Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Istri yang Gagal


__ADS_3

Waktu dengan cepat berlalu, Keyran yang semula berencana 3 hari di luar kota, dikarenakan dia bekerja lebih giat maka urusannya bisa diselesaikan hanya dalam waktu 2 hari. Tentu saja Keyran lelah, tetapi saat dia mengingat bahwa Nisa sedang menunggunya maka rasa lelah itu seakan-akan tak terasa.


Begitu urusannya selesai, dia langsung mengajak asistennya yaitu Valen untuk segera kembali ke kota mereka. Perjalanan dengan mobil memakan waktu yang cukup lama, butuh waktu setidaknya 5 jam lebih untuk mereka sampai di tempat tujuan. Ketika sampai di sana, waktu sudah menunjukkan pukul jam setengah sebelas malam.


Saat Keyran memasuki rumah sudah jelas bahwa tak ada seorang pun yang menyambutnya. Tempat yang pertama kali dia tuju adalah ruangan kerjanya, dia ke sana untuk meletakkan tas kerjanya baru setelah itu dia menuju ke kamar.


Keyran sudah hafal dengan kebiasaan istrinya itu yang tak pernah mengunci pintu kamar. Dia memasuki kamar dengan membawa sebuah kotak hadiah, itulah oleh-oleh untuk istrinya tercinta.


"Darling, aku pulang!" ucap Keyran dengan senyuman. Dia kemudian melangkah mendekati meja rias untuk menaruh kotak itu di sana.


"Aku bawa sesuatu untukmu, klien kali ini berasal dari Prancis, dia membawakan parfum sebagai hadiah kerja sama."


Tidak ada suara yang menyahut, Keyran berpikir bahwa Nisa sudah tertidur nyenyak. Dia kemudian mendekat ke arah ranjang, dia terkejut saat menyibakkan selimut yang ternyata isinya cuma bantal dan guling.


Keyran kemudian mengecek kamar mandi, tetap tidak ada Nisa di sana. Dia lalu melihat meja di samping ranjang, di sebelah lampu tidur terdapat sebuah ponsel dan sebotol obat. Bukan vitamin, tetapi obat antidepresan. Keyran yang menyadari hal itu langsung mengecek isi botol obat tersebut.


"Huft ... syukurlah masih ada, aku kira kau meminumnya tanpa memperhatikan dosis obat. Tapi sekarang kau di mana malam-malam begini? Ponsel juga tidak dibawa, padahal kau selalu membawanya saat mau keluar rumah."


"Ck, sebaiknya aku tanya Bibi Rinn." Keyran yang belum melepas penat akibat bekerja tapi sekarang sudah dipusingkan lagi dengan Nisa.


Dia memutuskan untuk pergi ke paviliun tempat Bibi Rinn berada. Perjalanan menuju ke paviliun melewati taman belakang, dia terkejut karena melihat Nisa yang ternyata sedang berada di sana. Nisa terlihat sedang duduk melamun di bangku yang berada di dekat kolam ikan.


Seketika Keyran bernapas lega, dia kemudian berjalan mendekati Nisa dan ikut duduk di sana. Nisa yang terkejut dengan kehadiran suaminya itu sontak saja menoleh dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


"Kau sudah pulang?" tanya Nisa dengan nada gemetar.


"Iya, sekarang aku ada di sini." Keyran membelai wajah Nisa lalu merangkul tubuhnya dan membuatnya bersandar di bahunya. "Kenapa masih di luar? Ini sudah larut malam, kau bisa kedinginan jika di sini terus. Ayo masuk, ini sudah waktunya untuk tidur, kau harus beristirahat yang cukup."


"Kau yang lebih butuh istirahat dibanding aku. Maaf ... selama ini aku menyusahkanmu dan membuatmu kelelahan."


"Hei, apa yang kau katakan? Aku sudah bilang kalau kau sama sekali tidak menyusahkanku!"


Nisa mengangkat kepalanya dan berhenti bersandar pada Keyran. "Aku akan beritahu apa alasanku kenapa aku di sini. Aku sedang berpikir, berpikir tentang bagaimana sebaiknya hubungan kita ini."


"Apa maksud perkataanmu itu?! Kau lagi-lagi berniat untuk berpisah dariku!" bentak Keyran seakan tidak percaya.


"Tidak Key, bukan begitu." Nisa menggenggam kedua tangan Keyran dengan erat, lalu menatap mata suaminya itu lekat-lekat. "Aku juga tak mau jika harus berpisah darimu. Tapi, setelah aku berpikir cukup lama, aku ini tak pantas untukmu. Kau berhak mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dariku, kau boleh menikah lagi ..."


"Apa kau sudah gila?! Yang aku cintai itu kau, cuma kau yang ada di hatiku! Kau selamanya akan menjadi istriku satu-satunya! Untuk apa aku menikah lagi?!" Keyran melepas tangannya yang digenggam oleh Nisa, dia lalu meraih wajah istrinya itu dan menatap matanya lekat-lekat.


"Nisa ... kenapa kau bisa berpikiran seperti ini? Atas dasar apa kau memintaku menikah lagi?"


"Aku sudah mengatakannya Key, aku ini tak pantas untukmu! Lihat saja sekarang, kau bisa memberikan apa pun yang terbaik untukku, kau punya segalanya. Sedangkan aku, bahkan aku tak bisa memberikan satu hal yang sangat kau inginkan sejak lama! Tapi jika kau menikah lagi, kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan itu. Padahal itulah tugas utama seorang perempuan, tapi lihatlah aku ... Aku ini perempuan tidak berguna! Aku ini istri yang gagal!"


Air mata yang sedari tadi telah dia tahan akhirnya jatuh. Tetapi dia masih mencoba untuk bertahan, dia mengepalkan tangannya sekuat mungkin meskipun terlihat gemetar.


"A-aku mohon ... Aku mohon carilah perempuan yang lebih baik dariku! Setiap kali aku melihatmu, rasa bersalah karena merasa tak pantas itu akan selalu ada. Hidupmu sebelumnya sudah sempurna, tapi dengan adanya aku di dalam hidupmu, akulah alasan mengapa hidupmu menjadi menyedihkan seperti sekarang! Perempuan buruk sepertiku tak pantas bersanding denganmu!"


Tanpa peringatan apa pun Keyran langsung meraih tubuh Nisa dan memeluknya dengan erat.


"Kau bukan istri yang gagal, tapi istri yang bodoh! Kau bukan alasan mengapa hidupku menyedihkan, tapi kaulah pelengkap dalam hidupku yang kosong! Dan aku takkan pernah mencari yang lebih baik darimu, jika aku masih ingin mencari yang lebih baik, aku akan kehilangan yang terbaik!"


"Cukup Nisa, sudah cukup kau tenggelam dalam kesedihanmu! Jujur, aku memang kecewa padamu. Padahal kau masih istriku, tapi sekarang aku merasa kalau istriku sudah pergi meninggalkan aku. Nisa yang aku cintai seolah-olah sudah tiada, Nisa yang selalu tersenyum dan memberiku alasan untuk menjalani hidup juga sudah tiada, Nisa yang selalu bertengkar dan mengomel karena masalah sepele juga sudah tiada. Padahal aku cuma kehilangan anak, tapi sekarang aku juga kehilangan istriku! Aku mohon ... aku mohon kembalikan Nisa-ku padaku!"


Tangis Nisa semakin deras, dia terharu karena suaminya begitu mencintainya sedemikian dalam, dia juga marah terhadap dirinya sendiri yang bersikap seperti ini. Di satu sisi Keyran tanpa sadar juga meneteskan air mata, dia mengusap air matanya lalu menepuk-nepuk punggung Nisa, mencoba menenangkan emosi istrinya yang ekstrim itu.


"Nisa ... keguguran bukan akhir dari segalanya, dan kau jangan lagi punya pikirkan yang macam-macam. Kau masih bisa hamil lagi, ke depannya kita masih bisa punya anak. Lagi pula kita menikah juga belum ada 1 tahun, lihatlah sekitarmu ... ada yang sudah menikah lebih dari belasan tahun tapi baru memiliki anak dan mereka hidup bahagia. Kita masih punya kesempatan."


"Kau jangan lagi menyalahkan dirimu sendiri. Mungkin Tuhan berkehendak lain karena mungkin di mata-Nya kita belum pantas untuk jadi orang tua, mungkin kita disuruh untuk memperbaiki diri lagi. Aku tahu jika kau merasa sedih dan terpuruk, tapi cobalah untuk bangkit dari keterpurukan ini. Suamimu ini membutuhkanmu! Dan kau jangan pernah katakan lagi bahwa kau adalah istri yang gagal!"


Keyran melepas pelukannya, dia lalu mengusap air mata di pipi Nisa. "Tak akan ada satu pun yang akan berubah di antara kita."


Bibir Nisa gemetar, dia terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi rasanya sangat sulit. Dan tiba-tiba saja dia memeluk Keyran dengan erat. "Terima kasih untuk segalanya ... A-aku janji tak akan berpikir yang macam-macam lagi ..."

__ADS_1


Keyran lalu membalas pelukan dari Nisa serta mengusap kepalanya dengan lembut. "Tak apa, tenangkan dulu dirimu ..."


Keyran terus memeluk Nisa sampai dia memastikan bahwa istrinya itu benar-benar sudah merasa tenang. Setelah itu dia pun membujuk Nisa untuk masuk ke dalam rumah.


Ketika mau tidur, Nisa terus memeluk suaminya itu bahkan pelukannya tak lepas meskipun dia sudah tertidur. Keyran yang menyadari hal itu sedikit terhibur, tampak jelas bahwa istri tercintanya itu sangat merindukannya.


***


Esok hari tiba, entah karena kelelahan atau apa, yang jelas hari ini Keyran bangun lebih lambat dari biasanya. Dia bangun dan linglung menatap sekitar, setelah beberapa saat dia baru sadar bahwa Nisa sudah tak ada di sebelahnya.


"Nisa!"


Tidak ada yang menyahut panggilan itu. Keyran yang merasa panik langsung turun dari dan ranjang dan bergegas keluar dari kamar. Dia mencari di setiap ruangan yang berada di lantai 2, namun dia tetap tidak menemukan Nisa.


Keyran lalu turun, dia berniat untuk bertanya kepada Bibi Rinn yang biasanya pada jam seperti ini sedang berada di dapur. Belum sempat Keyran sampai di dapur, dia terkejut saat melihat Nisa yang sedang meletakkan sebuah hidangan di meja makan.


Nisa yang juga terkejut dengan kehadiran suaminya yang masih memakai piama itu lalu tersenyum, "Sudah bangun, tidurmu nyenyak sekali, aku tak tega membangunkanmu."


Keyran melangkah mendekat dan langsung memeluk Nisa begitu saja. "Syukurlah kau masih di sini."


"Tentu saja aku masih di sini. Memangnya kau pikir aku ke mana?" tanya Nisa kebingungan.


"Kabur."


"Mengapa kau bisa berpikir begitu? Ini juga rumahku, untuk apa aku kabur dari rumahku sendiri?"


"Kabur itu kan hobi anehmu. Tapi sudahlah, ngomong-ngomong kau masak apa?"


"Omelet kesukaanmu."


"Eh, Tuan sudah pulang!" ucap Bibi Rinn yang tiba-tiba datang dari dapur sambil membawa sebuah hidangan.


"Iya, baru tadi malam." jawab Keyran tanpa melepaskan pelukannya dari Nisa.


"Darling ... lepaskan aku lalu mandilah kemudian turun untuk sarapan!"


"Mandikan aku!" Keyran lalu mendapatkan respons tatapan dingin dari Nisa. "Hehe, aku bercanda. Kau lanjutkan saja tugasmu di dapur dan buatkan aku kopi ya! Aku rindu kopi buatanmu."


Keyran langsung kembali ke kamar untuk mandi. Setelah keluar dari kamar mandi dia terkejut karena melihat Nisa yang juga berada di kamar, Nisa terlihat bingung sambil melihat ke arah isi lemari.


"Kau sedang apa?" tanya Keyran yang mendekat hingga sampai di belakang Nisa.


"Memilih baju untukmu, ngomong-ngomong apa hari ini kau tetap ke kantor?"


"Iya," jawab Keyran dengan senyuman.


Nisa kemudian memilihkan baju yang sesuai untuk Keyran. Dia juga membantu suaminya memakaikan pakaian. Keyran sedari tadi tersenyum, bahkan sampai sekarang ketika Nisa memakaikan dasi untuknya.


Nisa kemudian mendongak, namun ekspresinya cemberut. "Kau dari tadi tersenyum seperti orang gila! Apa kau menertawakan aku?!"


"Yaa ... aku memang gila," Keyran lalu merangkul pinggang Nisa. "Aku tergila-gila pada istriku. Terima kasih, darling."


"Hm? Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih karena sudah mengembalikan Nisa-ku yang sempat hilang. Aku sudah cukup bahagia dengan adanya Nisa-ku."


"Hehe, aku juga bahagia karena Keyran-ku sudah pulang." Nisa lalu membalas dengan merangkul leher Keyran. "Apa hari ini lembur?"


"Emm ... tidak! Hari ini aku cuma akan bekerja selama setengah hari."


"Baguslah, selamat bekerja dan jadilah lebih kaya lagi! Fighting, darling!"


"Ucapan pemberi semangat sudah, tapi mana ciuman pagi hariku?" tanya Keyran dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Ciuman untuk apa?" Nisa terkekeh.


"Agar aku lebih semangat lagi! Kalau kau malu, aku bisa tutup mata." seketika Keyran menutup matanya lalu memajukan bibirnya. "Cepat cium aku sebelum bibirku kering!"


"Haha, kalau kering tinggal aku basahi~" Nisa berjinjit untuk menggapai bibir suaminya. Sedangkan Keyran, begitu merasakan bibir lembut Nisa menempel di bibirnya, dia langsung menahan tengkuk Nisa agar ciuman itu semakin dalam. Keyran sangat merindukan ciuman ini, sebuah ciuman berharga yang sempat hilang dari hari-harinya.


Setelah ciuman itu berakhir, mereka saling menatap dan wajahnya sama-sama memerah. Nisa lalu melepaskan rangkulan tangannya sambil berkata, "Key, aku menginginkan sesuatu. Bisakah kau memberikannya?"


"Apa yang kau inginkan?"


"Izin darimu, hari ini aku boleh kan masuk kuliah?"


"Sulit dipercaya, tumben kau ingin kuliah, biasanya kau mati-matian membuat alasan agar bisa membolos."


Nisa tersenyum sinis. "Haha, mau bagaimana lagi? SKS-ku masih belum memenuhi syarat tuntas, jadi aku harus rajin-rajin masuk agar jumlah minimal SKS terpenuhi."


"Baiklah, kuizinkan. Tapi dengan syarat ... kalau sudah selesai harus cepat pulang!"


Bagus juga kalau Nisa fokus kuliah, dengan begini setidaknya dia mendapatkan kesibukan agar pikirannya tak terpaku lagi pada keguguran.


"Iya, darling! Emm ... ciuman agar aku semangat kuliah mana?"


"Heh, apa uang sakumu masih? Kenapa malah minta ciuman?" Keyran terkekeh.


"Uang saku darimu masih banyak, kalaupun mau beli kantin juga masih cukup! Yang aku minta itu ciuman, kau mau berikan atau tidak?"


"Iya-iya aku berikan, karena aku suami baik hati maka akan aku berikan bonus!"


Pagi hari ini rasanya seperti pagi hari yang sangat berkesan bagi pasangan suami istri itu. Nisa akhirnya bangkit dari rasa keterpurukan. Setelah mereka selesai sarapan, Valen juga telah sampai untuk menjemput mereka.


Tempat pertama yang dituju adalah kampusnya Nisa, setibanya di sana ketika Nisa ingin turun dari mobil tiba-tiba tangannya ditahan oleh Keyran.


"Ada apa?" tanya Nisa kebingungan.


"..." Keyran membisu.


Waktu itu saja Nisa jadi lemas karena diserbu oleh para reporter, aku khawatir kalau orang-orang di kampus ini akan mengungkit lagi dan bertanya kepada Nisa secara langsung. Tapi melihat kondisinya Nisa sekarang sepertinya tidak apa-apa, terlebih lagi beritanya juga sudah mulai tertimbun berita lain. Apa aku khawatir berlebihan?


"Darling, ada apa?" tanya Nisa lagi.


"Ah, i-itu ... mana ciuman pagi hariku?"


"Bukannya tadi di rumah sudah?!" Nisa seakan tidak percaya.


"Tapi aku mau lagi!"


Nisa lalu melirik ke arah Valen dan tersenyum canggung. "Ada Valen di sini."


"Abaikan dia! Dia itu buta!" ucap Keyran secara spontan.


"Mana ada orang buta menyetir mobil?"


"Tuan benar Nyonya, saya punya penyakit, saya akan tiba-tiba jadi buta jika ada orang yang bermesraan di depan saya, penyakit langka haha ..." ucap Valen dengan senyum terpaksa.


"Ehmm ... begitu ya,"


Setelah Valen memalingkan muka, Nisa lalu sekali lagi memberikan ciuman kepada Keyran. Begitu Nisa turun dari mobil, tiba-tiba pandangan mata Keyran berubah menjadi sinis.


Valen yang menyadari hal itu langsung gugup. "Apa saya salah, Tuan? Apa tadi seharusnya saya turun?"


"Bukan, tapi aku punya tugas penting untukmu! Suruh beberapa orang untuk mengawasi istriku! Nisa itu bukan orang bodoh, peringatkan mereka agar jangan mencolok!"


"Baik Tuan, segera saya laksanakan."

__ADS_1


__ADS_2