Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Cara Untuk Melindungimu


__ADS_3

Fajar telah menyingsing, suasana dan rutinitas di kediaman utama keluarga Kartawijaya berjalan seperti biasanya, namun hal itu tidak berlaku bagi Keyran dan Nisa.


Pagi ini mereka kembali menggelar acara sarapan bersama. Tuan Muchtar saat ini hatinya sedang bergembira karena bertambahnya jumlah orang di keluarganya. Menantu barunya yaitu Natasha, telah memberikan suasana baru di rumah itu berkat adanya bayi yang bernama Samuel.


Semuanya mengikuti sarapan itu, bahkan Chelsea yang semalam menginap juga mengikuti sarapan. Tetapi ada satu orang yang sama sekali tidak terlihat keberadaannya, dia adalah Keyran.


Di tengah-tengah suasana yang hangat itu tiba-tiba Tuan Muchtar berkata, "Oh iya, Natasha, katanya semalam Samuel agak rewel, sedangkan kau sendiri baru saja resepsi tadi malam. Pasti berat untukmu, apa kau tertarik untuk memakai jasa babysitter?"


"Haha, tidak kok. Pesta resepsi memang melelahkan, tapi aku menganggapnya hal yang menyenangkan. Sammy tadi malam memang menangis terus, tapi tidak apa-apa, aku sekarang sudah bisa menenangkannya. Jadi aku rasa tidak perlu pakai jasa babysitter," jawab Natasha dengan senyuman lembut.


"Istriku benar ayah, kami tidak membutuhkan jasa babysitter, kami bisa mengurus bayi kami sendiri," sahut Daniel.


"Kami? Maksudmu kau juga ikut mengurus?" tanya Tuan Muchtar terheran-heran.


"Tentu, jangan remehkan aku!"


"Pffttt ... haha, padahal kau baru mengganti popok sekali tadi malam. Tapi sekarang kau bertingkah seolah-olah super daddy." Natasha terkekeh.


"Hei, apa begini caramu memberi apresiasi pada suamimu?"


"Iya-iya maaf ... popok yang kau pasang sudah bagus kok! Nanti akan aku ajari membuat susu dengan suhu yang pas!"


Tuan Muchtar tersenyum tipis melihat kelakuan putra dan menantu barunya itu. Kemudian dia berkata, "Oh ya, Daniel. Ayah telah memutuskan untuk menambahkan sesuatu saat acara pesta untuk bayimu yang akan digelar 2 hari lagi."


"Apa yang akan ayah tambahkan?" tanya Daniel.


"Ayah berencana untuk menambah kegiatan acara amal. Dan karena ini spesial untuk menyambut cucu pertamaku, ayah berencana tidak cuma mengundang pengurus yayasan yang sudah jadi langganan kita. Jadi ayah memintamu untuk mencari yayasan atau panti asuhan lain yang belum pernah kita beri sumbangan dana."


"Ayahmu benar, Nak. Semakin banyak kita beramal semakin banyak juga doa baik yang akan diterima. Harapannya nanti Samuel akan mendapatkan doa yang baik bagi keberkahan hidupnya," ucap Nyonya Ratna.


"Baiklah, aku akan mengurusnya. Tapi nanti, karena hari ini aku sudah membuat janji dengan desainer interior."


"Desainer interior?" tanya Chelsea.


"Iya, kakak ipar. Aku dan Natasha berencana merancang kamar yang bagus dan istimewa untuk Samuel. Sebagai ayah, aku ingin memberinya yang terbaik selama aku bisa."


Chelsea tersenyum. "Haha, baiklah. Maaf sebelumnya telah salah menilaimu, aku pikir kau tidak bisa diandalkan dan bertanggung jawab. Tapi sekarang aku percaya kalau kau bisa membahagiakan adikku."

__ADS_1


"Ishh .. Kak Chelsea jangan bicara begitu, mirip orang tua tahu! Membuat malu saja ..." keluh Natasha dengan wajah yang merona.


Perbincangan yang menyenangkan, semua orang memperlihatkan senyuman ceria di wajahnya. Hanya satu orang yang berusaha untuk ikut tersenyum, yaitu Nisa.


Nisa merasa seakan-akan terasingkan. Meskipun dia menyantap hidangan mewah yang enak, dia tidak sepenuhnya menikmati sarapan itu. Yang dia pikirkan saat ini adalah tentang betapa tidak cocoknya dia di keluarga itu. Mulai dari dia yang gagal memenuhi harapan dari mertua, dan sekarang suaminya yang juga tidak bisa menerima dia seutuhnya.


Dengan pikiran seperti itu, tanpa sadar dia berhenti makan dan terhanyut dalam lamunan. Tiba-tiba saja dia dikagetkan oleh pertanyaan dari ayah mertuanya, "Di mana Keyran? Sejak tadi dia tidak kelihatan."


"Eh, dia ... Dia kelelahan, semalam dia ada urusan dan baru pulang pagi tadi. Saat ini dia sedang beristirahat di kamar, jadi dia tidak ikut sarapan," jawab Nisa dengan senyum canggung.


"Aku di sini, maaf terlambat!" ucap Keyran yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Nisa. Dia lalu mendekat ke arah meja makan dan duduk tepat di sebelah Nisa.


Sesaat setelah duduk, Keyran melirik ke arah Nisa dan dengan suara pelan berkata, "Kau tak perlu berbohong jika tak ingin makan bersamaku."


"..." Nisa membisu, entah kenapa kata-kata yang dilontarkan oleh Keyran barusan terasa menusuk baginya. Tenggorokan nya terasa sakit dan dadanya terasa amat nyeri. Rasa yang sangat tidak nyaman, sama seperti yang muncul saat tadi pagi ketika dia menahan tangis.


Aku pikir saat seperti ini tak akan pernah terjadi. Saat di mana aku iri melihat kemesraan orang lain, meskipun seseorang yang berada di hatiku saat ini sedang duduk tepat di sebelahku.


Nisa memaksakan diri untuk melanjutkan sarapan, kali ini dia tidak lagi mengambilkan nasi maupun lauk untuk suaminya. Namun semua orang sedang sibuk membicarakan soal rencana pesta penyambutan Samuel. Hanya satu orang yang merasa janggal dengan sikap Nisa, dia adalah Chelsea.


Sepertinya nanti aku harus mengajaknya untuk bicara empat mata.


Tak lama kemudian Nisa menghabiskan sarapannya lebih awal daripada yang lain, dia kemudian permisi untuk meninggalkan ruang makan terlebih dulu. Namun sesaat setelahnya Chelsea juga pergi dari ruang makan itu.


Saat ini Nisa sedang berjalan menuju ke kamar. Saat berada di lorong yang sudah dekat dengan kamarnya, tiba-tiba langkah kakinya terhenti. Tanpa menengok ke belakang dia berkata, "Ada perlu apa mengikutiku?"


"Eh, maaf. Bukan maksudku mengganggumu, tapi ada yang ingin aku bicarakan denganmu." ucap Chelsea yang sempat kaget karena Nisa menyadari keberadaannya.


Nisa berbalik dan melangkah lebih dekat ke arah Chelsea. "Katakan saja sekarang, lagi pula di sini tidak ada orang selain kita."


"Sebelumnya maaf, aku sebenarnya tidak ingin mencampuri urusan pribadimu. Tapi aku rasa hari ini kau tampak berbeda dari biasanya. Entah kenapa aku rasa sikapmu terhadap suamimu jadi berbeda. Aku sarankan kau tidak perlu bersikap seperti ini, suamimu dan aku tidak ada hubungan apa-apa kecuali bisnis."


"Maksudmu?" tanya Nisa dengan tatapan heran.


"O-ohh jadi bukan karena aku, ya? Haha, aku pikir kau curiga pada Keyran. Soalnya kau tahu kalau semalam kami keluar bersama dan baru kembali pagi hari, aku kira kau mencurigai adanya hal yang tidak-tidak di antara kami. Syukurlah ternyata bukan." ucap Chelsea dengan senyum canggung, dia malu karena telah salah sangka.


"Apa cuma itu yang mau kau sampaikan?" tanya Nisa dengan ekspresi datar.

__ADS_1


"Iya, cuma itu."


Tanpa berkata apa pun lagi Nisa berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju ke kamar. Sedangkan Chelsea, dia masih berdiam diri di sana dan menatap Nisa dengan tatapan heran.


"Hmm, orang seperti apa dia sebenarnya? Padahal Natasha pernah bercerita kalau dia itu menyebalkan sampai-sampai mereka bermusuhan. Katanya dia akan marah-marah tidak jelas saat dulu pacarnya didekati orang lain. Tapi sekarang, dia biasa saja saat suaminya keluar semalam dengan wanita lain."


"Ah, sudahlah! Aku harus ke kantor, sudah berhari-hari aku menunda pekerjaanku. Jika aku terus-terusan begini maka ayah bisa marah."


***


Beberapa saat setelahnya, Nisa yang berada di kamar telah berganti baju dan tampak siap untuk keluar rumah. Saat itu juga tiba-tiba pintu kamar di buka oleh Keyran.


"Kau mau ke mana?" tanya Keyran.


"Kuliah. Ini sudah memasuki semester akhir, jadi aku akan sibuk." jawab Nisa tanpa menatap Keyran.


"Tunggu sebentar, aku punya sesuatu untukmu."


"Apa?"


Keyran tidak menjawab, dia langsung mendekat ke arah Nisa. Dia lalu mengeluarkan sesuatu yang berbentuk kotak berwarna merah, dari kotak itu dia mengambil sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati yang sangat cantik.


Nisa sedikit kebingungan dengan sikap Keyran yang tiba-tiba ini. Bahkan dia tak berkata apa-apa saat Keyran memasangkan kalung itu di lehernya.


"Kalau kau menganggapku sebagai suamimu, jangan pernah lepaskan kalung ini tanpa seizinku!" ucap Keyran penuh penekanan.


Sejenak Nisa tertegun, lalu dengan senyuman yang tipis dia berkata, "Kalung yang cantik, terima kasih ..."


Berbeda, satu kata itu cukup untuk menggambarkan sikap Nisa saat ini. Jika itu Nisa yang dulu, dia pasti akan melompat kegirangan dan menghujani Keyran dengan ciuman. Tapi sekarang berbeda, bahkan sebelum berangkat kuliah dan keluar dari kamar, dia tidak berpamitan dan langsung berjalan melewati Keyran begitu saja.


Sedangkan Keyran, dia tak berusaha mencegat Nisa dan hanya menghela napas sampai bayangan punggung Nisa tak lagi terlihat. "Hahh ... bukan ini yang aku hadapkan darimu Nisa."


Tapi, aku juga tidak berharap yang lebih. Kalung itu ... bukan sepenuhnya niatku yang tulus untuk menghadiahkan kepadamu. Aku menyuruh orang untuk mengutak-atik kalung itu, dan menaruh chip pelacak di dalam liontin itu.


Maafkan aku yang masih tak bisa sepenuhnya percaya terhadapmu. Karena aku tahu, menyuruh orang untuk mengawasimu pun akan percuma. Tapi jika tidak begini, aku tak akan tahu ke mana saja kau pergi. Aku melakukan ini semua juga karena demi dirimu.


Andai saja aku bisa mengurungmu, tapi jika aku begitu kau pasti akan membenciku. Maaf, aku melindungimu dengan cara seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2