Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Perbincangan Bisnis


__ADS_3

Suasana saat ini sangat canggung, bagi Nisa maupun bagi Keyran. Saat ini mereka berdua memang mandi bersama, berendam air hangat di dalam bak mandi yang sama, bahkan juga sama-sama telanjang bulat.


Di bathtub yang berukuran besar itu mereka tidak duduk secara bersebelahan ataupun berhadapan, tetapi Nisa duduk di depan dan memunggungi Keyran yang berada di belakangnya. Ini pertama kalinya mereka saling telanjang setelah sekian lama mereka tidak berhubungan.


"Key ..." panggil Nisa dengan suara lirih.


"Hm?"


"B-bukan apa-apa! Aku cuma iseng mengetes telingamu!" Nisa salah tingkah, dia bermain-main air dengan wajahnya yang memerah.


"Mengetes telinga?"


"I-iya! Aku ini kan memang aneh, abaikan saja aku!"


Seperti itulah percakapan tidak berguna yang pasangan suami istri itu lakukan. Mereka bertingkah malu-malu padahal bukan pengantin baru. Suasana kembali menjadi hening, sungguh momen romantis yang terbuang sia-sia.


Semakin lama Keyran semakin tak tahan lagi dengan keheningan ini. Tiba-tiba dia melingkarkan tangannya di perut Nisa lalu menarik tubuh istrinya itu untuk mendekat kepadanya, mendekat hingga punggung Nisa menyentuh dadanya yang bidang.


"E-eh?!" Nisa terkejut, dia mulai bingung dan gelisah karena perlakuan suaminya itu.


Namun di sisi lain Keyran masih berekspresi santai, dia mengusap kepala Nisa dengan lembut sambil berkata, "Bagaimana harimu?"


"Berjalan dengan baik, seperti biasanya." Nisa tersenyum lalu menyandarkan diri sepenuhnya pada Keyran dengan nyaman. "Asal ada kau, hari-hariku baik-baik saja. Kau sendiri, bagaimana harimu?"


"Tidak ada yang istimewa, aku bekerja, pekerjaan selesai lalu pulang. Yang membuat hariku istimewa tentu saja kau, sekarang pun rasanya sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersamamu."


"Aku juga merasakannya, memang menyenangkan bersamamu."


Keyran menghela napas lalu tersenyum. "Apa kuliahmu berjalan lancar?"


"Iya, semester pendek juga sudah selesai. Karena dilaksanakan selama liburan semester, maka semester pendek cuma berlangsung selama 6 minggu. Dengan begini aku sudah mempercepat masa studi!"


"Hmm, apa kau ada rencana untuk lanjut S2?"


"Tidak, aku sudah lelah dengan yang namanya kuliah. Bahkan sebenarnya aku kuliah karena dipaksa ayahku, ayahku selalu bilang kalau zaman sudah berubah dan kuliah itu penting. Tapi sekarang itu tak terlalu berpengaruh bagiku, aku sudah menikah dan memilikimu sebagai suamiku, tentu saja hal yang paling wajib aku lakukan adalah melayanimu sebagai istri."


"Jadi setelah kau lulus nanti, kau akan tetap di rumah dan fokus mengurusku. Apa kau tak punya rencana lain setelah kau wisuda?" tanya Keyran penasaran.


"Entahlah, itu rumit. Aku kuliah mengambil program studi akuntansi, aku pikir setidaknya gelar sebagai seorang akuntan sangat dibutuhkan untuk mencari pekerjaan. Kalau dipikir, sekarang untuk apa aku bekerja? Aku sudah mempunyai suami super kaya sepertimu. Tapi jika aku tidak bekerja atau setidaknya menghasilkan uangku sendiri, bukannya termasuk sia-sia ayahku membiayai sekolahku?"


"Emm ... Kalau begitu biar aku berikan saran untukmu! Kau lanjutkan saja belajar membuat kue, jika kau konsisten, saat lulus nanti kau bisa membuka toko roti mu sendiri!"


"Sungguh?!" tanya Nisa dengan tatapan berbinar.


"Iya, kau jangan takut untuk mencoba membuka usaha. Jika nanti kau benar-benar berminat, aku sendiri yang akan membantumu dalam permodalan."


"Baiklah! Kata-katamu ini akan selalu aku ingat, pokoknya kau harus menandatangani dan menyetujui proposal yang aku ajukan!"


"Hem, sedikit di luar dari dugaanku. Aku kira kau akan menolak bantuanku dan bersikeras untuk membangun usahamu sendiri. Padahal di luar sana banyak juga yang enggan jika usahanya dibantu oleh keluarganya."


"Kau jangan pernah menyamakan aku dengan orang lain! Mereka mungkin ingin mendirikan usahanya sendiri secara mandiri, tapi aku ini berbeda. Aku sebenarnya juga bisa menolak bantuanmu, tapi jika aku melakukan itu sama saja artinya dengan kebodohan. Kau itu kan suamiku, CEO dari perusahaan terbesar. Dengan aku membiarkanmu membantuku itu artinya aku memanfaatkan semua sumber daya yang aku punya! Jadi kau membantuku itu sah-sah saja."


"Istriku memang pintar~" ucap Keyran sambil tertawa kecil.


"Tentu saja aku pintar, istrinya Keyran!" Nisa terkekeh.


"Kau ini bisa saja ..." Keyran lalu merangkul tubuh Nisa sepenuhnya dan tiba-tiba mencium pipi istrinya itu.


Nisa yang tersipu malu kemudian menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Konyol, kita melakukan hal yang konyol. Bisa-bisanya kita membahas bisnis di kamar mandi."


"Heh, membahas bisnis di ranjang juga tak masalah~" bisik Keyran di telinga Nisa.


"Kau pikir aku wanita macam apa? Aku tidak sudi menjadikan tubuhku sebagai transaksi bisnis. Tubuhku hanya untuk suamiku! Pak CEO jangan coba-coba menggoda saya!" ucap Nisa sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Benarkah? Lalu sekarang suamimu itu di mana?" bisik Keyran lagi di telinga Nisa yang satunya.


"Mungkin sekarang dia sedang di kamar mandi, bermain catur bersama bidadari."


"Pffttt ... jadi menurutmu sekarang kita sedang bermain catur? Dan apa pula bidadari?" Keyran terkekeh.


"Maksudmu aku tak secantik bidadari?" tanya Nisa dengan ekspresi cemberut.


"Bidadari sekalipun kalah jika dibandingkan dengan dirimu." Keyran yang merasa gemas lalu mencubit pipi Nisa.


"Sudahlah Key, ayo bahas hal lain!"


"Hal lain seperti apa?"


"Seperti ... seperti ... Ah, aku baru ingat kalau aku punya mainan baru! Sebentar, akan aku ambilkan!"


Tiba-tiba saja Nisa bangkit, dia mengambil sesuatu yang letaknya tak jauh dari bathtub. Kemudian dia kembali masuk ke dalam bathtub seperti posisi semula.


Keyran terus melihat mainan yang Nisa bawa. "Kau membeli mainan bebek karet? Untuk apa kau membeli mainan untuk anak kecil semacam itu?"


"Ssttt ... diamlah! Kau belum tahu serunya main ini, ini bukan bebek karet sembarangan, tapi ini mesin pembuat gelembung. Perhatikan ini!"


Nisa mengangkat sebelah tangannya yang memegang bebek tersebut, dia menekan bebek itu dan gelembung-gelembung sabun yang jumlahnya banyak tiba-tiba keluar dari mulut bebek karet.


Gelembung-gelembung sabun yang perlahan turun langsung meletup saat terkena air maupun permukaan benda lain. Di sisi lain Nisa yang sudah terlanjur gembira tak henti-hentinya menekan bebek itu meskipun sekarang kamar mandi sudah dipenuhi oleh gelembung sabun.


"Cukup Nisa!" bentak Keyran yang merasa terganggu oleh banyaknya gelembung yang beterbangan di sekitarnya.


"Tapi ini menyenangkan!" Nisa lalu menyodorkan bebek karet itu pada Keyran. "Di dalam bebek ini sudah ada cairan sabun yang bisa diisi ulang, saat bebek mengembang seperti ini udara akan masuk dari lubang. Lalu jika kau meremas bebek ini maka gelembung sabun akan keluar dari mulut bebek! Kau cobalah main, ini sangat mudah, kau hanya tinggal meremasnya!"


"Huft ..." Keyran menghela napas lalu tersenyum nakal sambil berbisik, "Aku lebih suka meremas yang lain~"


"..." seketika Nisa mematung dan diam seribu bahasa. Dia mulai gugup karena paham betul apa maksud sebenarnya dari perkataan suaminya yang mesum itu.


"Key ..." ucap Nisa dengan suara lirih.


"Hm? Kau lanjutkan saja bermain dengan bebek karet mu itu, aku di sini juga sedang bermain dengan caraku sendiri."


Nisa menutup mata rapat-rapat ketika merasakan sensasi guyuran air yang perlahan masih mengalir di punggungnya. Dia menggigit bibirnya sendiri, lalu tiba-tiba meletakkan mainan bebek karet itu di pinggiran bathtub.


"Sepertinya permainanmu lebih menyenangkan." gumam Nisa.


Tiba-tiba saja Keyran berhenti mengguyuri punggung Nisa dengan air. Dia tersenyum lalu menyisir rambutnya sendiri yang basah ke arah belakang. Keyran berganti memainkan rambut panjang Nisa, dia lalu menyibakkan rambut itu dan memberikan sebuah kecupan manja di pundak yang mulus itu.


"Nisa, apakah boleh?" tanya Keyran dengan suara lembut.


"Kenapa ... kenapa kau baru memintanya sekarang? Aku pikir kau sudah tak tertarik lagi padaku."


"Bodoh, mana mungkin aku tak tertarik. Aku baru meminta sekarang karena aku takut menyinggung perasaanmu. Aku tak mau kau melayaniku dengan terpaksa."


Keyran membelai dan mengusap punggung putih polos yang terpampang di hadapannya dengan lembut, sekali lagi dia menyibakkan rambut panjang milik Nisa dan memberikan kecupan di tengkuknya.


"Seperti inilah yang aku inginkan," ucap Keyran dengan nada penuh kehangatan, sontak saja Nisa membalasnya dengan mengangguk pelan.


Keyran tersenyum bahagia karena akhirnya sekarang dia dapat meluapkan hasratnya yang telah lama dia pendam. Dia sangat menikmati momen ini, dia kembali mencium tengkuk Nisa dan semakin lama ciuman itu semakin menjalar ke bawah.


Nisa merasakan jantungnya berdebar lebih cepat dibandingkan biasanya, napasnya juga seakan menjadi lebih berat saat menikmati sensasi yang menggairahkan di punggungnya. Dirinya dapat merasakan hal liar seperti apa yang dilakukan oleh suaminya itu.


Tak cukup hanya dengan mencium, Keyran juga mengisap dan menggigit dengan manja hingga punggung yang mulus itu penuh dengan bekas kecupan berwarna merah. Keyran lalu mengganti aksinya, kedua tangannya yang melingkar di pinggang perlahan bergerak.


Tangan itu membelai dengan lembut berurutan dari yang paling atas. Membelai pipi, turun ke leher dan perlahan bergerak turun menyusuri tulang selangka, lalu menjalar ke bawah hingga menemukan benda lembut nan empuk milik Nisa. Dia teramat sangat menyukai bagian itu dan sangat betah berlama-lama bermain di area sana.


"Ermhh ..." erangan Keyran yang terdengar erotis saat dia menempelkan dagunya di pundak Nisa.

__ADS_1


"Hahh ... haah ..." Nisa terengah-engah, sebelah tangannya yang berpegangan pada pinggiran bathtub juga gemetar. Suhu tubuhnya terasa semakin hangat, bukan karena air hangat yang digunakan untuk berendam, melainkan karena dirinya juga sudah bergairah.


Sebelah tangan Keyran yang satunya lagi diam-diam merayap ke bawah, dengan begitu mudahnya dia lolos menyelipkan tangannya di antara kaki Nisa. Tangan itu mulai bergerak dan terus menyentuh apa pun yang dia temukan.


"A-aahh ... Key ... apa kau sudah memotong kuku?" tanya Nisa yang kini tubuhnya menggeliat pelan.


"Belum, maaf sayang ... Aku akan lebih pelan lagi."


Tangan Keyran yang berada di bawah mulai bergerak. Keyran menggerakkan jarinya dengan perlahan, dia memijat dengan lembut seakan-akan seperti sedang mengukir di sebuah kaca yang berembun.


"Ahnn ... emhh ..." sekali lagi Nisa menggeliat karena hal itu. Namun sesaat setelahnya tiba-tiba dia menahan tangan Keyran yang masih sibuk melakukan tugasnya. "C-cukup ..." pinta Nisa dengan tampang memelas.


Keyran tersenyum lalu menarik tangan yang berada di bawah itu untuk kembali memeluk erat tubuh Nisa. Dia juga mendekatkan kepalanya pada telinga Nisa lalu berbisik, "Apa kau sudah tidak sabar, darling?"


Nisa tak menjawab, bibirnya yang tak tertutup itu terus menghembuskan napas yang panas. Sesaat kemudian tiba-tiba dia memutar tubuhnya menjadi menghadap ke arah Keyran serta duduk di pangkuannya.


Keyran memegangi pinggang istrinya yang ramping itu. Dia tak henti-hentinya memandangi tubuh polos yang terpampang jelas di hadapannya itu. Begitu pula dengan Nisa, sebelah tangannya mengambil sedikit air lalu membasuhkan air tersebut ke dada suaminya yang bidang itu.


Jari-jemari lentik milik Nisa dengan lincah menyusuri setiap jengkal tubuh yang menggoda di depannya. Dada yang bidang, bahu yang lebar, otot lengan yang kekar dan tak ketinggalan juga otot-otot yang mengeras di perut.


Keyran menutup mata, dia menikmati setiap sentuhan sensual yang dilakukan oleh Nisa, dia sangat menyukai jejak kehangatan yang tertinggal di setiap sentuhan itu. Jantungnya berdebar dengan cepat, napasnya yang berat juga bisa terlihat beriringan dengan naik turunnya dada.


Nisa semakin mendekatkan dirinya lagi hingga dadanya bersentuhan langsung dengan Keyran. Dia langsung memeluk erat, merayapi punggung yang kokoh itu dan tak lupa juga untuk memberikan kecupan yang dalam di leher Keyran.


Nisa baru berhenti memberikan kecupan hanya saat tanda merah bekas cinta yang dia berikan telah muncul. Kedua tangannya membelai wajah suaminya itu. Lalu dari bibir mungilnya tiba-tiba keluar kata, "Maaf ..."


"Untuk apa?" tanya Keyran dengan tatapan sayu.


"Untuk segalanya. Selama ini kau pasti sudah kelelahan menghadapiku, mengurusku, memahamiku dan membahagiakan aku. Terima kasih untuk semua itu, sekarang kau bisa ... bisa ..."


"Bisa apa?"


"Bisa membalasnya dengan melampiaskan semuanya padaku ..."


"Sesuai permintaanmu," Keyran menyeringai, dia langsung meraih tengkuk Nisa dan membungkam mulut Nisa dengan mulutnya sendiri.


"Uhmm ..." Nisa menyambut ciuman itu sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher Keyran.


Pandangan mata keduanya bertemu, perlahan meredup saat mereka semakin menikmati ciuman itu. Mereka juga mulai bermain lidah, saling menyesap dengan rakus hingga terdengar suara decapan erotis keluar dari kedua bibir yang haus sentuhan itu.


Sesekali Nisa melepas tautan bibirnya untuk mengambil napas. Keyran yang sudah berada dalam mode liar tak mau berhenti sampai di situ, dia langsung meraup leher Nisa dan memberikan kecupan yang mendalam di sana.


Kecupan itu kini menjalar ke sisi lain, mulai dari pundak, turun ke tulang selangka dan semakin ke bawah hingga dia tergoda dengan milik Nisa yang bulat dan lembut itu.


"Aahhh ..." Nisa bersuara manja saat miliknya dimainkan oleh Keyran, dia meraih kepala suaminya itu lalu menekannya agar semakin tenggelam di dadanya.


"Ahh!" sekali lagi Nisa mengeluarkan suara ketika merasakan sesuatu yang keras telah menabraknya, namun kali ini dia memilih untuk melonggarkan rangkulan tangannya.


Keyran sendiri juga berhenti bermain-main dengan dada istrinya itu, dia kemudian menatap Nisa lekat-lekat sambil berkata, "Aku ambil pengaman?"


Nisa menggeleng pelan dengan ekspresi malu-malu. "Aku suka yang polos ..." ucapnya dengan suara lirih.


"Hmm, baiklah." ucap Keyran dengan senyuman.


Nisa tersenyum dan sekali lagi membelai wajah tampan suaminya itu. "Key, apa kau tahu apa yang aku pikirkan saat ini?"


"Beritahu aku, kau sendiri tahu kalau aku tak suka bermain tebak-tebakan."


"Aku sangat beruntung bisa mendapatkanmu, aku bahagia karena memilikimu dalam hidupku ..."


"Benarkah? Kalau begitu ... akan aku buat kau lebih bahagia lagi!"


"Aahhh!!"

__ADS_1


__ADS_2