
"Cuma roti?" tanya Noan seakan tidak percaya.
"Ya, tapi ... bukan sembarang roti." jawab Nisa sambil tersenyum kecil.
"Roti macam apa yang kau inginkan?"
"Emm ... roti yang dijual di kedai dekat perempatan alun-alun. Aku juga mau minumannya sekalian."
"Dasar tidak tahu diri! Kenapa permintaanmu banyak sekali?!" bentak Noan.
"Ya memang, cewek cantik itu memang banyak maunya. Makanya pacaran, biar paham soal cewek! Tapi ... aku tebak kalaupun kau pacaran, pasti ujung-ujungnya cewekmu juga jelek~"
"Kau minta dihajar?!" teriak Noan sambil melotot.
"Cukup! Noan, turuti saja apa yang dia minta. Lagi pula malam ini adalah malam terakhirnya."
"Baik bos ..." Noan beranjak dari kursi, tapi masih melototi Nisa sambil memberi isyarat yang terlihat seperti ingin memotong leher. "Awas saja nanti!"
"Oh iya, aku lupa memberitahumu! Untuk roti terserah, tapi minumannya harus yang spesial. Aku mau frappuccino cinta yang resepnya, 8 sendok makan susu full cream cair, 5 sendok teh ekstrak vanila, 12 stroberi segar, dan 16 blueberries segar. Tolong ya~" pinta Nisa dengan senyuman.
"Kau bilang apa?" tanya Noan dengan wajah bingung.
"Aku ulangi lagi. Frappuccino cinta, 8 sendok makan susu full cream cair, 5 sendok teh ekstrak vanila, 12 stroberi segar, dan 16 blueberries segar. Kalau kesulitan menghafal maka suruh anak buahmu saja!"
"Frappuccino cinta?"
"Iya! Makanya aku bilang kalau itu minuman spesial, tapi tenang saja, harganya murah kok."
"Kemari kau!" Noan melambai ke salah satu anak buahnya untuk mendekat ke arahnya. "Kau saja yang beli!"
"Baik bos, itu mudah, hanya tinggal memesan sembarang roti dan frappuccino cinta."
"Eitss ... mana bisa begitu?! Aku beritahu ya, frappuccino cinta adalah minuman yang dibuat berdasarkan resep request dari pembeli. Jadi semua kata-kataku tadi harus disampaikan ke penjualnya. Apa kau mengerti? Kalau mengerti maka ulangi!"
"Emm ... 8 sendok makan susu full cream cair, 5 sendok teh ekstrak vanila, 12 stroberi segar, dan 16 raspberry segar." ucapnya sambil garuk-garuk kepala.
"Blueberries bodoh! Bukan raspberry!" bentak Nisa.
"Oke ... aku segera kembali."
Orang yang diperintahkan itu lalu bergegas pergi. Di sisi lain Noan duduk kembali dan dia menatap Nisa dengan tatapan bingung. "Kau ini terlalu rempong untuk orang yang akan mati."
"Tentu saja, itu minuman kesukaanku." ucap Nisa sambil tersenyum.
Hehehe, berjalan sesuai keinginanku. Menurut jam, harusnya sekarang Dika masih buka. Dia akan langsung mengerti setelah mendengar pesanan minuman itu.
15 menit telah berlalu. Selama itu juga para anak buahnya Noan terus memperhatikan tali yang mengikat Nisa. Dan Noan juga terus mengawasi Nisa dengan tatapannya yang sinis. Sedangkan Nisa, dia terlihat tenang dan tidak bicara sepatah kata pun. Dan selama itu juga panggilan video dengan ketua Humble Dog masih tersambung.
57, 58, 59, 60, pas 15 menit! Harusnya Dika sudah menerima pesanku, sekarang saatnya ke langkah berikutnya.
"Hoamm ..." Nisa menguap, matanya berkedip beberapa kali, dia bersikap seakan-akan mengantuk. "Hei, aku butuh hiburan. Apa ada yang bisa menghiburku?"
"Kami ini geng mafia, bukan badut sirkus! Di sini tidak ada hiburan untukmu!" bentak Noan.
"Kalau begitu ... bisakah perlihatkan ponselku? Ponselku sudah kalian rampas kan?"
"Jika kau ingin menelepon seseorang untuk minta tolong, atau ingin bicara dengan suamimu untuk terakhir kalinya, maka akan kutolak!"
"Bukan begitu, aku mau buka yutup buat nonton film. Aku ini kan mau mati, jadi aku ingin nonton serial drama Ikatan Batin untuk terakhir kali. Aku ingin nonton Mas El sama Mbak Andini untuk terakhir kali. Cuma itu kok."
"Nonton film?"
"Iya, aku belum nonton yang episode waktu Mbak Andini hamil. Katanya sih Mas El merayakannya dengan memberi gaji 10 kali lipat untuk pembantunya. Nah, izinkan aku menonton ya? Toh aku punya kuota internet yang banyak, kalau kau mau tethering hotspot juga boleh, kau itu kan miskin. Emm ... kata sandi hotspot-ku ... I LOVE YOU 3000, pakai kapital semua."
"Cih, baiklah! Dasar aneh!"
Sialan, yang aku culik ini jelas-jelas bocah kelainan.
Noan mengambil ponselnya Nisa yang telah dia rampas. Dia menuruti instruksi dari Nisa untuk menonton serial drama Ikatan Batin. Dia lalu menyuruh salah satu anak buahnya untuk memegangi ponsel itu tepat di depannya Nisa.
"Hehe ... terima kasih banyak uncle Noan ..." ucap Nisa dengan senyuman.
Hahaha, bagus! Asalkan aku online, maka Ivan bisa dengan mudah melacak dimana lokasiku berada. Sekarang hanya tinggal menunggu tanda keberhasilan. Tapi jika tanpa tanda pun, aku masih bisa bebas. Tanda itu hanya taruhan, jika ada maka sangat untung, jika tidak maka aku tidak rugi apa pun.
15 menit berikutnya telah berlalu. Orang yang diperintahkan untuk membeli roti dan minuman sudah kembali. Noan kembali menyuruh salah satu anak buahnya untuk menyuapi Nisa makan. Bahkan selama makan, Nisa masih bisa dengan santainya menonton film.
Buzz buzz ...
Buzz buzz ...
Namun di tengah-tengah itu, tiba-tiba saja ponselnya Nisa berdering. Ada panggilan telepon yang masuk. Menyadari hal itu, Noan langsung memeriksa siapa yang menelepon Nisa.
"Yamori? Siapa yamori?!"
__ADS_1
"Yamori itu artinya sayang~ jadi dia adalah suamiku."
Sempurna! Benar-benar ada tanda! Tujuanku akan segera tercapai.
"Suamimu?! Kalau begitu tolak!" teriak Noan. Dia langsung menolak panggilan telepon itu. Tapi Keyran bersikeras menelepon berkali-kali, dan saat itu juga kesabaran Noan mulai habis hingga akhirnya dia menonaktifkan ponselnya Nisa.
...Pada saat yang sama, 50 meter dari pabrik terbengkalai...
...••••••...
Sekitar 50 meter dari pabrik terbengkalai tempat Nisa disekap ada sebuah mobil Van berwarna hitam. Di dalam mobil itu ada 2 orang, dan orang itu tidak lain adalah Dika dan Ivan.
Ivan cukup sibuk dalam mengerjakan bagiannya, pandangan matanya tak luput dari layar komputer yang sedang dia gunakan. Sedangkan Dika, sedari tadi dia menggerutu sendiri.
"Hei streamer loli, apa masih lama?" ucap Dika dengan suara pelan tapi nadanya menggertak.
"Sabar dong, tunggu sebentar lagi. Dasar rentenir!" Ivan tiba-tiba menarik tangannya dari keyboard komputer lalu menyandarkan badannya. "Semua beres, tinggal tunggu pahlawan datang."
"Masa sih?" tanya Dika seakan tidak percaya.
"Iya, lihat tuh!" Ivan lalu menunjuk ke layar komputer. "Semuanya aman, dari sini kita bisa lihat semuanya. Drone yang aku persiapkan menunjukkan kalau situasi di sekitar sini aman."
"Cih, aku sudah nggak sabar pengen hajar semua orang itu. Tapi sampai sekarang pahlawan masih belum datang, aku juga sangat ingin menghajarnya!"
"Yaahh ... ini kan perintahnya bos, jadi harus tunggu dia yang datang. Lagi pula ... aku juga meretas ponselnya, sekarang dia berada 26 kilometer jauhnya dari sini. Beberapa menit lagi pasti sampai. Jadi nyantai dulu deh ..."
"Ck, kenapa sih bos gaya-gayaan pengen suaminya jadi pahlawan? Padahal kalau dia mau, sekarang juga dia bisa bebas."
"Sabar dong, lakukan sesuai perintah. Bos dalam bertindak selalu punya tujuan. Toh menurutku ... bos itu punya banyak nyawa. Tapi tadi itu gimana sih perintahnya?"
"Frappuccino cinta, 8 sendok makan susu full cream cair, 5 sendok teh ekstrak vanila, 12 stroberi segar, dan 16 blueberries segar. Itu artinya ... angka 8 untuk huruf H, 5 untuk E, 12 untuk L, 16 untuk P. Disusun jadi HELP!"
"Jadi frappuccino cinta itu ... kata cinta merujuk ke suaminya, begitu?"
"Ya iyalah. Masa si mantan? Toh di tempatku juga nggak ada tuh menu frappuccino cinta. Jadi intinya, bos itu minta tolong kita berdua untuk mengabari suaminya, tapi kalau suaminya nggak ada tindakan, maka dari tadi aku sudah masuk ke pabrik. Tapi ... ternyata orang sepenting itu percaya saja pada pesan anonim, emangnya tadi nulis pesannya gimana?"
"Emm ... aku lampirkan lokasinya bos sama nulis ... Istrimu diculik, semakin lama kau datang, semakin cepat dia mati. Pokoknya gitu deh ... awalnya sih kayaknya dia curiga, bahkan sempat mencoba meneleponku, tapi langsung aku blokir."
"Huh ... aku heran apa alasannya bos diculik. Ini pasti ada kaitannya sama suaminya yang gak guna itu!"
"Heleh ... bicara begitu, paling gara-gara cemburu kan? Semuanya sudah tahu loh perasaanmu~"
"Aku nggak cemburu, toh perasaanku ini cuma sebatas suka, cuma sebatas kalau seleraku itu seperti bos, nggak lebih dari itu. Jadi ... seandainya jika ada orang lain yang mirip sama bos, aku pasti pindah ke orang itu. Aku anggap bos sebagai patokan. Lagi pula ... bos juga sudah tahu perasaanku."
"Emm ... dia bilang ... Nggak lucu Ka! Suka kok sama aku?! Cari sonoh yang lain! Lu juga termasuk good looking kok, banyak cewek yang mau. Toh aku sendiri nggak tertarik sama manusia, aku wibu. Gitu dia bilang ..."
"Wkwkwk ... goblook! Itu waktu masih SMP kan? Waktu itu bos emang masih wibu nolep sih, cowok mana pun dia tolak. Dia itu jadi normal pas mulai kenal sama si Ricky mantannya itu. Tapi aku paham maksudmu kok, bagimu bos adalah idola. Yaa ... secara dia itu bisa melakukan apa saja, kecuali berenang. Seandainya ada cewek yang mirip sama bos, kayaknya sih aku juga bakalan suka."
"Hemm ..." Dika lalu tersenyum kecil dan ikut menyandarkan tubuhnya. "Sudah lama ya? Sekarang rasanya kembali seperti dulu lagi ..."
"Iya." Ivan juga tersenyum. "Andai saja kita semua bisa berkumpul. Tapi kondisinya sekarang sulit. Kang lulus, raja harem, pemeras cerdas, penipu fans, keempat orang itu sangat sibuk. Terlebih lagi bos, dengan statusnya sekarang sebagai menantu dari keluarga paling terpandang ... posisinya adalah yang tersulit. Tapi ini bagus juga, jika saja bos gagal nikah, pasti dia masih mengabaikan kita dan fokus ke mantannya itu. Diabaikan selama 2 tahun itu menyesakkan. Benci aku!"
"Bukan cuma kau, kita semua membencinya. Tapi itu kan cuma masa lalu. Sebaiknya kita sudahi saja mengenang masa lalu, nggak etis, sekarang bos masih di tangan penculik."
"Oke. Setelah ini bakar-bakar! Nggak sabar aku pengen bakar pabrik!"
...Di dalam pabrik...
...••••••...
Semua orang sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui informasi penting yang disembunyikan oleh Nisa. Tapi Nisa saat ini masih asyik makan.
Tak berselang lama kemudian Nisa telah selesai makan dan minum. Saat ini juga Noan lebih dekat lagi berhadapan dengan Nisa. Dia memasang tampang kemarahan dan tatapan matanya setajam tatapan mata elang.
"Kau sudah selesai makan. Sekarang cepat beritahu!"
"Oke-oke, yang sabar sedikit dong. Uncle Noan sudah tua, mudah marah dan kebingungan, tekanan darah dan kadar gula bisa naik loh, jadi orang yang suka marah-marah bisa terkena penyakit komplikasi, nanti bisa cepat mati."
"Jangan mengulur waktu lagi! Kesabaranku ada batasnya!!" teriak Noan yang ekspresinya semakin bertambah marah.
"Iya, padahal informasinya sudah aku katakan."
"Hah?! Kapan kau mengatakannya?!"
"Tadi, masih ingat tidak resep frappuccino cinta yang aku katakan? Di resep itu ada informasi penting mengenai Grizzly Cat yang aku tahu. Coba deh sebutkan lagi."
"Resepnya ... 8 sendok makan susu full cream cair, 5 sendok teh ekstrak vanila, 12 stroberi segar, dan 16 blueberries segar. Itu yang kau katakan. Memangnya informasi geng mafia seperti apa yang tersembunyi di resep konyol itu?" tanya Noan dengan wajah bingung.
"Tentu saja belum bisa ketahuan secara langsung. Masih ada teka-teki. Untuk mengetahuinya, harus menjawab pertanyaan dariku. Pertanyaannya adalah ... di minuman frappuccino yang sudah aku minum, ada berapa banyak biji semangka?"
"Di resepmu sama sekali tidak menyertakan buah semangka, mana bisa ada biji semangka. Tentu saja tidak ada!"
"Nah, itu jawabannya!" teriak Nisa sambil tersenyum.
__ADS_1
"A-apa?!"
"Tidak ada! Informasi yang aku tahu tentang Grizzly Cat adalah tidak ada! Pffttt ... hahaha! Aku sudah bilang kalau kalian salah tangkap orang! Hahaha! Seharusnya nama geng kalian bukan Humble Dog, tapi Stupid Dog! Hahaha ... stupid ... hahaha ... gerombolan para anjing tol*l! Tol*l! Tol*l!!"
Seketika semua anggota geng Humble Dog beserta ketuanya terdiam dan merasa geram dengan Nisa. Terutama Noan.
"Noan!! Aku tidak mau tahu! Siksa jal*ng itu sampai dia mau bicara! Hubungi aku lagi jika dia sudah mau bicara!!"
"Baik bos! Aku akan menyiksanya!!"
Patss ...
Orang yang disebut sebagai ketua dari geng Humble Dog itu langsung memutuskan panggilan video. Sedangkan Noan, dia beranjak dari kursi dan mengambil suatu benda dari saku celananya. Kemudian dia memamerkan benda itu tepat di depan wajahnya Nisa.
"Lihatlah ini! Ini adalah stun gun! Sengatan listrik bertegangan tinggi dari stun gun ini akan membuatmu tersiksa!"
"...." seketika ekspresi Nisa berubah panik.
Sial, stun gun! Ini akan lebih menyakitkan dibanding ditembak. Awas saja ... sebelum aku mati, kau yang terlebih dulu akan mati.
Dengan senyum jahat, Noan mulai melancarkan aksinya. Bagian pertama yang dia sengat adalah tepat di bawah tulang rusuk.
"Aaaahh!!" teriak Nisa sekencang-kencangnya, tubuhnya kini mulai bergetar tak terkendali juga meronta kesakitan.
"Hoho ... tentu saja belum cukup~"
Noan lagi-lagi melakukan aksinya, sasaran sengat yang dia pilih adalah daerah pusat saraf, misalnya leher, bawah lengan, dan bahu bagian atas.
"Aahhh!! Aaaaahh!!"
Nisa terus berteriak kesakitan menerima setiap sengatan listrik yang berlangsung terus-menerus. Tapi Noan beserta para anak buahnya tertawa puas saat menyaksikan hal itu. Tak butuh waktu lama untuk Nisa mencapai batasnya, dia tak kuat lagi menerima sengatan listrik hingga dia kembali tak sadarkan diri.
***
Tak berselang lama kemudian setelah Nisa pingsan tiba-tiba ada suara ...
NISA!!!
Suara teriakan itu terdengar berasal dari dalam pabrik, namun terkesan sedikit jauh. Menyadari hal itu, Noan langsung memerintahkan kelima anak buahnya untuk pergi ke sumber suara. Namun tak lama setelah kelima anak buahnya pergi, tiba-tiba terdengar suara ...
DORR!! DORR!!
Suara tembakan senjata terdengar berulang-ulang dengan begitu kerasnya, bahkan jarak waktu pengulangan suara tembakannya terbilang sangat singkat.
Sialan, bagaimana bisa ada yang tahu kalau bocah berandal ini disekap di sini?
Noan mulai merasa cemas karena para anak buahnya tak kunjung kembali. Dia memutuskan untuk mengeluarkan pistol miliknya dan bergegas menuju ke sumber suara tembakan berasal.
Dia berlari dengan panik. Saat dia berbelok di suatu lorong, tiba-tiba seseorang memukul wajahnya dengan keras hingga dia menjadi syok dan akhirnya pistol yang dia pegang terjatuh ke lantai. Orang yang memukulnya tidak lain adalah Keyran.
Keyran tidak menahan diri, dia memukuli Noan tanpa henti, bahkan sampai tidak ada kesempatan untuk Noan melawan balik. Keyran mencengkeram kerah baju Noan lalu mendorongnya hingga punggungnya menabrak tembok dengan keras.
BRAAK!!
"Dimana istriku?! Kau apakan dia?!!" teriak Keyran tepat di depan wajahnya Noan. Wajah Noan terlihat buruk, dia mimisan, bibirnya berdarah, matanya bengkak, bahkan giginya ada yang copot.
"Heh, kau bisa sampai di sini apakah karena punya ikatan batin dengan istrimu yang gila itu?" tanya Noan dengan suara serak.
"Tuan!!" teriak Valen yang tiba-tiba muncul. "Nyonya tidak ada di bagian barat gedung!"
"Cari lagi sampai ketemu! Biar aku yang urus bajing*n satu ini!"
"Baik!" Valen langsung berlari meninggalkan Keyran dan mencari keberadaan Nisa lagi.
"Hehe ... istrimu hampir mati, dia sudah aku siksa. Asal kau tahu, saat dia berteriak ... suara desahannya sangat menggoda~" Noan terkekeh.
"Kau! Mati saja kau!!"
Keyran semakin marah, dia nekat untuk mencekik leher Noan sekuat tenaga. Noan mulai kesulitan bernapas, dia berniat ingin menyerang Keyran balik tapi dia kehabisan tenaga. Noan gemetar meregang nyawa, dari mulutnya mulai keluar cairan menjijikkan dan akhirnya pun dia mati.
Keyran menarik tangannya kembali lalu mengelap tangannya. Dia bergegas berlari ke arah Noan datang tadi. Sambil berlari dia terus berteriak memanggil nama Nisa, tapi tetap saja tidak ada jawaban.
Hingga pada akhirnya dia sampai di tengah-tengah gedung pabrik. Dia panik saat melihat Nisa dalam keadaan tak sadarkan diri sedang diikat di kursi, dan semakin panik saat melihat ada darah yang perlahan mengalir dari lehernya Nisa yang telah mengotori kerah bajunya.
"Nisa!!"
Keyran berteriak dengan begitu kerasnya. Dia bergegas mendekati Nisa lalu melepaskan tali yang mengikatnya. Dan saat itu juga Valen muncul karena mendengar teriakan dari Keyran, bahkan Valen juga ikut panik saat melihat Nisa.
Sesekali Keyran meneriakkan nama Nisa agar dia tersadar, tapi tetap saja itu percuma. Keyran langsung membopong Nisa dan bergegas berlari untuk segera meninggalkan pabrik.
"Valen! Cepat ke rumah sakit!!"
"I-iya tuan!!"
__ADS_1