
Pagi hari tiba, saat Keyran terbangun dari tidurnya dia melihat hal yang menurutnya tidaklah wajar. Dia melihat Nisa yang tengah sibuk mengepak barang-barangnya ke dalam koper.
"Eh!? Kau sudah bangun, selamat pagi Key..." ucap Nisa dengan senyum lembut.
"..." untuk beberapa saat Keyran terdiam lalu menampar wajahnya sendiri, "Sakit juga, ternyata ini bukan mimpi." gumam Keyran.
"Haha, tentu saja ini bukan mimpi." Nisa lalu menuntun Keyran untuk turun dari ranjang kemudian dia memperlihatkan isi koper kepadanya. "Nah, semua ini adalah barang-barangmu yang telah aku persiapkan. Kalau ada yang kurang bilang saja padaku, nanti aku akan mengemasnya juga."
"Tunggu sebentar," Keyran lalu menyentuh dahi Nisa. "Tidak panas, sekarang ini berapa?" tanyanya sambil menunjukkan jarinya pada Nisa.
"3"
"Kau tidak sakit juga tidak bodoh." Keyran tiba-tiba mencengkeram pundak Nisa serta mendekatkan wajahnya. "Siapa kau?" tanyanya dengan tatapan curiga.
"Aku Nisa, istrimu." Nisa lalu melepaskan cengkeraman tangan Keyran dari pundaknya, "Sebaiknya kau cuci muka dulu, masa nggak kenal istri sendiri sih?"
"Kalau kau benar-benar Nisa, maka buktikan!"
"Hadehh... iya aku buktikan. Namaku Nisa Sania Siwidharma, umur 19 tahun, tinggi 165 cm, berat badan 48 kg, ukuran pakaian dalam kau tahu sendiri. Makanan favorit makanan gratis, hobi rebahan, bidang keahlian mancing masalah, dan yang terakhir aku ini otaku."
"Ternyata kau benar-benar istriku. Tapi, kenapa hari ini kau seperti orang lain?"
"Orang lain apanya? Aku itu memang seperti ini. Aku melakukan ini karena tugasku sebagai istrimu, jadi lihatlah dulu apakah ada barang-barangmu yang kurang?" tanya Nisa dengan nada malas.
"Oke, aku cek dulu." Keyran lalu mengecek barangnya dan setelah itu dia tiba-tiba menepuk kepala Nisa. "Bagus, semuanya lengkap. Tapi, aku sedikit penasaran. Bagaimana kau bisa tahu apa saja yang aku butuhkan?"
"Aku belajar dari ibuku, sejak dulu aku selalu disuruh untuk menyiapkan keperluan ayahku. Ibuku bilang anak perempuan harus tahu hal seperti ini. Lalu sekarang..." Nisa lalu menarik tangan Keyran dan menyeretnya ke kamar mandi. "Cepat mandi! Kau nggak mau ketinggalan pesawat kan?"
"Ketinggalan pesawat? Aku beritahu ya, aku pakai pesawat pribadi. Jadi, aku bisa berangkat semauku. Kau terlalu khawatir padaku..." ejek Keyran.
"S-siapa yang khawatir padamu!? Meskipun kau pakai pesawat pribadi, tapi tetap saja nggak baik menunda pekerjaan!"
Huh! Dasar orang kaya, pasti sengaja pamer punya pesawat sendiri.
"Oh, sekarang kau juga khawatir tentang pekerjaanku~"
"Aku nggak khawatir padamu ataupun pekerjaanmu! Terserah kau mau apa!" Nisa lalu beranjak ingin pergi, tapi saat itu juga Keyran langsung menarik tangannya. "Apa lagi!?" tanya Nisa tanpa menoleh.
"Hei, ngomong-ngomong..." Keyran lalu mendekat dan kemudian berbisik, "Apa kau sendiri sudah mandi?"
"Tentu saja sudah!" teriak Nisa sambil menjauh dari Keyran, "Kau mandi saja sendiri!!" Nisa lalu bergegas pergi.
Braak!! suara bantingan pintu.
"Haha, lucu juga. Pasti dia berpikir kalau aku ingin mengajaknya mandi bersama, mempermainkan gadis kurang ajar itu ternyata seru juga. Mungkin, aku tidak akan menyesal sudah menikah dengannya."
Tapi, jika saja dia setuju untuk mandi bersama... aku juga tidak keberatan. Selama dia itu gadis normal, pasti secepatnya dia akan takluk kepadaku.
Tak lama kemudian Keyran selesai mandi. Saat keluar kamar mandi dia dikejutkan oleh Nisa yang masih menunggunya sedang duduk di atas ranjang.
"Apa kau menungguku?" tanya Keyran dengan wajah bingung.
"Iya, aku menunggumu." Nisa lalu menyilangkan kakinya, "Menunggumu untuk turun dan sarapan bersama."
"Kau sarapan saja dulu, tidak perlu menungguku!" ucap Keyran acuh tak acuh.
"Hei hei, kenapa begitu? Kita ini suami istri, kita juga serumah, jadi kita juga harus sarapan bersama. Key, intinya kita ini keluarga, sebisa mungkin kita harus membuat keluarga menjadi harmonis." ucap Nisa sambil tersenyum.
Keyran hanya termenung setelah mendengar perkataan dari Nisa. Melihat hal itu Nisa langsung mendekatinya lalu melambai-lambaikan tangan di depan wajahnya.
"Key... Keyran..." Nisa terus melambaikan tangannya, tapi Keyran belum juga merespon. "Hei, apa kau kerasukan!?" teriak Nisa.
"Kau..." Keyran tiba-tiba tersadar lalu menangkap tangan Nisa, "Kenapa belum menyiapkan bajuku?"
"Eh!? Baiklah, segera aku siapkan." jawab Nisa dengan wajah bingung.
Aku pikir ada apa, ternyata cuma masalah baju.
"Kenapa masih diam saja?"
"Lepaskan dulu tanganmu dariku," seketika Keyran melepaskan genggaman tangannya. Setelah itu, Nisa langsung bergegas membuka lemari. "Hmmm, hari ini adalah hari Senin, sebaiknya pakai kemeja putih dan jas abu-abu."
"Memangnya apa hubungan warna putih dengan hari senin?"
"Entahlah, aku cuma mengarangnya." Nisa lalu meletakkan pakaian yang dia pilih ke atas ranjang. "Nah, aku sudah mengambilkan baju untukmu. Sekarang cepat pakai!" teriak Nisa pada Keyran, tapi Keyran malah hanya diam. "Hei, apa lagi? Apa kau juga ingin aku memakaikan baju padamu?" tanya Nisa dengan nada malas.
"Boleh." jawab Keyran secara spontan.
"WTF! Aku cuma bercanda loh!"
"Terus kenapa? Kau sendiri yang menawarkannya padaku, ini juga suatu kehormatan untukmu~" ucap Keyran dengan senyum jahat sambil menyilangkan tangannya dengan percaya diri.
"Aku nggak mau! Kedua tanganmu masih lengkap, kau pakai saja sendiri! Aku nggak jadi menunggumu, aku mau sarapan sendiri!!" teriak Nisa sambil berjalan keluar dari kamar.
Braak!!
"Haha, temperamen istriku buruk sekali~ sepertinya aku akan segera memanggil tukang untuk memperbaiki pintu."
Lalu, tadi itu... untuk pertama kalinya aku mendengar kalimat seperti itu. Kau bilang keluarga harus selalu harmonis, menurutku sepertinya itu akan sulit. Latar belakang kita cukup berbeda, mungkin keluargamu sejak awal memang harmonis, dan itu sangat berbeda dengan keluargaku.
__ADS_1
Saat Nisa tiba di ruang makan, dia dikejutkan oleh kedatangan ayah mertuanya yang sudah menunggunya cukup lama. Seketika saat itu juga dia langsung mengucapkan salam serta mencium tangan ayah mertuanya. Tuan Muchtar merasa sangat bahagia ketika dia mendapat perlakuan seperti itu dari menantunya. Setelah itu, Nisa kemudian memilih untuk duduk sedikit berjauhan dengan Tuan Muchtar, dia melakukannya karena merasa canggung saat pertama kali bertemu dengan mertuanya setelah menikah. Tetapi, Tuan Muchtar malah terus menatap Nisa sambil tersenyum.
"Njiirrr... orang tua ini kenapa senyum-senyum nggak jelas begitu sih? Mau ngobrol bingung nyari topik, mau makan duluan juga sungkan. Keyran... aku mohon cepatlah datang! Sumpah demi alex ini canggung bangeeeet!!" ucap Nisa dalam hati sambil terus menghindari pandangan dari ayah mertuanya.
Tak lama kemudian datanglah Keyran, dia juga sedikit kaget saat tahu kalau ayahnya datang berkunjung. Lalu tanpa mengatakan apa pun Keyran langsung memilih untuk duduk di sebelah Nisa.
"Kenapa ayah tidak memberitahuku dulu kalau datang kemari?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.
"Ckck... seperti inikah sikapmu padaku? Aku ini ayahmu sendiri, aku tidak perlu meminta izinmu untuk bertemu denganmu." ucap Tuan Muchtar sambil menggelengkan kepala. "Lagipula, cuma kau yang keberatan. Benar kan menantuku?" tanyanya sambil melirik ke arah Nisa.
"I-iya..." jawab Nisa sambil menganggukkan kepala.
Uuhh... kenapa bawa-bawa aku sih?
"Nah, kau lihat sendiri kan? Istrimu saja tidak keberatan aku datang berkunjung, tapi kau yang putraku sendiri malah seperti ini kepadaku." gerutu Tuan Muchtar.
"Kalau ayah kemari hanya untuk mengeluh, sebaiknya ayah pergi saja! Aku sama sekali tidak mengharapkan kedatangan ayah!!" bentak Keyran.
"Siapa bilang aku kemari hanya untuk mengeluh? Aku kemari karena ingin melihat keadaan menantuku yang manis~ dan juga sekalian mampir sarapan. Apa kau juga melarangku tentang hal itu!?" ucap Tuan Muchtar seakan tidak terima.
"Iya, aku akan tetap melarang ayah! Pergilah dan sarapan saja di rumah ayah sendiri!! Apa semua pelayan di rumah ayah malas? Kenapa hanya untuk sarapan saja sampai datang kemari!?"
"Hng! Dasar anak kurang ajar! Kau pelit sekali, bahkan ayahmu sendiri ingin sarapan di rumahmu saja tidak boleh. Sekarang aku sudah kehilangan selera untuk memakan masakan di atas meja ini!"
"Aku tidak peduli kalau ayah hilang selera, toh masakan ini juga dibuat bukan untuk ayah. Ayah juga sudah melihat istriku, sekarang ayah bisa pergi!"
"Heh! Pergi katamu? Aku hanya akan pergi setelah selesai sarapan. Dan tentu saja aku juga tidak sudi memakan masakan ini. Tapi, aku masih bisa memakan masakan lain." Tuan Muchtar lalu melirik ke arah Nisa, "Menantuku, kau bisa memasak kan?"
"B-bisa sih..." jawab Nisa.
"Bagus, kalau begitu kau buatkan makanan untukku! Apa pun yang kau masak pasti akan aku makan." bujuk Tuan Muchtar.
"Anu... tapi masakanku belum bisa seenak buatannya bibi Rinn, sebaiknya ayah mertua makan saja dengan tenang, dan jangan pedulikan ucapan Keyran." Nisa lalu melirik ke arah Keyran.
"Nah, ayah lihat sendiri kan? Bahkan menantu kesayangan ayah juga tidak suka pada ayah. Sebaiknya ayah cepatlah pergi!" Keyran lalu menyeringai.
"Apa itu benar? Kau juga tidak suka padaku?" tanya Tuan Muchtar seakan terdengar kecewa.
"B-bukan begitu! Aku suka kok dengan ayah mertua. Yang aku maksud itu, aku hanya nggak ingin ayah mertua kecewa dengan masakanku. Aku hanya bisa memasak makanan rumahan yang sederhana." Nisa lalu menatap Keyran dengan tatapan sinis.
Sialan, aku melirik padamu karena ingin kau minta maaf ke ayahmu. Bukannya malah membeberkan kalau aku nggak suka padanya! Nggak peka banget sih jadi orang!
"Terserah..." Keyran lalu memalingkan wajahnya seakan tidak peduli.
"Oh, ternyata begitu. Untunglah menantuku suka padaku. Sekarang cepat buatkan sarapan untukku ya~ pastikan minyaknya sedikit, soalnya ayah mertuamu ini sudah tua..." ucap Tuan Muchtar sambil tersenyum.
"Baik..." jawab Nisa dengan senyum terpaksa.
Nisa kemudian pergi ke dapur dan meninggalkan kedua ayah dan anak itu. Namun, tak lama kemudian Tuan Muchtar tiba-tiba merubah sikapnya dan bergeser mendekat ke arah Keyran yang tengah memakan sarapannya.
"Hei, semalam kau pakai teknik apa? Anak perempuan atau laki-laki?" ucap Tuan Muchtar dengan lirih.
Braak!! suara gebrakan meja.
"Hal bodoh apa yang ayah bicarakan!? Itu urusanku sendiri, ayah jangan ikut campur!" ucap Keyran dengan tatapan seolah-olah ingin membunuh orang.
"Huft... ayah tahu kalau itu privasimu. Tapi, segera berikan hasilnya! Aku sudah sangat tidak sabar ingin cepat-cepat menggendong cucu. Cepatlah buatkan satu untukku!"
"Tsk! Iya iya... nanti aku buatkan!" ucap Keyran dengan nada malas.
"Nanti apanya? Jangan mencoba membodohi ayahmu sendiri! Aku tahu kalau kau ingin pergi ke Jerman, sebaiknya kau batalkan saja rencanamu itu! Aku akan suruh Daniel yang menggantikanmu. Kau fokus saja soal membuat cucu untukku! Sebenarnya inilah alasanku datang kemari."
"Aku menolak, aku sama sekali tidak percaya pada Daniel. Ini keputusanku, titik!!"
"Hng! Padahal aku sudah mulai membuat proyek taman bermain untuk cucuku, akan ada ayunan, perosotan, jungkat-jungkit dan masih banyak lagi! Pasti nanti cucuku akan sangat senang punya kakek sepertiku!" ucap Tuan Muchtar dengan antusias.
"Ayah, kau terlalu berlebihan..."
Mengerikan, aku baru seminggu menikah tapi ayah sudah punya rencana gila seperti itu. Kalaupun aku punya anak, pasti setelah itu ayah akan terus memaksaku untuk buat yang kedua, ketiga, bahkan mungkin menyuruhku untuk membuat satu tim sepak bola untuknya.
"Berlebihan? Untuk cucuku aku bisa berikan segalanya!!" ucap Tuan Muchtar dengan suara lantang.
"Hah... terserah ayah saja," ucap Keyran sambil menyentuh keningnya.
Tak lama kemudian datanglah Nisa sambil membawa hidangan yang telah dia buat. Lalu dengan percaya diri dia menyuguhkan hidangan itu kepada ayah mertuanya.
"Ayah mertua, aku membuat omelet untukmu, silakan dinikmati..." ucap Nisa sambil tersenyum.
"Baiklah, terima kasih ya menantuku~" jawab Tuan Muchtar.
Saat Tuan Muchtar menyantap omelet yang dibuat oleh Nisa, dia langsung termenung dan raut wajahnya seketika berubah menjadi murung.
"Menantuku, apa omelet ini sungguh buatanmu?" tanya Tuan Muchtar seakan tidak percaya.
"Benar, aku membuatnya sendiri. Apakah ayah mertua puas dengan omelet buatanku?"
"Aku puas." Tuan Muchtar lalu tiba-tiba berdiri. "Terima kasih atas sarapannya, aku pamit." ucapnya sambil berjalan pergi.
"Tunggu dulu! Kenapa tiba-tiba ayah ingin pergi?" tanya Keyran dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Ayah masih harus pergi ke pemakaman. Kalau kau ingin tahu alasannya, kau rasakan saja omelet buatkan istrimu!" Tuan Muchtar lalu bergegas pergi.
Ya Tuhan... omelet buatan menantuku rasanya sama persis dengan buatan almarhum istriku. Saat mencicipinya tadi aku langsung teringat padanya, sekarang aku harus mengunjunginya.
"Hng! Memangnya alasan seperti apa?" Keyran lalu berniat ingin merasakan omelet buatan Nisa, tapi seketika Nisa langsung menjauhkannya dari Keyran. "Kau kenapa? Cepat berikan padaku! Aku ingin tahu alasan kenapa ayahku pergi!"
"Sebaiknya jangan, a-aku bisa buatkan yang baru untukmu..."
Bahkan ayah mertuaku sampai ingin pergi ke pemakaman. Apa omelet buatanku seburuk itu? Jika Keyran memakan omelet ini, dia pasti akan marah saat tahu rasanya.
"Tidak perlu! Aku mau makan omelet yang ini!" bentak Keyran.
Nisa hanya bisa menurut pada perintah Keyran. Saat mencicipi omelet buatan Nisa, Keyran langsung termenung dan ekspresinya berubah menjadi murung. Setelah itu, Keyran menatap Nisa dengan tatapan seakan tidak percaya.
"Nisa, bagaimana caramu memasak omelet ini?" tanya Keyran.
"Soal itu... Aku memasaknya dengan cara yang biasa." Nisa lalu mengalihkan pandangannya, "A-aku kan sudah bilang sebaiknya jangan dimakan, kalau memang nggak enak, kau muntahkan saja omelet itu."
"Cepat duduk di sebelahku!" ucap Keyran dengan tidak sabar.
"O-oke." Nisa lalu duduk di sebelah Keyran.
Pasrah saja deh... kalau dia marah, aku kan hanya tinggal mendengar saja.
"Ayo makan!" ucap Keyran sambil menyodorkan sesendok omelet pada Nisa.
"Kau mau menyuapiku?"
"Iya, jadi cepat buka mulutmu!" Seketika Nisa lalu membuka mulutnya dan Keyran kemudian menyuapinya, dia juga menunggu Nisa menelan omelet itu. Lalu Keyran berkata, "Bagaimana rasanya?"
"Sausnya sedikit asam, tomatnya kebanyakan. Lain kali pasti akan aku perbaiki, jadi jangan marah ya?"
"Jangan perbaiki lagi, kau harus ingat rasa omelet yang kau buat hari ini! Untuk seterusnya aku ingin setiap hari kau buatkan aku omelet seperti ini!"
"Oh, ternyata ini sesuai dengan seleramu. Tapi, kenapa ayahmu setelah mencicipi omelet ini malah langsung pergi?" tanya Nisa dengan wajah bingung.
"Hmmm, ayahku merindukan seseorang, karena itu dia pergi terburu-buru." Keyran lalu melanjutkan memakan omelet buatan Nisa.
"Key, tadi kau bilang aku harus memasak omelet untukmu setiap hari. Apa itu artinya kau nggak jadi pergi ke Jerman?"
"Aku tetap akan ke Jerman. Tapi kalau kau mau, kau bisa ikut denganku. Anggap saja sebagai liburan, kau juga belum pernah ke Jerman kan?"
"Iya, aku memang belum pernah kesana. Tapi, aku juga nggak mau ikut denganmu. Aku masih harus kuliah, aku punya kesibukan lain disini."
"Kalau begitu kau mau oleh-oleh apa? Parfum disana kualitasnya sangat bagus, souvenirnya juga beragam, apa kau mau?"
"Nggak, aku nggak butuh semua itu. Yang aku butuhkan cuma kau..."
"A-aku!?" Wajah Keyran lalu memerah.
"Iya, cuma kau. Saat pulang nanti kau hanya harus bercerita padaku tentang pengalamanmu di Jerman. Aku hanya ingin tahu Jerman itu seperti apa, aku bisa mengetahuinya kalau kau bercerita padaku."
"Oh, kalau kau hanya ingin tahu Jerman itu seperti apa, kenapa tidak cari saja di internet?"
Aku pikir yang kau butuhkan adalah aku.
"Nggak, aku mau kau yang cerita padaku. Membaca dan mendengar itu berbeda, aku merasa jika mendengarnya langsung dari orang yang pernah pergi kesana itu akan terasa lebih mengagumkan. Seperti itu bisa kan?" tanya Nisa dengan tatapan berharap.
"Baiklah, saat pulang nanti aku akan bercerita padamu." Keyran lalu melihat arloji di tangannya. "Sebentar lagi Valen akan datang dan aku akan berangkat. Apa kau sungguh tidak ingin oleh-oleh apa pun?"
"Iya, sungguh. Tapi aku akan berpesan satu hal padamu, kabari aku kalau sudah sampai!"
"Oke, kau tunggu saja kabar dariku."
Dan tak lama kemudian Valen datang. Setelah Valen datang, Nisa langsung berpamitan dengan Keyran dan kemudian mengantarnya sampai depan rumah. Tapi, saat di perjalanan tiba-tiba ekspresi Keyran berubah.
"Valen!" ucap Keyran dengan serius.
"Iya tuan?" tanya Valen.
"Suruh orang untuk mengawasi istriku selama 24 jam!"
"Eh!? Mengawasi nyonya? Apa tuan khawatir kalau nyonya akan selingkuh?"
"Bukan, aku hanya penasaran sebenarnya istriku itu orang yang seperti apa. Semalam dia bilang kalau dia habis dari DG Club, bahkan dia bisa pulang sendirian dalam keadaan sadar. Orang seperti itu pastilah bukan orang yang sederhana."
"DG Club? Nyonya hebat sekali! Tuan ingin aku mengirim berapa orang untuk mengawasi nyonya?"
"3 orang."
"Baik tuan, akan segera saya laksanakan."
Aku rasa tuan berlebihan. Seharusnya mengirim satu orang yang profesional saja sudah cukup, bahkan jika nyonya bukanlah orang yang sederhana, nyonya tetap saja seorang gadis. Dan mungkin saja nyonya ada hubungannya dengan DG Club itu adalah suatu kebetulan.
"DG Club..." gumam Keyran.
DG Club adalah tempat bagi kaum hedon sejati. Tempat itu bukan seperti club pada umumnya, memang benar tempat itu sudah mendapat izin. Tapi, hanya sedikit orang yang paham betapa buruknya tempat itu.
DG Club kerap menjadi tempat pesta narkoba, prostitusi, juga pernah terjadi pembunuhan disana. Bahkan polisi sudah sekian lama mengawasi tempat itu, tapi tetap saja mereka tidak punya bukti yang cukup untuk menutup club sesat itu.
__ADS_1
Orang yang masuk pada umumnya akan mabuk berat, tapi Nisa malah dengan mudahnya masuk dan pulang dalam keadaan sadar.
Bahkan jika ini kebetulan, seharusnya Nisa merasa sedikit bersalah saat ketahuan pergi ke tempat seperti itu. Tapi, dia malah menganggapnya seolah-olah itu adalah hal yang wajar. Pasti ada yang dia sembunyikan dariku.