
Waktu makan malam pun tiba, sejak tadi Nisa terus menampakkan wajah gembira karena baginya hari ini berjalan dengan lancar seperti yang dia inginkan. Namun tidak dengan Keyran, sejak tadi dia terus diam dan terlihat seperti tidak berselera makan.
Nisa yang menyadari hal itu langsung berkata, "Ada apa, Key? Apa kue buatanku tidak enak?"
"Kue buatanmu sangat enak, aku suka!"
"Baguslah, kukira aku masih payah dan harus memperpanjang kursus memasakku lagi." Nisa kembali melanjutkan menyantap hidangannya yang tinggal sedikit.
"Emm ... Nisa, kau besok ada waktu luang, kan?" tanya Keyran dengan nada ragu.
"Tentu, aku kan pengangguran. Memangnya ada apa?"
"Aku berencana untuk mengajakmu kencan."
"Kencan?!" Nisa melongo.
"Iya, setelah dipikir-pikir kita berdua belum pernah berkencan. Dan kebetulan besok aku tak ada pekerjaan, jadi aku ingin menghabiskan waktuku seharian bersamamu."
"Tidak mau!"
"Eh?! Tapi kenapa?" Keyran menatap tak percaya, dia sangat terkejut dengan jawaban Nisa.
"Huh, aku kapok. Terakhir kali saat kau mengajakku makan malam di luar, kau tidak bilang jika ayahmu ikut dan kau malah berakhir dalam keadaan mabuk. Menyusahkanku saja! Dan kau mengajakku kencan kali ini pasti juga ada sesuatu yang tidak beres. Aku tidak sudi jika kau mengajakku kencan tapi malah pergi ke kebun binatang untuk melihat saudaramu!"
"Sembarangan, mana mungkin saudaraku monyet! Kali ini aku sungguh-sungguh Nisa ... aku ingin mengajakmu berkencan ke tempat yang romantis!"
"Ck, lupakan saja! Lebih baik tetap di rumah jika kau mengajakku ke love hotel!" Nisa memalingkan wajahnya, dia benar-benar tidak tertarik berkencan dengan Keyran. Meskipun berkencan bersamanya merupakan sesuatu yang sudah lama dia impikan, namun instingnya mengatakan jika akan ada hal merepotkan yang menanti di belakang.
"Ayolah Nisa ... aku janji akan mengajakmu ke tempat yang menyenangkan. Apa pun yang kau ingin lakukan nanti, pasti akan aku turuti!"
"Baiklah," jawab Nisa acuh tak acuh.
"Terima kasih. Aku pasti tak akan membuatmu kecewa."
***
Hari berganti, sekitar jam 10 pagi Keyran dan Nisa telah selesai bersiap-siap untuk pergi berkencan. Bahkan kali ini Keyran memilih mobil yang jarang dia pakai, yaitu Porsche convertible berwarna merah dengan atap mobil yang terbuka.
Nisa menatap mobil itu dan menghela napas. "Huft ... untung saja kali ini aku mengikat rambutku, setidaknya rambutku tak akan terlalu berantakan terkena angin."
"Haha, kalau begitu kita bisa berangkat sekarang!"
Sial, Valen bilang jika mobil tipe ini paling cocok untuk berkencan. Tapi Nisa malah mengeluh, pokoknya jangan sampai kencan pertamaku ini gagal.
Keyran melaju dengan kecepatan normal. Sesuai rencana yang telah diatur, tempat pertama yang dia tuju adalah mall terbesar di kota.
"Hem, tempat yang kau pilih tidak buruk juga," ucap Nisa dengan senyum tipis.
"Baguslah kalau kau suka." Keyran tersenyum puas.
"Hehe, kalau begitu kali ini kau harus menurut padaku! Ayo cepat ke game center!" Nisa menjadi lebih bersemangat, menggandeng tangan Keyran lalu menariknya untuk segera memasuki mall.
"Pelan-pelan Nisa ..."
Untungnya kali ini berhasil, usul dari Valen agar membuat kartu member platinum ada benarnya juga. Nisa pasti suka jika bisa memainkan semuanya.
Mereka berdua pun segara menuju ke game center yang berada di dalam mall. Bahkan demi kenyamanan Nisa dan tidak merusak suasana, Keyran sengaja mengatur agar manajer mall tersebut memberi perintah kepada semua staff untuk berpura-pura tidak mengenali dirinya.
Di sisi lain Nisa tampak begitu bersemangat, sudah lama rasanya dia tidak bermain dengan bebas seperti ini. Sebagai pemanasan, Nisa mengajak Keyran untuk memainkan permainan yang pertama, permainan yang dia pilih adalah boxing punch game.
"Kau serius mau main ini?" tanya Keyran.
"Tentu saja! Kau cobalah dulu, aku mau lihat berapa skor yang bisa kau dapat!" jawab Nisa penuh antusias.
"Baiklah, tolong menjauh sedikit."
Aku harus perlihatkan kalau aku ini kuat, dengan begitu Nisa tidak akan meremehkanku hanya karena dia ketua gangster.
Keyran mempersiapkan posisinya, lalu memberikan sebuah pukulan cepat dan kuat kepada target. Mesin mulai menghitung berapa skor atas tinju Keyran, dan skor berhenti di angka 842.
"Lumayan, setidaknya bisa membuat orang biasa pingsan," gumam Nisa sambil menyeringai.
"Kau bilang apa?"
"Bukan apa-apa. Sekarang giliranku!" Nisa lalu menempatkan target ke posisi semula. Dia juga berdiri di depan target dengan percaya diri. Menggunakan tangan kanannya, dia melayangkan pukulan lurus ke depan dengan cepat.
DING DING DING DING!
Alarm mesin itu berbunyi, pukulan dari Nisa berhasil mencetak skor tertinggi yang baru. Keyran yang melihat itu langsung hanya melongo karena tidak menyangka tenaga istrinya bisa sebesar itu.
"Itu tadi pukulan jab, serangan pertama dalam tinju. Dan yang barusan itu bisa langsung membuat lawan KO. Jika orang biasa dan tidak pakai pelindung kepala maka bisa gegar otak. Nah, sekarang mari bermain permainan selanjutnya!" Nisa lekas pergi berganti ke permainan lain.
"..." Keyran masih berdiri di tempat. Sebelum pergi dia hendak mengembalikan target pukulan itu ke posisi semula, tetapi dia terkejut saat melihat target tersebut sedikit robek.
Bagaimana bisa pukulan Nisa berdampak sampai seperti ini? Jangan-jangan kualitas bahan ini rendah. Atau mungkin saja karena terserempet cincin. Ah sudahlah, serahkan saja ke Valen. Biar dia yang urus soal ganti rugi jika ada barang lain yang Nisa rusakkan.
"Key! Ayo sini!" teriak Nisa sembari melambaikan tangan.
"I-iya sebentar!"
Keyran pun menghampiri Nisa, kali ini yang ingin istrinya mainkan adalah claw machine. Jika biasanya yang dicapit adalah boneka, kali ini pihak game center secara khusus memberikan hadiah yang berbeda. Di dalam mesin itu semuanya adalah benda berbentuk telur paskah, di dalam telur tersebut berisi hadiah misteri dan nantinya bisa ditukar sesuai apa yang tercantum.
"Darling, mainkan ini untukku!" pinta Nisa dengan senyuman.
"Baik, aku pasti dapat hadiah menarik untukmu."
Aku sudah dapat bocoran dari manajer jika hadiah utama ada di telur bermotif polkadot warna biru. Aku hanya tinggal mengincar yang satu itu.
Keyran lalu memasukkan koin dan mulai mengendalikan tuas kontrol dan mengarahkannya ke telur yang dia incar. Tak butuh waktu lama bagi Keyran untuk mendapatkan telur tersebut.
"Lagi, Key!"
"Kau mau berapa?"
"Semuanya! Kita tak tahu telur mana yang dalamnya ada hadiah utama, jadi aku mau semuanya!"
"Tapi Nisa ... semua telur ini ada hadiahnya, kau mau taruh di mana jika memborong semuanya?" tanya Keyran dengan nada ragu, dia tidak mungkin bilang jika hadiah utama sudah berada di tangannya.
__ADS_1
"Ck, ya sudah kalau tidak mau! Aku mau main sendiri!"
Benar saja, Nisa berulang kali memasukkan koin tak peduli dia berhasil mendapatkan telur atau tidak. Dia telah bertekat untuk memborong semua telur, bahkan seorang staff game center sampai membawakan sekantong plastik besar untuk wadah telur.
Ketika semua telur telah didapatkan, Nisa membawa sekantong penuh untuk ditukarkan dengan hadiah.
"Permisi, aku mau menukarkan semua ini!" ucap Nisa yang membuat pegawai game center sampai melongo.
"B-baik, mohon bersabar."
Satu per satu telur paskah dibuka, dan semuanya berisi hadiah kecil-kecilan seperti boneka mini, snack, permen coklat dan aksesoris lainnya. Nisa yang merasa janggal langsung memelototi telur terakhir yang dipegang oleh Keyran.
"Jangan-jangan hadiah utama ada di telurmu!"
"Hehe, kalau begitu aku beruntung." Keyran membuka telur tersebut yang sudah pasti berisi hadiah utama.
"Selamat Tuan, ini adalah hadiah utama yang kami siapkan!" ucap si pegawai sambil menyodorkan sebuah boneka teddy bear besar.
"Terima kasih." Keyran menerima boneka itu lalu memberikannya kepada Nisa. "Ambillah, tadi kau bilang ingin hadiah utama. Kebetulan boneka ini nyaman dipeluk, kau bisa memeluknya saat aku tidak ada."
"Humph, baiklah. Aku terpaksa menerimanya!" Dengan cepat Nisa merebut boneka itu dari tangan Keyran, raut wajahnya pun juga tampak merona.
"Apa kau masih mau main lagi?"
"Iya, tapi aku mau istirahat dulu. Sedikit melelahkan memborong semua telur."
Mereka berdua pun meninggalkan tempat penukaran hadiah, Nisa terus memegangi boneka besar itu, sedangkan Keyran yang membawa sekantong besar hadiah yang lainnya.
Namun saat berjalan, Keyran merasa aneh karena Nisa tertinggal di belakang. Saat menoleh, dia melihat istrinya sedang mendekati seorang anak kecil. Karena penasaran mengapa Nisa cukup lama, Keyran pun akhirnya menghampiri Nisa.
"Ada apa Nisa?"
"Ah, anak ini terpisah dari orang tuanya."
Keyran pun memperhatikan gadis kecil yang mukanya sudah memerah karena menahan tangis. Lalu dia ikut berjongkok dan berkata, "Di mana orang tuamu?"
Anak itu menggeleng dan mengucek matanya yang sudah dibanjiri air mata. "Huhu ... Yola tidak tahu ..."
"J-jangan menangis, nanti kakak belikan ice cream! Setelah itu kakak akan bantu mencari orang tuamu. Yola kan anak yang pintar, berhenti menangis, oke?" bujuk Nisa sambil mengusap kepala Yola.
Yola mengusap air matanya sendiri, dia juga mengangguk menyetujui ajakan Nisa.
"Tolong bawakan ini, Key!" Nisa menyerahkan boneka itu pada Keyran. Bahkan dia juga bersedia menggendong Yola yang masih terisak.
"Ayo beli ice cream!"
Keyran pun tersenyum tipis sambil berjalan mengikuti Nisa. Mereka berdua meninggalkan game center dan menuju ke resto. Nisa berniat menghibur Yola sekaligus beristirahat dan makan siang.
"Nah, sekarang Yola mau makan apa?" tanya Nisa dengan nada ramah.
"Yola tidak lapar ..."
"Emm ... oke, kalau begitu Yola mau ice cream rasa apa?"
"Cokelat."
"Baiklah, tunggu sebentar." Keyran pun pergi dari sana.
Sejak tadi Yola terus memandangi boneka beruang besar milik Nisa, Nisa yang menyadari hal itu kemudian berkata, "Yola suka boneka?"
"Suka!"
"Haha, tapi kakak tidak bisa berikan boneka yang satu ini karena suami kakak yang memberikannya. Jika Yola mau boneka, Yola boleh ambil apa saja yang di dalam kantong ini."
"Sungguh?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Iya, Yola pilih saja mau yang mana."
Anak itu bersemangat memilih boneka yang dalam kantong, setelah lama memilih akhirnya dia memutuskan untuk mengambil sebuah boneka berbentuk kuda unicorn. "Terima kasih Kakak baik!"
"Sama-sama~ Oh iya, Yola tadi bermain bersama siapa?"
"Sama papa, tadi papa ke toilet. Lalu papa keluar dan Yola ikut, tapi ternyata bukan papa. Bajunya mirip punya papa. Yola lupa jalan ke toilet."
"Begitu ya."
Bahasa anak ini sedikit kacau, untungnya masih bisa dimengerti. Intinya dia salah mengenali orang lain sebagai ayahnya lalu dia tersesat. Aku tinggal melapor dan pihak mall akan membuat pengumuman.
"Yola!" teriak seseorang yang tiba-tiba berlari ke arah Nisa.
"Papa!" Yola langsung turun dari kursi dan memeluk pria tersebut.
"Yola ke mana saja? Papa khawatir ..."
"Maaf Papa, Yola tersesat lalu ditolong kakak itu!" ucap Yola sambil menuding ke arah Nisa.
"Hai," sapa Nisa dengan senyum canggung.
Pria itu seketika tertegun saat melihat Nisa. Lalu tiba-tiba saja dia mendekat dan meraih kedua tangan Nisa. "Menikahlah denganku!"
"Hah?!" Nisa ternganga.
"Aku adalah orang tua tunggal. Jarang sekali Yola mau akrab dengan orang lain. Kau juga sangat cantik dan penuh kasih sayang. Dan aku adalah pria baik-baik, jabatanku di kantor adalah manajer, setelah menikah aku akan memperlakukanmu dengan baik! Aku yakin pertemuanku denganmu hari ini adalah takdir."
"Takdir palamu! Lepaskan istriku, sialan!" bentak Keyran yang tiba-tiba muncul sambil membawa 2 buah ice cream.
Nisa yang juga kaget dengan kedatangan Keyran seketika menepis tangan pria itu. "Tolong jaga sikapmu, segera bawa anakmu lalu pergilah!"
Pria asing itu terdiam, dia tak menyangka saat ini tengah berhadapan dengan siapa. "T-Tuan ... ternyata Anda, maafkan saya ..." ucapnya yang sudah berkeringat dingin.
"Papa, Om ini siapa?" tanya Yola dengan wajah polosnya.
"Ssttt ... Yola cepat bilang terima kasih, setelah itu kita pergi!"
"Terima kasih Kakak dan Om baik, sampai jumpa lagi!"
"Jangan sampai berjumpa lagi," pria itu langsung menggendong Yola dan secepat mungkin pergi dari sana.
__ADS_1
Keyran lalu duduk dengan penuh kekesalan. "Padahal ini kencan kita, aku pergi sebentar tapi kau sudah dilamar orang."
"Hahh ... lupakan saja, dia cuma orang aneh."
"Aku sangat kesal, bahkan dia menyombongkan diri jika dia seorang manajer. Begitu berhadapan denganku malah langsung kabur. Lalu apa-apaan anak itu? Dia memanggilmu kakak, tapi malah memanggilku om. Memangnya aku terlihat setua itu?"
"Pfftt ... sudahlah Key. Bagiku kau yang paling tampan. Aku juga kesal, pria tadi memang kurang ajar. Sepertinya aku harus cuci tangan lagi."
"Ya, itu harus! Tapi terlepas dari semua yang menyebalkan tadi ... Aku perhatikan kau mudah akrab dengan anak kecil, kurasa kau sudah cocok jadi seorang ibu."
"Hei ... jangan menggodaku! Ngomong-ngomong setelah ini kita mau ke mana?" tanya Nisa yang berusaha mengubah topik pembicaraan.
"Bagaimana jika menonton film?"
"Baiklah!"
Setelah mereka berdua selesai makan siang, Keyran lalu mengajak Nisa untuk pergi ke bioskop. Sebelum masuk tak lupa juga mereka membeli popcorn dan minuman. Namun, begitu memasuki ruangan studio Nisa terkejut karena melihat semua kursi kosong melompong.
"Eh? Di mana orang lain?"
"Menurutmu di mana?" Keyran tersenyum kecil dan memilih tempat duduk lebih dulu. Yang dia pilih adalah kursi deretan tengah.
"Hahh ... dasar orang kaya, bukan cuma merahasiakan film yang akan diputar tapi juga menyewa satu studio."
Nisa lalu duduk di kursi sebelah Keyran. Dia merasa tidak biasa karena di dalam studio itu hanya mereka berdua. Pikiran Nisa mulai membayangkan bermacam-macam hal yang mungkin saja Keyran perbuat padanya.
"Emm ... kita mau menonton film apa?"
"Tenang saja, bukan film horor." Keyran terkekeh.
"Beritahu judulnya!"
"Haha, baiklah. Judulnya ... Langit Berbintang dan Kamu."
"Sungguh? Tapi film itu belum sepenuhnya resmi dirilis, kau tidak membohongiku, kan? Apa kau membelinya lebih dulu?" tanya Nisa seakan tidak percaya.
"Diam dan lihat saja, nanti kau akan tahu aku berbohong atau tidak."
Nisa beralih menatap layar dengan antusias, dia tidak sabar untuk menonton film yang sudah ditunggu-tunggu. Sejak film diputar, Nisa sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya, dia sangat menikmati alur cerita film tersebut.
2 jam kemudian film tersebut telah usai. Nisa masih melongo karena terkesan dengan akhir dari film itu. Keyran lalu menggenggam tangan Nisa dan berkata, "Bagaimana menurutmu?"
"Ah, filmnya bagus. Apalagi bagian akhir cerita yang sangat menyentuh ... Kisah cinta romansa fantasi, pemeran utama baru menyatakan perasaannya ketika sudah akan lenyap dari bumi."
"Iya, kau benar. Padahal menyatakan cinta sebenarnya sangat sederhana." Keyran tersenyum, tetapi lambat laun senyuman itu hilang karena Nisa tidak berkata sepatah kata lagi.
Sial, sudah aku sindir lewat film juga masih belum sadar. Aku mau pernyataan cintamu Nisa, tapi kau masih tidak mengetahuinya!
Saat popcorn miliknya telah habis, Nisa pun berkata, "Setelah ini kita mau ke mana lagi?"
"Ada satu tempat lagi yang ingin aku kunjungi, dan itu rahasia."
Valen sudah mengirim pesan jika semua persiapan sudah beres. Semoga saja kejutan terakhir akan membuat Nisa mengakui cintanya padaku.
Keyran lalu mengajak Nisa untuk pergi meninggalkan mall. Nisa lagi-lagi dibuat penasaran karena perjalanan ke tempat tujuan memakan waktu hingga satu setengah jam.
Tempat yang dituju oleh Keyran adalah sebuah restoran yang terletak di dekat pantai. Dia juga telah menyewa seluruh area paling atas yang memiliki sudut pandang terindah untuk melihat pantai.
Keyran juga menggandeng tangan Nisa menuju ke sebuah meja yang sudah diatur dengan cantik. Tentu saja makanan yang dipesan semuanya makanan mewah yang sesuai dengan selera Nisa, bahkan dia juga menyiapkan sebotol wine langka.
"Apa kau suka, Nisa?" tanya Keyran.
"Suka, aku tak menyangka kau menyiapkan semua ini untukku."
"Apa pun untuk istriku."
Setelah selesai makan, Keyran meminta pelayan untuk membereskan tempat dan menyediakan sebuah kursi yang nyaman. Dia juga meminta semuanya pergi, memberikan waktu privat untuknya bersama Nisa sambil menikmati senja hari.
Nisa tersenyum, lalu bersandar pada bahu Keyran dengan nyaman. "Haha, aku baru tahu kalau kau penikmat senja."
"Yaa ... saat-saat matahari terbenam itu berharga, tapi jika melihat sunset bersamamu itu lebih berharga lagi."
Mereka tak lagi bicara, keduanya cukup menikmati momen menantikan sunset bersama. Selang beberapa saat kemudian momen indah itu terjadi, suasana sunset tercipta dan secercah cahaya matahari perlahan mulai meredup.
Sepasang suami istri itu saling menatap dan tersenyum, dengan mengikuti naluri akhirnya mereka pun berciuman, seolah-olah menambah keindahan dari sunset yang kian sirna.
Matahari telah tenggelam dan hari menjadi gelap. Di saat seperti ini tiba-tiba semua lampu padam. "A-ada apa?!" Nisa kebingungan.
"Sstt ... tunggu saja, jangan bergerak sembarangan!"
"Iya," jawab Nisa yang langsung merangkul Keyran. Meskipun sebenarnya tidak takut gelap, tetapi dia tidak mungkin melepaskan kesempatan untuk manja terhadap suaminya.
Tak lama kemudian lampu restoran kembali menyala, tetapi hanya sebagian kecil dan lampu hiasan saja. Nisa merasa ada yang janggal saat melihat cahaya terang muncul dari tempat yang tidak biasa. Nisa memutuskan untuk memuaskan rasa penasarannya, dia bangkit lalu mendekat ke pagar dan melihat pesisir pantai yang berada di bawah.
"I-ini ...." Nisa merasa tak percaya, pemandangan yang dia lihat begitu indah. Deretan payung-payung pantai yang biasa saja, kini ditata dan dipasangi oleh lampu bercahaya. Jika dilihat dari atas, deretan payung itu membentuk hati di tengah dengan huruf I dan U di samping kiri kanannya.
"I love you," bisik Keyran yang tiba-tiba sudah berada di belakang Nisa.
"Ini sungguh untukku?"
"Tentu saja, tidak ada selain kau yang pantas menerima ini. Masih ada kejutan kecil untukmu, tutup matamu sebentar darling ...."
Nisa mengangguk, Keyran lalu mengeluarkan sebuah benda yang sejak awal sudah dia kantongi. Benda kecil itu adalah sebuah kalung, dia juga memasangkannya di leher Nisa dengan hati-hati. "Sekarang buka matamu."
Nisa membuka mata, dia lebih terkejut lagi saat menyadari bahwa bentuk dari liontin kalung tersebut sudah tidak asing lagi baginya. Dia langsung membalikkan badan dan menatap Keyran dengan tatapan tidak percaya.
"Kalung ini ... Aku ingat jika sudah membuangnya ke danau, tapi sekarang aku memakainya lagi. Ini kalung yang sama atau kau membuat satu lagi?" tanya Nisa sambil menggenggam erat liontin kalung itu.
"Kalung itu cuma ada satu di dunia. Dan jujur saja, sebelumnya aku masih belum sepenuhnya mempercayaimu. Meskipun indah, tapi di dalam liontin itu aku menyembunyikan chip pelacak. Saat kau pergi terakhir kali, aku melacaknya dan ternyata mengarah ke danau. Karena membongkar chip jadinya liontin itu sedikit rusak, tapi aku sudah memperbaikinya. Sebenarnya sudah agak lama, hanya saja aku ingin memberikannya di saat yang tepat. Kali ini itu hanya sebuah kalung, tidak ada chip apa pun lagi yang aku sembunyikan, karena sekarang aku sudah sepenuhnya percaya padamu ...."
Tubuh Nisa gemetar, dengan wajah yang memerah dia pun berteriak, "Kau bodoh! Aku sudah membuangnya kenapa kau pungut lagi?! Danau itu dalam, Key! Demi barang seperti ini kenapa kau harus membahayakan nyawamu!? Kau tak perlu melakukan itu demi mencariku!"
"Asalkan menemukanmu, aku rela melakukan apa pun."
"Kau ini ... hiks ..." Tangis bahagia Nisa pecah, tanpa peringatan apa pun dia langsung memeluk erat Keyran. "Dasar bodoh! Aku mencintaimu ...."
"Aku juga mencintaimu ..." Keyran membalas pelukan Nisa. Hatinya sangat puas karena akhirnya dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Meskipun diawali dengan kata umpatan, tetap saja Nisa menyatakan perasaan cintanya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Key ... Hik ... hiks ... aku mencintaimu ...."