
"Emm ... itu leher kenapa diperban?" tanya Isma sambil menunjuk ke arah lehernya Nisa.
"I-ini cuma ... cuma salah posisi waktu yoga, iya yoga!" jawab Nisa dengan ekspresi panik.
"Ewww ... nggak mungkin, lu mau bunuh diri ya?" Isma melangkah mendekat lalu mengangkat kedua alisnya. "Ada beban hidup apa sih?"
"Siapa juga yang mau bunuh diri?! Ini cuma disengat tawon, tawon yang ganas. Btw ... isi dompet masih aman kan?"
"Eh lupa!" Isma menepuk jidatnya sendiri lalu mengecek isi dompetnya. Setelah selesai, dia menyimpan dompet itu di saku jaket yang dia pakai lalu menoleh ke arah Valen. "Untung ... masih aman, makasih ya mas ..." ucap Isma dengan senyuman.
"I-iya mbak, sama-sama ..." jawab Valen sambil menggaruk pipi.
"...." Nisa terdiam, melirik ke kanan memperhatikan Valen, lalu melirik ke kiri memperhatikan Isma.
Wadidaw ... mas'e sama mbak'e! Sekarang waktunya beralih profesi, cita-citaku adalah jadi mak comblang! Sekarang waktunya atur strategi ...
Nisa mulai memikirkan bermacam-macam strategi, alias hal gila. Dia memperlihatkan senyum natural dan tiba-tiba saja menarik tangan Isma. Dan saat itu juga Isma punya firasat kalau penyakit gila temannya sedang kambuh.
"Mau apa San?" tanya Isma seakan tidak mengerti.
"Hihi ... masa cuma ucapan terima kasih? Harus ada ketulusan dong~ Paling nggak ... traktir apa kek gitu ..."
"Lah? Emangnya lu yang nolongin gue?"
"Nggak juga sih, yang gue maksud itu Valen~" Nisa lalu melirik ke arah Valen.
"Nyonya ini bicara apa? Saya menolong dengan ikhlas kok, soal imbalan biar Tuhan saja yang membalasnya." Valen lalu tersenyum ke arah Isma. "Saya ikhlas mbak, jangan repot-repot ditraktir ..."
"Emm ... tapi, rasanya kurang enak kalau cuma terima kasih. Sania ini ada benarnya juga kok, kan mas nya ... udah baik mau nolongin ..." ucap Isma dengan nada sopan.
"Iya, rezeki anak sholeh jangan ditolak! Nanti Isma yang mentraktirmu sedangkan aku, aku bayar pakai uangmu dulu. Nanti minta saja gantinya ke bosmu!"
"Hah?! Logika macam apa itu? Bukannya dia bawahannya suamimu?" tanya Isma dengan tatapan bingung.
"Ya gitu deh, secara yaa ... awalnya niatku mau kabur dari rumah. Aku lupa bawa uang, hp, semuanya kelupaan kecuali sandal. Terus aku ketangkep sama si Valen ini nih!" ucap Nisa sambil menunjuk ke arah Valen.
"Niat mau kabur, leher juga diperban, jangan-jangan ... KDRT ya?! Wah bahaya nih, laporin yuk! Kantor polisi dekat kok dari sini!" Isma langsung menarik-narik tangan Nisa, tapi Nisa bersikeras berdiri di tempat.
"Nggak! Bukan KDRT! Ini cuma disengat tawon!"
"Iya, benar apa yang dibilang nyonya. Tuan juga mustahil melakukan KDRT, jadi mbak nya jangan asal menuduh!" ucap Valen penuh penekanan.
"Jadi beneran bukan KDRT?"
"Iya, sumpah demi Pak Erwin, kalau bohong rambutnya bakal tumbuh!"
"Iya deh, percaya. Emm ... btw, sebagai ucapan terima kasih, lu juga gue traktir deh. Di dekat sini ada kafe yang baru buka, ke sana aja yuk!"
Kenapa sumpahnya harus demi pak botak sih?
"Kuy lah! Ayo Valen!" Nisa meringis dan mengangkat kedua alisnya.
"Iya nyonya ..."
Haiss ... menurut saja deh, nyonya benar-benar sulit dilawan, alias sulit diatur.
Mereka bertiga berjalan menuju ke kafe yang berjarak sekitar 50 meter dari tempat mereka sekarang. Selama di perjalanan, Nisa dan Isma asyik bercanda sendiri. Sedangkan Valen, dia diam seribu bahasa dan mengikuti di belakang. Sesekali Valen merasa sedikit canggung dengan pandangan mata orang-orang, karena orang-orang menganggap bahwa dirinya seorang playboy yang mengencani 2 gadis sekaligus.
Sesampainya mereka di kafe yang dituju, Isma langsung mempersilakan Nisa dan Valen memesan kopi sesuai selera mereka. Dan begitu pesanan mereka bertiga datang, tanpa meminum kopinya terlebih dulu, Nisa tiba-tiba berkata, "Aku ke toilet sebentar ya?"
"Eh ... nyonya," ucap Valen.
"Ya yaa ... cepetan sana, lu kebiasaan sih nyobain toilet baru!" ucap Isma dengan ekspresi sedikit kesal.
"Haha, dadah ... mau nabung dulu ..." Nisa beranjak dari kursi dan bergegas menuju ke toilet.
Wkwkwk ... nanti agak lama ah, padahal ke toilet cuma mau main air sama ngaca.
Benar saja, Nisa sungguh berlama-lama di toilet, dia berada di sana sekitar 15 menit lebih. Ketika merasa sudah cukup lama, dia kembali lagi untuk bersama Valen dan Isma.
Begitu Nisa duduk dan hendak meminum kopinya yang telah dingin, tiba-tiba saja Valen berkata, "Nyonya cepat habiskan, setelah ini ayo lekas pulang."
"Sabar dong Mas Valen, cerita apa saja dulu sama Mbak Isma~"
"Kok bicaranya begitu sih? Ngeledek ya lu?!" tanya Isma seakan tidak terima.
"Nggak tuh, emangnya kalian pendekatan sampai mana?"
"Nyonya ini bicara apa?! Saya dari tadi diam saja, tidak ada percakapan di antara kami. Pendekatan apa yang nyonya maksud?"
"Yaelah, sok polos. Pendekatan ya pendekatan, aku ini comblangin kalian."
"Hah?!" Seketika Isma dan Valen terkejut, kemudian mereka saling menatap satu sama lain dengan ekspresi sedikit aneh. Dalam beberapa saat suasana masih hening, hingga Nisa tiba-tiba bergeser mendekat dan menyentuh pundak Isma.
"Hehe ... dia termasuk ganteng loh, tipe lu banget. Lu suka yang cool, putih, bisa pegang omongannya, cuek tapi perhatian. Nah, ini dia Mas Valen ..."
"Emm ... gue paham niat lu baik, tapi maaf yaa ... gue sekarang punya pacar."
"Hah?! Gue baru bolos 2 hari dan lu mendadak punya pacar, kok nggak cerita sih? Pacar lu siapa?"
"I-itu ... Terry."
"WTF!!!" Nisa syok lalu mencengkeram pundak Isma dan menatap matanya lekat-lekat. "Anying, kok bisa?! Kok lu terima sih jadi pacarnya?!"
"Y-ya bisa, emangnya mustahil?"
__ADS_1
"Wah gawat nih, jangan-jangan lu kena pelet ilmu hitam. Ini sih bukan lagi semar mesem sama jaran goyang, tapi babi mesem sama babi goyang! Emangnya lu mau jadi babi betina?"
"Pelet apanya? Orang gue yang nembak dia."
"Ismaaa ... sayangku! Kok bisa-bisanya sih lu naksir sama dia?"
"Ya mau gimana lagi, gue emang naksir kok. Asal lu tahu ya, Terry itu idola kampus, banyak kok yang naksir juga sama dia. Yang ada itu elu yang satu-satunya cewek di kampus yang nggak suka sama dia. Mungkin lu anggap dia itu babi, tapi bagi gue dia itu baby. Dan ... tolong jangan hina dia lagi."
"Isma, tolong buka matamu! Lihatlah Valen, dia bermiliaran lipat lebih baik dibanding Terry! Kurangnya cuma jarak usia yang terpaut, toh Valen suka kok sama elu."
"Maaf nyonya, saya sendiri ada orang yang saya sukai. Jadi tolong berhenti bersikeras jadi mak comblang." ucap Valen dengan nada sopan.
"What?! Cewek mana yang kau sukai?"
"I-itu ... dia satu kantor dengan saya, dia manajer departemen administrasi." jawab Valen sambil menunduk.
"Manajer departemen administrasi ... i-itu namanya bukannya Rachel?!"
"I-iya, nyonya benar ..."
"OMG!! Aku beritahu ya, dia itu bukan cewek baik-baik, dia itu cewek dajal!" (Nggak ngaca:v)
Nisa semakin syok saat mendengar pernyataan dari kedua target yang dia comblangkan. Di tengah-tengah itu Isma mengambil kesempatan untuk segera kabur.
"Gue pergi ya, udah gue bayar kok! Dadah ..." ucap Isma sambil melambai-lambaikan tangan.
Nisa masih terpaku, otaknya sedang memproses memahami semua kejadian yang dialaminya hari ini. Ketika dia tersadar telah gagal menjadi mak comblang, selera untuk minum kopinya telah hilang. Dia kemudian menatap Valen dengan tatapan dingin.
"Kopimu sudah habis?"
"Sudah nyonya, nyonya tidak minum kopinya, apa sekarang ingin pulang?"
"Aku mau ke kantor."
"Eh? Kenapa nyonya ingin ke kantor?" tanya Valen dengan wajah bingung.
"Mau ketemu Rachel."
"J-jangan nyonya, jangan labrak dia. Dia tidak punya salah apa-apa, toh dia juga tidak tahu kalau saya punya perasaan kepadanya."
"Siapa juga yang mau labrak dia, aku cuma bercanda. Tentu saja aku mau ketemu darling. Nah, sekarang tolong pesankan kopi hitam original!"
"Baik nyonya ..."
Huft ... syukurlah nyonya berhasil aku bohongi, mana mungkin aku suka sama Rachel yang dandanannya menor itu. Seleraku itu cewek bule seksi berambut pirang~
Setelah Valen membeli kopi, Nisa memintanya untuk dia bawa sendiri. Saat mereka berdua keluar dari kafe, Nisa terkejut karena sudah ada sebuah mobil limosin berwarna hitam yang menyambutnya. Nisa langsung menoleh ke arah Valen dan memasang senyum canggung.
"Ini kau yang mengaturnya?"
"Oh, ayo naik."
Ini sangat berlebihan, aku ini Nisa Sania, bukan Ratu Elizabeth! Padahal aku cuma pakai baju asal ambil sama sandal jepit, tapi tampilan seperti ini malah disuruh naik mobil limosin. Ini sih namanya over protektif.
Pada akhirnya Nisa menaiki mobil itu dengan terpaksa dan diikuti oleh Valen yang membukakan pintu mobil untuknya. Perjalanan menuju ke kantor hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit.
Sesampainya di kantor, Nisa lagi-lagi mendapat sambutan hangat dari para pegawai yang berjajar rapi. Namun tak sedikit pegawai yang terkejut karena melihat lehernya Nisa diperban. Nisa mengabaikan tatapan dari para pegawai itu dan langsung bergegas menuju ke lift dan masih diikuti oleh Valen.
"Kau ini kenapa mengekor terus sih? Sumpah, ganggu banget!"
"Saya cuma ingin menjamin keselamatan nyonya, bisa saja tiba-tiba mati lampu lalu lift nya berhenti."
"Gedung ini dilengkapi oleh genset yang tenaganya cukup untuk semua lift, jika mati lampu aku masih bisa tenang."
"Tapi meskipun begitu tetap saja saya khawatir, nyonya bisa saja panik lalu pingsan dan lupa bernapas. Jika nyonya kenapa-kenapa, nanti tuan bisa menggila seperti saat nyonya dikira terlibat kecelakaan dan saat nyonya diculik."
"Menggila?"
"Iya, saat itu tuan benar-benar seperti kehilangan akal. Intinya tuan bisa berbuat apa saja demi nyonya, jadi nyonya setidaknya tolong jangan berbuat hal yang membuat tuan khawatir."
"...." Nisa tertegun, dia menunduk dan hanya memandangi kopi yang dia bawa.
"...." Valen tersenyum kecil dan sedikit melirik ke arah CCTV.
Hehehe ... aku berhasil, tuan jangan lupa untuk menaikkan gajiku. Sekarang nyonya punya simpati yang lebih.
TING ...
Pintu lift terbuka, Nisa langsung melangkah keluar dengan terburu-buru. Sedangkan Valen, dia tersenyum kemudian menutup pintu lift dan berniat ingin turun ke lantai bawah. Sesampainya Nisa di depan pintu ruangan Keyran, untuk sejenak dia berhenti. Dia mengambil napas panjang lalu mengetuk pintu.
Tok tok tok ...
"Siapa?"
"Debt collector!!!" teriak Nisa sekencang-kencangnya.
"Aku tahu kalau itu kau, cepat masuk!"
Tanpa basa-basi lagi Nisa langsung masuk ke ruangan. Dia mendapat sambutan senyum hangat dari suaminya. Nisa berjalan mendekat ke arah meja lalu meletakkan kopi yang dia bawa.
"Ini untukmu," ucap Nisa sambil tersenyum.
"Hmm ... aku tahu, ayo kemari ..." Keyran bergeser sedikit mundur dan memberi isyarat tangan kepada Nisa. Nisa tersenyum lalu menurut untuk duduk di pangkuan Keyran dan melingkarkan tangannya di leher Keyran. "Tumben sekali datang menemuiku, pasti ada maunya~"
"Pintar sekali suamiku ini, jadi apa kau bersedia mengabulkan permintaanku?" tanya Nisa dengan tampang cemberut.
__ADS_1
"Itu tergantung, katakan dulu permintaanmu."
"Humph ..." Nisa merubah ekspresinya menjadi memelas. "Key ... aku merasa kurang nyaman, perbannya dilepas ya? Aku malu ... orang-orang mengejekku sebagai mumi firaun, memangnya kau tega aku diejek begitu?"
"Perban di lehermu belum boleh dilepas, jika kau malu diejek orang, maka kau diam saja di rumah."
"Aku merasa susah Key, mau mandi susah, mau ganti baju susah, pakai baju apa pun merusak fashion, apa lagi kalau gatal, digaruk juga susah."
"Kau tenanglah, kalau kau mau mandi atau ganti baju, aku bisa membantumu. Dokter bilang lukamu paling tidak harus diperban selama seminggu dan harus sering diganti, jika lukamu tetap lembab maka bisa cepat sembuh. Jadi kau ini menurutlah, oke?"
"Oke ... tapi, kau ini berlebihan dalam menjagaku. Masa mau ke mana-mana harus ada bodyguard? Aku mohon kembalikan kebebasanku ... aku 100% sudah sehat!"
"Kau masih sakit, aku tahu itu."
"Aku sehat!" tiba-tiba Nisa menaikkan dagu Keyran dengan jari telunjuknya. "Kalau begitu ... malam ini aku bisa buktikan kalau aku sudah sehat~"
"...." wajah Keyran memerah.
Ya Tuhan, kenapa Kau berikan aku istri penggoda seperti ini? Aku sebenarnya sangat mau, tapi aku juga kasihan. Tapi dia yang berinisiatif duluan ...
"Key~ aku sehat, 3 ronde aku kuat~" tangan Nisa perlahan turun, dia mengelus dan mengusap dada Keyran dengan lembut. "Tertarik mencobanya?"
"Ehem!" Keyran tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Nisa. "Dari mana kau mempelajari hal seperti ini?"
"Otodidak, ayo kita asah kemampuan bersama~"
"Baiklah, nanti malam tunggu aku pulang ya istriku~"
"Oke, aku tunggu."
Yes terpancing! Akhirnya kebebasanku kembali.
"Emm ... sekarang sudah seperti ini, bukankah aku harusnya dapat sesuatu?"
"Kau sudah dapat kopi, memangnya mau apa lagi?"
"Heh," Keyran menyeringai, jari jempolnya membelai bibir Nisa dengan lembut. "Kopi rasanya pahit, tapi bibirmu rasanya manis~"
"Tentu saja manis, aku kan pakai lip balm rasa strober .. wupp ...?!!" mata Nisa membelalak, dia terkejut karena Keyran yang tiba-tiba menciumnya.
Selalu saja seperti ini, dia mendadak main nyosor saat aku masih bicara. Eh ...? L-lidahnya masuk! Gawat, nanti dia kebablasan, ini masih di kantor dan ada juga CCTV! Pokoknya harus segera lepas.
"Ehmmm ..." Nisa memberontak, dia mendorong Keyran agar ciumannya lepas, lalu dia memalingkan wajahnya yang memerah.
"Ada apa? Ini bukan pertama kalinya aku menciummu, kenapa sikapmu seperti ini?"
"Ada apa, ada apa?! Ada kau yang orang bodoh! Di ruanganmu ini ada CCTV, aku malu dilihat oleh karyawanmu yang sedang menontonnya!"
"Cih, itu mudah." Keyran tiba-tiba mengambil sebuah berkas dari mejanya, dia juga kembali mencium bibir Nisa serta menahan kepalanya. Sementara berkas itu, dia gunakan untuk menutupi dari samping.
"Em-mmm ..."
Terserah saja deh.
***
Malam harinya. Ketika pasangan suami istri itu akan melakukan kegiatan bercocok tanam, sebelum melakukannya Nisa yang masih berpakaian lengkap duduk di pinggir ranjang dan ekspresinya terlihat sedikit kesal. Keyran yang saat ini hanya memakai pakaian dalam merasa sedikit bersalah, dia kemudian memeluk tubuh Nisa dari belakang dengan perlahan.
"Baiklah, aku setuju. Jadi jangan marah ..."
Sial, sebenarnya aku sedikit tidak rela.
"Sungguh?" Nisa langsung tersenyum semringah.
"Iya, sungguh. Aku setuju jatahku cuma 3 kali seminggu, hari Selasa, Kamis, dan Sabtu."
"Huh ... kau dapat 3 kali itu harusnya bersyukur, dalam hal ini juga perlu terorganisir dan terjadwal. Jika menurut usulanmu, bisa-bisa aku harus pakai kursi roda. Kau minta selama kau ada waktu senggang maka bisa melakukannya. Tentu saja ini kurang adil bagiku!"
"Iyaa ... maafkan suamimu ini yang kurang bijaksana. Nah, sekarang kan hari Kamis, jadi ayo kita mulai ..."
"O-oke," jawab Nisa dengan wajah memerah.
Kegiatan bercocok tanam pun dimulai ...
***
Hari-hari selanjutnya tidak ada yang spesial, pasangan suami istri itu melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal. Hal itu bisa terjadi karena setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu, setiap hari-hari itu Keyran selalu mengawasi Nisa agar tidak sengaja ketiduran seperti dulu lagi.
Hingga tibalah hari ini, hari ini adalah tepat 15 hari setelah kasus penculikan Nisa. Ketika Nisa telah pulang dari kuliahnya, dia terburu-buru berbaring di kasur. Dia merasa hari-harinya di kampus semakin melelahkan semenjak dia tahu Isma dan Terry berpacaran.
Saat Nisa hampir tertidur karena kelelahan, tiba-tiba saja ponselnya berdering karena ada panggilan telepon yang masuk.
Buzz buzz ...
Buzz buzz ...
Nisa segera mengambil ponselnya, dia sedikit terkejut saat melihat panggilan itu datang dari sosok yang tidak terduga.
"Ayah? Tumben sekali ayah meneleponku, pasti ada hal penting."
Begitu Nisa mengangkat panggilan, ayahnya langsung berteriak, "Nisa! Ada kabar bagus!"
"Kabar bagus apa ayah?"
"Perusahaan @%*#&¥ ..."
__ADS_1