Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Kurang Beradab


__ADS_3

Adegan pijat plus-plus diskip karena author menulis dalam keadaan puasa🙏 Selamat menikmati episode ini~


Seminggu setelah Event Dessert Week berakhir. Di pagi hari yang cerah ini Nisa terlihat cukup mencurigakan. Dia pergi ke kamar mandi secara mengendap-endap, lalu tak berselang lama kemudian dia keluar sambil menggenggam sesuatu di tangannya.


Nisa berjalan menuju ke arah ranjang lalu duduk di pinggir. Sejenak dia termenung saat menatap benda yang dia genggam. Dengan tatapan mata yang berharap dia bergumam, "Aku mohon ... semoga hasilnya positif!"


Bulan ini aku belum datang bulan, jika aku hitung sudah telat dua hari. Kemarin aku beli test pack secara diam-diam. Katanya urine di pagi hari akan membuat hasilnya lebih akurat. Pokoknya aku tidak boleh lengah dan mengulangi kesalahanku lagi!


Nisa perlahan membuka genggaman tangannya, jantungnya berdebar cukup cepat karena gugup dengan hasil yang akan diberikan oleh test pack itu. Saat dia membuka sepenuhnya genggaman tangan itu, dia melihat garis berwarna merah yang jumlahnya ada segaris.


"Ternyata negatif," ucap Nisa dengan nada pasrah. Dia menghela napas kemudian menatap udara kosong yang berada di hadapannya.


Bukankah dunia ini lucu? Ada orang yang berhubungan badan hanya sekali di luar nikah saja bisa hamil, ada juga korban pelecehan yang bisa hamil dengan mudahnya. Mereka mendapatkannya meskipun tidak menginginkan itu. Tapi saat pasangan sah menginginkan anak malah dipersulit.


Terkadang aku merasa jika hal ini tidak adil, mereka yang tidak menginginkan anak terkadang malah memilih untuk membunuh atau membuang anak mereka. Bahkan hewan sekali pun yang tidak punya akal sehat selalu melindungi anak mereka. Manusia seperti itu lebih buruk dibanding dengan hewan.


Apa mungkin aku telat datang bulan gara-gara obat? Tapi kalau aku ingat-ingat belakangan ini aku jarang minum obat antidepresan. Mungkin saja karena memang siklus datang bulan tak teratur.


"Hahh ... sudahlah, sebaiknya aku segera buang test pack ini."


KLAKK!


Pintu kamar mendadak dibuka dan tampaklah Keyran yang memasuki kamar. Nisa yang terkejut dengan kedatangan suaminya itu langsung menyembunyikan test pack negatif itu di belakang punggungnya.


"O-ohh ... Kau di sini, bukannya tadi kau sudah berangkat ke kantor?" tanya Nisa dengan ekspresi panik.


"Ponselku ketinggalan." Keyran berjalan mengambil ponselnya di lemari kabinet yang berada di samping ranjang. Tetapi dia curiga karena melihat Nisa yang sedang duduk di pinggir ranjang itu tampak menggeser-geserkan badannya, seolah-olah seperti menyembunyikan sesuatu.


Belum sempat Keyran mengambil ponselnya, dia kemudian beralih menatap tajam istrinya yang sedari tadi memasang senyuman itu. "Kenapa kau masih di rumah? Kau bolos kuliah?"


"Kelasku masih nanti siang," jawab Nisa dengan senyum canggung.


Keyran mengernyit, lalu dia berkata, "Ulurkan tanganmu!"


"Apa?!" Nisa terkesiap.


"Lakukan saja!"


"Ehmm ... baiklah," Nisa lalu mengulurkan tangannya yang sebelah kanan. "Sudah, kan?"


"Satunya lagi!"


Nisa lalu kembali menyembunyikan tangan kanannya dan berganti mengulurkan tangan yang sebelah kiri. Tapi yang terjadi justru Keyran makin kesal, "Ulurkan kedua tanganmu!"


Nisa menurut dan melakukan apa yang Keyran minta, dan hasilnya Keyran tidak melihat ada apa pun di kedua tangan itu. "Sekarang berdiri!"


"..." Nisa membisu dan tak bergerak sedikit pun, dia mengalihkan pandangan matanya. Dia sama sekali tidak mau berdiri, karena jika dia berdiri maka test pack yang dia duduki akan terlihat oleh Keyran.


"Ayo berdiri!" Keyran yang tidak sabar akhirnya menarik tangan Nisa untuk memaksanya berdiri. Dia terkejut saat melihat benda yang diduduki oleh Nisa, dia lalu mengambil test pack itu dan memperhatikannya baik-baik.


"Negatif," gumamnya yang kemudian menatap tajam ke arah Nisa. "Kau menyembunyikan ini dariku?"


"Iya," jawab Nisa dengan suara lirih sambil mengangguk pelan. "Aku menyembunyikan itu darimu karena aku tak mau kau kecewa. Tapi sekarang kau sudah tahu, kau pasti kecewa dengan hasilnya, kan?"


"Kau benar, aku memang kecewa. Tapi aku kecewa bukan pada hasil dari test pack ini, melainkan karena kau yang menyembunyikan hal ini dariku. Tapi tumben kau menggunakan test pack, apa kau telat datang bulan?"


"Iya ... telat dua hari, aku tak mau mengulangi kesalahanku lagi yang ceroboh terlambat mengetahui kehamilanku sendiri. Tapi hasilnya negatif, mungkin saja memang karena siklus datang bulanku tidak teratur." ucap Nisa dengan wajah murung.


Keyran menghela napas dan meletakkan test pack itu di atas lemari kabinet. Dia berjalan mendekati istrinya itu lalu memeluknya. "Hei, jangan murung begitu. Ini bukan salahmu."


"Aku tahu ... Tapi bukankah ini termasuk tidak adil? Ketika aku tak terlalu berharap, aku malah hamil. Tapi ketika aku sangat menginginkannya malah hasilnya seperti ini. Apa mungkin sulit bagiku untuk hamil lagi?"


"Itu tidak benar, dokter sudah mengatakannya kalau masih ada peluang besar untukmu hamil lagi. Mungkin masalahnya bukan pada kau, tapi kita."


"Kita?" Nisa menatap linglung.


"Ya, ada pada kita! Mungkin kita kurang berusaha, jadi mulai sekarang kita harus berusaha lebih keras lagi!"


"M-maksudmu kita harus melakukan itu lebih sering?"


"Kau sendiri yang bilang~" bisik Keyran di telinga Nisa.


Nisa tersentak, dia berusaha untuk lepas dari pelukan Keyran. Namun suaminya itu malah memeluknya lebih erat lagi. "Apa kau serius?" tanyanya dengan senyum canggung.


"Kenapa tidak?" tanya Keyran dengan senyum nakal.


"Bukannya kau masih harus ke kantor, kau pulang karena ponselmu ketinggalan, jadi kau masih ada urusan penting yang harus dikerjakan, kan?"


"Ah, kau benar! Hampir saja aku lupa, terima kasih sudah mengingatkan aku." Keyran melepaskan pelukannya dari tubuh Nisa. Tetapi setelahnya dia malah tersenyum licik dan mengambil ponselnya.


Di sisi lain di area halaman vila mewah itu, ada sebuah mobil mewah berjenis Bentley berwarna hitam. Yang berada di dalam mobil itu tidak lain adalah Valen, dia sedang senggang saat ini, waktunya yang senggang ini dia manfaatkan untuk bermain game di ponselnya.


Saat sedang asyik bermain tiba-tiba saja ada sebuah panggilan telepon yang masuk. Panggilan itu tidak lain berasal dari Keyran. Dia langsung mengangkat telepon itu karena beranggapan bahwa ada sesuatu yang penting.


"Halo Tuan, apakah ada sesuatu yang harus saya lakukan?"


Tadi bilang kalau mau ambil ponselnya, sekarang Tuan meneleponku yang berarti sudah ketemu. Tapi kalau sudah ketemu kenapa tidak segera kembali ke sini?


"Ya, memang ada yang harus kau lakukan. Kau kembalilah ke kantor tanpa aku!"


"Apa?! Tapi bagaimana dengan rapat hari ini?"

__ADS_1


"Kau saja yang pimpin rapatnya! Jika ada yang bertanya kenapa aku berhalangan datang, kau bilang saja kalau aku mengurus istriku yang rewel."


"Aku tidak rewel! Cepat lepaskan aku! Ahh ... jangan! Jangan yang itu! Aku bilang lepaskan aku! Bukan lepaskan pakaian dalamku!" teriak Nisa dengan begitu kerasnya, bahkan Valen yang mendengar itu seketika langsung menutup panggilan telepon itu.


TUT TUT ...


Valen sejenak hanya ternganga, dia masih sulit mempercayai apa yang barusan dia dengar.


"Bisa-bisanya mereka ..." Valen menghela napas dan menggelengkan kepala. "Ayo fokus! Kembali ke kantor dan pimpin rapat! Tidak masalah aku punya majikan yang kurang beradab, yang penting gajiku meningkat!"


***


Rintik air hujan yang begitu deras mulai turun, membasahi semua yang ia jatuhi, dibawa oleh hembusan angin yang kencang hingga titik-titik air menempel pada kaca jendela. Di dalam keadaan berkabut dan dingin ini, pasangan suami istri itu masih berbaring di atas ranjang dalam keadaan berantakan.


Keyran meraih selimut lalu menariknya ke atas untuk menutupi tubuhnya sekaligus Nisa yang berada di dalam dekapnya. Dia menggapai rambut istrinya yang berantakan lalu merapikan rambut panjang terurai itu, helai rambut yang sedikit menutupi wajah istrinya juga diselipkan ke telinga.


Sejenak dia termenung, menatap istrinya yang tampak mengatur napas. Sesaat kemudian dia tersenyum dan memberikan sebuah kecupan lembut di kening istrinya.


"Apa kau kelelahan?" tanya Keyran sambil membelai wajah Nisa.


"Emm," Nisa mengangguk pelan.


"Haha, kau payah! Padahal baru dua ronde~"


"Kurang ajar!" Nisa yang merasa kesal karena ejekan Keyran seketika memberikan sebuah cubitan kecil di pinggang suaminya itu.


"Akhh! Iya-iya ... aku tidak akan meledekmu lagi."


"Huh, jangan pikir kau sudah menang! Pada dasarnya ini tidak adil, kau menyerangku tiba-tiba saat aku belum siap. Aku kelelahan juga bukan tanpa alasan, aku belum sarapan ..." ucapnya dengan wajah tersipu namun bibirnya mengerucut.


"Ya sudah, kalau kau merasa tidak adil bagaimana jika nanti malam kita tanding ulang lagi?"


"Ishhh ... itu kan yang mau! Tapi ... akan aku pikirkan nanti," Nisa tersenyum malu, dia mendadak menyembunyikan wajahnya di dada bidang itu. "Key ... apa hujannya masih deras?"


"Masih, sekarang memang sedang musim penghujan, jadi hujan terjadi lebih sering. Kau memelukku, apa kau takut petir?"


"Aku tidak takut, hanya saja ... aku merasa kalau sekarang sangat dingin."


"Kau mau tambah selimut? Kalau iya maka akan aku ambilkan."


Nisa mendongak, dia menatap tajam mata Keyran dan memasang ekspresi cemberut. "Dasar bodoh! Aku tidak butuh selimut, tapi aku minta dipeluk!"


"Sini, aku peluk!" Keyran langsung memeluk erat Nisa, dia juga memberikan sebuah kecupan lagi di pipinya. Lalu dia mendekat ke telinga Nisa dan berbisik, "Jika kau kedinginan, bagaimana kalau aku hangatkan sekali lagi?"


"Menyebalkan!" ucap Nisa sambil memukul pelan dada suaminya itu. "Tadi katanya mau nanti malam."


"Kalau begitu nanti malam kau bersiaplah," bisik Keyran dengan nada manja.


"Iya-iya aku tahu! Tapi Key, ngomong-ngomong ... apa seperti ini tidak apa-apa?"


"Bukan itu maksudku! Maksudku adalah kau tidak berangkat ke kantor apa itu tidak masalah? Kau juga harus menghadiri rapat, tapi sekarang kau malah berada di sini dan bermalas-malasan denganku. Apa kau tidak apa-apa karena melewatkan rapat yang penting?"


Keyran tersenyum tipis, "Rapat memang penting, tapi ada hal jauh lebih penting dari itu. Aku harus menghibur istriku yang tadi sempat murung. Lagi pula aku bisa percayakan rapatnya pada Valen. Jadi kenapa tidak?"


"Menghiburku yaa ... Jadi kau ini bisa dibilang pria penghibur! Kalau begitu lain kali saat aku sedih maka akan memanggilmu untuk menghiburku!"


"Haha, terserah kau saja, kau bisa anggap aku pria penghibur khusus untukmu."


Nisa meringis mendengar perkataan suaminya yang sangat memanjakannya itu. Namun sesaat setelahnya dia memasang wajah serius. "Oh iya Key, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Saat Event Dessert Week waktu itu, sebelum kau datang aku bertemu dengan seseorang, dia ..."


"Tunggu sebentar, dia pria atau wanita?"


"Pria," jawab Nisa secara spontan.


"Wah-wah ... kau tidak bisa ya kalau diminta jangan bergaul dengan pria lain. Siapa dia? Apa hubungannya denganmu? Teman? Atau seseorang yang lebih dari teman?" Keyran menatap sinis.


"Ah, soal itu ... bisa dibilang lebih dari teman."


"Siapa yang kau maksud? Apa dia mantanmu?"


"Kau gila! Mana mungkin ayah mertuaku adalah mantanku?! Aku bertemu dengan ayahmu, dasar bodoh!"


"O-ohh ... kukira siapa," Keyran lalu memalingkan pandangannya.


"Pffttt ... hahaha! Makanya dengar dulu kalimatku sampai habis! Akibatnya sekarang kau jadi cemburu buta lagi, kan? Cemburu pada ayah sendiri, haha memalukan." Nisa terkekeh.


"Cih, aku cuma tidak suka saja jika kau terlalu banyak bergaul dengan pria lain. Tapi ngomong-ngomong tumben ayahku datang ke sana, dia bilang apa padamu?"


"Emm ... tidak banyak, dia meminta maaf karena pernah memaksaku, lebih tepatnya memaksa kita untuk segera memberikannya cucu. Harus aku akui kalau aku sendiri juga merasa tertekan dan merasa sungkan padanya setelah keguguran itu, yang aku khawatirkan ayahmu akan menganggap bahwa aku ini adalah menantu yang tidak berguna. Sebenarnya bukan cuma pada ayahmu, aku juga sempat takut kalau kau akan menganggapku sebagai istri yang tidak berguna."


"Ayahmu bilang dia merasa tidak enak karena hal itu, jadi dia memintaku untuk tidak perlu sungkan lagi kepadanya. Dia juga memintaku untuk sekali-kali mengunjungi kediaman utama, aku bilang padanya kalau aku akan memberitahukan hal ini padamu. Tapi setelah bertemu denganmu aku malah lupa, hehe. Maaf karena baru memberitahumu sekarang."


Keyran termenung sejenak setelah mendengar penjelasan dari Nisa. Dia lalu menghela napas dan mengusap kening istrinya itu dengan lembut. "Kau sendiri bagaimana? Apa kau keberatan berkunjung ke kediaman utama?"


"Aku tidak keberatan, aku akan menurut padamu saja. Karena saat terakhir kali kita menginap di sana, aku melihat kamarmu yang berdebu, jadi menurutku kau sendiri bahkan tak terlalu nyaman tinggal di sana."


"Aku hanya tidak suka melihat wajah orang yang tidak ingin aku lihat, tempat di mana aku merasa terasingkan dan tak ada satu pun yang mengerti diriku. Tapi orang tua tetaplah orang tua, aku tetap harus menghormatinya. Sebagai bentuk rasa hormat kita, bagaimana jika selama beberapa hari kita menginap di sana?"


Nisa mengangguk. "Seperti itu juga boleh, rencananya kita akan menginap kapan dan berapa lama?"


"Menginap selama 2 atau 3 hari sudah pantas, lalu untuk kapan waktunya ... Akan aku sesuaikan dengan jadwalku nanti, soalnya jarak dari sana ke kantor lebih jauh jika dibandingkan dari vila ini."

__ADS_1


"Baiklah! Asal ada kau, ke mana pun kau pergi aku akan selalu ikut!" ucap Nisa dengan nada antusias.


Hehehe, sebenarnya aku cuma mengincar wine yang dijanjikan oleh ayah mertua.


***


Dua hari kemudian. Keyran telah memeriksa jadwalnya dan memutuskan bahwa hari ini adalah hari di mana dia dan Nisa akan menginap di kediaman utama. Keyran tak lupa untuk mengabari ayahnya mengenai kedatangannya sebelum berangkat ke sana. Kedatangan mereka berdua mendapatkan sambutan hangat, sudah lama rasanya mereka tidak menginjakkan kaki di sana.


Rumah yang megah itu dapat dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama adalah rumah utama untuk kegiatan pribadi keluarga, kedua ada guest house, ketiga kediaman pelayan, dan keempat ada entertainment center yang isinya kolam renang, home theater, fitnes dan lainnya.


Mereka berdua datang saat siang hari. Saat Nisa memisahkan diri dari Keyran, dia diam-diam menemui ayah mertuanya. Awalnya mereka berbincang mengenai perbincangan ringan, tapi Nisa mempunyai motif terselubung untuk meminta wine yang dijanjikan oleh ayah mertuanya.


Kegemaran Nisa terhadap wine sama sekali tidak berubah, bahkan seumur hidupnya dia juga belum pernah mengalami yang namanya mabuk akibat alkohol. Tuan Muchtar yang menyadari itu dengan suka rela memberikan sebotol wine koleksinya kepada menantunya.


"Terima kasih ayah mertua!" ucap Nisa dengan antusias dan sorot mata berbinar saat memandangi sebotol wine yang berada di tangannya.


"Haha, cuma wine. Oh iya, ngomong-ngomong menantuku ... kue yang kau berikan saat ada event itu sangat enak, ibu mertuamu juga menyukainya."


"Baguslah, Jika ayah dan ibu mertua suka artinya tidak sia-sia aku belajar." Nisa tersenyum semringah karena senang kue buatannya dipuji.


"Jika ada kesempatan, aku ingin merasakannya lagi!"


"Hm?" senyuman Nisa berubah, dia merasakan firasat buruk.


"Tolong buatkan dessert seperti yang kau buat saat itu untuk makan malam nanti, yahh ... itu jika kau tidak keberatan."


"Haha, baik ... dengan senang hati aku akan membuatnya!" ucap Nisa dengan senyum canggung.


Begitulah jika orang licik sama-sama bertemu, tidak ada satu pun yang mau rugi di antara mereka. Nisa lalu kembali ke kamar dan menyembunyikan wine itu dari Keyran.


Sore harinya, demi menyiapkan dessert untuk makan malam sesuai permintaan sang ayah mertua, Nisa akhirnya memasuki dapur di rumah yang megah itu. Para pelayan yang bertugas di dapur pun kaget karena majikan mereka memasuki dapur, tetapi di sisi lain Nisa justru lebih kaget lagi. Dia kaget dan merasa tidak berguna karena menyadari bahwa rumah itu telah memperkerjakan personal chef.


"Kalian lanjutkan saja, aku di sini cuma sebentar." ucap Nisa dengan senyum canggung.


Sialan, untuk apa menyuruhku kalau di sini sudah ada koki pribadi yang profesional? Aku merasa terbanting, meskipun aku berusaha semampunya tetap saja dessert buatanku akan kalah jika dibandingkan dengan buatan koki sungguhan. Mungkin ini sebabnya ibu selalu bilang kalau perempuan itu harus pintar memasak.


Nisa dengan pasrah tetap membuat dessert di dapur itu, beberapa pelayan dan juru masak di sana juga sempat menawarkan bantuan untuk Nisa, tapi Nisa menolaknya. Bahkan selama dia membuat dessert, dia juga mendengar ada pelayan yang berbisik tentangnya dari kejauhan. Mereka memuji-muji tindakan Nisa yang berstatus sebagai Nyonya namun terkesan berbeda dari Nyonya-nyonya yang lain.


Nisa yang mendengar itu hanya berpura-pura tidak tahu. Dia tersenyum tipis karena menahan menertawakan pelayan-pelayan itu yang sama sekali tidak tahu tentangnya. Meskipun canggung, tapi Nisa sama sekali tidak menemui kendala saat membuat dessert di sana.


Tak berselang lama kemudian jamuan makan malam dimulai. Di meja makan yang panjang itu sudah tertata rapi semua hidangan. Orang yang duduk di sana pun hanya sebatas keluarga saja, Keyran dan istrinya, ayahnya, ibu tirinya dan adik tirinya.


"Pantas saja sikap ayah berbeda hari ini, ternyata anak kesayangan ayah datang berkunjung." celetuk Daniel sambil menatap Keyran dengan tatapan kebencian.


"Sshhh ... ibu mohon hentikan, jangan merusak suasana!" ucap Nyonya Ratna sambil memberi isyarat mata agar putranya itu diam.


"Memang apa salahnya aku kemari? Aku yang lebih dulu menginjakkan kaki di rumah ini daripada kau yang datang dengan asal usul tidak jelas!" balas Keyran yang mulai tersinggung.


"Sudahlah," ucap Nisa sambil menggenggam tangan Keyran.


Makan malam belum dimulai namun suasana kehangatan berkumpul yang diharapkan telah rusak. Tuan Muchtar yang merasa pening lalu memegang kening dan menghela napas panjang. "Astaga, kalian berdua ini ... Bukan ini yang aku harapkan dari mengumpulkan kalian."


Mendadak Tuan Muda berganti menatap Nisa. "Menantu!"


"Y-ya?" Nisa sedikit gugup.


"Aku ingin bertanya, apa suasana di rumah orang tuamu saat makan bersama juga seperti ini?"


"Emm ... sebenarnya berbeda, setiap bersama suasananya selalu ramai, tapi tak terlalu ramai juga. Terkadang juga membahas sesuatu yang tidak penting."


"Apa kau juga bertengkar dengan adikmu?" tanyanya penasaran.


"Terkadang, seperti saat adik-adikku memuji ibuku kalau masakannya terasa enak, tapi saat aku beritahu kalau aku yang memasak justru mereka berkata yang sebaliknya. Mereka pasti ada-ada saja mencari keributan denganku."


"Bukannya kau sendiri yang suka memulai keributan? Nyatanya saat aku di sana kau begitu." ucap Keyran.


Seketika Nisa mencubit lengan Keyran. "Kau payah! Jangan bongkar aib-ku! Kau harusnya membela istrimu!"


"Aww ... iya-iya maaf, berhenti mencubitku!" Keyran meringis dan menahan tangan Nisa yang mencubitnya.


"Setelah menikah dengan Nisa, kau banyak berubah Key. Kau lebih ceria dan suasana rumah ini jadi lebih hidup." Tuan Muchtar tersenyum tipis dan berganti menatap Daniel. "Kau juga segeralah menikah, apa mau ayah jodohkan?"


"Ck, jangan bahas itu lagi! Aku akan cari istri sendiri, aku bukan pria payah yang harus dicarikan istri."


"Hahh ... ya sudah, setidaknya kau tak terlalu mengkhawatirkan seperti kakakmu saat masih lajang."


"Hoho, mengkhawatirkan~ pergaulanmu sangat buruk~" ucap Nisa dengan suara lirih.


"Untuk apa punya pergaulan yang baik? Lagi pula sekarang aku sudah punya kau."


"Hei, jangan menggombal di saat banyak orang!" Nisa tersipu.


"Haha, kalian berdua lanjutkan saja tidak apa-apa." Tuan Muchtar terkekeh.


Makan malam dimulai, tak berselang lama di tengah-tengah makan malam itu tiba-tiba seseorang pria yang tidak lain adalah kepala pelayan di kediaman itu mendekati Tuan Muchtar.


"Ada apa? Jika bukan hal mendesak jangan ganggu."


"Maaf Tuan Besar, tapi kali ini sangat mendesak!"


Semua orang yang menyadari bahwa ada yang salah seketika memperhatikan kepala pelayan itu.

__ADS_1


"Di luar sana ada seorang gadis, dia membawa seorang bayi dan mengaku bahwa bayi tersebut adalah cucu Tuan."


"Apa?!"


__ADS_2