
Setelah Keyran dan Nisa menyelesaikan sesi berfoto, mereka berdua langsung mengurus hal lainnya. Karena pekerjaan Keyran yang cukup sibuk, maka persiapan pernikahan juga memakan banyak waktu. Untungnya semua persiapan sudah selesai saat menjelang satu hari sebelum pernikahan. Merasa semuanya sudah beres, Keyran dan Nisa memutuskan untuk menjalani kegiatan masing-masing.
"Hmm, hari ini untuk pertama kalinya aku merindukan pak Erwin!" Ucap Nisa dalam hati sambil terus memperhatikan pelajaran.
Besok adalah hari pernikahanku dengan si brengsek. Apa mungkin setelah menikah aku masih bisa terus kuliah? Mungkin saja hari ini adalah hari terakhir aku kuliah, makanya aku mulai merindukan semua hal yang berhubungan dengan universitas ini.
"Hah...." menghela napas.
Kalau dipikir-pikir... aku ini aneh sekali! Saat masih ada kesempatan untuk kuliah aku sering bolos, tapi saat tahu kalau kesempatan itu hilang aku mulai sedikit menyesal. Ya mau gimana lagi, hidup memang seperti ini...
"Jenny, nanti habis kelas selesai jangan keluar dulu ya!" bisik Nisa di telinga Jenny.
"Oke..." jawab Jenny.
Tak lama kemudian kelas selesai
"Eh!? Kalian nggak keluar?" tanya Isma.
"Sini Is, gue mau ngomong sesuatu sama kalian berdua," ucap Nisa dengan wajah murung.
"Oke, kita bakal dengerin kok..." sahut Jenny.
"Kalian berdua kan teman akrabku, jadi... aku berencana mengundang kalian di pernikahanku besok. Ini surat undangannya..." Nisa lalu menyerahkan undangan pada kedua temannya.
"Hah!? Ini beneran?" Teriak Jenny dan Isma bersamaan.
"San, kok bisa sih? Lo kan baru putus sama Ricky, kok bisa-bisanya lo mau nikah," ucap Isma seakan tidak percaya.
"Yup, mana mendadak banget! Emangnya ada apa sih?" sahut Jenny.
"Baca dulu dong! Itu bukan Ricky, tapi orang lain. Soal kenapa mendadak itu... kalian tahu lah, masalah kehidupan. Kalian berdua paham kan?"
"Tunggu dulu, apa ini alasan lo putus sama Ricky? Apa dia tahu tentang ini?" tanya Isma.
"Dia nggak tahu, tapi cepat atau lambat dia pasti akan tahu. Intinya kalian paham, kalau gitu aku pergi. Bye semuanya!" Nisa lalu berjalan pergi.
Saat Nisa akan pulang, dia tidak pernah menyangka kalau dia sudah ditunggu oleh seseorang di depan gerbang kampus. Nisa yang menyadari hal itu, dia langsung berusaha untuk berlari secepat mungkin.
"I-itu... Ricky! Gawat...! Cepat lari!" Nisa berlari keluar secepat mungkin dan dia berhasil melewati Ricky.
"Nisa! Berhenti kabur dariku! Jangan lari!" Teriak Ricky sambil berlari mengejar Nisa.
"Kau bodoh! Untuk apa terus mencariku? Berhenti mengejarku!" Teriak Nisa sambil menoleh ke belakang.
"Nggak akan!"
Saat Nisa akan menyeberang jalan, tiba-tiba ada kendaraan yang melintas. Ricky yang menyadari hal itu langsung berusaha berlari lebih cepat untuk menyelamatkan Nisa.
"Nisa! Awas!" Teriak Ricky dengan panik.
Piimm.... piimm.... Suara klakson.
"Kyaaa....!" Nisa berteriak karena kaget.
"Dapat!"
Ricky akhirnya berhasil menyusul dan sempat menarik Nisa tepat waktu, mereka berdua terjatuh bersamaan di pinggir jalan raya. Nisa terjatuh dalam pelukan Ricky dan dia menindih Ricky tepat di atasnya. Sementara itu, Ricky yang posisinya di bawah terus memeluk Nisa dengan erat meskipun dia sendiri sedikit merasakan sakit karena tergores aspal.
Brugh....!
"R-Ricky....?" Ucap Nisa dengan tubuh yang gemetar karena masih syok.
"Nisa, kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Ricky dengan nada khawatir.
"A-aku baik-baik aja..."
"Syukurlah... Lain kali kalau lari lihat ke depan! Untung saja aku menarikmu tepat waktu, kalau nggak... Membayangkannya saja sudah membuatku takut! Nisa, kamu jangan mencoba menghindar lagi dariku ya?" Ucap Ricky sambil terus memeluk erat Nisa.
"....."
Ricky, kenapa kamu menarikku? Setidaknya jika tertabrak aku masih bisa mengulur waktu untuk menunda pernikahanku. Dan aku berulang kali menyakitimu, tapi kamu malah menyelamatkan aku. Sekarang bertatapan denganmu aku bahkan merasa sangat malu!
Lalu tak lama kemudian orang-orang mulai berkerumun karena mendengar teriakan dari Nisa.
"Wah... lihat tuh! Itu bukannya yang barusan mau tertabrak?" Ucap seseorang.
"Iya, tapi mereka sedang apa? Kenapa malah bermesraan seperti itu?"
"Asik nih! Hiburan gratis!"
"Kalian semua pergilah! Tinggalkan kami!" Teriak Ricky.
"Emangnya ada apa...?" Gumam Nisa.
Eh!? P-posisi ini...! Posisi ini sedikit ambigu! Habislah aku! Semua orang-orang ini melihatnya! Gawaattt...
"Ricky, lepaskan aku!" Wajah Nisa memerah.
"Nggak! Nanti kamu pasti kabur lagi!" Ricky memeluk semakin erat.
"Ricky.... ada banyak orang disini, apa kamu nggak malu?" Ucap Nisa sambil meronta.
"Selama itu kamu aku nggak malu~ Lagipula, kita juga sudah lama nggak seperti ini, jadi berhentilah memberontak~ Nikmati saja keadaan ini..." ucap Ricky sambil meringis.
__ADS_1
"Ini bukan saatnya bercanda! Ricky, lepaskan aku!"
"Nisa, kamu malu ya? Kalau iya, mendekaplah padaku dan sembunyikan wajahmu itu~ Ayo, peluk aku~"
"Uuhh... Ricky!" Nisa tersipu malu lalu dia mendekap di dada Ricky untuk menyembunyikan wajahnya.
"Penurut sekali~ Oh iya! Aku nggak nyangka kamu ringan sekali, padahal dulu nggak seringan ini~ kamu diet ya?" Ejek Ricky.
"Ricky! Kamu keterlaluan! Cepat lepaskan aku!" ucap Nisa sambil mencubit punggung Ricky.
Hiks! Harga diriku di depan orang-orang sudah hancur! Sialan, kenapa harus di tempat umum sih!?
"Aawww~ Mau main cubit manja ya? Oke, aku ladeni!" Ucap Ricky dengan senyum jahat.
Ctak....! Suara jepretan tali bh.
"Ricky! Apa kamu sudah gila!?"
"Iya, aku gila! Kamu sendiri yang membuatku tergila-gila padamu!"
"Uuhh.... Terserah!"
"Kalau terserah, kita seperti ini saja sepanjang hari! Aku nggak keberatan kok!"
"Oke, fine! Kamu menang! Aku janji nggak akan menghindar lagi! Puas?"
"Nah, seharusnya dari awal begitu!"
Setelah Ricky melepaskan pelukannya, Nisa bergegas langsung berdiri. Karena kepeduliannya, Nisa langsung menuntun Ricky untuk berdiri.
"Ehem, maaf ya semuanya... pacarku memang sedikit nakal~ Karena tadi pacarku sedang rewel, maka saya harap orang-orang sekalian dapat memakluminya! Kalian semua bisa pergi!" Ricky tersenyum dan melirik ke arah Nisa.
"Hmph!" Nisa mendengus dan memalingkan wajahnya.
Setelah orang-orang mendengar penjelasan dari Ricky, mereka semua akhirnya bubar dan meninggalkan Nisa dan Ricky. Lalu tiba-tiba Ricky menggandeng tangan Nisa dengan erat seakan seperti tidak akan melepasnya.
"Eh!? Ricky, tanganmu berdarah!" Nisa terkaget.
"Oh, ini bukan apa-apa, cuma sedikit tergores. Ayo kita bicara serius, kamu harus memberiku penjelasan!"
"Nggak! Ini harus diobati, cepat ikut aku!" paksa Nisa.
Nisa lalu menarik Ricky dengan paksa menuju ke ruang kesehatan. Saat Nisa akan mengobati tangan Ricky, tiba-tiba ada suatu barang yang kurang. Begitu menyadari hal itu, Nisa langsung bergegas untuk mencari barang tersebut.
"Kain kasa-nya habis, aku pergi dulu!" Nisa lalu berdiri.
Ricky tiba-tiba menahan tangan Nisa "Tunggu! Jangan mencoba untuk kabur!" Ucap Ricky dengan tatapan sinis.
"Hah...." Nisa menghela napas lalu meletakkan barang-barangnya "Tas, hp, semua barangku aku tinggal disini. Aku sudah berjanji padamu kalau aku nggak akan kabur, percaya padaku aku segera kembali!" Nisa lalu berjalan pergi.
Buzz... Buzz...
Buzz... Buzz...
Buzz... Buzz...
Buzz... Buzz...
"Aaahh! Apa aku angkat saja? Jangan-jangan ini penting!" Ricky lalu mengambil handphone milik Nisa.
"Eh!? 'Si Brengsek Cepatlah Mati' haha, nama macam apa ini? Ternyata kebiasaan Nisa belum berubah!" Ricky kemudian mengangkat panggilan yang masuk.
"Akhirnya kau angkat telepon dariku! Cepat temui aku di Galaxy Square Hall! Awas saja kalau terlambat!" Teriak Keyran seakan terdengar sangat marah.
Tut... tut...
"Apa-apaan orang ini? Pantas saja namanya jadi si brengsek!" keluh Ricky.
"Ada apa? Kenapa kamu pegang hpku?" Tanya Nisa yang tiba-tiba kembali.
"Maaf... tanpa seizinmu aku angkat panggilan yang masuk, aku kira itu penting karena dia berulang kali meneleponmu. Panggilan itu dari 'Si Brengsek Cepatlah Mati' saat aku angkat, dia terdengar sangat marah" jelas Ricky.
"Apa!? Dia bilang apa padamu?" Nisa tersentak dan langsung mendekat ke arah Ricky.
Gawat kalau sampai si brengsek itu bicara yang nggak-nggak!
"Kamu harus segera menemuinya di Galaxy Square Hall, begitu dia bilang..."
"Cuma itu?"
"Iya, cuma itu. Apa kamu ingin segera menemuinya?" Tanya Ricky dengan nada kecewa.
Tadi itu suara seorang pria, apa dia yang menjadi alasan Nisa minta putus denganku?
"Hah..." Nisa menghela napas lalu tiba-tiba memegang tangan Ricky dan mulai membersihkan lukanya.
"Nisa, apa kamu nggak kesana? Tadi dia terdengar sangat marah dan mengancammu kalau kamu harus cepat-cepat menemuinya..." ucap Ricky dengan senyum pahit.
"Tsk! Berhentilah bicara! Jangan pedulikan dia, bagiku mengurus lukamu lebih penting!"
Setelah mendengar ucapan dari Nisa, Ricky langsung kembali sumringah. Melihat Nisa yang sangat perhatian padanya, dia merasa masih ada kesempatan untuk kembali bersama Nisa. Sementara itu Nisa hanya fokus pada lukanya Ricky, dia mengobatinya dengan sangat hati-hati.
Nisa, jelas sekali kalau kamu mencintaiku! Kamu sangat khawatir padaku hanya karena luka sekecil ini. Cintamu padaku terlihat jelas dari perbuatanmu.
__ADS_1
"Ricky, apa ini sakit?" tanya Nisa dengan nada khawatir.
"Haha, kamu lucu sekali, aku ini dokter. Luka sekecil ini bukan apa-apa untukku, lagipula... kamu mengobatiku dengan penuh perasaan, mana mungkin aku merasa sakit~" ucap Ricky sambil mencubit pipi Nisa.
"Hum! Hau haham hamu hoter, ahi heheti heuit ihiu!" ucap Nisa dengan tatapan sinis.
(Hmph! Aku paham kamu dokter, jadi berhenti mencubit pipiku!)
"Ututu~ kamu manis sekali~ tapi ekspresimu tidak cocok dengan cara bicaramu~" ucap Ricky dengan senyum nakal.
"Huh!" Nisa tidak peduli dan langsung melanjutkan mengobati luka Ricky sampai selesai.
"Nisa, jika tahu akan seperti ini, seharusnya aku melukai diriku sendiri sejak awal. Setidaknya kamu nggak akan menghindar dariku...." Ricky tersenyum lalu mengelus kepala Nisa.
"Maaf...." ucap Nisa seakan terdengar sangat menyesal.
"Kenapa minta maaf?"
"Maaf, ini semua salahku... aku yang sudah membuatmu terluka seperti ini..." Nisa lalu menundukkan kepalanya.
"Aku sudah bilang ini cuma luka kecil, kamu nggak perlu merasa bersalah. Tapi, luka yang kamu buat di hatiku sangat parah, kamu juga harus mengobatinya!"
"Maaf... aku mungkin nggak bisa..."
"Kenapa nggak bisa? Beritahu aku alasannya!"
"Maaf..."
"Cukup Nisa! Yang aku butuhkan itu penjelasan, bukan maaf darimu! Apa sampai akhir kamu akan terus bungkam?"
"Maaf..."
"Hah... sudah cukup! Apa kamu tahu, beberapa hari ini aku terus memikirkan sebenarnya ada apa denganmu. Dan aku berpikir, aku terima jika kamu minta putus dariku, tapi setidaknya aku mohon... aku mohon dengan sangat tolong berikan aku penjelasan!"
"Bukankah saat itu sudah aku berikan? Aku terlalu malas untuk mengulangi perkataanku lagi!"
"Nggak! Itu bukan penjelasan, semua itu hanya alasan palsu! Aku mohon, berikan aku penjelasan yang masuk akal! Bahkan jika itu artinya kamu sudah berbuat kesalahan, aku pasti bisa menerimanya... karena aku mencintaimu, aku bisa menerimamu apa adanya...." ucap Ricky dengan senyum pahit.
"...." Nisa hanya diam dan menggigit bibirnya sendiri.
Ugh... aku nggak tahu harus bilang apa? Semua ini juga sangat menyakitkan untukku... tapi Ricky mencintaiku dengan tulus, aku nggak tega mengatakan yang sebenarnya kalau aku akan menikah. Bahkan tanpa dia sadari, dia sudah bicara dengan calon suamiku.
"Cukup! Jangan gigit bibirmu sendiri! Kalau ini terasa sulit untukmu, maka jangan dikatakan! Aku tahu kalau kamu juga mencintaiku, aku nggak ingin melihatmu menyakiti dirimu sendiri. Aku akan mencoba sebisaku untuk memahamimu, aku yakin cepat atau lambat aku bisa paham alasanmu berbuat seperti ini!" ucap Ricky sambil mengusap wajah Nisa.
"M-makasih... sudah mengertiku, dan maaf... aku nggak bisa kasih kamu penjelasan. Tapi, apa pun itu aku sangat bersyukur karena kamu mencintaiku sampai seperti ini... aku pasti akan selalu mengingatmu Ricky...."
Tahan Nisa, tahan... nggak boleh nangis!
"Tunggu dulu, apa maksudmu akan selalu mengingatku? Apa kamu benar-benar ingin berpisah denganku untuk selamanya? Kamu harus tahu, aku akan tetap berjuang untukmu, selamanya aku nggak akan menyerah!"
"Ricky... aku tahu kamu sangat mencintaiku, tapi aku nggak ingin memberimu harapan yang semu, jadi jangan terlalu berharap padaku. Kamu itu orang yang baik, diluar sana masih banyak orang yang menyukaimu. Aku yakin, kamu pasti bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku!"
ucap Nisa dengan senyum pahit.
"Nggak! Kamu bisa saja jadi orang yang terburuk di dunia, tapi aku hanya mau kamu! Bagiku kamu itu sangat penting untukku, pokoknya apa pun yang akan kamu katakan aku nggak akan menyerah!"
"Lalu sekarang apa? Kamu harus ingat, status kita itu sekarang cuma mantan!"
"Aku tahu, tapi apa kita nggak bisa mulai semuanya dari awal? Bahkan kembali jadi teman aku siap, setidaknya dengan menjadi teman aku masih bisa membuatmu kembali jatuh cinta padaku!"
"Kamu serius ingin menjadi temanku? Apa di hatimu sama sekali nggak ada rasa benci kepadaku?"
"Nggak! Aku cinta kamu, sampai kapan pun aku nggak akan bisa membencimu!"
"Ricky, kamu memang orang yang baik..." ucap Nisa dengan wajah murung.
Bahkan terlalu baik jika menjadi kenyataan...
"Kalau begitu sekarang kita teman, apa kamu mau mengabulkan satu keinginanku?" Tanya Ricky dengan penuh harapan.
"Apa itu?"
"Besok, temani aku pergi ke suatu tempat! Disana ada sesuatu yang kamu sukai, dan kamu juga harus berdandan yang cantik! Mau kan?"
"Besok ya? Emmm... aku rasa nggak bisa, tapi mungkin lain hari aku bisa..."
Aku ingin sekali pergi denganmu! Tapi besok adalah pernikahanku, aku nggak ingin membuat masalah lain...
"Yah... masa beneran nggak bisa? Tapi janji ya, lain kali harus bisa loh!"
"Oke, aku janji!"
"Ayo janji kelingking! Nanti nggak boleh ingkar janji loh!" ucap Ricky sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
"Pfftt! Astaga.... aku nggak percaya kamu bisa kepikiran semua ini! Tapi ayo kita lakukan!"
Nisa dan Ricky akhirnya membuat janji kelingking, mereka sama sekali tidak menyadari kalau masing-masing dari mereka punya tujuan tersendiri.
"....." Nisa memandang Ricky dan tersenyum.
Ya Tuhan.... apa ini semua rencanamu? Aku pikir aku dan Ricky akan menjadi orang asing saat aku memutuskan hubungan dengannya. Tapi, mungkin yang sekarang terjadi adalah kami hanya berganti status. Mungkin status seperti TTM akan cocok.
"...." Ricky menatap balik dan tersenyum.
__ADS_1
Asalkan aku bisa terus bersama Nisa, status apa pun akan aku terima! Dengan menjadi temannya aku masih bisa menunjukkan semua cintaku padanya. Mungkin nanti hak yang aku punya jadi berkurang, tapi itu semua lebih baik daripada Nisa terus menghindar dariku. Aku pasti akan membuatnya kembali padaku!