Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Aktivitas Baru


__ADS_3

Keyran yang sudah mengantar istrinya berangkat kuliah langsung bergegas menuju ke kantor. Namun yang membuat hari ini berbeda adalah tidak fokus selama bekerja. Setiap saat dia selalu teringat akan Nisa, dia tetap khawatir meskipun orang yang dia suruh untuk mengawasi istrinya itu memberikan keterangan bahwa Nisa baik-baik saja.


Hari ini Keyran hanya bekerja selama setengah hari saja. Ketika dia pulang ke rumah, dia tak melihat keberadaan Nisa karena Nisa belum pulang dari kuliah. Keyran yang masih dilanda kekhawatiran lalu mengetikkan sebuah pesan untuk Nisa, pesan yang menyebutkan bahwa dirinya akan menjemput Nisa saat pulang kuliah.


Nisa selesai kuliah saat petang hari, dia tampak bahagia saat mengetahui bahwa dirinya telah dijemput oleh suami tercintanya. Dia langsung menaiki mobil berjenis Maybach berwarna silver itu.


"Tumben menjemputku sendiri, biasanya kau menyuruh Valen." ucap Nisa yang terlihat membawa 2 buah cup minuman.


"Haha, lagi pula tidak ada salahnya aku menjemput istriku sendiri. Apa yang kau bawa itu?" tanya Keyran.


"Oh ini," Nisa lalu menyodorkan salah satu minuman itu pada Keyran. "Ini boba cheese cream untukmu yang suka keju! Lalu boba choco hazelnut untukku yang suka cokelat!"


Keyran menerima minuman itu dari tangan Nisa namun tak langsung meminumnya. "Akan aku minum nanti," ucapnya sambil tersenyum saat melihat istrinya itu tampak suka sekali menyeruput minumannya.


"Darling, ini terlalu sore jika kau masuk sejak tadi pagi. Aku kan sudah bilang agar jangan terlalu kelelahan."


"Aku kejar SKS, jadinya hari ini aku mencicil 10 SKS yang artinya menghabiskan waktu 500 menit. Oh iya, tadi aku juga dapat pemberitahuan kalau akan ada beberapa seminar dalam waktu dekat. Memang melelahkan tapi setidaknya aku punya kesibukan, haha."


Keyran lalu menatap Nisa dengan tatapan sayu. "Tidak ada orang yang mengganggumu, kan?" tanyanya dengan nada khawatir.


Seketika Nisa menoleh lalu membelai pipi suaminya itu. "Jangan terlalu mencemaskan aku, kau lupa kalau istrimu ini sang pembuat masalah? Mana ada yang berani menggangguku."


Nisa menarik tangannya kembali lalu menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. "Oh iya, setelah ini jangan suruh orang untuk mengawasiku lagi!"


"Eh, k-kau sadar?!" tanya Keyran seakan tidak percaya.


Padahal aku sudah suruh mereka untuk berhati-hati, mereka juga bukan orang sembarangan. Tapi aku tidak habis pikir kalau Nisa masih bisa menyadari mereka.


"Bahkan saat mau ke toilet pun juga diikuti. Aku tahu kalau kau mencemaskan aku, tapi jangan berlebihan sampai seperti ini. Mereka memang totalitas, ada yang menyamar jadi mahasiswa sampai tukang kebun. Diawasi terus itu rasanya sungguh tidak nyaman."


Tentu saja aku sadar, sejak dulu semang sudah banyak yang mengincarku karena identitasku, jika aku bahkan tidak menyadari mereka maka mustahil aku bisa bertahan hidup sampai sekarang.


"Ayo cepat jalan, aku ingin cepat-cepat sampai di rumah lalu mandi! Tubuhku sekarang sudah lengket." pinta Nisa.


"Baiklah Nyonya ... apakah nanti Nyonya mau saya bantu?" tanya Keyran dengan senyuman.


"Tidak perlu Tuan, saya bisa mandi sendiri! Ayolah Key ... jangan menggodaku!"


"Oke-oke, kita pulang!" Keyran pun menyalakan mobil dan langsung menginjak gas.


Begitulah Nisa mengakhiri hari ini, senyuman ceria miliknya telah kembali. Meskipun dia dalam keadaan terpuruk, namun dia berhasil melewatinya karena memiliki seseorang yang selalu di sampingnya dan memberi dukungan penuh untuknya. Di sisi lain Keyran juga menjadi lebih tenang, dia membuang rasa kekhawatirannya yang berlebihan.


***


Tanpa terasa seminggu telah berlalu, selama seminggu ini tak ada hal buruk ataupun hal khusus yang terjadi di rumah tangga Keyran dan Nisa.


Saat ini, ketika jam sudah memasuki saat untuk makan siang. Saat ini Keyran masih berada di dalam ruangan kerjanya, namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.


TOK TOK TOK!!


"Siapa?" tanya Keyran yang masih fokus melihat sebuah bekas dokumen di mejanya.


"Rentenir!" teriaknya.


Keyran lalu tersenyum kecil, "Masuklah darling, aku tahu kalau itu kau!"


Pintu tersebut dibuka, tampaklah Nisa yang melangkah masuk sambil membawa kotak bekal. Dia lalu berjalan ke arah sofa, menaruh kotak bekal itu di atas meja dan membukanya satu per satu.


"Kemarilah, aku bawa ini untukmu!" pinta Nisa dengan senyuman.

__ADS_1


"Kau bawa apa?" tanya Keyran yang kemudian meninggalkan meja kerjanya dan menyusul untuk duduk di sebelah Nisa.


"Ini sudah waktunya makan siang, jadi aku bawakan makanan untukmu. Kau pasti juga belum makan, dan menu makan siangmu kali ini adalah chicken katsu dan rolade sapi! Lalu ... ada menu spesial untukmu!"


Nisa lalu mengambil sebuah kotak bekal yang warnanya berbeda. "Tadaaa~ Aku sudah berhasil membuat kue madeleine yang sempurna! Aku sudah memastikan kalau rasa manisnya pas dan lembut!"


"Hmm ..." Keyran mengambil sebuah kue kecil yang bentuknya seperti cangkang itu. Setelah menggigit dan merasakannya, dia pun tersenyum. "Enak juga, apa kau sungguh yang membuatnya sendiri?"


"Iya, aku membuatnya sendiri, dan asal kau tahu, aku baru berhasil setelah 4 kali percobaan. Untungnya Bibi Rinn sabar dalam mengajariku. Tapi ternyata tidak sia-sia juga, karena kau suka jadi semua itu terbayar, hehe."


"Wah wah ... kau punya banyak waktu luang ternyata, tapi bukannya hari ini kau harus masuk kuliah? Jangan mengelak, tadi pagi aku sendiri yang mengantarmu berangkat!" ucap Keyran dengan tatapan sinis.


"Ah itu, dosenku minta ganti jadwal. Karena di kampus tak ada yang harus aku kerjakan jadinya aku pulang. Kali ini aku tidak bohong, kalau kau tak percaya, kau bisa telepon dosenku dan tanyakan sendiri padanya!"


Nisa lalu memalingkan wajahnya dan berekspresi cemberut. "Padahal aku ke sini karena ingin memberi kejutan untukmu, aku pikir kau akan senang, tapi nyatanya sikapmu malah begini. Ini pertama kalinya aku membawakan makan siang untukmu ke kantor. Tapi kau malah mencurigaiku kalau aku membolos!"


Nisa menaruh kotak berisi kue madeleine itu ke meja dan tiba-tiba berdiri, "Sudahlah, aku sudah membawakan makanan untukmu. Cepat makan selagi masih hangat! Aku mau pergi!"


Baru selangkah Nisa melangkah pergi tiba-tiba tangannya ditahan oleh Keyran. Keyran menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya, bahkan dia juga memberikan sebuah kecupan manja di pipinya.


"Jangan marah ... Mana ada istri yang baru mengantarkan makanan untuk suaminya tapi begitu sampai langsung mau pergi?" tanya Keyran yang kemudian mencoba mencium pipi Nisa lagi, namun sayangnya bibirnya kali ini dihalangi oleh telapak tangan Nisa.


"Tentu saja ada, itulah aku! Karena kau menyebalkan!"


"Maaf ... aku janji akan bersikap lebih baik. Maafkan aku, tetaplah di sini, lalu suapi aku! Ayolah darling, kau memaafkan aku, kan?" tanya Keyran dengan ekspresi yang mirip seperti saat anak kecil memohon minta dibelikan mainan.


Sejenak Nisa tertegun, dia lalu tersenyum dan berkata, "Kau bersikaplah wajar sesuai dengan umurmu. Dan satu lagi, aku memaafkanmu." Tiba-tiba saja Nisa merangkul leher Keyran dan dengan cepat memberikan sebuah ciuman di bibirnya.


Keyran menyeringai. "Heh, tadi kau bilang aku harus bersikap sesuai dengan umurku. Dan aku ini pria dewasa, apa kau ingin aku melakukan sesuatu yang dewasa terhadapmu?"


"Sesuatu seperti apa?" tanya Nisa seolah-olah tak mengerti.


Aroma wangi parfum vanilla yang lembut yang sudah tak asing lagi baginya itu menguar begitu saja di indra penciumannya. Dia tak sabar ingin segera merasakan betapa manisnya itu, dia langsung mencium dan menyesap hingga meninggalkan sebuah tanda kecupan yang merah di sana.


Nisa yang mendongak lalu mencengkeram erat lengan jas suaminya itu. Pernapasannya mulai tak beraturan, tangannya juga ikut gemetaran. "Enhh ... Key ... c-cukup ..."


"..." Keyran mengabaikan kata-kata istrinya itu dan melanjutkan kesibukannya di sana, bahkan dia melakukannya sekali lagi di tempat yang berbeda.


Aku menginginkanmu sayang, sudah lama kita tidak menikmati momen intim seperti ini. Aku sangat merindukan saat-saat seperti ini.


"A-aku mohon ... hentikan!" pinta Nisa dengan suara gemetar yang seketika membuat Keyran menghentikan tindakannya.


Keyran yang baru saja mendapat penolakan itu menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya. Di sisi lain Nisa sendiri mengerti arti dari tatapan mata suaminya itu yang menandakan bahwa dia kecewa atas dirinya.


Nisa kemudian menunduk, membenarkan kancing bajunya yang sebelumnya telah dilepas oleh suaminya. "Maaf atas sikapku barusan. Kau makanlah, aku akan tetap di sini menemanimu." ucapnya dengan suara lirih.


"Tak apa, ini juga salahku." ucap Keyran dengan senyum pahit.


Bodohnya aku, aku pikir Nisa akan menurut dan membiarkanku menyentuhnya semauku. Tapi bisa-bisanya aku melupakan yang paling penting, setelah mengalami keguguran Nisa menjadi jauh lebih emosional. Sekarang setiap kali ingin melakukan sesuatu yang intim, aku harus mendapatkan persetujuannya terlebih dulu agar dia merasa nyaman dan tidak tersinggung.


***


Hari demi hari telah berlalu, hal baik yang telah terjadi adalah Nisa tak lagi membolos kuliah dan bila memungkinkan dia juga mengantarkan makan siang untuk Keyran ke kantor. Hubungannya dengan Keyran juga baik-baik saja dan tetap romantis, meskipun setelah keguguran mereka belum lagi berhubungan badan.


Namun malam ini berbeda dari malam yang biasanya, kali ini Keyran makan sendirian di meja makan tanpa ditemani oleh Nisa. Saat Bibi Rinn hendak menyajikan makanan pencuci mulut di meja makan, tiba-tiba saja Keyran berkata, "Bibi jangan pergi dulu!"


"Baik Tuan, apakah ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan saya?" tanya Bibi Rinn.


"Ya, aku ingin bertanya mengenai Nisa. Apa yang dia lakukan di rumah saat aku tak ada?"

__ADS_1


"Nyonya melakukan aktivitasnya seperti biasa, tapi ada beberapa hal yang jadi lebih baik. Nyonya sekarang terkesan jadi lebih rajin, bahkan sekarang beliau sangat betah menghabiskan waktu luangnya di dapur." jawab Bibi Rinn.


"Benarkah? Dia buat apa di dapur? Padahal tanpa diberitahu aku sudah sadar kalau setiap kali Nisa mengantarkan makan siang untukku, rasa makanan itu adalah buatan Bibi."


"Haha, karena alasan Nyonya berada di dapur memang bukan untuk memasak hidangan seperti itu. Belakangan ini Nyonya tertarik untuk menjajal membuat cake. Beliau bertekat membuat chiffon keju untuk Tuan. Emm ... sebenarnya Nyonya meminta saya untuk merahasiakan hal ini, tapi karena Tuan bertanya maka saya terpaksa mengatakannya. Kalau nanti Nyonya sudah berhasil mohon Tuan untuk bersikap kaget atau semacamnya, soalnya saya tidak ingin membuat Nyonya kecewa."


Sejenak Keyran tertegun, kemudian dia berkata, "Jadi sampai sekarang belum berhasil, apakah Bibi masih sabar mengajarinya?"


"Soal itu ... sebenarnya Nyonya belajar sendiri dari internet, karena saya sendiri pun tak terlalu ahli dalam pastry. Saya juga pernah basa-basi menyarankan agar Nyonya mengikuti kelas memasak khusus untuk pastry. Saat itu Nyonya kelihatan tertarik, tapi beliau mengatakan bahwa masih ragu karena mungkin saja Tuan tidak akan mengizinkan."


"Oh begitu, Bibi boleh pergi."


"Baik Tuan, saya permisi." Bibi Rinn langsung bergegas pergi.


"..." Keyran lalu tersenyum dan kembali melanjutkan makan.


Nisa, aku tahu kalau kau sedang mencari kesibukan. Untung saja kau memilih hal yang positif, kalau begitu tentu saja aku sebagai suamimu akan mendukungmu.


Setelah Keyran selesai menghabiskan makan malamnya, dia pergi menyusul Nisa yang sekarang berada di ruang belajar. Saat dia masuk ke ruangan, Nisa tidak menyadari kehadirannya dan tampak masih duduk di kursi belajar sambil memakai earphone di telinga.


Keyran perlahan berjalan mendekat dan tiba-tiba memeluk Nisa dari belakang hingga istrinya itu terkejut.


"Eh?! Kau di sini?" tanya Nisa yang kemudian melepaskan earphone dari telinganya.


"Ya, aku di sini. Kau sampai tak makan malam, apa tugasmu masih banyak? Mau aku bantu?" tanya Keyran tanpa melepaskan pelukannya.


"Haha, tidak usah. Sedikit lagi selesai."


"Darling, kalau aku perhatikan akhir-akhir ini kau banyak waktu luang."


"Yaa ... semua berkat aku yang sudah tersadar akan sesuatu, sebelumnya aku sangat sibuk karena malas dan selalu menunda-nunda mengerjakan tugas. Bahkan aku selalu mengutuk dosen yang memberi tugas yang banyak. Tapi begitu aku dapat tugas dan langsung aku kerjain, sekarang tugasku jadi terkesan sedikit dan aku punya banayak waktu luang. Kenapa kau bertanya? Apa kau berencana membawaku pergi ke suatu tempat? Apa kita akan kencan?!" tanya Nisa dengan antusias.


"Tidak. Aku terlalu sibuk bekerja." jawab Keyran secara spontan.


"Cih, aku terlalu berharap."


"Hei-hei ... jangan kecewa dulu. Aku tahu dari Bibi Rinn kalau kau belakangan ini tertarik dengan membuat cake, apa kau mau mengikuti kursus pastry?"


"Memangnya boleh?"


"Aku menawarkan tentu saja aku memperbolehkan. Kalau kau mau, aku bisa carikan kursus yang jadwalnya fleksibel dan chef pastry terbaik untuk mengajarimu. Tapi aku sarankan, lebih baik kau les privat, jadi kau bisa tetap di rumah."


"Emm ... tapi aku ingin belajar bersama banyak orang lain juga, itu akan lebih menyenangkan. Aku juga bisa memperoleh suasana baru. Boleh, ya?"


Keyran menghela napas lalu tersenyum. "Baiklah, asal kau senang."


"Terima kasih darling!" Nisa mendadak bangkit dan naik ke atas kursi, dia lalu mencium pipi Keyran dengan bahagia.


"Iya. Tapi hati-hati, bisa-bisa kau jatuh kalau naik sembarangan begini." Keyran memegangi tubuh Nisa dan ikut tersenyum. "Apa kau senang?"


"Tentu saja! Kau kan tidak buta, harusnya bisa melihat senyumanku ini!"


"Heh, kalau kau senang ... Cium aku lagi!"


Nisa mencubit pipi Keyran lalu menciumnya berkali-kali. "Sudah, kan? Aku mau lanjut mengerjakan tugas!"


"Semangat! Aku akan berikan sesuatu agar kau lebih semangat lagi!" Keyran lalu menghujani ciuman di pipi Nisa.


"Hahaha, cukup Key! Kalau kau terus menciumku maka tugasku tak akan pernah selesai!"

__ADS_1


__ADS_2