
...PERINGATAN!...
...Episode ini memuat adegan kekerasan dan penggunaan senjata yang tidak patut ditiru....
...Mohon kebijakan pembaca dalam menikmati episode ini. ...
Waktu 2 jam telah berlalu, saat ini Nisa masih berada di Grizz Glory Casino, tepatnya di area Diamond Claw. Nisa berada di sana bersama rekan-rekannya dan juga Jonathan. Bahkan sedari tadi dia tak bosan-bosan mengulangi permainan biliar bersama Jonathan.
Salah satu rekan setia Nisa yaitu Ivan sedang duduk di sofa yang berada di dekat meja biliar, dia duduk sambil memangku sebuah laptop khusus miliknya. Saat ini dia tampak jenuh dan bosan, dia lalu berkata, "Bos, di mana kau mengenal orang itu?" tanya Ivan sambil menunjuk ke arah Jonathan.
"Di dekat bak sampah," jawab Nisa acuh tak acuh.
"Hah?! Jika penemuan bayi yang dibuang di bak sampah, aku bisa percaya. Tapi pria sebesar ini ditemukan di dekat bak sampah?!" tanya Ivan seakan tidak percaya.
"Jelaskan yang selengkapnya, Nisa. Dia bisa salah paham terhadapku," sahut Jonathan.
"Aku malas, jangan ganggu konsentrasiku! Kalau kau tidak mau dia salah paham, ceritakan saja sendiri," ucap Nisa tanpa mengalihkan pandangan dari bola biliar yang dia incar.
Jonathan menghela napas, kemudian dia menatap Ivan dan berkata, "Aku bukan dibuang di bak sampah, tapi tempat pertemuanku dengan Nisa adalah di sana. Aku melawan beberapa orang, dan saat selesai aku baru sadar jika Nisa ada di sana dan melihat semuanya. Nisa sama sekali tidak bereaksi aneh saat melihatku membunuh orang, dari situ aku mulai tertarik dengannya."
"Tepatnya bak sampah di dekat gang yang mengarah ke belokan rumahmu. Sebenarnya Jonathan tanpa sadar juga membantuku, karena dia salah sangka. Orang-orang itu sama sekali tak mengincarnya, melainkan mereka adalah orang yang disuruh suamiku yang brengsek itu untuk mengawasiku!" jelas Nisa.
"Oh begitu ... Lalu katanya dia ini bos mafia Italia. Andai saja kau sungguhan ingin menjalin hubungan dengannya, artinya kita juga harus bersiap untuk kerja sama lintas benua. Tapi ... memangnya bisa dipercaya begitu saja tanpa bukti?" tanya Ivan lagi.
"..." Sejenak Nisa membisu, sekilas dia menatap Jonathan dan kemudian malah kembali fokus pada permainan biliar nya. "Aku percaya padanya, itu sudah cukup jadi bukti untukmu."
Jonathan tersenyum tipis, tiba-tiba dia mengeluarkan ponselnya lalu melemparkannya kepada Ivan. Di satu sisi Ivan menangkapnya dengan tangkas, tapi setelahnya dia menatap Jonathan dengan tatapan heran.
"Apa-apaan kau ini?" tanya Ivan.
Jonathan menyeringai. "Kau hacker, bukan? Ambil informasi sebanyak yang kau bisa dari ponselku, itu sudah cukup untuk membuktikan identitasku."
"Sialan, ternyata kau mengujiku!" Ivan mendengus kesal.
Tiba-tiba seseorang datang, dia tidak lain adalah Marcell. Semua orang termasuk Nisa langsung menghentikan aktivitas mereka semua demi menatap Marcell. Mereka sangat paham jika Marcell kembali, berarti dia telah selesai melakukan tugasnya, yaitu menculik Daniel dan menginterogasinya dengan cara apa pun.
Nisa meletakkan stik biliar di atas meja, kemudian dia berkata, "Bagaimana hasilnya?"
"Seperti dugaan, setelah aku melakukan beberapa hal terhadapnya ... dia mengaku telah menjebakmu. Tapi maaf, aku membuatnya kehilangan kesadaran."
"Mengapa kau lakukan itu?" tanya Nisa.
"Aku tidak bisa menahan diriku saat mengetahui satu hal, dia adalah orang di balik organisasi Humble Dog. Dia bajing*n yang jadi dalang penculikanmu."
"Apa?!" Semua orang tersentak.
^^^*Note: Nisa diculik di episode [Gerombolan Para Anjing, bab 85&86] ^^^
"Nisa, kau pernah diculik?! Tapi bagaimana bisa?" tanya Jonathan seakan tidak percaya.
"Itu terjadi sudah cukup lama, dan aku bisa diculik karena lengah. Mereka menggunakan gas pelumpuh syaraf untuk menangkapku. Tapi sekarang aku sadar, betapa mirisnya hidupku. Adik iparku sendiri ternyata musuhku yang selama ini aku cari-cari untuk kubunuh!"
"Lantas, sekarang bagaimana? Kau mau melepasnya begitu saja?" tanya Dika.
"Hei, kenapa kau bilang begitu? Kau tidak tahu sifat bos kita seperti apa?" tanya David dengan tatapan sinis.
"Aku tahu, tapi tetap saja melukainya butuh pertimbangan. Apalagi jika bos ingin kembali bersama suaminya yang tidak berguna itu, tentu saja dia tidak boleh melukai adik iparnya demi citra baik di depan mertuanya."
"Nisa tidak akan kembali lagi bersamanya!" teriak Jonathan yang seketika membuat semua tatapan orang tertuju kepadanya.
Kini suasana menjadi canggung, terlebih lagi bagi Jonathan. Sedangkan di sisi lain Nisa hanya diam, dan tiba-tiba saja dia berkata, "Marcell, apa kau juga sudah merekam semua yang dikatakan Daniel tadi?"
"Sudah, rekamannya berbentuk video," jawab Marcell.
"Bagus, berikan video itu ke Ivan!"
"Eh? Apa kau berniat untuk menyebarkan video itu, bos?!" tanya Ivan.
"Ya, tapi kau harus mengedit video itu dulu. Jangan tampilkan gambar dan potong di bagian Marcell bicara! Aku ingin membuat rekaman itu seolah-olah seperti rekaman pengakuan, bukan interogasi. Tunggu perintah dariku lagi untuk kapan waktunya kau menyebarkan video itu. Setelah video itu tersebar luas, kau boleh berbuat sesuka yang kau mau!"
"Siap, laksanakan! Hehehe ..." Ivan tersenyum bahagia.
"Cih, cecunguk ini senang sekali gara-gara bisa panen raya!" celetuk Dika.
"Kalau iri bilang saja iri! Heh, tahun ini penghasilanku akan lebih tinggi darimu!"
"Ck, mati saja sana!"
"Cukup! Apa aku menyuruh kalian berdua bicara?" tanya Nisa dengan tatapan sinis yang sontak saja membuat Ivan dan Dika berhenti beradu mulut.
"Jika kalian memang ingin membuat orang mati, maka akan aku kabulkan!"
"Sungguh?!" Sontak saja semuanya tambah bersemangat.
"Ya, kalian semua kecuali Marcell dan Ivan! Selain kedua orang itu, kalian bebas membunuh sesuka yang kalian mau! Sekarang siapa musuh kita sudah jelas! Daniel ataupun Humble Dog sama saja! Masing-masing dari kalian berpencar, hancurkan semua yang berhubungan dengan bajing*n itu! Aku mau semuanya lenyap malam ini juga!"
"Baik bos!" Mereka yang diperintahkan oleh Nisa langsung bergegas pergi menjalankan apa yang Nisa minta.
"Ivan, aku butuh kau untuk mengawasi semuanya dari sini! Dan kau jangan lupa untuk mengedit video itu!"
"Baik, inilah yang aku tunggu-tunggu!" jawab Ivan dengan senyuman iblisnya.
"Dan kau Marcell," ucap Nisa sambil melirik ke arah Marcell.
"Ya?"
"Kosongkan kasino ini! Usir semua tamu, aku tak peduli meskipun mereka VIP! Dan jika sudah, bawa Daniel ke area tengah!"
"Baiklah, tapi ... yang satu ini bagaimana? Bagiku dia juga cuma tamu," ucap Marcell sambil melirik ke arah Jonathan.
"Kau ingin aku tetap di sini bersamamu, iya kan Nisa?" tanya Jonathan.
__ADS_1
Nisa menghela napas. "Hahh ... kau boleh tetap di sini jika kau mau, dan nantinya jangan menghalangiku."
"Percayalah padaku, lagi pula aku selalu mendukungmu!"
"Baguslah."
***
Waktu terus berjalan dan kini sudah menunjukkan pukul 8 malam waktu setempat. Kasino sudah kosong seperti apa yang Nisa minta. Di ruangan judi yang luas itu kini hanya terdapat 5 orang. Nisa, Jonathan, Marcell, Ivan dan Daniel yang sedang duduk di kursi dalam keadaan terikat.
"Waktunya bangun dasar bajing*n," ucap Nisa yang tiba-tiba menuangkan segelas air ke atas kepala Daniel.
Daniel langsung tersadar, dia berkedip beberapa kali hingga pandangannya yang kabur berubah jadi normal. Dia sangat kaget saat melihat Nisa yang kini berada tepat di hadapannya.
"K-kau!?"
Nisa tersenyum sinis. "Ya, ini aku. Sudah lama ya adik ipar, atau ... mungkin harus kusebut selingkuhanku. Bukankah kau sendiri yang membuat skenario menjijikkan itu?"
Daniel membisu, dia akhirnya mengerti apa yang sedang terjadi padanya saat ini. Dia paham jika Marcell yang sebelumnya menculik dan menginterogasinya hanya orang suruhan Nisa.
Daniel juga mulai memperhatikan sekeliling, dia sadar bahwa dia tengah berada di dalam gedung kasino. Setelah mengamati situasi dia kemudian mencoba untuk membuka simpul ikatan yang mengikat tangannya, tetapi dia tak kuasa.
"Sedang apa kau sialan?!" bentak Nisa sambil mencengkeram rahang Daniel.
"...." Daniel tak menjawab dan malah melotot kepada Nisa.
"Heh, kau terlalu meremehkanku Daniel! Kau salah besar jika berpikir bahwa aku akan diam saja dan tak membalasmu seperti orang bodoh. Pembalasanku baru saja dimulai, tapi sebelum itu ... aku ingin berbincang sedikit denganmu."
"Bicara soal apa hah?! Kau mau menyuruh orang itu mematahkan jariku lagi agar aku mengakui semuanya?!"
Nisa tersenyum tipis. "Hmm ... sepertinya itu tidak perlu. Informasi penting yang aku inginkan sudah kau katakan semuanya lewat interogasi tadi. Dan kau salah jika menganggap tidak akan terluka jika kau bicara jujur. Karena caraku sedikit berbeda, interogasinya baru akan dimulai saat tawanannya terluka dulu."
Tiba-tiba saja Nisa mendekatkan wajahnya, melotot dan kemudian berbisik, "Setiap pertanyaan yang tidak dijawab dengan jujur telah mengorbankan satu per satu jarimu. Heh, 6 dari 10 jari tanganmu telah hancur. Nikmatilah setiap rasa sakit ini!"
"Terkutuk kau wanita iblis!" teriak Daniel yang langsung disambut oleh tamparan keras dari Nisa.
"Punya hak apa kau mengutukku hah?! Yang kau dapatkan masih belum sebanding dengan apa yang kau perbuat padaku! Kau membuat namaku tercemar di hadapan umum! Kau membuatku kehilangan temanku! Kau membuat keluargaku kecewa padaku! Dan kau membuatku ditinggalkan suamiku!"
"Punya salah apa aku padamu hah?! Punya hutang apa aku di kehidupan sebelumnya?! Apa kau sadar kau hampir membuatku jadi gila?!"
"Aku tidak habis pikir kau masih belum tahu mengapa aku melakukan ini. Pertama, karena kau istri dari kakak tiri yang aku benci. Kedua, aku muak melihatmu mendapat perhatian dan kepercayaan lebih dari ayahku. Dan alasan utama, tentu saja karena kau telah membunuh putraku!" teriak Daniel penuh amarah.
"Apa?! Jadi kau masih berpikir jika akulah dalang dari kebakaran itu?" tanya Nisa seakan tidak percaya.
"Jika bukan kau maka siapa lagi?! Sekarang aku semakin yakin karena kau sendiri adalah seorang kriminal!"
"Baiklah, lagi pula sekarang sudah jadi seperti ini. Anggap saja jika aku memang membunuh putramu. Sepertinya kau memang tidak bisa menerima kenyataan sampai hanyut di dalam fantasi gilamu."
"Apa katamu?! Aku balas dendam karena kehilangan putraku dan kau bilang itu fantasi?!"
Nisa menghela napas dan melirik ke arah Marcell, "Hahh ... aku perlu kursi."
"Biar aku saja yang ambilkan!" sahut Jonathan yang kemudian segera mengambil sebuah kursi yang tak jauh dari sana.
"Dengar adik iparku sayang, aku tak mau berlama-lama denganmu. Jadi akan aku perjelas sekarang, kau sudah melihat sekelilingmu dan aku beritahu bahwa inilah Grizz Glory Casino. Akulah ketua Grizzly Cat, orang yang pernah kau cari-cari wahai ketua Humble Dog!"
"A-apa?! Orang itu adalah kau?! Tapi bagaimana bisa? Bukankah harusnya pria?!" Daniel melotot dan tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Kau ketinggalan informasi dasar bodoh, di generasi sebelumnya memang dipimpin oleh pria. Tapi sekarang adalah generasiku. Ngomong-ngomong lucu juga, kau dulu pernah menculikku dengan menyuruh seorang eksekutif. Bodoh sekali karena membiarkanku lolos."
"Padahal keluarga Kartawijaya itu terkenal sangat taat akan hukum, tapi aku mengerti kenapa kau terjun ke dunia gelap ini. Keyran Kartawijaya, kakak tirimu itu adalah pewaris utama semua kekayaan keluargamu. Kau merasa tak puas dengan itu, lalu kau diam-diam membuat sebuah organisasi gelap dan menjadikan perdagangan senjata ilegal sebagai bisnis utama."
"Oh ya, kapan kau memulai usaha di bidang ini?"
"Bukan urusanmu!" bentak Daniel.
"Haha kau benar, untuk apa aku tahu? Lagi pula sebentar lagi bisnismu ini akan aku hancurkan!" gertak Nisa dengan senyuman.
"Apa maksudmu?!"
"Haiss ... kau ini, tadi aku kan sudah-"
BUZZ BUZZ ...
BUZZ BUZZ ...
Tiba-tiba saja ponsel Nisa berdering. Nisa langsung memasang senyum iblisnya saat tahu bahwa panggilan telepon itu berasal dari salah satu rekannya, yaitu Yhonsen.
"Hm, sepertinya ini penting." Nisa mengangkat panggilan telepon itu dengan angkuh, bahkan dia juga menyalakan speaker agar semua orang dapat mendengar jelas.
"Ya, bagaimana di sana?"
"Cabang barat kota, lokasi dekat pelabuhan, 32 orang telah dibereskan! Misi selesai, siap menunggu perintah selanjutnya!" jawab Yhonsen.
"A-apa?! Ini pasti tipuan!" sanggah Daniel.
"Oh, jadi dia sudah bangun?" tanya Yhonsen.
"Begitulah, mari beralih ke panggilan video agar dia percaya!"
"Baik!"
Nisa mengarahkan layar ponselnya kepada Daniel. Daniel merasa tak percaya dengan apa yang saat ini dia lihat, salah satu tempat yang selalu dia banggakan kini telah lenyap. Semua anak buah yang selalu dia andalkan kini telah tiada, semuanya binasa bersamaan dengan kobaran api yang terus melahap tempat itu.
"Oke, cukup! Dan untukmu Yhonsen, segera kembali ke sini jika di sana sudah selesai!" pinta Nisa yang setelahnya menutup panggilan telepon itu.
"K-kau ... bagaimana kau bisa tahu tempat di mana aku melakukan transaksi?!" tanya Daniel dengan nada kasar.
"Huh, aku tak punya kewajiban menjawab pertanyaanmu itu."
BUZZ BUZZ ...
__ADS_1
Ponsel Nisa kembali berdering, dan Nisa pun kembali memperlihatkan senyuman iblis. Kali ini yang meneleponnya adalah Dika.
"Bos, area pusat kota blok B, 60 orang dibereskan. 13 orang sedang dalam pengejaran, anak buahku sedang mengejar mereka," jelas Dika.
"Hmm ... daerah pusat kota ya, agak susah juga membereskan mayat mereka. Ah, tunggu sebentar!" Nisa lalu menoleh ke arah Marcell. "Hei, bukankah di pusat kota ada proyek konstruksi yang sempat dihentikan?"
"Ya, katanya ditunda sementara karena masalah dana pembangunan," jawab Marcell.
"Bagus! Buang saja mayat mereka ke sana! Campur dengan semen dan jadikan mereka fondasi agar bangunan semakin kokoh! Hehe, bahkan gangster pun juga bisa ikut mengayomi masyarakat!"
"Sesuai perintahmu," jawab Dika yang langsung mengakhiri panggilan telepon.
"Kau ... dasar psikopat!" teriak Daniel.
Nisa menyeringai, "Heh, terserah kau mau menyebutku apa."
Lagi dan lagi, telepon dari rekan-rekan Nisa yang melaporkan telah membereskan segala jenis cabang organisasi milik Daniel terus berdatangan. Nisa dengan senyuman terus menanggapi telepon tersebut, sedangkan di sisi lain raut wajah Daniel kian menjadi pucat.
"Apa kau puas sekarang?! Kau telah menghancurkan apa yang telah aku bangun selama ini dengan susah payah!" teriak Daniel seakan tak terima.
"Masa bodoh!" Tiba-tiba Nisa menggeser kursi untuk lebih dekat dengan Daniel. "Aku penasaran, apa Natasha juga terlibat dalam skenario perselingkuhan ini?"
"Semua ini adalah idenya! Istriku itu juga sangat membencimu!" jawab Daniel secara spontan.
"Oh, jadi begitu ..." Nisa mengeluarkan ponselnya, dia terlihat seperti bersiap untuk menelepon seseorang.
Ketika sudah tersambung, dia lalu berkata, "Lakukan rencana A!"
"Baik bos!" Terdengar suara wanita yang menjawab perintah Nisa.
Nisa menyimpan ponselnya dan tersenyum pada Daniel. "Bukankah menurutmu tidak adil jika hanya kau yang kubalas?"
Daniel langsung berekspresi panik. "Sialan kau! Apa yang mau kau perbuat pada Natasha?!"
"Bukan apa-apa, aku tidak berencana untuk membunuhnya. Hanya saja ... aku telah menyusupkan anak buahku ke kediaman utama, dia akan menyajikan susu hangat yang dicampur dengan vitamin untuk Natasha. Vitamin itu akan merusak rahimnya. Masalah ini timbul karena balas dendam demi anak, kan? Maka sekalian saja tidak usah punya anak untuk selamanya!"
"Kau kejam! Apa kau masih pantas disebut sebagai manusia?! Padahal kau seorang wanita, tapi kau bisa-bisanya melakukan itu terhadap wanita lain!"
"Tidak semua wanita pantas diperlakukan lembut. Dan kau berhentilah protes! Semuanya adil dalam cinta dan perang! Inilah perang antara kau dan aku! Tapi kau jangan berpikir semuanya telah usai!"
"Apa kau masih belum puas menghancurkan hidupku?!"
Nisa tak menjawab, dia malah mengulurkan tangannya ke arah Marcell. "Berikan benda itu padaku sekarang!"
Marcell mendekat, dia memberikan sebuah benda kepada Nisa. Kemudian Nisa memamerkan benda tersebut pada Daniel. "Masih ingat benda ini?"
"Stun gun?"
"Saat aku diculik dulu, eksekutif yang kau suruh menyiksaku dengan alat ini. Aku tak akan membalas sebanyak aku pernah disengat. Tapi karena kau adik iparku, maka aku akan melakukannya sampai di titik di mana ini tidak membunuhmu!"
"J-jangan! Aku mohon jangan lakukan! Sudah cukup kau mematahkan jari tanganku!" teriak Daniel sambil meronta.
"Heh, apa kau tahu kenapa kau kalah dariku? Karena kau terlalu takut untuk mati!" Nisa langsung menyengat Daniel dengan stun gun yang bertegangan tinggi itu.
"Arghhh!!"
Daniel berteriak kesakitan menerima setiap sengatan listrik yang berlangsung terus-menerus. Tak butuh waktu lama untuk Daniel mencapai batasnya hingga akhirnya dia kembali tak sadarkan diri.
Nisa yang telah selesai melakukan aksinya lalu beralih menatap ke arah Ivan. "Sebarkan video itu sekarang!"
"Baik!" jawab Ivan.
"Marcell, antarkan aku ke kamar," pinta Nisa dengan suara pelan.
"Biar aku saja!" sahut Jonathan yang segera mendekat ke arah Nisa. "Kau pasti lelah, mau aku gendong?"
Nisa menggeleng, lalu dia berkata, "Marcell, sepertinya aku butuh obatku."
"Baik, nanti akan aku antarkan ke kamarmu, beserta dengan makananmu," ucap Marcell.
"Aku tidak lapar," jawab Nisa yang kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Jonathan.
Marcell menghela napas dan menatap ke arah Jonathan. "Sepertinya kali ini aku butuh bantuanmu, tolong bujuk dia dan bila perlu suapi dia."
"Serahkan padaku! Aku pasti membuatnya tersenyum ceria lagi!"
***
Video pengakuan Daniel yang Ivan sebarkan menjadi viral di internet. Semuanya heboh dan tidak percaya dengan hal tersebut. Apalagi mereka yang sempat menghina Nisa dan membela Natasha mati-matian.
Semua orang yang dulunya salah sangka terhadap Nisa pun kini sudah mengetahui kebenarannya. Dan tentu saja Keyran tak terkecuali, dirinya saat ini sedang kelabakan dan bingung mau berbuat apa. Dia hanya bisa memerintah orang untuk mencari keberadaan Nisa secepatnya dari ruangan kerjanya.
TOK TOK TOK!
"Permisi Tuan, di sini ada mau penting yang ingin bertemu dengan Anda!" ucap Bibi Rinn.
"Siapa?!" Keyran langsung membuka pintu tersebut, dan tampaklah Gilang.
"A-ayah mertua?!"
"Ya, ada hal penting yang perlu aku bicarakan empat mata denganmu. Ini soal Nisa."
"Baiklah, silakan masuk."
Mereka berdua kini duduk di sofa, saat ini Keyran merasa sangat gugup karena baru pertama kali berhadapan dengan ayah mertuanya seperti sekarang.
"Aku tahu di mana Nisa berada," ucap Gilang.
"Sungguh?! Dia di mana?! Aku akan menjemputnya sekarang juga!" Keyran langsung bersemangat.
"Ya, tapi sebaiknya kau dengarkan penjelasanku dulu. Putriku itu cukup nakal, kau akan hancur jika ke sana tanpa tahu apa-apa."
__ADS_1
"Ehmm ... baiklah, aku akan mendengarkan."