Usaha Pelarian Seorang Istri

Usaha Pelarian Seorang Istri
Bab 12. Penawaran


__ADS_3

Nisa langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. "Ayah tenang dulu, jangan teriak-teriak! Aku masih di jalan, banyak orang di sini. Kalau ayah ingin bicara hal penting, aku akan cari tempat yang sepi dulu!"


"Oke, cepatlah!" ucap ayahnya dengan tidak sabar.


"Iya, sabar!"


Nisa kemudian berjalan memasuki sebuah gang yang sepi dekat tempat ia berada.


"Ayah, aku sudah menemukan tempat yang sepi. Ayah sudah boleh bicara." ucap Nisa dengan suara pelan.


"Bocah sinting! Dari mana kau dapat uang sebanyak ini? Apa kau sudah menjual dirimu sendiri?" teriak ayah yang terdengar penuh kemarahan.


"Hei! Aku bilang ayah bisa bicara, bukan berteriak padaku! Lagipula mana mungkin aku mau menjual diriku sendiri!?" jawab Nisa sambil berteriak.


"Lalu bagaimana caramu mendapatkan uang itu?"


"Ayah tenang saja, aku tidak mencuri atau memeras orang. Aku mendapatkan uang itu dengan cara yang benar."


"Katakan padaku yang sebenarnya bagaimana kamu bisa mendapat uang itu!"


"Soal itu ... aku pikir ayah tidak perlu tahu!"


"Apa kamu membobol bank?"


"Mana mungkin! Apa aku terlihat seperti perampok?"


"Kauu bisa saja melakukannya. Cepat katakan pada ayah! Atau ayah akan membakar uang yang sudah kamu berikan! Ayah enggan menyimpan uang kotor!"


"Hey, jangan dibakar! Aku mendapatkannya dengan kerja keras. Sangat sulit memohon pada seseorang untuk meminjamkan uang sebanyak itu!"


"Jadi kau berhutang pada seseorang! Siapa orang itu? Kenapa dia baik sekali meminjamkan uangnya padamu?"


"Dia orang kaya yang baik hati," jawab Nisa dengan nada malas.


"Oh baguslah, kukira kau berniat untuk kembali jadi penerus seperti dulu lagi. Ayah sangat berharap kau tidak terjun ke underground lagi, karena ayah sendiri pun sudah memutuskan untuk pensiun."


"Iya aku tahu, ayah tak perlu menceramahiku. Tapi ayah, kira-kira butuh waktu berapa lama untuk melunasi hutang itu? Maksudku jika aktivitas perusahaan difokuskan untuk itu."


"Jika kita sudah melunasi hutang dari perusahaan sebelumnya, maka perusahaan besar itu tidak akan menekan perusahaan kita lagi. Dan kalau aktivitas perusahaan kita berjalan lancar, kira-kira satu bulan itu cukup. Tapi itu juga tergantung seberapa besar bunganya."


"Bagus! Ayah tenang saja, orang itu tidak memberikan bunga sedikit pun!"


Untunglah cuma sekitar satu bulan, saat itu pasti tugas proyek percobaan sudah selesai dan aku juga akan melunasi hutang itu. Aku tak mau terikat lebih lama lagi dengan pak CEO.


"Itu aneh, kenapa tidak memberikan bunga?"


"Ayah tidak perlu curiga, aku kan sudah bilang kalau orang itu adalah orang kaya yang baik hati. Aku juga sudah memastikan kalau tidak ada syarat aneh yang aku harus penuhi. Jadi kita bisa lebih tenang sedikit."


"Baiklah kalau begitu. Kau cepat pulang! Jangan keluyuran terus!"


"Iya-iya ... ini juga mau pulang. Dah ayah!"


TUT TUT ...


Panggilan telepon berakhir. Nisa yanh sudah selesai bicara dengan ayahnya dia langsung bergegas berjalan pulang.


***


Hari berganti, esok harinya Nisa tetap bekerja sebagai sekretaris seperti hari-hari sebelumnya. Tetapi hari ini dia tampak gelisah, hanya mondar-mandir tidak jelas di ruangannya.


"Hmm ..." gumamnya.


Ini aneh. Kenapa hari ini pak CEO tidak memberiku tugas seperti biasa? Apa jangan-jangan dia menungguku untuk meminta kepadanya? Iya, mungkin saja dia sedang mengujiku apakah aku aktif atau tidak! Gawat! Aku harus cepat-cepat ke ruangannya!


Setelah Nisa menyadari hal itu, dia langsung bergegas menuju ruangan CEO. Tapi dia dikejutkan dengan seseorang yang sedang berdiri di depan pintu ruangan Keyran.

__ADS_1


"Eh!? Kamu ... Nona artis?"


Pak CEO memberikanku tugas untuk menghalangi semua wanita yang mencoba masuk ke ruangannya, pantas saja dia tidak memberi aku tugas lainnya. Ternyata wanitanya sejenis jelmaan kutu pengganggu seperti ini!


"Namaku Anastasia Amanda. Lain kali panggil aku Nona Amanda!" ucap Amanda dengan ketus.


Kurang ajar! Berani-beraninya dia melupakan namaku!


"Baiklah, Nona artis. Eh, maksudku Nona Amanda ... jika Nona ingin bertemu dengan pak CEO, maaf sepertinya Anda tidak bisa. Silakan coba lagi tahun depan, eh maksud saya besok," ucap Nisa dengan senyuman.


"Hari ini aku memang tidak berencana untuk bertemu dengannya," jawab Amanda.


"Lalu kenapa Nona berdiri di depan pintu ruangan pak CEO?"


Apa sih? Orang ini nggak jelas banget!


"Aku datang kemari karena ingin bicara denganmu!"


"Kalau Nona ingin bicara dengan saya sebaiknya kita bicara di ruangan saya saja."


"Baiklah, setidaknya kau masih punya sopan santun!"


Dasar sekretaris baru! Akan aku buat kamu meninggalkan perusahaan ini!


Nisa kemudian pergi bersama Amanda menuju ke ruangannya yang letaknya tidak jauh dari ruangan Keyran.


"Sudah sampai, silakan masuk Nona ..." Nisa mempersilakan masuk dengan sopan.


"Apa!? Ternyata ruanganmu berada di samping ruangan Keyran!" teriak Amanda yang kaget.


"Tentu saja, saya kan sekretarisnya. Jadi jarak ruangan yang dekat akan mempermudah pekerjaan. Nona silakan masuk dan bicara, saya masih ada tugas lainnya," ucap Nisa dengan senyum terpaksa.


Cepat pergi sana sialan! Aku nggak mau lama-lama bicara denganmu!


"Tsk!" Amanda berdecak kesal sambil bergegas masuk ke ruangan.


"Segera tinggalkan perusahaan ini!"


"Apa maksudnya itu?" tanya Nisa dengan tatapan sinis.


Orang ini! Aku perlakukan dengan baik malah kurang ajar! Dasar jelmaan kuntilanak!


"Aku akan memberimu tiga ratus juta kalau kamu meninggalkan perusahaan ini," ucap Amanda dengan nada serius.


"Jelaskan padaku kenapa aku harus meninggalkan perusahaan ini!"


"Aku bisa memberimu uang, asalkan kamu menjauh dari Keyran dan meninggalkan perusahaan ini secepat mungkin!" jelas Amanda.


"...." Nisa tertegun.


Sekarang aku paham, ternyata orang ini menyukai pak CEO dan dia menganggap aku sebagai ancaman untuknya. Kasihan, jika aku tidak salah tebak pasti orang ini bertepuk sebelah tangan. Tapi aku sudah lama geram dengan sifat orang ini yang seenaknya. Lihat bagaimana aku akan memerasmu!


"Bagaimana, sudah kau pikirkan?" tanya Amanda.


"Tiga ratus juta ya ... Itu terlalu sedikit!"


"Lalu berapa yang kamu minta?"


"Heh." Nisa menyeringai.


Hmmm ... sepertinya orang ini banyak uang. Kurang ajar sedikit tidak masalah, kan? Ini akan menjadi sedikit menarik~


"Tiga miliar. Jika kau memberiku tiga miliar maka aku akan meninggalkan perusahaan ini sekarang juga. Tertarik dengan penawaranku?" tanya Nisa dengan alis terangkat sebelah.


"Itu terlalu banyak! Untuk apa orang sepertimu membutuhkan uang sebanyak itu?"

__ADS_1


"Aku seperti ini juga banyak pertimbangan. Coba kau pikir, gaji di sini sangat tinggi apalagi dengan posisiku sebagai sekretaris, belum lagi jika aku lembur pasti gajiku akan berlipat ganda. Lalu masih ada bonus dari CEO, bukankah itu semua sepadan? Terlebih lagi ... tidak menutup kemungkinan jika pak CEO lama-kelamaan tertarik padaku."


Hehehe, jika aku berhasil maka aku bisa membayar hutangku pada pak CEO, lalu aku masih dapat untung satu miliar. Tapi kalimatku yang terakhir tadi cuma untuk menggertak, aku tidak mau jika itu sampai terjadi karena aku punya Ricky.


"Bukankah kau baru mulai bekerja? Mana mungkin kamu dapat gaji sebanyak itu? Lagi pula aku juga bisa memberi tahu Key tentang sifatmu yang seperti ini, dia pasti akan langsung memecatmu!" gertak Amanda yang tak mau kalah.


Sekretaris busuk ini ingin memerasku! Kamu pikir aku tidak tahu? Aku sudah masuk ke dunia kerja lebih dulu daripada kamu. Aku sudah mengancam kamu menggunakan nama Keyran, aku ingin melihat apakah kamu bisa seenaknya lagi padaku?


"Silakan saja kalau ingin melapor. Kemarin pak CEO juga memberiku uang yang tak kalah banyak dengan yang aku minta kepadamu barusan," ucap Nisa dengan percaya diri.


Hoho, ternyata ingin mengancamku balik~ kelicikanmu masih terlampau jauh dibelakangku!


"Apa?!" Amanda terkesiap.


Keyran sudah tahu sifatnya tapi masih membiarkan dia bekerja disini. Ini tidak bisa dibiarkan, terlalu berbahaya jika membiarkan sekretaris baru ini tetap disini. Aku harus cepat-cepat mengusirnya!


"Kenapa diam?"


"Baiklah, aku akan memberimu satu miliar. Bagaimana? Apa kau bisa meninggalkan perusahaan ini?"


"Satu miliar ya ... baiklah, aku bisa meninggalkan perusahaan ini dengan uang satu miliar. Tapi aku tidak bisa menjamin kalau aku berhenti mendekati pak CEO. Itu sih tergantung pilihanmu~"


"Kurang ajar!" teriak Amanda penuh amarah.


"Oke-oke, kalau begitu aku turunkan jadi dua miliar. Jika kamu memberikan aku dua miliar maka aku akan pergi dari perusahaan ini dan menjauhi pak CEO. Kau sanggup, kan?"


Aku menurunkannya karena aku kasihan padamu, kau sepertinya sangat menyukai pak CEO, dan aku melakukan semua ini juga demi orang yang aku sukai. Lagipula kau salah paham, aku sama sekali tidak tertarik dengan Keyran milikmu itu.


"Itu masih terlalu banyak!"


"Terlalu banyak? Jangan-jangan semua barangmu itu merk kw, ya?" tanya Nisa dengan nada menyindir.


"Kau!! Aku muak denganmu!!" Tiba-tiba Amanda berdiri lalu pergi.


"Lah? Cuma segitu tidak tahan."


Sepertinya orang itu benar-benar emosi, atau apa aku yang kelewatan? Masa bodoh, aku lanjut kerja saja ketimbang berpikir soal ini.


***


Tiba saatnya pulang kerja. Ketika melewati alun-alun kota, Nisa tak sengaja menghentikan langkahnya dan memandang sebuah kedai kopi. Kedai itu bertuliskan "Cida House"


Nisa tertarik dengan kedai itu, tetapi langkahnya tertahan karena memikirkan sesuatu.


"Hmm ... sudah lama aku tak melihatnya. Aku penasaran bagaimana kabarnya Dika, Marcell dan anak-anak yang lain. Dulunya kita satu geng, tapi aku sudah memutuskan untuk berhenti sejak 2 tahun lalu demi Ricky. Rasanya kurang etis jika sekarang aku mengunjunginya," gumam Nisa.


Tapi, entah kenapa perasaanku tidak enak. Rasanya sangat sesak, seakan-akan aku ingin kembali bebas seperti dulu lagi.


Nisa lalu menepuk pipinya sendiri. "Nisa bodoh, buang jauh-jauh pikiran itu! Aku sudah janji pada Ricky untuk berhenti, jangan membuatnya kecewa lagi!" ucapnya yang berusaha menyugesti dirinya sendiri.


BUZZ BUZZ ...


BUZZ BUZZ ...


Ponsel Nisa berdering, dia langsung mengeceknya dan ternyata itu telepon dari adiknya, Reihan.


"Apa sih, Rei? Ada apa kok tumben telepon?" tanya Nisa dengan nada kesal.


"Kak Nisaaa! Cepat pulang!" teriak Reihan yang terdengar panik.


"Kenapa?"


"Kebakaran!! Kakak cepat pulang!!"


"Hah!? Iya-iya, ini mau pulang!"

__ADS_1


TUT TUT ...


"Sial, kenapa sekarang malah ada musibah begini?!" Nisa langsung berlari secepat mungkin.


__ADS_2