Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Awkward


__ADS_3

"Wah.... nona sangat cocok memakai gaun apa pun! Apakah nona seorang model?" Tanya seorang fashion stylist yang sedang mendandani Nisa.


"Bukan, aku seorang cosplayer!" Ucap Nisa dengan penuh kebanggaan.


"Cosplayer ya.... pantas saja semua cocok. Tapi, lingkar mata nona sangat hitam. Apa nona sangat gugup sampai tidak bisa tidur?"


"Aku nggak gugup kok, cuma habis nangis aja semalaman...."


"Kenapa nona menangis? Nona tenang saja, saya adalah pendengar yang baik juga bisa menyimpan rahasia. Kalau nona ingin bercerita silakan saja...."


"Kemarin aku habis putus!"


"Eh!? Kemarin putus lalu sekarang bertunangan?"


"Hah.... Kau nggak usah bingung, mereka bukan orang yang sama"


"Ah!? Apakah nona dipaksa?" Ucapnya dengan semangat bergosip yang menggebu-gebu.


"Sepertinya kau terlalu ingin tahu ya...." Ucap Nisa seakan menyindir.


"Ma-maafkan saya!"


"Sudahlah, soal riasan wajah aku bisa sendiri. Kau pergilah!"


"Ba-baik nona...."


"Hei, yang dari tadi menguping di luar! Kau bisa masuk!" Ucap Nisa tanpa menoleh sedikit pun.


"Wah... wah... hebat! Kakak ipar bisa tahu kalau aku berdiri di luar, padahal kan aku tidak berisik sama sekali. Tapi, aku hanya melihat saja kok, tidak sampai menguping pembicaraan, mohon kakak ipar memaklumi perbuatanku!" Ucap Daniel sambil berjalan mendekati Nisa.


"Ada apa kau kemari?" Tanya Nisa sambil merias wajahnya di depan cermin.


"Bukan apa-apa, aku hanya ingin mengenal kakak ipar lebih jauh~" Mendekat lalu berbisik ke telinga Nisa.


Nisa mendorong Daniel untuk menjauh "Sepertinya kau sedikit terburu-buru, statusku masih calon menantu keluargamu, masih belum tentu aku menjadi kakak iparmu atau tidak. Tapi, jika kau memiliki pertanyaan tentangku, aku akan dengan senang hati menjawabnya!"


"Kakak ipar sangat murah hati! Meskipun kakak ipar lebih muda dariku, aku sangat menghormati kakak!"


"Kalau mau tanya cepat tanya, jangan basa basi!" Ucap Nisa dengan tidak sabar.


"Iya deh~ Kakak ipar jangan marah~ Pertanyaanku sederhana, apakah kakak ipar dulu pernah sekolah di SMP Angin Utara?"


"....." Nisa hanya diam lalu meletakkan alat make up yang dia pegang.


"Kakak ipar, jawab dong~"


"Iya, aku pernah sekolah disana. Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau juga alumni sekolah itu? Kenapa aku nggak pernah melihatmu?"


"Pertanyaannya jangan banyak-banyak dong~ Tapi, aku akan menjawab semuanya. Yah.... wajar saja kalau kakak ipar tidak pernah melihatku, karena aku bukan alumni sekolah itu. Soal kenapa aku bisa tahu, itu karena kakak ipar sangat populer. Apalagi dengan ciri khas tahi lalat di bawah mata yang kakak punya. Tentu saja aku bisa tahu kalau itu kakak! Tapi.... aku tidak mengira kalau nama kakak ternyata Nisa~" Ucap Daniel dengan enteng seolah-olah mereka cukup akrab.


"Oh, aku baru tahu kalau aku populer. Adik ipar~ Aku populer soal apa?"


"....."

__ADS_1


"Kenapa diam? Adik ipar, jawab dong~" Nisa tersenyum dengan tatapan mata seakan ingin membunuh orang.


"I-itu.... tentu saja karena kakak ipar sangat manis! Ka-kakak ipar saat itu menjadi idola banyak orang...." Daniel tergagap dan berjalan mundur beberapa langkah.


"Oh, idola ya.... Itu sudah lama sekali~ Ternyata adik ipar masih mengingatku! Apakah adik ipar adalah salah satu penggemarku?" Tatapan mata Nisa bertambah semakin mengerikan.


"Bu-bukan! Penggemar kakak adalah teman-temanku, aku mengenal kakak dari mereka. Orang seperti aku mana pantas menjadi penggemar kakak! Sudah ya kakak ipar, aku pergi dulu!" Berlari keluar secepat mungkin.


"Pecundang!"


Ini cukup aneh.... saat itu aku memang sedikit populer, aku nggak nyangka ternyata ada yang masih mengingatku. Yang membuatku semakin heran adalah dia tadi bicara seolah-olah tahu banyak tentangku. Kalau memang seperti itu, mungkin dia bisa membantuku. Tapi.... itu juga bisa jadi bumerang. Sebaiknya aku biarkan saja dia, kalau dia sampai membuat masalah, tinggal bereskan saja!


Brak....! Suara benda jatuh.


"Hng! Kapan ayah dan ibu datang!? Aku ingin acara ini cepat selesai. Berada di tempat semacam ini hanya membuatku merasa muak!" Keluh Nisa sambil menendang kursi.


"Kendalikan dirimu! Jika ada yang melihatmu seperti ini, drama yang kita lakukan tadi jadi tidak berguna. Untunglah disini hanya ada kita berdua!" Keyran tiba-tiba datang dan berjalan mendekat ke arah Nisa.


"....."


Eh!? Kenapa aku nggak sadar kalau dia datang? Apa pendengaranku menurun? Sebaiknya saat pulang nanti aku harus segera membersihkan telingaku. Bisa gawat kalau itu orang lain!


"Tadi aku berpapasan dengan Daniel, dan sepertinya kalian bicara tentang banyak hal sampai-sampai dia membuatmu kesal seperti ini. Apa sebelum ini kau pernah mengenalnya?" Tanya Keyran dengan tatapan curiga.


"Nggak! Aku baru hari ini bertemu dengannya. Lalu yang membuatku kesal juga bukan dia!"


"Baguslah kalau begitu. Tapi, kau jangan terlalu dekat dengannya! Ingat hal ini!" Ucap Keyran dengan nada kasar.


"Hei! Kau dengar tidak? Kenapa malah menatapku seperti itu?"


Nisa berjalan mendekat ke arah Keyran lalu berbisik "Kenapa? Kenapa aku nggak boleh dekat dengannya? Apa kau cemburu~"


"Hng! Kau terlalu percaya diri! Aku sama sekali tidak tertarik padamu! Kau ingin dekat dengan siapapun bukan urusanku! Aku cuma mengingatkanmu jangan terlalu dekat dengan Daniel, dia itu orang yang sangat licik! Kalau kau dekat dengannya, pasti akan menimbulkan masalah untukku. Aku hanya memikirkan diriku sendiri, sama sekali tidak ada hubungannya denganmu!"


"Yah.... tentunya aku tahu kalau kau sama sekali nggak suka padaku, yang tadi itu aku cuma bercanda. Lalu, sebenarnya untuk apa kau kemari?" Ucap Nisa dengan malas.


"Aku kemari untuk menjemputmu, acaranya sudah akan dimulai!"


"Eh!? Sudah mau dimulai? Tapi, keluargaku belum datang!"


"Kau sadar dirilah sedikit! Mungkin ayahmu masih kesal padamu, jadi dia tidak ingin menemuimu terlebih dulu. Tapi, semua keluargamu sudah datang dan menunggu di luar"


"Haha, ayahku memang seperti itu! Sekarang dia pasti sedang mengutukku diam-diam, aku juga sudah terbiasa dengan itu. Tapi, ini kan acara pertunangan putrinya dan dia nggak peduli denganku. Ya ampun.... sakit sekali hatiku!"


"Kau bisa mengeluh sendiri padanya nanti. Sekarang ayo cepat kesana! Lalu jangan lupa gandeng tanganku! Dan kau jangan berpikir yang tidak-tidak, aku terpaksa melakukan ini!" Keyran mengulurkan tangannya pada Nisa.


"Aku tahu.... seperti ini kan?" Nisa menggandeng tangan Keyran lalu tersenyum.


"Ya, seperti ini. Dan usahakan terus tersenyum! Lalu aku peringatkan kau! Nanti saat acara berlangsung jangan buat masalah, jaga perilakumu! Kalau kau sampai membuat masalah, kau tunggu saja akibatnya!"


"Iya.... iya.... cerewet!" Ucap Nisa dengan lirih.


"Kau bilang apa!?"

__ADS_1


"Aku bilang, ayo cepat...."


"Huh! Dasar pembohong! Kau pikir aku tidak dengar!"


"Kalau memang sudah dengar, kenapa masih tanya lagi? Jangan-jangan kau suka saat aku mengataimu ya....?"


"Kau!!" Keyran berjalan mendekat ke arah Nisa dan membuatnya terpojok, lalu dia memegang dagu Nisa dengan tatapan mata yang penuh amarah.


"Kenapa?" Nisa menatap balik mata Keyran seolah tanpa rasa takut.


"Aku peringatkan! Kau jangan menguji kesabaranku! Dari tadi kau terus mengejekku, apa kau meremehkan aku? Aku bisa melakukan apa saja untuk menghancurkan dirimu! Sebaiknya kau sadar diri, kau cuma gadis kecil yang tidak tahu kejamnya dunia! Jadi berhentilah mengatakan hal-hal yang konyol!" Keyran lalu mendekatkan wajahnya pada Nisa.


"....." Nisa hanya diam dan masih menatap mata Keyran dengan cara yang sama.


Bodoh! Yang sebenarnya terjadi adalah kau yang sudah meremehkan aku. Tapi, menyenangkan juga membuat orang lain berpikir seperti itu padaku. Sekalian saja aku permainkan dia, akan aku buat dia mengira seolah-olah aku takut padanya!


"....."


Kenapa gadis ini setelah diancam masih tetap menatapku seperti ini? Apa dia tidak punya rasa takut?


"Ma-maaf pak CEO.... tolong lepaskan aku.... aku janji tidak akan membuat anda tersinggung...." Nisa mengubah tatapannya menjadi sangat memelas.


"Oh, ternyata kau perlu diancam supaya sadar diri! Tapi, bagaimana kau akan membayar kelakuanmu tadi?"


"A-anda ingin aku bagaimana.... aku akan menurut...." Ucap Nisa seakan tidak berdaya.


"Tentu saja aku harus menghukum gadis liar sepertimu! Kau harus...."


"Kak! Kak Nisa! Apa kakak masih lama? Semua orang sudah menunggu kakak! Ehh!? Kakak...." Ucap seseorang yang tiba-tiba masuk.


T-ternyata mereka sedang.... Sepertinya aku datang pada saat yang salah! Apa yang harus aku lakukan? Ini awkward sekali....


"D-Dimas!?" Ucap Nisa terkaget.


"Haha, kakak lanjutkan saja! Jangan pedulikan aku, aku akan pergi! Silakan bersenang-senang...." Ucap Dimas sambil berlari keluar secepat mungkin.


"Hei, kembali! Ini bukan seperti yang kau pikirkan! Kau salah paham!" Teriak Nisa dengan panik.


"Kakak nggak perlu malu~ Aku sangat mengerti...." Teriak Dimas dari kejauhan.


Dimas kemudian berlari menuju ke tempat acara. Saat dia sampai semua orang terlihat bingung karena dia kembali seorang diri.


"Dimas, bukankah ibu menyuruhmu untuk menjemput kakakmu. Kenapa kau kembali seorang diri? Lihatlah semua orang yang sudah menunggu kakakmu ini...." Tanya ibu.


"Ibu, kakak dan kakak ipar masih bersenang-senang. Sebentar lagi mereka pasti akan segera selesai...." Ucap Dimas sambil tersenyum nakal.


Saat Dimas mengatakan hal itu seketika semua orang yang mendengarnya kaget. Tapi, ada satu orang yang mendengarnya langsung merasa bahagia. Orang itu tidak lain adalah Tuan Muchtar.


"Haha, ternyata seperti itu! Para tamu undangan sekalian, mohon untuk bersabar dan menunggu mereka! Yah.... namanya juga anak muda. Dan untuk Nak Dimas, kau melakukan hal yang benar dengan meninggalkan mereka!" Ucap Tuan Muchtar dengan penuh semangat sambil menepuk pundak Dimas.


"Iya, namanya juga anak muda...." Ucap Dimas sambil tersenyum jahat.


Hehehe, sekarang semua orang sudah salah paham. Nanti kakak tinggal nikmati saja keadaan yang aku buat ini. Ini juga salah kakak, siapa suruh saat aku masuk tadi kakak dalam posisi seperti itu! Kakak juga jangan menyalahkan aku, aku melakukan semua ini karena kakak sudah terlalu banyak menindasku! Inilah balas dendamku pada kakak!

__ADS_1


__ADS_2