
"Nih, taruh di halaman belakang sana!" pinta Nisa sambil menyodorkan bunga anggrek itu yang seketika diterima oleh Reihan.
"Ini buat apa sih, kak?" tanya Reihan kebingungan.
"Ganti rugi yang waktu itu," jawab Nisa dengan nada malas sambil menggandeng tangan Keyran lalu mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.
"Lah? Tadi itu kan sudah ada kurir yang mengantar puluhan anggrek. Yang satu ini kok dibawa terpisah?"
"Ck, banyak tanya! Lakukan saja apa yang kuminta."
"Iya deh ..."
Heh, bilangnya ganti rugi, dikira aku nggak tahu apa yang bayar juga kakak ipar.
"Key, ayo ke kamarku dulu!"
Nisa berjalan tergesa-gesa tanpa memedulikan Keyran yang dia tinggal di belakang. Di sisi lain Keyran masih berdiam diri di tempat dan melakukan kontak mata dengan Reihan.
Reihan menyeringai, dia melangkah lebih dekat lagi pada Keyran. Lalu dengan suara lirih dia berkata, "Cieee ... baikan, kakak ipar ini murid yang cepat belajar juga ternyata. Tapi jangan lupakan master mu ini, masih banyak hal yang belum aku ajarkan~"
"Iya, tapi mulai sekarang jangan terlalu dekat denganku, kakakmu sudah menaruh curiga atas perubahan sikapku."
"Itu tandanya caramu menggombal masih belum kelihatan natural. Jadi lain kali berusaha lebih keras lagi!"
TAP TAP TAP!!
Suara langkah kaki yang menuruni tangga terdengar jelas, lalu tampaklah Nisa yang ekspresinya bingung sedang berlari ke arah Reihan.
"Rei, kok rumah sepi? Yang lain ke mana?" tanya Nisa yang kemudian melihat Keyran, dia juga sedikit heran kenapa suaminya itu masih berdiam diri di tempat.
"Oh itu, ibu masih mengurus anggrek di belakang, toh kurir yang antar bunga juga belum lama perginya. Ayah dari pagi tadi goes sama bapak-bapak lain, nanti siang pasti juga pulang. Kalau Dimas memang disuruh ibu ke luar, beli pot yang nanti buat gantung anggrek. Saking banyaknya sampai bingung mau ditaruh di mana."
"Hmmm ... salah siapa itu?"
Nisa dan Reihan dengan kompak menatap Keyran dan tersenyum padanya, sedangkan Keyran yang merasa canggung seketika memalingkan wajahnya.
"T-tadi katanya mau ke kamar, ayo ke kamar sekarang!" Keyran salah tingkah dan langsung menyeret Nisa menuju ke kamar.
Reihan yang ditinggal sendirian hanya bisa diam dan geleng-geleng kepala. "Heh, dasar ..."
Ini sih baru ganti rugi satu pot, kalau tahu bakal begini harusnya waktu itu Kak Nisa rusakkan saja semuanya. Sekalian buka bisnis toko bunga anggrek.
***
Keyran dan Nisa yang telah sampai di kamar langsung menghela napas lega, keduanya merasa lelah karena perjalanan jauh yang telah mereka tempuh. Nisa langsung melempar tas yang dibawa ke atas ranjangnya, bahkan setelahnya dia juga melempar dirinya sendiri ke atas ranjang dengan posisi tengkurap.
"Aahhh ... duhai kasurku yang empuk, lembut, nyaman, nan wangi parfum laundry ..."
"Heh, padahal kasur di rumah juga begitu." Keyran terkekeh.
Sejenak Keyran tertegun, kemudian dia melepaskan sepatu yang masih terpasang di kaki Nisa, lalu melepas sepatunya sendiri dan terakhir dia duduk di pinggir ranjang. Keyran mengambil tas milik Nisa lalu meletakkannya di meja, dan tak lupa juga meletakkannya arloji nya di atas meja.
"Darling, rumah ini sedang sepi loh~"
"Jangan bicara yang ambigu begitu! Aku lelah ... L-E-L-A-H! Jadi biarkan aku melepas rindu pada kasurku." Nisa menutup mata lalu tangannya mengelus permukaan kasur.
"Cih, padahal tadi pagi kau membuatku tersentuh oleh pidato panjang tentang kau yang merindukan keluargamu. Ternyata yang kau rindukan sebenarnya adalah kasurmu."
Seketika Nisa membuka mata dan tersenyum canggung pada Keyran. "Haha ... ini karena aku kehabisan tenaga untuk melepas rindu pada mereka. Berlama-lama duduk di mobil itu melelahkan, pantatku dan pinggangku sampai pegal. Bahkan rasanya aku butuh tukang pijat ..."
"Hmm ... kalau kau memohon padaku, aku rasa bisa mempertimbangkannya. Bukan hanya pantatmu, tapi juga seluruh tubuhmu~" ucap Keyran sambil tersenyum.
"Seluruh tubuh?! Apa yang kau inginkan?"
"Ayolah ... kau tahu apa yang kuinginkan. Dan hari ini aku sudah membuat keputusan, aku akan memulai kerja sambilan sebagai tukang pijat. Menjadi CEO itu bisa mendapatkan uang, tapi menjadi tukang pijat bisa mendapatkan lebih banyak kasih sayang dari istriku tercinta. Tapi aku bukanlah tukang pijat sembarangan, aku melayani pijat plus-plus!"
"Ehmm ... memangnya kau bisa memijat? Tanganmu yang kekar itu mungkin saja bisa membuat tulangku retak, lebih baik belajar sampai jadi profesional dan dapat sertifikat dulu, ya?"
"Tenanglah, meskipun baru pertama kali tapi aku jamin bisa mengontrol tenagaku. Kau hanya perlu bilang bagian mana yang harus kupijat, simpel kan?"
"Anu ... pijat nya sekarang tapi plus-plus nya lain kali saja, ya? Terlebih lagi rumah ini tidak sepenuhnya sepi."
"Ck, tapi kalau begitu setelah aku selesai memijatmu kau harus gantian memijatku. Tanganku juga sedikit pegal."
"Itu bisa diatur, sekarang ayo pijat aku dulu!"
Keyran lalu naik ke atas tubuh Nisa dan menindih pahanya. Dia lalu menyibakkan rambut Nisa dan setelahnya dia langsung mulai memijat dengan arahan dari Nisa.
Namun tanpa sepengetahuan kedua orang itu, Dimas yang sudah pulang ke rumah sedang berjalan menuju ke kamar Nisa. Dan ekspresi yang tergambar di wajah Dimas adalah kekesalan.
"Hhhh ... disuruh-suruh terus, Kak Nisa juga nggak perhatian banget! Dia datang ke rumah nggak mau bantu-bantu apa pun ... jadinya ibu kan marah, tapi yang kena marah malah aku. Mengurus anggrek sebegitu banyak itu juga melelahkan, pokoknya aku harus panggil Kak Nisa!"
Dimas berjalan semakin dekat dengan kamar Nisa, namun langkahnya terhenti begitu tiba di depan pintu kamar. Dia berhenti karena tercengang saat mendengar suara yang berisik dari dalam kamar.
"Ahh ... sakit! Pelan-pelan Key ..."
"Seperti ini ...?"
"Emhh ... iya, tetap seperti itu ... T-turun sedikit, aku mau di bagian situ ..."
__ADS_1
"Di sini?"
"Aaahh ... enak, jangan berhenti ..."
Seketika Dimas ternganga lalu membungkam mulutnya sendiri rapat-rapat. Matanya juga melotot ke arah pintu dan otaknya masih berusaha mencerna keadaan. Dan setelah beberapa saat dia menelan ludah lalu perlahan berjalan mundur.
So crazy! Padahal kemarin-kemarin mereka masih bertengkar, tapi sekarang mereka begituan pas masih siang, memang keterlaluan. Berkunjung ke rumah bukannya beri salam pada ibu dulu tapi malah sibuk enak-enak. Astaga, kalau aku kembali tanpa kakak nanti ibu akan marah, lebih baik aku jelaskan saja yang sebenarnya. Btw, aku baru sadar kalau suara Kak Nisa merdu juga.
Dimas segera kembali ke halaman belakang, sesampainya di sana dia melihat kakaknya dan ibunya tengah sibuk menata ulang bunga anggrek. Namun saat menyadari kehadiran Dimas, kedua orang itu menatapnya dengan tatapan heran.
"Mana Nisa? Bukannya ibu sudah menyuruhmu untuk memanggil kakakmu itu?"
"Emm ... Kak Nisa sedang sibuk dengan urusannya sendiri, dia dan kakak ipar sedang ... mantap-mantap!"
PYAARR!!
Saking kagetnya Reihan sampai menjatuhkan bunga anggrek yang dia pegang hingga pot nya pecah. Bahkan dia juga segera mendekati Dimas dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Kok bisa tahu, Dim?"
"Yeee ... aku dengar dari luar, asal kakak tahu ya, mereka berdua itu sangat berisik!"
"Buset, padahal baru aku tinggal beberapa menit yang lalu. Tapi mereka siang-siang begini ... bukan main ..."
"Sudahlah, berhenti membicarakan kakak-kakak kalian! Lagi pula mereka sudah menikah. Tapi sekarang mengharapkan bantuan dari kakakmu juga tidak bisa, padahal ini kerjaan masih banyak. Sebaiknya kita istirahat dulu lanjut lagi nanti, makanan yang di meja kalian berdua saja yang makan."
"Eh? Bukannya ibu menyiapkan makanan itu untuk kakak?" tanya Dimas kebingungan.
"Tadinya begitu, tapi sekarang mereka sudah kenyang makan cinta. Jadi kalian saja yang makan, daripada mubazir!"
"Ibu sendiri nggak ikut makan?" tanya Reihan.
"Ibu diet, sekarang mau nonton TV dulu, acara kesukaan ibu sudah mulai. Oh iya, kalian jangan lupa cuci tangan!"
"Iya, ibu ..." jawab Reihan dan Dimas bersamaan.
***
Sekitar satu jam kemudian. Bu Rika yang telah selesai menonton TV memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya di halaman, tapi sebelumnya dia menyuruh Reihan untuk memanggil Nisa agar nantinya Nisa membantu mengurusi anggrek.
Sebenarnya Reihan ragu karena khawatir akan mengganggu kesenangan kakaknya, namun dia hanya bisa pasrah memenuhi perintah dari ibunya. Ketika hendak membuka pintu kamar Nisa, tiba-tiba Reihan menempelkan telinganya pada pintu.
Hmm ... hening, mirip kuburan. Kemungkinan besar mereka sudah selesai skidipap nya. Masuk nggak ya? Kalau nanti aku masuk terus lihat yang aneh-aneh gimana?
"Bodo amat lah, kalau nggak dikunci berarti aman kalau masuk!"
Pemandangan yang sebelumnya dibayangkan tidak ada, yang dia lihat saat ini adalah Keyran yang sedang sibuk dengan ponselnya tengah bersandar di atas ranjang. Sedangkan Nisa berbaring secara tengkurap di sebelah Keyran, dan keduanya juga masih dalam keadaan berpakaian.
Keyran yang menyadari kehadiran Reihan langsung menyimpan ponselnya. Dia menatap Reihan dengan tatapan sinis, dia sangat tidak suka jika ada orang yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Kenapa kemari?"
"Emm ... mau panggil Kak Nisa, dia disuruh ibu buat ke halaman sekarang. Tapi ternyata dia tidur, kakak ipar bangunkan kebo ini, ya?" pinta Reihan sambil menunjuk.
Sejenak Keyran membisu, lalu tangannya tiba-tiba mengusap kepala Nisa. "Jangan dibangunkan, biarkan dia istirahat. Dia nyenyak sekali, sepertinya dia kelelahan ..."
Padahal belum sempat memijatku, tapi tak apa, akan aku tagih di lain waktu. Lagi pula hari ini dia bangun lebih awal dibanding denganku, wajar saja jika kelelahan.
"Yaa ... tentu saja kelelahan." gumam Reihan.
Kalian kan habis mantap-mantap hampir 1 jam, pantas saja lelah.
"Eh tapi, bagaimana dengan ibu? Kasihan kalau dia bekerja sendirian di halaman." lanjut Reihan.
"Bukannya masih ada kau dan Dimas? Kalian berdua bisa kan membantu."
"Kakak ipar gimana sih? Nggak lihat penampilanku sekarang seperti apa? Rambut pakai pomade, bajuku jersey, badan wangi, tentu saja aku mau futsal. Aku ada pertandingan futsal antar sekolah, Dimas juga harus ikut meskipun dia tim cadangan."
"Kau bisa futsal?"
"Bisa dong, kakak ipar jangan terlalu meremehkan orang. Bahkan aku yakin akan menang dengan dukungan dari para bucin-bucinku!"
"Kau masih playboy ternyata, memangnya apa tujuanmu sering gonta-ganti pacar?"
"Aku mau buat katalog. Tapi sekarang siapa yang bisa membantu ibu? Lebih baik bangunkan Kak Nisa saja!"
"Aku bilang jangan! Bagaimana jika aku saja yang gantikan?"
"Serius?!"
"Iya, yang membeli anggrek terlalu banyak adalah aku, jadi setidaknya aku harus bertanggung jawab."
"Memangnya belum lelah?"
"Seharian ini aku belum melakukan kegiatan yang cukup melelahkan, lagi pula tenagaku masih tersisa bayak."
"..."
Wow ... hokinya kakak nih, bisa dapat suami yang perkasa itu lumayan.
__ADS_1
"Hehe, okelah kalau begitu! Nanti jangan kaget kalau ibu ceramah! Bye kakak ipar ..." Reihan melambaikan tangannya dan bergegas pergi keluar dari kamar.
Keyran yang masih di ranjang sejenak terdiam, kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala saat membaca tulisan yang berada di belakang jersey milik Reihan.
AKANG TAMVAN ... Ckck, sangat disayangkan dia menyalahgunakan kelebihannya. Memang wajahnya di atas rata-rata, tapi kelakuannya minus.
Kalau aku pikir-pikir ... sepertinya ibu mertuaku saat hamil ketiga anaknya pasti suka menonton film Journey to the West. Nisa sendiri selalu membuat masalah seperti kera Sun Go Kong, Reihan yang playboy seperti babi Chu Pat Kay, Dimas yang masa bodoh dan blak-blakan seperti murid terakhir yaitu Sha Wujing. Hmm ... sebuah konspirasi.
"Ah sudahlah, lebih baik segera ke halaman!"
***
Setibanya Keyran di halaman, dia melihat banyak bunga dan pot yang berantakan. Ibu mertuanya yaitu Bu Rika juga tampak agak kelelahan saat mengisi tanah ke dalam pot yang baru. Menyadari hal itu, Keyran langsung berinisiatif mendekat dan berjongkok di sebelahnya.
"Emm ... apa ada yang bisa kubantu?"
"Eh?! Kenapa kau yang kemari? Mana Nisa?"
"Nisa ketiduran karena kelelahan, jadi aku di sini untuk menggantikannya."
"Ohh ..."
Mana mungkin anakku yang satu itu payah sekali, dia pasti bukan ketiduran karena kelelahan tapi karena keenakan.
"Kalau kau ingin membantu, kau bisa menyapu. Lihat di sana, masih ada tanah yang berserakan di sebelah sana. Nantinya sebelah sana akan digunakan untuk tempat menaruh anggrek, jadi harus dibersihkan lebih dulu. Sapu lidi nya ada di dekat sana juga."
"... Iya," jawab Keyran yang langsung berdiri dan bergegas mengambil sapu lidi. Dia menyapu dengan pasrah, hal seperti ini sama sekali belum pernah ter bayangkan akan dilakukan oleh orang sepertinya. Namun dia tersenyum, dia memasang tampang senang hati karena merasa seperti diawasi oleh ibu mertuanya yang juga berjarak dekat dengannya.
Astaga, seumur hidup baru pertama kali aku menyapu, semoga cara menyapuku ini sudah benar. Pokoknya aku harus tampil serba sempurna di hadapan mertuaku. Tapi rasa-rasanya ... ayahku pun sepertinya juga belum pernah menyapu, hehe ... ini artinya aku sudah lebih berpengalaman dibanding dia.
"Nak, apa kau kesulitan?"
"Eh?! T-tidak kok, ini hal yang mudah. Ibu mertua lanjutkan saja, jangan hiraukan aku."
Dia barusan memanggilku nak! Sudah lama aku tidak mendengar panggilan itu.
"Haha ... menyapu itu harus satu arah, kalau kau melakukannya secara bolak-balik seperti itu selamanya tak akan bersih."
"O-oh ... baik, maaf atas ketidaktahuanku ibu mertua."
"Santai saja, jangan terlalu sungkan. Dan terlebih lagi kau adalah suaminya putriku, dan aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri. Jadi panggil aku ibu saja sudah cukup, kata mertua nya dihilangkan saja, ya?"
"Iya ibu mer... m-maksudku iya, ibu."
"Nah, anak pintar~"
"..."
Ini aneh, aku merasa seperti dianggap anak kecil. Tapi ... aku suka! Rasanya menyenangkan, sepertinya tidak rugi juga berkunjung kemari.
"Oh iya! Ngomong-ngomong ... aku tak pernah menyangka kalau kau akan berbaikan dengan Nisa si keras kepala itu. Nisa pasti telah banyak menyusahkanmu, aku berterima kasih karena sudah sabar dalam menghadapinya."
"Jangan, i-ibu tidak perlu berterima kasih. Itu sudah menjadi tugasku sebagai suaminya. Tapi ya ... memang terkadang ada saatnya kesabaranku benar-benar diuji olehnya."
"Haha, sudah kuduga. Apa Nisa juga melakukan pekerjaan rumah dengan baik?"
"Nisa selalu memasak, mencuci, menyapu, mengepel, tapi ... yang dia bersihkan hanya area kamar. Dia selalu mengeluh padaku karena mengajaknya tinggal di villa yang besar, katanya membersihkan seluruh ruangan itu sangat melelahkan. Padahal aku tak pernah memaksa, terlebih lagi di sana juga sudah ada pembantu."
"Hmm ... itu karena aku mendidiknya seperti itu, sudah ada pembantu pun juga tidak boleh bermalas-malasan. Rumah yang kalian tempati adalah milik kalian, jadi wajar jika harus merawatnya sebaik mungkin. Lagi pula memang bagusnya Nisa seperti itu, daripada dia sibuk rebahan dan bermain game. Sekarang jawab jujur, apa kau puas mendapat Nisa sebagai istrimu?"
"Puas." jawab Keyran secara spontan.
"Haha, jawabanmu berbeda dengan dugaanku. Tapi syukurlah, rasa penyesalanku sedikit berkurang."
"Penyesalan? Penyesalan seperti apa yang barusan ibu maksud?"
"Ah ... memangnya Nisa belum mengatakan segalanya padamu?"
"Segalanya itu tentang apa?"
"..."
Haiss ... benar-benar, Nisa masih saja terkadang bodoh. Bisa-bisanya dia melewatkan kesempatan untuk menceritakan semuanya pada suaminya. Tapi kalau aku yang berinisiatif cerita justru akan jadi rumit, hal seperti itu harus Nisa sendiri yang mengatakannya. Sebenarnya yang aku khawatirkan cuma satu, aku khawatirkan kalau nantinya menantuku merasa ditipu. Tapi aku juga tidak bisa tinggal diam, lebih baik aku berikan sedikit bocoran.
"Emm ... jika kau mendengar kebaikan tentang Nisa jangan langsung percaya. Tapi ... jika mendengar tentang keburukan Nisa maka percaya saja. Ingat kata-kataku ini!"
"Mengapa? Bukannya bagus jika kita berprasangka baik kepada seseorang?" tanya Keyran kebingungan.
"Untuk Nisa pengecualian, dia baik bisa jadi itu sebuah kepura-puraan dan keterpaksaan. Dia bersikap buruk itu mungkin saja keburukan yang dia sembunyikan jauh lebih parah dari yang kau ketahui. Harusnya kau sudah tahu Nisa itu seperti apa, dia pandai berbohong. Bahkan mungkin saja sekarang dia sedang membohongimu dengan pura-pura ketiduran."
"Itu tidak benar, sekarang Nisa benar-benar tidur. Bahkan trik yang biasanya aku pakai juga tidak mempan."
"Memangnya trik apa yang biasanya kau pakai?"
"Aku berbisik, jika dia mau membuka matanya maka aku akan mentransfer uang ke rekeningnya."
"O-oh, sekarang aku percaya kalau Nisa memang ketiduran."
Nisa ... Nisa ... mudahnya dirimu mencari uang, hanya tinggal membuka mata dan uang langsung mengalir masuk ke rekeningmu. Transfer saja ke rekeningku wahai menantuku, aku ingin bilang begitu tapi mau ditaruh di mana nanti harga diriku?
__ADS_1