Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Perubahan Sikap


__ADS_3

Setelah mengantar Keyran pergi, Nisa langsung kembali masuk ke rumahnya. Dan hal yang pertama kali dia lakukan adalah mencari bibi Rinn. Saat itu bibi Rinn juga sedikit bingung karena Nisa yang biasanya tidak membutuhkannya tiba-tiba mencarinya.


"Nyonya ada perlu apa mencari saya?" tanya bibi Rinn dengan wajah bingung.


"Aku ingin bibi Rinn istirahat dan bibi bisa pulang ke rumah." pinta Nisa sambil tersenyum.


"Nyonya ingin memecat saya? Apa saya sudah berbuat kesalahan yang sangat besar? Nyonya tolong beritahu kesalahan saya, saya pasti akan memperbaikinya! Saya mohon tolong jangan pecat saya..." ucap bibi Rinn dengan tampang memelas.


"Bukan seperti itu, aku nggak akan memecat bibi. Aku hanya ingin mulai hari ini bibi Rinn istirahat untuk sementara, bibi nggak perlu mengurus rumah selama Keyran di Jerman."


"T-tapi, apa alasan nyonya? Tuan sudah berpesan kepada saya agar menemani nyonya selama beliau pergi. Apakah nyonya merasa terganggu dengan kehadiran saya?"


"Aku nggak terganggu dengan kehadiran bibi Rinn, aku cuma butuh ketenangan. Bibi juga nggak perlu khawatir, aku bisa mengurus semuanya sendiri. Ini perintah, bukan permintaan. Bibi Rinn paham kan?" ucap Nisa dengan tatapan sinis.


"Baik nyonya, saya undur diri..." bibi Rinn lalu sedikit membungkuk dan kemudian berjalan pergi meninggalkan Nisa.


Sikap nyonya berbeda sekali, sorot matanya juga menakutkan. Aku harus segera mengabari tuan, dia harus tahu tentang hal ini!


Setelah Nisa memastikan bahwa bibi Rinn sudah pergi, dia langsung tersenyum. Kemudian dengan perasaan yang bahagia dia berjalan menuju ke kamarnya. Sesampainya disana dia langsung berbaring di ranjang, dia juga mulai tertawa cekikikan sambil memandang handphone miliknya.


"Hahaha, akhirnya ada sedikit ruang bernapas untukku! Tapi, semuanya baru akan resmi dimulai 16 jam lagi. Keyran, aku menunggu kabar darimu." ucap Nisa dengan senyum licik.


Jika Keyran langsung menuju ke Jerman, setidaknya itu akan butuh waktu 16 jam.


"16 jam..." gumam Nisa.


Lebih baik aku gunakan waktu ini untuk menikmati hidup.


"Key, entah kenapa saat menatapmu aku merasa ada yang aneh. Aku merasakan ada keraguan yang terpancar jelas dari matamu. Tapi, sebenarnya memang itulah yang aku harapkan."


DG Club adalah umpan yang cocok untukmu. Jika kau menggigit umpan itu, sudah dipastikan kalau kau akan mengambil tindakan.


"Ya ampun, memikirkannya saja sudah membuatku sangat bersemangat! Aku harap kau nantinya juga akan bersemangat sama sepertiku, karena ini semua adalah pilihanmu sendiri!"


...16 jam kemudian, di sebuah kamar hotel yang ada di Berlin, Jerman...


...••••••...


"Bagaimana hasilnya? Apa istriku melakukan sesuatu yang mencurigakan?" tanya Keyran pada Valen.


"Tuan, saya mendapat laporan bahwa setelah anda pergi nyonya langsung menemui bibi Rinn, dan nyonya menyuruhnya untuk tidak mengurus rumah selama tuan ada disini. Tapi, setelah itu nyonya tidak keluar rumah sama sekali. Nyonya juga tidak mengundang siapa pun ke rumah. Para agen yang disuruh tidak bisa mengawasi nyonya ketika di dalam rumah, hanya itu yang bisa saya sampaikan."


"Baiklah, kau bisa pergi!"


"Baik tuan, saya undur diri..." Valen lalu pergi meninggalkan Keyran.


"Dasar pembohong!" gumam Keyran.


Nisa, kau terus-menerus berbohong padaku. Kau bilang tidak mau ikut bersamaku karena masih harus kuliah, tapi kenyataannya kau malah membolos. Kau juga bilang masih ada urusan disana, sebenarnya urusan seperti apa yang kau kerjakan?


"Sudahlah, lagipula kau pasti juga akan keluar rumah. Agen suruhanku akan terus mengawasimu, awas saja kalau kau sampai ketahuan membuat masalah, setelah pulang aku pasti akan buat perhitungan denganmu!"


Keyran kemudian memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya, tapi dia beberapa kali kehilangan fokus saat sedang mengetik dokumen penting. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa bisa seperti itu, dirinya merasa kalau telah melupakan suatu hal yang cukup penting.


"Sialan! Kenapa hari ini aku tidak bisa fokus sama sekali?" Keyran merasa kesal lalu mematikan laptop miliknya. "Sepertinya aku melupakan sesuatu, tapi apa?"


Keyran lalu mengambil handphone miliknya kemudian menelepon Valen. Dan tentu saja Valen terkejut saat Keyran meneleponnya, karena kamarnya tepat berada di sebelah kamar milik Keyran.


"Tuan ada perlu apa menelepon saya?" tanya Valen.


"Periksa jadwalku hari ini! Apa aku telah melewatkan sesuatu?"


"Tapi, jadwal tuan dimulainya besok, jadi hari ini tuan tidak melewatkan apa pun. Sebenarnya ada apa sampai tuan merasa kalau sudah melewatkan sesuatu?"


"Aku merasa seperti itu karena aku tidak bisa fokus. Apa kau tahu penyebabnya?"


"Saya mana bisa tahu penyebab tuan tidak bisa fokus, itu kan berasal dari diri tuan sendiri. Tapi... kalau saya boleh menebak, tuan seperti itu pasti gara-gara tuan sedang merindukan nyonya~" ucap Valen seolah mengejek.

__ADS_1


"Eh!? Aku merindukan Nisa...?" Keyran tiba-tiba terdiam sejenak, "Valen, terima kasih sudah mengingatkan!" teriak Keyran kegirangan.


"Haha, sama-sa... Tut.. Tut.."


Ckck... aku belum selesai bicara tapi tuan sudah menutup telepon, dasar pengantin baru!


Setelah itu Keyran langsung mencoba menelepon Nisa, tapi Nisa tidak mengangkatnya. Keyran terus mencoba berkali-kali tapi tetap tidak diangkat, akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan kepada Nisa. Tak lama kemudian Nisa meneleponnya balik dengan panggilan video, dan tentu saja Keyran langsung mengangkatnya.


"Hng! Sekarang kau baru ada waktu?" tanya Keyran acuh tak acuh.


"Hei hei, jangan marah dong~ tadi itu aku sedang ke kamar mandi, makanya aku nggak angkat telepon darimu. Ngomong-ngomong... apa kau baru saja tiba di Jerman?"


Dia belum mengganti pakaiannya, tapi kalau aku perhatikan... dia ganteng juga. Sialan, niatnya sih pengen screenshot, tapi kalau ganteng begini... gagal dong buat jadiin meme.


"Tidak juga, aku memang baru sempat mengabarimu sekarang."


Dia sedang tiduran di kasur, ternyata seperti ini jika melihatnya dari atas. Hmmm, lumayan juga...


"Key, sekarang di Jerman jam berapa?"


"Jam 7 malam, lalu bukankah perbedaan waktu disana lebih cepat 6 jam? Itu artinya sekarang disana jam 1 malam kan?"


"Iya, kau benar. Lalu bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Perasaanku?" tanya Keyran dengan wajah bingung.


"Maksudku itu, bagaimana perasaanmu karena bisa bicara denganku yang dari masa depan? Disini hari sudah berganti loh~"


"Apa kau tidak pernah sekolah? Apa aku juga harus menjelaskan padamu kalau bumi itu bulat dan juga berputar, serta hal lainnya tentang pembagian waktu?"


"Oh, ternyata kau di bumi. Tapi, sekarang aku berada di planet mars loh~"


"Ya, kenapa tidak ke pluto saja sekalian? Bahkan aku berharap kalau kau tersedot ke dalam black hole! Padahal jelas-jelas kalau kau sedang berbaring di ranjang!"


"Haha, iya iya... aku akan berhenti bercanda. Lagipula, di planet mars juga nggak ada jaringan internet. Jika ada, sudah pasti sejak dulu aku pergi kesana untuk membuat konten."


"Yaa.. memang benar aku nggak mampu beli roket. Tapi kan aku bisa meminta ultraman untuk membawaku terbang kesana, bahkan dengan kecepatan cahaya aku akan sampai dalam sekejap."


"Khayalanmu itu terlalu mengerikan. Nisa, aku mohon bangunlah dari mimpimu!"


"Key, bagaimana bisa aku bangun jika aku belum tidur? Aku belum bisa tidur karena menunggu kabar darimu. Inilah alasanku menghubungimu dengan video call, sebelum tidur aku ingin melihat wajahmu..." ucap Nisa sambil tersenyum, dan saat itu juga Keyran langsung mematikan kameranya. "Keyran! Hei, kau kenapa!? Jawab woi!!" teriak Nisa sekencang-kencangnya.


"Jangan berteriak! A-aku cuma mematikan kameranya saja..." ucap Keyran dengan wajah yang memerah.


"Huft... syukurlah, intinya kau sudah sampai di Jerman. Jadi bekerjalah dengan baik, jangan khawatir padaku, betah-betahlah tinggal disana!"


"Hng! Aku memang selalu melakukan yang terbaik! A-aku juga tidak khawatir padamu! Disana sudah larut, kau juga sudah melihat wajahku, jadi cepatlah tidur!"


"Iya, aku akan tidur. kau pasti sangat lelah karena perjalanan jauh, kau juga segeralah tidur! Selamat malam Key..."


"Selamat malam juga untukmu..." Keyran lalu menutup panggilan video dari Nisa dan kemudian dia bergumam, "Nisa, kau selalu bersikap masa bodoh, tapi terkadang kau peduli padaku. Sebenarnya mana sifatmu yang asli?"


Dan entah kenapa aku merasa jika semua itu bukanlah dirimu, firasatku mengatakan kalau semua itu adalah kebohongan yang kau tunjukkan kepadaku.


Waktu terus berlalu, dan tidak terasa sudah satu minggu Keyran berada di Jerman. Karena setelah malam itu Nisa tidak lagi menghubungi atau menanyakan kabarnya, di otaknya mulai terlintas pikiran yang tidak-tidak mengenai Nisa. Bahkan para agen yang dia suruh juga tidak bisa memberikan informasi yang cukup memuaskan.


"Apa para agen itu benar-benar profesional? Kenapa mereka sama sekali tidak memberikan informasi yang berguna?" tanya Keyran pada Valen.


"Tuan, mereka adalah agen profesional. Dan saya juga menyimpulkan bahwa nyonya adalah orang yang biasa-biasa saja, yah... meskipun tingkah lakunya sedikit berbeda dengan orang pada umumnya." jawab Valen sambil mengalihkan pandangan matanya.


"Berbeda? Apa maksudmu?"


"Emmm.. maksud saya nyonya itu seperti makhluk nokturnal, nyonya hanya keluar saat malam hari. Nyonya juga membeli sepeda, dan setiap hari saat pukul jam 7 malam beliau mulai bersepeda. Para agen juga bilang kalau nyonya hanya berkeliling di sekitar alun-alun kota saja. Jadi saya menyimpulkan bahwa nyonya adalah orang yang suka berolahraga di malam hari."


"Hah..." Keyran menghela napas lalu menggosok-gosok keningnya. "Dia hanya keluar saat malam hari, itu artinya selama ini dia bolos kuliah. Padahal dia diterima di universitas yang sangat bagus. Aku baru pertama kali mengetahui kalau ada orang yang sangat pemalas seperti ini. Lalu, apakah selama seminggu ini dia hanya bersepeda saja?"


"Tidak tuan, saat bersepeda nyonya juga mengunjungi tempat yang beragam. Alun-alun, taman, danau, angkringan pinggir jalan dan juga pemakaman. Semua itu didatangi nyonya saat bersepeda di malam hari."

__ADS_1


"Hmmm, menarik..." Keyran lalu diam dan berpikir sejenak dan kemudian dia bertanya, "Apa ada tempat yang sering dia datangi?"


"Oh iya, ada tuan! Nyonya sering pergi ke sebuah kedai yang menjual roti dan minuman. Menurut para agen, penjual itu juga memanggil nyonya dengan sebutan 'bos' dan bukan hanya itu, saat kedai itu sedang sepi nyonya dan penjual itu mulai melakukan hal yang tidak biasa!" ucap Valen dengan antusias.


"Hal yang tidak biasa?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.


Sialan, si penjual itu pasti adalah orang yang akan berciuman dengan Nisa waktu itu! Ternyata gadis kurang ajar itu berani selingkuh saat aku disini! Pantas saja dia menyuruhku untuk betah di Jerman, ternyata ini alasannya.


"Saat kedai itu sepi, nyonya dan penjual itu memulai pertunjukan mereka. Nyonya sebagai penyanyi dan si penjual itu mengiringinya dengan gitar. Para agen juga melapor kalau suara nyonya sangatlah bagus! Sebelumnya saya merasa ragu, tapi akhirnya saya menyuruh para agen itu untuk merekamnya. Setelah saya mendengarkan ternyata benar-benar bagus, bahkan rekaman itu saya gunakan sebagai nada dering alarm saya! Apa tuan juga ingin meminta rekaman nyanyian nyonya?"


"Tidak perlu, simpan saja untukmu sendiri! Lalu, apakah mereka hanya melakukan itu?"


"Sebenarnya... menurut para agen, mereka berdua terlihat sangat dekat. Mereka berdua juga selalu bercanda gurau satu sama lain, nyonya juga terlihat sangat senang saat bersamanya. Orang yang tidak tahu pasti akan beranggapan bahwa mereka pacaran." Valen kemudian melihat raut wajah Keyran menjadi marah, seketika dia langsung berkata, "T-tuan Keyran tolong jangan marah, hubungan nyonya dan penjual itu hanyalah teman. Sementara tuan adalah suami nyonya, lagipula... mereka juga tidak ada kontak fisik sama sekali." Valen lalu mengalihkan pandangannya.


"Sudahlah, kau bisa pergi! Tetap suruh para agen itu untuk selalu mengawasi istriku!"


"Baik tuan, saya undur diri..." Valen sedikit membungkuk lalu berjalan pergi.


...Pada saat yang sama, keadaan Nisa...


...••••••...


Seperti biasa hari ini Nisa datang mengunjungi kedai milik Dika. Tapi, kali ini yang membuat berbeda adalah Nisa datang saat masih siang hari. Nisa tidak memesan apa pun dan hanya menunggu keadaan kedai menjadi sepi, melihat hal itu Dika juga langsung menangkap isyarat dari Nisa kalau dia ingin membicarakan hal penting dengannya.


Tak lama kemudian pelanggan terakhir pergi, Dika langsung membalik tanda buka menjadi tutup. Dika kemudian mendatangi Nisa dan duduk secara berhadapan dengannya.


"Bos, ada apa?" tanya Dika dengan ekspresi serius.


"Tunggu sebentar," Nisa lalu menyerahkan satu amplop tebal berwarna coklat kepada Dika. "Ambil itu!" ucap Nisa acuh tak acuh.


"Apa ini...?" Dika lalu membuka amplop itu dan setelah membuka isinya dia terkejut, "B-boss... apa ini asli?" tanya Dika dengan tampang tidak percaya.


"Yup, itu asli. 30 juta cukup kan buat bayar utang?"


"30 juta? Ini kebanyakan woiii...! Emang sih utangnya bos banyak, tapi juga nggak sebanyak ini! Kira-kira dong kalau mau bayar!"


"Biarin kebanyakan, toh sekarang aku orang kaya. Jadi, untuk seterusnya kalau aku beli disini aku nggak perlu bawa uang."


"Tapi kan, yang aku jual cuma roti. Lagipula bos sendiri juga jarang kesini."


"Hei, aku beritahu ya, untuk kedepannya aku bakalan sering main kesini. Jadi tutup mulutmu dan terima saja uang itu!"


"Iya makasih," Dika lalu memelankan suaranya, "Bos, kau datang kemari bukan cuma untuk memberiku uang ini kan? Sebenarnya aku juga ingin memberitahumu sesuatu, aku perhatikan selama beberapa hari ini bos selalu diikuti orang."


"Yup, aku juga tahu. Lalu, kemarikan tanganmu!" Nisa langsung menarik tangan Dika, kemudian dengan suara lirih dia berkata, "Dagu, leher, ulu hati."


"Oh, aku mengerti! Lalu, setelah ini bos mau pulang?"


"Nggak, setelah ini aku mau ke tempatnya Ivan. Apa kau mau ikut?"


"Nggak, aku nggak mau ketemu sama pecinta loli kayak dia! Tapi, rute ke tempatnya Ivan cukup bagus. Nanti aku akan ikut separuh jalan, itu lebih memudahkan tugasku."


"Oke, sekarang kau bungkuskan roti untukku, mau aku bawakan buat Ivan."


"Hemm... iya, selalu saja pilih kasih ke Ivan! Bos, aku juga butuh kasih sayang darimu..." ucap Dika dengan wajah cemberut.


"Pilih kasih apanya? Aku cuma sudah lama nggak ketemu Ivan, jadi setidaknya aku harus bawakan sesuatu untuknya. Sebagai tambahan... tadi aku juga sudah buatkan jus wortel untuknya. Apa kau masih iri?"


"Sekarang nggak iri lagi, boss benar-benar adil!"


"Tentu saja, aku itu bos!"


Setelah Dika membungkuskan roti untuk Nisa, dia lalu menutup kedai miliknya. Mereka berdua akhirnya berjalan bersama menuju ke tempatnya Ivan. Dan tentu saja ketiga agen suruhannya Keyran terus mengikuti mereka. Rute perjalanan ke tempatnya Ivan cukup rumit. Saat sampai di sebuah gang yang sepi, ketiga agen itu kehilangan jejak Nisa dan Dika.


Karena tak kunjung menemukan jejak Nisa ataupun Dika, ketiga agen itu akhirnya berkumpul menjadi satu. Dan tak lama setelah mereka berkumpul tiba-tiba datanglah Dika yang muncul entah dari mana, dan Dika kemudian berjalan mendekati ketiga agen itu seolah-olah hanyalah orang asing yang numpang lewat.


Ketiga agen itu juga membiarkan Dika lewat begitu saja seolah-olah tidak menganggapnya sama sekali. Saat Dika berjarak beberapa langkah dari ketiga agen itu, dia tiba-tiba berbalik serta berteriak, "Bangs*t!! Terimalah ini!!!"

__ADS_1


BUK! BAK! BUAKH!


__ADS_2