Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Kunjungan Dadakan (1)


__ADS_3

Sontak saja Nisa dan Ricky terkejut dengan kedatangan Jonathan yang tiba-tiba. Sekilas Jonathan melihat ke arah Ricky, namun kemudian dia mengacuhkannya dan mendadak melihat ke arah Nisa.


Tiba-tiba saja ada seseorang pria lagi yang muncul dari belakang Jonathan, orang asing itu bertubuh kekar, berkulit putih, berambut pirang, parasnya juga tampan namun tidak setampan Jonathan.


Jonathan yang membawa parsel buah kini berjalan mendekat ke arah Nisa, namun Ricky mendadak menghadang jalannya dengan sebelah tangannya yang juga ikut menghadang. Tatapan di antara mereka berdua penuh dengan kekesalan, Ricky merasa kesal karena kedatangan Jonathan, dan Jonathan merasa kesal karena Ricky menghadangnya.


Tiba-tiba saja dengan cekatan pria asing itu menerjang dan mencengkeram tangan Ricky serta menatapnya dengan tatapan membunuh, "Move!!" bentaknya.


Ricky tak merasa takut ataupun berniat ingin menyerang orang itu. Dia mengabaikan pria asing yang mencengkeram kuat tangannya dan terus menatap Jonathan dengan tatapan sinis. "Untuk apa datang kemari?"


"Yang pasti bukan untukmu," Jonathan lalu memberi isyarat tangan agar pria asing itu melepaskan Ricky.


"Yes, Sir!" jawab pria asing itu yang langsung melepaskan Ricky, lalu dia kembali berdiri di belakang Jonathan.


"Heh, ternyata masih punya muka untuk menemui Nisa. Salut aku ..." ucap Ricky dengan nada menyindir.


"Aku punya atau tidak, itu bukan urusanmu. Nisa saja tidak keberatan aku mengunjunginya. Kenapa seorang matan yang berkedok sebagai dokter malah merasa keberatan?" sindir Jonathan yang tak mau kalah.


Situasi semakin memanas, Nisa yang saat ini bingung harus berkata apa. Dia sendiri juga canggung, dia tidak pernah menyangka akan mendapat kunjungan dari orang yang pernah menyatakan perasaannya namun dia tolak.


Apa-apaan ini?! Saat aku sakit, aku ada masalah dengan suami, lalu dokter yang merawatku adalah mantan, dan sekarang orang yang menjengukku ada seorang teman yang pernah kutolak. Tuhan pasti sedang bercanda denganku.


"Untung saja yang satu tidak ada," gumamnya.


Jika mereka bertiga lengkap, pasti situasiku semakin sulit. Pokoknya aku harus keluar dari situasi ini!


Nisa berpikir lumayan keras, lalu tiba-tiba dia memasang senyum bodohnya sambil berkata, "Anu ... aku sedikit kaget karena kamu tiba-tiba ke sini, Jonathan. Ayo silakan duduk, aku minta maaf atas perlakuannya Ricky tadi."


"Iya, aku akan duduk. Tapi sebelum itu ..." Jonathan kembali menatap Ricky. "Jangan mewakili meminta maaf untuk orang ini! Dan untukmu, bukankah seorang dokter memiliki pasien lain?"


"Jadi ternyata aku diminta pergi. Tapi ... baiklah, tadinya aku memang mau pergi. Dan yang harus tetap diingat adalah jam besuk terbatas! Kau harus tetap mematuhi peraturan rumah sakit! Dan jangan memberi Nisa benda yang aneh-aneh!"


"Cih, seperti itu saja aku sudah tahu. Cepat pergi sana!"


"Hmph!" Ricky mendengus kesal dan bergegas pergi keluar, namun sesaat sebelum keluar dia melotot kepada pria asing berambut pirang itu. Bahkan tanpa bersuara, mimik bibirnya terlihat mengatakan, "Bast*rd!"


Tapi bukan cuma pria asing itu yang tahu, Jonathan dan Nisa juga mengerti kata kotor yang ditahan disuarakan oleh Ricky. Dan setelah kepergian Ricky suasana kembali jadi canggung, tapi hal itu hanya berlaku bagi Nisa.


Jonathan berjalan mendekati Nisa seolah-olah tanpa beban, dia meletakkan parsel buah yang dia bawa di atas meja, lalu duduk di sebelah Nisa. Orang asing itu juga mengikuti Jonathan, namun dia hanya diam berdiri di belakang Jonathan.


Belum sempat Jonathan berkata apa-apa tapi Nisa dengan senyum canggung tiba-tiba berkata, "A-anu ... maaf merepotkanmu ..."


"Tak apa kok, aku suka direpotkan olehmu. Lagi pula ini bukan apa-apa, aku sama sekali tidak merasa direpotkan." jawab Jonathan sambil tersenyum.


"I-iya, kalau begitu terima kasih sudah menjengukku ..."


"Hei, kenapa jadi canggung begitu? Nisa yang aku kenal itu orangnya tidak tahu malu, tapi sekarang malah malu-malu seperti ini. Jangan-jangan lukamu cukup serius sampai-sampai kepribadianmu juga ikut berubah."


"Huh! Analisis yang konyol! Aku masih sama kok," bantah Nisa sambil memalingkan wajahnya.


Dasar bodoh! Ya aku canggung lah, padahal jelas-jelas waktu itu sudah kutolak, tapi sekarang malah bersikap baik. Harusnya jadi jahat atau balas dendam gitu kek, orang lain kan biasanya begitu. Masa belum sadar juga sih?


Tapi kalau aku ingat-ingat ... wajar juga sih kalau dia belum sadar, bahkan saat itu dia dengan berani mengaku sebagai pacarku di depan Keyran. Hahaha, ternyata cuma aku yang canggung. Tapi bukankah ini artinya dia masih berniat mengejarku?


Ini gawat, gawat! Aku mulai kepedean! Aku harus memastikan hal ini! Iya, sebelum aku menentukan sikapku selanjutnya.


Nisa lalu kembali menengok ke arah Jonathan, dia berusaha untuk tidak secanggung seperti tadi. "Joe ... kamu tahu dari mana kalau aku sakit?"


"Tentu saja aku tahu, semua tentangmu aku tahu." jawabnya sambil tersenyum.


"Serius ihh! Jangan-jangan kamu menyuruh penguntit, ya?!"


"Bukan, tapi ada salah satu kenalanku yang juga mendatangi pesta ulang tahun ayahku mertuamu. Jadi jangan menuduhku yang sembarangan!"


Sebenarnya orang yang aku maksud itu adalah ayahku sendiri.


"Iya juga ya, pasti saat itu sangat heboh. Tapi aku tetap berterima kasih karena kamu datang menjengukku, kamu teman yang baik, Joe." ucap Nisa dengan senyuman.


"Ya ... aku memang teman, teman laki-laki mu." ucap Jonathan dengan senyum yang kurang ikhlas. Namun setelahnya dia merubah senyum itu dengan senyum licik. "You are my girlfriend and I'm your boyfriend."


"Uhmm ... yeah, I think so." ucap Nisa dengan raut wajah bingung.


Apanya yang girlfriend boyfriend?! Tapi ... dalam bahasa Inggris kan memang begitu, jadi artinya hubungan kita memang sebatas pertemanan. Intinya sekarang aku tahu harus bersikap bagaimana.


Melihat Nisa sedikit kebingungan membuat Jonathan betah untuk tersenyum, bahkan orang di belakangnya juga menahan senyum.


My boss is indeed the greatest, his words are really just to tease.


(Bosku memang yang terhebat, kata-katanya sebenarnya hanya untuk menggoda)


"Joe, orang yang datang bersamamu siapa?" tanya Nisa sambil menunjuk.


"Memangnya kamu benar-benar ingin mengenalnya? Dia hanya berkenalan dengan penjahat loh~" Jonathan menyeringai sambil melirik ke arah orang tersebut.


"Humph! Aku seorang penjahat, kriminal, buronan, penjudi, pembunuh dan penipu! Apa itu masih belum cukup?!"


"Haha ... iya iya, kamu penipu. Kalau begitu aku kenalkan, orang ini namanya adalah Morris. Dia adalah tangan kananku, juga merupakan orang yang paling aku percayai setelah diriku sendiri. Sekarang kamu sudah mengenalnya."


"Iya," ucap Nisa dengan senyum palsu.


Tangan kanan ya ... orang sepenting ini kenapa sengaja dikenalkan ke aku? Jonathan ini punya maksud apa? Aahhh sudahlah, jangan terlalu dipikirkan! Lagi pula Joe adalah bos mafia Italia, negara Italia itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku.


"Morris, nice to meet you. You should know who I am, right?" ucap Nisa dengan senyuman.


(Morris, salam kenal ya. Seharusnya kamu tahu siapa aku, kan?)


"S-salam kenal, Miss Nisa ..." ucap Morris sambil tersenyum.


"Haha ... ternyata bisa bahasa Indonesia juga, tapi masih sedikit kaku. Joe yang menyuruhmu?"

__ADS_1


Miss apanya?! Aku sudah menikah, harusnya pakai Mrs.


"Yep, Right!"


"Hei, jangan terlalu jujur!" bentak Jonathan sambil melotot pada Morris.


"Haha ... jangan terlalu kasar, Joe." Nisa lalu melirik ke arah parsel buah pemberian Jonathan.


Wah ... ada stroberi, blueberry! Joe pengertian sekali, tapi aku malu kalau makan langsung buah pemberiannya di depannya.


"Nisa!"


"Heumm?" seketika Nisa menoleh ke arah Jonathan yang memanggilnya. "Ada apa?"


"Mau buah?"


"Eh?! Aku ketahuan, ya?"


"Tentu saja ketahuan, dari tadi kamu curi pandang ke sana terus. Aku juga ingat kalau buah kesukaanmu adalah buah berry. Mau aku bukakan?"


"Iya, boleh!"


Jonathan langsung membukakan parsel buah tersebut, bahkan setelah itu dia juga mengambil sebuah stroberi lalu menyodorkannya ke mulut Nisa. Tapi Nisa tiba-tiba menghalangi dengan telapak tangan.


Seketika Jonathan menarik tangannya kembali, bahkan dia juga menahan ekspresinya untuk tidak terlalu terlihat kecewa.


Ternyata Nisa menolak untuk aku suapi. Jika tahu akan seperti ini, lebih baik saat itu aku terus memendam perasaanku saja. Setidaknya jarak antara aku dan dia tidak akan sejauh sama seperti sekarang.


"Morris!" panggil Nisa.


"Y-ya, Nona!" jawab Morris sedikit bingung.


"Mendekatlah, come here!" pinta Nisa yang disertai isyarat tangan.


Morris dan Jonathan pun kaget dengan permintaan Nisa, tapi Jonathan malah menatap Morris dengan tatapan tidak terima.


Apa ini?! Apakah mungkin Nisa ingin disuapi oleh Morris? Jika iya, maka lihat saja nanti. Awas kau Morris!


Morris hanya bisa pasrah dan mendekat ke arah Nisa, meskipun sebenarnya dia sangat takut dengan tatapan Jonathan. Dia merasa setelah ini pasti akan mendapatkan hukuman berat dari bosnya, dan terlebih lagi dia sendiri juga sudah tahu kalau bosnya menyukai gadis yang barusan memanggilnya.


What The Hell! I'm done, this girl must be on purpose!


(Apa-apaan! Habislah aku, gadis ini pasti sengaja!)


"Nah, this is for you ..." ucap Nisa sambil mengulurkan sebuah jeruk yang juga dia ambil dari parsel pemberian Jonathan.


"Miss ...??" Morris kebingungan.


"Jangan bingung, itu memang untukmu. Anggap saja sebagai hadiah perkenalan, ehmm ... introductory gift! Haha, aku orangnya memang tak tahu malu, padahal itu kan pemberiannya Joe, tapi malah aku kasih ke kamu. Tapi ... yang aku punya dan yang bisa aku berikan cuma itu. Jadi, ambillah. Don't be shy!"


"T-terima kasih, Nona!" Morris lalu menerima buah jeruk itu dengan senang hati.


"One more thing, lebih giat belajar bahasa Indonesia lagi, ya? Supaya kita ke depannya lebih mudah berbincang."


It turns out that the boss's woman is like this, it's only natural that after meeting her the boss doesn't want to have fun with other women anymore. Maybe my guess was wrong.


(Ternyata wanitanya bos seperti ini, wajar saja setelah bertemu dengannya bos tidak ingin bersenang-senang dengan wanita lain lagi. Mungkin tebakanku tadi itu salah)


"Wah wah ... sudah dapat jeruk. Now, go out!!" bentak Jonathan.


"Yes, Sir ..."


Why? Why? Why?! Why my boss can be jealous just because of an orange?


(Mengapa bosku bisa cemburu hanya karena sebuah jeruk?)


Morris pun terpaksa keluar karena kecemburuan Jonathan, dia hanya bisa duduk di luar sambil memakan jeruk pemberian Nisa. Dia merasa lucu karena dia yang membeli parsel itu atas suruhan Jonathan, namun dia tak menyangka bahwa Jeruk itu akan kembali lagi kepada dirinya.


Di dalam ruangan suasananya langsung berubah sepi karena kepergian Morris. Jonathan tampak seperti kebingungan, dia menunduk dan tak berkata apa-apa. Sedangkan Nisa sendiri juga bingung mencari topik pembicaraan, dia akhirnya terus memakan buah stroberi sebagai camilan, tapi sesekali juga melirik ke arah Jonathan.


Keheningan itu berlangsung agak lama, bahkan stroberi yang dibawakan oleh Jonathan hampir habis dilahap oleh Nisa. Melihat Jonathan yang terus melamun membuat Nisa mulai berpikir yang macam-macam, dia berpikir Jonathan jadi seperti itu karena dia menolak disuapi olehnya.


"Maaf ..." ucap Jonathan dengan suara lirih, namun dia masih tetap menunduk.


"Haa? Untuk apa tiba-tiba minta maaf?" tanya Nisa kebingungan yang seketika berhenti memakan stroberi.


"B-bukan apa-apa, aku minta maaf karena baru bisa menjengukmu sekarang, harusnya sejak kemarin-kemarin aku menjengukmu."


"Oh ... santai saja, lagi pula kedatanganmu adalah kamu sendiri yang berhak mengaturnya. Bahkan sebenarnya menjengukku bukan hal wajib bagimu. Tapi sekarang kamu datang, setidaknya kamu bisa jadi teman bicara untukku. Silakan saja kalau kamu mau datang, aku akan menyambutmu."


"Sungguh? Jadi aku boleh datang setiap hari?!"


"Setiap hari?! Itu akan merepotkanmu. Joe, tolong jangan seperti itu. Aku sudah cukup banyak merepotkanmu, bahkan rasanya hanya kamu yang selalu memberi, tapi aku belum pernah sekalipun melakukan sesuatu untukmu. Ini terkesan seperti aku sedang memanfaatkanmu, jadi tolong jangan repot-repot demi aku!"


"Aku harus bilang berapa kali kalau aku suka direpotkan olehmu? Lagi pula kamu juga sudah tahu apa pekerjaanku, dan pekerjaanku tidak ada aturan seperti jam kerja. Lalu soal kamu yang memanfaatkan aku, aku tak pernah merasa begitu. Aku juga pernah menerima sesuatu darimu, misalnya saat kamu mentraktirku waktu itu."


"Joe, bukan itu maksudku. Ini bukan soal uang, tapi soal waktu dan tenaga. Waktu adalah dasar terciptanya momen berharga dalam kehidupan, kamu sendiri tahu kalau aku sudah menolak perasaanmu, jadi jangan buang-buang waktumu hanya demi aku. Tolong jangan terlalu baik kepadaku."


"Maaf, tapi aku bukanlah orang baik. Kamu tahu itu, bahkan seperti kamu juga begitu. Soal perasaan ... jangan terlalu dipikirkan, aku bisa jadi orang yang tak berperasaan, dan aku yakin kamu pun juga bisa. Lain kali jangan bahas masalah perasaan lagi, aku muak mendengarnya! Dan entah kenapa aku merasa kalau kita berasal dari dunia yang sama, meskipun kamu belum pernah bercerita tentang dirimu yang punya sisi semacam itu."


"..."


Insting seorang bos mafia memang tajam. Dunia kita yang sebenarnya mungkin sama, yaitu dunia yang dipenuhi dengan kekerasan. Tapi ada satu perbedaan besar, medan kita berbeda. Kamu profesional, sedangkan aku jalanan. Kamu dipenuhi oleh bahaya, sedangkan aku dipenuhi oleh kegilaan. Takutnya kamu tak akan mengenalku lagi saat aku di sisi itu.


"Jadi intinya, aku akan mengunjungimu setiap hari. Dan kamu jangan merasa tidak enak atau semacamnya. Tadi kamu sendiri juga bilang kalau aku bisa jadi teman bicaramu, jika aku datang setiap hari bukankah itu bisa mengurangi rasa bosanmu?"


"Yaa ... aku akui, di sini memang sangat membosankan. Sebenarnya aku sama sekali tak keberatan jika kamu memang ingin datang setiap hari, tapi ... kamu tahu sendiri lah! Aku malas menjelaskannya."


"Aku tahu, dan aku janji tidak akan ada keributan. Yah ... itu sih kalau tidak ada yang memancing. Tapi tumben tidak ada yang menghalangiku, memangnya dimana dia? Apa dia lebih mementingkan pekerjaannya dibanding dirimu?"

__ADS_1


"Ehmm ... dia ada kok, mungkin dia sedang di taman." jawab Nisa sambil mengalihkan pandangannya.


"Nisa, apa kamu ada masalah dengannya?"


"Kenapa tanya begitu?"


"Karena aku lihat ekspresimu seperti kurang suka saat aku menyebutnya. Aku dengar kamu bisa tertusuk karena menyelamatkannya. Tapi sekarang sikapmu malah seperti ini, apakah kamu menyesal karena berkorban demi dia?"


"Bukan, bukan karena itu. Setiap orang punya masalahnya sendiri, aku pun tak terkecuali. Jadi aku mohon tolong jangan bicara tentangnya lagi, kita bicarakan hal lainnya saja."


"Oke, kalau begitu ... apakah lukamu butuh waktu lama untuk sembuh?"


"Kata Ricky, setidaknya perlu 2 bulan untukku bisa kembali beraktivitas normal. Tapi lukaku cepat tertutup kok, mungkin aku hanya akan di rumah sakit selama sebulan. Setelah itu aku bisa pulang, tapi belum boleh mengangkat beban berat. Lukaku masih harus dikontrol secara rutin. Tapi percayalah, aku akan cepat sembuh!"


"Iya, aku percaya. Lagi pula dokter yang merawatmu memberikan perlakuan khusus. Untung saja kamu selamat, aku tidak tahu apa jadinya jika kamu tiada ..."


"Haha ... jangan terlalu sentimental, toh aku ini termasuk orang jahat. Orang jahat kan susah matinya!" ucap Nisa sambil tersenyum.


"Heh, kamu ini ... masih saja bisa tersenyum. Mau lanjut makan blueberry?"


"T-tapi aku bisa makan sendiri!"


"Memangnya siapa juga yang mau menyuapimu?! Aku cuma mau mendekatkan parselnya agar kamu mudah ambil buahnya!"


"O-oh ... habisnya tadi itu ... Aku kan jadinya kepedean! Kalau kamu juga mau, boleh ambil kok!" Nisa tersenyum canggung.


"Kamu makan sendiri saja, itu pemberianku dan aku masih punya banyak di rumah. Besok akan aku bawakan lagi."


"Tuh kan ... kamu jadi repot lagi. Besok yang datang cuma orang gapapa kok, yang aku butuhkan adalah teman bicara untuk mengusir rasa bosanku, bukan buah pemberian darimu. Tapi ... kalau kamu bersikeras, stroberi saja cukup kok. J-jangan banyak-banyak hehe ..."


"Hemm ... sepertinya aku menemukan pekerjaan baru, aku pikir jadi supplier buah stroberi juga tidak buruk. Tapi aku ragu akan gajinya ..."


"Berhenti mengejekku! Bukan aku yang memaksamu, kamu sendiri yang suka rela! Toh mustahil juga kamu bangkrut jika memberiku stroberi."


"Haha ... iya iya, aku cuma bercanda."


"Hmph!" Nisa mendengus kesal, tapi kemudian dia mencomot buah blueberry lalu memakannya.


Aku akan sangat senang jika Jonathan benar-benar datang setiap hari, aku sudah cukup muak dengan Keyran dan Ricky! Setidaknya jika bersama Jonathan pikiranku bisa teralihkan.


Nisa terus memakan buah blueberry tanpa henti, namun yang berbeda adalah suasana hatinya kini telah membaik. Bahkan juga tampak sebuah senyuman kecil terukir di wajahnya. Melihat senyuman Nisa membuat Jonathan tak bisa berkata apa-apa, dia hanya memandangi Nisa yang sedang makan, namun dia merasa sedikit berat untuk tersenyum.


"Nisa," gumamnya.


Aku benar-benar bersyukur bisa melihat senyumanmu lagi. Jika kamu tiada maka aku akan benar-benar kehilangan senyuman itu untuk selamanya. Dan jika kamu tiada ... maka aku tidak akan bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri.


Sebenarnya akulah yang merupakan penyebab kamu terluka, akulah yang telah mengutus si narapidana busuk itu. Tapi aku tak pernah menyangka kalau kamu yang akan terluka.


Tapi ternyata orang suruhanku terlalu bodoh! Bisa-bisanya dia salah menyakitimu. Sebelumnya aku telah memberinya racun yang akan bekerja dalam hitungan jam. Jika dia berhasil maka aku akan memberikannya obat penawar. Tapi dia gagal, racun itu yang telah melumpuhkan otot jantungnya hingga dia mati. Jika hanya gagal itu bukan masalah, tapi dia bahkan melukaimu. Jadi aku bunuh saja keluarganya sekalian kukeluarkan semua isi perutnya! Biar mereka semua merasakan apa yang kamu rasakan.


Dan setelah semua ini aku sadar kalau caraku salah, memaksa untuk memilikimu adalah salah. Sekarang ... yang aku inginkan hanyalah terus bisa melihat senyumanmu, asalkan bisa melihatmu tersenyum itu cukup bagiku.


Tapi aku tak pernah menyangka kalau kamu juga punya sisi yang begitu baik mengizinkan aku mengunjungimu setiap hari. Dan yang kamu minta ternyata hanya stroberi, bahkan bagiku seluruh stroberi juga tidak cukup jika dibandingkan dengan senyumanmu.


"Joe! Sadar!" ucap Nisa sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jonathan.


"Eh?!"


"Hmph! Dari tadi melamun terus, memangnya ada apa sih?"


"O-oh itu bukan apa-apa! Lalu ... aku pamit harus pulang sekarang. Maaf ... aku tidak bisa terlalu lama, masih ada urusan yang harus aku kerjakan."


"Gapapa kok, sekali lagi terima kasih karena sudah datang. Besok aku menunggu kedatanganmu ..."


"Salah, yang harusnya kamu ucapkan adalah ... besok aku menunggu stroberi darimu~"


"Iiihh ... cepat keluar gih! Kasihan Morris menunggumu!"


"Iya, sampai jumpa besok."


Ternyata Nisa peduli juga dengan Morris, aku sedikit menyesal karena telah mengajaknya.


***


Setelah Jonathan keluar dari ruang rawat, dia langsung mengajak Morris untuk segera pergi. Saat masih berjalan di koridor rumah sakit tiba-tiba Jonathan berkata, "Jeruk yang tadi itu kau apakan?"


"M-makan."


"Muntahkan!"


"W-what?!"


"You don't deserve to eat a gift from Nisa!"


(Kamu tidak pantas memakan hadiah dari Nisa!)


"A-akan saya ... usahakan, b-but later."


"Bagus! Dan asah juga kemampuan bahasa Indonesia mu!"


"Yes, Sir!" tak berselang lama kemudian tiba-tiba Morris kembali berkata, "Uhmm ... Sir!"


"Apa?"


"A-afakah Nona Nisa punya emm ... tatto?"


"Emmm ... aku ingat saat dia berpakaian agak terbuka kalau dia punya. Memangnya kenapa? What's wrong with that?"


"A-afakah di sebelah ... bahu kanan? And ... Yin-Yang?"

__ADS_1


"!!?" Seketika langkah Jonathan terhenti. "Bagaimana bisa kau tahu?!"


"Very bad! I almost got killed once because of her!"


__ADS_2