Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Aku Suka Seperti Ini!


__ADS_3

"Se-sedikit lagi..."


Untung saja tadi bajuku tersangkut, jadi aku masih hidup. Hanya tinggal meraih cabang pohon itu saja agar bisa selamat. Tapi, jauh banget....! Ditambah.... sangat licin karena hujan, kalau terus seperti ini aku bisa mati!


"Bantu aku Tuhan.... tolong maafkan aku karena tadi sudah memakimu! Kalau aku mati disini mayatku juga nggak bakal ditemukan orang. Pliss.... Aku ingin hidup!"


Ayo! Kalau mau hidup, aku nggak boleh nyerah! Harus sampai....


"Dapat!"


Nisa akhirnya selamat karena telah berhasil meraih cabang pohon yang ada di dekatnya. Tapi, saat sampai di atas dia masih tidak percaya karena selamat dari maut yang sudah di depan mata.


"Wah.... gila! Aku hampir mati! Untunglah Tuhan sayang padaku!"


Yah.... kalau nggak sayang padaku, pasti aku sudah mati konyol.


"......"


Iya, mati konyol gara-gara putus! Jika aku mati, kira-kira berita akan menulis seperti apa? Pasti mereka akan memberi judul 'Seorang Gadis Bunuh Diri Karena Putus Cinta' Ya ampun..... itu terdengar menyedihkan sekali!


"Hahaha! Apa ini yang dimaksud cinta setengah mati!? Saat aku putus cinta maka aku hampir mati. Dunia ini memang gila!"


Eh!? I-ini..... darah!?


"Ternyata kakiku tergores. Sepertinya hatiku terlalu merasakan sakit, bahkan aku sampai nggak sadar kalau tubuhku terluka"


Keadaanku sangat menyedihkan sekarang, lalu bagaimana denganmu? Sekarang kamu sedang apa? Apa kamu juga sedang menangis sepertiku?


"Sialan! Pikiranku dipenuhi olehmu!"


Seandainya kamu tahu kalau aku hampir mati, apa kamu akan merasa sedih? Atau apa kamu akan menertawakan aku? Aku tahu kamu pasti kecewa padaku tapi, aku juga nggak bisa berbuat apa-apa.


"Ricky.... aku berharap kamu baik-baik saja! Kita nggak mungkin untuk bersama, nggak masalah kalau kamu cari orang lain untuk menggantikan aku. Terima kasih.... terima kasih karena sudah menemaniku selama ini, aku akan menganggap dan mengingatmu sebagai kenangan yang indah. Meskipun sulit bagiku untuk melupakanmu, aku harap kita akan menemukan kebahagiaan kita masing-masing! Biarpun aku nggak bicara langsung ke kamu tapi, aku harap kamu bisa mengerti. Bagiku itu saja sudah cukup...."


Akhirnya.... setelah mengatakan semua ini, aku merasa sedikit lebih baik. Sekarang aku sudah punya tenaga untuk berjalan pulang.


Nisa akhirnya memaksakan diri untuk pulang, meskipun akan sangat lama karena kakinya terluka. Dia juga tampak sangat menyedihkan karena dia berjalan pincang dan menangis di tengah derasnya hujan. Di sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun orang yang berpapasan dengannya. Tapi, tiba-tiba dia dicegat oleh sebuah mobil, lalu orang yang berada di dalam mobil itu membuka pintu dengan tatapan mata yang sinis.


"Cepat masuk!" Ucapnya dengan dingin.


"....."


Key-Keyran!? Kenapa dia ada disini?


"Jangan harap kalau hujan-hujanan seperti ini, kau bisa menunda acara pertunangan dengan alasan kalau kau sakit. Aku tidak sebodoh yang kau kira!" Menatap Nisa dengan tatapan merendahkan.


"....."


Apa!? Dia bilang aku mencoba menunda? Kau hanya mementingkan dirimu sendiri. Suasana hatiku sedang kacau, kalau aku naik mobil yang sama denganmu aku bisa gila. Semua ini gara-gara kau, kau yang sudah membuat hidupku berantakan!


"Aku bilang cepat masuk! Kenapa kau diam seperti orang bodoh! Apa kau ingin aku sendiri yang menyeretmu!?"


"Tidak, terima kasih. Aku suka seperti ini!" Ucap Nisa sambil berjalan melewati mobil.


"Ini kau sendiri yang minta! Valen, ayo pergi! Tinggalkan saja gadis ini sendiri!"

__ADS_1


Dasar gadis busuk! Kau sama sekali tidak menghargai bantuan yang aku berikan, sia-sia saja aku pergi mencarimu!


"Tapi, tuan.... di luar sedang hujan, kasihan nona jika ditinggal...."


"Untuk apa peduli padanya!? Dia hidup atau mati tidak ada urusannya denganku! Kalau kau kasihan padanya, kau bisa turun dan menemaninya! Aku bisa pulang sendiri!"


"Maaf tuan, aku akan menurut...."


Ya ampun.... tuan tega sekali pada calon istrinya. Padahal nona sedang terluka dan dia kehujanan. Tapi, aku juga masih mau pekerjaanku. Maaf nona... kelak nona akan menjadi nyonya, sampai saat itu tiba, tolong maafkan kelakuanku hari ini.


Karena menuruti perintah dari Keyran, akhirnya mereka pergi meninggalkan Nisa seorang diri di tengah derasnya hujan. Saat mereka sudah jauh meninggalkan Nisa, tiba-tiba muncul keraguan di hati Valen. Lalu, dia memberanikan diri untuk mengatakannya pada tuannya.


"Tuan, apakah tidak apa-apa meninggalkan nona seperti ini?"


"Apa kau masih peduli padanya!?"


"Tapi, nona sedang terluka.... tadi aku melihat kalau kakinya keluar darah...."


"....."


Apa!? Gadis itu terluka tapi masih keras kepala tidak ingin naik ke mobilku. Gadis seperti itu tidak bisa dipercaya, bisa-bisa nanti dia mengadu ke ayahku! Dia bilang kalau aku menindasnya. Sial! Aku tidak ingin kalau masalah ini jadi panjang!


"Putar balik!"


"Ba-baik tuan...."


Akhirnya tuan peduli juga pada nona! Nona adalah orang pertama yang bisa membuat tuan merubah keputusannya. Semoga saja nona bisa membuat tuan jatuh cinta padanya!


Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali menjemput Nisa. Tapi, saat mereka sampai di tempat semula, Nisa sudah tidak ada.


"Kalau begitu kita kembali saja! Aku percaya, gadis sepertinya tidak akan mati dengan mudah!"


"Baik tuan"


Akhirnya mereka memutuskan kembali dengan tangan kosong. Sementara itu, Nisa yang berjalan di tengah derasnya hujan dengan kakinya yang terluka akhirnya sampai di rumah.


Tok tok tok....


"Ibu.... buka pintunya!"


"Ya, sebentar!" Berjalan mendekati pintu.


Klap....


"Dasar bocah nakal! Kau ini kemana saja? Ayah sangat kesal padamu! Lihatlah dirimu ini, kau basah kuyup sampai seperti ini! Apa kau ingin sakit!?"


"......" Nisa tiba-tiba memeluk Ibu.


"Eh!? Kau ini kenapa?"


Saat ibu sedang memarahi Nisa, dia tiba-tiba langsung memeluk ibu dengan erat. Melihat hal itu, ibu tampak kebingungan dengan tingkah laku Nisa. Tapi, saat ibu bertanya, Nisa tiba-tiba langsung menangis.


"Huuaaa.... Ibu..."


"Ada apa? Kenapa menangis? Apa ibu terlalu kasar memarahimu?"

__ADS_1


"Huaaa.... i-ibu.... sa-sakit...."


"Sakit!? Astaga! Kakimu berdarah, kenapa bisa?"


"Aku.... Ricky.... su-sudah berakhir.... huuaaa.... sakit.... sakit sekali.... ibu.... ini sakit sekali...."


"...."


Ternyata begitu, jika itu masalahnya... ibu juga nggak bisa membantumu. Nak, kamu memang harus mengalami semua ini. Inilah yang akan kamu rasakan saat cinta pertamamu kandas.


"Kenapa.... sakit sekali....? Huuaaa.... ibu.... tolong aku...."


"Gapapa, ibu disini. Ayo masuk dulu, kita obati luka di kakimu. Setelah itu kamu bisa menangis sepuasnya, ibu akan selalu menemanimu, oke?"


"Hiks.... oke..."


"Reihan! Ambilkan kotak obat, lalu antarkan ke kamar kakakmu!"


"Iya ibu, tunggu sebentar!"


Ibu kemudian memapah Nisa ke kamarnya. Tak lama kemudian Reihan datang dengan membawa kotak obat. Setelah mengantarkan, Reihan langsung pergi karena dia tidak tega melihat kakaknya yang begitu menderita. Sementara itu, ibu langsung membalut luka di kaki Nisa dengan hati-hati.


"Nak, apa terasa perih?"


"Hiks.... hiks...." Menggeleng kepala.


"Meskipun darahmu keluar banyak, tapi lukamu untungnya nggak parah, jadi nggak perlu dijahit. Katakan pada ibu, kenapa bisa terluka seperti ini?"


"A-aku.... cuma tersandung...."


"Ibu sangat khawatir karena kamu nggak pulang-pulang. Tapi, begitu pulang malah terluka seperti ini. Pokoknya lain kali harus hati-hati!"


"Iya.... ma-maaf.... huuaaa...."


"Nah, sudah selesai. Selanjutnya ayo segera keringkan tubuhmu! Jika tidak, kau pasti sakit"


Ibu lalu menyeka tubuh Nisa dengan handuk. Setelah itu, ibu juga membantu mengeringkan rambut Nisa. Tapi, meskipun begitu Nisa masih saja menangis sampai terisak.


"Hiks... hiks..."


"Sudah selesai, sekarang kamu sudah kering. Nak, kamu pasti lelah, makan ya?"


"Hiks... aku nggak lapar..."


"Kalau mau menangis, menangislah.... nggak perlu ditahan sampai terisak seperti ini, lampiaskan semuanya... Ibu tahu kamu merasa sangat sakit, itu wajar. Waktu akan membuatmu melupakan segalanya, termasuk rasa sakitmu ini. Ibu percaya kamu bisa melewati semua ini...."


"Huuaaa.... ibu.... aku ingin sendiri...."


"Baiklah, ibu akan tinggalkan kamu sendiri. Tapi, kamu harus ingat! Sesakit apa pun hatimu, kamu jangan sampai melukai dirimu sendiri. Kalau nanti sudah selesai menangis, cepatlah istirahat!" Berjalan pergi keluar kamar.


"....."


Klap....


"Hiks.... waktu....?"

__ADS_1


Kapan waktu itu akan datang!? Aku sudah nggak tahan lagi dengan rasa sakit ini! Ini.... sangat menyakitkan. Tuhan.... aku mohon bantulah aku meringankan rasa sakit ini! Aku ingin waktu berjalan dengan cepat agar aku bisa cepat melupakan semua rasa sakit ini....


__ADS_2