
Keyran langsung kembali masuk ke kamar begitu selesai menelepon Valen. Dia melihat Nisa yang tengah asyik menonton film sambil menikmati snack. Keyran lalu naik ke atas ranjang dan duduk tepat di belakang Nisa. Tanpa berkata apa pun Keyran tiba-tiba memeluk dan mendaratkan kepalanya di pundak Nisa.
Seketika Nisa terkejut dan berhenti makan. "Eh!? A-ada apa?"
"Bukan apa-apa, aku hanya ingin menonton film dengan seperti ini."
"Owh ..." Nisa langsung kembali melanjutkan makan.
Ya ampun, posisi ini sangat berbahaya. Untung saja aku sedang datang bulan. Dan sikapnya Keyran ini ... sepertinya dia serius dengan perkataannya tadi, dia serius ingin membangun hubungan suami istri denganku. Huh ... sebaiknya aku biarkan saja.
Waktu pun terus berjalan, semakin lama Nisa mulai terhanyut dalam cerita film. Sedangkan Keyran, dia masih terus memeluk Nisa dan juga ikut menonton film, tapi sebenarnya dia terus termenung memikirkan sesuatu.
Sekarang Nisa terlihat sangat menikmati film, ini bisa jadi kesempatanku. Aku ingin tahu bagaimana cara berpikirnya. Jika aku mengajukan pertanyaan, kemungkinan besar Nisa akan menjawab dengan jujur.
"Nisa ..."
"Iiihh ... geli! Bicaranya jangan terlalu dekat dengan telingaku!"
"Hmm." Keyran lalu tersenyum kecil dan tiba-tiba malah meniup telinga Nisa. "Fyuuh ..."
"Ennhh ... hentikan bodoh! Mau apa sih?" ucap Nisa yang tubuhnya mulai terlihat sedikit bergetar.
"Baik-baik ... aku akan berhenti. Aku cuma ingin bertanya beberapa hal kepadamu."
Hehe, sekarang aku tahu area paling sensitif di tubuh Nisa. Untuk kedepannya hal ini akan sangat berguna.
"Apa kau ingin menginterogasiku?"
"Bukan, kali ini bukan interogasi. Aku ingin bertanya tentang seputar film."
"Oh, kalau begitu tanya saja."
"Oke. Aku sangat yakin kalau kau sudah menonton banyak sekali film action seperti sekarang. Dalam setiap film itu ada pemeran utama yang kebanyakan adalah orang baik atau biasanya disebut protagonis. Lalu musuhnya adalah antagonis yaitu seorang penjahat. Pertanyaanku adalah, jika kau diharuskan menjadi pemeran dalam sebuah film action, kau pilih pemeran utama yang baik atau pemeran penjahat?"
"Aku pilih penjahat." jawab Nisa secara spontan.
"Kenapa pilih penjahat?" tanya Keyran terheran-heran.
"Karena penjahat lebih pintar dibandingkan orang baik yang menjadi pemeran utama. Aku lebih suka penjahat karena dapat dipastikan kalau penjahat memiliki tujuan yang jelas, yaitu berbuat kejahatan. Sedangkan orang baik, orang baik itu biasanya bodoh. Dan kebaikannya malah dimanfaatkan oleh orang lain demi tujuan pribadi."
"Emmm ... Kau memilih penjahat tanpa ragu, padahal sudah dipastikan kalau penjahat akan berakhir buruk."
"Hei, dengar ya. Di dalam semua film, komik, novel, cerpen dan lainnya, memang semua penjahat berakhir dengan buruk. Itu karena semua itu adalah media pengajaran, orang yang membuatnya bertujuan untuk memberikan pengajaran agar menjadi orang yang baik, seperti sang tokoh utama yang menjadi teladan. Tapi, semua itu jauh berbeda dengan dunia nyata."
"Berbeda bagaimana?"
"Ya berbeda, karena di dunia nyata penjahatlah yang selalu menang, lebih tepatnya orang yang licik yang pandai menggunakan akalnya yang selalu menang. Ditambah ... hal yang buruk lebih mudah menyebar dibandingkan hal yang baik. Tapi, di dunia ini hukum karma juga berlaku. Sebaik-baiknya manusia, dia pasti pernah melakukan dosa. Dan sejahat-jahatnya manusia, dia pasti juga pernah melakukan kebaikan. Tapi ..."
"Tapi apa?"
"Tapi jika sama sekali tidak ada kebaikan, maka dia bukanlah manusia, melainkan iblis!"
"O-ohh, lalu ... menurutmu di dunia nyata ini, kau termasuk orang baik atau jahat?"
"Bukan keduanya, aku termasuk orang yang setiap harinya berusaha lebih baik. Caranya adalah dengan sebisa mungkin menahan kejahatan dari dalam diriku. Inilah sebabnya aku suka bermalas-malasan, karena setiap kali aku melakukan sesuatu, pasti ujung-ujungnya terjadi masalah dan akhirnya aku juga yang disalahkan."
"Jadi ... ini sebabnya kau suka bolos kuliah?"
"Iya, aku sangat enggan berurusan dengan petugas babi itu! Entah kenapa dia selalu saja bisa menemukan kesalahanku. Padahal kan aku melakukan semua itu dengan tanpa sengaja. Kalau aku masuk nilaiku akan dipotong karena membuat masalah, kalau aku bolos nilaiku juga akan tetap dipotong. Jika seperti ini terus ... mungkin saja aku akan mengulang beberapa semester lagi, dan janjiku untuk membuatkan cucu untuk ayahmu juga akan tertunda." keluh Nisa dengan tampang cemberut.
"Kau tenanglah, sudah kubilang kalau aku sudah memberi peringatan pada orang yang kau sebut petugas babi itu, jadi kau kuliah saja dengan rajin. Lalu ... kau sepertinya lebih bersemangat untuk membuatkan cucu untuk ayahku~"
"B-bukan bersemangat! Hanya saja ... aku sudah terlanjur membuat janji. Tentu saja sebisa mungkin aku harus menepati janjiku." ucap Nisa dengan wajah yang memerah.
"Ohh~ mungkin saja kau bisa lebih cepat untuk memenuhi janjimu ..."
"Caranya? Apa kau berniat ingin menyuap pihak kampus agar aku cepat lulus?"
"Bukan. Yang aku maksud adalah ... begitu kau selesai datang bulan, bagaimana kalau kita pergi bulan madu?"
__ADS_1
"M-mana bisa begitu!? Toh seminggu lagi aku ada UTS!"
"Kalau begitu setelah UTS saja, lagi pula setelah UTS pasti ada masa jeda. Ngomong-ngomong ... kau tersipu ya?"
"Matamu yang mana yang melihatku tersipu!?"
"Aku melihatnya dengan kedua mataku~"
"S-sudahlah, jangan bahas ini lagi! Ini sudah melenceng dari topik pembicaraan, tadi kau bilang ingin membahas soal film!"
"Baiklah, kita kembali ke topik film. Apa kau pernah menonton drama Cina?"
"Aku malah sering menontonnya, terlebih lagi tentang kisah para pendekar."
"Kalau yang bergenre romantis?"
"Kalau yang romantis ... aku hanya pernah menonton sebanyak 3 kali, itu pun bajakan."
"Nah, di dalam cerita itu biasanya dikisahkan seorang gadis miskin yang berjodoh dengan pengusaha kaya. Awalnya si gadis miskin terdesak hutang, dipaksa keluarga, atau mungkin satu-satunya keluarganya sedang sakit keras. Dia lalu memutuskan untuk menjalin hubungan gelap dengan pria pengusaha kaya dengan menjadi simpanan, atau pernikahan kontrak. Si gadis itu rela menyerahkan tubuhnya kepada pengusaha itu. Tapi, seiring berjalannya waktu mulai timbul rasa cinta di antara mereka. Lalu ..."
"Cukup, biar aku lanjutkan dari versi lain. Si gadis miskin rela menyerahkan tubuhnya yang masih perawan kepada sang pengusaha, itu pun dilakukan hanya satu kali. Tapi, setelah berpisah tanpa disangka si gadis itu hamil. Dan beberapa tahun kemudian mereka kembali bertemu dan dipersatukan lewat anak mereka. Cerita seperti ini bagiku sudah cukup familier, alurnya mudah ditebak."
"Bagus, intinya kau paham. Pertanyaanku adalah, seandainya kau berada di posisi si gadis miskin, apa kau akan melakukan hal yang sama atau berbeda?"
"Tentu saja berbeda. Jika aku sangat membutuhkan uang, maka aku sangat enggan untuk menjual tubuhku. Daripada kehilangan keperawanan dan menikah kontrak, lebih baik aku merampok atau membobol bank. Bagiku menjadi kriminal juga lebih baik ketimbang terjerat oleh cinta yang diawali dengan perbuatan laknat."
"Bagaimana bisa lebih baik? Mungkin saja sebagian terjadi karena sebuah kecelakaan, kedua belah pihak sama-sama tidak bersalah."
"Yaah ... mungkin saja memang kecelakaan, tapi jika sang gadis lebih menjaga diri, harusnya kecelakaan itu bisa dihindari. Dan aku beranggapan lebih baik menjadi kriminal daripada terjerat cinta itu karena ... cinta yang diawali seperti itu apakah itu termasuk cinta yang tulus?"
"I-itu entahlah ..."
"Menurutku itu bukan cinta yang tulus. Si pengusaha mencintai gadis miskin juga karena sebuah alasan. Alasannya adalah dia sudah terikat tanggung jawab karena telah meniduri si gadis itu, apalagi jika sampai punya anak, maka dia akan semakin terikat. Dan untuk si gadis miskin, dia mencintai pengusaha itu karena mungkin saja dialah satu-satunya pria dalam hidupnya. Si gadis itu belum sepenuhnya melihat dunia, baginya dunia miliknya adalah sang pria pengusaha itu."
"Lalu ... menurutmu cinta yang tulus itu seperti apa?"
"Kau mengibaratkan cinta seseorang dengan sebungkus snack?"
"Yaa .. begitulah, konsepnya sama saja. Tapi ... menurut cerita drama yang kita bahas tadi itu, semuanya akan berubah hanya dengan kehendak Tuhan. Segala sesuatu di dunia ini akan berjalan hanya jika sesuai dengan kehendak Tuhan. Jika Tuhan menghendaki cinta yang tulus di antara si gadis miskin dan pria pengusaha, maka cinta itu juga akan menjadi cinta yang tulus. Itulah yang dinamakan dengan takdir."
"Takdir ..." Keyran lalu mengeratkan pelukannya. "Nisa, takdirmu adalah menikah denganku. Apa kau menyesali takdir ini?"
"...."
"Huft ... harusnya aku sadar, pertanyaanku ini adalah pertanyaan konyol. Aku tahu kalau kau belum sepenuhnya menerimaku sebagai suamimu. Kau masih Nisa yang saat pertama kali aku bertemu denganmu, masih Nisa yang sepenuhnya bukan milikku. Aku tahu kalau kau menyesali takdir ini ..."
"Kau salah. Di dalam hidupku sama sekali tidak akan pernah ada penyesalan. Terlebih lagi takdir Tuhan adalah yang terbaik, dan aku percaya akan hal itu."
"Yaa .. ini memang yang terbaik, yang terbaik bagi kita berdua. Ngomong-ngomong ... kisah kita mirip dengan drama Cina yang kita bahas tadi."
"Mirip dari mananya? Kesamaannya cuma satu, yaitu karena hutang. Toh bisa menikah denganmu itu karena kecerobohanku yang lupa bertanya kepada siapa ayahku berhutang, andai saja aku tahu maka aku akan berhutang ke yang lain, bukan kepadamu."
"Ada kok kesamaan yang lain, bukankah kau juga gadis miskin~"
"Aku memang miskin jika dibandingkan denganmu. Tapi aku ini termasuk orang yang berkecukupan jika menurut rata-rata pendapatan per kapita."
Heh, sok-sok an mengejekku miskin, kau saja yang belum tahu berapa banyak aset yang keluargaku miliki. Hanya saja aku terlalu sayang jika harus menjualnya.
"Baik-baik ... aku akan berhenti mengejekmu."
"Ngomong-ngomong ... ternyata pria sepertimu juga menonton drama Cina, genre romantis lagi~"
"Cih, sekarang mengejekku balik. Aku beritahu ya, aku tidak suka menontonnya, almarhum ibuku yang suka menontonnya saat aku masih kecil. Ibuku juga bercerita kalau cerita drama Cina sangat mirip dengan kisahnya dengan ayahku. Itulah sebabnya aku tahu."
"O-ohh ... begitu ya," ucap Nisa dengan nada canggung.
Tanpa sengaja aku mengingatkan Keyran pada almarhum ibunya, rasanya sedikit bersalah. Mungkin aku harus mengalihkan perhatiannya.
"Key ..."
__ADS_1
"Ada apa?"
"Sudah yuk nontonnya, sekarang aku ngantuk."
"Oke, kalau begitu ayo cuci muka, cuci kaki, dan gosok gigi!"
"Hah!? Kau ingin melakukannya bersama?"
"Iya, aku ingin memastikanmu agar tidak keselak pasta gigi lagi~"
"Huh! Nanti akan aku makan semuanya!"
"Haha ... dasar tukang ngambek~" ucap Keyran sambil mencubit pipi Nisa.
***
5 hari kemudian. Sekitar pukul jam setengah sembilan malam, Nisa berjalan menuju ke ruang kerja Keyran yang sekaligus menjadi ruang belajarnya. Nisa juga membawa nampan yang berisi 2 cangkir minuman.
Setelah memasuki ruangan, Nisa langsung menggeser berkas yang ada di mejanya Keyran dan meletakkan nampan itu.
"Aku memintamu untuk membuat kopi. Tapi apa yang kau buat?"
"Ini honey lemon tea. Aku buat itu karena aku sudah muak terus-terusan membuat kopi." Nisa lalu mengambil salah satu cangkir minuman tersebut kemudian menyeruput sedikit. "Heemm ... ayo cobalah, ini enak loh~"
"...." Keyran lalu mengambil cangkir yang satunya lagi, tapi saat sudah dekat dengan mulut tiba-tiba berhenti. "Apa ini sungguh enak?"
"Iya, aku jamin rasanya akan membuatmu puas. Jika kau merasa belum puas, nanti aku akan beri kompensasi."
"Baiklah," saat Keyran menyeruput sedikit, dia langsung tersenyum puas. Dia lalu menyeruputnya lagi dan lagi. "Enak juga. Tapi ... kompensasi apa yang tadi kau maksud jika rasanya tidak enak? Apa kau seumur hidup akan terus membuatkan kopi untukku?"
"Aku mana sudi setiap hari harus membuat kopi? Yang aku maksud itu ... aku akan memberimu ciuman sebagai kompensasi."
"Aneh sekali, minuman ini rasanya mendadak jadi sangat asam. Sama sekali tidak enak!" Keyran langsung mengembalikan cangkir di atas nampan. "Nah, sekarang berikan aku kompensasinya!" Keyran lalu menanti sambil tersenyum.
"Wah ... Kau ini memang telah kehilangan rasa malu, jangan harap aku mau menciummu!"
"Hei, apa kau mau mengingkari perkataanmu sendiri? Tadi kau bilang jika setelah minum aku merasa belum puas maka kau akan memberiku kompensasi. Dan sekarang aku tidak akan puas sebelum kau menciumku. Ayo ... buktikan perkataanmu~"
"Baiklah, tapi sebentar saja."
Nisa lalu meletakkan cangkir yang dia pegang ke atas nampan. Setelah itu dia langsung duduk di pangkuan Keyran. Dan tentu saja Keyran merasa sangat puas. Keyran lalu menutup matanya dan menanti ciuman dari Nisa.
Ayo Nisaaa ... cepat cium aku! Padahal sebelumnya aku harus yang meminta terlebih dulu, jarang sekali kau baik seperti ini.
"...." Keyran lalu membuka satu matanya. "Kenapa kau diam saja?"
"Pffttt .... hahaha! Kau terlihat sangat lucu saat bibirmu maju! Harusnya aku memotretmu tadi!"
"Awas kau!!" Keyran tak tahan untuk meraih tengkuk Nisa, menariknya mendekat ke wajahnya dan segera menempelkan bibirnya.
"M-mmm ...!!" Nisa berusaha untuk melepaskan ciuman itu, namun Keyran menekan tengkuk Nisa semakin keras, memperdalam ciuman mereka hingga begitu rakusnya menjelajahi mulut Nisa.
Nisa pun mulai merasa kalau situasi yang terjadi sekarang sangat berbahaya baginya. Dia lalu mencubit lengan Keyran agar tautan bibirnya terlepas.
"Haa .. haa .. sudah, aku mau turun." Saat Nisa ingin turun dari pangkuan Keyran, tiba-tiba Keyran menahan tubuh Nisa agar tetap berada di atas pangkuannya. "Key, aku mau turun ..."
"Boleh, asalkan jawab satu pertanyaanku."
"Y-yaa ... silakan tanya."
"Kau sudah selesai datang bulan kan?"
"Sudah ... eh!? M-maksudku belum! Belum selesai!"
"Darling~ tidak baik loh kalau sering berbohong, aku tahu kalau sudah selesai, tadi sore kau habis keramas."
"Terus kenapa kalau sudah selesai? Memangnya apa urusanmu?"
"Heh," Keyran menyeringai dan kemudian memegang dagu Nisa. "Sekarang kau berpura-pura bodoh, tentu saja aku punya urusan. Aku mau itu ... sekarang ... saat ini juga ..."
__ADS_1