Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Surprise Kiss


__ADS_3

"Aku bisa sendiri, jadi jangan repot-repot." Nisa tersenyum canggung, namun Keyran malah mengeratkan pelukannya.


"Nisa~ tadi kau sudah berjanji akan menjadi istri yang baik, dan istri yang baik itu tidak boleh menentang kehendak dari suami."


"Emm ... t-tapi kan istri yang baik itu juga tidak boleh merepotkan suami. Melepas bra adalah hal remeh, jadi tidak perlu merepotkanmu ..."


"Aku bilang aku yang lepas! Menurut atau pilih ... kusembunyikan semua bajumu termasuk pakaian dalammu!"


"Jangan! Besok pagi aku pakai apa?"


"Terserah, mau pakai daun pisang boleh, mau telanjang juga boleh. Memangnya kenapa kau menolak special service dariku? Toh sebelumnya aku sudah sering melepaskan pakaianmu."


"Uuhh ..." Nisa memanyunkan bibirnya.


Daun pisang katanya, memangnya aku lontong? Tapi masalahnya dia pasti bukan cuma melepas bra, aku takut kalau dia kebablasan.


"Kenapa bibirmu begitu? Minta dicium?"


"Bukan, aku berubah pikiran. Aku tidak jadi melepas bra."


"Ck, melepas bra saat mau tidur itu banyak manfaatnya, bisa meningkatkan sirkulasi darah, meningkatkan kualitas tidur, membantu pernapasan lebih baik, mengurangi keringat juga risiko infeksi kulit, masih banyak lagi manfaatnya. Jadi harus dilepas dan harus aku yang melepasnya!"


"Wow ... bagaimana bisa kau tahu tentang hal itu?"


"Sebelumnya kau pernah bilang padaku, masa kau lupa?"


"..."


Oh iya, sekarang aku ingat. Bodohnya aku menjelaskan dengan begitu detail, sekarang aku kehabisan alasan untuk mengelak lagi.


"Oke, aku menurut."


"Nah, harusnya begitu sejak awal~" ucap Keyran dengan senyuman.


Hehehe, maaf, jangan salahkan aku karena berhati sempit. Kau sudah banyak membodohiku dan mempermainkanku, lalu sekarang kau sudah pasti akan terus bersamaku dan terlebih lagi tubuhmu sudah sehat, jadi inilah saatnya untukku balas dendam.


Keyran melepas pelukannya dari tubuh Nisa. Mereka berdua bangkit, Keyran duduk dan bersandar, bahkan dia juga menyuruh Nisa untuk duduk di pangkuannya. Awalnya Nisa sempat ragu dan menolak, tapi pada akhirnya dia menurut juga. Nisa duduk di pangkuan Keyran dengan patuh.


Namun tiba-tiba saja Keyran memeluk erat tubuh Nisa, dia mendekatkan wajahnya pada telinga Nisa lalu berbisik, "Nanti tunggu aku selesai, baru setelah itu kau bisa pergi dari pangkuanku. Jika aku masih bilang belum, maka kau tidak boleh pergi, mengerti darling?"


"Iya mengerti, jadi cepatlah! Aku sudah mengantuk." ucap Nisa sambil menyibakkan rambutnya ke depan.


SREETTT ...


Keyran menarik ritsleting baju Nisa ke bawah. Dia menelan ludah begitu melihat punggung putih mulus yang sudah lama tidak dilihat. Dia menurunkan baju Nisa, kemudian dia menyeringai sambil mengusap punggung itu dengan lembut, dari awal dia memang sengaja berniat mengabaikan tugasnya.


Mendadak kedua tangan Keyran menyelinap masuk ke baju dan melingkar di pinggang Nisa, bahkan dia juga berinisiatif untuk mencium tengkuk Nisa. Sontak saja Nisa terkejut dan rasa kantuknya hilang entah kemana, bahkan dia mulai merasa gugup saat merasakan ciuman yang dilakukan oleh Keyran mulai menjalar ke bawah.


"K-Key ... sudah, belum?"


"Belum, pengaitnya sulit dilepas." jawab Keyran yang kemudian mencium punggung Nisa di sisi lainnya.


"..."


Kampret! Ternyata aku ditipu, dia sengaja melakukannya. Padahal tadi dia bilang ingin menundanya, tapi sekarang kelakuannya malah begini. Dia sadar tidak sih kalau aku ini perempuan normal? Aku juga bisa terpancing ...


Lama-kelamaan ciuman yang dilakukan oleh Keyran semakin terasa menggairahkan, bukan hanya mencium, tapi mengisap dan menggigit juga terus dilakukan hingga punggung Nisa penuh dengan tanda merah bekas kecupan. Dan tak dapat dipungkiri bahwa tubuh Nisa gemetar serta suhu tubuhnya terasa semakin hangat. Dia bersikeras tidak mau kalah dari permainan yang sedang dimainkan oleh Keyran kepadanya.


Di satu sisi Keyran menjadi lebih merasa tertantang, dia menarik tubuh Nisa hingga menempel pada dirinya. Sebelah tangannya yang melingkar di pinggang Nisa mulai merayap ke atas, hingga menemukan benda yang empuk dan lembut milik Nisa. Sedangkan yang satunya lagi merayap ke bawah, dengan mudah dia lolos menyelipkan tangannya di antara kaki Nisa. Kedua tangan itu terus menyentuh apa pun yang dia temukan.


Masih belum, Nisa masih belum menyerah. Keyran pun akhirnya memberi kecupan di pundak Nisa, bahkan juga menggigitnya.


"Emhh ..." Nisa mengerang kesakitan, dan napasnya tampak terengah-engah.


Keyran menggigitku, dan rasanya sakit, tapi ... aku suka! Tapi jangan, aku belum boleh menyerah sekarang. Aku ingin dia yang memohon.


Keyran melepas ciumannya dari pundak Nisa. Tangan yang dia tempatkan di bawah mulai menggosok-gosok, dia melakukannya dengan begitu intens hingga pada akhirnya dia merasakan sesuatu telah basah.


"Ahnn ... Upss?!!" Nisa mendesah dan kemudian membungkam mulutnya sendiri. Dia merasa gagal, suara desahannya adalah pertanda bahwa dia telah kalah.


Keyran menyeringai, dia segera melepas bra yang sedari tadi masih terpasang dari tubuh Nisa. Tapi setelahnya dia malah menaikkan kembali baju Nisa serta menarik ritsleting ke atas. Dia menepuk kedua bahu Nisa dan dengan santainya meletakkan dagunya di pundak Nisa.


"Nah, sudah selesai, aku sudah melepas bra milikmu. Darling, ayo tidur!" ucap Keyran dengan senyuman.


"Haha ... setelah apa yang kau lakukan padaku? Ya ampun darling, bercandamu kelewatan. Cepat tanggung jawab!" ucap Nisa dengan nada tidak terima.


"Sudahlah, ayo tidur saja, aku mengantuk ... Tidakkah kau kasihan dengan suamimu yang lelah bekerja ini?" tanya Keyran dengan tampang memelas.


Hehehe, setelah membuatnya terpancing langsung lari dari tanggung jawab. Sial, ini seru sekali!


Nisa menunduk, kemudian dia turun dari pangkuan Keyran. Dia menatap Keyran balik dengan tatapan yang sama memelasnya. "Baiklah ... ternyata kau tega, kalau begitu aku pergi ke dapur saja, mungkin masih ada timun di kulkas ..."


"Timun?!"


"Iya, karena kau menolak untuk tanggung jawab ..."


Ckck ... kau pasti kasihan kan? Merasa harus bertanggung jawab kan?


"Boleh boleh boleh! Lebih baik pakai timun daripada cari orang lain!"


"K-kau serius?!! "


"Iya, silakan saja."


Cih, *jangan mencoba untuk membodohiku, aku sangat paham dengan gengsimu itu. Jadi kau pasti akan memohon lagi padaku, ancaman konyolmu itu sama sekali tidak berguna*.


Ekspresi Nisa berubah menjadi kesal, dia menyibakkan rambutnya dengan gaya yang angkuh. Tiba-tiba dia melepaskan pakaiannya satu per satu, bahkan dia melempar semua pakaiannya hingga terjatuh ke lantai, kecuali pakaian dalamnya. Dia malah melemparnya ke arah Keyran.

__ADS_1


Keyran tercengang, dia tidak pernah melihat sisi lain dari Nisa yang seperti itu sebelumnya. Bahkan dia menatap dengan tatapan tidak percaya saat tangannya menggenggam pakaian dalamnya Nisa yang berwarna hitam sedikit transparan itu.


"Tidak biasanya kau seperti ini." Keyran mengulurkan tangannya yang sedang menggenggam pakaian dalamnya Nisa. "Ini, cepat pakai lagi! Jangan sampai masuk angin ..."


Nisa membisu, tapi dia mengambil pakaian dalamnya dari tangan Keyran dan kemudian malah membuangnya ke lantai. Keyran hanya bisa diam dan memasang senyum canggung kepada Nisa.


Apakah dia masih istriku? Ternyata perempuan kalau sudah minta jatah itu lebih mengerikan ya. Aku khawatir jika nantinya aku tidak akan bisa mengontrol diri, tapi di satu sisi Nisa benar-benar menggoda, terlebih lagi dia juga memintanya. Aku harus bagaimana?


Tiba-tiba Nisa bergerak, dia merangkak mendekati Keyran lalu kembali duduk di atas pangkuannya. Awalnya dia duduk bersila, namun kemudian dia melebarkan kakinya, dia memperlihatkan semua bagian tubuhnya secara terang-terangan di hadapan Keyran yang masih berusaha mencerna keadaan.


"Apa sekarang masih tidak mau tanggung jawab?" Nisa bergeser sedikit lebih maju hingga dadanya bersentuhan langsung dengan dada Keyran, bahkan setelahnya dia menarik tangan Keyran lalu menempelkannya pada bagian inti dari tubuhnya. "Sudah basah loh, ayo tanggung jawab!"


"Glup ..." Keyran menelan ludah dan menarik tangannya kembali.


"Ck, ya sudahlah, kalau begitu aku akan pakai cara kasar. Aku akan memperkosamu!"


"A-apa?! Tunggu dulu Nisa! Aku peringatkan sekali lagi, aku sekarang tidak bisa menjamin tindakanku. Bagaimana jika kau kelelahan lalu kondisimu drop? Kau tidak mau, kan?"


"Dengar ya, aku sudah sehat. Kau jangan terlalu khawatir tentang bagaimana tindakanmu nanti, karena aku yang akan mengambil tindakan."


"Memangnya kau bisa?"


"Mengapa tidak bisa? Sebelumnya hanya kau yang selalu menyerangku, tapi kali ini aku yang akan menyerangmu!"


"Tapi aku sudah mengantuk ..."


"Cih, terlalu banyak tapi! Dan pasti itu bohong! Bahkan jika benar kau mengantuk, akan kubuat Kemmy bangun supaya kau tidak bisa lagi menolakku!"


"Kemmy? Maksudmu ... juniorku kau beri nama Kemmy?!"


"Iya, itu nama paling cocok. Aku menyebutnya Kemmy karena aku belum tahu kau menamainya dengan nama apa."


"Hal konyol macam apa itu?! Memangnya harus ya diberi nama?"


"Entahlah, tapi setahuku banyak cowok yang juga menamai punya mereka. Punya adikku Dimas aku lupa, kalau Reihan aku ingat namanya Mike, kalau punya ayahku ... aku tak punya cukup keberanian untuk tanya. Jadi punyamu Kem ... Uhmpp?!!" tiba-tiba mulut Nisa dibekap oleh Keyran.


"Cukup! Jangan bicara yang aneh-aneh lagi!"


Astaga, pengetahuan baru yang sangat mencengangkan. Tapi sekarang sudah seperti ini, mustahil kalau aku menolak lagi. Kali ini akan aku usahakan selembut mungkin, terserah saja pada Nisa mau posisinya yang bagaimana. Tapi ... aishh, Kemmy, tolong ya jangan terlalu bersemangat karena sudah lama tidak bersilaturahmi.


"Humm!!"


Keyran menghela napas lalu melepas bekapan tangannya, dan setelahnya dia tersenyum sambil membelai wajah Nisa. "Baiklah, lakukan saja senyamanmu. Buat jun ... maksudku Kemmy bangun, kita lihat siapa yang menaklukkan siapa lebih dulu?"


"Oke, aku punya trik untuk membangunkan Kemmy."


"Oh, trik macam apa?"


Nisa tersenyum, kemudian telunjuknya dimainkan. "Rahasia~"


"Baiklah, lakukan sesukamu ..."


Namun di luar dugaan ternyata Keyran masih bersikukuh, dia masih belum luluh atas segala tindakan yang Nisa lakukan, meskipun sebenarnya dia menahan sekuat tenaga. Dia seperti itu karena ingin menunjukkan bahwa dirinya tak selemah Nisa yang mudah terpancing.


Nisa tertegun, dia merasa ada yang aneh dari Keyran, padahal dia yakin bahwa Keyran yang biasanya selalu mesum tidak akan mungkin sanggup menahan lagi. Nisa kemudian memasang senyum lembut dan menatap mata Keyran lekat-lekat, kedua tangannya juga merangkul leher Keyran. Nisa mencium kening, pipi, hidung dan terakhir bibir.


Ciuman di bibir membuat Keyran sedikit terpancing, dia memberikan umpan balik di ciuman itu hingga suara decapan yang erotis keluar dari bibir mereka. Tiba-tiba Nisa mengakhiri ciuman itu secara sepihak, dia hendak mencium leher namun Keyran menahan wajahnya dan langsung menciumnya seperti tadi. Ciuman itu serasa tiada akhir, dan secara mendadak mata Nisa membelalak karena merasakan sesuatu yang keras telah menabraknya.


Oh my ... Kemmy!


Nisa merasa puas, tangannya diam-diam kembali merayap ke bawah. Sensasi aneh dirasakan oleh Keyran yang membuatnya dia melepas ciumannya.


"Ermm ..." Keyran mengerang, sedangkan Nisa tersenyum. Nisa menarik tangannya kembali lalu memeluk erat tubuh Keyran, dan sebaliknya Keyran juga memeluk tubuh Nisa.


Nisa semakin merapat, dia menggosok-gosokkan dadanya secara perlahan. Dan kemudian dengan suara lirih dia berkata, "Aku mulai sekarang?"


"Hmm ... lakukan sambil ciuman," jawab Keyran dengan suara parau.


Nisa mengangguk pelan, dan seketika Keyran kembali menciumnya dengan rakus serta menekan tengkuknya. Di satu sisi Nisa memulainya dengan kedua tangan yang berpegang erat pada bahu Keyran, setelahnya dia melakukan dorongan dengan perlahan. Lama-kelamaan dia menggoyangkan pinggulnya secara berirama. Terlebih lagi dengan suhu tubuh yang hangat semakin membawa kenikmatan serta gairah memuncak.


"Emhhh ..." Keyran melepas ciumannya, dengan napas yang terasa panas dia mencium pundak Nisa. Lalu dia pun berkata, "Nisa ... lebih cepat ..."


Samar-samar terlihat senyuman di bibir Nisa saat mendengar permintaan dari Keyran. Dia mengerti dan bergerak semakin intens, dia menengadah dan napasnya terengah-engah, pandangannya meredup merasakan sensasi kenikmatan yang tiada tara.


Kesenangan mereka pun terus berlanjut, namun tetap saja stamina ada batasnya. Nisa mulai tampak kelelahan dan napasnya semakin terengah-engah. Tubuh keduanya masih panas, bahkan keringat yang bercucuran seakan-akan menjadi bumbu penambah gairah yang membuat tubuh Nisa bergetar untuk yang kesekian kalinya.


Namun mendadak Nisa berhenti, Keyran yang menyadari hal itu memasang senyuman kepada Nisa. Tangannya maju dan berinisiatif mencubit pinggang Nisa, dan entah kenapa tiba-tiba saja Nisa sepenuhnya menyandarkan diri kepada Keyran. Tangannya perlahan menyentuh serta mengusap dada yang bidang itu.


"Sudah lelah, ya?" Keyran terkekeh.


"Sttt ... diamlah, jangan mengejekku ..." jawab Nisa yang membenamkan seluruh dirinya ke pelukan Keyran yang hangat.


"Oh, maaf, tapi ini waktuku untuk menyerang balik~"


Keyran mendorong Nisa hingga posisi mereka berganti menjadi Keyran yang di atas. Nisa yang berada di bawah membelai wajah Keyran dengan lembut, lalu dia berkata, "Jangan berlebihan ... izinkan aku menang sekali saja ..."


"Maaf, tapi suamimu ini adalah tipe orang yang tak pernah mau kalah. Ronde baru dimulai~"


"Ahh ..."


Keyran ternyata benar, peringatannya bukanlah sebuah kebohongan, sekarang dia seperti hewan buas yang baru saja dibebaskan dari kandangnya. Kekuatannya mendorongku ke puncak lagi dan lagi.


Sebelumnya aku tak pernah menyangka kalau aku akan mengakhiri hariku seperti ini.


๐ŸŒน


๐ŸŒน

__ADS_1


๐ŸŒน


๐ŸŒน


๐ŸŒน


Pagi hari tiba, pagi ini adalah pagi yang sangat cerah, cuaca cerah, masa depan cerah, layar ponsel author juga cerah, canda kokโœŒ. Andai saja senyuman pembaca juga cerah, haha ... author bosen pengen nongol, tapi ya sudahlah, lanjutin cerita Nisa lebih penting.


Hari ini Keyran berbeda dengan biasanya, dia terlambat bangun, dia cukup kelelahan karena semuanya telah dia lampiaskan tadi malam.


PRAKK!!


Suara benda jatuh yang keras membangunkan Keyran, dia membuka mata dan secara refleks tangannya mencari-cari Nisa di sampingnya. Namun dia tidak menemukannya, dia panik dan segera bangkit dalam keadaan yang masih setengah sadar.


"Nisa! Kau ada di sini, kan?!!" Keyran berteriak sekencang mungkin lalu menoleh ke kiri kanan. Dia akhirnya tersenyum dan bernapas lega begitu melihat Nisa yang sedang duduk di depan meja rias tengah mengeringkan rambutnya.


"Kau ini rabun senja, ya? Aku sebesar ini tapi kau berteriak memanggilku yang hanya berjarak kurang lebih 3 meter darimu."


"..." Keyran masih tersenyum.


Bukan begitu dasar bodoh! Aku pikir semua itu hanya mimpi, bahkan kalaupun nyata aku pikir kau sudah kabur. Tapi aku sangat senang bisa kembali melihatmu lagi tepat setelah aku bangun tidur. Tapi tumben dia bangun lebih awal dibanding aku, padahal semalam jelas-jelas dia yang paling kelelahan.


Keyran beranjak dari ranjang, dia dengan percaya dirinya berjalan mendekat ke arah Nisa dalam keadaan telanjang. Tapi Nisa menyadari hal itu dari pantulan bayangan cermin di depannya, dan dia memilih untuk tetap diam seolah-olah tidak pernah tahu ataupun melihatnya.


Begitu sudah cukup dekat dengan Nisa, Keyran langsung memeluk Nisa dari belakang. Nisa merasa malu melihat ada bekas kecupan yang dia lakukan masih terlihat merah di tubuh Keyran, namun Keyran justru sebaliknya.


"Ada apa? Apa tidak lihat aku sedang sibuk mengeringkan rambut?"


"Lihat kok, hanya saja aku masih belum bisa percaya. Sebelumnya kukira kau akan menandatangani surat gugatan cerai itu, dan hari ini aku resmi jadi duda. Tapi kenyataannya berbeda, bagiku realita jauh lebih indah dari ekspektasi. Ngomong-ngomong ... kau apakan surat itu?"


"Aku robek lalu kubuang ke tempat sampah. Apa kau menggangguku cuma untuk mengatakan ini?"


"Cih, kenapa kau berubah jadi dingin? Berbeda sekali dengan dirimu yang semalam, apa perlu dijelaskan secara rinci?"


"J-jangan bahas itu! Semalam aku khilaf!"ย  teriak Nisa dengan wajah memerah.


"Khilaf katamu?! Kalau begitu ... khilaf sering-sering! Dengar ya, kau tak perlu malu, lagi pula enaknya kan sama-sama. Bagaimana jika mulai sekarang aku yang akan terus bertugas melepas bra?"


"Haha, terima kasih, tapi aku harus menolaknya. Mana mungkin seorang CEO yang punya tugas kompleks tapi ingin berubah menjadi tukang pelepas bra? Dunia akan menertawakanmu sampai 17 turunan. Tapi tumben kau sesantai ini, bukannya masih harus pergi ke kantor?"


"Ini weekend, jadi aku tetap di rumah."


"Tapi biasanya biarpun weekend kau juga pergi ke kantor, kenapa sekarang memilih di rumah?"


"Tentu saja untukmu, mulai sekarang aku akan terus menemanimu di waktu luangku. Aku serius saat bilang ingin lebih mengenalmu dibanding siapa pun, dan dengan menghabiskan waktu lebih banyak denganmu adalah caranya! Aku pengertian, kan? Termasuk suami idaman, kan? Sangat sayang kepada pasangan, kan?"


"Iya ... suamiku memang yang terbaik. Sekarang cepat mandi lalu pakai baju! Aku akan siapkan bajumu."


"Sebentar lagi, aku masih ingin memelukmu ... "


"Hhh ... aku ingin mengeringkan rambutku dengan nyaman, bukan begini! Cepat mandi sana! Memangnya kau ingin mengeringkan rambutmu juga?"


"Aku baru bangun tidur, untuk apa aku mengeringkan rambut?"


"Kemmy juga punya rambut! Mau mandi sekarang atau hehehe ..." Nisa tersenyum dengan senyuman iblis.


"Iya iya! Aku mandi!" Keyran menelan ludah melirik ke arah hair dryer, lalu dia pun bergegas pergi ke kamar mandi.


Tak lama kemudian Keyran telah selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dalam keadaan yang hanya berbalutkan sehelai handuk yang menutupi bagian bawahnya. Namun dia kembali terkejut saat melihat Nisa, dia melihat Nisa yang berada di lantai dalam posisi yang sedang melakukan sit up.


"75, 76, 77, 78 ... Eh?!" Nisa langsung berhenti begitu menyadari Keyran yang mendadak memegangi kakinya. "Apa yang kau lakukan?"


"Membantumu, kau pagi-pagi sudah latihan sit up itu karena ingin melatih pinggangmu, kan?"


"Salah! Itu karena aku mau diet!"


"Diet? Untuk apa? Kau tidak gendut, dan ..." tiba-tiba Keyran menarik tangan Nisa. "Cincin ini sudah pas di jari manismu, jadi tubuhmu ini namanya ideal. Tidak perlu diet!"


"Huh!" Nisa mendengus kesal dan menarik tangannya kembali. "Kau tahu apa?! Berat badanku naik 5 kilo, sekarang aku ini gendut. Pokoknya aku mau tubuhku kembali langsing!"


"Nisa ... jangan seperti ini, aku suka apa pun bentuk tubuhmu. Jangan diet, oke?"


"Pokoknya diet! Toh tubuhku yang bagus itu bukan untukmu."


"Kalau bukan untukku maka untuk siapa?! Untuk orang lain?!"


"Iya, aku ingin orang lain iri dengan tubuhku yang langsing! Sekarang sudah paham kan?"


"Huft ... baiklah, terserah kau saja."


Ckck, jangan harap bisa diet! Lihat saja nanti, aku akan makan camilan yang enak-enak di depanmu.


Keyran tetap memegangi kaki Nisa, dan Nisa menghentikan sit up nya begitu sampai pada hitungan ke-100. Namun bukan Keyran namanya jika tidak manja pada Nisa, dia meminta Nisa untuk memakaikannya baju, mengeringkan serta menyisir rambutnya.


Sesaat setelah Nisa selesai menyisir rambut, dia berkata, "Darling, tinggi badanmu berapa?"


"184 cm, memangnya kenapa?"


"Bukan apa-apa, cuma penasaran." jawab Nisa dengan senyum kurang ikhlas.


Sialan! Lebih dari 180 cm, kau bukan tipeku! Jika aku melakukan surprise kiss maka leherku pasti sakit. Sekarang bagaimana caranya agar dia menunduk? Dengan meninju perutnya? Aahhh itu salah! Itu termasuk KDRT, otomatis aku gagal jadi istri yang baik.


"Nah, sekarang semuanya sudah beres. Ayo darling, kita turun dan sarapan!" Keyran menarik tangan Nisa bersamanya, namun langkahnya terhenti karena Nisa mematung di tempat.


"Ada apa? Kau tidak mau sarapan karena diet?"


"Bukan, bukan begitu. Aku cuma mau bilang kalau ... Tali sepatumu lepas!"

__ADS_1


"Hah?!" seketika Keyran menunduk, "Tapi sekarang aku tidak pakai se ... u-umhh?!" Keyran terkejut karena Nisa tiba-tiba menciumnya. Namun ciuman yang dilakukan Nisa tidak berlangsung lama. Bahkan setelah ciuman itu lepas, Keyran masih tidak berkata-kata.


"Hehe ... Surprise kiss!" teriak Nisa dengan senyuman.


__ADS_2