Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Angkat Tangan


__ADS_3

Braak!!


"Nisa!" teriak Keyran.


Saat Keyran berhasil mendobrak pintu private room yang tertutup rapat, dia langsung dikejutkan oleh keadaan Nisa yang sudah lemas tak sadarkan diri dengan wajahnya yang menempel pada meja. Keyran lebih terkejut karena Nisa dikelilingi oleh para pria yang tidak dikenalnya, para pria itu adalah Damar, Marcell dan Ivan.


"Siapa kalian?" tanya Keyran dengan tatapan sinis pada ketiga orang itu.


"Kami adalah pengawal yang telah disewa oleh nona ini." jawab Marcell sambil tersenyum.


"Benarkah?" Keyran berjalan mendekat ke arah mereka dan kemudian membopong Nisa, "Kalian disewa untuk apa?"


"Kami disewa untuk melindungi nona ini agar tidak diganggu saat dia mabuk, dan kami juga disuruh untuk mendengarkan curahan hatinya. Ngomong-ngomong... tuan ini siapa ya?" ucap Ivan.


"Aku suaminya!" Keyran berbalik dan ingin pergi tapi seketika dia dihadang oleh Marcell, Ivan dan Damar. "Minggir kalian!" gertak Keyran.


"Maaf, anda tidak bisa seenaknya membawa nona ini pergi! Dia adalah tamu VIP di club ini, jika anda masih ingin membawanya pergi, maka harus membuktikan kalau anda benar-benar suaminya!" ucap Damar.


"Aku bilang dia istriku maka dia adalah istriku!" bentak Keyran.


"Maaf, perkataan anda tidak bisa disebut sebagai bukti!" ucap Marcell.


"Kalian pikir kalian bisa menghalangiku? Apa kalian tidak tahu siapa aku!?"


"Kami tahu siapa anda, dan kami juga sangat paham tentang apa yang bisa anda lakukan. Tapi, itu semua tidak membuktikan bahwa anda adalah suaminya nona ini. Kami hanya akan percaya kalau nona ini sendiri yang mengatakannya!" ucap Ivan.


"Baiklah jika itu keinginan kalian!" Keyran berbalik kemudian duduk di sofa dalam keadaan Nisa yang masih berada di pangkuannya, Dia juga menepuk-nepuk pipi Nisa agar terbangun. "Nisa, cepat bangun! Jangan menguji kesabaranku!"


"Emmmm..." Nisa lalu perlahan membuka matanya, "Ibu, apa sudah waktunya sarapan?"


"Haha, Ibu katanya..." ejek mereka bertiga bersamaan.


"Siapa yang ibumu!? Aku seorang pria!" teriak Keyran seakan tidak terima.


"Pria?" Nisa lalu meraba-raba tubuh Keyran, "Dadamu rata! Ternyata kau benar-benar seorang pria. Nah, sekarang..." Nisa tiba-tiba menarik tangan Keyran dan meletakkannya di dadanya. "Punyaku nggak rata kan? Aku cewek tulen loh~"


"Tentu saja aku tahu! Aku suamimu!" teriak Keyran dengan wajah yang memerah.


Gadis ini... benar-benar... Untung saja tadi aku memutuskan untuk mencarimu sendiri, apa jadinya jika aku menyuruh Valen?


"Suami? Kapan aku menikah? Rasanya baru kemarin aku mengambil rapor, apa aku naik kelas?"


"Ya, kau naik kelas dan langsung lulus! Sekarang cepat bilang kalau aku suamimu agar kita bisa segera pulang! Aku sudah merasa muak dengan tempat ini!"


"Kau bukan suamiku, suamiku orang yang lembut, dia nggak mungkin membentakku seperti ini..."


"Huft... Nisa, istriku yang suka buat masalah~ Aku adalah Keyran, suamimu... Tolong katakan itu ya~" pinta Keyran dengan nada lembut.


"Itu. Aku sudah mengatakannya, puas kan?"


"Bukan itu yang aku maksud! Ayolah... aku adalah Keyran, aku suamimu dan aku baru pulang dari Jerman. Kau ingat kan?"


"Jerman? Apa disana ada yang jualan cilok? Kenapa nggak bawa oleh-oleh untukku? Dasar suami gak guna!"


"Kau yang tidak berguna! Lebih baik kau mati saja sekalian, aku akan buat alasan palsu pada ayahku."


"Bukannya kau sendiri yang sudah mati? Pesawatmu meledak karena bom yang dipasang oleh ter*ris. Tapi sekarang kau ada disini, apa ini arwahmu yang gentayangan?"


"Astagaaa... kau terlalu banyak minum! Kau habis berapa botol hah!?"


"Biar aku hitung... 1, 2, 3, 5, 13..." Nisa lalu memperlihatkan jarinya pada Keyran, "Totalnya jadi  -16!" ucap Nisa sambil meringis.


"Percuma saja aku terus bicara denganmu! Hei kalian, istriku habis berapa botol? Dan kenapa kalian tidak menghentikannya kalau dia sudah mabuk?" tanya Keyran kepada ketiga orang itu.


"Semua botol yang berserakan di lantai adalah yang telah diminum oleh nona, mungkin sekitar 10 botol lebih. Kami tidak menghentikannya karena kami tidak berhak melakukannya. Setelah mendengar pembicaraan kalian barusan, kami sudah percaya bahwa tuan adalah suami dari nona ini, tuan bisa membawanya pergi." ucap Damar.


"Hng! Seharusnya sejak awal kalian percaya padaku!" Keyran langsung berdiri dan membopong Nisa yang masih bergumam tidak jelas. Tapi sesaat sebelum keluar, dia tiba-tiba menoleh ke belakang, "Tadi kalian bilang kalau kalian disuruh mendengarkan curahan hati istriku, dia mengatakan tentang apa?"


"Eh!? I-itu..." Damar, Marcell dan Ivan langsung melirik satu sama lain, kemudian mereka membuat lingkaran seperti sedang mendiskusikan sesuatu.


"Apa yang kalian bicarakan!? Jangan-jangan kalian semua telah menipuku, apa kalian ini adalah gigolo yang disewa istriku!?" gertak Keyran.


"Haha tuan jangan bercanda, kami bertiga mana mungkin adalah gigolo. Kalau tuan tidak percaya, setelah sampai rumah silakan cek tubuh istri anda. Kami seperti ini karena sedang berdiskusi bagaimana menyampaikan curahan hati istri anda, mungkin saja anda akan marah saat kami mengatakannya..." ucap Ivan.


"Katakan saja! Aku sudah terbiasa mendengar kalimat-kalimat sampah istriku."


"Baiklah, akan kami katakan." ucap Marcell sambil melirik ke arah Damar dan Ivan. "Saat mabuk nona ini berkali-kali memakai dan mengutuk anda. Dia ingin agar anda cepat mati."


"Iya, nona juga merengek dan mengeluh bahwa tidak ada seorang pun yang peduli padanya. Mungkin saja nona mengatakannya karena terlalu merindukan anda yang berada di luar negeri." ucap Damar.


"Nona ini sering datang ke club karena merasa kesepian, dia bahkan kerap minum sampai mabuk seperti ini. Nona ini masih muda, tapi dia sepertinya menanggung beban yang lumayan besar. Saran saya, sebaiknya anda lebih memperhatikan istri anda..." ucap Ivan.


"Hng! Aku tidak butuh saran dari kalian, aku bisa mengurus istriku sendiri!" Keyran lalu bergegas pergi meninggalkan private room itu.


Saat Keyran berjalan keluar dari club sambil membopong Nisa, seketika dia langsung menjadi pusat perhatian di club itu. Orang-orang merasa kalau pemandangan seperti ini sangatlah jarang terjadi. Dan menariknya lagi, banyak orang di club yang tahu siapa itu Keyran. Mengetahui hal itu, tentu saja mereka mulai memotret dan juga mengambil video untuk dijadikan bahan gosip.


Keyran merasa tidak peduli dengan semua itu. Tapi, saat itu juga para pengawal yang ada di club langsung menghampiri semua orang yang memotret dan mengambil video, para pengawal itu juga memperingatkan mereka kalau tidak diperbolehkan untuk melakukannya.


Valen sudah cukup lama menunggu tuannya di tempat parkir, saat melihat Keyran yang telah membopong Nisa, dia langsung membukakan pintu mobil untuknya. Ketika di dalam mobil, Keyran terus memegangi Nisa dengan erat yang berada di pangkuannya. Dan sesaat sebelum Valen menjalankan mobil, Nisa tiba-tiba tersadar lalu berkata, "Turunkan aku... aku nggak punya uang untuk bayar taksi..."


"Nyonya, saya Valen. Dan anda tidak sedang naik taksi." Valen lalu menjalankan mobilnya.


Mereka berdua terlihat manis sekali, tuan terus memegangi nyonya dengan erat. Aku harus menceritakan hal ini kepada tuan besar.


"Valen? Oh, sekarang aku ingat..." Nisa terdiam sejenak, "Apa kau menang? Bagaimana caramu bisa selamat di tikungan ke-3? Semua pembalap lainnya gagal loh..."


"Nyonya, apakah anda mabuk?" tanya Valen.


"Mana mungkin, aku cuma mabuk laut..."


"Sudahlah, jangan ajak dia bicara. Dia terlalu banyak minum alkohol, sekarang dia mabuk. Aku akan mengurusnya saat sampai rumah. Jadi, percepat sedikit! " bentak Keyran.


"Baik tuan..."


Saat mereka sampai di rumah, Keyran langsung membopong Nisa menuju kamarnya. Keyran lalu menurunkan Nisa dan menyandarkannya di atas ranjang. Keadaan Nisa saat itu sudah sadar, tapi dia masih terlihat linglung. Keyran lalu memberinya segelas air putih untuk diminum. Setelah meminumnya Nisa terlihat lebih baik.


"Bagaimana perasaanmu? Apa kau merasa mual?" Nisa menjawab Keyran dengan menggelengkan kepala, "Kau sudah makan atau belum?"


"Sudah, tadi aku makan pizza, burger, ayam panggang, martabak telor, cireng, sosis bakar, kacang po... wuuuppp..." mulut Nisa tiba-tiba dibungkam oleh tangan Keyran.

__ADS_1


"Cukup, jangan disebutkan semua!"


Sepertinya dia sangat jujur ketika sedang mabuk, sebaiknya aku coba tanyakan sesuatu padanya. Aku ingin tahu apa yang ada di pikirannya.


"Nisa, aku akan melepas tanganku jika kau menjawab semua pertanyaanku. Apa kau bersedia?" Nisa mengangguk, dan Keyran melepas bekapan tangannya. "Aku sudah melarangmu untuk jangan pergi ke DG Club, kenapa kau masih pergi kesana?"


"Aku butuh teman..." jawab Nisa secara spontan.


"Sudah ada bibi Rinn yang menemanimu, tapi kenapa kau menyuruhnya pergi? Apa menurutmu para gigolo itu lebih baik?"


"Dia terlalu tua, nggak asik. Orang-orang itu bukan gigolo. Kenapa juga aku butuh gigolo? Kan sudah ada orang setampan dirimu yang melayaniku..." Nisa lalu membelai wajah Keyran, "Apa kau gigolo?"


"Bukan," Keyran lalu mendekatkan wajahnya pada Nisa, "Ingat wajahku ini, aku suamimu!"


"Wah... ternyata suamiku sangat tampan! Aku beruntung sekali..." ucap Nisa kegirangan.


"Heh! Kau baru sadar kalau kau beruntung. Pertanyaanku selanjutnya adalah, siapa kau sebenarnya?"


Pasti kau juga akan menjawab ini dengan jujur, bahkan kau juga menyebutku tampan. Sekarang aku bisa tahu kebenarannya!


"Aku Nisa, seorang mahasiswa dari Universitas Grand SC. Selain itu aku juga dikenal dengan..."


"Dengan apa!? Cepat lanjutkan bicaramu!" teriak Keyran dengan tidak sabar sambil mencengkeram pundak Nisa.


"Aku dikenal dengan julukan 'Trouble Lady'... Seseorang yang memberiku sebutan itu..."


"Siapa orang itu? Sekarang dimana keberadaannya?"


"Dia seorang psikiater gila yang hanya percaya pada sains, sekarang aku nggak tahu dia dimana..." jawab Nisa sambil geleng-geleng kepala.


"Ternyata kau sudah pernah menemui psikiater, dia bilang kau punya gangguan apa? Dan siapa nama psikiater itu?"


"Dia bilang aku aneh, tapi menurutku psikiater gila itu yang aneh! Nama psikiater itu... entahlah, dia orang nggak penting, jadi aku melupakannya."


"Apa orang tuamu tidak menganggap serius kondisimu?"


"Serius? Aku itu normal! Aku juga bersekolah di sekolah umum seperti yang lainnya. Jika aku memang nggak normal, seharusnya aku sudah dikeluarkan dari sekolah..." raut wajah Nisa lalu berubah cemberut, "Kau bilang kau itu suamiku... tapi kau malah meragukan aku..."


"Tentu saja aku meragukanmu, aku belum mengenalmu dengan baik... Apa kau sudah lupa alasan kita menikah?"


"Menikah? Kapan aku menikah?"


"Hah... sudahlah, kau masih mabuk, jadi diamlah!"


Nisa ada benarnya juga, ayahku tidak mungkin menjodohkanku dengan orang yang memiliki gangguan kejiwaan. Aku masih ingin tahu alasan Nisa setuju menikah denganku. Memang benar kalau dia terpaksa, dia juga bilang tidak bisa melupakan mantannya itu. Padahal semua keputusan ada di tangannya, dia bukanlah orang yang sederhana, pasti dia merencanakan sesuatu.


"Nisa, sebenarnya apa tujuanmu menikah?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.


"Yaa.. tentu saja untuk... dibawah selimut yang sama... bersentuhan kulit... melahirkan anak... lalu hidup bahagia..." ucap Nisa sambil meringis.


"A-apa!?" Wajah Keyran lalu memerah, "Bukan itu maksudku! Katakan padaku apa rencanamu yang sebenarnya!"


"Rencana yaa... maksudmu keluarga berencana dua anak cukup? Kau benar... kita harus mengikuti anjuran pemerintah... Mari kita bersama-sama mengurangi populasi penduduk, bumi semakin lama semakin sempit... Apa kita sebaiknya pindah ke planet venus saja?" ucap Nisa sambil menganggukkan kepala.


"Ya ampun, ternyata seperti ini isi otakmu... pantas saja psikiater itu bilang kalau kau aneh."


Ternyata saat mabuk istriku semakin bicara ngawur, tapi setidaknya dia menjawab dengan jujur. Sebaiknya aku biarkan dia seperti ini dulu, tunggu sebentar lagi pasti dia akan segera sadar. Aku malas menunggunya, lebih baik aku pergi dulu...


"Kenapa? Bukannya kau suka sendirian?" tanya Keyran dengan nada malas.


"Aku takut... ini dimana? Sprei ini berbeda dengan yang ada di kamarku, ini kamar siapa?" Nisa semakin erat menggenggam tangan Keyran.


"Hah... baiklah, aku akan tetap disini."


Pasti bibi Rinn yang sudah menggantinya, bahkan pembantu saja tahu kalau aku akan pulang, tapi istriku sendiri malah tidak tahu. Bisanya hanya menyusahkan orang...


Keyran lalu naik ke atas ranjang dan duduk tepat di sebelah Nisa. Dan tak lama setelah dia duduk, tiba-tiba Nisa bersandar di bahunya. Tentu saja Keyran langsung terkejut, tapi Nisa bersikap biasa saja dan terlihat sangat nyaman dalam posisi itu. Melihat Nisa seperti itu, Keyran dengan sendirinya mulai tersenyum lembut dan secara perlahan merangkul Nisa.


"Nisa, apa boleh aku meminta sesuatu darimu?"


Jika dia menjawab iya, maka aku akan gunakan kesempatan ini sebaik mungkin.


"Iya, boleh." jawab Nisa dengan mata yang masih tertutup.


"Aku ingin meminjam ponselmu, dimana kau menaruhnya?"


"Di saku baju, ambil saja sendiri!"


"O-oke..." Keyran lalu mengambil ponsel milik Nisa di saku bajunya, setelah mendapatkannya dia langsung menyalakan ponsel itu. "Nisa, pinjam jarimu sebentar!"


Astagaaa... hari ini sudah dua kali aku menyentuh dadanya, dan dia juga tidak marah.


"Ini..." Nisa mengulurkan tangannya pada Keyran, "Kau jangan hapus game milikku! Juga jangan menghapus aplikasi apa pun!"


"Iya, aku tahu..." Setelah Keyran membuka ponsel Nisa, dia sedikit terkejut saat melihat isinya. "Ckck... kau seorang gadis, tapi ternyata kau punya aplikasi tidak senonoh seperti ini... Sepertinya pikiranmu diracuni oleh ini..." ucap Keyran sambil geleng-geleng kepala.


"Memangnya kenapa? Toh aku bukan gadis di bawah umur..."


"Iya juga, lagipula kau sudah menikah, sebenarnya kau sendiri bisa melakukan sama seperti yang kau tonton ini..."


"Apa kau meminjam ponselku karena ingin menontonnya? Kalau iya, jangan lupa aktifkan vpn-nya!"


"S-siapa yang ingin menontonnya!?" teriak Keyran dengan wajah yang memerah, "Sudahlah, jangan bahas masalah ini lagi!"


Bisa bahaya kalau aku menonton video ini bersama istriku yang barbar ini! Lagipula, tujuanku adalah ingin mengetahui siapa kau sebenarnya. Pasti ada informasi penting di ponselmu.


Keyran mulai menelusuri semua yang ada di ponsel milik Nisa, mulai dari file yang disimpan, chat, catatan panggilan, history penelusuran internet dan saat membuka menu kontak dia dikejutkan oleh nama-nama kontak itu.


"I-ini semua..." gumam Keyran.


Apa-apaan nama-nama ini!? Cebong fakboy, cebong sadboy, mak lampir, komandan, sweety annabell, rentenir, streamer loli, kucing garong, kang lulus, raja harem, penipu fans, pemeras cerdas, old baby, burung beo, kompor 1, kompor 2, petugas babi, pesuruh bodoh, lalu... si brengsek cepatlah mati? Tunggu sebentar... ini nomorku, ternyata dia menyimpannya dengan nama ini!


"Nisaaa... ternyata kau mengutukku diam-diam!! Kau mendoakan aku agar cepat mati, istri macam apa kau ini!?" bentak Keyran.


"Mati? Turut berduka cita... semoga bahagia di alam sana..." ucap Nisa dengan suara lirih.


"Tsk! Mau marah juga tidak ada gunanya, lebih baik aku ganti nama ini sendiri..."


Heh! Akan aku ganti dengan... 'Pria Sempurna' ini sangat cocok denganku. Awas saja jika nanti kau menggantinya lagi!

__ADS_1


Tak lama kemudian Nisa tiba-tiba membuka matanya lalu turun dari ranjang. Saat berjalan dia masih sempoyongan, melihat hal itu Keyran langsung membopong Nisa lagi dan dia berkata, "Ckck... berjalan saja masih tidak benar, Kau mau kemana?"


"Tubuhku lengket, aku mau mandi... dimana kamar mandinya?"


"Mandi?" Keyran terdiam sejenak, "Hmmm.. tubuhmu memang lengket, apa kau butuh bantuanku?" tanya Keyran dengan senyum jahat.


"Waaahh... baik sekali..."


"Tentu saja, aku memang orang baik..."


Keyran membopong Nisa menuju ke kamar mandi, dan setelah masuk Keyran langsung menurunkan Nisa ke dalam bak mandi. Seketika Nisa menjerit, "Air!! Aku dilanda banjir! Tolong aku... aku nggak bisa berenang! Dimana tim SAR!" teriak Nisa sambil menciprat-cipratkan air.


"Diamlah! Kau cuma di dalam bathtub! Huh, sekarang kau juga membuatku basah!" bentak Keyran.


"Oh, aku pikir kebanjiran..." Nisa kembali tenang, namun kemudian dia hanya diam dan tatapan matanya terlihat kosong. Keyran yang melihat hal itu merasa sedikit aneh, dia lalu mencolek Nisa tapi Nisa sama sekali tidak merespons.


"Nisa, kenapa diam saja? Kau bilang ingin mandi," Keyran lalu berjongkok di samping bak mandi.


"Ooo... iya..." Nisa mencoba melepaskan bajunya, tapi dia tidak berhasil melakukannya. "Mana kancingnya? Sepertinya aku harus merobek bajuku..." tangannya lalu bersiap untuk merobek bajunya.


"Tunggu! Kau tidak perlu merobeknya..." Keyran lalu menahan tangan Nisa, "Kau memakai kaus, tentu saja tidak ada kancingnya. Angkat tanganmu! Akan aku bantu melepasnya."


"Kau nggak bawa pistol, untuk apa aku angkat tangan?"


"Jangan menguji kesabaranku! Aku ingin membantumu melepas baju! Cepat angkat tangan!"


Jika kau sungguh ingin aku membawa pistol, sudah pasti aku akan menembakmu.


Nisa menurut untuk mengangkat tangannya, dan Keyran langsung melepaskan baju yang dipakai Nisa. Setelah itu, Nisa juga melepas celananya sendiri kemudian melemparnya keluar dari bak mandi. Keyran mulai merasa gugup saat melihat Nisa yang hanya memakai pakaian dalam, namun tiba-tiba Nisa mencengkeram tangannya dan menariknya hingga tercebur ke dalam bak mandi.


"Nisa! Apa yang kau lakukan!? Kenapa kau melakukan ini!?" bentak Keyran.


"Aku mau mandi, kau juga berada di kamar mandi. Ini yang dinamakan mandi bersama..." Nisa lalu berbalik membelakangi Keyran, "Gosok punggungku..."


"Apa!? Kau..."


Tunggu sebentar, situasi macam apa ini...? Nisa berada di bathtub yang sama denganku, dia dalam keadaan setengah telanjang, dan dia ingin aku menggosok punggungnya. Apa dia yakin? A-aku mungkin saja tidak bisa menahan diri lagi...


"Honey~ kenapa diam saja? Ayo lakukan..."


"H-honey!?"


Apa Nisa sedang menggodaku? Kenapa dia liar sekali saat sedang mabuk? Sebaiknya aku pastikan dulu, jika dia memang bersungguh-sungguh maka dia tidak akan memberontak.


"Nisa, aku lepas ya?" Nisa menjawab dengan menganggukkan kepalanya, "Baiklah, ini kau sendiri yang minta..." Keyran lalu menyibakkan rambut Nisa, tapi dia melihat sesuatu yang cukup mengejutkan. "I-ini... tato? Sejak kapan kau punya tato?"


Di bahu kanannya ada tato bergambar simbol yin yang. Seleranya unik sekali...


"Aku membuatnya saat lulus SMP, ayahku sangat marah saat itu, makanya aku cuma punya satu..."


"Oh, jangan bahas ayahmu lagi. Boleh aku lanjutkan?" Nisa mengangguk dan Keyran mulai melepaskan pengait bra milik Nisa.


Nisa tidak memberontak, sebaiknya aku coba yang lebih...


Setelah melepas bra milik Nisa, Keyran lalu memeluk tubuh Nisa dalam dekapkan tubuhnya yang hangat. Tangannya mulai meraba serta meremas dada, Keyran juga mulai menciumi pundak Nisa yang mulus. Nisa menerima semua perlakuan itu dengan patuh, ketika tangan Keyran mulai meraba perutnya dan semakin lama semakin ke bawah, seketika Nisa berteriak, "Kyaaa!! Honey nakal~" Nisa lalu berbalik menghadap ke arah Keyran dan memasang tampang cemberut.


"Nisa..." ucap Keyran dengan wajah yang memerah.


Astagaaa... dia manis sekali, dia bahkan tidak berniat menutupi tubuhnya.


"Honey~" Nisa mendekat dan tiba-tiba duduk di atas pangkuan Keyran, "Apa honey mau?" Keyran tidak menjawab dan hanya ternganga. "Honey~ jawab dong..." Nisa tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Keyran lalu mencium bibirnya.


"M-mmm..."


Dia sungguh menciumku, dia juga bertanya apa aku mau! Ciumannya terasa seperti menjelajahi setiap rongga di mulutku. Nisa... aku mohon jangan diteruskan, kau sedang mabuk dan mungkin nanti kau akan menyesal.


"Ummmm..." Nisa lalu melepaskan ciumannya, "Haa.. haa.. honey~ mulutmu baik-baik saja, kenapa nggak jawab... Apa gara-gara aku jelek, jadinya nggak mau..."


"Nisa..." Keyran lalu membelai wajah Nisa, "Kau tidak jelek, tapi sangat manis..." ucap Keyran dengan senyum lembut.


"Honey mau kan? Aku sudah buka baju, sekarang giliran honey... aku bantu ya~" Nisa lalu mencoba meraih kancing baju Keyran, kemudian dia mulai membuka kancing itu satu per satu. Saat Nisa mencoba melepas kancing terakhir, Keyran tiba-tiba menahan tangannya.


"Nisa, kau sungguh ingin melakukannya? Tidak ingin di tempat lain?"


"Iya, honey~" Nisa tiba-tiba merangkul leher Keyran lalu mengigit dagunya dengan manja, "Disini saja~" Nisa semakin lama semakin berani, dia mulai meraba dada dan perut Keyran. "Aku suka, suka sekali abs honey..."


"Kau suka? Tapi, sekarang giliranku..." Keyran mulai mencium tubuh Nisa, mulai dari tangan, dada, kening, lalu mencium bibirnya dengan rakus hingga bermain lidah dengannya. Kemudian dia melanjutkan dengan ****** di leher dan meninggalkan tanda kepemilikan disana.


"Aaahh... honey curang..." Nisa lalu mencupang leher Keyran balik dan dia juga meninggalkan tanda disana. "Honey~ ini tanda cinta! Honey sepenuhnya adalah milikku..."


"Hm? Kau juga sudah aku beri tanda, itu artinya..."


"Artinya aku milik honey!" Nisa lalu mencium pipi Keyran dengan senyum nakal, "Honey~ nanti pelan-pelan ya..."


"Tentu saja, aku akan pelan-pelan... Aku tidak tega menyakiti istriku yang manis ini..." ucap Keyran sambil mencubit pipi Nisa.


"Honey, aku sangat merindukanmu... Aku pikir selamanya nggak akan bertemu denganmu lagi..." Nisa lalu memeluk Keyran dengan sangat erat.


"Benarkah? Tapi, kenapa tidak menghubungiku ataupun menanyakan kabarku?"


"Aku takut, aku nggak mau mengganggumu..."


"Nisa... sekarang aku disini, ayo kita lanjutkan yang tadi..."


"Baik..." Nisa melepaskan pelukannya lalu sekali lagi mencium bibir Keyran. "Honey, jangan seperti waktu itu ya..."


"Seperti apa? Jangan meninggalkanmu lagi?"


"Itu juga nggak boleh, waktu itu terasa sakit. Aku mohon... Ricky..."


"A-apa!?" teriak Keyran seakan tidak percaya, dan dia langsung mencengkeram pundak Nisa sekuat tenaga. "Kau menganggapku sebagai pria lain!? Siapa itu Ricky!?"


"Ricky itu kamu, yang sedang bersamaku sekarang ini, yang sedang aku tatap ini..." ucap Nisa sambil tersenyum.


"Sialan! Seharusnya sejak awal aku sadar kalau kau tidak mungkin seperti ini padaku!" Keyran melepas cengkeraman tangannya dari pundak Nisa, dan dia langsung bergegas keluar dari kamar mandi meninggalkan Nisa seorang diri.


Braak!! suara bantingan pintu.


"Nisa, persetan denganmu!"

__ADS_1


Tanpa sadar kau mengungkapkan kalau kau sudah pernah melakukannya dengan pria yang kau sebut Ricky itu! Seharusnya aku juga tidak berharap padamu...


"Sialan!" Keyran lalu memukul tembok di sampingnya, "Kenapa aku merasa kecewa? Seharusnya aku paham seperti apa gadis liar sepertimu!"


__ADS_2