Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Perfect Honeymoon (5)


__ADS_3

"Gangster?!" tanya Keyran seakan tidak percaya.


Nisa mengangguk, dan setelahnya Keyran malah menempelkan tangannya pada jidat Nisa.


"Jangan ngawur! Kau sepertinya terlalu banyak bergaul dengan manusia sesat si Jonathan itu. Sekarang ayo sadar, kembali jadi Nisa istriku yang manis!"


Mulut Nisa terasa kaku, dia tidak percaya bahwa ucapannya yang serius dianggap sebagai candaan oleh suaminya itu.


"Aku sudah bilang jangan dekat-dekat dengan Jonathan! Dia itu mafia Italia, hal-hal yang dia lakukan semua itu ilegal, melanggar hukum. Dia hanya membawa pengaruh buruk bagimu, lihat saja sekarang, kau mulai bicara melantur!"


Nisa yang semula menatap mata Keyran kini menundukkan pandangan, lalu dengan suara lirih dia berkata, "Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Jonathan. Kau hanya tinggal menjawab jika seandainya itu benar, apa susahnya itu?"


"Hah ..." Keyran menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya. "Begitukah? Lalu kau sendiri apa yang akan kau lakukan jika itu benar-benar adanya?"


"Aku bisa melakukan semua yang aku mau dan mendapatkan semua yang aku inginkan. Kau mungkin punya banyak uang, tapi jika aku punya identitas itu aku bisa memberimu kekuasaan di dunia underground! Bukankah kau kerap mengalami percobaan pembunuhan?"


"Iya, musuh dan saingan bisnisku. Bahkan sejak kecil aku sudah menjadi target karena ayahku juga punya musuh. Lalu apa hubungannya dengan itu?"


"Key, aku bisa melindungimu! Aku bisa memasukkan namamu ke dalam daftar hitam target pembunuhan. Semua organisasi jasa pembunuhan di bawah naunganku otomatis tidak akan menerima pekerjaan apa pun jika berhubungan denganmu. Bukan cuma itu, siapa pun musuhmu juga akan aku bereskan tanpa diketahui oleh pihak berwajib. Masih ada banyak lagi privilege yang kau dapatkan. Kau itu CEO ternama, kau mungkin punya kekayaan, tapi pikirkan jika aku yang merupakan istrimu ini adalah seorang gangster. Kekuasaan yang akan kau dapatkan. Memangnya apa gunanya punya uang tanpa kekuasaan?"


Keyran membisu, dia menatap mata Nisa lekat-lekat. Namun setelahnya dia mendadak mengusap kepala Nisa sambil tersenyum. "Haha, sudah cukup bercandanya. Kau bicara seolah-olah kalau kau itu sungguhan ketua gangster. Dengarkan aku ya, darling. Semua hal yang berhubungan dengan mafia atau gangster dan sejenisnya itu tidak baik, semua itu melanggar hukum."


"..."


Memang sungguhan! Selama ini aku mati-matian menyembunyikan identitasku, tapi begitu aku memberi sedikit bocoran kau malah menganggapnya hanya sebagai candaan. Padahal namamu sudah benar-benar aku masukkan ke daftar hitam, bahkan sebagian musuhmu sudah diam-diam aku lenyapkan.


Nisa kemudian membalas dengan senyuman, senyuman terpaksa. "Haha ... kau benar, bercandaku memang kelewatan. Tapi ... kau belum menjawab pertanyaanku, apa yang akan kau lakukan seandainya itu sungguhan?"


"Memasukkanmu ke penjara."


DEG!


Jantung Nisa serasa berhenti berdetak untuk sesaat. Jawaban yang diberikan oleh Keyran sama sekali tidak pernah terbayangkan di benaknya. Hatinya terasa sakit, namun dia masih mencoba untuk menahan ekspresinya agar tetap terlihat biasa saja.


"Penjara?" tanya Nisa yang ingin memastikan sekali lagi.


"Memangnya apa lagi? Jika itu sungguhan, aku bahkan tidak bisa membayangkan sudah seberapa banyak hal-hal kriminal dan melanggar hukum yang kau perbuat. Ingatlah status keluargaku, mau aku ataupun ayahku menentang keras segala keterlibatan yang melanggar hukum. Aku harus menjaga reputasiku sebaik mungkin di dunia bisnis. Peraturan di dunia bisnis sangat ketat, apalagi yang berhubungan dengan politik. Jika aku punya sedikit saja hubungan keterlibatan dengan dunia undergroud, pasti musuhku akan menggunakannya untuk menjatuhkan nama baikku. Terlebih lagi aku sangat membenci segalanya yang berbau tentang mafia."


"Sangat benci?" tanya Nisa yang tangannya diam-diam mencengkeram erat pegangan kursi.


"Iya. Aku sudah bilang kalau sejak kecil aku sering mengalami penyerangan dari musuh-musuh ayahku untuk mengancam bisnis ayahku. Yang melakukannya tidak lain juga kelompok yang berasal dari kalangan mafia ataupun gangster yang menawarkan jasa. Meskipun sudah membentuk tim keamanan khusus yang beranggotakan mantan militer, tapi tetap saja kadang kebobolan, seperti halnya kasus penusukanmu saat ulang tahun ayahku waktu itu. Jadi aku mohon padamu, jangan pernah mengungkit hal ini lagi meskipun itu hanya bercanda!"


"Haha ... baiklah," jawab Nisa dengan senyum terpaksa.


"Nisa." panggil Keyran sambil menatap Nisa dengan tatapan aneh.


"Hm?"


"Aku penasaran, untuk apa kau mengajukan pertanyaan seperti itu? Dan bagaimana bisa kau tahu soal urusan di dunia gelap sebegitu detail?"


"Eh, i-itu ..." Nisa langsung mengalihkan tatapan matanya.


Mampuss! Jawab apa aku?!


"Itu apa?" tanya Keyran yang rasa pemasarannya semakin menjadi-jadi.


"I-itu ... Ahaha ... jawabanku konyol, sebaiknya kau tidak usah tahu ..."


Bangs*t! Bangs*t! Bangs*t! Aku bingung jawab apa! Ayolah otak cepat berpikir!


"Aku tetap ingin tahu! Cepat katakan!"


"Aku terpengaruh cerita dari novel!" jawab Nisa sambil berteriak.


Sialan, ngomong apa aku barusan? Tapi sudahlah, lanjut membual saja.


"Novel? Novel macam apa yang memuat cerita seperti itu?"


"Ehmm ... ceritanya itu ... Pokoknya seputar tentang mafia, tokoh utamanya seorang perempuan yang biasa-biasa saja, tapi karena suatu hal dan dendam yang dia punya, akhirnya dia masuk ke dunia gelap seperti itu. Dia bisa melakukan apa saja yang dia mau, dan itu sangat keren! Aku juga pernah baca novel lain yang berkisah tentang seorang CEO sepertimu, banyak yang membuat karakter seperti itu jadi idaman. Jadi aku berpikir akan sangat keren jika kedua karakter itu disatukan dan benar-benar ada dalam dunia nyata, itulah mengapa aku bertanya pertanyaan iseng itu."


"Hmmm ..." Keyran mengernyit.


"..."


Percayalah, aku mohon percayalah sekali lagi pada bualan konyolku.


"Setahuku yang kau baca itu cerita bergambar, komik bukan?"


"Yang aku baca memang komik!" jawab Nisa secara spontan.


"Jadi yang mana yang kau baca, novel atau komik?"


"Ah, itu ... Awalnya aku membaca komik, tapi karena komiknya sangat bagus jadinya aku tidak sabar menunggu kelanjutan ceritanya. Komik itu diadaptasi dari novel, jadi aku memutuskan untuk membaca novelnya!"


Astaga ... lidahku capek berbohong.


"Oh begitu, bagaimana akhir cerita itu?"

__ADS_1


"Entahlah, aku belum baca karena malas."


"Kau ini bagaimana? Tadi katanya bagus dan kau tidak sabar menunggu kelanjutan ceritanya."


"Haha ... habisnya aku sudah dapat spoiler alias bocoran akhir dari cerita itu. Dan itu bukanlah akhir yang bagus," jawab Nisa sambil menunduk.


"Seperti apa akhirnya?"


Nisa mendongak lalu tersenyum pahit. "Perempuan itu kehilangan orang yang dicintai. Mau dipikir bagaimanapun, itu bukanlah akhir yang bagus."


"Nisa, kau ..."


DRUUM ... DRUUMM!!


Mendadak terdengar suara seperti genderang ditabuh yang berasal dari opening title atau opening sequence dari film.


Lalu tiba-tiba seseorang dari belakang yang tidak lain adalah Louise berkata, "Filmnya sudah bisa diputar, Tuan dan Nyonya silakan menikmati."


"Ya, kerja bagus!" ucap Keyran yang setelahnya menggenggam tangan Nisa. "Film kesukaanmu sudah tayang, ayo tonton sampai akhir!"


"Iya," Nisa lalu mengalihkan pandangannya ke layar bioskop. Matanya mungkin melihat film itu, namun pikirannya entah ke mana dan hatinya merasa gelisah.


Film terus tayang tanpa ada kendala, Keyran juga tampak menikmati dan hanyut dalam suasana film itu. Tetapi berbeda halnya dengan Nisa, dia yang sedari tadi merasa gelisah sama sekali tidak menikmati film itu.


Belum ada 15 menit sejak film itu diputar, tiba-tiba saja Nisa menyingkirkan popcorn ke kursi sebelahnya lalu berdiri. Keyran yang menyadari hal itu kemudian berkata, "Mau ke mana? Toilet?"


Nisa menggelengkan kepala. "Aku mau ke kamar, aku sudah mengantuk. Kau lanjutkan saja menonton filmnya sendiri, tidak apa-apa, kan?"


"Eh?! Tapi bukannya ini film kesukaanmu?"


Nisa tersenyum, tiba-tiba membungkuk dan mencium pipi Keyran. "Darling, mataku rasanya sangat berat. Aku tidur duluan, ya?"


"Hmmm ... baiklah," Keyran tersenyum lalu membalas dengan memberikan ciuman di pipi Nisa. "Selamat malam, darling."


***


Setibanya Nisa di kamar, dia langsung menutup pintu rapat-rapat kemudian duduk di pinggir ranjang. Dia menunduk, melihat kedua tangannya yang gemetar.


"Ibu benar ... Tidak semua orang bisa menerima jika pasangannya adalah seorang kriminal. Tapi aku tidak bisa berhenti, aku takut akan mengulangi kesalahan yang sama lagi dimana aku kehilangan cintaku serta jati diriku ..."


"Aku ingin Keyran menerimaku, menerima segalanya tentangku. Aku bahkan baru membocorkan sedikit, tapi reaksinya sangat berbanding terbalik dengan harapanku ... Jika seperti ini, hanya ada satu cara ..."


"Hanya ada satu cara jika ingin Keyran tetap bersamaku. Aku harus membuatnya cinta buta kepadaku! Dengan begitu, dia akan menerima segalanya tanpa peduli pada apa pun yang sudah aku lakukan."


"Untuk selanjutnya aku harus lebih waspada, aku tidak boleh bertingkah mencurigakan saat bersamanya. Iya ... pokoknya harus!"


Perasaan takut, cemas, gelisah, kewaspadaan yang berlebihan, kehilangan konsentrasi, perubahan pola pikir, jantung berdetak lebih cepat, tangan bergetar, keringat dingin, tubuh terasa kelelahan, serta nyeri di dada. Namun sayangnya kini dia tidak sedang membawa obatnya.


CKLEK!


Pintu kamar mendadak terbuka, kedatangan Keyran yang tiba-tiba membuat Nisa terkesiap. Di sisi lain Keyran juga kaget karena menemui Nisa yang belum tertidur.


"Kau belum tidur? Tadi katanya mengantuk." tanya Keyran sambil berjalan mendekat, kemudian dia ikut duduk di sebelah Nisa. Dia lagi-lagi dikejutkan karena Nisa mendadak memeluknya dengan sangat erat. "Eh?!"


"Key ... Jangan tinggalkan aku! Berjanjilah untuk bersamaku selamanya!" pinta Nisa dengan suara gemetar.


"..." Keyran membisu, dia masih kaget dengan tingkah laku istrinya itu. Sejenak dia merenung, kemudian menghela napas dan membalas pelukan dari Nisa. "Aku tak tahu kenapa kau tiba-tiba seperti ini. Tapi aku janji akan selalu bersamamu. Sekarang tenang, oke?"


Nisa mengangguk pelan, napasnya lama-kelamaan semakin teratur dan rasa sesak di dadanya perlahan juga berkurang. Ketika dia sudah merasa jauh lebih baik, perlahan dia melepaskan pelukannya.


"Key ... kau kemari lebih cepat, apa kau sudah selesai menonton filmnya?"


Keyran menggeleng. "Kurang seru jika menonton tanpamu, jadi aku memutuskan untuk menyusulmu. Ayo tidur, tadi katanya kau sudah mengantuk."


Nisa bergeser mendekat, mendadak duduk di pangkuan Keyran serta merangkul lehernya. Tangan kanannya lalu membelai wajah Keyran yang masih tampak kaget. "Hehe ... Bagaimana ya, aku tidak jadi mengantuk. Bagaimana jika malam ini kita mengenang pengalaman yang menyenangkan?"


"Boleh, tapi pengalaman yang mana?" Keyran tersenyum, kedua tangannya kemudian memegangi pinggang Nisa.


Nisa menyeringai, telunjuknya meraih dagu Keyran dengan manja. "Coba tebak~"


"Aku menyerah."


"Apa-apaan kau ini? Setidaknya coba tebak satu kali, bahkan jika jawabanmu salah, aku akan tetap membenarkannya." Nisa mencubit pipi Keyran, tetapi Keyran dengan sigap menahan tangan istrinya itu.


"Aku bilang aku menyerah, kau masih belum mengerti apa artinya?" Nisa menggeleng secepat mungkin hingga rambutnya yang terurai itu sebagian menutupi wajahnya. Keyran terkekeh, lalu merapikan rambut Nisa dan menyelipkan rambut itu ke telinga.


"Dasar pembohong, berhenti berpura-pura polos. Kau tahu apa hukumannya, bukan?"


"Hehe, hukuman dengan penuh cinta! Tapi baiklah, aku sudah mengerti apa artinya. Kau ingin aku yang menyerang duluan, kan?"


"Hemm ... istriku memang cepat tanggap. Tapi sebelum itu,"


CTAKK!!


"Aahhh!" Nisa berteriak dengan wajahnya yang memerah. Dia merasa malu sekaligus kesakitan sebab Keyran yang tiba-tiba menjepretkan tali bh yang dia kenakan. "Key!!"


"Itu hukuman penuh cinta dariku!"

__ADS_1


"Heh, sekarang giliranku yang memberi hukuman!" Nisa menahan tengkuk Keyran dan langsung membungkam mulutnya dengan penuh gairah.


"M-mmm ..." Keyran menyambut ciuman itu. Lama-kelamaan ciuman itu terasa semakin menggairahkan. Pandangan mata keduanya bertemu dan perlahan meredup. Mereka juga mulai bermain lidah, begitu rakus hingga terdengar suara decapan yang keluar kedua mulut yang haus akan sentuhan itu.


Keyran mulai terbawa suasana, tangannya perlahan merayap naik ke punggung Nisa, mengelus dan mengusapnya dengan lembut. Sebelah tangannya lagi juga menekan tengkuk Nisa, membuat ciuman itu semakin dalam.


Sesekali Nisa melepas tautan bibirnya, dia terengah-engah, ditambah deru napas Keyran yang terasa panas semakin membuatnya terhanyut dalam momen itu. Nisa menunduk, tangannya melepaskan kancing baju Keyran satu per satu.


Baju yang telah sepenuhnya terlepas itu memperlihatkan bentuk tubuh atletis yang sangat menggoda untuk disentuh. Nisa meraih dada bidang itu, sentuhan hangat jari-jemari lentik itu dinikmati oleh Keyran.


Nisa mendekatkan kepalanya, dia menggosok-gosokkan ujung hidung mancungnya pada leher Keyran. Aroma wangi leather yang maskulin menguar begitu saja di indra penciumannya.


"Ermm ..." Keyran mengerang saat merasakan hembusan napas yang hangat menyapu kulitnya. Sedangkan Nisa, dia sudah tak tahan lagi dan segera mencium leher Keyran, mengisap serta menggigit dengan manja hingga menimbulkan bekas kecupan.


Nisa mendorong tubuh Keyran hingga terbaring di atas kasur. Kemudian dia dengan cepat melepaskan pakaiannya sendiri dan menyisakan sepasang pakaian dalam berwarna hitam agak transparan.


Nisa kemudian merendah, menggapai bibir Keyran yang sekarang berada di bawahnya. Nisa mengusap bibir suaminya itu dengan lembut, kemudian berkata, "Key, apa kau mencintaiku?"


"Tentu," jawab Keyran dengan suara parau.


Nisa langsung kembali mencium bibir Keyran dengan lebih ganas daripada sebelumnya. "Lalu sekarang? Apakah cintamu semakin bertambah?"


Keyran tersenyum dan membelai wajah Nisa. "Dasar bodoh, sampai kapan pun cintaku akan tetap sama. Setiap kali menatap matamu, aku jatuh cinta lagi dan lagi."


"Darling, aku akan beritahu pengalaman menyenangkan yang mana yang aku maksud tadi."


"Hm?"


"Malam pertama kita!"


"Malam pertama yaaa ..." Keyran menyeringai, mendadak dia berguling dan berganti posisi menempatkan Nisa di bawahnya. "Aku masih mengingatnya dengan jelas, apa kau mau diikat sekali lagi?"


Nisa sama sekali tidak menjawab, di satu sisi Keyran yang melihat tatapan mata Nisa mulai merasa bergairah. Matanya perlahan memandang ke arah lain, pelan-pelan memperhatikan setiap lekuk tubuh dan menikmati keindahan tubuh setengah telanjang yang berada di bawahnya itu.


Mendadak Nisa meraih kepala Keyran, menekannya untuk kembali diciumi. Bahkan tanpa Keyran sadari, lagi-lagi posisi mereka sudah berubah kembali menjadi Nisa yang berada di atas.


Nisa melepas ciumannya, kedua tangannya meraih tangan Keyran lalu mengarahkannya ke atas kepala.


"Kau benar, sudah lama aku ingin membalas perbuatanmu waktu itu. Sekarang giliranmu yang diikat!"


Keyran yang merasa tertantang lalu tersenyum. "Benarkah? Kau mau mengikatku pakai apa?"


Nisa menyeringai, tiba-tiba melepaskan bra yang dia pakai lalu memamerkan bra itu di hadapan Keyran. "Pakai ini!"


Dengan cepat Nisa segera mengikat tangan Keyran pada ranjang dengan menggunakan bra miliknya sebagai tali. Berjalan mulus, karena sedari awal Keyran sama sekali tidak ada niatan untuk melawan.


"Ini salah," bisik Nisa pada telinga Keyran.


"Apa yang salah?" tanya Keyran yang kemudian memiringkan kepalanya untuk mencium pipi Nisa.


"Dulu aku sangat panik saat diikat, tapi sekarang kau malah tampak begitu menikmatinya."


"Hehe ... Apa kau juga akan membalas semua yang dulu pernah aku lakukan?"


"Tentu, biar impas." Nisa menyingkir dari atas tubuh Keyran, dengan cepat dia melucuti pakaian yang masih terpasang di tubuh suaminya. Ketika dia melepaskan helai kain terakhir di tubuhnya sendiri, dia melakukannya dengan perlahan agar lebih terlihat menggoda di mata suaminya.


Nisa segera kembali ke posisi semula, kemudian dia menghujani Keyran dengan ciuman yang menjalar ke mana-mana. Setelah dirasa rangsangan yang diberikan cukup, kedua tangan Nisa lalu bertumpu pada tempat tidur dan mencengkeram sprei dengan erat.


"Key ..." ucap Nisa dengan suara lirih saat dia melakukan dorongan pertama dengan pelan. Semakin lama Nisa mulai menggoyangkan tubuhnya secara berirama. Dengan suhu tubuh keduanya yang hangat semakin membuat kenikmatan gairah memuncak.


Nisa menengadah dan bergerak semakin intens, napasnya mulai terasa berat, pandangannya kembali meredup merasakan sensasi kenikmatan yang selalu membuatnya serasa terbang ke surga.


Percintaan mereka terus berlanjut, keringat yang bercucuran dari tubuhnya seakan-akan menjadi bumbu penambah hasrat yang membuat tubuh Nisa bergetar untuk yang ke sekian kalinya.


Setelah beberapa saat kemudian gerakan Nisa semakin pelan, dia lalu merebahkan diri sepenuhnya di atas Keyran, tangannya yang gemetaran mengusap dada bidang yang terdapat bekas kecupan itu.


"Key, apa kau mencintaiku?" tanya Nisa dengan tatapan berbinar.


"Sangat cinta, istriku sayang ..."


Nisa tersenyum, lalu memeluk Keyran dan membenamkan wajahnya ke dalam pelukan yang hangat.


Maaf ... Aku mohon maafkan aku yang mulai haus akan cintamu. Begitu banyak yang aku sembunyikan darimu, tapi aku janji suatu saat nanti aku akan mengatakan segalanya. Aku terlalu takut, sekarang aku terlalu takut kehilanganmu.


"Hei, kau lupa satu hal." ucap Keyran dengan suara parau, dan Nisa membalasnya dengan tatapan bingung. "Lepaskan ikatan ini dulu, baru setelah itu kau boleh tidur."


"Tidak mau!" jawab Nisa sambil meringis.


"Darling ... jangan nakal, oke?" tanya Keyran dengan tatapan mengancam, kakinya juga mengapit tubuh Nisa agar lebih mengintimidasi.


"Hehe baiklah," perlahan Nisa bangkit lalu melepaskan bra miliknya yang mengikat tangan Keyran. "Sudah, sekarang ayo tidur!"


Tanpa peringatan apa pun Keyran langsung memegang tubuh Nisa dan membalikkan posisi menjadi di atas tubuh Nisa. "Kau harus menyelesaikan apa yang sudah kau mulai."


"Tapi aku ... Uhmm?!" Keyran langsung membungkam mulut Nisa dengan mulutnya. Ciuman itu disambut oleh Nisa yang kemudian berpegangan erat pada bahu Keyran.


Babak selanjutnya dari percintaan mereka dimulai. Malam ini menjadi malam yang panas, meskipun angin malam yang sejuk berhembus kencang di luar. Di dalam kamar itu hanya terdengar suara indah dan nyaring yang keluar dari mulut Nisa, serta erangan kenikmatan dari mulut Keyran yang menambah syahdu nya malam ini.

__ADS_1


__ADS_2