
Nisa masih diam membisu untuk beberapa saat. Namun sorot mata yang diperlihatkan oleh Jonathan terlihat penuh dengan harapan.
"Nisa, jawabanmu?"
"Ah!?" seketika Nisa tersadar. Dia menunduk dan mengepalkan tangannya sekuat mungkin. "A-aku ... sebelumnya aku ingin tahu, bagaimana bisa kamu menyukaiku?"
"Tentu saja bisa, aku suka senyumanmu, aku suka pribadimu, aku suka gayamu, aku suka caramu salah tingkah. Bagiku kamu begitu indah, kamu bersinar seperti bintang. Tapi bukan itu semua alasanku menyukaimu. Aku tak begitu yakin kamu akan paham, bahwa alasanku menyukaimu yaitu dirimu, hanya kamu."
"...." Nisa mendongak menatap mata Jonathan. Namun dia masih enggan untuk berkata sepatah kata pun.
"Apa ini artinya kamu setuju? Diam berarti setuju bukan?" tanya Jonathan sambil tersenyum bahagia.
"Joe ... kamu melewati batas. Aku sudah menikah, aku sudah punya suami."
Seketika senyum Jonathan hancur. "A-apa!? Aku tidak percaya! Jangan membuat alasan bodoh untuk menolakku!"
"Ini bukan alasan bodoh. Lihatlah ini!" Nisa lalu mengulurkan tangan kanannya. "Kamu lihat kan cincin pernikahan ini?"
"Cincin pernikahan? Mana ada cincin pernikahan yang dipasang di jari jempol? K-kamu ..."
"Ini memang cincin pernikahan. Dan aku minta maaf ... bukan maksudku membuatmu kecewa. Tapi, sebelum bertemu denganmu aku memang sudah menikah." Nisa lalu menarik tangannya kembali dan menundukkan kepala. "Maaf Jonathan, perasaanmu ini ... mustahil bagiku untuk membalasnya. Aku harap kamu mengerti ..."
"...."
Nisa ini orang macam apa? Ternyata sebelum bertemu denganku dia sudah menikah, tapi kenapa bisa waktu itu dia menangisi mantannya? Jika aku tidak salah tebak, Nisa ini pasti tidak bahagia dengan pernikahannya.
"Joe ... apa setelah ini pertemanan kita akan berakhir?" tanya Nisa dengan nada kecewa.
"Nisa, apa kamu sedang dalam masalah?"
Nisa tersentak dan kemudian menatap Jonathan dengan tatapan seakan tidak percaya. "A-apa yang kamu bicarakan!?"
"Yang aku bicarakan sangat jelas. Kamu ini sedang punya masalah, kamu tidak bahagia kan?"
"...." Nisa lalu memalingkan wajahnya. "Kamu bertanya seperti ini, memangnya kamu bersedia untuk mendengarku? Aku sendiri bersedia menjawabmu, tapi kamu harus berjanji untuk jangan memberitahu siapa pun."
"Baiklah, aku bersedia mendengarmu."
Nisa lalu duduk di tanah, dan Jonathan pun juga mengikuti Nisa dan duduk tepat di sebelahnya.
"Joe ... sekali lagi aku mohon, apa pun yang kamu dengar nanti, tolong jangan beritahu siapa pun." pinta Nisa dengan ekspresi murung.
"Baiklah, ceritakan saja semuanya."
Aku sangat penasaran dengan tekanan macam apa yang dialami oleh Nisa. Bahkan dia juga pernah berniat bunuh diri demi mantan pacarnya, padahal dia sudah menikah.
"Aku tahu, kamu pasti bingung dengan sikapku selama ini. Aku sudah menikah tapi masih mencintai mantan pacarku. Ini semua berawal dari diriku sendiri, semuanya salahku sendiri. Sebelumnya aku dan mantanku begitu saling mencintai, kami bahkan sudah pernah merencanakan bagaimana ke depannya masa depan kami. Dan tanpa aku sangka, karena sebuah alasan aku harus terpaksa menikah."
"Lalu ... bagaimana dengan kehidupan pernikahanmu?"
"Awalnya biasa saja, suamiku juga terpaksa menikah denganku. Aku pikir dengan hidup serumah dengan orang lain maka aku bisa melupakan mantanku, tapi terkadang aku merasa kalau suamiku mirip dengannya. Dan itu membuatku semakin sulit untuk melupakan mantanku. Hatiku rasanya sangat sakit, semakin sakit ketika aku menyadari bahwa orang yang selama ini aku cintai ternyata bahagia. Sedangkan aku, aku putus asa dan berakhir sampai pada titik yang namanya menyerah. Dan kamu," Nisa menengok ke arah Jonathan dan tersenyum pahit.
"Kamulah yang menarikku dari jurang keputusasaan itu. Ketika bersamamu aku bisa melupakan mantanku, mungkin saja karena kamu sangat bertolak belakang dengannya. Aku bisa kembali bersenang-senang tanpa khawatir akan hal apa pun saat bersamamu, tapi kini semuanya telah berubah. Setelah kamu menyatakan perasaanmu, aku merasa sangat bersalah karena mengenalmu. Sekali lagi maaf ... aku tidak bisa membalas perasaanmu."
"...." Jonathan memalingkan wajahnya dari Nisa. "Jadi sampai sekarang kamu masih mencintai mantanmu itu?"
"Rasa cinta memang sulit untuk dihilangkan. Mungkin sekarang perasaan cinta masih ada, tapi rasa ingin memiliki sudah hilang. Setiap malam aku selalu berdoa, aku selalu berdoa supaya dalam mimpi pun tidak dipertemukan lagi dengannya. Jujur, sampai sekarang luka di hatiku belum sepenuhnya sembuh. Sekarang yang bisa aku lakukan hanyalah belajar, belajar merelakan. Aku ingin merelakannya hingga sampai pada titik yang namanya ikhlas."
"Lalu bagaimana dengan suamimu? Apa kamu mencintainya? Dan apakah dia mencintaimu?"
"Sebagai seorang istri, pastinya mengharapkan cinta dari suami. Dan suamiku mengaku kalau dia mencintaiku. Tapi aku ... sejujurnya sekarang enggan untuk meletakkan hati pada seseorang lagi. Enggan untuk terlibat begitu jauh dalam hidup seseorang, dan enggan untuk menaruh harapan pada seseorang. Karena, dulu aku pernah meletakkan hati, tapi dilukai. Dulu pernah terlibat terlalu jauh, tapi dipaksa berpisah hingga jatuh. Dulu pernah menaruh harapan, tapi akhirnya dipatahkan. Aku bukannya membenci cinta, tapi untuk apa mencintai jika pada akhirnya harus membenci."
Nisa lalu menundukkan kepalanya dan terlihat begitu lesu. Dia juga mulai mengorek-ngorek tanah dengan jari telunjuknya.
"Ya beginilah hidup, selama kita masih hidup, selama itu juga masalah akan terus berdatangan. Inilah sebabnya aku mulai kehilangan semangat hidup, rasanya lebih baik jika mati saja! Memangnya apa artinya hidup jika tanpa kebahagiaan? Lebih baik cepat mati untuk menghindari penderitaan."
"Hei, apa yang kamu katakan!? Apa kamu tidak pernah berpikir bagaimana dengan nasib orang yang menyayangimu?"
__ADS_1
"Memangnya siapa yang benar-benar menyayangiku? Apakah kamu? Suamiku? Atau mantanku? Semuanya, bahkan keluargaku sendiri tidak ada yang bisa memahamiku. Mungkin di dunia ini aku lah satu-satunya yang berada dalam posisi ini. Toh percuma saja jika aku disayangi, aku adalah orang yang tidak pantas untuk disayangi."
"...."
Nisa ini ... cara pandangan terhadap cinta dan kehidupan telah berubah, dan itu disebabkan karena dia telah mengalami patah hati. Sekarang ini sebenarnya dia sedang depresi, sekarang sangat berbahaya jika dia sendiri, mungkin saja dia akan berniat bunuh diri lagi.
Dan bisa dipastikan kalau Nisa tidaklah bahagia. Pokoknya aku harus membuatnya bahagia. Meskipun dia sudah menikah, aku tidak masalah jika harus berhadapan dengan suaminya. Biarkan saja jika seluruh dunia mencelaku, persetan dengan itu! Aku tidak rela jika orang yang aku sukai seperti ini.
"Nisa."
"Ya?" ucap Nisa tanpa menoleh dan dia masih terus mengorek-ngorek tanah.
"Aku maklum jika kamu belum mampu melupakannya, sebab memang setiap orang punya waktu untuk bisa sembuh yang berbeda-beda. Aku paham kesedihanmu karena memikirkan kebahagiaannya, karena memang dulu dia adalah alasanmu bahagia. Tapi, jika kamu terus seperti ini, apa lagi namanya jika bukan sengaja menyakiti hati sendiri. Entah setulus dalamnya rasa cintamu kepadanya, aku tetap tidak mengerti. Tolong sertakan sedikit akal dalam mencintai. Kamu juga berhak bahagia."
"Caranya? Bagaimana caraku agar bisa bahagia?"
"Mudah saja, sumber utama penderitaanmu adalah pernikahanmu. Aku bisa membantumu untuk bebas, aku bersedia membunuh suamimu."
"Jangan!!" ucap Nisa secara spontan. "Jangan bunuh dia! Jangan sakiti dia!"
"Memangnya kenapa? Bukankah bersamanya kamu hanya akan menderita?"
"Aku tidak ingin dia mati, jika aku ingin dia mati maka aku sudah membunuhnya sejak awal. Lagi pula dia juga bukanlah orang yang sederhana. Kamu akan kesulitan jika berhadapan dengannya. Tolong jangan nekat Joe ..."
"Tapi aku ingin kamu bahagia. Bagaimana jika kamu tinggalkan saja semua ini, lalu ikut aku pergi ke Italia?"
"Maaf ... itu juga tidak bisa. Aku masih punya keluarga dan ... seorang suami yang menungguku pulang di rumah."
"Tapi, bukankah kamu tidak mencintai suamimu?"
"Memangnya aku bisa apa? Aku sudah terikat janji dan sumpah dengannya, aku bersumpah atas nama Tuhan akan selalu bersamanya. Meskipun tanpa cinta, tapi setidaknya dia mencintaiku. Aku tidak tega jika harus meninggalkannya."
"Lalu bagaimana denganku!? Aku juga memiliki perasaan terhadapmu! Tekadku sudah bulat, mau tidak mau, suka tidak suka, terima atau tidak, aku sudah bertekad untuk merebutmu secara terang-terangan! Ini keputusanku!"
"Jonathan!!" Nisa langsung berdiri. "Tolong jangan nekat! Aku minta maaf karena sebelumnya tidak jujur padamu, tapi tolong, jangan seperti ini ..."
"Cih!" Jonathan juga berdiri dan mencengkeram pundak Nisa. "Memangnya kenapa jika terikat!? Janji bisa diingkari, sumpah bisa dilanggar! Aku rela melakukan apa saja asal kamu bahagia! Tinggalkan saja bajing*n itu!"
"Kau yang bajing*n!! Singkirkan tanganmu dari istriku!"
Tiba-tiba saja Keyran datang dari belakang, dan dia segera berlari mendekat ke arah Nisa dan Jonathan. Namun ketika Jonathan dan Keyran saling bertatapan, keduanya sama-sama terkejut.
"Ternyata kau!!?"
Tanpa disangka, secara bersamaan Keyran dan Jonathan saling menodongkan pistol tepat di depan kepala. Tatapan mata keduanya terlihat mengerikan, aura membunuh yang begitu pekat langsung menyelimuti tempat itu.
Di sisi lain Nisa masih berdiam diri, dia masih mencoba untuk mencerna apa yang sedang terjadi di hadapannya. Apalagi sekarang situasinya sudah termasuk di luar kendali.
Apa-apaan ini!? Keyran dan Jonathan saling mengenali satu sama lain. Tapi kenapa baru bertemu mereka sudah ingin membunuh? Mungkinkah mereka ini musuh? Dan dari mana asalnya pistol ini? Selama ini aku sadar kalau Jonathan selalu membawa senjata, tapi Keyran ...
"Wah wah ... lihat siapa ini? Kupikir kau sudah terbakar jadi abu, tapi ternyata sekarang malah mencoba merebut istriku!" ucap Keyran dengan tatapan sinis.
"Heh, aku juga heran kau masih hidup. Kupikir mayatmu sudah membusuk di kuburan!" Jonathan lalu melirik ke arah Nisa. "Maaf Nisa ... ternyata suamimu adalah dia, bahkan jika dia bukan suamimu, aku tetap ingin membunuhnya!"
"Nisa!!" bentak Keyran sambil melotot pada Nisa. "Ternyata kau mengenal orang ini, apa kau setuju menikah denganku karena kau satu komplotan dengannya!?"
"Komplotan apa!? Aku baru mengenal Jonathan setelah menikah denganmu! Key ... tolong turunkan senjatamu, Jonathan adalah temanku. Jangan lukai dia ..."
"Kau!! Kau menyuruhku menurunkan senjata, tapi tidak dengannya. Apa kau lebih memilih orang ini dibanding aku!?"
"Hehe ... kau lihat sendiri kan? Istrimu lebih memilih kalau kau yang mati. Jelas sekali jika dia tidak mengharapkanmu sebagai suaminya. Saranku kau bebaskanlah Nisa, dia akan jauh lebih bahagia jika bersamaku! Pecundang!"
"Kau ingin aku melepas Nisa!? Dalam mimpi pun tidak akan pernah! Harusnya kau lah yang menjauh dari kami!"
"Cukup!! Turunkan senjata kalian!" teriak Nisa sekencang-kencangnya.
"Tidak akan!" jawab Keyran dan Jonathan secara bersamaan. Bahkan mereka berdua juga bersiap untuk menarik pelatuk.
__ADS_1
"Cih ..." Nisa lalu menggigit bibirnya sendiri.
Kalian yang memaksaku.
Tanpa peringatan apa pun Nisa mengibaskan tangannya dengan sangat keras hingga kedua pistol yang dipegang oleh Keyran dan Jonathan terhempas ke udara. Saat kedua pistol itu melayang, Nisa dengan cekatan langsung menangkap keduanya. Setelah tertangkap, Nisa menyembunyikan salah satu pistol di belakangnya, dan pistol yang satunya lagi diarahkan pada kepalanya sendiri.
Keyran dan Jonathan langsung merubah ekspresinya menjadi panik. Mereka berdua tidak ingin Nisa bertindak sembarangan, terlebih lagi sebenarnya mereka masih belum bisa percaya dengan yang barusan Nisa telah lakukan.
"Aku bilang cukup!! Katakan yang terjadi di antara kalian berdua! Atau aku akan bunuh diri di depan kalian!"
"Nisa ..." Keyran mencoba meraih dan berjalan lebih dekat ke arah Nisa.
"Berhenti! Selangkah saja dari kalian berani mendekat ke arahku, maka aku akan langsung menarik pelatuk pistol ini! Aku serius!"
Keyran menghadangkan satu tangannya di depan Jonathan lalu menatapnya dengan tatapan sinis. "Nisa adalah istriku, ini urusanku, kau tidak berhak ikut campur." Keyran lalu menarik napas panjang dan menoleh ke arah Nisa. "Aku mohon tenanglah ... turunkan senjatamu. Apa pun yang ingin kau tahu, aku akan jelaskan."
"Kenapa kau marah jika aku berteman dengan Jonathan!? Dan komplotan apa yang tadi kau bicarakan!?" tanya Nisa yang masih menodongkan pistol di kepalanya.
"Aku marah karena dia ingin merebutmu dariku. Dia ini sebenarnya adalah ketua geng mafia Italia! Tentu saja aku tidak rela jika kau berteman dengannya! Berteman dengannya hanya akan membawa nasib buruk untukmu."
"Hei, pernyataanmu ini salah besar! Nisa selalu bahagia saat bersamaku, malahan Nisa tidak bahagia jika terus bersamamu! Memangnya kenapa jika aku adalah seorang mafia, setidaknya Nisa bahagia jika bersamaku, itu pun tanpa paksaan. Bukan sepertimu yang selalu memaksanya!"
"Tutup mulutmu! Kau tidak tahu apa-apa tentang kami! Asalkan kau tidak ada, maka hubunganku dengan Nisa akan baik-baik saja! Semuanya jauh lebih baik asalkan kau menghilang!"
"Heh, memangnya kau tahu apa? Apa kau tahu yang dirasakan oleh Nisa? Yang dipikirkan olehnya? Saat dia sedang butuh sandaran, dimana kau saat itu hah!? Kau lihatlah Nisa baik-baik, kau selalu ingin dia mendengarkanmu, sedangkan kau, tidak pernahkah kau berpikir mengenai perasaannya?"
"Cukup Jonathan! Jangan katakan apa pun lagi! Akan semakin memburuk jika dilanjutkan. Bisakah kita bertiga bicara baik-baik agar salah paham ini bisa terselesaikan?"
"Kalau aku sih tidak keberatan. Tanya saja dulu pada suamimu ..." ucap Jonathan dengan nada seakan meremehkan.
"Baiklah, tapi turunkan dulu senjatamu."
"Huh ... oke."
Nisa lalu menurunkan pistol itu, tapi dia mengambil seluruh peluru dari kedua pistol tersebut dan menyimpannya di tas yang dia bawa. Kemudian kedua pistol kosong itu, Nisa mengembalikannya kepada masing-masing pemiliknya.
Nisa memutuskan untuk mengajak Keyran dan Jonathan untuk bicara di tempat lain. Dengan permintaan dari Nisa, mereka akhirnya kembali ke sebuah stan sosis bakar yang tadinya sempat didatangi oleh Nisa dan Jonathan.
Mereka bertiga duduk mengitari sebuah meja yang di sediakan oleh pemilik stan. Nisa duduk di tengah, Keyran duduk di sebelah kirinya Nisa dan Jonathan duduk di sebelah kanannya Nisa.
Sembari menunggu pesanan sosis bakar yang dipesan Nisa siap, mereka bertiga memutuskan untuk saling berbicara terlebih dulu. Dan tentu saja masih ada ketegangan di antara Keyran dan Jonathan.
"Baiklah, aku mulai dulu. Kenapa bisa kalian sangat bermusuhan? Apakah sebelumnya kalian pernah berteman?"
"Cih, mustahil ada pertemanan di antara kami!" jawab Keyran acuh tak acuh.
"Aku juga tidak sudi berteman denganmu!" jawab Jonathan dengan ketus.
"Hei Nisa, kemarin kau bilang akan pergi ke bazar bersama temanmu yang namanya Jenny dan Isma, apa kau memang bermaksud membohongiku?"
"Bukan begitu, kedua temanku itu berhalangan datang bersamaku. Makanya aku bisa datang bersama Jonathan. Memangnya kenapa sih kalian berdua bisa saling membenci?"
"Hng! Bajing*n ini memang pantas dibenci!" ucap Keyran dengan tatapan sinis.
"Kau sendiri juga bajing*n! Nisa bernasib sial karena menikahimu!"
"Wah ... kau bajing*n tidak tahu malu! Kau tanpa malu berusaha merebut istriku!"
"Ckck ... kau bajing*n tidak berperasaan! Kau hanya membuat istrimu menderita!"
"Bajing*n! Bajing*n! Bajing*n! Kalian berdua sama saja! Kalian berdua bajing*n yang membuatku pusing! Lebih baik aku ambil pesananku!"
Nisa langsung berdiri dan meninggalkan Keyran bersama dengan Jonathan. Dia menunggu antrean dengan perasaan kesal. Saat pesanannya jadi, saat penjual itu hendak menyerahkan sosis bakar pesanan Nisa, tiba-tiba sosis itu diserobot oleh orang lain.
Nisa merasa tidak terima lalu menahan tangan orang yang menyerobot sosisnya. "Itu pesananku!"
"Maaf, tapi aku yang pesan duluan."
__ADS_1
"Yaelah, ngalah kek sama cewek! Cewek itu selalu menang, nggak pernah diajarin ..." Nisa lalu mendongak menatap orang tersebut. "R-Ricky!!?"
"N-Nisa!!?"