
Nisa langsung mematung begitu mengetahui bahwa Ricky berada tepat di hadapannya. Perasaan yang dirasakan oleh Nisa hanyalah kekacauan, dia tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan mantan tercintanya dalam sebuah acara pesta.
Sedangkan Ricky, tiba-tiba saja dia mengambil seporsi choco lava cake dan menyodorkannya kepada Nisa. Lalu dengan senyum lembut dia berkata, "Ambillah, ini kesukaanmu..."
Nisa sama sekali tidak memberi respons kepada Ricky. Menyadari hal itu, Ricky lalu meletakkan kembali cake itu di meja. Namun senyuman yang diperlihatkan oleh Ricky berubah menjadi senyum pahit. Dan setelah itu dia berkata, "Bagaimana kabarmu? Semua baik-baik saja kan?"
Melihat Ricky yang bersikap seperti itu kepadanya, Nisa masih terus diam, dari dalam dirinya muncul luapan emosi yang sulit untuk digambarkan. Nisa mulai menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya sekuat mungkin, sorot mata yang dia perlihatkan adalah kekecewaan.
Nisa akhirnya memutuskan untuk berbalik dan hendak berjalan pergi, namun tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh Ricky. Nisa juga tidak berniat untuk menepis tangannya Ricky, bahkan dia juga sangat enggan untuk menoleh ke arahnya.
"Nisa... aku ingin bicara denganmu, tapi di tempat lain. Apa kamu bersedia?" tanya Ricky dengan tanpa melepaskan genggaman tangannya. Dan di sisi lain Nisa menjawabnya dengan anggukan kepala tanpa menoleh. "Baiklah, sekarang ayo ikut aku!"
Dengan tangan yang masih berpegang erat, Ricky lalu mengajak Nisa untuk menuju ke tempat yang cukup sepi, tempat itu adalah di sudut taman yang berada di kediaman Cakrakumala. Setelah mereka sampai, mereka berdua berdiri berhadapan dan tidak mengatakan sepatah kata pun.
Nisa terus menunduk seakan tidak ingin melihat wajah Ricky. Di lubuk hatinya dia merasakan berbagai macam emosi seperti kekecewaan, kemarahan, kebencian dan juga kerinduan. Sebenarnya banyak sekali yang ingin dia katakan, seperti; bagaimana keadaanmu, apa kamu masih mencintaiku, apa yang kamu lakukan dan apakah kamu bahagia.
Namun kenyataannya Nisa menahan semua pertanyaan itu dengan cara menggigit bibirnya sendiri. Dan tanpa peringatan apa pun, tiba-tiba saja Ricky memeluk Nisa dengan erat. Dia juga mengusap kepala Nisa sambil berkata, "Maaf Nisa... maafkan kelancanganku ini, sulit sekali untuk menahannya. Sekali lagi tolong maafkan aku..."
Nisa masih terus menggigit bibirnya dan tidak membalas pelukan hangat dari Ricky, meskipun sebenarnya pelukan itu sangat dia rindukan. Tak berselang lama kemudian Ricky melepaskan pelukannya, lalu dengan kedua tangannya mencoba untuk mengangkat wajah Nisa yang sedari tadi terus menunduk supaya melihat ke arahnya.
Salah satu jari jempol Ricky tiba-tiba mengusap bibir Nisa. Lalu dengan senyum pahit dia berkata, "Hentikan, aku mohon jangan sakiti dirimu sendiri, berhentilah menggigit bibirmu. Jangan ditahan, katakan saja semuanya padaku..."
Nisa menuruti permintaan Ricky untuk berhenti menggigit bibirnya, lalu dengan kedua tangannya dia menggenggam tangan Ricky yang sedang memegang wajahnya. Nisa kemudian menurunkan tangan Ricky agar lepas dari wajahnya, namun setelah itu Nisa malah kembali menunduk. lalu dengan senyum pahit dia berkata, "Memangnya apa yang bisa aku katakan? Lagipula, apa urusanmu? Kamu jangan lagi mencampuri urusanku!"
"Nisa, kenapa sikapmu seperti ini? Apa aku telah membuat kesalahan? Kalau iya, tolong katakan apa kesalahanku. Aku pasti akan berusaha untuk memperbaikinya..."
"Bukan, bukan kamu yang salah." Nisa lalu mengangkat kepalanya dan tersenyum sinis, "Semuanya salahku sendiri."
Karena waktu itu aku sendiri yang sudah bilang kalau kamu boleh melupakan serta menggantikan aku, ini salahku yang belum bisa rela, jadi bukan salah siapa pun.
__ADS_1
"Salahmu? Memangnya kesalahan apa yang kamu buat?" tanya Ricky dengan wajah bingung.
"Untuk apa kamu ingin tahu? Kesalahanku adalah urusanku sendiri, luka yang aku rasakan adalah bagianku sendiri. Kamu hanya tinggal bahagia saja, jangan pedulikan aku!"
"Tentu saja aku harus peduli, yang kamu maksud pasti ada hubungannya denganku. Jadi tolong katakan padaku," Ricky tiba-tiba menarik tangan Nisa dan menggenggamnya seerat mungkin. "Aku ingin tahu semuanya, kamu belum boleh pergi sebelum mengatakannya kepadaku!"
"Ricky!!" Nisa mencoba meronta namun Ricky semakin erat menggenggam tangannya. "Apa kamu sungguh ingin tahu? Mungkin saja pengakuanku akan terdengar sangat lucu untukmu."
"Terserah, entah itu lucu atau apa pun aku nggak peduli. Aku tetap ingin mendengar pengakuan darimu, jadi katakan sekarang!"
"Baiklah, akan aku katakan semuanya. Mungkin kamu sudah berubah, tapi aku masih sama, masih Nisa yang sama. Aku masih mencintaimu Ricky!"
"Nisa, a-aku juga..." Ricky lalu melepaskan genggaman tangannya. "Aku masih..."
"Cukup, dengarkan aku dulu!" Nisa lalu menatap mata Ricky dan tersenyum pahit kepadanya. "Aku akui, aku masihlah orang yang sama, yang masih diam-diam selalu ingin tahu tentang kamu, ingin mencari celah untuk melihatmu, juga ingin memastikan apakah kamu sedang sedih atau bahagia. Meskipun aku tahu yang aku temui hanya akan membuatku sakit hati."
"Nisa..." Ricky mencoba untuk meraih Nisa, namun saat itu juga Nisa langsung menepis tangannya.
"Kamu salah Nisa, ini sama sekali nggak lucu. Aku tahu alasanmu bersikap seperti ini," Ricky lalu kembali memegang wajah Nisa dengan kedua tangannya. "Aku mengerti, kamu nggak bahagia dengan pernikahanmu karena masih menyayangiku. Apakah pernah terbesit di pikiranmu untuk berpisah dengannya dan kembali kepadaku?"
"Heh, untuk apa mengajukan pertanyaan seperti itu?" Nisa lalu melepaskan tangan Ricky dari wajahnya. "Lihat saja nanti, akan ada hari dimana kamu menjumpai aku sebagai seseorang yang sudah sembuh dari luka, seseorang yang seutuhnya telah merelakanmu, seseorang yang sudah berhenti menyayangimu, dan nggak peduli lagi tentang kamu bagaimana dan bersama siapa. Nanti, percayalah!" Nisa lalu berjalan pergi meninggalkan Ricky seorang diri.
Bangs*t, padahal kamu sendiri sudah menemukan penggantiku! Pertanyaanmu itu cuma omong kosong.
Ricky masih berdiam diri saat Nisa telah meninggalkannya, namun tak lama setelah itu dia tiba-tiba tersenyum. "Hahaha, sekarang aku paham..."
Nisa, sekarang aku sudah memahami maksud dari perkataanmu waktu itu. Waktu itu kamu berpesan agar jangan percaya kepadamu, ternyata itu hanya demi kalimat yang barusan kamu katakan. Aku tahu, sebenarnya kamu masih punya harapan kepadaku. Kamu merasa nggak akan bisa rela, selamanya kamu akan terus peduli kepadaku. My honey...
**
__ADS_1
Setelah itu Ricky memutuskan untuk kembali ke acara pesta. Namun keadaannya sangat berbeda dengan yang tadi. Dia terus menatap bayangan dirinya pada segelas wine yang dia pegang, bahkan ekspresi yang dia perlihatkan juga sangat masam.
"Nisa..." gumam Ricky sambil tersenyum pahit.
Jujur, aku masih kecewa kepadamu meskipun aku tahu kalau kamu masih mencintaiku. Awalnya aku berpikir kalau kamu sudah bahagia, aku melihatmu begitu mesra dengan suamimu.
Rasanya sangat menyesakkan saat melihat kalian berdua seperti itu. Dia memegang tanganmu, meletakkan lenganmu di bahunya, bahkan juga tersenyum lembut kepadamu. Sementara aku, aku hanya bisa merasa kedinginan sambil memperhatikanmu dari kejauhan.
Hari-hariku terasa sangat berat dan berbeda tanpamu, kamu yang selalu memberiku semangat di pagi hari, yang selalu mengingatkanku untuk makan, yang selalu bercanda denganku saat sebelum tidur, sekarang sosok itu telah hilang.
Yang terberat adalah saat melihatmu melangkah pergi dari apartemenku. Saat kamu melangkah pergi, aku menghitung setiap langkah-langkah yang kamu ambil.
Andai saja kamu tahu betapa aku sangat membutuhkanmu. Yang bisa aku lakukan untuk menghibur diri hanyalah dengan kembali mengingat semua kenangan kita, dan aku juga masih menyimpan semua hadiah yang pernah kamu berikan, meskipun sebagian besar telah aku hancurkan.
Setiap malam aku selalu kesulitan untuk tidur, aku merasa selalu dihantui oleh bayangmu. Segala yang aku lakukan terus mengingatkanku tentang dirimu. Aku juga bertanya-tanya, saat sedang bersamanya apakah kamu pernah berpikir apa aku baik-baik saja sendirian, dan pernahkah aku terlintas di pikiranmu. Sedangkan aku, bahkan namamu saja selalu di pikiranku.
Meskipun ragamu kini bukan milikku, tapi aku belum menyerah. Selama di hatimu masih tersisa ruang khusus untukku, selama itu juga aku akan terus berjuang untuk merebutmu kembali. Mungkin sekarang memang belum saatnya, tapi aku berjanji akan secepatnya. Jika saatnya nanti tiba, apa pun dirimu aku akan menerimanya, karena aku tulus mencintaimu, kebahagiaanmu adalah keinginanku.
"Huft..." Ricky lalu meminum wine yang dia pegang dan menghabiskannya dalam sekali tegukan.
Saat dia ingin meletakkan gelas kosong, tiba-tiba saja suasana berubah menjadi lebih heboh. Orang-orang mulai berlarian menuju ke suatu tempat, mereka juga mulai menyebarkan desas-desus yang belum tentu benar atau tidak.
"Ayo kita lihat, katanya seseorang tercebur ke kolam renang!" ucap seseorang.
"Iya, ada yang bilang bahwa dia adalah seorang wanita!" ucap seseorang.
Ricky masih berdiam diri ketika melihat orang-orang mulai heboh sendiri. Namun dia tiba-tiba termenung memikirkan tentang sesuatu.
"Seorang wanita..." gumam Ricky sambil mengerutkan dahi.
__ADS_1
Jangan-jangan itu Nisa! Jika benar maka sangat gawat, Nisa nggak bisa berenang, aku harus segera kesana. Semoga saja masih sempat!