersenyum. Nisa berhenti mencubit pipi Keyran lalu kedua tangannya malah berganti mengelus perut Keyran.
"Hehe ... orang kaya juga bisa kelaparan ya ternyata~ Tapi awas saja kalau sampai kebanyakan makan! Jika perutmu jadi buncit maka aku akan cari suami lagi, aku tidak suka jika suamiku perutnya buncit mirip koruptor. Apalagi yang kepalanya botak terus berkumis tebal, hiyy ... itu mirip dosenku yang killer. Untuk seterusnya kau akan tampan seperti ini, kan?"
"Apa yang kau bicarakan? Perutku cuma berbunyi tapi pikiranmu ke mana-mana. Sekarang aku kelaparan karena kemarin aku memikirkanmu sampai lupa makan. Harusnya kau simpati, bukannya malah seperti ini."
Keyran berekspresi kesal lalu memalingkan wajahnya dari Nisa. Tapi Nisa dengan kedua tangannya bersikeras untuk menghadapkan wajah Keyran ke arahnya, bahkan Nisa juga memasang tampang bersalah.
"Maaf ... jangan ngambek begitu, wajahmu bisa keriput, nanti ganteng nya hilang loh. Kalau begitu ... aku akan memasak untukmu. Kau ingin makan apa?"
"Terserah."
"Terserah itu apa?"
"Ya terserah."
"Darling, mau makan apa? Yang pedas? Manis? Asam? Atau yang juice?"
"Pokoknya terserah."
"..."
Sabar ... ingat kalau dia seorang suami, jadi jangan memukulnya.
Nisa merubah ekspresinya dan kembali tersenyum dengan terpaksa. "Haha ... oke, karena sekarang suamiku tersayang sedang kelaparan, jadi aku harus memasak secepatnya. Dan untuk membuatmu tidak bosan menunggu, kau baca saja koran lalu aku buatkan teh untukmu, oke?"
"Terserah."
"..."
Nisa kehabisan kata-kata, mulutnya tertutup rapat meskipun sebenarnya dia ingin berteriak menyebut nama-nama hewan. Dan pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke dapur sesegera mungkin.
Sedangkan Keyran, dia masih berekspresi datar. Namun dia malah tersenyum puas sambil menyilangkan kedua tangannya ketika Nisa sudah pergi dari kamar.
Hahaha, menyenangkan juga. Semenjak tadi malam dia selalu bersikap manis, semoga saja untuk seterusnya akan seperti ini. Ternyata seperti ini ya rasanya dicintai.
"Hmm ... tali sepatu lepas, akan kuingat itu." Keyran menyentuh bibirnya sendiri, wajahnya ikut memerah membayangkan saat Nisa menciumnya tadi.
Padahal ini bukan pertama kalinya, tapi aku sangat menyukainya! Jadi ini alasannya dia menanyakan tinggi badanku. Astaga, andai saja aku lebih awal bertemu dengannya, pasti hidupku akan bahagia sejak lama.
"Ah sudahlah, sebaiknya aku cepat turun."
Keyran memutuskan untuk segera turun dan menuju ke ruang makan. Di atas meja sudah disiapkan secangkir teh hangat dan koran yang masih terlipat. Lagi-lagi Keyran tersenyum, dia senang bisa mempermainkan Nisa. Dia duduk dengan santainya kemudian menyeruput sedikit teh itu, tapi setelahnya dia memasang senyum licik.
"Hmm ... manis, kupikir dia akan menggunakan garam untuk balas dendam. Sepertinya kesabarannya masih banyak, hehe ... nanti biar aku uji sampai mana batasnya~"
Keyran mulai membaca koran, dia menikmati saat-saat ini karena momen seperti inilah yang sudah lama hilang darinya, tanpa beban, tanpa frustrasi ataupun cemas.
Tak lama kemudian dia mendengar suara orang sedang asyik bicara dan tertawa yang berasal dari dapur, dia paham betul kalau suara itu adalah suaranya Nisa dan Bibi Rinn. Awalnya Keyran tidak tertarik, namun suara tawa Nisa semakin keras, ditambah dia mencium aroma wangi bumbu yang sedap. Dia penasaran makanan apa yang sedang dimasak Nisa. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke dapur.
Sesampainya di dapur, dia mendadak berhenti tepat di luar pintu, dia ingin Nisa ataupun Bibi Rinn tidak menyadari kehadirannya. Dia penasaran dengan obrolan macam apa di antara kedua wanita itu.
"Syukurlah Nyonya kembali, jika Nyonya tak kunjung kembali rasanya saya sangat ingin melompat ke sumur." Bibi Rinn terkekeh sambil terus mengaduk adonan kue.
"Hahaha, memangnya bibi se-stress apa waktu aku tidak ada?" tanya Nisa yang sambil menumis bumbu.
"Sangat stress, setiap hari saya melihat uang ratusan juta hancur berkeping-keping. Entah apa yang dipikirkan Tuan, dia menghancurkan hiasan rumah dan guci-guci antik, bahkan setelah menghancurkannya dia malah membeli lagi untuk dihancurkan lagi. Haiss, benar-benar ..."
"Saya mau menasihati juga agak ragu akan didengar atau tidak, toh saya juga sadar status saya. Tapi bagi saya, Tuan yang saat itu terkesan seperti orang lain. Bahkan setiap kali bel pintu berbunyi, Tuan selalu bergegas membukanya sendiri karena mengira bahwa itu adalah Nyonya. Tapi ada satu kejadian lucu karena terburu-buru, pernah satu kali Tuan memeluk kurir pengantar paket. Dan begitu sadar kalau kurir itu bukan Nyonya, Tuan langsung mendorongnya hingga terjatuh. Haha, kalau dipikir-pikir kasihan dua-duanya ..."
"Hahaha, ya ampun ... Semoga dia tidak kapok atau trauma jadi kurir. Tapi ... sekarang aku ada di sini, jadi Keyran tidak akan salah peluk orang lagi."
"Ehem! Ya, aku tidak akan salah peluk orang lagi, aku hanya akan memelukmu seperti ini!" ucap Keyran yang tiba-tiba memeluk Nisa dari belakang, ekspresinya tampak kesal.
"A-apa sih?" Nisa tersipu dan menghindari pandangan dari Bibi Rinn.
"Untung saja aku ke sini, jadi aku bisa memergokimu bergosip tentangku." Keyran lalu mengalihkan pandangannya pada Bibi Rinn. "Kenapa bibi mesti cerita yang memalukan? Kan bisa cerita yang lain!"
"Haha, karena saya merasa hal lucu tidak boleh disimpan sendiri. Lagi pula ... saya senang Tuan bisa kembali ceria seperti ini, kalau saya boleh tahu ... cara apa yang Tuan pakai agar Nyonya kembali?"
"Macam-macam cara sudah kupakai, tapi yang berhasil malah saat aku menyerah. Istriku ini memang bandel, istilahnya ngeselin tapi ngangenin."
"Terserah mau menyebutku apa. Tapi aku akui, saat itu aku pergi karena kebodohanku, untungnya ada seseorang yang begitu baik telah menyadarkanku kalau yang aku lakukan salah dan sia-sia. Aku bodoh karena meninggalkan suami sebaik ini, dan lebih bodoh lagi karena selama ini aku terus berusaha kabur darinya. Aku telah menyusahkan banyak orang, termasuk bibi ... Jadi aku ingin meminta maaf, bibi memaafkan aku, kan?"
"Nyonya jangan terlalu sungkan. Seperti itu memang wajar kok, setiap orang pasti perlu waktu istirahat untuk memahami perasaannya sendiri. Dan yaa ... sesekali sebagai orang yang lebih tua saya sarankan, tahun pertama di awal pernikahan memang banyak cobaan yang terjadi, tapi asalkan saling terbuka dan percaya, saling setia dan pengertian, pasti semuanya bisa dilalui. Jadi, Tuan dan Nyonya ... tolong pertahankan hubungan kalian. Biarpun di rumah ini saya sebagai pelayan, tapi saya juga menantikan kehadiran momongan kalian. Manfaatkan usia kalian selagi masih muda."
"Bibi ..." ucap Nisa dengan tatapan berbinar.
"Nah, bahkan Bibi Rinn juga mendoakan hubungan kita. Tinggal kau seorang saja yang masih keras kepala."
"Aku? Memangnya aku keras kepala soal apa?"
"Soal anak, kau selalu ingin punya anak setelah wisuda. Tapi selama ini kau sering membolos, jarang belajar, tugas tidak mengerjakan, kalau seperti ini terus kau akan menjadi mahasiswa abadi. Jadi aku sarankan kau ajukan cuti kuliah saja, kita manfaatkan waktu itu untuk membuat anak."
"Hhh ... memangnya siapa nanti yang akan mengurusnya setelah aku melahirkan? Pokoknya aku tidak setuju jika pakai jasa babysitter, babysitter sekarang itu menyeramkan, banyak yang kena kasus penganiayaan. Memangnya kau mau anakmu sampai dianiaya saat kau dan aku tidak ada?"
"Itu mustahil, mana ada babysitter yang berani menganiaya jika aku adalah ayahnya. Toh di sini juga ada Bibi Rinn, dia sudah berpengalaman dan pekerjaannya selalu memuaskan."
__ADS_1
"Pokoknya aku menolak! Aku mau lulus tahun ini juga! Jangan harap kalau aku mengajukan cuti kuliah! Aku kan sudah janji, setelah lulus aku pasti akan memberikan anak untukmu. Dan kau tenang saja, jika sebelum lulus aku sudah hamil, aku juga tidak akan menggugurkannya. Serahkan semuanya pada takdir, jadi cukup berdebat tentang ini!"
"Baik, aku terima tantanganmu. Lihat saja nanti, aku punya trik agar kau cepat hamil. Aku akan memakai teknik khusus setiap kali kita berhubungan! Dan aku jamin kau tetap akan mendapat kepuasan~" Keyran lalu meniup telinga Nisa.
"Hei, kau sedang apa?! Bibi Rinn di sini, dia melihat dan mendengar semuanya! Pasti urat malumu sudah putus!" Nisa panik dan wajahnya memerah ketika menyadari Bibi Rinn yang terus tersenyum kepadanya.
"Tenang saja, dia tidak melihat ataupun mendengar apa pun." ucap Keyran sambil berkedip kepada Bibi Rinn.
"Iya, mendadak saya buta dan tuli." Bibi Rinn masih tersenyum.
"Kenapa bibi sebegitu relanya membela orang ini?! Sebenarnya dia membayar berapa sih?"
"Sangat banyak, sampai dikenakan tarif PPh yang tinggi."
"Wow ... suamiku taat pajak ternyata."
"Tentu saja taat, aku ini warga negara yang baik. Bisa dibilang mustahil bagiku jadi seorang koruptor, jadi perutku tidak akan buncit seperti yang kau katakan!"
"Hahah ..."
Masih tersinggung ternyata, tapi tadi kan aku refleks mengatakannya. Sekarang aku harus apa? Menghibur dan bilang kalau perutnya bagus? Bagaikan roti sobek tanpa selai? Aahhh itu bodoh, nanti dia tambah marah.
"Nisa, kau ini masak apa? Kenapa menumis nasi? Mau buat nasi tumis?"
"Bukan nasi tumis, darling! Tapi nasi goreng, namanya nasi goreng terserah!"
"Ohh ... nasi goreng tapi buatnya ditumis? Nasi goreng tapi buatnya tidak pakai minyak malah dicampur kecap?"
"Ya terserah, ini namanya memang nasi goreng. Aku sengaja pakai butter, bukan pakai minyak. Memangnya kau berharap aku masak apa?!"
"Omelet."
"Ya terus kenapa tadi bilangnya terserahhh?!"
"Kupikir karena sudah terbiasa kau akan paham, tapi ... memang terserah kok, semua yang kau masak asalkan itu enak maka tetap akan aku makan. Biarpun itu nasi tumis."
"Ya .. ya, asal kau tahu saja, di dunia ini bukan cuma ada nasi goreng ataupun tumis, masih ada nasi kuning, nasi uduk, nasi padang, bahkan nasi kucing pun ada."
"Nasi kucing? Makanan kucing juga dimakan manusia?"
"Aku malas menjelaskan, kau tanya saja pada anak kost!"
Ya Tuhan ... memang rumit punya suami yang susah diajak merakyat, ini saja baru nasi goreng, mi instan dianggap sampah, nasi kucing dikira untuk kucing. Tapi aku punya makanan pamungkas, besok akan aku kenalkan yang namanya seblak, kau pasti akan ketagihan.
"Nisa, masih lama ya?"
"Sebenarnya sudah matang, tapi kau terus memelukku. Bagaimana bisa aku menyajikan nasi goreng ini?! Cepat lepaskan aku dan ambil piring sana!"
"Mana aku tahu, kau juga tidak mematikan kompor. Bilang saja kalau masih ingin dipeluk~"
"Yamori!!!"
"I-iya, aku ambil piring." Keyran langsung melepas pelukannya.
Wah ... ternyata ini batasnya, kata yamori hanya keluar saat dia benar-benar kesal. Tapi tunggu saja nanti, setelah suasana hatimu cukup baik akan kubuat kesal lagi. Hahaha, menyenangkan sekali jadi suami yang usil.
"Kau benar-benar tidak sarapan karena ingin diet?"
"Sarapan kok, cuma nanti." jawab Nisa yang pandangan tak lepas dari koran.
"Oh, mau aku suapi? Kita makan bersama nasi tum ... goreng buatanmu!"
"Aku tidak makan itu!"
"Ini buatanmu tapi kau tidak sudi memakannya. Memangnya kau mau makan apa?"
"Aku bilang nanti, Bibi Rinn sedang membuat madeleine untukku. Aku ini sedang diet, jadi aku harus mengurangi nasi."
"Ya sudah, aku makan sendiri saja."
Cih, dasar perempuan. Padahal kalau aku perhatikan tubuhnya tidak banyak berubah, malahan aku suka karena ada beberapa bagian yang jadi lebih empuk dan enak diraba.
Keyran mulai menyantap nasi goreng itu, bahkan dia memuji Nisa ketika dia baru makan sesuap. Namun pujian darinya diabaikan oleh Nisa yang terus fokus pada koran. Keyran mulai kesal karena Nisa terus mengabaikannya, dan ketika nasi goreng itu habis dia membanting sendok makan dengan keras.
PRAAK!
Nisa melirik sekilas, lalu dengan nada dingin dia berkata, " Oh, sudah habis. Kalau mau tambah silakan ambil sendiri."
"Hng! Kau ini kenapa mengabaikan aku? Padahal aku makan di depanmu dan ingin mengobrol lebih banyak denganmu, tapi kau malah tidak menggubrisku."
"Saat makan dilarang banyak bicara, dan aku mengabaikanmu karena aku sibuk."
"Sibuk apanya? Dari tadi kau cuma mengerjakan TTS."
"Haiss ... apa kau lupa dengan ucapanmu semalam? Semalam kau bilang kalau ingin lebih mengenalku dibanding siapa pun, dan sekarang aku sedang menunjukkan apa saja kegiatanku saat weekend. Dan setiap kali saat aku *** ... maksudku libur kuliah, aku selalu mengerjakan TTS di koran yang sudah kau baca."
"Apa gunanya mengerjakan TTS? Lagi pula hadiahnya tidak seberapa, memangnya kau tertarik dengan hadiah murahan seperti itu?"
"Tidak juga sih, jika aku menginginkan apa pun kan tinggal minta dibelikan olehmu. Aku melakukannya karena ini menyenangkan sekaligus mengasah otak. Ngomong-ngomong ... sekarang cuma kurang satu loh, kau mau membantuku menjawabnya?"
"Oke, apa petunjuknya?"
"Sesuatu yang jika memilikinya bisa membuat orang tersebut bahagia, berlaku bagi semua orang. 5 huruf mendatar dengan huruf tengah N. Hayo apa? Jika jawabanmu sama dengan jawaban yang aku pikirkan, maka kita benar-benar jodoh!"
"Maksudmu jika jawaban kita berbeda maka kita tidak berjodoh dan harus cerai, begitu?"
"Bukan begitu! Mana ada alasan perceraian karena jawaban TTS berbeda? Memangnya kau tidak malu bilang begitu di depan hakim?!"
"Ohh ... yang tadi itu mudah, pasti jawabannya adalah ... CINTA! Jawabanmu sama, kan?"
"Salah, jawabannya adalah ... MONEY!"
"Apa?! Aku saja yang banyak uang tapi saat kau tidak ada jadi frustrasi, pasti jawabanmu yang salah!"
__ADS_1
"Memangnya kau lupa karena uanglah aku bisa menikah denganmu?"
"..."
"Haha, toh kata kuncinya berlaku bagi semua orang. Asal kau tahu ya, di dunia ini ada beberapa orang yang lebih mementingkan uang ketimbang cinta. Misalnya biksu yang memutus hal duniawi, tapi dia tetap akan senang jika ada yang menyumbang banyak uang untuk memperbaiki kuil atau semacamnya. Dan untuk sebagian orang ... ada juga yang istilahnya matre. Tapi aku berbeda, meskipun aku termasuk orang yang suka uang, tapi aku realistis, bukan matre. Lagi pula menikah itu bukan cuma soal cinta, memangnya kau akan kenyang jika cuma makan cinta? Nyatanya tidak, kan? Jadi jawaban yang tepat adalah MONEY!"
"Oh, begitu."
Padahal hanya TTS, tapi penjelasannya sangat panjang.
"Nah, TTS sudah selesai!" Nisa tersenyum puas karena telah menyelesaikan TTS tersebut, ketika dia menutup koran itu mendadak dia termenung saat melihat berita yang tertulis di halaman paling belakang. Dan setelahnya dia membaca berita itu dengan saksama.
I-ini ... festival lampion! Diselenggarakan malam ini juga, lokasinya di Wonder Lake! Keindahan cahaya lampion yang terbang di langit, harapan saat akan menghanyutkan lampion di danau, disinari cahaya bulan purnama ... aahh ya ampun, sangat romantis, pokoknya harus ajak Keyran! Lebih bagus lagi kalau dia juga menciumku, hehe ...
"Nisa, kau masih sehat, kan? Kenapa senyum-senyum sendiri?"
"Tentu saja aku sehat!" Seketika Nisa merubah ekspresinya menjadi memelas. "Key ... kau akan menuruti permintaanku, kan?"
"Ehmm ... y-ya, tentu."
Kenapa aku punya firasat buruk?
"Bagus! Permintaanku adalah ... temani aku ke acara festival lampion!"
"Ughh ..." sejenak Keyran terdiam, namun setelahnya dia berekspresi aneh sampai dahinya pun berkerut. "Maaf, aku tidak bisa."
"Kenapa? Waktu itu saat acara bazar juga menolak, apa kau akan menolakku lagi dengan alasan pekerjaan? Apa tidak bisa sekali saja temani aku?"
"..."
Aku ragu, apa nanti benar-benar tidak terjadi apa-apa? Tapi di satu sisi ... ini demi Nisa, dan aku sangat enggan jika dia mengajak orang lain.
"Key ... mau ya? Please ..."
"Apa tidak bisa kau tetap di rumah saja? Lagi pula itu acara tidak penting."
"Huh, ya memang bagimu tidak penting, permintaanku juga tidak penting. Padahal aku sangat bosan dan baru keluar dari rumah sakit, tapi kau menyuruhku tetap di rumah. Memangnya di rumah siapa yang akan menghiburku? Kau jadi badut juga mustahil, tapi kau melarangku mencari hiburan di luar sana. Ya sudah, biarkan aku kebosanan seumur hidup saja!"
"Hah ... baiklah, akan aku usahakan."
"Yey! Terima kasih darling!" Nisa tersenyum semringah dan saking semangatnya dia sampai berkali-kali mencium pipi Keyran. Bahkan setelahnya dia tersandung dan nyaris jatuh saat ingin membawa piring kotor bekas nasi goreng ke dapur.
"Asik, festival lampion! Niat pushrank ditunda dulu ah, mending buat lampion!"
"Eh?! Nyonya mau buat lampion?" tanya Bibi Rinn yang jalan berpapasan sambil membawa madeleine yang baru keluar dari oven.
"Iya, Keyran bilang masih diusahakan, jadi kemungkinan besar datang agak terlambat. Dan mungkin saja ketika sampai malah kehabisan lampion, jadi untuk antisipasi mending buat sendiri. Dan bibi nanti tolong carikan lilin, ya?"
"Tapi ..." sejenak Bibi Rinn terdiam dan melirik Keyran. "Baik, nanti saya carikan."
***
Malam harinya. Nisa yang sudah selesai berdandan masih menunggu kedatangan Valen, dia menghubungi Valen untuk datang secepatnya yang nantinya akan diminta untuk mengantarnya.
Lampion yang telah dia buat juga telah disiapkan, namun ada satu kejanggalan, sedari sore dia tidak melihat Keyran.
"Humph! Di mana suamiku yang mesum itu? Sejak sore dia terkesan seperti menghindariku. Padahal ini terhitung kencan pertamaku dengannya! Tapi sekarang dia malah sembunyi!"
Nisa terus berputar-putar di ruang tengah, dan tak lama kemudian datanglah Valen. Valen langsung menghampiri Nisa tapi ekspresinya terlihat sangat gelisah.
"Nyonya, Tuan tidak apa-apa kan? Dia tidak melukai Anda, kan?"
"Apa maksudmu? Sekarang ini dia sedang bermain petak umpet denganku. Ayo, bantu aku mencarinya!" Nisa langsung bergegas berjalan ke ruangan lainnya.
"Tapi ... tunggu!" Valen hanya bisa pasrah dan mengikuti Nisa dari belakang.
Nisa mengecek seluruh ruangan satu per satu, sementara Valen justru terus menasihati Nisa agar segera berhenti, tapi Nisa sama sekali tidak menggubrisnya. Nisa tetap bersikeras untuk mencari Keyran yang bersembunyi darinya, bahkan dia juga berteriak dengan kerasnya.
"Darling! Yuhuu ..."
"Key! Suamiku sayang, kau di mana?"
"Aku capek, jadi keluarlah!"
"Ehmm ... Nyonya, sebaiknya hentikan saja ..." ucap Valen dengan nada khawatir.
"Diam kau! Pokoknya malam ini kencanku tidak boleh gagal!"
"T-tapi Nyonya ..."
"Ck, Keyran si mesum kau dimana hah?!"
"Sialan, kau keluarlah!!"
"Bangs*t! Berhentilah main petak umpet, dasar MKKB!" (Masa Kecil Kurang Bahagia)
"..."
Nyonya sungguh kehilangan kesabaran, tapi MKKB itu apa?
"Awas kau! Kau pasti di ruangan terakhir!"
Nisa berlari secepat mungkin menuju ke ruangan yang berada paling ujung, yang sebelumnya belum pernah dia masuki. Namun sesaat sebelum membuka pintu, tiba-tiba tangannya ditahan oleh Valen.
"Nyonya, tolong berhenti! Tuan memang berada di dalam, tapi sebaiknya Anda jangan masuk atau kemungkinan besar Tuan akan menyakiti Anda."
Nisa menepis tangan Valen, "Mengapa dia akan menyakitiku?"
"Emm ... karena dia benci festival lampion."
"Bicara yang benar! Sebenarnya ada apa?"
"..."
__ADS_1
"Valen! Cepat katakan!"
"S-sebenarnya ini berkaitan dengan meninggalnya ibunya Tuan."