Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Perfect Honeymoon (2)


__ADS_3

Sekitar pukul 7 malam lebih sedikit. Keyran dan Nisa yang telah selesai melakukan percintaan mereka, sekarang mereka berdua sedang berpelukan di bawah selimut yang hangat. Keyran terus mengusap kepala Nisa dengan lembut, sedangkan Nisa yang tampak masih kelelahan mendekap di dadanya.


"Mmm ..." Nisa semakin membenamkan wajahnya di dada Keyran.


"Tidurlah kalau mengantuk," ucap Keyran yang kemudian mengeratkan pelukannya, lalu Nisa menjawabnya dengan menggelengkan kepala.


"Terus mau apa? Main satu ronde lagi?" tanya Keyran dengan nada menggoda.


"Ishhh ... itu kau yang mau!" Nisa lalu menyentuh dada Keyran yang hangat serta menutup mata. "Aku sudah tidur sepanjang hari, mana mungkin aku mengantuk."


"Lalu sekarang apa yang kau mau?"


"Aku cuma agak lelah, dan suara detak jantungmu ... rasanya bisa membuatku tenang." Nisa lalu membuka mata dan tersenyum, "Darling, boleh aku bertanya satu hal?"


"Boleh."


"Emm ... ini gunanya apa?" tanya Nisa malu-malu sambil memainkan put*ng di dada Keyran. "Dari dulu aku penasaran, hehe ..."


Seketika wajah Keyran memerah, "Hentikan! Geli tahu, apa pula pertanyaanmu itu? Konyol!"


"Hmph! Biar impas, tadi kau juga memainkan punyaku. Aku kan cuma ingin tahu, lagi pula Tuhan menciptakan segala sesuatu pasti punya kegunaan tersendiri. Kalau wanita sudah jelas untuk menyusui, kalau untuk pria apa gunanya?"


"Entahlah, mungkin memang untuk kau mainkan seperti ini~"


"Key ... aku serius!" Nisa mendongak dan menatap Keyran dengan tatapan kesal. Sedangkan Keyran, sebelah tangannya yang semula melingkar di pinggang Nisa sekarang berganti menahan dagu Nisa.


"Aku juga serius, asal kau tahu ya, gunanya sama saja seperti punyamu. Dengan begini kau bisa membuatku terangsang lagi loh~"


"Eh?!" Nisa langsung menarik tangannya kembali.


"Pertanyaanmu itu pada dasarnya konyol, jika dadaku mulus itu malah terlihat aneh. Berbeda jika itu punyamu ..." Keyran lalu membalas Nisa dengan cara yang sama.


"Darling jangan nakal!" teriak Nisa sambil memukul pelan tangan Keyran.


"Kau yang membuatku jadi nakal."


"Terserah!" Nisa kembali mendekap. "Key, aku lapar ..."


"Sini, ayo makan aku~" Keyran menggoda sambil menunjuk ke lehernya.


"Arghh! Bukan itu maksudku! Aku benar-benar lapar, gara-gara kabur aku melewatkan sarapan dan makan siang."


"Itu kan salahmu sendiri."


"K-kau tega sekali ... bisa-bisanya kau membiarkan istrimu kelaparan."


"Iya-iya, aku cuma bercanda. Lagi pula sekarang juga waktunya makan malam, kau mau makan apa? Nanti biar aku suruh pelayan buatkan."


"Emm ... aku mau makan yang manis-manis, puding coklat! Ditambah topping irisan buah-buahan!"


"Cuma itu? Bagaimana dengan ikan salmon atau tuna, baik untuk stamina loh~"


"Keyran!!"


"Ya? Aku di sini, kenapa teriak?" tanya Keyran dengan senyuman polos.


"Menyebalkan," ucap Nisa sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kau minta dicium?"


Mendadak Nisa berbalik memunggungi Keyran. "Besok jatahmu kosong!"


"Hahaha, iya-iya maaf ... aku akan berhenti menggodamu." Keyran bergeser mendekat lalu memeluk Nisa dari belakang. "Mana ada bulan madu tapi jatahku kosong, itu tidak lucu. Jangan marah, oke?"


"Aku tidak marah, cuma merajuk."


"Begini saja, kau mau puding coklat, puding buah, puding susu, puding telur, puding jelly, semua puding akan aku berikan!"


"Pffttt ... Hahaha!" Nisa membalikkan badannya lalu membalas pelukan Keyran. "Makanya jangan keterlaluan menggodaku, kau sendiri kan yang susah membujukku. Kali ini aku maafkan karena suasana hatiku sedang baik."


"Apanya yang susah? Membujukmu itu sangat mudah, tinggal diberi makanan yang manis-manis sudah luluh."


"Kalau memang mudah maka cepat penuhi permintaanku!"


"Iya darling ..."


Keyran beranjak dari ranjang dalam keadaan telanjang, lalu berjalan ke arah pintu kamar yang di sebelahnya terdapat interkom. Lewat interkom itu dia menyuruh pelayan untuk menyiapkan makan malam sekaligus puding permintaan Nisa.


Keyran kembali berjalan ke arah ranjang lalu tiba-tiba menarik selimut yang masih menutupi tubuh Nisa. "Ayo mandi, setelah itu kita makan malam."


"Duluan saja, aku masih mau istirahat." Nisa memakai selimut lagi lalu berbaring. "Aku tahu kalau itu cuma akal-akalanmu mau modus."


"Hehe baiklah, istirahatlah darling!" Keyran langsung menuju ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Keyran keluar dari kamar mandi dalam keadaan setengah telanjang. Dia juga mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil, lalu bersiul sambil berjalan menghampiri Nisa yang masih berbaring di ranjang.


"Nisa, giliranmu mandi!" Keyran mengguncangkan tubuh Nisa yang semula dalam posisi miring, dia baru sadar kalau Nisa sudah tertidur pulas. Keyran menghela napas lalu tersenyum, lalu menaikkan selimut dengan benar agar Nisa tidak kedinginan.


"Heh, sepertinya kali ini aku makan malam sendirian. Jangan salahkan aku jika hanya staminaku saja yang terisi."


***


Keesokan harinya. Pagi hari ini sangat cerah, matahari memancarkan sinarnya yang hangat. Seperti biasa Keyran bangun lebih awal, dia membuka gorden agar cahaya matahari menembus masuk ke kamar. Lalu dia kembali naik ke atas ranjang, juga mencubit pipi Nisa agar dia bangun.


"Bangun darling!"

__ADS_1


"Uhhh ..." Nisa mengerutkan kening, tangannya secara refleks menepis tangan Keyran yang mencubit pipinya. Begitu Nisa membuka mata, yang dia lihat adalah Keyran dalam wujud siluet alias bayangan hitam karena efek sinar matahari memancar terang dari belakang.


"Puding coklat?" tanya Nisa spontan.


"Aku suamimu, bukan puding coklat!"


Nisa bangun dan mengucek matanya, lalu menatap sekeliling dan setelah itu menepuk pundak Keyran. "Aku bermimpi makan puding coklat, aku bukannya mengira kalau kau puding coklat."


Nisa memutar tubuhnya, dia melakukan sedikit peregangan hingga terdengar bunyi "Krek" pada sendinya. Kemudian Nisa turun dari ranjang, dengan keadaan telanjang dia berjalan ke arah kamar mandi.


"Tunggu! Kau mau ke mana?"


Nisa berhenti melangkah lalu menoleh ke arah Keyran. "Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi aku rebahan, tidak lupa lanjut sarapan." jawabnya dengan bernada.


"Haha, liriknya sangat cocok denganmu. Tapi tunggu aku, ayo mandi bersama!"


"Hemmm ... kau sangat tidak rela membiarkanku lolos sekali saja." ucap Nisa sambil meringis.


Ketika berada di dalam kamar mandi. Pertama-tama Nisa mencuci muka di wastafel lalu dilanjutkan dengan menggosok gigi, namun yang membuat kali ini berbeda adalah Keyran yang juga mengikuti tindakannya sama persis tepat di sebelahnya.


Keyran selesai lebih dulu, dia berinisiatif mengisi air di bathtub. Setelah bathtub itu terisi penuh, dia segera melepas semua pakaiannya.


"Nah, ayo Nisa kita mandi! Eh ...??" Keyran terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia melihat Nisa yang telah berada di pojok, masuk ke dalam bilik shower head yang disekat oleh kaca yang transparan.


"Kau tidak mau berendam bersama?"


Nisa tersenyum lalu membalikkan badan, juga menghidupkan shower. "Hehe, terserah kalau kau mau berendam. Lagi pula seperti ini juga sudah termasuk mandi bersama~"


"Huh, awas kau!"


Keyran segera menyusul Nisa. Keduanya kini sama-sama basah, di ruangan yang cukup terbatas itu suasana langsung berubah. Keyran lalu menarik sebelah tangan Nisa, sedangkan tangan yang satunya lagi melingkar di pinggang Nisa.


"Begini baru yang namanya mandi bersama," ucap Keyran dengan senyuman.


Nisa tak berkata apa pun, pikirannya mendadak terasa kosong. Tetesan air yang mengalir, suara gemercik air yang terdengar sungguh pendukung suasana yang sempurna, seperti adegan romantis di tengah hujan. Jarak mereka sangat dekat, bahkan suara debaran jantung bisa terdengar.


Mendadak Nisa tersadar lalu menggelengkan kepala. Wajahnya memerah lalu membuang muka ke samping. "T-tadi katanya mau mandi."


"Sekarang kita juga sedang mandi, kau pikir kita sedang apa?" Keyran tersenyum, kemudian mengambil botol sampo yang berada di sebelahnya. Dia menuangkan sedikit cairan sampo ke rambutnya lalu kedua tangannya menggenggam tangan Nisa. "Bantu aku keramas, nanti aku juga akan membantumu."


"M-menunduklah, kau terlalu tinggi ..." pinta Nisa dengan tangan yang berusaha meraih.


Keyran menunduk seperti permintaan istrinya, Nisa membersihkan rambut Keyran dan juga memberi sensasi pijatan lembut di kepala. Nisa lalu mengambil sabun cair, busa yang lembut dan wangi diusapkan ke badan Keyran.


Keyran tersenyum puas, dia menikmati setiap momen yang sedang berlangsung sekarang. Guyuran air yang sejuk dengan sabun yang licin, serta jari-jemari lentik Nisa yang merayap di tubuhnya membuat suasana sentuhan menjadi lebih sensasional.


Keyran juga membalas persis seperti apa yang Nisa perbuat kepadanya, bahkan Nisa sempat terkejut karena Keyran melakukan lebih. Mereka saling berhadapan dan bertatapan penuh hasrat, sambil mengusap setiap jengkal tubuh dengan lembut, diselingi ciuman di bibir yang cukup mendalam.


Mereka berdua terus berciuman di bawah guyuran air. Ketika tubuh mereka telah bersih dari busa sabun, Keyran yang menyadari hal itu perlahan berjalan menepi dari guyuran air sambil terus memeluk erat Nisa dalam dekapannya.


Nisa lalu memukul-mukul pelan dada Keyran, berharap Keyran akan mengerti isyaratnya. Tapi yang terjadi justru Keyran menahan tangan Nisa, kedua tangan Nisa ditahan dengan posisi di atas kepala hanya dengan sebelah tangan Keyran, sedangkan tangan yang satunya lagi masih menahan tengkuk Nisa.


Nisa mengerutkan dahi, cara yang dia lakukan selanjutnya adalah menggigit bibir Keyran, dan sontak saja Keyran melepaskan ciuman itu. "Kenapa kau menggigitku?!"


"C-cukup Key ... lantainya licin," jawab Nisa dengan suara lirih.


Keyran menghela napas lalu tersenyum, juga melepaskan cengkeraman tangannya dari Nisa. Keyran menyisir rambut panjang Nisa yang basah ke belakang, lalu kedua tangannya membelai wajah Nisa. "Jangan takut, mungkin kita baru pertama kali dalam pose seperti ini. Tapi percayalah padaku, kau tinggal menurut saja."


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Sshhh!" Keyran menempelkan jari telunjuknya ke bibir Nisa. "Diam dan nikmati saja. Paham darling?" Nisa menjawab dengan mengangguk.


Keyran kembali menunduk, mencium dan menggigit bibir Nisa dengan manja. Pandangan mata keduanya meredup, lama-kelamaan Nisa kembali menikmati momen ciuman itu, ciuman yang begitu dalam hingga terdengar suara decapan erotis dari bibir mereka.


Sesaat Nisa kembali membuka mata, dia merasakan sesuatu yang keras telah menabraknya. Keyran melepas ciumannya, lalu semakin merapat dan kedua tangannya memegang pinggang Nisa.


"Nisa, pegangan yang erat ..."


Nisa mengangguk lalu berpegangan pada bahu Keyran, lalu dengan segera Keyran menggendong tubuh Nisa, sembari kedua kaki Nisa melingkar di pinggangnya.


"Errmmm ..." Nisa mengerang dan semakin berpegangan erat pada Keyran. Dinding kamar mandi menjadi sandaran sekaligus tumpuannya pada saat ini.


Keyran menyeringai, lalu menciumi Nisa dengan ciuman penuh gairah. Kakinya sangat mudah menahan berat tubuh Nisa, seolah-olah mengunci Nisa agar tak bisa bergerak sedikit pun.


"A-ahh ...! Key ..."


***


Beberapa saat kemudian. Keyran dan Nisa telah selesai bermain dan bercinta ria di kamar mandi. Sekarang mereka juga sudah menutupi tubuh mereka dengan handuk model kimono.


Nisa duduk di depan meja rias, menyalakan hair dryer lalu meminta Keyran agar membantu mengeringkan rambutnya yang basah.


"Rambutmu wangi, aku baru sadar kalau wangi sampo bisa seenak ini." Keyran tersenyum lalu mendekat ke telinga Nisa. "Rajin-rajinlah keramas ya darling~"


"Key ... rambutku sekarang bahkan belum kering, berhenti menggodaku!" keluh Nisa dengan wajah memerah.


"Haha baik-baik, setelah ini kau juga bantu aku mengeringkan rambutku, lalu setelah itu kita sarapan."


"Heum!" Nisa mengangguk dengan cepat.


Setelah rambut Nisa kering, Nisa bergantian mengerikan rambut Keyran seperti permintaannya sebelumnya. Ketika mereka ingin sarapan, mendadak Nisa mengambil sebuah benda yang tergeletak di meja rias.


"Wah wah ... kacamata hitam jadul punya siapa ini?" tanya Nisa dengan nada meledek, dan seketika Keyran merebut kacamata itu dari tangan Nisa.


"Mana ada jadul?! Ini yang namanya fashion," Keyran lalu memakai kacamata itu dan berkacak pinggang dengan percaya diri. "Lihat, aku sekarang sangat keren!"

__ADS_1


"Pffttt ... hahaha! Keren dari mana? Dari Wuhan?! Model top global pun mana ada yang sepertimu, cuma pakai handuk dan kacamata hitam!" Nisa tertawa keras sambil memegangi perutnya.


"Cih, pengetahuanmu soal fashion sangat dangkal!"


"Hahaha, seleramu terlampau unik!"


"Iya, kau sendiri juga unik, makanya aku menyukaimu." ucapan Keyran membuat Nisa terdiam. "Hehe, kau kalah~"


"Hmph! Kalau kau memang merasa keren maka tetap pakai kacamata itu saat sarapan, jika sampai para pelayan melihatnya dan ada yang menahan tawa berarti aku yang benar!"


"Baiklah, siapa takut?"


Mereka lalu keluar kamar untuk sarapan, namun mereka tidak pergi ke ruang makan. Karena kondisi tubuh Nisa yang sedikit nyeri akhirnya mereka ke ruang santai, mereka berdua duduk bersandar di sofa bed yang menghadap ke arah televisi yang dilengkapi dengan home theater.


Tak lama setelah itu beberapa pelayan datang dengan membawa sejumlah hidangan untuk sarapan, dan pastinya puding pesanan Nisa semalam juga ada. Para pelayan itu sangat tertib, bahkan pandangan mereka terlihat sangat sopan.


Salah seorang pelayan pria paruh baya maju mendekati Keyran, dia berkulit eksotis, berambut keriting namun rapi, dan warna matanya cokelat kehitaman.


"Apakah Tuan memerlukan sesuatu?" tanya pelayan itu dengan postur sedikit membungkuk.


"Tidak ada. Tapi sebelum itu, perkenalkan istriku. Namanya Nisa, kau mungkin baru pertama kali melihatnya, jika dia butuh apa pun maka penuhi permintaannya selayaknya aku yang memberimu perintah!"


"Baik Tuan," jawab pelayan itu dengan sopan.


Keyran lalu merangkul pundak Nisa. "Nisa, dia adalah kepala pelayan di sini. Namanya Louise, bahasanya sudah fasih jadi bila kau ada keperluan apa-apa, kau bisa mencarinya."


"Iya, aku tahu." Nisa lalu menatap Kepala Pelayan Louise, "Anu ... ada yang mau aku tanyakan."


"Apa itu Nyonya?" tanya Louise penasaran.


"Bagaimana pendapatmu tentang kacamata yang dipakai suamiku ini? Jelek? Buruk? Konyol? Atau mengerikan?"


"Bisa tidak kau bertanya pertanyaan yang lebih bermutu?!" bentak Keyran.


"Izin menjawab pertanyaan Nyonya, kacamata yang dipakai Tuan adalah kacamata keluaran terbaru yang dibuat oleh desainer terkenal. Mungkin Nyonya belum tahu karena belum dipasarkan secara massal dan belum dimuat dalam majalah, model itu baru akan jadi tren saat dipasarkan secara resmi tahun depan." ucap Louise.


"O-ohh ..." Nisa tersenyum canggung sambil melirik Keyran.


Padahal kalau dilihat sekilas jelas-jelas cuma kacamata boboho.


"Cih, sudah kubilang kalau aku keren!" Keyran lalu melambaikan tangannya kepada para pelayan. "Kalian bisa pergi."


Semua pelayan pun segera pergi sesuai perintah dari Keyran. Begitu tinggal berdua saja, mereka langsung menyantap sarapan. Keyran mengambil sepotong roti tawar dengan selai, dan ketika menggigit roti itu mendadak dia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil serta pulpen dari belakang.


Nisa yang melihat hal itu memilih untuk mengabaikan dan memakan puding coklat miliknya. Dia mengingat bahwa kemarin sore saat dia terbangun, Keyran juga memegang buku catatan itu. Jadi dia berpikir bahwa yang ditulis oleh Keyran adalah sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya.


Puding Nisa telah habis, lalu dia tertarik untuk memakan macam-macam buah yang telah dipotong. Sesaat sebelum dia melahap buah, dia mulai merasa aneh karena melihat Keyran yang masih menulis sambil senyum-senyum sendiri.


"Kau sedang apa, Key?" tanya Nisa penasaran.


"Menulis," jawab Keyran singkat tanpa melirik Nisa.


"Aku tahu, tapi kenapa kau tersenyum?" Nisa bergeser mendekat untuk mengintip isi buku catatan itu, namun Keyran dengan sigap langsung membalikkan catatan itu.


"Eitss ... tidak boleh~ Ini rahasia!"


"Humph! Jadi sekarang kau mau bermain rahasia dengan istrimu. Baiklah, teruskan saja, simpan rahasia itu sampai kau mati!" Nisa membuang muka serta menyilangkan tangannya.


"Kau marah hanya karena hal ini?"


"Aku tidak marah, cuma merajuk."


"..."


Ini tidak benar, rasanya semalam Nisa juga berdialog seperti ini.


Keyran lalu memeluk tubuh Nisa dan menggeser tubuhnya ke atas pangkuannya. Dia juga memperlihatkan buku catatan itu kepada Nisa. "Ini, lihatlah!"


Seketika mata Nisa membelalak. "Posisi burning love, cupid's arrow, sugar lips ... blablabla (sulit dimengerti dan dideskripsikan) ... Semua gaya ini harus aku lakukan dengan Nisa selama bulan madu."


Sontak saja wajah mereka berdua sama-sama memerah. Nisa membaca tulisan itu dengan jelas tepat di depan Keyran, tentu saja Keyran tersipu malu karena imajinasi liarnya terkuak.


"Keyran!!" teriak Nisa yang tiba-tiba memutar badan lalu merangkul Keyran. "Ini yang aku takutkan dari bulan madu ... Bisa-bisanya kau membayangkan aku seliar itu! Bisa-bisanya kau cuma mau ambil bagian enaknya saja, terus yang paling capek aku!"


"Kita bisa melakukannya dengan latihan. Hari ini juga kita kan sudah mencobanya. Emm ... masih nyeri?"


"Sedikit ... lain kali jangan terlalu bersemangat, oke?"


"Iya, untuk selanjutnya aku akan lebih lembut. Jadi kau percaya saja padaku, semua gaya-gaya tadi aku jamin kalau kau juga akan merasakan kenikmatannya! Kita lakukan pelan-pelan."


"Janji?" tanya Nisa sambil menyodorkan jari kelingkingnya.


"Aku janji!" Keyran membalas dengan mengaitkan jari kelingkingnya.


"Hmmm baiklah," Nisa lalu melepaskan rangkulannya dan kembali bersandar pada Keyran. "Darling, ngomong-ngomong kau baru makan sepotong roti. Mau aku suapi buah?"


"Boleh, aku mau kiwi!"


Nisa yang masih bersandar pada tubuh Keyran mengambil sepotong buah kiwi, lalu dia mengarahkan buah itu ke mulut Keyran. "Aaaaa ... pesawat datang~"


"Jangan begitu, lebih baik kau begitu pada anak kita nanti!"


Meskipun mengeluh, Keyran tetap membuka mulut. Ketika dia menggigit sepotong kiwi itu, mendadak Nisa bergerak dan menggigit sisi lain dari kiwi itu. Keyran menahan tawa, dan ketika sepotong kiwi itu habis maka bertemulah bibir mereka. Sungguh trik mendapat ciuman yang bagus dari Nisa.


__ADS_1


__ADS_2