
"M-maafkan saya!! Silakan lanjutkan!" tanpa memungut dokumen yang terjatuh, Valen langsung berlari keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
"Tunggu! Ini bukan seperti yang kau kira!!" teriak Keyran dengan ekspresi panik.
"Ada apa?" tanya Nisa dengan tatapan polos.
"Ada apa, ada apa? Ada kau yang tidak peka! Valen masuk dan salah paham dengan posisi kita saat ini!"
"Memangnya kenapa dengan posisi kita?"
"K-kau! Terserah, aku lelah menjelaskannya padamu! Kau cobalah pahami saja sendiri!"
Sejenak Nisa tertegun, dia mencoba mencerna maksud dari suaminya itu. Saat dia menatap ke depan, dia langsung paham begitu melihat milik suaminya yang berada tepat di depan wajahnya. Dia juga teringat pernah di posisi sama seperti ini sebelumnya, wajahnya memerah membayangkan hal intim yang sebelumnya sering dia lakukan.
"Glup ..." Nisa menelan ludah, dia yang awalnya biasa saja sekarang merasa gugup luar biasa.
"Anu ... Key, bisa bantu aku? Rambutku masih tersangkut." pinta Nisa dengan senyum canggung.
"Lakukan saja sendiri, seperti yang kau lakukan sejak tadi!" jawab Keyran tanpa melihat wajah Nisa.
"Tapi ... bagaimana kalau si kecil bangun?"
"Akhirnya kau paham betapa susahnya aku menahan! Kalau dia bangun, tentu saja kau harus tanggung jawab!" teriak Keyran dengan wajah memerah, mirip seperti kepiting rebus.
"Ukhh ... Jika benar-benar bangun, bisa tidak kalau tanggung jawabnya ditunda?" tanya Nisa sambil meringis.
"Kau egois! Itu tidak sebanding dengan usahaku untuk menahan!"
Nisa langsung terdiam, dia bingung harus berbuat apa dan bagaimana. Jika dia melakukan dengan perlahan, itu akan dirasakan Keyran sebagai sentuhan yang lembut. Tapi jika dia melakukan dengan cepat sama seperti sebelumnya, Keyran akan merasakan sensasi yang agresif. Keduanya sama-sama akan memberikan rangsangan pada Keyran.
"Aha, aku punya ide! Akan aku tarik turun ritsleting celana ini, lalu kau lepaskan celanamu! Dengan begitu maka akan mudah melepaskan rambutku yang tersangkut! Kita sama-sama cari cara aman!"
"Itu cara paling konyol! Aku tidak mau melepas celana! Kau lakukan saja sebisamu secepat mungkin! Semakin lama kita dalam posisi ini, pikiranku semakin membayangkan hal-hal liar!"
"O-oke ..." Nisa sekarang masa bodoh dengan apa pun, yang penting saat ini dia bisa secepatnya melepaskan rambutnya yang tersangkut di ritsleting celana suaminya.
"Nah! Akhirnya sudah lepas!" Nisa langsung berdiri sambil memperlihatkan senyum bodohnya. Dia lalu menengok jam dinding yang berada di ruangan itu.
"Ah, aku baru ingat masih ada hal yang harus aku kerjakan! Aku pergi dulu ya, darling!" Nisa lalu mencium pipi Keyran. "Sampai jumpa saat makan malam nanti~"
Tanpa berkata apa pun lagi Nisa bergegas keluar dari ruangan itu. Sedangkan Keyran, dia masih tidak habis pikir dengan semua tingkah konyol istrinya. Dia menyadarkan tubuhnya yang terasa letih itu di sofa dan menghela napas panjang.
"Nisa ... Nisa ... kau datang tanpa diundang, bawa makanan lalu buat keributan, menghalangiku bekerja lalu menggodaku, sekarang kau pergi tanpa permisi. Sungguh ... apakah sikapmu ini cerminan dari istri yang berbakti?" gumamnya dengan nada pasrah.
***
__ADS_1
Petang hari ketika sudah tiba saatnya untuk pulang dari kantor. Karena kehadiran Nisa tadi siang, beberapa pekerjaan Keyran tidak selesai tepat pada waktunya. Akhirnya yang kena getahnya adalah para karyawan yang dia suruh untuk lembur demi menyelesaikan pekerjaan itu.
Sesampainya dia di kediaman, dia berpapasan dengan seorang pelayan ketika hendak menuju ke kamarnya. Dia bertanya apakah Nisa sudah pulang ke rumah atau belum, pelayan itu pun menjawab bahwa Nisa sudah pulang dan sama sekali belum keluar dari kamar.
Keyran segera menuju ke kamarnya, dia sedikit terkejut saat melihat Nisa yang telah tertidur lelap di ranjang. Untuk sejenak dia termenung saat menatap wajah polos istrinya yang sedang tertidur itu, lalu menghela napas dan tersenyum tipis.
"Bodoh, kau main ke mana saja sampai-sampai jam segini sudah tidur?"
Kau mungkin akan melewatkan makan malam yang penting. Tapi jika ada yang bertanya kenapa kau tidak ikut, aku bilang saja kalau kau kelelahan dan butuh istirahat. Yah ... lagi pula itu bukan masalah jika kau tidak ikut.
Keyran lalu membersihkan diri dan bersiap untuk turun mengikuti jamuan makan malam penting yang telah dijanjikan.
Ya, malam ini adalah malam yang sangat penting. Malam penentuan nasib Daniel untuk ke depannya. Apa lagi hal ini menyangkut tentang 2 keluarga konglomerat yang paling berpengaruh. Suasana jamuan makan malam itu jadi sesuatu yang cukup menegangkan.
Ketika hari semakin malam, tiba-tiba saja Nisa terbangun dari tidurnya. Dia mengucek kedua matanya, berkedip beberapa kali dan mencoba melihat jam dinding menunjuk pukul berapa.
"Setengah sepuluh ...?"
Ah, aku ketiduran. Ini artinya aku melewatkan makan malam! Sialan, aku penasaran apa yang akan terjadi pada Daniel! Tapi di mana Keyran? Kenapa dia tidak bangunkan aku? Apa mungkin terjadi masalah serius?
KLAKK!
Nisa mendengar suara pintu terbuka, tak lama setelahnya datanglah Keyran yang raut wajahnya tampak terkejut karena melihatnya sudah bangun.
"Kapan kau bangun?" tanya Keyran.
Keyran lalu mendekati Nisa dan ikut duduk di pinggir ranjang. "Ya begitulah, hasil tes DNA yang terbaru sudah keluar. Dan hasilnya tetap positif."
"Lalu apakah akan ada pernikahan?!" tanya Nisa dengan antusias.
"Haha, kau semangat sekali, harusnya kau jangan tidur dan ikut makan malam."
"Ayolah darling ... cepatlah cerita! Aku sudah tidak sabar!"
"Hahh ... kau benar, memang akan ada pernikahan. Tapi nanti rencananya upacara pemberkatan akan dilaksanakan di gereja secara diam-diam, hanya anggota keluarga yang akan datang. Pemberkatan akan dilangsungkan 3 hari lagi."
"Secepat itu? Tapi bagaimana caranya untuk memberitahukan hal ini ke publik? Bukankah akan jadi pertanyaan besar jika pernikahan dari dua keluarga besar dilakukan secara diam-diam?"
"Makanya dengar dulu bicaraku sampai habis. Karena kejadian hamil di luar nikah itu para orang tua sepakat untuk melakukan pemberkatan secara diam-diam. Dan untuk memberitahukan ke publik, maka akan diadakan acara resepsi pernikahan secara terpisah. Alasannya juga sudah disiapkan, di acara resepsi itu mereka juga akan mengungkap keberadaan tentang bayi itu."
"Jika pihak pers bertanya, alasan yang sudah disiapkan adalah pengakuan bahwa mereka sudah menikah diam-diam secara sah sejak lama. Dengan melakukan semua ini, harapannya bayi mereka akan mendapatkan pengakuan secara hukum dengan cara yang resmi."
"Bukannya ini termasuk pembohongan publik?"
"Iya, tapi mau bagaimana lagi? Reputasi keluarga jauh lebih penting! Untung saja gadis yang dihamili oleh Daniel semasa kehamilannya selalu sembunyi dan tidak memperlihatkan diri. Setidaknya itu akan menguatkan alibi pernikahan rahasia mereka."
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan Daniel sendiri? Apakah dia bersedia menerima pernikahan ini?"
"Untuk apa kau peduli pada perasaannya?" tanya Keyran dengan tatapan heran.
"Bukan begitu Key. Pernikahan tanpa cinta itu berat, kau sendiri dan aku telah membuktikannya. Terlebih lagi situasi Daniel lebih kompleks, dia bukan cuma jadi suami secara tiba-tiba, tapi langsung jadi seorang ayah."
Keyran lalu menahan wajah Nisa dan menatapnya lekat-lekat. "Dengar ya, kau tidak perlu buang-buang waktumu untuk memikirkan masalah rumah tangga orang lain. Dia sudah berani berbuat, dia juga harus berani bertanggung jawab."
"Ya ... kau benar. Tapi ngomong-ngomong ... hadiah pernikahan macam apa yang harus kita berikan untuk mereka?"
"Berikan saja hadiah yang sewajarnya, kau juga tidak perlu ambil pusing untuk hal seremeh itu." Keyran tiba-tiba mengubah ekspresinya, dia juga menunduk dan menyadarkan kepalanya di pundak Nisa. "Maafkan aku ..."
"Eh, apa yang kau bicarakan?" Nisa kebingungan.
"Aku harus mengatakannya sekarang agar nanti kau tidak kaget. Ayahku tidak adil padamu, maafkan aku ..."
"Maksudmu?"
"Kau sendiri tahu betul jika nantinya pernikahan ini akan membawa keuntungan bagi kedua belah pihak. Ayah dan Tuan Besar keluarga Adinata sangat antusias dengan penyatuan keluarga ini lewat pernikahan. Tapi yang jadi di luar perkiraanku adalah masalah tentang bayi itu ..."
"Ayah sangat senang karena kehadiran cucu pertamanya. Setelah acara resepsi pernikahan selesai, dia berencana akan mengadakan pesta lain demi menyambut kedatangan cucunya itu. Aku sempat menyarankan bahwa itu hal yang tidak perlu dilakukan, tapi ayah bersikeras. Bisa-bisanya dia sama sekali tidak memikirkan tentang perasaanmu ..."
"Padahal kau belum lama mengalami keguguran, tapi malah akan ada pesta penyambutan bayi yang lain. Tidak masalah jika kau nantinya tidak mau menghadiri pesta itu, aku juga tidak akan hadir!"
"Hei ... apa yang kau bicarakan? Ayahmu sedang dalam suasana hati yang baik, lagi pula pesta penyambutan itu juga dilakukan demi alasan yang baik. Tentu saja kita harus datang." ucap Nisa dengan nada lembut.
Keyran mengangkat kepalanya lalu menatap Nisa dengan tatapan tidak percaya. "Apa kau serius?"
Nisa tersenyum tipis. "Iya, aku serius. Aku tidak apa-apa Key, aku sama sekali tidak merasa iri ataupun dengki. Aku sudah merelakan bayiku. Aku bukan manusia berhati sempit yang tidak mau menerima apa keputusan Tuhan."
"Tapi tetap saja! Kau jangan memaksakan dirimu jika nanti kau tidak mau."
Nisa lalu memeluk suaminya yang terlihat menggemaskan itu. "Haha, tenang saja ... aku sudah mengubah cara berpikirku! Lagi pula kita kan masih bisa buat bayi lagi!"
"Sungguh?!"
"Iya, tapi tidak sekarang!"
"Lalu kapan?"
"Tunggu tiga hari lagi."
Keyran lalu membalas pelukan dari Nisa. "Hehe ... baiklah, akan aku ingat. Tiga hari lagi jangan lupa!"
"..."
__ADS_1
Dasar suami tukang modus, bilang saja kalau mau menagih jatah!