
Hari berganti, namun hari ini berbeda dengan hari-hari yang tenang seperti sebelumnya. Keyran mendapat panggilan mendesak dari kantor yang mengharuskan dirinya terlibat dalam pengambil keputusan penting. Alhasil tidak ada pilihan lain selain mengikuti rapat secara virtual.
Rapat virtual itu berlangsung lebih lama dari dugaan Keyran. Karena banyaknya hal-hal yang mesti dipertimbangkan di tiap departemen, terutama departemen pemasaran dan administrasi yang paling banyak menyita waktunya kali ini.
Rapat selesai saat tengah hari, namun karena perbedaan waktu dan wilayah, alhasil di tempat Keyran saat ini rapatnya berakhir pada sore hari. Keyran lalu beristirahat dan makan untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Setelah selesai makan dia masih merasakan penat, untuk mencari hiburan dia mulai teringat akan istrinya yang super heboh itu.
Keyran lalu menuju ke kamar, namun dia tidak menemukan keberadaan Nisa. Dia keluar lalu mencari di ruangan lain, namun dia belum juga menjumpai istrinya itu. Bahkan saat dia berteriak memanggil-manggil nama Nisa tetap saja tidak ada yang menyahut. Sesekali saat berpapasan dengan pelayan dia juga menanyakan dimana keberadaan istrinya, namun semua pelayan yang dia tanyai menjawab tidak tahu.
Ketika dia sampai di bawah, dia terkejut karena melihat Nisa yang baru melangkah masuk dari pintu utama namun jalannya dipapah oleh Louise, dan Louise sendiri juga terlihat membawa tas besar di punggungnya.
"Kau habis dari mana saja?!" tanya Keyran sambil berlari menghampiri Nisa.
"Ck, waktunya pas sekali dia datang." gumam Nisa dengan ekspresi malas.
Louise kemudian memapah Nisa untuk duduk di sebuah sofa panjang yang berada di dekat sana. Tas yang digendong Louise juga diletakkan di bawah.
"Coba taruh kaki Nyonya di atas," pinta Louise yang kemudian mendapat respons tatapan bingung dari Keyran.
"Iya ..." Nisa mengangguk lalu menyelonjorkan kaki kanannya. Begitu Nisa menggulung celana training longgar yang dia pakai, terlihat kakinya yang dibalut dengan perban.
"Kakimu kenapa bisa diperban?!" tanya Keyran dengan ekspresi panik.
"Kena batu." jawab Nisa singkat sambil membuang muka.
"Kau ini ..." Keyran lalu beralih memandang Louise. "Jelaskan padaku!"
"Nyonya mengalami cedera di kaki dan mendapat 5 jahitan. Tadi saya juga kaget karena Nyonya tiba-tiba mendatangi paviliun dan meminta kotak P3K. Awalnya Nyonya bersikeras untuk merawat lukanya sendiri, tapi begitu saya lihat ternyata luka itu perlu dijahit. Saya juga kurang tahu bagaimana Nyonya bisa mendapat luka itu." Louise kemudian menunjuk ke arah tas besar yang ditaruh di lantai. "Nyonya juga membawa tas itu, menurut saya ... Sepertinya Nyonya habis dari hutan hujan yang ada di belakang mansion."
"Begitu ..." Keyran lalu menatap Nisa dengan tatapan sinis. "Buat apa kau pergi ke hutan hah?!"
"Main." jawab Nisa tanpa memandang Keyran.
"Main katamu?! Apa kau tidak bisa normal sedikit? Bisa-bisanya main ke hutan, apa kau tidak takut jika ada ular atau hewan lain yang akan menyerangmu?!"
"Ambil kaca sana! Kau lebih menakutkan dibanding beruang sekalipun!"
"K-kau ...!!"
Seketika suasana menjadi hening namun tegang. Di sisi lain masih ada Louise yang tidak mau ikut campur masalah itu lagi, dia memutuskan untuk segera pergi diam-diam dari sana, meninggalkan sepasang suami istri yang sedang bertengkar itu.
Nisa dan Keyran tak berkata apa-apa saat mengetahui Louise pergi. Namun setelahnya Keyran mengusap wajahnya dengan kasar lalu ikut duduk di sofa dan mendadak menyentil dahi Nisa.
"Humph!" Nisa mengusap dahinya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Maaf karena sudah membentakmu, aku cuma terlalu khawatir. Dan kau si bodoh! Untuk apa kau pergi ke hutan? Lihat yang kau dapatkan sekarang, kakimu terluka karena ulahmu sendiri."
"Aku bosan di dalam rumah terus, dan kau seharian ini juga ada rapat, aku bingung harus berbuat apa dan mengajak bicara siapa. Yang lancar berbahasa di sini selain kau cuma Louise, tapi dia orangnya sangat kaku dan tidak bisa diajak bercanda. Ini semua salahmu!"
"Kenapa jadi salahku? Ada rapat dadakan itu salahku?"
"Bukan soal itu. Jika soal perkerjaan itu memang tanggung jawabmu. Tapi salahmu yang mengajakku liburan ke pulau! Jika saja kita jadi ke Jepang, pasti akan ada banyak festival dan perayaan di sana. Kalau di sini memang segala fasilitas ada, tapi tetap saja aku merasa bosan, orang di sini terlalu sedikit, rasanya sepi seperti kota mati."
"Kau lupa alasanku membawamu ke sini? Ini salahmu gara-gara kabur saat mau berangkat." ucap Keyran dengan nada ketus.
"..."
Sialan, benar juga.
"Haiss ... kalau kau bosan kau bisa jalan-jalan di pinggir pantai. Untuk apa kau sampai ke hutan? Kau juga membawa tas besar, memangnya mau berkemah?"
"Bukan! Aku ke hutan karena mencari sesuatu," Nisa lalu membuka tas besar itu dan mengambil sesuatu yang terlihat dibungkus dengan kertas. Dia lalu menyodorkan benda itu dengan sedikit malu-malu, dengan suara lirih dia berkata, "Ini untukmu."
Keyran menerima barang itu. Namun ketika melihat sesuatu yang terbungkus itu ekspresinya langsung berubah bingung. "Bunga liar?"
Bunga liar itu mempunyai kelompok berwarna kuning dengan bagian tengah kehitaman, daunnya rimbun berbentuk seperti panah berwarna hijau. Saat menatap bunga tersebut untuk sejenak Keyran terdiam, kemudian dia berkata, "Aku ini laki-laki, untuk apa kau memberiku bunga?"
"Memang apa salahnya? Semua orang kan pantas menerima sesuatu yang cantik. Jangan malu, laki-laki juga boleh dapat bunga."
Keyran tersenyum, matanya terus menatap bunga liar itu. "Aku baru sadar ... Ini pertama kalinya dalam hidupku aku menerima bunga."
"Bagus, kan? Kau termasuk beruntung, kebanyakan laki-laki malah menerima bunga pertama mereka di hari pemakaman mereka sendiri."
"Bagaimana bisa kau mengucapkan kalimat semacam itu dengan enteng?"
"Memang ironis, tapi itulah kenyataannya. Dan yang paling membuatku senang adalah aku jadi orang pertama yang memberimu bunga!"
"Kata siapa?" Keyran terkekeh.
"Eh, memangnya bukan?! Tadi katamu ini pertama kalinya kau menerima bunga!"
"Iya, memang pertama kalinya aku menerima bunga. Tapi bukan kau yang pertama kali memberiku bunga. Sebelumnya setiap kali aku meraih pencapaian dan berhasil dalam project pasti mendapat ucapan selamat dan bunga dari mitra bisnis. Aku tidak sungguh-sungguh menerima bunganya, karena setelah kuterima pasti kubuang. Tapi aku tak pernah terpikirkan kalau bunga yang aku terima pertama kali adalah bunga liar, sama sepertimu, wanita liar!"
"Ya-yaa ... aku memang liar."
"Terima kasih," Keyran lalu perlahan menyentuh kaki Nisa yang dibalut perban. "Aku benar-benar berterima kasih, hanya untuk memetik bunga untukku kakimu sampai terluka. Tapi jika kau ingin memberiku sesuatu, apa pun itu, pokoknya utamakan keselamatanmu dulu."
"Hehe ... sama-sama, lagi pula itu sepadan. Tak masalah jika kakiku terluka, ini cuma luka kecil, Louise hanya melebih-lebihkan saja."
__ADS_1
"Bukan luka kecil namanya jika perlu dijahit. Untung saja kakimu, seandainya kepalamu yang terluka, kau bisa saja pingsan dan terlambat mendapat pertolongan. Ini bulan madu kita, oke? Jangan membuat acara bulan madu menjadi pengalaman buruk!"
Raut wajah Nisa berubah murung, kemudian dia menunduk. "Maaf ... Aku sudah membuatmu khawatir, aku hanya ingin memberimu sesuatu sebagai balasan. Kau punya segalanya, dan kau sudah memberikan segalanya yang terbaik itu untukku. Padahal yang ingin aku berikan cuma sebuah bunga, tapi siapa sangka aku harus membayarnya dengan luka di kakiku."
Nisa mendongak dan menatap Keyran dengan senyuman. "Tapi tak apa, bagiku ini memang cuma luka kecil. Sebentar lagi pasti juga sembuh. Yang penting tujuan awalku tercapai, aku bisa memberimu bunga dan membuatmu tersenyum!"
"Lain kali tetap hati-hati!" ucap Keyran sambil mengusap kepala Nisa dengan lembut.
Lebih baik aku tak menerima apa pun darimu jika itu harus membuatmu terluka. Dengan kau baik-baik saja itu sudah cukup untuk membuatku bahagia. Tapi mau bagaimana lagi, istriku ini sulit diatur.
"Iya darling," jawab Nisa dengan senyuman, senyuman palsu.
Padahal cuma luka ringan, tapi dia begitu khawatir seperti ini. Setiap kali aku memikirkannya, aku semakin takut untuk mengakui identitasku. Banyak luka yang pernah aku peroleh jauh lebih parah dari ini, bahkan bukan sekali atau dua kali nyawaku terancam. Aku merasa bersalah padamu, suamiku yang over protektif.
Mendadak Keyran berdiri, menyerahkan bunga liar itu kepada Nisa dan kemudian mengulurkan kedua tangannya. "Sini, aku gendong!"
"Ke mana?"
"Ke kamar, kau harus istirahat agar lukamu cepat pulih!"
Nisa mengangguk, dan Keyran langsung saja membopong istrinya itu menuju ke kamar. Karena kelelahan, tak lama setelah Nisa berbaring di kasur dia pun tertidur.
Keyran menghela napas melihat tampang polos istrinya yang tertidur itu, kemudian dia mengusap kepalanya dan mencium keningnya.
"Ternyata kau bosan. Baiklah, kalau begitu aku akan membuat kejutan untukmu!"
***
Malam harinya, sekitar jam 8 malam lebih Nisa terbangun. Begitu membuka mata, dia melihat Keyran yang baru melangkah masuk kamar sambil membawa nampan makanan.
"Oh ... Putri tidur sudah bangun, baru saja mau aku bangunkan." Keyran berjalan mendekat, meletakkan nampan itu di meja yang berada di samping ranjang. "Ini makan malam mu, makan sendiri atau aku suapi?"
Nisa membisu, dia lalu berusaha untuk turun dari ranjang namun dicegah oleh Keyran. "Kau mau ke mana?"
"Mandi."
"Lukamu tidak boleh terkena air, mau aku bantu?"
"Siapa yang mau kau bodohi? Jika kau membantuku itu akan memakan waktu lebih lama, makananku keburu jadi dingin!"
"Kali ini tidak akan lama, aku janji." ucap Keyran dengan senyuman.
"Huh, cuma hantu yang percaya!"
Akhirnya Nisa pun tetap bersikukuh untuk mandi sendiri. Setelah selesai mandi dan berpakaian, dia lanjut menyantap makan malamnya dengan disuapi oleh Keyran.
"Aku bangun belum lama, tentu saja aku belum mengantuk."
"Bagus, aku punya kejutan untukmu!" Keyran langsung mengambil barang yang sudah dia siapkan sebelumnya. Barang itu adalah 2 pasang sandal jepit dan sebuah kain. Keyran memakai sandal itu dan yang sepasang lagi dia pakaikan di kaki Nisa.
"Ini kejutanmu? Kau ingin couple sandal jepit denganku?"
"Konyol! Kejutannya ada di pantai, jadi pakai sandal jepit biar nyaman. Diamlah dan menurut!"
Keyran menutup mata Nisa dengan kain. Setelah itu dia memunggungi Nisa yang masih duduk di pinggir ranjang.
"Kakimu masih sakit, jadi ayo naik!"
"Naik apa yang kau maksud? Tidak kelihatan, bodoh!"
"Benar juga! Aku ada di depanmu, maksudku ayo naik ke punggungku, aku mau menggendongmu."
Nisa mengulurkan tangannya, lalu perlahan naik ke punggung Keyran. Namun dia tidak berpegangan erat karena malas.
"Pegangan yang erat!" pinta Keyran yang seketika membuat Nisa mengeratkan rangkulan tangannya. "Ukhh ... leherku! Kau mau jadi janda?!"
"Hehe ... maaf, habisnya tingkahmu absurd."
Keyran menggendong Nisa menuju ke pantai. Sesampainya di sana, dia perlahan menurunkan Nisa lalu berjalan menjauh. Dia masih belum memperbolehkan Nisa membuka penutup mata, dan setelah beberapa menit kemudian dia berteriak, "Sekarang boleh buka!"
Nisa melepas kain yang menutup matanya, begitu penutup terlepas dia langsung dikejutkan oleh Keyran yang berdiri tepat di depannya. Keyran berdiri di dalam ukiran pasir berbentuk hati, yang di samping kiri kanannya terdapat huruf I dan U, ukiran pasir itu bermakna "I LOVE U".
Begitu Nisa memandang ke arah lain, dia melihat pantai yang dihiasi oleh lampion gantung warna-warni, pohon-pohon kelapa yang batangnya dililit oleh lampu kelap-kelip yang di tengahnya terdapat hammock jaring, beberapa buah tenda besar dengan api unggun, beberapa sling chair yang di sebelahnya terdapat payung, sebuah gubuk yang didesain mirip bar, serta ada para pelayan yang berlalu lalang berpakaian kemeja bermotif bunga.
Nisa kebingungan, dia masih melongo karena merasa menghadiri acara beach party. Di tengah kebingungan itu tiba-tiba Keyran tersenyum, dia lalu menyodorkan buket bunga mawar merah yang sebelumnya dia sembunyikan di belakang.
"Nisa, aku mencintaimu!"
Nisa tersenyum semringah, tanpa memedulikan kakinya yang sakit dia langsung berlari ke arah Keyran lalu memeluknya dengan erat. "Terima kasih, Key! Kejutan ini luar biasa!"
"Apa sekarang kau masih bosan?"
"Tidak," jawab Nisa yang kemudian mengambil bunga itu dari tangan Keyran. "Kau yang menyiapkan semua ini?"
"Tentu saja, semuanya aku siapkan sendiri!"
Semua pelayan yang mendengar hal itu langsung menghentikan aktivitasnya dan hanya menatap Keyran. Nisa yang menyadari hal itu mulai menahan tawa.
__ADS_1
"Apa kalian lihat-lihat?! Kerjakan bagian kalian!" Keyran lalu membalas pelukan dari Nisa, namun raut wajahnya cemberut. "Kau tidak percaya padaku?"
"Haha, percaya! Aku sangat percaya pada suamiku!"
Keyran membelai wajah Nisa lalu mencium keningnya. Dia kembali membopong istrinya itu dan berjalan menuju ke arah gubuk yang didesain seperti bar. Ketika sampai di sana, Nisa dibuat terkejut oleh penampilan Louise sebagai bartender. Louise juga mengenakan kemeja motif bunga dengan kalung rangkaian bunga.
"Wah ... Louise memang totalitas dalam bekerja~" ucap Nisa sambil mengedipkan matanya.
"Terima kasih Nyonya, ini memang pekerjaan saya." jawab Louise dengan wajah memerah, dia merasa malu karena berpenampilan terbalik dengan image nya.
"Louise, tolong buatkan aku cocktail campuran white rum ..."
"Tidak boleh!" ucap Keyran sambil menatap Nisa dengan sinis.
"Cih," Nisa teringat kalau dia dilarang minum minuman beralkohol. Dia memalingkan wajahnya lalu menatap buket bunga sambil berkata, "Mocktail campuran sirup almond ..."
"Nah, itu baru benar!"
"Iya, untung kau ingatkan."
Keyran sangat berharap agar aku hamil. Tapi apakah akan berhasil jika begituan setiap hari? Hah ... namanya juga bulan madu.
Tak lama kemudian mocktail pesanan Nisa jadi. Dia meneguk hingga tersisa setengah, kemudian dia berkata, "Key, bagaimana jika nanti tiba-tiba hujan?"
"Tidak akan, ramalan cuaca hari ini baik, pasang air laut juga sudah diperhatikan. Kau tak perlu mencemaskan apa pun."
Mereka menghabiskan waktu cukup lama untuk berbincang di gubuk. Lalu Keyran mengajak Nisa untuk berpindah tempat ke pinggir pantai. Di dekat sebuah tenda, mereka duduk di dekat api unggun.
Keyran lalu menyuruh salah satu pelayan untuk menyiapkan panggangan beserta bahan. Mereka berdua memanggang sosis dan daging, mereka juga saling menyuapi begitu makanan itu matang.
Nisa menyandarkan kepalanya pada bahu Keyran, sebelah tangan Keyran juga merangkul tubuh Nisa. Tidak ada percakapan di antara mereka, namun mereka begitu menikmati momen ini.
Diterpa oleh angin laut yang sejuk, suara deburan ombak, langit malam yang cerah, hamparan bintang-bintang yang gemerlap di langit tanpa adanya bulan, api unggun yang hangat, sungguh momen yang sempurna untuk memadu cinta.
"Nisa, lihat ke atas!"
"Hm?" Nisa menengadah, Keyran menunjuk ke arah langit yang memperlihatkan keindahan bima sakti yang terang.
"Kau lihat rasi bintang yang bentuknya melengkung itu?"
Nisa mengangguk.
"Namanya Corona Australis, artinya mahkota selatan. Menariknya rasi bintang ini punya pasangan, yaitu mahkota utara atau Corona Borealis. Bagaimana jika kapan-kapan kita liburan ke benua yang ada di utara agar bisa melihatnya?"
"Boleh, asalkan bersamamu ke mana pun juga boleh! Bicara soal rasi bintang, aku pernah ..." mendadak Nisa tertegun dan teringat akan sesuatu.
Aku pernah melalui hal yang serupa dengan sekarang. Dulu aku dan Ricky juga berkemah dan membahas tentang rasi bintang, tapi bedanya di puncak.
Sialan, apa yang aku pikirkan?! Ini bulan maduku dengan Keyran, bisa-bisanya aku kepikiran Ricky, ini salah!
"Kau pernah apa?" tanya Keyran penasaran.
"Tampar aku, Key!"
"Apa?! Untuk apa aku menamparmu?"
"Tampar saja! Supaya rasa bersalahku hilang!"
"Memangnya kau salah soal apa?"
"Aku punya pikirkan yang salah!"
"..." Sejenak Keyran tertegun, kemudian dia mencubit pipi Nisa. "Kau berpikiran mesum ya~ Istriku memang liar, ingin melakukannya di alam bebas~ Imajinasimu boleh juga, tapi kakimu masih sakit, malam ini kita libur~"
"Humphh ..."
Terserah, aku malas. Jika aku menjelaskan yang sebenarnya, yang ada Keyran akan marah.
Mendadak Nisa menunjuk ke langit. "Key, lihat rasi bintang yang mirip salib itu!"
"Hm?"
"Namanya Southern Cross, rasi bintang terkecil yang biasanya dikenal dengan salib selatan. Berlawanan juga dengan salib utara, rasi bintang Cygnus. Alam semesta itu penuh keajaiban ya, banyak hal-hal yang diciptakan berpasangan."
"Kita juga berpasangan! Sampai kapan pun juga akan tetap berpasangan, mau kau di selatan sedangkan aku di utara, apa pun itu sebutannya yang pasti kita selamanya tetap bersama!"
"Dasar gombal! Tapi ... apa kau sungguh akan tetap bersamaku selamanya?"
"Tentu!" Keyran meraih wajah Nisa lalu mengusap pipinya. "Kau mau bertanya sebanyak apa pun, jawabanku akan tetap sama. Aku mencintaimu Nisa, untuk sekarang dan seterusnya."
Wajah Nisa memerah, dia lalu menutup mata saat Keyran mulai semakin mendekat. Begitu merasakan sentuhan pada bibirnya, dia langsung merangkul leher Keyran dan menyambut ciuman itu.
Key, cintamu begitu tulus. Kau tak pernah mengharapkan balasan apa pun dariku selain cintaku. Terlepas dari bulan madu ini akan berbuah kehamilanku yang selalu kau harapkan atau tidak. Tapi satu hal yang pasti, bagiku bulan madu ini adalah bulan madu yang sempurna.
...๐น๐น๐น๐น๐น ...
Hallo semuanya yang membaca karyaku. Author cuma mau bilang kalau episode "Perfect Honeymoon" telah usai. Author mohon maaf karena balakangan update lama, ujian semesteran baru selesai, akan author usahakan update lebih giat lagi.
__ADS_1
Sekedar informasi, novel Usaha Pelarian Seorang Istri belum mendekati tamat. Karena author sudah menyiapkan alur yang sedari awal tidak berubah. Sesuai judul, novel ini hanya akan tamat ketika Nisa sudah tidak kabur-kabur lagi. Penasaran Nisa akan kabur karena apa? Nantikan terus perkembangan novel ini!