
"Aku memilih untuk menerima perjodohan ini," ucap Nisa dengan nada pasrah.
Seluruh anggota keluarga Nisa berekspresi kaget, mereka semua mengira bahwa Nisa akan menolak demi tetap bersama Ricky.
"Nisa, apa kau serius?" tanya ayah.
"Iya ayah, aku serius. Kalian semua telah menyerahkan pilihannya padaku, maka aku memilih untuk menerimanya. Aku harap kalian puas dengan keputusanku."
"Bagus! Kau memilih pilihan yang benar, aku jamin kau tidak akan menyesal telah memutuskan untuk menikah dengan putraku!" ucap Tuan Muchtar dengan gembira.
"Saya harap juga begitu ..." ucap Nisa seakan tidak peduli.
"Baiklah, kalau begitu besok lusa akan diadakan pertunangan di kediaman saya. Saya harap Pak Gilang Sutadharma akan bekerja sama dengan baik, kita adalah besan sekarang."
"Tunggu dulu! Bukankah ini terlalu cepat untuk pertunangan?" tanya Nisa.
"Kenapa menantuku berpikir seperti itu? Aku sudah lama menginginkan seorang menantu untuk menemani putraku yang kesepian ini. Jika saja aku tahu kalau kau akan memilih untuk menerima perjodohan ini, maka aku pasti sudah membawa pendeta untuk menikahkan kalian sekarang juga!"
"...." Nisa membisu.
Pantas saja pak CEO Keyran merasa lelah, ternyata calon mertuaku ini orangnya bobrok!
"Untuk persiapan acara pertunangan akan saya siapkan, tapi untuk hal mendetail lainnya seperti cincin ... aku sarankan kalian berdua yang memilih sendiri. Kalian bisa, kan?"
"Iya ayah, aku akan memilih sendiri nanti," sahut Keyran.
"Dan untuk Pak Gilang Sutadharma sekeluarga, kalian hanya perlu datang tepat waktu saja. Jadi tidak perlu repot-repot membawa hal lainnya."
"Baik, saya sekeluarga pasti akan datang tepat waktu." ucap ayah.
"Baiklah, saya rasa cukup sampai disini. Saya pamit undur diri, terima kasih atas jamuannya."
"Cepat salaman dengan calon mertua dan suamimu!" bisik ibu ke Nisa.
"Hah?" Nisa berekspresi seakan tidak sudi.
"Lakukan saja! Tunjukan kalau kau itu punya sopan santun!"
"Iya-iya ...."
Sial! Aku malas disuruh begini begitu, tapi aku bisa apa? Untuk sekarang aku hanya bisa diam dan menurut.
Saat itu juga Nisa langsung bersalaman dengan calon ayah mertua dan suaminya, tanpa sadar dia mencium tangan keduanya selayaknya ke orang tuanya sendiri. Melihat hal itu, pria tua itu tersenyum karena dia merasa sudah memilih menantu dengan tata krama yang baik.
Nisa terus memasang senyum palsu sampai kedua orang itu benar-benar pergi. "Huh!" Seketika ekspresi Nisa berubah menjadi sengit.
Astaga, aku merasa sangat lelah hari ini, sebaiknya aku segera istirahat saja di kamar.
"Kak Nisa, tunggu sebentar!" teriak Reihan yang tiba-tiba menghadang di depan Nisa.
"Apa? Cepat minggir!"
"Aku heran kenapa tadi kakak tidak menghajar orang itu? Aku pikir dengan sifat kakak yang buruk itu pasti sudah menghajarnya hingga masuk rumah sakit."
"Iya, kenapa Kakak tenang sekali tadi?" tanya Dimas.
"Kalian tahu apa? Aku menghajar orang jika aku marah atau kesal, memang tadi aku sangat marah. Tapi itu juga karena salahku sendiri karena ceroboh. Karena itu aku tidak menghajarnya."
"Tapi Kak, tadi kau juga mencium tangannya loh~" ejek Reihan.
__ADS_1
Emosi Nisa tersulut, tiba-tiba dia menarik kerah baju Reihan. "Diam kau! Aku melakukannya karena terpaksa! Dan aku ga jbelum buat perhitungan denganmu karena sudah menipuku, apa kau mau siksaan dua kali lipat hah?!"
"M-maaf kak, aku janji kalau ada hal penting aku nggak akan bilang kebakaran! Lain kali aku akan bilang kalau rumah kita dirampok alien, gimana?"
"Bodoh!" Nisa semakin kuat menarik kerah baju.
"Sudahlah Nisa, kau lepaskan saja adikmu yang usil itu ... kau juga Reihan, lain kali jangan diulangi lagi!" ucap ibu dengan malas.
"Huh, kau lolos kali ini!" Nisa lalu melepas cengkeraman tangannya dari Reihan dengan kasar.
Rika menghela napas. "Hahh ... memang ya, anakku yang normal itu cuma satu. Dengarkan ibu ya Dimas, kamu jangan mencontoh kelakuan kakak-kakakmu itu ya! Ibu bisa cepat tua jika semua anak ibu nakal!"
"Iya ibu, aku kan anak baik! Kakak-kakakku tersayang, contohlah adikmu ini!" ejek Dimas dengan muka minta dihajar.
"Terserah ..." ucap Nisa dan Reihan bersamaan.
"Nisa! Cepat makan, kau belum makan kan?" tanya ayah.
"Aku nggak lapar, aku hanya mau tidur!"
Nisa berjalan menaiki tangga dan menuju ke kamarnya, sesampainya di kamar dia langsung berbaring di kasur tanpa mengganti pakaiannya terlebih dulu. Kemudian dia memejamkan matanya cukup lama, tetapi dia tetap tidak bisa tidur.
"Hahh ...." Nisa menghela napas.
Aku lelah tapi nggak bisa tidur, terlalu banyak yang harus aku pikirkan. Aku tak pernah menyangka kalau akhirnya akan jadi begini. Lalu bagaimana hubunganku dengan Ricky? Apa aku harus putus dengannya?
"Ricky ..." gumamnya.
Jika kamu ada di posisiku, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu juga akan memilih pilihan yang sama denganku?
"Sial!"
***
KRING KRING ...
Alarm pagi hari telah berbunyi, tetapi alarm tersebut tak berpengaruh bagi Nisa karena semalaman dia tidak tidur. Dia terbaring lemas, kantong matanya hitam sepeti panda.
"Sial! Aku nggak bisa tidur!"
Kenapa aku merasa kalau hari sangat cepat berlalu? Sekarang aku harus melakukan apa? Berangkat kerja untuk melanjutkan proyek percobaan itu juga nggak ada gunanya, aku yakin jika semua ini bukan cuma kebetulan! Pasti pak dekan juga terlibat dengan hal ini!
"Kuliah saja deh, lagi pula aku ingin melihat seperti apa rupa dekan sialan itu yang mempermainkan aku!"
Setelah Nisa memutuskan untuk berangkat kuliah, dia langsung beranjak dari ranjang dan bersiap-siap. Beberapa saat kemudian ketika dia masih setengah telanjang, tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarnya.
BRAKK!
"Nisa! Kau sudah ditunggu cukup lama, cepat turun!" teriak ibu.
"Ahhh! Di mana sopan santunmu, Ibu?! Aku sedang pakai baju!" teriak Nisa histeris yang kemudian cepat-cepat memakai bajunya.
"Halah, sopan santun apa maksudmu? Kau saja biasanya pakai pakaian minim, tapi begini saja berteriak panik. Lagi pula apa kau lupa siapa yang selalu memandikanmu saat kau kecil?"
"Ck, itu beda! Tapi kenapa harus buru-buru begini? Kalau ayah sudah nggak sabar tinggalkan saja aku, lagi pula aku juga berani berangkat ke kampus sendiri biarpun SIM-ku sedang disita!"
"Tidak boleh! Hari ini kau tidak diizinkan berangkat sendiri!"
"Kenapa? Yang bakal kena tilang juga aku sendiri!" Nisa bersikeras.
__ADS_1
"Dengarkan perkataan ibu sampai habis! Yang sedang menunggumu itu bukan ayahmu, tapi orang lain. Jadi cepat turun!" Tanpa berkata apa pun lagi, Rika langsung berjalan pergi dari kamar Nisa.
"Orang lain ...? Tunggu ibu! Dia siapa?!" tanya Nisa dengan ekspresi panik. Namun percuma saja karena ibunya sudah berjalan menjauh dan tidak menjawab pertanyaannya.
"Yang sering menjemputku itu Ricky. Tapi, jika itu dia ... aku tak tahu harus bilang apa kalau bertemu dengannya nanti," gumamnya dengan khawatir.
Nisa langsung bergegas turun ketika sudah selesai bersiap. Dia terkejut dan tidak menyangka kalau orang yang menunggunya ternyata adalah calon suaminya sendiri, yaitu Keyran.
"Kamu? Untuk apa pagi-pagi ke sini?" tanya Nisa dengan wajah bingung.
"Iya, ini aku! Aku kemari untuk menjemputmu. Ayo, aku sudah menunggumu dari tadi!" ucap Keyran dengan tidak sabar.
Sejenak Nisa tertegun, kemudian dia berjalan mengikuti Keyran tanpa mengatakan apa pun. Di dalam hatinya tersimpan banyak amarah ketika dia melihat wajah Keyran.
Saat mereka berdua sudah di luar rumah, mereka mendekati sebuah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di halaman. Tiba-tiba saja kaca bagian depan mobil itu terbuka. Orang yang sedang memegang setir mobil tidak lain adalah Valen, asisten pribadinya Keyran.
Dengan senyuman yang ramah, Valen lalu berkata, "Selamat pagi Nona ... haha, bertemu lagi dengan saya."
"K-kau!!" Nisa terkesiap, melihat wajah Valen membuat hatinya serasa bertambah panas di pagi hari yang cerah ini.
Bisa-bisanya orang ini masih berani tersenyum setelah mempermainkan aku! Tapi aku ingin memastikan satu hal, seberapa banyak kau terlibat dalam persekongkolan yang berhasil membuatku kesusahan seperti ini.
Keyran langsung masuk ke mobil terlebih dahulu, dia duduk di belakang dan menunggu Nisa untuk masuk. Tapi di satu sisi Nisa hanya berdiri diam di luar, lalu tiba-tiba dia membuka pintu depan.
"Hei, kau duduk di belakang! Biar aku yang menyetir!" ancam Nisa sambil melotot.
"Emm ... tidak perlu Nona, ini tugas saya," jawab Valen sambil melirik ke arah keyran.
"Cepat!!" bentak Nisa penuh penekanan.
"B-baik!" Valen bergegas keluar dan pindah ke belakang.
Setelah Valen pindah, Nisa langsung masuk ke mobil dan menancap gas. Saat masih di lingkungan perumahan dia mengendarai dengan kecepatan normal, tapi setelah memasuki jalan raya yang padat lalu lintas, dia malah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
"Nona Nisa ... bawa mobilnya pelan-pelan saja!" pinta Valen dengan nada khawatir.
"Valen! Jawab pertanyaanku! Jika kau berbohong maka aku akan menabrakkan mobil ini ke pembatas jalan! Saat sebelum interview, apa kau sudah tahu tentang perjanjian keluargaku?" bentak Nisa.
"Nona ... pembatas jalan itu terbuat dari beton, itu akan membahayakan kita semua!"
"Cepat jawab!!"
"Tuan ... bagaimana ini?" tanya Valen pada Keyran.
"Kau jawab saja! Gadis ini sudah gila sampai mempertaruhkan nyawa kita semua!" teriak Keyran.
"I-itu ... be-begini ..." ucap Valen terbata-bata.
"Begini apa?!"
"S-saya memang sudah ta-tahu Nona ...."
"Dari siapa? Siapa yang memerintahmu?!" tanya Nisa dengan tidak sabar.
"Tuan besar ...." ucap Valen penuh ketakutan karena kecepatan mobil yang dia tumpangi semakin tinggi.
"Apa!?" Nisa Terkesiap.
BRAAKK!
__ADS_1