
BRAAKK!
Nisa seketika menginjak rem secara mendadak karena kaget dengan jawaban yang diberikan oleh Valen. Dia terdiam sejenak, sama sekali tidak memedulikan suara klakson dari pengendara lain yang memperingatinya menyetir dengan ugal-ugalan.
Nisa tiba-tiba turun dari mobil dan kemudian membuka pintu belakang.
"Turun! Kau pindah ke depan!" teriak Nisa pada Valen.
"Nona ... ingin saya yang menyetir?" tanya Valen dengan ekspresi bingung.
"Ya. Kau tahu arah ke kampusku, kan?" tanya Nisa dengan tatapan sinis.
"T-tentu saja Nona."
Valen merasa sangat bingung dengan tingkah laku Nisa, tetapi dia tetap menuruti perintahnya. Dia langsung bergegas pindah duduk di depan dan menyetir dengan hati-hati.
Di sisi lain Keyran juga merasa tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Nisa. Dia kemudian berkata, "Apa tadi kau benar-benar ingin menabrakkan mobil ini?"
"Iya," jawab Nisa dengan enteng dan tanpa memandang ke arah Keyran.
"Apa kau sudah gila? Jika kau menabrakkan mobil ini bukankah kau sendiri juga ikut celaka?" tanya Keyran dengan marah.
"Tidak juga."
"Kenapa?"
"Karena aku yang menyetir, jadi aku tahu kapan aku akan melompat! Paling aku hanya akan tergores," ucap Nisa dengan serius.
"...." Keyran hanya diam dan melongo.
Astaga ayah ... sebenarnya apa yang ayah inginkan? Kenapa ayah harus menjodohkan aku dengan orang seperti ini?
Setelah perjalanan yang terasa cukup menegangkan dan melelahkan tadi, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yaitu kampus Nisa.
Nisa yang menyadari hal itu lalu bergegas untuk turun dari mobil. Sambil membuka pintu mobil, dia pun berkata, "Terima kasih atas tumpangannya."
"Tunggu!" seru Keyran.
"Apa?" tanya Nisa dengan ekspresi malas.
"Kau selesai kuliah jam berapa?"
"Jam dua siang. Memangnya kenapa?"
"Nanti aku akan menjemputmu, setelah itu kita langsung pergi memilih cincin!"
"Kau pilih saja sendiri!" ucap Nisa acuh tak acuh.
"Hei! Jangan kurang ajar! Aku melakukan ini karena ayahku menyuruh kita untuk memilihnya bersama, jadi kau harus ikut!"
"Tsk! Iya-iya, terserah kau saja!" ucap Nisa sambil berjalan pergi.
Keyran menghela napas lalu menutup pintu mobil yang sempat Nisa biarkan terbuka. "Valen, ayo jalan!"
"Baik Tuan," jawabnya sambil mengangguk.
Astaga ... baru membahas tentang cincin saja sudah ribut, bagaimana nanti kalau mereka sudah menikah? Tuan, aku doakan semoga pernikahanmu nanti berlangsung lama!
Mobil mewah itu pun kembali melaju. Tetapi, saat Nisa turun dari mobil Keyran yang tergolong sedikit orang yang mampu membelinya. Tak disangka ada seseorang yang dari kejauhan melihatnya, orang itu juga merasa tidak terlalu senang terhadap Nisa. Dia adalah teman satu geng dengan Natasha. Tentu saja dia langsung menjadikannya sebagai bahan gosip.
"Oh My God! Bukankah itu Nisa Sania!? Dia turun dari mobil mewah! Tapi ... aku rasa itu bukan mobil punya orang tuanya."
"Ini pasti ada hal menarik, aku harus segera memberitahu ke orang-orang! Hehe, siapa suruh kamu selalu buat masalah! Akan aku buat gosip yang tidak-tidak untukmu!"
"Oh iya, orang pertama yang harus kuberitahu tentu saja Natasha! Dia temanku dan dia juga sangat membencimu! Hehe, kau pasti akan habis kali ini!"
***
Nisa berjalan dengan keadaan lesu dan malas. Apalagi saat dia tiba di depan pintu ruangan kelasnya.
"Hah ... aku lupa jadwal hari ini, aku cuma bawa buku asal-asalan," gumamnya.
Semoga saja nanti nggak akan ketemu sama dosen killer! Setidaknya itu bisa sedikit mengalihkan pikiranku. Ngomong-ngomong aku belum telat, kan?
__ADS_1
"Masa bodoh, masuk saja yang penting absen!"
Nisa melangkah masuk ke kelas dengan mantap. Kemudian dia berkata, "Pagi!"
Memang belum ada dosen saat itu, tetapi semua teman sekelasnya tampak terkejut karena Nisa tiba-tiba masuk. Mereka semua sudah berpikir Nisa putus kuliah karena Nisa sudah lama tidak masuk tanpa keterangan, mereka berpikir begitu karena tak tahu tentang proyek yang dibebankan oleh dekan kepada Nisa.
Nisa merasa sedikit canggung dengan semua tatapan itu. Dia bersikap sewajarnya lalu berjalan menuju tempat duduk paling belakang dan duduk di sebelah temannya, yang tidak lain adalah Jenny dan Isma.
"Wah-wah ... tumben masuk, aku tahu kalau kamu memang pemalas. Tapi kali ini sudah kelewat!" ucap Jenny.
"Haha ... Aku ada sedikit urusan penting." Nisa lalu melirik ke arah Isma yang dia rasa temannya itu sejak tadi berekspresi murung. "Is, dari tadi kok diam terus. Kamu puasa?"
"Ssstt! Dia habis putus sama pacarnya," bisik Jenny.
"Hah?! Sorry ya, aku nggak tahu!"
"Gapapa kok, aku sudah biasa. Sudah biasa tersakiti," ucap Isma dengan senyuman hampa.
"Sabar Isma ... kita tahu kalau kamu kuat. Lagi pula masih banyak kok cowok yang lebih ganteng dan baik dari dia! Jangan terlalu dipikir. Aku benar kan, San?" tanya Jenny pada Nisa.
"...." Nisa termenung.
"Sania!"
"Eh!? I-iya, bener apa kata Jenny. Tapi ngomong-ngomong ... yang minta putus siapa?"
"Yang minta putus dia, aku sih oke-oke saja. Memang benar banyak cowok selain dia, tapi aku sudah terlanjur terbiasa ..."
"Ya sudah, mending fokus sama pelajaran saja!"
"Iya, makasih buat support nya!" Isma tersenyum.
"Sama-sama, kita kan teman!"
"...." Sejenak kemudian Nisa kembali termenung.
Tadi aku sempat berpikir andai saja aku dan Ricky putus, apakah aku akan seperti Isma? Tapi, bagaimana dengan Ricky yang sama sekali tak tahu kebenarannya? Pasti dia sakit hati, begitu juga denganku. Aku sudah berusaha semampuku menghindari perjodohan ini tapi tetap saja gagal.
Sial, jangan pesimis dulu! Masih belum terlambat! Selagi aku belum menikah secara sah, aku akan berusaha untuk membatalkan pernikahan ini! Itu pasti!
Setelah sang dosen tiba, semua orang langsung berhenti bicara dan duduk tenang di tempatnya masing-masing. Mereka semua agak merasa tegang karena dosen yang terkenal paling galak sudah datang, dialah dosen Erwin. Pelajaran pun berlangsung, dan Nisa sangat memperhatikan ajaran yang diberikan oleh dosen.
Si sisi lain Isma yang baru saja putus cinta merasa tak bisa fokus dengan pelajaran. Dia lalu mencolek tangan Nisa dan berkata, "Semalam main game kejar rank, ya?"
"Enggak kok, memang kenapa?" tanya Nisa dengan suara lirih.
"Mata pandamu kelihatan hitam banget!"
"Oh itu, aku insomnia."
Aku tak bisa tidur gara-gara terus kepikiran soal perjodohan itu.
"Risma Noviana!" teriak dosen Erwin.
"I-iya Pak!" jawab Isma yang langsung memperbaiki posisi duduknya dengan baik.
"Apa jawaban dari pertanyaan saya tadi?"
Isma kebingungan, dia lalu melirik ke arah Nisa. "Jawabannya apa woi ...!" ucap Isma dengan lirih.
"Pertanyaannya saja aku nggak tahu, tanya saja sama Jenny."
"Cepat jawab!" teriak dosen dengan tidak sabar.
"Anu ... Pak Erwin, saya masih berpikir, Pak!" Isma panik lalu melirik ke arah Jenny.
"LIFO," ucap Jenny dengan malas.
"Jawabnya LIFO, Last In First Out, Pak!"
"Salah! Jawabannya Average! Padahal ini sangat mudah, apa kamu tidak memperhatikan?" bentak dosen Erwin.
"S-saya perhatikan kok Pak, hanya saja pemahaman saya kurang ..." icap Isma dengan ketakutan.
__ADS_1
"Huh, saya maklumi kamu kali ini. Untuk selanjutnya perhatikan!"
"Iya Pak! Dasar si botak," gerutunya dengan suara lirih.
"Pfftt ...." Nisa dan Jenny tertawa kecil bersama.
"Kalian ini ... dasar teman laknat! Kalian pasti sengaja, kan?" Ucap Isma dengan kesal.
"Yoi~" jawab kedua gadis itu tanpa rasa bersalah.
Pelajaran pun kembali dilanjutkan, beberapa saat kemudian tiba juga waktu istirahat. Mereka bertiga kemudian ke kantin, saat mereka tengah asyik berbicara datanglah dua orang yang tiba-tiba mendekati meja mereka. Orang itu tidak lain adalah Natasha dan Terry.
"Oh, bukankah ini Nisa Sania yang dapat peringkat ke-3 di ujian terakhir kali itu?" tanya Natasha seolah merendahkan.
"Ya. Apa matamu sudah rusak?" balas Nisa dengan tatapan sinis.
"K-kamu ...!" Natasha kehilangan kata-kata.
Huft ... aku harus tetap tenang, di sini banyak orang. Biarkan saja dia bicara seenaknya, supaya dia makin terlihat buruk di hadapan banyak orang!
"Kenapa bunga kampus sepertimu mencariku?" tanya Nisa.
Ck, gelarnya saja bunga kampus. Tapi aslinya bunga bangkai, dasar cewek genit yang hobi mengganggu hubunganku dengan Ricky. Pasti orang ini ke sisi mau cari gara-gara sama aku! Jika begitu maka akan aku ladeni!
"Aku hanya menyapa saja, sekaligus ingin menanyakan sesuatu mengenai rumor buruk tentangmu. Kamu sudah dengar dari orang-orang, kan?" tanya Natasha.
"Rumor buruk?" Nisa lalu sambil melirik ke arah Terry.
Pantas saja membawa Terry si ketua komisi kedisiplinan, ternyata ingin menjatuhkan reputasiku di hadapannya supaya bisa langsung memberiku tindakan jika aku terbukti bersalah. Natasha ... Natasha ... apa kau tidak bosan dengan trik murahan semacam ini?
"Pagi ini kamu berangkat ke kampus diantar dengan mobil mewah, kan? Mobil yang cuma bisa dibeli oleh sedikit orang. Orang-orang si kampus ini mulai membicarakan tentangmu kalau kamu jadi simpanan orang, tentu saja itu akan merusak reputasi kampus kita. Karena itu aku ingin memastikannya dengan bertanya langsung kepadamu!" ucap Natasha dengan keras.
Karena ucapan Natasha yang cukup keras, Sontak saja mahasiswa lain yang berada di kantin mulai berkumpul dan memperhatikan mereka.
"Iya, aku memang diantar dengan mobil mewah. Terus kenapa?" tanya Nisa seakan tidak peduli.
"Ya ampun .... jadi soal kamu menjadi simpanan itu benar!" ucap Natasha seolah kaget.
"Tidak! Cermati dulu kata-kataku! Aku cuma mengakui kalau aku diantar pakai mobil mewah, aku tak pernah mengakui kalau aku jadi simpanan orang! Lagi pula bagiku memikirkan hal itu saja terlalu menjijikkan!"
"Masih tidak mau mengakuinya, kamu memang bisa saja menyangkal dengan kata-kata! Tapi soal kalau kamu diantar dengan mobil mewah itu adalah bukti nyata!"
Nisa tiba-tiba bangkit dari kursi dan berdiri dengan pose menantang. "Hei! Aku naik mobil mewah, naik kuda atau naik kerbau apa urusannya denganmu?! Lagi pula apa aku terlihat seperti seorang simpanan? Tentu saja orang yang cantik dan lemah lembut sepertimu lebih cocok!" teriak Nisa sambil menunjuk ke arah Natasha.
Natasha melangkah mundur. "Jangan bandingkan aku denganmu! Jika memang bukan, kamu tidak perlu bersikap seperti ini!" teriak Natasha dengan marah.
"Kau yang memulai," ucap Nisa sambil menyeringai.
"Kau!! Dasar ..." gerutu Natasha.
"Sudahlah, aku ingin bicara berdua denganmu!"
"Apa yang mau dibicarakan!?" tanya Natasha.
"Bukan kau, tapi Terry!"
"Aku? Memangnya mau bicara apa?" tanya Terry dengan tatapan bingung.
"Pokoknya ada, ayo pergi! Jangan cuma diam dan mengamati situasi! Ada hal penting yang aku perlu bicarakan denganmu!"
Nisa dan Terry akhirnya bersama-sama meninggalkan kantin yang ramai itu, Nisa kemudian mencari tempat yang sepi untuk bicara.
"Apa yang mau kau bicarakan denganku?" tanya Terry dengan tidak sabar.
"Hei, apa kau tahu nama-nama komite kampus ini siapa saja?" tanya Nisa.
"Aku tidak tahu, lagi pula untuk apa kau ingin mengetahuinya? Memangnya hal seperti itu berguna untukmu?"
"Ck, kalau tidak tahu ya sudah. Percuma saja aku tanya." Nisa memasang wajah kesal dan hendak berjalan pergi.
"Tunggu!" teriak Terry sambil menahan tangan Nisa. "Jika aku mencari tahu soal itu untukmu, akankan kau mau melakukan sesuatu untukku?"
"Maksudmu pertukaran? Baiklah, memangnya apa yang kau ingin aku lakukan?"
__ADS_1
Terry mengalihkan pandangan matanya. "Itu ..."