
Nisa lalu menaikkan kembali kaca mobil. Dia menghidupkan mesin mobil, berbalik arah dan mencari jalan lain untuk menuju ke bagian belakang gedung Plaza Lux Hotel.
Setelah menemukan tempat yang cocok untuk memarkirkan mobil, Nisa lalu turun dari mobil dan mendekati bangunan hotel ilegal itu. Namun tanpa disangka, dia menjumpai seorang office boy yang sedang merokok sambil berjongkok di sebelah bak sampah berukuran besar.
Nisa tanpa ragu mendekati seorang office boy itu dan berdiri tepat di hadapannya. Office boy tersebut merasa aneh dan curiga dengan Nisa, dia lalu berdiri hingga bayangannya yang besar menutupi Nisa.
"Siapa kau? Ada perlu apa ka ..."
BHUAK!!
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, office boy tersebut mendapat tendangan keras dari Nisa yang tepat mengarahkannya ke leher.
Office boy itu ambruk tak sadarkan diri. Nisa lalu memegang kakinya dan menyeretnya ke bagian belakang bak sampah. Nisa memegang dada pria itu, lalu membuka kancing bajunya satu per satu.
"Aku bukannya mesum, tapi aku harus pinjam bajumu agar bisa menyusup ke dalam. Semoga bajumu tidak bau." gumam Nisa.
Nisa lalu memakai seragam office boy yang kebesaran tersebut sebagai luaran. Sebelum pergi, dia melepaskan sepatu dan menggunakan kaus kaki milik office boy tersebut untuk menyumbat mulut sang office boy itu sendiri. Bahkan dia juga menggunakan ikat pinggang untuk melilit tangan dan tubuh office boy itu.
Nisa lalu membuka pintu belakang gedung itu, begitu dia melangkah masuk, dia langsung disuguhkan oleh pemandangan dapur hotel yang para juru masak nya cukup sibuk.
Para juru masak tersebut sejenak menatap Nisa, tetapi kemudian mereka kembali mengabaikannya. Nisa lalu mendekati salah seorang juru masak yang tampak tak terlalu sibuk, lalu dia mengubah nada suaranya menjadi serak-serak basah. "Tolong buatkan dua gelas kopi untuk operator CCTV."
"Cuma dua? Bukannya operator CCTV ada lima orang?" tanya juru masak itu.
"Sisanya teh," jawab Nisa.
Oh jadi ada lima orang, terima kasih atas informasinya dasar babi bodoh.
"Oke, tunggu sebentar. Ngomong-ngomong ... orang baru ya?"
"Iya haha, hari ini disuruh-suruh terus."
"Oh pantas, soalnya aku baru pertama kali melihatmu."
Setelah kopi dan teh itu jadi. Nisa lalu membawanya dengan menggunakan nampan. Ketika dalam perjalanan saat di lorong hotel dia berpapasan dengan office boy lain, dia berpura-pura menjadi pegawai baru dan bertanya di mana ruang kontrol berada.
Setelah mengetahui lokasi yang pasti, ketika sampai di depan pintu dia mengambil napas panjang lalu mengetuk pintu tersebut.
TOK TOK TOK!!
Tak berselang lama kemudian pintu dibuka dari dalam.
"Arghhh!!" Seorang pria yang membuka pintu tersebut berteriak keras saat Nisa mendadak menyerangnya. Nisa melemparkan kopi dan teh panas beserta cangkir nya ke muka pria tersebut.
"Hei! Apa yang ...?!!"
Empat orang pria lain yang terkejut kemudian berdiri dan emosi saat mengetahui rekannya telah diserang oleh Nisa.
"Penyusup! Tangkap dia!!" teriak salah seorang pria sambil menuding ke arah Nisa.
BRAKK!!
Nisa membanting pintu, dia menghadapi orang-orang itu tanpa ragu. Bahkan kali ini dia tak perlu mengeluarkan belati miliknya, cukup dengan sebuah nampan stainless steel dia menghajar habis semua orang itu.
PRANGG!
Nisa membuang nampan tersebut ke lantai, dia berjalan ke kursi dan mendekat ke arah layar monitor sambil melangkahi orang-orang yang sudah terkapar.
Nisa menurunkan maskernya ke dagu, sejenak dia menghirup udara segar dan menghela napas. Dia juga melakukan peregangan di jarinya sebelum menyentuh mouse dan keyboard.
"Huft ... Ayo cari di kamar nomor berapa Jenny berada."
Nisa mulai menggerakkan jari-jari lincahnya, matanya tak lepas dari layar monitor yang jumlahnya banyak dan berderet. Dia bisa melihat setiap sudut gedung hotel yang dipasangi CCTV.
"Hmm ... pantas saja sangat mudah menyusup, ternyata yang dipasangi CCTV cuma bagian depan dan dalam gedung. Jadi jalur kabur lewat belakang pasti aman."
Nisa mulai mengutak-atik rekaman CCTV yang telah merekam semua tindakannya selama berada di dalam gedung. Meskipun wajahnya tertutup oleh masker, tetapi demi keamanan identitasnya hal itu tetap harus dilakukan. Kemudian dia mulai menelusuri kembali rekaman-rekaman yang sebelumnya demi mencari keberadaan Jenny.
"Dapat! Kamar nomor 212! Eh, tapi ..." Nisa kemudian mengernyit. "Siapa pria mesum yang masuk itu?! Terlebih lagi matanya sipit, pasti orang Tiongkok!"
Aku benci ini, aku payah dalam bahasa mandarin. Film yang aku tonton cuma Pendekar Yoko dan Bibi Lung. Aahhh! Kalau begini bagaimana nanti jika aku mau mengorek informasi darinya?
"Ck, kesampingkan dulu. Kalau dia tidak berguna tinggal singkirkan saja."
Setelah mendapatkan hasil yang diinginkan, Nisa lalu merusak semua rekaman dan mematikan seluruh CCTV di hotel tersebut. Dia kembali memakai maskernya dengan benar. Setelah di luar, dia mengunci pintu tersebut lalu membuang kuncinya.
Nisa segera menuju ke lift untuk naik ke lantai selanjutnya. Beruntung baginya, karena kali ini dia tidak berpapasan dengan siapa pun yang hendak menaikkan lift.
Begitu keluar dari lift, dia berlari di lorong dan mencari kamar bernomor 212. Setelah menemukannya, mendadak Nisa mengambil penjepit rambut yang dia pakai untuk membuka paksa pintu yang terkunci itu.
BRAKK!
"Jenny!" teriak Nisa begitu saja setelah membuka pintu, namun setelahnya dia tersentak karena melihat sebuah penampakan yang tidak biasa.
Sebuah penampakan 2 orang pria dewasa yang sedang berhubungan badan, alias hubungan yang terlarang. Di sisi lain kedua orang pria itu menghentikan gerakan mereka yang tengah berada di pinggir ranjang.
"Bangs*t! Dasar gay!" Nisa sangat panik dan segera keluar dari kamar dengan membanting pintu dengan keras.
BRAAKK!!
Nisa menghela napas, kemudian dia mendongak ke atas melihat nomor kamar. "221 ... pantas saja. Sialan, gara-gara terlalu buru-buru jadinya aku salah kamar. Hiks ... mataku perih."
Nisa lalu berjalan ke arah lain. Dengan indra pendengaran yang sensitif, dia bisa mendengar jelas suara-suara erotis dari setiap kamar. Berbeda halnya saat dia sampai di depan pintu kamar 212, sama sekali tidak ada suara, hanya ada keheningan.
Nisa kembali menggunakan jepitan rambut miliknya untuk membuka pintu. Tak butuh waktu lama, pintu terbuka dan Nisa kali ini melangkah perlahan.
"J-Jen ...?" gumam Nisa saat melihat seorang gadis sedang menekuk lutut di atas ranjang.
Tampilan gadis itu menyedihkan, rambut berantakan, hanya mengenakan pakaian dalam yang bahkan tak terpasang dengan benar, serta tidak sedikit juga terdapat bekas memar dan tanda merah di tubuhnya.
Jenny yang menatap kosong ke depan mengeluarkan air mata namun tak bersuara. Bibirnya gemetar, merintih putus asa. Nisa yang menyadari hal itu langsung menghampirinya serta memeluknya.
"Jenny, ini aku!" ucap Nisa dengan suara pelan. Tangannya bergetar karena kasihan sekaligus kemarahan terhadap orang yang telah melukai temannya.
__ADS_1
"San-Sania ...?" Jenny membalas pelukan dari Nisa, air matanya semakin deras mengalir keluar, dia menangis sampai terisak. "Hik hik ... aku hancur ... s-semuanya jahat ..."
"Ada aku di sini, tenanglah. Maaf karena baru datang sekarang," ucap Nisa sambil menepuk-nepuk pelan punggung Jenny.
Jenny menangis di dalam pelukan Nisa, namun tak berselang lama mendadak terdengar sesuatu yang berasal dari kamar mandi. Nisa membelalak dan melepaskan pelukannya, dia menghapus air mata di pipi Jenny.
"Orang itu ada di dalam sana?" tanya Nisa sambil menunjuk ke arah kamar mandi yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala oleh Jenny.
"Jen, dengar baik-baik! Habis ini, apa pun yang aku lakukan anggap saja itu cuma mimpi! Pokoknya kalau ditanya oleh siapa pun, jawab saja kalau aku menemukanmu kabur pas di jalan secara kebetulan. Paham?"
"I-iya, paham ..." jawab Jenny dengan suara lirih.
"Bagus!" Nisa lalu melepaskan seragam office boy yang dia kenakan sebagai luaran. Kemudian dia menyodorkan baju itu ke arah Jenny. "Sini, aku bantu!"
Jenny mengangguk dengan cepat, saat ini dia sepenuhnya percaya pada apa pun yang Nisa katakan. Setelah selesai membantu Jenny berpakaian, Nisa kemudian memegang wajah Jenny.
"Siap-siap kabur dari sini, oke?"
"O-oke ..."
"Bagus, tapi sebelum itu ..." Nisa lalu melirik tajam ke arah kamar mandi. "Aku masih harus mengurus seseorang, aku sarankan nanti tutup matamu."
Tak lama kemudian, seorang pria dalam keadaan setengah telanjang keluar dari kamar mandi. Kulitnya putih, bermata sipit dan tubuhnya tinggi. Dia terkejut saat melihat gadis asing yang duduk di pinggir ranjang berpakaian tertutup sedang tersenyum kepadanya, gadis itu tidak lain adalah Nisa.
"Can we talk for a minute?" (apa kita bisa bicara sebentar)
Nisa lalu menepuk jidatnya. "Oh iya, kau orang Tiongkok ya. Maaf, harusnya ... Ni hao, bangs*t~"
"Bicara apa kau?" tanya pria itu.
"Hm? Anda fasih berbahasa Indonesia, ya."
"Aku fasih dalam 3 bahasa. Siapa kau? Apa kau orang baru yang dikirim untukku?"
"Ya! Tapi bukan untuk melayanimu, melainkan untuk membunuhmu!" Nisa langsung maju dengan menggunakan belati miliknya. Dia terkejut karena pria itu berhasil menahan tangannya.
"Hehe, reaksimu cepat juga~" Nisa menepis tangan pria itu dan segera melangkah mundur untuk menjaga jarak dan memasang posisi pertahanan.
"Gadis yang energik, aku suka! Kemari darling~"
"Tutup mulutmu! Hanya 1 orang yang berhak memanggilku darling!" Nisa lalu melemparkan belati miliknya ke arah kepala pria itu. Tetapi pria itu berhasil menghindar dan belati itu berakhir menancap di dinding yang berlapis wallpaper.
Pria itu menyeringai saat mengusap daun telinganya yang mengeluarkan darah. "Wah ... aku bisa mati kalau kena."
"Memang itu tujuanku sialan!"
Nisa lalu maju dengan tangan kosong, dia paham betul bahwa lawannya kali ini berbeda level dengan sebelumnya. Kedua orang itu berkelahi cukup sengit sambil memperebutkan siapa yang terlebih dulu mencabut belati dari dinding.
Nisa menjegal pria itu dan segera mengambil belati miliknya. Belum sempat pria itu bangkit, tetapi Nisa sudah mengunci pergerakannya dengan cara menindih punggung pria itu.
"Katakan, kau ini tamu atau orang penting?!" tanya Nisa sambil mengancam dengan belati.
"Heh, kau cuma berani mengancam." Pria itu berusaha memberontak tapi Nisa menekannya lebih keras.
"Oh ... kau meragukan aku ya!" tanpa segan-segan lagi Nisa langsung menusuk punggung tangan pria itu.
"Nah, harusnya begitu sejak awal~"
"A-aku cuma pesuruh yang mengepalai cabang daerah ini. Bukan aku bos nya!"
"Benarkah?" tanya Nisa sambil memainkan belati di dekat wajah pria itu.
"Aku berani bersumpah!"
"Kalau begitu di mana markas kalian?"
"..."
Sialan, jika aku beritahu, ketua tetap akan menghukumku karena membocorkan rahasia. Tapi jika tidak, maka nyawaku dalam bahaya.
"Cepat jawab! Nanti aku akan memberimu kesempatan!"
"Di dekat dermaga! Di sana ada sebuah bangunan lama seukuran pabrik! Bisakah sekarang lepaskan aku?"
"Bisa~ tapi dengan satu syarat!"
"Apa?"
"Lantai keramiknya warna putih, tulis HUMBLE DOG menggunakan darahmu!"
"Humble Dog? Itu kan kelompok yang menjual senjata ilegal."
"Aku tahu. Cepat tulis saja!"
"Baiklah," Pria itu menuruti permintaan Nisa. Setelah dia selesai menulis, tiba-tiba saja Nisa menusuknya lagi di bagian vital. "Ughh ... t-terkutuk kau ..."
Nisa menyeringai lalu bangkit dan menyimpan belati miliknya. "Beres, ditambah aku juga berhasil mengadu domba. Dengan tulisan darah itu, aku bisa membuat kesalahpahaman untuk mempersulit para anjing yang pernah menculikku!"
Nisa lalu mendekat ke arah lemari, dia membuka pintu lemari dan mengulurkan tangannya kepada Jenny yang bersembunyi di dalam.
Saat keluar, Jenny terkejut karena melihat orang yang telah melecehkannya telah tewas terkapar. Dia kemudian menatap Nisa lekat-lekat.
"..." Jenny kemudian menggeleng pelan.
Nggak, ingat dan anggap kalau ini cuma mimpi!
"Jenny, masih kuat buat jalan?" tanya Nisa.
"Masih kok ..."
Nisa kemudian menuntun Jenny berjalan. "Pelan-pelan gapapa."
Aku salut, padahal dulu waktu aku pertama kali, aku sangat kesusahan untuk berjalan.
__ADS_1
Baru selangkah keluar dari kamar, mendadak ada suara derap langkah yang terdengar sangat cepat dan ramai. "Kepala cabang tadi berteriak! Cepat periksa di bagian sana!!"
"Ck, merepotkan." Nisa lalu melirik ke arah Jenny. "Masuk ke dalam!"
Jenny mengangguk dan menutup pintu. Nisa yang saat ini berada di lorong seorang diri kembali mengeluarkan belati, dia perlahan melangkah maju sembari menanti segerombolan orang yang datang ke arahnya.
"Tangkap penyusup itu!!"
Teriakan dan suara pukulan yang keras mulai menggema. Jenny yang berada di dalam kamar menutup kedua telinganya. Dia ketakutan sekaligus berharap agar Nisa baik-baik saja.
"I-ini mimpi ... cuma mimpi ... Sania yang aku kenal nggak mungkin seperti itu ... Dia pasti cuma orang yang mengaku-ngaku ..."
Tak berselang lama kemudian tiba-tiba pintu dibuka dari luar. Lalu tampaklah Nisa yang mengulurkan tangannya kepada Jenny.
"Ayo keluar dari sini!"
Jenny menurut, jalannya masih dituntun oleh Nisa. Dia tidak berani membuka mata, dia sangat ketakutan melihat darah yang berceceran oleh sekelompok orang yang terbilang cukup banyak.
"Mudah sekali mengalahkan mereka. Sepertinya tidak ada seleksi khusus untuk merekrut anggota, memang dasarnya kelompok teri." gumam Nisa.
Untuk mempersingkat waktu, Nisa mengajak Jenny untuk menaiki lift. Sewaktu di dalam lift, mendadak Nisa terhuyung karena kembali merasakan sakit di perutnya.
"Eh, apa tadi terluka?" tanya Jenny dengan nada khawatir.
"Gapapa, cuma asam lambung naik." jawab Nisa.
TING!
Pintu lift terbuka, Nisa dan Jenny melangkah keluar. Ketika di lorong ada sebuah meja yang terdapat tanaman hias, mendadak Nisa menggeser meja itu ke tengah dan naik ke atas.
Nisa lalu mengeluarkan sebungkus rokok dan sebuah korek api. Dia membakar semua rokok beserta bungkusnya. Asap mulai keluar, dia lalu mengarahkannya ke detektor asap.
Detektor asap tersebut bereaksi dan memicu alarm kebakaran dengan cepat. Suara bising alarm darurat mulai terdengar di seluruh ruangan.
Dalam keadaan ini, Nisa memanfaatkannya untuk segera membawa Jenny kabur lewat pintu belakang. Semuanya berjalan lancar hingga mereka berhasil naik ke mobil. Nisa segera menancap gas dan meninggalkan area hotel ilegal tersebut.
"K-kita mau ke mana?" tanya Jenny.
"Rumah sakit, tubuhmu harus segera diperiksa oleh dokter."
Jenny mendadak menangis. "Hik ... aku mau pulang! A-aku mau ketemu orang tuaku ... Aku menyesal sudah k-kabur dari rumah ... S-sekarang aku ini ... c-cewek kotor ..."
"..." Nisa mengernyit.
Aku tak tahu harus bilang apa untuk menguatkannya. Setelah ini mungkin saja Jenny mengalami trauma.
Nisa segera menuju ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, dia langsung meminta agar Jenny segera diperiksa.
Nisa juga tak lupa untuk mengabari orang tua Jenny. Karena jarak rumah Jenny yang terbilang tidak jauh dari rumah sakit, orang tua Jenny datang dengan cepat.
Kedua orang tua Jenny menangis dan berterima kasih kepada Nisa yang mengaku cuma kebetulan berpapasan dengan Jenny di jalan. Nisa lalu meminta izin untuk undur diri, sebelum dia pergi, dia berpesan agar orang tua Jenny merahasiakan dan tidak melibatkan namanya ke pihak kepolisian demi keamanan identitasnya.
Nisa yang telah menyelesaikan urusannya bergegas untuk pulang. Dia mengendarai mobil Van yang sebenarnya termasuk mobil curian itu ke tempat rongsokan mobil. Lalu dia berjalan sedikit ke arah lain dan memesan jasa taksi online untuk pulang ke rumah.
Sesampainya Nisa di rumah, dia beruntung karena Keyran tak ada di rumah. Dengan cepat dia segera membersihkan diri beserta semua bukti-bukti terkait.
Setelah selesai membersihkan diri, Nisa menghubungi Ivan agar berhenti melakukan penyerangan cyber ke perusahaan suaminya.
Nisa yang kelelahan saat ini terlihat bingung dan duduk di pinggir ranjang. Kemudian dia menunduk dan mengelus perutnya.
"Ah iya, aku belum makan malam. Mana mungkin aku membiarkan perutku terlantar~"
Nisa memutuskan untuk turun dan menuju ke dapur. Saat dia ingin memilah bahan makanan di kulkas, dia dikejutkan oleh kehadiran Bibi Rinn yang tiba-tiba datang dari belakang.
"Nyonya sedang apa?" tanya Bibi Rinn penasaran.
"Eh?! Bibi ... mengagetkanku saja. Aku mau memasak, aku kelaparan hehe. Bibi sendiri belum ke paviliun untuk tidur? Ini sudah larut malam loh."
"Tadinya sudah, tapi saya ragu apakah kompor sudah dimatikan atau belum. Tapi ternyata sudah haha. Oh iya, Nyonya mau makan apa? Biar saya buatkan!"
"Emm ... aku ingin bubur, bubur seafood! Tolong ya Bibi Rinn yang cantik~" ucap Nisa sambil meringis.
"Haha, Nyonya bisa saja. Ngomong-ngomong ... Tuan belum pulang?"
"Belum, haiss ... aku merindukannya! Oh iya, nanti kalau sudah jadi tolong antarkan ke kamar saja ya!"
"Baik Nyonya."
Nisa lalu meninggalkan Bibi Rinn sendirian di dapur. Bibi Rinn membuat bubur untuk Nisa dengan sepenuh hati, jadi tidak heran jika rasanya enak dan proses pembuatannya cukup memakan waktu.
"Hmmm ... Nyonya malam-malam ingin bubur, apa mungkin dia mengidam? Jika itu sungguhan maka sangat bagus!"
Bubur yang telah siap langsung diantarkan ke kamar sesuai permintaan Nisa. Bibi Rinn mengetuk pintu namun Nisa tidak menyahut, dia lalu membuka pintu yang ternyata tidak dikunci itu.
PRAANGG!!
"N-Nyonya!!?"
...Kantor HW Group...
...•••••• ...
Keyran yang saat ini sudah menyelesaikan semua pekerjaannya sedang bersiap untuk pulang. Sejenak dia tertegun lalu tersenyum saat melihat foto pernikahannya yang berada di meja kerja.
DRRTT DRRTT ...
DRRTT DRRTT ...
DRRTT DRRTT ...
Ponsel Keyran berdering, dia lalu melihat siapa yang meneleponnya saat ini.
"Hm? Telepon dari rumah." Keyran lalu menjawab panggilan telepon itu. "Halo?"
__ADS_1
"Tuan! Nyonya ... Nyonya Nisa pendarahan!"
Deg!