
Detak jantung Keyran untuk sesaat terhenti. Dia masih berusaha mencerna perkataan Bibi Rinn yang baru saja mengatakan bahwa istrinya pendarahan.
"P-pendarahan bagaimana maksudnya?!" tanya Keyran dengan panik, dirinya mulai berkeringat dingin.
"Nyonya ... mengalami pendarahan hebat, d-darah yang keluar banyak!" jawab Bibi Rinn yang suaranya terdengar gemetaran.
"Sekarang bagaimana keadaan Nisa?!"
"Sekarang saya dan Nyonya sedang berada di ambulans menuju ke rumah sakit terdekat. T-tadi saat Nyonya di kamar ..."
"Cukup! Penjelasannya nanti saja! Aku menyusul ke rumah sakit sekarang!"
Tanpa basa-basi lagi Keyran langsung memutus panggilan telepon dengan Bibi Rinn. Dia kelabakan dan bergegas pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya.
Rumah sakit yang Keyran tuju adalah rumah sakit yang tidak lain tempat di mana Nisa pernah dirawat sebelumnya akibat kejadian penusukan. Keyran mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, meskipun begitu tetapi dia tetap memakan banyak waktu karena dirinya berkali-kali terjebak oleh lampu merah. Saking kesalnya dia sampai memukul setir mobil mewahnya.
Ketika sampai di rumah sakit, Keyran langsung menuju ke bagian IGD. Di sana, dia melihat Bibi Rinn yang sedang duduk di kursi ruang tunggu. Bibi Rinn yang menyadari kehadiran langsung beranjak dari kursi.
"Di mana Nisa?!" tanya Keyran dengan nada khawatir.
"Nyonya masih di dalam," jawab Bibi Rinn dengan suara lirih, binar matanya terlihat seperti ingin menangis.
Keyran mengusap wajahnya dengan kasar. "Kita tunggu saja!"
Keyran lalu mengajak Bibi Rinn untuk kembali duduk. Kemudian dia berkata, "Bagaimana tadi kejadiannya?"
"T-tadi ... Sebenarnya saya sudah kembali ke paviliun, tapi saya tidak bisa tidur karena ragu apakah kompor sudah dimatikan atau belum. Saat saya mengecek ke dapur, saya menemui Nyonya yang hendak mengambil sesuatu di kulkas. Saya pikir Nyonya lapar karena melewatkan makan malam. Jadinya saya bertanya Nyonya mau makan apa, beliau bilang ingin bubur seafood dan kalau sudah jadi diminta untuk mengantar bubur itu ke kamar. T-tapi saat saya ke k-kamar ... Nyonya ... Nyonya s-sudah ..."
"Pelan-pelan saja, Bi." ucap Keyran.
"Saya kaget karena melihat Nyonya yang sudah pingsan, l-lalu saya melihat banyak d-darah di celana piama Nyonya ... Setelah itu saya langsung menelepon ambulans dan mengabari Anda, Tuan. S-semoga Nyonya baik-baik saja."
Keyran tertunduk lesu setelah mendengar penjelasan dari Bibi Rinn. Yang ada di pikirannya saat ini hanya harapan agar istrinya baik-baik saja.
Selang beberapa waktu sekitar 15 menit kemudian, seorang dokter perempuan keluar dari ruangan. Keyran dan Bibi Rinn yang menyadari hal itu langsung menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Keyran.
Dokter tersebut mendadak gugup, dia paham betul saat ini dia sedang berhadapan dengan siapa. "Istri Tuan baik-baik saja, untunglah sesegera mungkin dibawa ke rumah sakit. Pendarahan hebatnya sudah berhenti, t-tapi ..."
"Tapi apa?" tanya Keyran sambil menatap tajam.
"Janinnya tidak bisa diselamatkan," jawab dokter itu.
"Janin?!" Keyran membelalak, sedangkan Bibi Rinn langsung menutup mulutnya yang ternganga karena kaget.
"Istri Tuan mengalami keguguran. Tindakan medis kuretase tidak diperlukan karena seluruh jaringan kehamilan sudah keluar. Jika terjadi pendarahan hebat kembali, atau sampai menyebabkan gejala klinis buruk, maka perlu dipertimbangkan kuretase untuk mencegah komplikasi berbahaya. Nanti masih perlu dipantau dan dievaluasi dengan pemeriksaan penunjang dan ultrasonografi."
"Untuk saat ini kondisinya sudah lebih baik, sudah boleh dipindahkan ke ruang rawat. Saya sarankan, istri Tuan sebaiknya dirawat inap selama 1 sampai 2 hari agar kondisinya sudah cukup kuat untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Apakah ada yang ingin ditanyakan?"
"Apa aku sudah boleh melihatnya?" tanya Keyran.
"Sudah, silakan jika Tuan ingin melihat. Saya permisi." Dokter tersebut kemudian berjalan pergi.
Keyran lalu menoleh ke arah Bibi Rinn. "Bibi pulang saja, aku yang akan menemani Nisa."
"Baik Tuan, saya bisa pulang dengan naik taksi. Saya turut prihatin dengan apa yang terjadi pada Tuan dan Nyonya, Tuan yang sabar ya. Saya undur diri." Bibi Rinn kemudian berjalan pergi.
Sedangkan Keyran, dia ingin masuk untuk melihat keadaan Nisa namun langkah kakinya terasa amat sangat berat. Bagaimana tidak? Hatinya hancur, dia yang punya harapan besar untuk menjadi seorang ayah, namun belum sempat mendengar kabar kehamilan istrinya, yang dia dengar justru kabar istrinya yang keguguran. Belum sempat merasakan apa yang namanya memiliki, tetapi sudah merasakan apa yang namanya kehilangan.
Saat Keyran sudah berada di dalam. Dirinya melihat istrinya terbaring di ranjang dan masih belum sadarkan diri. Keyran lalu duduk, menggenggam sebelah tangan istrinya yang tidak dipasangi selang infus. Tangan itu terasa dingin, dia juga membelai wajah istrinya yang tampak pucat.
"Nisa ..." ucapnya dengan suara lirih. Tanpa disadarinya, dia telah menitikkan air mata melihat keadaan yang menimpa istrinya sekarang.
Kenapa? Kenapa kau tidak bilang kalau kau hamil? Jika aku tahu, aku tak akan pernah meninggalkanmu sendiri. Kenapa kau merahasiakan soal ini dariku? Bagaimana caraku memberitahumu saat kau sadar nanti?
Padahal banyak yang mengharapkan kehamilanmu, bukan cuma aku. Bagaimana nanti aku mau memberitahu tentang ini pada mereka? Aku pasti akan dianggap tidak bisa menjagamu dengan baik. Harusnya kau memberitahuku lebih awal Nisa.
"Harusnya kau memberitahuku ..."
Keyran lalu mengusap air matanya, dia berdiri dan pergi dari sana untuk mengurus soal kepindahan Nisa ke kamar rawat inap.
Ketika Keyran sudah di luar, dia melihat seseorang berjas putih berjalan dengan terburu-buru ke arahnya. Raut mukanya tampak marah, orang itu adalah seseorang yang tidak asing lagi baginya, mantan kekasih istrinya, yaitu dokter Ricky.
"Ada urusan apa kau?" tanya Keyran dengan ketus, suasana hatinya semakin memburuk begitu melihat wajah Ricky.
Ricky melangkah maju lalu menarik kerah baju Keyran. "Harusnya aku yang tanya! Bagaimana kau menjaga Nisa hah?! Bagaimana bisa dia sampai keguguran?!"
"Memangnya apa urusanmu?! Nisa istriku dan akulah suaminya! Yang kehilangan adalah kami berdua, bukan kau! Kau tidak berhak untuk ikut campur!" ucap Keyran penuh emosi sambil menepis tangan Ricky yang mencengkeram kerah bajunya.
__ADS_1
"Heh, rupanya kau belum tahu berkat siapa sampai sekarang kau masih bersama Nisa. Apa kau masih ingat saat pernikahanmu di ujung tanduk? Aku yang membujuk Nisa untuk melunak dan berbaikan denganmu! Kau tahu kenapa aku melakukannya?"
"..." Keyran membisu, lalu memalingkan wajahnya ke samping.
"Aku melakukannya karena aku percaya bahwa kau mencintai Nisa dengan tulus! Aku menaruh kepercayaan kalau kau bisa melindungi Nisa lebih baik daripada aku! Aku percaya kalau kau bisa membuat Nisa jauh lebih bahagia dibanding saat Nisa bersamaku! Tapi lihatlah kenyataannya sekarang! Lagi-lagi kau membiarkan Nisa terluka! Kau ini sebenarnya bisa dipercaya atau tidak?!"
"Aku tak tahu," jawab Keyran singkat.
"Apa maksudmu?" tanya Ricky dengan tatapan sinis.
"Aku bilang aku tak tahu! Aku tak tahu kalau Nisa hamil! Nisa merahasiakannya dariku! Jadi tutup mulutmu itu dan berhentilah memojokkanku!"
Sejenak Ricky tertegun, kemudian dia berkata, "Nisa bukan orang yang seperti itu."
"Apa maksudmu hah?! Kau pikir kalau kau lebih mengenal Nisa dibanding aku yang merupakan suaminya?" tanya Keyran yang merasa tersinggung.
"Bukan berpikir, memang begitulah kenyataannya. Tolong turunkan sedikit nada bicaramu, kau mengganggu pasien lain." ucap Ricky tanpa ekspresi.
"K-kau ... sialan kau!"
"Aku tahu kalau ini berat untukmu. Tapi saranku, kau harus menanggung beban ini sendiri."
"Maksudmu aku harus merahasiakan ini dari Nisa. Tapi kenapa aku harus menurutimu?"
Ricky lalu menghela napas. "Kita sama-sama tahu kalau Nisa punya gangguan kecemasan umum, dengan begitu kesedihan dan emosi yang dia rasakan akan jauh lebih besar dibanding orang yang kondisi mentalnya normal. Bayangkan saja seberapa menderitanya dia jika tahu bahwa dia kehilangan calon bayinya, dia bisa depresi berat dan hal itu bisa membahayakan nyawanya. Kau tahu sendiri kalau Nisa itu konyol dan bodoh, besar kemungkinannya kalau dia sendiri tak tahu kalau dia hamil."
"Hah ... sialan, kau ada benarnya juga. Aku menerima saran darimu bukan berarti aku sudah tidak membencimu, tapi aku melakukannya demi Nisa!" ucap Keyran penuh penekanan.
"Terserah kalau kau membenciku, lagi pula aku juga tidak ada niatan untuk berteman denganmu."
"Ckck, dokter macam apa kau ini? Aku mau mengurus kepindahan kamar, awas saja jika kau diam-diam melihat Nisa saat aku tak ada!"
Keyran berbalik badan, baru selangkah dia melangkah mendadak Ricky berkata. "Sudah aku urus!"
"Apa?!" seketika Keyran berbalik.
"Kamar VVIP, kan? Itu sudah aku urus, tinggal memindahkan Nisa dan semua beres." ucap Ricky sambil bersedekap.
"Beres katamu? Urusan di antara kita belum beres! Aku masih mampu menyediakan kamar rawat untuk istriku sendiri. Maaf saja ya, kebaikanmu tidak akan pernah aku hargai!"
"Aku sarankan jangan menuruti gengsimu, jika kau mau mengurus sendiri ya terserah, toh waktu yang akan terbuang adalah waktumu. Dan kau jangan terlalu cepat menilaiku atau terus menerus berprasangka buruk padaku. Aku masih harus bekerja sama denganmu."
"Aku, denganmu? Bekerja sama?" tanya Keyran seakan tidak sudi.
"Aku tahu itu! Tapi aku masih meragukan pihak rumah sakit, bahkan dokter kandungan saja bisa membocorkan kondisi pasien yang bersifat privasi kepada orang luar yang tidak jelas sepertimu." ucap Keyran dengan nada menyindir.
"Ehmm ... kali ini aku mengaku salah. Meskipun aku ketua Asosiasi Kedokteran sekalipun memang tidak dibenarkan untukku melakukan hal yang melanggar privasi semacam ini. Tapi sekarang berbeda, karena kau pihak keluarga sudah tahu. Aku jamin akan mengondisikan semuanya, mulai dari dokter, perawat, ahli gizi, perekam medis, apoteker, sopir ambulans, petugas kebersihan bahkan juru masak sekalipun akan aku instruksikan untuk merahasiakan hal ini dari Nisa."
"Baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong ... Kenapa kau masih peduli pada Nisa sampai seperti ini? Aku peringatkan, jika jawabanmu kurang ajar maka aku tak akan segan-segan memukulmu."
"Entahlah, mungkin karena aku belum mendapat ketenangan. Tapi salah satu faktornya adalah kau, aku akan menjauh jika sudah memastikan bahwa Nisa benar-benar bahagia denganmu."
"Aku jamin Nisa bahagia denganku. Apa sekarang kau masih punya pikiran untuk merebutnya kembali?" tanya Keyran dengan tatapan sinis.
"Mungkin, kita tunggu 5 tahun lagi."
"5 tahun lagi aku dan Nisa sudah punya banyak anak! Memangnya kau masih punya perasaan yang sama setelah selama itu?"
"Haha, masa depan tak ada yang tahu. Bahkan jika sampai saat itu benar-benar tiba, aku akan berusaha mendapatkan Nisa kembali dengan seluruh kemampuanku!"
"Cih, dalam mimpimu!" Keyran langsung pergi meninggalkan Ricky dan kembali masuk untuk menemui Nisa.
Sedangkan Ricky, dengan langkah kaki yang perlahan dia kembali berjalan menuju ruangannya. Namun hatinya masih saja resah, wajahnya terlihat begitu masam.
"Dasar Nisa bodoh!" gumamnya.
Padahal aku sudah berpesan agar hati-hati! Beberapa saat yang lalu aku dapat kabar kalau Jenny sudah ditemukan, lalu sekarang aku mendapat kabar kalau Nisa keguguran. Ini pasti berhubungan, aku sangat yakin bahwa Nisa ikut turun tangan.
Aku juga telah menyuruh psikiatri yang menangani Jenny, aku bilang padanya untuk menyebutkan keterkaitan Nisa dan hasilnya Jenny berekspresi aneh. Padahal waktu itu aku sudah memperingatkan Nisa agar jangan turun tangan.
Yang aku takutkan hanya satu, Nisa akan menggila. Aku mengenal semua sisi yang Nisa miliki, jika dia sudah kehilangan akal sehatnya, dia tidak akan ragu melakukan apa pun bahkan jika itu menyakiti dirinya sendiri.
Dan ada satu hal lagi yang bisa aku pastikan, ternyata Nisa belum jujur pada suaminya soal identitasnya. Jika aku benar-benar berniat untuk memisahkan mereka, aku bisa memanfaatkan celah ini. Tapi sayangnya kalaupun aku melakukan itu hasilnya akan percuma, Nisa sudah tidak mencintaiku lagi. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah membantunya dan mendapatkan ketenangan untukku sendiri.
***
Keesokan harinya. Fajar menyingsing memancarkan sinarnya yang lembut, udara yang sejuk, burung-burung berkicau dengan suaranya yang merdu, berharap bahwa hari ini akan menjadi hari yang cerah.
Nisa yang saat ini sudah dipindahkan ke ruang rawat masih belum membuka matanya, tetapi Keyran yang berada di sampingnya sepanjang malam sampai saat ini sama sekali belum terpejam.
__ADS_1
"M-mmm ..." Nisa perlahan membuka mata, penampakan yang dia lihat semuanya buram, lama-kelamaan dia melihat jelas Keyran yang sedang menggenggam tangannya. Dia juga sadar di tempat apa sekarang dia berada. "K-Key ..."
"Syukurlah kau sudah bangun," ucap Keyran sambil tersenyum dengan bibirnya yang gemetar.
Keyran lalu membantu Nisa yang berusaha untuk bangun, namun sesaat kemudian Nisa meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Masih sangat sakit?" tanya Keyran dengan nada khawatir.
Nisa menggeleng. "C-cuma sedikit nyeri di perut dan punggung."
"Nanti aku akan minta dokter untuk memberimu obat pereda sakit."
"Haha, sebentar lagi sakitnya pasti akan hilang." ucap Nisa dengan senyum bodohnya.
"Dasar ..."
Kau masih bisa tersenyum, sepertinya memang benar kau sendiri tak tahu soal kehamilanmu.
"Nisa, apa yang kau ingat terakhir kali?"
"Ehmm ... yang aku ingat ... Semalam setelah aku selesai menyisir rambut, tiba-tiba perutku kram seperti sakit saat hari pertama datang bulan, tapi kali ini jauh lebih sakit, dadaku juga nyeri, ditambah kepalaku rasanya juga sangat pusing. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi."
Keyran langsung memeluk erat Nisa, bahkan dia juga menangis sambil berpura-pura bahagia. "Syukurlah jika kau tak apa-apa, aku sangat takut jika sesuatu terjadi padamu."
"Heii ... sudahlah, aku baik-baik saja Key. Dokter bilang apa saja? Apakah aku perlu dioperasi?"
"Operasi apa maksudmu?"
"Berarti tidak ya. Kau tahu kalau aku punya penyakit maag, kemarin perutku berkali-kali sakit, kupikir penyakit maag-ku sudah jadi maag kronis. Syukurlah kalau ternyata tidak."
"Lambung mu baik-baik dasar bodoh! Lain kali jangan lupa makan! Nanti juga makanlah yang banyak! Agar kau cepat membaik dan bisa segera pulang!"
"Iya, suamiku sayang ... Maaf karena membuatmu khawatir." Nisa membalas pelukan Keyran serta menepuk-nepuk pelan punggungnya.
"Jangan minta maaf, ini bukan salahmu, sama sekali bukan salahmu ..."
"Darling, kira-kira kapan aku boleh pulang?"
"Besok sudah boleh, setelah pemeriksaan kau boleh pulang. Nisa, aku mencintaimu ..."
"Hei, jangan bilang begitu! Itu terkesan seperti aku sakit parah dan hidupku tak lama lagi. Sudah cukup menangisnya, kau ini sebenarnya menangisi apa? Aku kan baik-baik saja."
"Iya, kau baik-baik saja. Syukurlah kau baik-baik saja ..."
***
Hari ini setelah memastikan bahwa Nisa baik-baik saja, Keyran dengan berat hati mengabari keluarganya sendiri dan keluarga istrinya bahwa Nisa dirawat di rumah sakit karena keguguran. Keyran tak lupa meminta mereka untuk merahasiakan hal tersebut dari Nisa.
Hari ini dia juga tidak bekerja karena memilih untuk menemani Nisa di rumah sakit. Siang harinya, Nisa mendapat kunjungan dari keluarganya. Ayah dan kedua adiknya tidak bilang apa-apa kecuali memberikan semangat kepada Nisa agar cepat sembuh.
Namun ibunya Nisa, yaitu Rika yang malah menangis. Dia menangis sambil memeluk putrinya yang bernasib malang. Nisa sendiri kebingungan kenapa ibunya sampai seperti itu.
Setelah keluarga Nisa pulang, datanglah ayah dan ibu mertua. Nisa melihat raut wajah ayah mertuanya yang tampak sangat masam. Sedangkan ibu mertuanya, meskipun dia ibu tiri Keyran, dia tetap memeluk dan memberi kata-kata untuk menguatkan Nisa.
Sore harinya Nisa mendapat kunjungan kejutan dari kakak sepupunya dan paman yang sering kali dia lupakan keberadaannya. Paman Chandra datang dengan membawa bingkisan, sedangkan Tia, dia hanya memeluk Nisa dan bilang agar Nisa jangan bersedih.
Kebingungan Nisa semakin menjadi-jadi, dia berpikir kalau dirinya terkena penyakit kronis dan sisa hidupnya tak lama lagi. Bahkan saat makan malam dia menanyakan hal tersebut kepada Keyran, tentu saja Keyran tidak membenarkan hal tersebut. Nisa justru bersikeras bahwa Keyran menyembunyikan sesuatu darinya.
Keesokan harinya. Ketika tiba waktunya Nisa sarapan, pagi ini Keyran keluar dan tak ada untuk menyuapi Nisa makan karena masih kesal soal semalam tentang Nisa yang telah menuduhnya.
Seorang perawat datang dengan troli makanan, dia juga menyajikan hidangan sarapan dengan senyuman yang ramah. Perawat tersebut menyadari Nisa yang murung, kemudian dia berkata, "Ada apa Nona? Nona hari ini akan pulang, jadi harus sarapan sebelum minum obat."
"Aku cuma bingung. Sepertinya aku terkena penyakit mematikan dan sisa hidupku tak lama lagi, aku bilang begitu ke suamiku yang terkesan seperti menutup-nutupi. Dia menyangkalnya, dan sekarang sepertinya dia kesal kepadaku."
"Nona saja yang mengada-ada, tidak ada yang namanya sisa hidup tak lama lagi. Mungkin sebaiknya Nona harus mencoba merelakan." ucap perawat itu dengan nada lembut.
"Merelakan?" tanya Nisa dengan ekspresi bingung.
"Iya, mungkin awalnya akan sulit, tapi Nona percayalah bahwa semua yang ikhlas berawal dari keterpaksaan."
"Maksudnya?" Nisa semakin bingung.
"Apa Nona belum tahu kalau Nona habis keguguran?"
"A-apa?!" Nisa terkesiap, untuk sesaat dia sampai lupa dengan apa yang namanya bernapas. Kemudian tangannya yang gemetar perlahan menyentuh perutnya. Tubuh Nisa kini mulai terlihat seluruhnya gemetar, dia tertunduk lesu dan beberapa saat kemudian beralih menatap perawat itu dengan sorot mata membunuh.
"Keluar! Keluar dari sini!! Aku tak mau bertemu dengan siapa pun!!!"
PRANGG!!
__ADS_1
Nisa mengangkat piring yang berisi hidangan sarapan lalu membanting semuanya satu per satu ke lantai. Perawat tersebut ketakutan dan segera berlari keluar dari ruang rawat Nisa.
Nisa saat ini sendirian mulai kehilangan akal sehatnya, dia menjambak rambutnya sendiri, berteriak keras dan air mata mulai membanjiri pipinya. "Arghhh!"