
"Gawat kenapa? Jangan teriak-teriak!" ucap Nisa yang kemudian duduk di pinggir ranjang.
"Gawat karena ... Selamat ulang tahun boss!!" teriak Ivan penuh semangat.
"Kalau cuma mau bilang itu maka akan kututup."
"Jangan dong, aku memang mau membahas hal serius. Ini soal perekrutan anggota baru, malam ini jadi datang, kan?"
"Hah ... maaf ya, hari ini aku harus di rumah. Ini perintah suami."
"Cih, padahal semua mengharapkan kehadiranmu. Dan ada satu hal yang juga penting, beberapa orang yang sempat mendapat perhatianmu, diantara mereka ada yang sudah tereliminasi dari daftar."
"Ohh ... mereka agresif, bahkan sudah saling menyingkirkan sebelum seleksi resmi dimulai. Tapi memang itu yang aku harapkan, jika mereka gagal melewati ini artinya mereka memang tak pantas bergabung. Tapi diantara mereka yang tersisa apakah ada yang menonjol? Jika ada, jelaskan latar belakangnya!"
"Yang paling menonjol ada 2 orang, yang satu terkenal sebagai preman dan tukang bully di sekolah, sekolah teknik, bahkan anak-anak dari sekolah lain katanya juga takut kepadanya. Dia seumuran dengan adikmu Reihan. Katanya setelah lulus dia sama sekali tak ada niatan kuliah, tapi menjadi mafia adalah cita-citanya. Sungguh kekanakan."
"Lalu satunya?"
"Yang satunya di luar perhitungan, dia baru mengajukan diri kemarin dengan cara menyerang para calon yang lain. Dia juga seumuran dengan adikmu, tapi dia putus sekolah dan sekarang jadi calo. Kira-kira kau lebih tertarik pada siapa, bos?"
"Hmmm ... ceritakan lebih lanjut yang calo!"
"Dia laki-laki bertubuh ideal, yatim piatu dan sekarang dia hanya tinggal bersama adiknya. Seorang adik perempuan usianya 9 tahun, punya penyakit mata yang membuat kedua matanya buta, dan perlu diobati."
"Jadi alasannya karena uang demi menyelamatkan adiknya?"
"Benar, saat ditanya dia jawab begitu. Tapi karena penyakit itu semacam keturunan genetik, jadinya bocah itu sendiri juga sakit, tapi hanya mata yang sebelah kiri, dia mengaku kadang jadi buta sebelah. Inilah alasannya dia jadi terpuruk, dan ... sebelumnya dia dapat julukan Boxing Champion! Dia bilang pelatihnya melarang agar jangan mengikuti boxing lagi sebelum matanya benar-benar sembuh, tapi karena kekurangan biaya alhasil dia berhenti. Itulah mengapa sekarang dia jadi calo."
"Boxing Champion yaa ... menarik," Nisa menyeringai.
"Kenapa bos? Jangan-jangan naksir sama dia~ Dia cukup tampan loh~"
"Sembarangan! Aku sudah punya suami!"
"Terus kenapa tadi bilang menarik? Setiap kali kata itu disebutkan pasti bos punya rencana jahat."
"Hei Ivan, meskipun kau sering cekcok dengan Dika, kau masih ingat dia dulunya seperti apa, kan?"
"Yaa ... Dia dulunya sama seperti bocah itu, sama-sama mendapat julukan Boxing Champion. Dia sok hebat dan membandingkan kemampuannya denganku yang mendalami kickboxing, tapi dengan alasan konyol dia malah beralih ke muay thai lalu menjelek-jelekkan kickboxing di hadapanku. Dan dia ..."
"Cukup! Berhenti mengeluh tentang hidupmu. Tadi itu aku bertanya karena sudah memutuskan ke mana arah bocah itu, biar dia nanti secara pribadi dilatih oleh Dika."
"Tapi kan aku sudah bilang kalau matanya bermasalah!"
"Itu mudah, tinggal biayai pengobatannya langsung beres. Adik kecilnya yang buta total juga. Tapi tunggu nanti hasilnya, jika dia lulus maka aku bersedia membiayai semuanya."
"Serius? Jangan-jangan yang lebih gila lagi bos ingin nantinya dia bekerja di kedai!"
"Tepat."
"Gila, anak baru mau dijadikan seorang pembunuh."
"Hei, jangan terburu-buru memakiku. Kedai milik Dika yang jual kopi dan roti sebagai camilan itu cuma samaran, padahal aslinya kedai pembunuh. Orang-orang yang paham tempat apa itu bisa memesan jasa pembunuh lewat sana. Dan untuk bocah itu, dia punya alasan untuk jadi pembunuh."
"Masa?"
"Kau bodoh, padahal kau sendiri yang cerita. Dia punya seorang adik yang kondisinya sangat mengkhawatirkan, bahkan untuk dirinya sendiri juga sama, intinya dia butuh uang. Asalkan dia jadi pembunuh maka dia akan dapat bayaran tergantung siapa target yang dia bunuh. Tapi jika dia macam-macam, kita bisa ancam dia dengan adiknya. Tapi, aku rasa dia akan setia."
"Tahu dari mana?"
"Karena aku tahu betul cara berpikir orang seumuran dia. Kita sudah berbuat baik, jika dia berkhianat maka langsung bunuh saja! Di tempat kita dilarang ada pengkhianat. Apa kau tahu alasanku lebih menyukai yang masih muda?"
"Bos butuh penyegaran mata?"
"Sialan! Tentu saja bukan! Itu karena mereka masih dalam masa pembentukan karakter, jadi kita akan jauh lebih mudah dalam mengasah kemampuan ataupun pola pikir mereka. Apa sampai sini kau paham?"
"Iya-iya paham, padahal sendirinya baru umur 20 tahun tapi bicaranya sok tua ..."
"Heh, kau cuma lebih tua 2 tahun dibanding aku. Tapi untuk sisanya, karena kuota terbatas maka biar yang lain saja yang urus. Kalian lakukan sama seperti tahun lalu."
"Tahun lalu mana ada perekrutan, bos kan masih jadi bucin si dokter itu. Selama bos vakum, kita semua serasa malas dan hilang arah. Apa perlu diundur agar bos bisa hadir?"
"Percuma diundur, beberapa hari ke depan aku sibuk, suamiku mengajak bulan madu untuk hadiah ulang tahunku."
"Terus bagaimana? Masa dilakukan tanpa ketua?"
"Hah ... biar Marcell yang urus, aku sepenuhnya percaya pada dia. Karena tahun lalu perekrutan anggota kosong, maka untuk kuota ubah jadi dua kali lipat! Sebarkan berita ini, buat suasana semakin menggila!"
"Baiklah. Ngomong-ngomong ... bos kan mau bulan madu, butuh obat kuat? Kalau iya aku ada, dua hari lalu aku membelinya di pasar gelap, namanya Ramuan Cinta XX! Belum sempat aku pakai kok, bos mau?"
"K-kau ..."
"Hehe, obat itu bisa untuk cewek cowok. Kalau mau, nanti aku kirimkan lewat paket kilat, dijamin cepat sampai karena aku sendiri kurirnya! Anggap saja hadiah ulang tahun dariku."
"Tutup mulutmu!! Aku sudah kuat tanpa bantuan obat!! Simpan saja obat itu untukmu sendiri!"
TUT ... TUT ...
Nisa mengakhiri panggilan telepon itu lalu melempar ponselnya ke atas kasur. Dia menyilangkan tangan lalu mondar-mandir tidak jelas sambil bergumam, "Gila! Gila! Ivan Gila!"
Jika aku benar-benar pakai obat kuat yang asalnya dari pasar gelap itu, efek obatnya pasti bukan main-main. Aku tak sanggup membayangkan akan seliar apa aku nanti.
"Akhh! Lupakan!"
Sejenak Nisa diam dan berpikir, lalu dia merendah untuk mengambil paket yang sebelumnya dia sembunyikan di kolong tempat tidur. Dia duduk sofa sambil membuka paket itu, namun dia kebingungan ketika melihat isi paket tersebut.
"Hmm ... surat dan voucher makan di mekdi. Pantas saja paketnya ringan."
Nisa meletakkan kertas voucher, kemudian membuka amplop surat dan mulai membaca surat itu.
--
Apa kabar Nisa? Jangan kaget ya karena dapat kiriman dariku. Aku menulis surat ini dengan perasaan bimbang entah surat ini sampai kepadamu atau tidak, tapi aku putuskan untuk menulisnya.
Aku dengar akhirnya hubunganmu membaik, syukurlah, aku turut senang untukmu. Intinya aku cuma mau mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. Rasanya aneh jika aku tidak mengucapkannya, karena sebelumnya aku selalu mengucapkannya.
Aku sadar apa statusku, dan mengirimimu hadiah memang kurang pantas, tapi masa bodoh dengan itu. Dan jangan berpikir aneh-aneh karena aku memberi hadiah voucher makan, aku tak tahu apa yang kau inginkan. Bahkan jika ada, pasti sudah dipenuhi oleh suamimu yang sanggup memberikan segalanya. Karena itu aku memberimu voucher makan. Dan sekilas aku mengingat kejadian dulu saat aku memarahimu karena makanan junk food, padahal kau sangat menyukainya.
--
Sejenak Nisa berhenti membaca dan menahan tawa. "Pfftt ... sekarang pun sama saja, aku juga dilarang makan mi instan." Nisa membuka halaman surat selanjutnya.
--
Sebenarnya banyak yang ingin aku ungkapkan, tapi anehnya semuanya jadi susah jika diungkapkan lewat tulisan. Pesanku sedikit, jangan lupa oleskan salep ke lukamu! Kau itu benci bekas luka, aku tahu itu tapi aku memilih untuk tidak memberikan salep lagi sebagai hadiah, karena aku jamin bekas lukamu akan hilang sebelum salep itu habis.
__ADS_1
Tapi meskipun begitu, aku tidak menjamin untuk luka lainnya. Jujur, aku pernah memeriksa CCTV rumah sakit. Aku melihat teman-teman satu geng mu membesukmu ketika masih dirawat. Meskipun kau akan mengabaikan hal ini, tolong jaga baik-baik dirimu dan sebisa mungkin hindari sesuatu yang berbahaya. Nisa bodoh! Bisanya cuma membuat orang khawatir!
Jangan balas suratku, fokus saja pada satu orang. Harapanku adalah, semoga ke depannya aku hanya akan menerima kabar baik tentangmu. Jika tak sengaja bertemu, semoga bukan bertemu di rumah sakit.
Happy birthday honey! Ini terakhir kalinya aku memanggilmu honey. Ingat istilah YOLO, You Only Live Once. Isi kehidupanmu dengan hal-hal baik agar tak menyesal.
Salam hangat dari Ricky.
--
"Salam hangat honey!"
Nisa tersentak, dia kaget mendengar suara yang sangat tidak asing baginya. Dia menelan ludah, perlahan menengok ke belakang dan langsung melihat Keyran sedang berkacak pinggang menatapnya dengan tatapan sinis.
"O-ohh ... Hai, darling ..." sapa Nisa dengan senyum canggung.
"Kemarikan!" Keyran meraih surat itu, tapi dengan tangkas Nisa berhasil menghindar. Nisa berdiri kemudian menyembunyikan surat beserta voucher di belakangnya.
"Aku bilang kemarikan!" Keyran mengulurkan tangannya.
"U-untuk apa? Ini kan hadiahku ..." Nisa memalingkan pandangannya.
"Heh," Keyran menyeringai, lalu berjalan dan kemudian duduk di sofa yang tadinya diduduki oleh Nisa. "Aku beri pilihan, pilih hadiah dari mantanmu atau hadiah dariku! Pilih salah satu!"
Nisa perlahan mendekat, menyerahkan voucher makan itu pada Keyran. Namun Keyran belum puas dan masih mengulurkan tangan. "Berikan surat itu juga!"
"..." Nisa menggeleng.
"Kenapa? Kau masih punya perasaan terhadapnya?"
"B-bukan begitu, lihat ini ..." Nisa membentangkan kertas surat dan merobeknya kecil-kecil, lalu potongan kertas itu dia buang di tempat sampah yang berada di pojok kamar.
"Apa surat itu sebegitu pentingnya sampai kau tidak ingin aku membaca seluruh isinya?" tanya Keyran dengan tatapan tajam.
"Bukan! Ini melambangkan perasaanku terhadapnya, sudah aku hancurkan lalu aku buang. Lalu ... voucher makan itu mau kau apakan?"
"Cih," Keyran juga merobek kertas voucher lalu menyebarkan potongannya ke lantai. "Ini jawaban atas pertanyaanmu."
"Kenapa di robek?! Aku bisa dapat paket deluxe gratis dengan voucher itu!"
"Dia dokter tapi malah memberi hadiah voucher makan junk food. Hadiah semacam ini pantas di buang. Bahkan jika hadiah bagus pun tetap akan kubuang!"
"T-tapi ... aku suka junk food, sudah lama aku belum memakannya, bisa tidak buat pengecualian di hari ulang tahunku?"
"Aku bisa membelikanmu saham, kau bisa memiliki satu cabang dengan cara franchise."
"Lupakan! Makanan buatan Bibi Rinn sudah membuatku puas."
Dasar manusia boros! Aku cuma mau sekali-kali menikmati burger dan cola, tapi malah mau dibelikan saham mekdi.
"Kau memakiku diam-diam?"
"Haha ... mana ada aku memaki, tapi ... bukannya sekarang harusnya kau berada di kantor?"
"Ada dokumen yang ketinggalan, aku tadinya mau ke ruang baca, tapi saat melewati kamar, tiba-tiba aku teringat padamu. Tadinya aku mau mengejutkanmu, tapi yang aku dapati ternyata kau sedang asyik membaca surat dari mantanmu sampai-sampai tak sadar kalau ada orang yang masuk."
"Tapi kan suratnya sudah aku buang, lagi pula isinya juga bukan hal penting dan aku juga tak akan membalasnya, hanya ucapan selamat ulang tahun ..."
"Pokoknya kau dilarang berhubungan apa pun dengannya!"
"Duduk sini!" Keyran menyuruh Nisa untuk duduk di sebelahnya, dan tanpa berkata apa pun Nisa menurutinya. Begitu Nisa duduk, Keyran tiba-tiba memeluk erat dirinya.
"Eh??"
"Aku percaya, tapi tetap saja aku tidak suka! Bagaimanapun juga dia pernah ada di hatimu, dan sampai sekarang dia masih peduli sampai sebegitu perhatiannya terhadapmu. Aku jelaskan bagaimanapun kau tetap tak akan paham!"
"Soal apa?"
"Soal aku yang khawatir! Sesama pria, aku sangat paham kalau dia masih menyimpan rasa untukmu. Dan yang membuatku marah adalah kau yang masih memikirkannya! Kau itu milikku, kau hanya boleh memikirkanku seorang!"
Nisa tersenyum, dia membalas pelukan Keyran tanpa berkata apa-apa.
"Besok kita juga akan berangkat bulan madu, itu adalah saat-saat dimana hanya ada kau dan aku, aku tidak suka jika kau masih memedulikan orang lain!"
"Iya darling, aku paham ... Intinya kau sedang dalam fase minta dimanja~"
"Aku serius, jangan menggodaku!"
"Hehe, kau mau dicium sebelum berangkat ke kantor lagi?"
"Mau!" wajah Keyran cemberut dan memerah bersamaan.
"..."
Ada untungnya juga aku pacaran, jadinya aku tahu bagaimana mengatasi hal-hal seperti ini.
Nisa melepas pelukannya lalu dengan cepat mencium pipi Keyran. "Nah, sudah kucium. Berangkat kerja lagi sana!"
"Lagi! Cium bibirku juga baru aku mau berangkat!"
"..."
Apa benar dia pulang karena mau ambil dokumen? Biasanya dia suruh Valen yang ambil.
Keyran sudah bersiap dan menutup mata. Nisa menghela napas, membelai wajah Keyran dan bersiap untuk menciumnya.
TOK TOK TOK!!
"Nyonya, saya mau menyampaikan ... Eh?!" Bibi Rinn yang tiba-tiba datang dan barusan mengetuk pintu yang terbuka langsung membalikkan badan.
Keyran dan Nisa langsung membelalak karena kaget, mereka merubah posisi duduk dan berusaha terlihat setenang mungkin.
"Ada apa Bibi kemari?" tanya Keyran.
"A-anu ... sebelumnya maaf Tuan, pintunya terbuka jadi saya langsung masuk, dan saya mengira bahwa Tuan sedang berada di kantor. Tapi ada hal penting yang saya harus sampaikan kepada Nyonya ..." jawab Bibi Rinn.
"Hal penting apa? Ehmm ... Bibi sudah boleh berbalik." ucap Nisa dengan senyum canggung.
Bibi Rinn lalu berbalik. "Saya mau menyampaikan kalau ... Keluarga Nyonya datang berkunjung dan sekarang berada di ruang tamu."
"Hah?! Untuk apa mereka kemari?"
"Mungkin mau merayakan ulang tahunmu," sahut Keyran.
"Iya Nyonya, mereka juga terlihat membawa kue dan hadiah." jelas Bibi Rinn.
__ADS_1
Nisa berdiri dan hendak melangkah, namun tangannya ditahan oleh Keyran. "Aku mau menemui mereka, Key ... tolong lepas, kau cari saja dokumen yang kau butuhkan."
"Aku tahu, tapi tunggu aku. Mertuaku datang, jadi aku juga harus menyambut mereka."
"Hhhh ... terserah,"
Ini akan jadi hari yang melelahkan.
Akhirnya Keyran, Nisa serta Bibi Rinn turun menemui keluar Nisa. Sesampainya mereka di ruang tamu, Nisa langsung mendapat pelukan hangat dari ibunya.
"Selamat ulang tahun putriku sayang, sekarang umurnya sudah genap 20 tahun, kau bukan lagi bocah remaja sekarang!"
"Iya, haha ..."
Justru ibu yang kegirangan lebih mirip bocah.
Nisa mulai memperhatikan sekeliling, dia melihat ayahnya yang santai sedang minum minuman yang tadinya sudah disiapkan Bibi Rinn, lalu Reihan yang sibuk bermain ponsel, dan Dimas yang terlihat menatap kue yang tersaji di atas meja.
"Kenapa kalian datang tanpa mengabariku dulu?" tanya Nisa yang berusaha lepas dari pelukan ibunya.
"Duduk sini!"
"Baik ..." Nisa segera duduk di sebelahnya ayahnya. Lalu diikuti oleh Keyran yang duduk di sofa lainnya.
CTAKK!
"Awww ... kenapa ayah tiba-tiba menyentil jidatku?! Sakit tahu ..." Nisa mendengus kesal sambil mengusap-usap jidatnya.
"Heh, tentu saja karena ini kejutan. Ibumu ingin sekali mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung, jadi ayah sebagai suami yang baik harus mengiyakan."
"Padahal tadi ayah paling malas diajak," celetuk Dimas.
"Terserah, biasanya aku juga malas merayakan ulang tahunku. Tapi sepertinya kalian datang dengan persiapan, hadiah untukku mana?"
Reihan bangkit, lalu menyerahkan tas kantong yang isinya hadiah dari mereka berempat pada Nisa. "Nih, tadi katanya malas, tapi malah tanya hadiah."
"Humph, suka-suka aku dong!" Nisa segera mengambil sebuah kotak dari dalam kantong. "Ini dari siapa?"
"Dari ibu."
"Hehe, aku penasaran ..." Nisa segara membuka bungkus hadiah itu, dan begitu melihat isinya untuk sejenak dia ternganga. "Buku resep masakan? Serius ibu memberiku hadiah ini?"
"Iya, buku itu edisi terbatas! Dan sudah ditandatangani oleh penulisnya sendiri, Chef Juned! Ibu mengantre berjam-jam saat acara meet and greet. Ibu jamin jika kau mempelajari buku itu dengan baik maka suamimu akan tambah cinta."
"Hah??" Keyran ternganga.
"Iya, untuk mendapatkan hati seseorang harus mendapat simpati perutnya terlebih dulu!"
"T-terima kasih hadiahnya ..." Nisa lalu mengambil kotak lagi yang besarnya sama. "Siapa yang memberiku buku lagi?"
"Aku," ucap Reihan. "Belum dibuka tapi sudah tahu kalau itu buku, tapi buku bukan sembarang buku, itu satu-satunya yang ada di dunia! Ayo kak, buka!"
Saat Nisa membuka hadiah itu, lagi-lagi dia terkejut. "1001 Cara Menggoda dan Kalimat Gombalan ... ditulis oleh ReihanAkangTamvan ... Buku macam apa ini sialan?! Kasih hadiah yang niat sedikit kek!"
"Seluruh niatku sudah aku curahan dalam buku itu! Kalau nggak mau ya berikan saja ke kakak ipar. Lihat tuh, dia senyum-senyum sendiri."
"Mana ada aku tersenyum," Keyran langsung membuang muka.
"Cih, akan aku museumkan buku ini." Nisa lalu mengambil hadiah yang berukuran lebih kecil. "Ini dari siapa?"
"Dari ayah."
Di dalam hadiah itu ada kotak perhiasan, saat Nisa membukanya tampaklah sebuah liontin berbentuk lingkaran. "Bagus, tak masalah biarpun bukan merk terkenal, yang penting hadiahnya masuk akal."
"Haha, tentu saja itu bukan merk terkenal, karena itu bukan perhiasan, tetapi jimat!"
"Apa??"
"Iya jimat, itu diberikan oleh seorang laki-laki botak yang mirip biksu. Ayah memberi sumbangan untuk kuilnya, lalu dia memberikan jimat pelindung itu sebagai balasan terima kasih. Jimat itu sangat cocok untukmu."
"..."
Tiba-tiba aku jadi enggan memakainya, jelas-jelas ayah ditipu.
"Pokoknya harus kau pakai! Jangan membantah!"
"I-iya, modelnya cantik, pasti akan aku pakai."
Hiks ... sialan.
Nisa mengambil hadiah terakhir, dan ukuran hadiah itu adalah yang paling kecil, juga sudah jelas kalau hadiah itu dari Dimas. "Apa kau memberiku gantungan kunci?"
"Bukan kok, buka saja." jawab Dimas.
Begitu Nisa membuka hadiah, dia terheran-heran. "Flashdisk??"
"Iya, di dalam sana tersimpan file tentang film-film kesukaan kakak, film terbaru yang belum tayang alias bajakan juga ada. Kakak bisa nonton sepuasnya!"
"..."
Firasatku buruk, pasti di dalam sini tersimpan juga film porno. Ternyata hadiah Keyran masih lebih baik.
"Aku benci kalian," ucap Nisa secara spontan. Beberapa saat kemudian dia menyadari tatapan sinis dari semua orang, lalu dia berkata, "Benci ... Benar-benar cinta!"
Ya begitulah sedikit permulaan rasa melelahkan di hari ulang tahun. Harus punya kesabaran ekstra untuk melewatinya. Terlebih lagi keluarga Nisa berkunjung cukup lama hingga Nisa serasa ingin pindah KK, dari yang lama maupun yang baru.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi buta saat Keyran masih tertidur, dia tidur sangat lelap karena bahagia. Tapi berbeda halnya dengan Nisa, dia sudah bangun dan bersiap-siap, memakai pakaian training, jaket hitam serta masker.
"Inilah saatnya kabur!"
Jam alarm berbunyi pukul 06:00, Keyran bangun dan dia terkejut karena Nisa tidak ada di sisinya. Dia masih santai karena berpikir Nisa ada di rumah, namun lama-kelamaan dia merasa aneh. Akhirnya Keyran memutuskan untuk mencari Nisa di seluruh ruangan rumah, namun hasilnya nihil. Bertanya ke Bibi Rinn juga hasilnya sama.
"Dimana istriku yang nakal itu?! Istri bodoh, diajak bulan madu malah kabur!"
DRRTT DRRTT ...
DRRTT DRRTT ...
DRRTT DRRTT ...
Ponsel Keyran berdering, dia langsung mengangkatnya begitu tahu bahwa itu dari Reihan.
"Kakak ipar cepat kemari! Kak Nisa ada di sini!"
__ADS_1
"Aku ke sana!"