Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Kerinduan


__ADS_3

Sikap yang ditunjukkan oleh Keyran ataupun Nisa masih sama. Setiap kali bertemu, mereka berdua hanya membisu, tanpa bertegur sapa dan tanpa menanyakan kabar.


Keduanya tetap bersikap dingin, meskipun mereka sama-sama tak mengharapkan hal seperti itu. Mereka yang biasanya saling memadu kasih saat bersama, sekarang saling acuh tak acuh. Sakit, jelas hal seperti rasa sakit dirasakan oleh mereka berdua. Itulah yang tak akan terbantahkan saat mengabaikan seseorang yang sebenarnya masih sangat dipedulikan.


Bahkan, malam ini pun adalah malam yang berbeda. Mereka saling memunggungi dan tak mengatakan ucapan selamat malam sebagai pengantar tidur. Rasanya, sekarang sudah benar-benar berubah.


Mereka yang sebelumnya selalu saling menemani hingga larut malam, kini entah sedang menghabiskan malam dengan memikirkan apa. Mereka yang sebelumnya selalu saling mengucapkan selamat tidur, kini mungkin sedang sibuk merangkai mimpinya masing-masing. Mereka yang sebelumnya selalu berbagi tempat untuk melepas rindu, kini saling bersentuhan maupun berpelukan pun sudah tak mampu.


Begitulah jika waktu memutar semuanya, membongkar semua kenyataan yang tak pernah di harapkan. Rasanya cepat sekali, meruntuhkan kepercayaan dan seakan-akan tak menyisakan celah untuk kembali.


Entahlah. "Sanggupkah kami melalui semua ini?" Mungkin Itulah yang mereka berdua renungkan.


***


Pagi hari tiba. Burung-burung beterbangan yang mengawali aktivitasnya lebih dulu dari manusia, suara kicauan yang merdu seakan-akan memecah kesunyian di pagi hari. Sayup-sayup hembusan udara pagi menembus kalbu, serasa sejuk dan nyaman. Titik-titik embun yang menghiasi dedaunan dan kaca jendela tak mau kalah memancarkan kilauannya yang indah.


Belaian cahaya kuning keemasan menyapu setiap sudut, seolah-olah mengucapkan selamat pagi yang membuat terbangun dari mimpi. Keyran membuka mata, dia mendapatkan kejutan di tengah suasana pagi yang damai ini.


Berkali-kali dia mengedipkan mata, berusaha memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat. Dia masih tak percaya dengan apa yang terjadi padanya saat ini, dia melihat tangan istrinya yang melingkar di tubuhnya.


"Apa yang ...?" gumamnya.


Sejenak Keyran termenung, menatap wajah polos istrinya yang masih tertidur lelap. Sebelah tangannya membelai pipi Nisa, dilihatnya surai hitam yang terurai itu sedikit menutupi wajah, dia lalu menyelipkan rambut itu ke telinga.


Keyran tersenyum tipis, dia perlahan mencium kening dengan penuh kelembutan dan hati-hati, berharap istrinya tak akan terbangun dengan tindakannya barusan.


"Darling ... I love you," gumamnya yang kemudian membalas pelukan dari Nisa.


Rasanya sudah lama, entah kenapa rasanya sudah lama sekali kita tidak begini. Padahal baru kemarin kita saling berjauhan, tapi aku sudah merindukan saat-saat seperti ini.


Meskipun sikapmu saat ini menunjukkan sedang marah terhadapku, tapi tubuhmu tak akan pernah bisa berbohong. Aku juga minta maaf atas sikapku yang dingin, tapi aku tak bisa mengendalikan emosiku. Aku mengetahui sesuatu yang penting tentangmu. Tapi, mengetahui hal itu dan mendengarnya dari orang lain rasanya sangat berbeda.


Meskipun aku tahu kalau kau memelukku tanpa sadar, tapi aku menyukainya, sangat ... sangat menyukainya. Rasanya aku bahkan seperti tak mau bangun dari tempat tidur, aku ingin terus seperti ini dan memelukmu.


"Mmm ..."


"Eh?!" Begitu menyadari Nisa yang akan bangun, seketika Keyran menutup mata kembali dan berpura-pura masih tidur.


"Uhmmm ..." perlahan Nisa membuka mata, dia langsung terkejut saat melihat wajah Keyran yang berada tepat di depan wajahnya. Tapi, dia lebih terkejut lagi saat menyadari bahwa dirinya sedang memeluk Keyran.


"Hah?! Apa yang aku lakukan?!" Nisa masih berusaha mencerna keadaan, lagi-lagi dia tertegun untuk sejenak saat melihat wajah Keyran.


"Untunglah kau masih tidur ..." gumam Nisa yang kemudian melepaskan pelukannya. Dia lalu melihat ke sekeliling dan melihat jam dinding telah menunjukkan pukul berapa.


Nisa lalu beralih menatap Keyran dengan tatapan kesal. "Menurut pengamatanku, memang aku yang bergeser sendiri dari tempatku lalu memelukmu. Tapi, ini tidak benar! Harusnya aku tidak memelukmu, aku kan masih marah kepadamu."


"Aku marah, aku masih marah, aku tidak boleh luluh meskipun wajahmu di pagi hari sangat tampan dan menyilaukan!" gumam Nisa yang berusaha menyugesti dirinya sendiri.

__ADS_1


Untuk sejenak lagi-lagi Nisa tertegun, dia melihat tangan Keyran yang masih berada di pinggangnya. "Kau juga memelukku, tapi ... bukankah tidak sopan namanya jika tidak dibalas?"


Nisa tersenyum bodoh, dia lalu bergeser lebih dekat lagi dengan Keyran dan kembali memeluknya sama persis seperti tadi.


"Jangan bangun dulu ya, darling. Aku masih mau memelukmu, tapi aku tidak mau ketahuan memelukmu secara sengaja."


Mendadak ekspresi Nisa berubah, dia lalu membenamkan wajahnya di dada suaminya yang bidang itu.


"Uuhhh ... sebenarnya kenapa kita harus seperti ini? Mau memelukmu saja aku harus melakukannya secara diam-diam."


"Aku rindu ... aku merindukan saat-saat seperti ini, saat di mana aku bisa memelukmu dan manja semauku terhadapmu. Bahkan ... alam bawah sadarku saja juga ingin untuk memelukmu. Sepertinya aku tidak bisa, aku memang tidak bisa marah terlalu lama terhadapmu."


"Tapi ... kau bodoh! Keyran bodoh! Keyran kampret! Harusnya kau bangga punya istri sepertiku, aku bisa menjaga diriku sendiri dari apa pun. Dan aku sudah membuktikan itu dengan masih hidup sampai sekarang. Kau tak perlu mengkhawatirkan aku, dasar bodoh!"


"Sekarang kita saling mengabaikan seperti ini, ini mengingatkan aku tentang saat seperti aku dirawat di rumah sakit dulu. Saat itu kau berniat untuk menceraikan aku, lalu ... apakah nanti kau juga berniat begitu?"


"Aku tidak mau jika kau melakukan itu! Awas saja nanti, kalau kau melakukan itu aku jamin kau akan menyesal! Kau tidak akan pernah menemukan wanita lain sepertiku di mana pun kau mencarinya! Huh, dasar Keyran bodoh ... untung saja saat ini kau tidur, jadi semua yang aku katakan barusan tidak mungkin kau akan mendengarnya."


Nisa lalu mengeratkan pelukannya. "Sudah aku putuskan, aku akan pura-pura tidur sambil memelukmu. Jadi saat kau bangun nanti, kau tidak akan berpuas diri karena melihatku memelukmu. Aku masih marah, camkan ini baik-baik!"


Keyran yang sebenarnya dalam keadaan sepenuhnya sadar hanya bisa terus menutup mata, dia juga menggigit bibirnya sendiri karena menahan tawa.


Kau yang bodoh, Nisa! Bodoh dan konyol! Kalau kau serius maka baiklah. Mari kita lihat siapa di antara kita yang akan menyerah terlebih dulu.


Pasangan suami istri itu sama-sama melanjutkan tidur bohongan mereka. Semua itu rela mereka berdua lakukan hanya demi tetap saling berpelukan tanpa ketahuan oleh satu sama lain.


Waktu tetap berjalan seperti ala kadarnya, dan pasangan suami istri itu masih bersikukuh di atas tempat tidur karena gengsi mereka yang teramat tinggi.


"Ini sudah jam 10 pagi. Tapi, tumben sekali Tuan Muda masih belum keluar dari kamar, biasanya sudah berangkat ke kantor tadi pagi. Istrinya juga, biasanya dia sudah di dapur untuk membuat sarapan. Apa mereka berdua kelelahan karena pertempuran di ranjang, ya? Tapi ... meskipun kelelahan sepertinya ini keterlaluan jika belum bangun sampai sekarang." gumam pelayan itu.


Sedangkan di dalam kamar itu, kedua orang itu masih bersikukuh tidak mau kalah dalam perlombaan pura-pura tidur yang sama sekali tidak ada hadiahnya.


DRRTT DRRTT ...


DRRTT DRRTT ...


Ponsel Keyran berada di atas nakas mendadak berdering. Karena takut seandainya itu telepon penting, maka Keyran terpaksa pura-pura bangun tidur demi mengangkat telepon itu.


"Ya, halo. Ada apa Valen?" tanya Keyran dengan nada lesu yang dibuat-buat.


"Tuan ke mana saja?! Apa Tuan lupa jika hari ini ada pertemuan penting?!" tanya Valen yang suaranya terdengar panik.


"Oh ... itu, undur saja."


"Kenapa Tuan? Apa Nyonya sedang rewel?"


"Bukan, Nisa tidak rewel. Hanya saja ... aku merasa sedikit tidak enak badan," ucap Keyran dengan suara serak yang dibuat-buat.

__ADS_1


Mendadak Nisa membuka mata karena kaget, tapi setelahnya dia cepat-cepat menutup mata kembali.


"Ehmm ... begitu ya, kalau begitu akan saya sampaikan ke yang lain. Maaf karena mengganggu waktunya, silakan Tuan lanjut beristirahat."


TUT TUT ...


Panggilan telepon berakhir, Keyran memutuskan untuk tidak kembali melanjutkan tidur. Tapi dia beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.


Nisa memutuskan untuk bangun setelah memastikan bahwa Keyran telah benar-benar berada di kamar mandi, kemudian dia bergumam, "Astaga, pantas saja Keyran terlambat bangun, ternyata dia sakit."


Tapi aneh, saat memeluknya tadi aku tidak merasakan kalau suhu tubuhnya panas.


"Ah, bodohnya aku! Aku tidak boleh membiarkan itu sampai terjadi, aku harus memastikan agar suamiku tetap sehat."


Tapi ... Aku kan ceritanya masih marah, bagaimana ya caranya agar aku bisa merawatnya tanpa memberikan kesan kalau aku peduli?


Sejenak Nisa termenung, kemudian dia tersenyum semringah. "Ah, aku punya ide!"


***


Beberapa saat setelahnya. Karena hari ini Keyran berbohong tidak enak badan sehingga dia tidak berangkat ke kantor, maka saat ini dia sedang berada di ruangan kerjanya. Dia tampak cukup sibuk dengan beberapa dokumen yang sedang dia kerjakan.


BRAKK!!


Tiba-tiba saja pintu terbuka dengan keras, lalu tampaklah Nisa yang datang dan kakinya menunjukkan bahwa barusan dia menendang untuk membuka pintu. Dia tampak membawa nampan yang di atasnya berisi makanan.


Nisa berjalan tergesa-gesa ke arah meja kerja Keyran. Dia menyingkirkan beberapa dokumen dari meja itu dan meletakkan nampan makanan dengan kasar.


TRAKK!!


"Apa-apaan kau ini?" Keyran ternganga karena heran melihat tingkah Nisa.


"Kau lapar, kan?! Ini aku bawakan bubur! Makanlah biar kena sembelit!" ucap Nisa dengan nada ketus.


"Hah ...?"


"Kau pasti juga tidak sempat minum! Minum ini biar kandung kemihmu meledak!"


"..." Keyran melongo.


"Kenapa?! Kau mau mati hah?! Aku juga sudah bawakan vitamin untukmu! Cepat minum itu karena itu dibuat di pabrik ilegal!!"


Tanpa berkata apa pun lagi Nisa langsung keluar dari ruangan itu, dia juga tak lupa untuk menutup pintu. Sedangkan Keyran, dia diam dan hanya menatap makanan yang ditinggalkan oleh istrinya.


"Pffttt ... hahaha! Nisa ... Nisa ... sebenarnya apa-apaan kau ini? Dasar konyol, masa seperti ini caramu memberikan perhatian ke suamimu?" Keyran terkekeh.


Astaga, sekarang aku sadar. Aku bodoh karena sempat menganggapmu sebagai orang asing. Padahal aku sudah jelas-jelas mengenalmu. Tak peduli kau Nisa yang manja dan manis ataupun Nisa yang berandalan, kau tetap saja Nisa yang konyol.

__ADS_1


Harusnya aku menyadari ini sedari awal. Dimulai dari sekretaris yang ternyata adalah seorang banci, lalu pakaian Mr. Tiger yang konyol. Semua hal-hal yang konyol itu telah membuktikan kalau itu adalah campur tanganmu.


"Maaf, sudah meragukanmu. Aku kira semua yang kau lakukan dan perhatianmu terhadapku cuma pura-pura demi menutupi identitasmu yang lain. Ternyata aku salah ..."


__ADS_2