Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Hari yang Sibuk


__ADS_3

Akhirnya acara pertunangan selesai, semua tamu juga sudah pulang. Semua keluarga Nisa dan keluarga Keyran berkumpul untuk berpamitan.


"Kami sekeluarga mengucapkan banyak terima kasih atas berjalan lancarnya acara ini. Dan kami pamit undur diri...." Ucap ayah sambil berjabat tangan dengan Tuan Muchtar.


"Haha, kita ini besan, jadi tidak perlu sungkan, itu memang sudah seharusnya!" Ucap Tuan Muchtar.


"Kalian bertiga juga cepat pamitan sana..." Ucap ibu dengan lirih.


"Iya ibu..." Jawab Nisa, Reihan, Dimas bersamaan.


Saat keluarga Nisa secara bergantian bersalaman dengan keluarga Keyran terjadilah ketegangan. Yang pertama Reihan dengan Daniel, lalu ibu dengan Nyonya Ratna, dan yang terakhir Nisa dengan Keyran. Nisa menatap Keyran dengan penuh kebencian, sementara Keyran malah menganggap seolah tidak terjadi apa-apa.


"Paman... maksudku ayah mertua, aku pamit!" Ucap Nisa pada Tuan Muchtar.


"Apa menantuku akan pulang?" Ucap Tuan Muchtar seakan tidak rela.


"Tentu saja, acaranya kan sudah selesai. Jadi aku harus pulang..." Nisa menarik tangannya yang dipegang oleh Tuan Muchtar.


Orang tua ini maunya apa sih!? Rasa perhatian ke calon menantunya terlalu berlebihan!


"Menantuku bisa menginap disini, dan kau juga bisa tidur di kamar Keyran! Hm? Mau kan?" Tuan Muchtar melirik ke arah keyran.


"....." Keyran diam dan memalingkan wajahnya.


"I-itu nggak perlu! Sebaiknya aku pulang saja!" Ucap Nisa dengan canggung.


"Aiyo~ jangan malu-malu.... Kalian nanti bisa tidur di ranjang yang sama loh! Bukankah tadi kalian juga sudah melakukannya~" Ucap Tuan Muchtar dengan penuh semangat.


"S-soal itu.... cuma salah paham! Di antara kami nggak ada hal yang seperti itu!" Teriak Nisa dengan panik.


"Kalau begitu, bekas yang ada di bibir putraku itu apa? Menantuku, akui saja~ Aku paham anak muda seperti kalian, jangan malu~"


"I-itu.... entahlah! Aku nggak tahu..." Nisa lalu melotot ke arah keyran.


"Hng! Masih pura-pura tidak tahu! Mengaku saja, kau telah menggigitku!" Ucap Keyran seakan tanpa beban.


"Hah!?"


Mereka semua langsung kaget setelah mendengar ucapan dari Keyran. Semua orang terdiam dan hanya melihat ke arah Nisa.


"Menantuku~ putraku sudah mengakuinya loh~ Menginap saja disini" Ucap Tuan Muchtar.


"...."


Kenapa si brengsek nggak bisa di ajak kerja sama sih! Habislah aku! Habislah aku!


"Cukup! Aku hargai tawaranmu tuan. Tapi, jangan memaksa putriku! Mereka masih belum menikah secara sah, hal seperti ini kurang pantas!" Ucap ayah dengan tegas.


"Baiklah, karena ayahmu tidak memberi izin. Aku tidak akan memaksamu lagi, kau bisa pulang...." Ucap Tuan Muchtar dengan penuh kekecewaan.


"A-ayah mertua.... terima kasih atas pengertiannya, aku pamit...." Nisa berlari keluar secepat mungkin.


Untung ada ayah! Ayah memang pahlawanku!


Semua keluarga Nisa akhirnya pulang, tapi saat mereka semua naik ke mobil, mereka merasa heran karena yang menyetir adalah ibu.


"Tumben ibu yang menyetir, kenapa nggak ayah?" Tanya Dimas.


"Ayah terlalu banyak minum, makanya ibu yang menyetir. Memang ya, kelakuan anak itu turun dari ayahnya! Ibu tahu kalau kalian juga ikutan minum, apalagi kau Nisa! Jadi cewek kok banyak minum minuman beralkohol, itu nggak baik! Apalagi kau itu jadi contoh buat adik-adikmu!" Ucap ibu.


"Yeee.... ibu kalau mau ceramah di belakang aja, biar aku yang nyetir! Ibu bawa mobil kayak kura-kura sih!" Sahut Nisa.


"Oke~ Kau nggak terima ya... Turun sana! Menginap saja di rumah calon suamimu!" Teriak ibu.


"Terima! Aku terima kok.... Ibu benar, keselamatan nomor satu! Jangan pedulikan aku yang maha salah ini!"


"Hmph! Semoga saja nanti suamimu itu nggak jadi gila gara-gara kelakuanmu!" Gerutu ibu sambil menancap gas.


Jalan yang mereka lewati cukup sepi, suasana di dalam mobil pun juga hening. Seolah tidak tahan dengan suasana itu, Reihan mulai mencari masalah.


"Semuanya, aku punya berita menarik loh~" Ucap Reihan.


"Apa?" Semua bertanya kecuali ayah, karena ayah mengantuk.


"Ini masalah serius loh, dengerin ya.... Tadi kak Nisa nyuruh aku buat teh karena sakitnya kambuh, aku tuh panik banget! Nah, pas udah jadi, aku buru-buru kasih ke kakak. Waktu aku sampai, ternyata... Kak Nisa sedang ciuman sama kakak ipar! Bukan cuma itu aja, kak Nisa juga cuma pakai pakaian dalam loh~ Untung aja aku datang, kalau nggak.... mereka pasti wik wik wik ah ah!"


Plak....!


"Sembarangan! Wik wik gundulmu! Gue kira itu lo! Makanya gue suruh bantuin buat lepasin baju! Gue nggak tahu kalau itu dia!" Teriak Nisa sambil menampar wajah Reihan.


"Sakit woi...! Lagian yang gue bilang juga bener kok! Waktu itu lo beneran ciuman kan!" Teriak Reihan seakan tidak terima.


"Nisa, meskipun dia akan menjadi suamimu, kau terlalu terburu-buru!" Sahut ayah yang seketika kembali sadar.


"Ayahh...! Aku beneran nggak punya niat begituan sama dia!" Ucap Nisa.

__ADS_1


"Heh! Nggak niat apanya!? Lalu soal ciuman itu apa?"


"S-soal ciuman itu.... dia yang memaksanya padaku! Aku saat itu nggak bisa menolaknya karena dia memegang tanganku dan sakitku juga kambuh, jadi nggak ada tenaga buat ngelawan dia! Untung aja Reihan datang, kalau nggak pasti aku sudah menendang burungnya itu!"


"Apa kau bodoh? Kau ingin merusak kebahagiaanmu sendiri!" Sahut ibu.


"Huh! Aku nggak masalah dia jadi impoten! Lagian aku juga nggak suka sama dia!"


"Oke, kau sudah menjelaskan saat kepergok Reihan. Lalu bagaimana saat kau kepergok oleh Dimas?" Tanya ayah.


"Saat itu dia cuma memojokkan dan bicara sedikit padaku! Nggak lebih dari itu! Ayah sama ibu jangan percaya sama dua kecebong ini!"


"Ya... ya... percaya kok!" Ucap ayah.


"Iya-nya sekali aja dong! Seharusnya tadi ayah saja yang menjemputku, kalau gitu kan nggak salah paham begini!"


"Idihh... udah bagus ayah masih mau datang, kok malah ngelunjak sih! Emangnya kak Nisa nggak merasa bersalah apa udah nantangin sama ngatain ayah?" Sahut Reihan.


"Tentu aja ayah pasti datang, tadi kan cuma main-main. Lo aja yang nggak tahu! Gila ya aku nantangin ayah, bisa-bisa aku dicoret dari KK!"


"Hah!? Cuma main-main? Sejak kapan? Apa cuma aku yang nggak tahu?"


"Tepat!" Ucap semua orang kecuali Reihan.


"What!? Emangnya kak Nisa mau apa sampai pura-pura nantangin ayah?"


"Aku ngelakuin itu semua tuh buat bikin si brengsek itu ilfeel sama aku, kalau ilfeel kan mungkin dia nggak jadi nikah sama aku. Masa gitu aja nggak tahu! Apa otakmu itu terbuat dari rumput laut?"


"Sembarangan! Otakku ini ciptaan Tuhan, bukan agar-agar! Tapi, kalau kak Nisa sama ayah beneran berantem kira-kira yang menang siapa?"


"Pasti ayah lah! Kalau aku beneran berantem sama ayah, aku juga bakalan ngalah! Gila ya aku mukulin orang tua sendiri! Kalau ngomong tuh dipikir!"


"Ya deh. Tapi bisa nggak sih jangan hina otakku terus!? Kak Nisa, lo itu cuma sedikit lebih pintar dari orang lain, kenapa terus ngerendahin sih!?"


"Cih! Lo pantas direndahin! Isi otakmu itu cuma cewek, makan, cewek, tidur, cewek lagi, cewek teroooossssss! Lo pikir gue nggak tahu apa? Lo bikin teh lama itu karena sekalian godain cewek-cewek kan! Sadar dong fakboy!"


"Yeee.... gue fakboy itu turunan dari ayah!"


"Loh! Kenapa ayah dibawa-bawa!?" Teriak ayah.


"Ya iyalah! Waktu muda dulu kan ayah juga fakboy! Bahkan kalau dihitung, jumlah mantan ayah jauh lebih banyak dari aku!" Ucap Reihan.


"Woiii! Jangan bahas itu sekarang! Disini ada..."


"Ooooh, ibu membela Dimas ya?" Tanya Nisa.


"Ya, meskipun dia dari tadi terus main hp, tapi dia nggak berisik!"


Nisa tiba-tiba merebut handphone yang dipegang Dimas "Nih! Lihat! Dia dari tadi diam itu karena sedang nonton bok*p! Kecebong yang satu ini terlihat alim, tapi dia itu sebenarnya mesum!"


"Kembalikan!" Dimas merebut handphonenya kembali.


"Ya ampun.... ibu nggak mengira ternyata Dimas begitu!"


"Heh! Emangnya yang kalian bahas tadi nggak mesum apa!? Kakak ciuman lah, gigit bibir lah, cuma pakai pakaian dalam lah, kita ini sama aja! Emangnya kalian semua nggak pernah nonton video porno!? Kalian semua juga pernah kan! Seolah-olah cuma aku yang mesum, padahal kak Nisa sendiri yang hampir begituan!" Teriak Dimas seakan tidak terima.


"....."


"Nah, diem kan!!" Ucap Dimas.


Setelah melalui perdebatan yang cukup melelahkan, mereka semua langsung mencari kesibukan sendiri-sendiri. Tapi, tiba-tiba ibu memberhentikan mobilnya.


"Eh!? Kenapa berhenti?" Tanya Reihan.


"Ssstt! Ada polisi!"


Beberapa orang polisi kemudian mendekat dan menyuruh ibu untuk menurunkan kaca mobil.


"Selamat malam nyonya!" Ucap salah satu polisi.


"Ya, pak polisi. Ada apa ya?" Tanya ibu.


"Ada apa? Ada apa? Jalanan kota ini dibuat resah oleh orang seperti kalian! Nyonya tidak mengendarai mobil dengan lurus! Aku menebak pasti orang yang menyetir sedang mabuk! Tapi yang kutemukan malah satu keluarga pemabuk! Bukan hanya itu, selain nyonya, mereka semua juga tidak mengenakan sabuk pengaman! Cepat turun kalian semua! Ikut kami ke kantor polisi!"


"Pak polisi tilang saja saya, saya tidak mengemudi dengan lurus itu karena mereka! Kalau mau bawa, bawa saja mereka semua! Yang minum mereka semua, saya sama sekali tidak minum alkohol kok pak!" Ucap ibu.


"Jangan banyak alasan! Nyonya juga ikut kami!" Paksa polisi.


Akhirnya mereka semua pun langsung ikut ke kantor polisi. Saat mereka sampai, mereka semua diperlakukan selayaknya seorang pemabuk. Polisi tidak membiarkan mereka pulang sebelum mereka semua sadar. Tapi, keluarga Nisa malah hanya saling memandang satu sama lain.


"Kak Nisa, gimana nih? Apa kita beneran bermalam di kantor polisi?" Tanya Dimas.


"Nikmatin aja lah, lagian pelayanan disini juga kayak hotel bintang lima!" Ucap Nisa dengan santai.


"Bintang lima apanya, ini mah minus lima! Aku nggak mau tidur disini! Kak Nisa, lakuin sesuatu dong kak!" Sahut Reihan.

__ADS_1


"Tsk! Lakuin apa!? Kita emang bau alkohol, tentu aja polisi ngira kita ini pemabuk. Lagian kita juga minum alkohol! Udah, terima aja!"


"Hng! Ini semua gara-gara acara pertunangan kakak! Pikirkan cara dong kak, kakak harus tanggung jawab!"


"Hadehh.... ini juga lagi mikir woi! Sabar dikit ngapa!"


Sialan! Sekarang aku harus apa? Bener apa kata Reihan, ini semua gara-gara acara pertunangan sialan itu! Tunggu dulu.... sepertinya aku punya cara!


"Reihan, pinjem hp dong!"


"Hah!? Buat apa?" Tanya Reihan.


"Cepetan!"


"Nih!" Menyerahkan handphonenya ke Nisa.


Hemm.... mana sih? Yes, akhirnya ada juga!


"Aku udah punya cara! Tapi, nggak tahu bakalan berhasil atau nggak. Cuma bisa bertaruh!"


"Hah!? Emangnya di hp ku ada apa?" Tanya Reihan dengan wajah bingung.


"Hehe, ada ini!" Sambil menunjukkan ke arah Reihan.


"Ini.... foto kakak waktu tukar cincin tadi. Emangnya buat apa?"


"Ini berguna kok, nanti lo tinggal manas-manasin aja!"


"Itu mah gampang!"


"Nisa, hal gila apa yang akan kau lakukan?" Tanya ayah.


"Ayah tenang aja deh! Ini cara yang paling efektif!"


"Terserah! Lakukan semaumu!" Ucap ayah acuh tak acuh.


Nisa mengambil napas panjang dan berteriak "Polisi! Pak polisi! Cepat kemari!"


Beberapa polisi kemudian berlari secepat mungkin ke arah Nisa.


"Ada apa? Kenapa berteriak?"


"Kalian para polisi cepat biarkan keluargaku pergi! Apa kalian tahu aku ini siapa!? Aku ini menantu dari keluarga Kartawijaya!" Teriak Nisa dengan percaya diri.


"Hahaha! Kau sepertinya terlalu mabuk sampai berpikir seperti itu! Kami tidak percaya dengan omongan gadis biasa sepertimu!" Ucap salah satu polisi.


Yes, sepertinya polisi-polisi ini kenal dengan keluarga si brengsek itu!


"Hmph! Aku bahkan bisa menelepon calon suamiku sekarang!" Ucap Nisa dengan serius.


Ini salahmu Keyran brengsek! Tadi kau bilang kalau aku akan menyeret namamu, maka akan aku gunakan sekarang!


"Hahaha, kami tidak percaya! Kalau gadis sepertimu benar-benar menantu keluarga Kartawijaya, maka kami semua akan berlutut dan membasuh kakimu!" Ucap polisi sambil menatap Nisa dengan tatapan merendahkan.


"Kalian masih nggak percaya! Kalau begitu aku akan menelepon ayah mertuaku, Tuan Besar Kartawijaya!" Teriak Nisa.


"Iya! Tuan besar sangat sayang pada kakakku loh! Kalau dia datang pasti akan memecat kalian semua!" Sahut Reihan.


"Hei, remaja liar! Kau ternyata juga mabuk sama seperti kakakmu ya! Jangan harap kalian bisa menipu para polisi seperti kami! Tipuan seperti ini kami sering menjumpainya!" Ucap Polisi dengan nada kasar.


"Huh! Kalian yang memaksaku! Reihan, tunjukkan buktinya!"


"Nih! Lihat dengan mata kalian!" Reihan menunjukkan foto saat Nisa dan Keyran bertukar cincin.


"Ini.... tidak mungkin! Pasti foto ini diedit!" Ucap salah satu polisi seakan tidak percaya.


"Oh, masih belum percaya ya? Reihan, tunjukkan yang lainnya!"


"Ini! Aku ada videonya!" Sahut Dimas.


Para polisi lalu melihat video yang ditunjukkan oleh Dimas. Seakan tidak percaya, polisi itu hanya ternganga melihat ke arah Nisa.


"Masih belum berlutut! Aku telpon ayah mertuaku!" Nisa mengambil handphonenya dan bersiap untuk menelepon.


Brukkk...!


Para polisi itu langsung berlutut dan memohon pada Nisa.


"Jangan! Maafkan kami nona besar! Kami buta tidak mengenali nona! Tolong jangan menghubungi suami ataupun ayah mertua nona! Kami memohon belas kasihan nona.... kami pasti juga akan membasuh kaki nona... "


"Oke! Aku maafkan kalian, kalian juga nggak perlu membasuh kakiku! Semuanya, ayo kita pulang!" Nisa berjalan keluar dari kantor polisi dengan gaya yang angkuh.


Gilaaa! Mereka semua benar-benar takut kalau aku menelepon. Padahal nomornya si brengsek atau orang tua itu aku juga nggak punya! Hng! Sepertinya aku telah meremehkan pengaruh keluarga mereka!


Nisa dan keluarganya akhirnya pulang, itu juga pengalaman baru untuk mereka. Dan itu juga menjadi penutup untuk hari pertunangan yang melelahkan.

__ADS_1


__ADS_2