
Bruugh!!
Tepat sesaat sebelum Nisa melangkahkan kakinya, tiba-tiba ada seseorang yang menariknya dari belakang. Dan seseorang itu beserta Nisa sama-sama terjatuh ke tanah di tepi danau. Mereka berdua masih duduk di tanah, dan Nisa juga masih terus menangis.
"Apa kamu sudah gila!?" teriaknya sambil mencengkeram pundak Nisa.
"Hik.. ternyata kamu Joe... hik.. a-aku pikir..."
"Kamu pikir apa!? Pikiranmu itu pasti sudah berhenti bekerja, bisa-bisanya kamu mau melompat ke danau. Apa kamu sudah bosan hidup!?"
"Hik.. iya, aku memang sudah bosan hidup... jadi bunuhlah aku, aku mohon bunuh aku Jonathan!!" Nisa lalu menggenggam kedua tangan Jonathan. "Penuhi permintaan temanmu ini, tolong bantu aku mengakhiri penderitaan ini, tolong bunuh aku Joe..."
"...." Jonathan menarik tangannya yang digenggam oleh Nisa. "Aku bisa membunuh semua orang kecuali dirimu. Meskipun kamu memandang remeh kematian, tapi tindakanmu ini juga tidaklah benar. Daripada mencoba membunuh dirimu sendiri, lebih baik..." Jonathan lalu mengusap pipi Nisa. "Menangislah, kamu bebas menangis sepuasnya, kamu juga bebas berteriak sekeras-kerasnya."
"Huuaaa....! Sialan! Bajing*n! Dasar sampah! Aku benci... benci... hik.."
"Nisa..." tiba-tiba Jonathan memeluk lalu mengusap-usap kepala Nisa, "Lampiaskan saja, keluarkan semuanya. Buatlah dirimu tenang..."
"Joe... hik.." Nisa terus menangis tanpa membalas atau pun melepas pelukan dari Jonathan.
"Tidak apa-apa, kendalikan dirimu, ini masih belum akhirnya, hidup memang tidak selalu bahagia, tapi kamu harus tetap menghargai hidupmu..."
"Hik.. i-iya..."
***
Butuh waktu yang cukup lama untuk Nisa berhenti menangis. Ketika Nisa sudah tenang namun masih terisak, dia meminta Jonathan untuk melepas pelukannya. Jonathan kemudian tersenyum dan menuntun Nisa untuk duduk di bangku bersama. Setelah mereka berdua duduk, Jonathan hanya diam dan terus menatap Nisa. Sedangkan Nisa, dia sedari tadi masih menatap ke arah danau dengan tatapan mata yang kosong.
Jonathan masih diam karena tidak tahu harus bicara dan berbuat apa, tapi sebenarnya banyak sekali yang ingin dia tanyakan kepada Nisa. Jonathan menahan semua pertanyaan itu karena masih ragu, dia merasa bahwa Nisa masih belum cukup tenang untuk menjawab pertanyaan darinya.
Di sisi lain Nisa masih terus termenung, dia merasa tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi padanya. Dan yang paling mengejutkan bagi Nisa adalah kehadiran Jonathan. Jauh di lubuk hati Nisa, sebenarnya sangat berharap bahwa orang yang telah mencegahnya bunuh diri adalah Ricky.
"Joe..." ucap Nisa tanpa menoleh.
"Eh!? A-ada apa?"
Kaget aku, Nisa tiba-tiba bicara, mungkin saja Nisa sudah lebih tenang.
"Kalau mau bicara ya bicara saja, kalau mau tanya juga akan aku jawab."
"Oke, kalau begitu aku akan mengajukan beberapa pertanyaan untukmu. Kalau kamu nanti kesulitan menjawab juga tak apa, aku paham masalah yang kamu hadapi pasti sangat berat. Jadi apa yang membuatmu berniat untuk bunuh diri?"
"Patah hati." jawab Nisa tanpa menoleh.
"Patah hati..." untuk sejenak Jonathan terdiam. "Apa yang kamu maksud adalah mantanmu?"
"Iya, memangnya siapa lagi kalau bukan dia, yang aku cintai hanya dia seorang. Hingga... pada akhirnya ternyata dia sudah bahagia dengan yang lain. Sedangkan aku," Nisa lalu menoleh ke arah Jonathan. "Aku dibuat frustrasi sampai ingin bunuh diri." ucap Nisa dengan senyum pahit.
"Nisa... jangan memaksakan senyum seperti ini. Tapi apa yang mendorongmu sampai memilih untuk melompat ke danau?"
"Taruhan."
"Memangnya taruhan macam apa dan apakah yang kamu pertaruhkan ini pantas? Kamu mempertaruhkan nyawamu sendiri hanya untuk yang kamu sebut sebagai mantan?"
"Yaa.. begitulah. Aku bertaruh nyawa juga bukan tanpa alasan. Aku pernah dua kali diselamatkan olehnya, aku hanya ingin bertaruh apakah akan ada yang ketiga kalinya. Dan ternyata yang menyelamatkan aku kali ini bukanlah dia, melainkan kamu, kamu yang tak pernah aku sangka sebelumnya."
"Nisa, sebenarnya kamu tidak perlu frustrasi sampai seperti ini. Kamu harus sanggup melepaskannya..." Jonathan lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah danau. "Ketika orang yang kepadanya kamu gantungkan seluruh kebahagiaan kini berbahagia bersama yang lain, ketika orang yang sangat ingin kamu dampingi raganya kini berdampingan dengan yang lain. Sekali lagi, kamu harus benar-benar sanggup melepaskannya, seperti dia yang sanggup melepasmu demi memeluk hati yang lain."
"Aku sudah berusaha mati-matian untuk melepasnya serta melupakannya, tapi tetap saja aku gagal. Bagiku melepasnya adalah beban yang sangat besar, beban yang sangat sulit aku tanggung."
"Kalau begitu..." Jonathan tersenyum dan menoleh ke arah Nisa. "Kamu tinggal berbagi beban saja, berbagilah beban denganku. Dengan begitu kamu bisa merasa lebih baik, dan mungkin saja kamu bisa melupakannya."
"Joe, aku adalah orang yang mudah bergantung kepada orang lain. Mungkin saja kedepannya aku akan terus bergantung padamu. Aku nggak ingin membuatmu merasa susah, apalagi demi orang sepertiku. Dan kamu juga punya duniamu sendiri, kamu juga punya masalahmu sendiri. Jadi jangan terlalu peduli kepadaku, nantinya pasti aku akan merepotkan kamu."
"Jika kamu merasa tidak ingin terlalu bergantung padaku, maka kita saling bergantung saja. Jika aku ada masalah maka aku juga akan bercerita kepadamu, dan begitu pula sebaliknya. Intinya dari teman biasa, mulai dari sekarang kita bisa menjadi teman curhat."
"Teman curhat yaa..." Nisa lalu terdiam dan hanya menatap Jonathan.
__ADS_1
Kecurigaanku pada Jonathan telah sedikit berkurang, tadi dia mencegahku untuk bunuh diri, itu artinya dia sama sekali nggak berniat untuk membunuhku. Dan kalaupun Jonathan adalah seorang pembunuh bayaran, itu artinya aku juga bukan salah satu targetnya. Dan mungkin saja sebenarnya Jonathan ini bukanlah seorang pembunuh bayaran.
Jonathan juga terlihat bersungguh-sungguh menganggapku sebagai teman, padahal waktu itu aku setuju menjadi temannya karena hanya ingin memanfaatkannya saja. Tapi lihatlah keadaannya sekarang... saat aku menangis dan putus asa, ternyata dia lah yang telah menarikku dari keputusasaan ini.
Terlebih lagi saat aku bersama dengan Jonathan, entah kenapa aku merasa tak perlu khawatir akan apa pun lagi. Dan yang terpenting, aku tak perlu khawatir bagaimana dia akan melihat atau menganggapku sebagai apa. Mungkin saja karena dia adalah orang luar, jadi aku bisa bebas menunjukkan diriku yang sebenarnya.
Padahal inilah diriku yang sangat enggan untuk aku tunjukkan pada orang lain. Sebenarnya aku ini lemah, cengeng, mudah depresi dan berpikiran pendek. Bahkan selama ini di depan keluargaku sendiri, aku selalu berpura-pura tegar dan bisa diandalkan. Aku seperti itu karena mereka semua menaruh harapan kepadaku, mereka berharap agar aku bisa menjadi seseorang yang tangguh, seseorang yang berani. Dan tentu saja aku harus berusaha untuk memenuhi harapan mereka, aku tak ingin mereka kecewa.
Dan sekarang... dengan adanya Jonathan yang menjadi temanku, mungkin nantinya aku bisa kembali bersenang-senang dan melupakan semua masalahku, termasuk melupakan Ricky. Jonathan telah menyelamatkan hidupku, yang harus aku lakukan sekarang adalah kembali bersemangat.
"Joe, aku pikir daripada berbagi beban, lebih baik hilangkan saja bebannya. Apa kamu bersedia menemaniku menghilangkan beban?"
"Tentu saja, asalkan kamu senang aku bisa menemanimu melakukan apa pun. Tapi bagaimana caramu agar bebanmu bisa hilang?"
"Aku akan tunjukkan nanti, tapi sebelumnya aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, kalau kamu keberatan juga gapapa, nggak perlu dijawab."
"Baiklah, bertanya saja sepuasnya." ucap Jonathan sambil tersenyum.
"Aku hanya ingin tahu sejak kapan kamu berada di danau ini, dan kenapa bisa menyelamatkan aku tepat sesaat sebelum aku melompat?"
"Aku berada di danau sejak sebelum kamu datang. Awalnya aku ke danau karena hanya ingin melihat-lihat saja, dan dari kejauhan aku melihatmu duduk di bangku ini dan terlihat begitu tertekan. Sebenarnya sejak tadi aku ingin menghampirimu, tapi kamu terkesan seperti tidak ingin didekati oleh siapa pun. Setelah semua orang meninggalkan danau, aku melihatmu tiba-tiba menangis. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah kamu yang tiba-tiba ingin melompat ke danau, tentu saja aku tidak bisa tinggal diam. Karena inilah aku jadinya menarikmu, aku tidak bisa melihatmu mati begitu saja di hadapanku."
"Joe... kamu begitu peduli padaku. Padahal kamu belum terlalu mengenalku, dan aku juga belum terlalu mengenalmu. Andai saja yang ingin melompat ke danau adalah orang lain, apakah kamu juga akan menyelamatkan orang itu?"
"Tidak, jika itu adalah orang lain maka aku akan diam saja. Tapi karena orang itu adalah kamu, makanya aku tidak bisa tinggal diam. Mungkin saja... kepedulianku ini karena kamu adalah temanku, sebenarnya kamu adalah satu-satunya temanku."
"Jonathan..." untuk sejenak Nisa terdiam. "Kenapa kamu mau berteman denganku? Itu pun kamu melakukannya pada saat kita pertama kali bertemu, bahkan menurutku pertemuan kita bisa disebut tidaklah wajar."
"Haha... sekarang aku sadar, ternyata inilah alasanmu kenapa terkadang sedikit menutup diri, ternyata kamu mencurigaiku." Jonathan tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Nisa. "Alasanku ingin berteman denganmu sangatlah sederhana, karena kamu adalah orang pertama yang berani menatap mataku secara langsung."
"O-orang pertama?" Nisa lalu bergeser sedikit menjauh dari Jonathan. "Kenapa sebelumnya belum ada yang berani, apakah kamu punya penyakit mata yang menular?"
"Tentu saja tidak! Mataku baik-baik saja, semuanya normal."
Huh! Dasar Nisa... sekarang kamu juga adalah orang pertama yang berani mengejekku, jika kamu adalah orang lain maka sudah dipastikan aku sudah membunuhmu. Bagiku kamu itu lain dari yang lain, ada sesuatu dari dalam dirimu yang berbeda, sesuatu yang membuatku merasa kalau kita memiliki kesamaan.
"O-oke, lupakan soal masalah mata. Lalu... kenapa waktu itu kamu menghajar orang-orang itu?"
"Emm.. sebelumnya aku ingin minta maaf, aku hanya bisa menjawab sebagian dari pertanyaanmu. Sejujurnya... banyak sekali orang yang menginginkan nyawaku, banyak juga orang yang telah mengirimkan pembunuh bayaran untuk membunuhku. Dan waktu itu, para agen itu terlihat sangat mencurigakan, makanya aku membereskan mereka semua. Dan secara kebetulan tiba-tiba aku bertemu denganmu, itu juga merupakan pertemuan yang tak pernah aku sangka."
"Oh begitu, lalu... belakangan ini keberadaanmu seolah-olah menghilang, sebenarnya kamu ke mana saja?"
Heh, ternyata salah paham. Sebenarnya yang diincar oleh para agen itu adalah aku, dan tanpa kamu sadari kamu juga telah menjadi kambing hitam untuk mengecoh Keyran.
"Aku bukannya menghilang, tapi aku pergi ke Italia karena ada urusan."
"Hehe... ternyata dugaanku benar, selama ini kamu bilang kalau kamu pengangguran, ternyata kamu itu pembohong!"
"A-aku memang pengangguran, rumahku memang ada di Italia dan sebenarnya aku adalah warga negara sana. Dan aku mengunjungi danau ini karena ingin lebih mengenal kota ini, kata orang-orang danau ini sangat bagus sampai membuat takjub, seperti namanya... Wonder Lake."
"Ohh... jadi kamu datang ke negara ini karena liburan, tapi anehnya kenapa bahasamu sangat fasih...?"
"Itu tidaklah aneh, aku memang menguasai 5 bahasa. Dan aku datang ke negara ini bukan untuk liburan, tapi karena desakan dari seseorang. Dia mengemis ingin aku datang."
Seseorang yang bajing*n, orang yang dengan seenaknya mengaku sebagai ayahku. Mentang-mentang dia cukup berpengaruh di kota ini, dia dengan tanpa malu menyuruhku untuk melanjutkan bisnisnya. Padahal sebelumnya dia telah menelantarkan aku.
"Apakah orang yang memaksamu itu adalah keluargamu yang tinggal di kota ini?"
"Yaa.. secara harfiah seperti itu, tapi aku sama sekali tidak menganggapnya sebagai keluargaku." ucap Jonathan dengan nada malas.
"Ooh.. begitu."
Ternyata Jonathan punya masalah di keluarganya, lebih baik aku jangan tanya lagi, aku sadar akan batasanku, aku ini cuma temannya, jadi untuk masalah keluarganya sebaiknya aku jangan ikut campur.
Untuk sejenak kedua orang itu diam dan hanya menatap ke arah danau. Namun tiba-tiba saja Nisa berdiri dan menarik tangan Jonathan, lalu dengan senyum yang berseri-seri Nisa berkata, "Sudah aku putuskan! Aku akan menunjukkan semua kesenangan yang ada di kota ini, aku akan menjadi pemandu wisata khusus untukmu! Ayo joe, mari kita hilangkan beban!"
"Baiklah, mari..." Jonathan tersenyum lalu berdiri dan setuju untuk mengikuti ke mana pun Nisa mengajaknya pergi.
__ADS_1
Sungguh... mungkin di dunia ini orang yang seperti Nisa hanya ada Nisa seorang. Padahal tadi dia begitu putus asa dan ingin bunuh diri, tapi sekarang dia sudah bersemangat seperti ini. Ini semakin lama semakin menarik~ kira-kira apa yang akan dia tunjukkan?
...Tak lama kemudian, di jalanan yang sepi...
...•••••• ...
Nisa mengajak Jonathan untuk bersenang-senang sekaligus menghilangkan beban. Selepas mereka meninggalkan danau, mereka berdua lalu menyusuri jalanan yang terkesan sepi yang tak ada orang yang berlalu lalang. Di sepanjang perjalanan mereka berdua terus bergurau dan terkadang saling mengejek satu sama lain.
Ketika mereka berdua sampai di sebuah jalan yang lampu-lampu jalannya sebagian sudah mati, Nisa tiba-tiba saja berhenti melangkah. Dan seketika Jonathan juga berhenti melangkah sekaligus merasa sedikit bingung dengan tingkahnya Nisa.
"Ada apa? Apa kamu takut karena semakin gelap?"
"Ssstt... diam dulu!" Nisa lalu melambaikan tangannya, "Mendekatlah Joe, cepat kemari!"
"Oke," Jonathan lalu berjalan mendekat ke arah Nisa. "Memangnya ada apa?"
"Apa kamu mau ikut bermain denganku, tapi ada syaratnya, minimal harus patah tulang." ucap Nisa sambil tersenyum.
"Hah!? Maksudnya?" tanya Jonathan dengan wajah bingung.
"Aku akan jelaskan. Tepat di depan sana ada sebuah gang, dan gang itu cukup terkenal. Mungkin jika kita beruntung, kita bisa bermain-main dengan sekelompok preman yang ada di sana. Kalau kamu mau ikut, nanti kita bagi setengah-setengah. Gimana?"
"Emmm.. apa maksudmu kamu ingin menghajar sekelompok preman itu? Tapi kenapa? Apa kamu punya masalah dengan mereka?"
"No.. no.. kamu salah, aku bukannya punya masalah dengan mereka, tapi aku mau buat masalah. Kamu jangan ragu, aku sudah sering melakukannya."
"Oke, jadi apa rencanamu?"
Nisa ini... ternyata caranya meluapkan emosi adalah dengan menghajar orang lain, ini sangat menarik!
"Hehe, kamu hanya tinggal terus di sini dan menunggu aba-aba dariku, sisanya serahkan saja padaku."
"Maksudmu... apa kamu sendiri yang menjadi umpan untuk memancing mereka?"
"Yup! Tepat sekali~" Nisa lalu menaikkan rok yang dia pakai hingga pahanya kelihatan. Dia juga melepas dua kancing bajunya yang paling atas untuk memamerkan belahan dadanya. Bahkan dia juga menggulung rambutnya agar lehernya yang mulus tampak begitu jelas. Nisa lalu memasang tampang imut sambil berkata, "Bagaimana menurutmu Joe?"
"Bagus, sangat bagus!!" Jonathan lalu memberikan jempol dengan wajahnya yang memerah.
Ya ampun, Nisa profesional sekali, dia pasti benar-benar sudah sering melakukan ini.
"Nah, kalau begitu tunggu aba-aba dariku~"
***
Nisa dengan percaya diri memasuki gang yang gelap gulita itu seorang diri. Dan begitu masuk, Nisa langsung berjalan perlahan dan bersikap seperti tidak berdaya. Nisa juga berpura-pura menangis dengan membuat suara rintihan kecil, suara itu dimaksudkan sebagai panggilan bagi sekelompok preman yang dia tunggu.
Tak berselang lama kemudian datanglah sekelompok preman yang berjumlah 4 orang. Semua para preman itu melihat Nisa dengan tatapan mesum, dan Nisa masih terus memperlihatkan ekspresi yang ketakutan, meskipun di dalam hatinya dia sedang tertawa bagaikan iblis yang sudah menemukan mangsa.
Salah satu dari preman itu mendekat dan mencolek pundak Nisa. "Hehe... adik manis~ ayo main sama om, nanti om belikan permen~"
"Mau om, tapi..." Nisa tiba-tiba menarik tangan preman itu lalu memelintirnya. "Setelah adik yang manis ini mematahkan tanganmu!!"
KRAAAKK!!
"Aaarghhh!!"
"Panggilan diterima!!" teriak Jonathan yang tiba-tiba muncul, dan seketika dia juga mengikuti Nisa untuk menghajar preman-preman itu.
BUKK! BAK! BUAKH!!
Nisa dan Jonathan terus menghajar keempat preman itu habis-habisan sampai tulang-tulangnya patah. Tentu saja keempat preman itu kalah dan sudah tergeletak tidak berdaya di tanah. Namun ada salah satu di antara preman itu yang masih sadarkan diri. Menyadari hal itu Nisa langsung menginjak kakinya sekuat mungkin hingga patah.
KRAAKK!!
"Akkhh!! Dasar j*lang! Apa kau tahu siapa aku hah!!?"
"Memangnya kau siapa?" tanya Nisa sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku adalah anggota geng mafia Grizzly Cat!!"
"Grizzly Cat!?" ucap Nisa dan Jonathan bersamaan.